EKA RISNOVANDRA
Empat mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang memulai rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Internasional di Malaysia yang berlangsung mulai 8 Januari 2026, sebagai wujud pengabdian di tingkat internasional. Tim yang terdiri atas tiga mahasiswa laki-laki dan satu mahasiswa perempuan tersebut tiba di Malaysia pada malam hari sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Setibanya di bandara, para mahasiswa langsung menuju lokasi penempatan masing-masing sesuai pembagian tugas yang telah ditetapkan. Tiga mahasiswa laki-laki menempati Sanggar Bimbingan Kampung Pandan, sementara satu mahasiswa perempuan ditempatkan di Sanggar Bimbingan Kepong. Pada malam kedatangan, mahasiswa disambut oleh pengurus sanggar di masing-masing lokasi. Pertemuan awal berlangsung singkat dan diisi dengan perkenalan serta komunikasi awal sebelum mahasiswa beristirahat. Kegiatan pengabdian mulai dilaksanakan keesokan harinya, Kamis (8/1/2026), di Sanggar Bimbingan Kampung Pandan. Mahasiswa melakukan perkenalan dengan adik-adik sanggar belajar dan berinteraksi dalam suasana santai sebagai langkah awal membangun kedekatan emosional. Pada malam harinya, mahasiswa juga turut membantu kegiatan mengaji rutin yang menjadi bagian dari aktivitas keagamaan sanggar. Pengurus Sanggar Bimbingan Kampung Pandan, Bunda Nuriyah Mahfud, M.I.SS., menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa KKM Internasional UIN Malang memberikan dampak positif bagi aktivitas pendidikan dan pembinaan keagamaan di sanggar. “Mahasiswa sangat membantu kami dalam mendampingi anak-anak, baik saat belajar maupun mengaji. Kehadiran mereka menambah semangat anak-anak, sekaligus menjadi motivasi karena mereka bisa berinteraksi langsung dengan mahasiswa dari Indonesia,” ujar Bunda Nuriyah. Ia juga menilai keterlibatan mahasiswa mampu memperkuat suasana belajar yang humanis dan penuh kebersamaan di Sanggar Bimbingan Kampung Pandan, yang selama ini menjadi ruang pendidikan alternatif bagi anak-anak komunitas. Sementara itu, mahasiswa yang ditempatkan di Sanggar Bimbingan Kepong belum memulai kegiatan belajar bersama anak-anak. Pada tahap awal, aktivitas difokuskan pada perkenalan dan diskusi dengan pengurus sanggar, mengingat kegiatan pembelajaran di lokasi tersebut masih belum berjalan secara aktif. Pengurus Sanggar Bimbingan Kepong menjelaskan bahwa koordinasi awal menjadi langkah penting untuk menyesuaikan rencana kegiatan mahasiswa dengan kondisi sanggar. “Untuk sementara kami berdiskusi mengenai jadwal dari delegasi UIN Malang. Selanjutnya akan kami koordinasikan kembali dengan delegasi dari sekolah dan kampus lain,” katanya. Melalui program KKM Internasional yang berlangsung sejak 8 Januari 2026 ini, mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata di bidang pendidikan dan keagamaan, sekaligus memperoleh pengalaman pengabdian lintas negara serta memperkuat kemampuan adaptasi dan kerja sama lintas budaya.
