NINDA NUR OKTAVIA
Permasalahan lingkungan sering kali dianggap sebagai isu besar yang hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah atau pihak tertentu. Padahal, ketika terjun langsung ke masyarakat, saya justru menyadari bahwa perubahan lingkungan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, yaitu dari rumah sendiri. Pengalaman ini saya rasakan selama mengikuti kegiatan KKM Karsa Digisyar, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, di Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, khususnya saat melaksanakan sosialisasi Eco Green. Di desa, persoalan lingkungan masih sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sampah rumah tangga menumpuk, plastik digunakan hampir setiap hari, selokan sering tersumbat, dan sebagian warga masih membakar sampah tanpa menyadari dampaknya bagi kesehatan. Kondisi ini tidak hanya membuat lingkungan terlihat kotor dan bau, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit seperti diare dan demam berdarah. Dari situ saya menyadari bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar teori, melainkan masalah nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui sosialisasi Eco Green, masyarakat diperkenalkan pada konsep hidup ramah lingkungan yang sebenarnya sangat sederhana. Eco Green bukan tentang teknologi canggih atau aturan yang rumit, melainkan tentang kebiasaan hidup yang lebih bijak, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, dan memanfaatkan sampah organik dengan baik. Menurut saya, kesederhanaan inilah yang menjadi kekuatan utama dari konsep Eco Green, karena mudah dipahami dan diterapkan oleh siapa saja. Hal yang menarik perhatian saya adalah penekanan bahwa gerakan Eco Green sebaiknya dimulai dari rumah. Sampah paling banyak berasal dari dapur, dan ibu rumah tangga memiliki peran besar dalam mengatur pola konsumsi serta kebersihan keluarga. Ketika ibu terbiasa memilah sampah, membawa tas belanja sendiri, atau menggunakan botol minum isi ulang, kebiasaan tersebut secara tidak langsung akan ditiru oleh anak-anak. Dari sinilah perubahan kecil bisa tumbuh menjadi kebiasaan yang berdampak besar. Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat juga diajak untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik. Sisa makanan, sayuran, dan daun dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman dan mengurangi bau tidak sedap. Sementara itu, penggunaan plastik sekali pakai dianjurkan untuk dikurangi karena membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Menurut saya, solusi-solusi ini sangat realistis karena tidak memerlukan biaya besar, hanya membutuhkan kesadaran dan kemauan untuk berubah. Sebagai mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang terlibat langsung dalam kegiatan KKM, saya melihat bahwa edukasi lingkungan seperti ini sangat penting untuk terus dilakukan. Sosialisasi Eco Green tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. Jika kebiasaan ramah lingkungan ini dilakukan secara konsisten, desa akan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi semua warganya. Pada akhirnya, pengalaman di Desa Campurdarat mengajarkan saya bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar. Cukup dengan perubahan kecil yang dilakukan setiap hari di rumah, kita sudah ikut berkontribusi melindungi lingkungan. Seperti pesan yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut, "Ibu Peduli, Lingkungan Terlindungi", karena dari keluarga yang peduli, akan lahir lingkungan desa yang lebih baik.
WAFA` DZAKIYYAH
Belajar dari Proses: Kunjungan ke Peternakan Bebek Milik Masyarakat Desa NgadiresoSore tadi, mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mendapat kesempatan berharga untuk berkunjung langsung ke peternakan bebek milik salah satu ibu PJ peternakan di desa. Kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang melihat aktivitas beternak, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran tentang proses, ketekunan, dan keberanian memulai usaha dari skala sederhana.Setibanya di lokasi, mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang diperlihatkan area peternakan bebek yang tertata cukup rapi. Total terdapat sekitar 600 ekor bebek, yang dibagi ke dalam beberapa sekat, dengan masing-masing sekat berisi kurang lebih 100 ekor bebek. Sistem penyekatan ini memudahkan pemilik dalam melakukan perawatan, pengawasan, serta menjaga kesehatan ternak. Ibu Anik, selaku pemilik peternakan menyampaikan bahwa usaha ternak bebek ini belum lama dirintis, namun sudah mulai menunjukkan perkembangan yang positif. Ke depannya, beliau memiliki rencana untuk mengembangkan usaha telur asin, seiring dengan meningkatnya produktivitas bebek yang dipelihara. Bagi beliau, usaha ini merupakan bagian dari proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga melihat secara langsung proses pemberian pakan bebek. Pakan yang digunakan antara lain dedak yang dicampur dengan bahan pendukung lainnya guna memenuhi kebutuhan nutrisi bebek. Pemberian pakan dilakukan secara rutin dan teratur agar pertumbuhan serta kesehatan ternak tetap terjaga. Kunjungan ini tidak hanya menambah wawasan tentang dunia peternakan, tetapi juga memberikan gambaran nyata tentang semangat kewirausahaan di tingkat desa. Usaha yang dimulai secara sederhana, apabila dikelola dengan baik dan dijalani secara konsisten, memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memperoleh pembelajaran berharga bahwa setiap usaha membutuhkan proses. Tidak selalu dimulai dari kondisi yang sempurna, namun dengan niat, kerja keras, dan ketekunan, sebuah usaha dapat tumbuh dan memberikan manfaat, baik bagi pelaku usaha maupun lingkungan sekitarnya.