MUCHAMMAD HIDAYATULLAH
Kuliah kerja Masyarakat (KKM) program wajib yang diadakan disetiap kampus untuk mahasiswa semester 5. kalini kampus UIN Malang melepaskan mahasiswa untuk terjun dan berbaur ke masyarakat. memberikan perubahan dalam fokus "Membangun Desa Berkelanjutan Berbasis Penguatan Moderasi Beragama dan Potensi Lokal". Seperti mahasiswa dari kelompok 188 yang melakukan KKM Mandiri Integritas di Desa Gambiran, Dusun Jagil, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Pelaksaaan KKM Mandiri Intgritas, di Dusun Jagil diawali dengan semangat koloboratif antara mahasiswa kelompok 188 UIN Malang dengan masyarakat setempat. berbagai elemen warga juga dilibatkan dalam menjalankan program kerja yang ada. harapannya semua programa dapat memberikan dampak positif untuk berbagai bidang, seperti pembangunan desa berkelanjutan, moderasi beragama, serta membangun potensi lokal yang ada di desa setempat. kegiatan ini resmi berjalan dengan dilakukannya acara pembukaan. Acara pembukaan KKM Mandiri Intgritas, yang dilaksanakan di kantor posyandu dusun jagil dengan penuh rasa semangat dan hikmat. Dan dihadiri oleh segenap elemen masyarakat mulai dari kepala dusun hingga ketua RT, serta dosen pemdamping Lapangan (DPL) yang mendukung kelancaran acaran pembukaan KKM Mandiri Intgritas (25 Desember 2025). Rangkaian acara yang berlangsung dengan hikmat. diawali dengan pembukaan oleh Master of Ceremony (MC). setelah itu dilanjutkan dengan sambutan - sambutan, Mulai dari ketua kelompok 188 KKM Mandiri Integritas Bima Raka Laksamana Putra dengan tujuan kkm "memperluas publikasi branding dusun dengan potensi lokal yang ada" ujar ketua kelompok 188. Serta dilajutkan dengan sambutan oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Whida Rositama M.Hum dalam sambutannya ia menyampaikan terimakasi kepada masyarakat yang mau menerima dan mengijinkan mahasiswa dampingannya untuk menjalankan pengabdiaan selama satu bulan kedepan, dan ia berharap agar dengan adanya kegiatan inj dapat membantu masrakat setempat. "saya menyerahkan anak - anak kelompok 188 ini untuk dibina dan bimbing agar dapat bermanfaat untuk kemajuan dusun ini." ujar Whida Rositama M.Hum Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). lalu sambutan dilanjutkan dengan kepala Dusun Jagil, Pipit Subroto dalam sambutanya ia sangat senang dengan kedatangan mahasiswa UIN Malang dalam kegiatan KKM Mandiri. Ia juga berharap agar dengan adanya mahasiswa ini dapat memberikan terobosan dan perubahan yang baik keduapannya selama satu bulan pengabdian ini. "terimakasih sudah berkenan untuk memilih dusun ini untuk jadi tempat KKM kalian semoga ini menjadi langkah baik untuk dusun ini." ujar Pipit Subroto Kepala Dusun jagil. Setelah itu acara dilanjutkan dengan pemaparan program kerja oleh sekertaris. program kerja yang sudah dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan dusun setempat dengan memadukan dengan nilai-nilai keagamaan. seperti perogram pendidikan karakter anak dengan menanamkan nilai - nilai islami hingga membantu potensi - potensi yang ada di masyarakat setempat. Acara dilanjutkan dengan pembacaan do'a agar kegiatan KKM Mandiri Intgritas selama satu bulan ini bisa dapat berjalan dengan baik.
MUHAMMAD IRHAM IMAM SANTOSO
Permasalahan lingkungan sering kali dianggap sebagai isu besar yang hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah atau pihak tertentu. Padahal, ketika terjun langsung ke masyarakat, saya justru menyadari bahwa perubahan lingkungan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, yaitu dari rumah sendiri. Pengalaman ini saya rasakan selama mengikuti kegiatan KKM Karsa Digisyar, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, di Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, khususnya saat melaksanakan sosialisasi Eco Green. Di desa, persoalan lingkungan masih sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sampah rumah tangga menumpuk, plastik digunakan hampir setiap hari, selokan sering tersumbat, dan sebagian warga masih membakar sampah tanpa menyadari dampaknya bagi kesehatan. Kondisi ini tidak hanya membuat lingkungan terlihat kotor dan bau, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit seperti diare dan demam berdarah. Dari situ saya menyadari bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar teori, melainkan masalah nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui sosialisasi Eco Green, masyarakat diperkenalkan pada konsep hidup ramah lingkungan yang sebenarnya sangat sederhana. Eco Green bukan tentang teknologi canggih atau aturan yang rumit, melainkan tentang kebiasaan hidup yang lebih bijak, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, dan memanfaatkan sampah organik dengan baik. Menurut saya, kesederhanaan inilah yang menjadi kekuatan utama dari konsep Eco Green, karena mudah dipahami dan diterapkan oleh siapa saja. Hal yang menarik perhatian saya adalah penekanan bahwa gerakan Eco Green sebaiknya dimulai dari rumah. Sampah paling banyak berasal dari dapur, dan ibu rumah tangga memiliki peran besar dalam mengatur pola konsumsi serta kebersihan keluarga. Ketika ibu terbiasa memilah sampah, membawa tas belanja sendiri, atau menggunakan botol minum isi ulang, kebiasaan tersebut secara tidak langsung akan ditiru oleh anak-anak. Dari sinilah perubahan kecil bisa tumbuh menjadi kebiasaan yang berdampak besar. Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat juga diajak untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik. Sisa makanan, sayuran, dan daun dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman dan mengurangi bau tidak sedap. Sementara itu, penggunaan plastik sekali pakai dianjurkan untuk dikurangi karena membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Menurut saya, solusi-solusi ini sangat realistis karena tidak memerlukan biaya besar, hanya membutuhkan kesadaran dan kemauan untuk berubah. Sebagai mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang terlibat langsung dalam kegiatan KKM, saya melihat bahwa edukasi lingkungan seperti ini sangat penting untuk terus dilakukan. Sosialisasi Eco Green tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. Jika kebiasaan ramah lingkungan ini dilakukan secara konsisten, desa akan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi semua warganya. Pada akhirnya, pengalaman di Desa Campurdarat mengajarkan saya bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar. Cukup dengan perubahan kecil yang dilakukan setiap hari di rumah, kita sudah ikut berkontribusi melindungi lingkungan. Seperti pesan yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut, "Ibu Peduli, Lingkungan Terlindungi", karena dari keluarga yang peduli, akan lahir lingkungan desa yang lebih baik.