MUHAMMAD MAKHDI
Foto Kegiatan Peresmian Program Kerja Mahasiswa KKM 79 UIN Malang PAKIS, MALANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang berhasil menginisiasi perubahan di Desa Pakis Kembar, Kecamatan Pakis. Lewat ide strategis dengan Dinas Perikanan Kabupaten Malang dan Karang Taruna setempat, mereka mensterilkan kawasan sungai yang sebelumnya kumuh dan tidak terawat menjadi sentra budidaya ikan yang bernilai ekonomi tinggi. Program yang bertajuk "Revitalisasi Sungai Berbasis Pemberdayaan Masyarakat" ini bermula dari keprihatinan mahasiswa terhadap kondisi aliran sungai di sepanjang desa Pakis Kembar yang dipenuhi sampah dan pendangkalan. Melihat potensi air yang bagus dan strategis untuk budidaya, para mahasiswa bergerak menjembatani komunikasi antara pemerintah daerah dan pemuda desa. Transformasi Lingkungan Menjadi Peluang Kegiatan ini diawali dengan aksi bersih sungai secara massal yang melibatkan warga. Setelah kondisi air dinyatakan layak, Dinas Perikanan Kabupaten Malang memberikan dukungan penuh berupa edukasi tata kelola perikanan darat serta bantuan bibit ikan Ibu Ike, yang datang sebagai perwakilan dari Dinas Perikanan Kabupaten Malang memuji, "Apresiasi untuk kelompok KKM 79 atas inisiasi pemulihan ekosistem ini. Dalam budidaya, air adalah segalanya. Dengan kembalinya kejernihan sungai ini, kita tidak hanya menanam ikan, tetapi sedang membangun standar baru perikanan darat yang sehat dan berkualitas." "Kami melihat ada potensi besar yang terabaikan. Dengan mengubah fungsi sungai dari tempat pembuangan menjadi kolam budidaya, warga secara otomatis akan menjaga kebersihan sungai karena ada aset ekonomi di dalamnya," ujar [Fikri], koordinator mahasiswa KKM UIN Malang kelompok 79. Kolaborasi Lintas Sektor Keberhasilan program ini tidak lepas dari peran aktif Karang Taruna Desa Pakis Kembar yang nantinya akan bertindak sebagai pengelola harian. Sinergi ini mencakup beberapa aspek penting: * Dinas Perikanan: Memberikan bantuan teknis, bibit unggul, dan pemantauan kualitas air. * KKM UIN Malang: Menjadi penggerak (fasilitator), edukator manajemen bisnis, dan branding produk. * Karang Taruna: Menjadi garda terdepan dalam perawatan harian dan pengawasan lingkungan sungai. Kepala Desa Pakis Kembar menyampaikan apresiasi yang mendalam atas inisiatif ini. Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKM telah membawa semangat baru bagi pemuda desa untuk berinovasi. "Dulu sungai ini kumuh, sekarang menjadi lebih bersih dan menghasilkan manfaat. Ini bukan sekadar membersihkan sungai dari sampah, akan tetapi memanfaat aset desa yang salah satunya yaitu sungai dan juga membangun kemandirian ekonomi desa secara bertahap." ungkapnya. Harapannya, lokasi ini tidak hanya akan menjadi tempat budidaya ikan, tetapi juga diproyeksikan menjadi destinasi wisata edukasi pemancingan dan kuliner berbasis ikan. Hal ini diharapkan dapat menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes). Melalui program ini, KKM UIN Malang hendak membuktikan bahwa pengabdian masyarakat yang terukur dan kolaboratif dapat menghasilkan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan sekaligus memberikan dampak kesejahteraan yang berkelanjutan.