FATHIA AZZAHRA
Program Agroeduwisata yang digagas oleh KKM Merak Belantung 182 menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa dalam mendukung peningkatan fasilitas desa sekaligus mengoptimalkan potensi wisata lokal. Kegiatan ini dilaksanakan secara kolaboratif oleh seluruh anggota KKM dengan semangat kebersamaan dan tanggung jawab sosial terhadap kemajuan Desa Merak Belantung. Melalui program ini, mahasiswa berupaya menghadirkan perubahan positif yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat maupun para wisatawan. Selama pelaksanaan kegiatan, tim KKM berfokus pada pembenahan serta pengembangan sarana dan prasarana penunjang agroeduwisata. Mengingat lokasi desa yang strategis dan berada dekat dengan pantai, kawasan ini memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata edukatif yang menarik. Oleh sebab itu, peningkatan fasilitas dilakukan agar area wisata menjadi lebih tertata, bersih, nyaman, dan layak dikunjungi oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Berbagai upaya dilakukan, seperti penataan area kunjungan, perbaikan fasilitas umum, serta penyediaan sarana pendukung yang dapat menunjang aktivitas wisata dan edukasi. Mahasiswa juga turut memperhatikan aspek kebersihan dan estetika lingkungan agar pengunjung merasa lebih nyaman saat berada di lokasi. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mempercantik kawasan, tetapi juga menciptakan ruang yang fungsional dan bermanfaat dalam jangka panjang. Program Agroeduwisata KKM Merak Belantung 182 mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa. Kerja sama yang terjalin antara mahasiswa dan aparatur desa menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini. Pemerintah desa memberikan arahan, dukungan moral, serta partisipasi aktif dalam proses pelaksanaan, sehingga program dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Menariknya, lokasi Agroeduwisata Merak Belantung kini telah terdaftar dan dapat diakses melalui Google Maps. Kehadiran akses digital ini memudahkan wisatawan untuk menemukan lokasi dengan lebih cepat dan akurat. Selain itu, keberadaan di platform digital juga menjadi langkah strategis dalam memperluas promosi dan meningkatkan jumlah kunjungan. Dengan adanya program ini, diharapkan seluruh pengunjung yang datang ke Desa Merak Belantung dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia dengan sebaik-baiknya serta ikut menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan. Program Agroeduwisata ini bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang menumbuhkan kesadaran bersama untuk merawat dan mengembangkan potensi desa demi keberlanjutan di masa depan.
ZAHRA ALIFIA SALWA
(25/01/2026) Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan potensi akademik dan kepercayaan diri anak-anak, KKM Kelompok 36 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang turut berpartisipasi dalam Acara Lomba Cerdas Cermat yang dilaksanakan pada 25 Januari 2026 di MI Al-Amin Wonorejo. Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak perwakilan dari Pustaka Surau Merdeka. Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKM berperan aktif sebagai moderator sekaligus juri yang memandu jalannya perlombaan. Lomba cerdas cermat menjadi ajang kompetisi pengetahuan yang menguji wawasan serta kecepatan berpikir siswa melalui sesi tanya jawab. Pertanyaan yang diberikan mencakup pengetahuan umum serta materi pelajaran sekolah. Suasana perlombaan berlangsung cukup meriah, dengan semangat peserta yang saling berlomba memberikan jawaban terbaik. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya diajak untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, tetapi juga dilatih untuk tampil percaya diri di depan umum. Jiwa kompetisi yang sehat pun turut ditanamkan, sehingga anak-anak belajar bahwa berkompetisi bukan hanya tentang menang atau kalah, melainkan tentang proses belajar dan keberanian mencoba. Dalam pelaksanaannya, terdapat perbedaan tingkat kepercayaan diri antar peserta. Beberapa siswa terlihat gugup saat harus menjawab pertanyaan secara cepat di hadapan audiens. Namun, mahasiswa KKM berupaya mencairkan suasana dengan memberikan semangat dan dukungan di setiap sesi. Pendekatan tersebut membantu peserta merasa lebih rileks dan berani dalam menyampaikan jawaban. Di akhir kegiatan, terlihat perubahan yang cukup positif. Siswa menjadi lebih berani dalam berkompetisi dan merasa bangga atas usaha yang telah mereka lakukan. Kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak untuk belajar percaya pada kemampuan diri sendiri. Melalui partisipasi dalam Lomba Cerdas Cermat ini, KKM 36 Ardhacitta berharap anak-anak dapat terus termotivasi untuk belajar, berani tampil, dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
ZAGIESTA BILBINA
ARDAHCITTA – (10/01/2026) KKM 36 Ardhacitta UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berkolaborasi dengan Republik Gubuk, The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, serta LP2M UIN Malang dalam menyelenggarakan forum bertajuk “Njagong Pemuda Penggerak Desa: Sinahu Penggerak”di Balai Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Forum ini menjadi ruang belajar bersama bagi puluhan pemuda desa untuk merumuskan peran strategis generasi muda dalam membangun desa yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada martabat manusia. Bagi KKM 36 Ardhacitta, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pengabdian yang menempatkan desa bukan sekadar unit administratif, melainkan ruang hidup yang kaya nilai, spiritualitas, dan relasi sosial. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 58 peserta yang terdiri dari pemuda desa serta mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang tengah melaksanakan pengabdian di wilayah Kecamatan Poncokusumo. Partisipasi perempuan mencapai 67 persen, menunjukkan keterlibatan aktif generasi muda dalam diskursus pembangunan desa. Selain menjadi ruang diskusi, forum ini juga dimeriahkan dengan penampilan Tari Bapang Topeng Malangan yang dibawakan oleh mahasiswa KKM 36 Ardhacitta. Penampilan tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam melestarikan budaya lokal sekaligus memperkuat nilai-nilai kearifan tradisi dalam ruang dialog sosial. Kehadiran seni budaya dalam forum ini menegaskan bahwa pembangunan desa harus berjalan selaras dengan pelestarian identitas dan warisan budaya masyarakat. Dalam diskusi, nilai-nilai Islam diposisikan sebagai etos pembebasan yang mendorong pemuda untuk hadir sebagai subjek perubahan dan membawa kemaslahatan, khususnya bagi kelompok yang selama ini terpinggirkan. Eko Santoso, penggerak Mukti Laku Sapta Wikrama, menekankan pentingnya kearifan lokal sebagai fondasi etika sosial dalam pembangunan desa. Ia menyampaikan bahwa pembangunan harus selaras dengan penghormatan terhadap alam, manusia, dan tradisi. “Nilai spiritual harus hadir dalam tindakan nyata, bukan berhenti pada simbol,” ungkapnya. Sahlan Junaedi, penggagas Pasar Keramat, turut menyoroti praktik ekonomi lokal berbasis keberlanjutan sebagai bentuk keadilan sosial. Menurutnya, keberpihakan pada ekonomi warga merupakan tanggung jawab moral untuk memastikan kesejahteraan bersama dan mencegah ketimpangan. Widya Dwi Lestari dari Laskar Anak yang juga merupakan bagian dari KKM Ardhacitta menekankan pentingnya pendampingan generasi muda desa agar tumbuh dengan kesadaran kritis dan empati sosial. Ia menilai bahwa Islam progresif dapat diwujudkan melalui kerja-kerja nyata yang memperkuat akses pendidikan, ruang aman, dan masa depan anak-anak desa. Melalui kolaborasi ini, KKM 36 Ardhacitta UIN Malang berharap forum “Njagong Pemuda Penggerak Desa” dapat menjadi embrio gerakan pemuda desa yang memadukan iman dan praksis sosial, serta memperkuat peran generasi muda dalam menjaga desa sebagai ruang hidup yang adil, beradab, dan berkelanjutan.