PUTRI RISMAYANTI
Mahasiswa KKN 43 Pradipta UIN Malang menggelar kegiatan sosialisasi di SDN 3 Gading Kembar yang menyasar siswa kelas 4, 5, dan 6. Kegiatan ini berfokus pada dua isu yang semakin relevan di lingkungan sekolah dasar, yakni bullying dan penggunaan gawai secara bijak. Sosialisasi ini bertujuan menumbuhkan kesadaran sejak dini tentang dampak perilaku perundungan, baik secara verbal maupun nonverbal, serta membangun pemahaman dasar mengenai batasan penggunaan gadget di usia sekolah. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana dan pendekatan interaktif agar mudah dipahami oleh siswa. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah. Antusiasme siswa terlihat dari keaktifan mereka dalam bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman sehari-hari. Respons positif ini menunjukkan bahwa isu bullying dan penggunaan gadget memang dekat dengan realitas anak-anak, meskipun sering kali dianggap sepele. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pendamping yang membuka ruang dialog bagi siswa. Sosialisasi semacam ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, sehat, dan sadar teknologi. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib tanpa hambatan berarti. Lebih dari sekadar program KKN, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa edukasi karakter dan literasi digital perlu dilakukan secara konsisten, dimulai dari lingkungan sekolah dasar.
MUHRIZKI MAULANA ZULFAN
Penyuluhan stunting dan parenting yang dilaksanakan dalam kegiatan Posyandu Desa Kaliasri menjadi wadah berbagi pengetahuan dan penguatan peran keluarga dalam menjaga kesehatan anak. Kegiatan ini melibatkan tenaga kesehatan, kader posyandu, mahasiswa, serta masyarakat desa yang hadir dengan antusias. Suasana kebersamaan dan kepedulian tampak jelas sebagai wujud komitmen bersama dalam membangun generasi yang lebih sehat. Materi yang disampaikan dikemas secara sederhana dan interaktif, sehingga mudah dipahami oleh para orang tua. Peserta diberikan pemahaman mengenai stunting, mulai dari penyebab, dampak, hingga langkah pencegahannya sejak usia dini. Selain itu, edukasi parenting menekankan bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya dipengaruhi oleh gizi, tetapi juga oleh pola asuh, perhatian emosional, serta lingkungan yang bersih dan mendukung. Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat Desa Kaliasri terhadap pentingnya pencegahan stunting semakin meningkat. Posyandu diharapkan mampu berperan sebagai pusat edukasi keluarga, bukan hanya tempat pelayanan kesehatan. Dengan sinergi antara orang tua, kader, dan pendamping kegiatan, upaya menciptakan masa depan anak-anak Desa Kaliasri yang sehat dan berkualitas dapat terus terwujud.
RIZWATUL FACHRIYAH
Mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) Desa Kaliasri menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Tidak sekedar mengajarkan membaca Al-Qur'an, tetapi juga ikut berperan dalam membentuk karakter dan kecintaan anak-anak terhadap kitab suci. Melalui penerapan Metode Ummi, proses pembelajaran terasa lebih terstruktur, menyenangkan, dan bermakna. Metode Ummi tekanan pada pembelajaran yang tartil, sabar, dan berulang-ulang hingga anak benar-benar memahami cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar. Di TPQ Desa Kaliasri, anak-anak tidak hanya belajar mengenal huruf hijaiyah, tetapi juga dilatih untuk membaca dengan makhraj dan tajwid yang tepat. Sebagai pengajar, saya belajar untuk lebih telaten, penuh kasih, dan kreatif dalam menyampaikan materi. Suasana belajar di TPQ Kaliasri sangat hangat. Anak-anak datang dengan semangat, meskipun ada yang masih malu atau lambat dalam membaca. Dengan pendekatan Metode Ummi, setiap anak diberi kesempatan berkembang sesuai kemampuannya. Saya menyadari bahwa mengajar bukan hanya tentang mentransfer ilmu, tetapi juga tentang membangun kepercayaan diri dan kecintaan mereka pada Al-Qur'an. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menabur ilmu Al-Qur'an adalah amal jariyah yang tak bernilai. Semoga pembelajaran dengan Metode Ummi di TPQ Desa Kaliasri terus berkembang dan melahirkan generasi Qur'ani yang berakhlak mulia.