HARDINI CAHYA NINGRUM
Peserta KKM Kelompok 114 Gema Abhipraya dan Kelompok 115 Karunalaya UIN Malang sukses menggelar acara pembukaan KKM di Balai Desa Balesari. Acara pembukaan yang berlangsung khidmat dan tertib ini menandai dimulainya pengabdian mahasiswa UIN Malang di Desa Balesari, Senin (29/12/2025) pukul 10.00 WIB Kesempatan tersebut melibatkan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 114 Dr. Musataklima SHI, MSI, dan DPL Kelompok 115 Dr. Musleh Harry, SH, M.Hum, serta jajaran perangkat Desa Balesari. Dalam berbagai hal, tekanan bahwa KKM merupakan bagian dari proses pendidikan di UIN Malang sebagai laboratorium sosial, tempat mahasiswa mengimplementasikan pengetahuan dan kompetensi keilmuannya secara langsung di tengah masyarakat. “KKM ini adalah kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar dari masyarakat dan memberikan kontribusi nyata walaupun sedikit. Kami berharap kegiatan ini dapat memperkuat sinergi antara UIN Malang dan masyarakat Desa Balesari,” ujar Bapak Musleh Harry. Mewakili pihak desa, Sekretaris Desa menyambut hangat kehadiran mahasiswa KKM UIN Malang di Desa Balesari. “Kami berharap kehadiran mahasiswa KKM dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan meningkatkan partisipasi masyarakat sesuai dengan keilmuan yang didapat,” ujarnya. Acara pembukaan diakhiri dengan penyematan ID card kepada perwakilan kelompok dan pemotongan pita oleh DPL, sebagai simbol dimulainya KKM di Desa Balesari.
FIKRI NURZAMANI
Kota Malang Masjid Al Iksan Gadang Kota Malang Perkuat Ketahanan Keluarga Lewat Family Corner Berbasis Masjid 10/01/2026 MALANG POSCO MEDIA – Upaya memperkuat ketahanan keluarga terus digelorakan Takmir Masjid Al Iksan Gadang, Kota Malang, melalui program Workshop Family Corner. Mengusung tema “Family Corner berbasis masjid sebagai model edukasi keluarga berkelanjutan” ini digelar pada Sabtu (10/1) di Masjid Al Iksan Gadang sebagai bagian dari optimalisasi peran masjid dalam pelayanan sosial dan keluarga. Kegiatan diawali sambutan Ketua Takmir Masjid Al Iksan, H. Moh. Zaini, yang menegaskan besarnya potensi masjid sebagai pusat pelayanan umat, termasuk dalam penguatan keluarga, apabila dikelola secara terstruktur dan kolaboratif. “Saya mendukung kegiatan positif ini, saya ucapkan terima kasih kepada narasumber bapak Dr.Miftah dari Fakultas Syariah UIN Malang yang akan menyampaikan materi dan informasi baru kepada pengurus Family Corner masjid Al Iksan,” ujarnya. Penguatan Family Corner ini merupakan hasil kolaborasi antara mahasiswa KKM Kelompok Pradipaloka 118 dengan pengurus Masjid Al Iksan. Kegiatan diikuti seluruh pengurus Family Corner serta mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai upaya bersama memperkuat peran masjid dalam pembinaan dan ketahanan keluarga di tengah masyarakat. Ketua Family Corner Masjid Al Iksan, Ustad Sya’roni, mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKM yang dinilainya mampu menghidupkan kembali aktivitas Family Corner yang sempat vakum. “Saya ucapkan terima kasih kepada mahasiswa KKM UIN Malang yang telah menginisiasi kegiatan ini, sehingga pengurus Family Corner yang mungkin selama ini vakum bisa aktif kembali dan lebih bersemangat lagi dalam syiar terutama remaja masjid bisa giat lagi kegiatan di masjid,” ungkapnya. Kegiatan penguatan tersebut menghadirkan Dr. H. Miftahul Huda, dosen Fakultas Syariah UIN Malang, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Dr. Miftah yang juga fasilitator Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Kementerian Agama RI menegaskan bahwa fungsi masjid tidak hanya sebatas tempat ibadah ritual, melainkan juga memiliki peran strategis dalam penguatan sosial kemasyarakatan. “Banyak sekali persoalan yang muncul dalam keluarga, dan inilah peran masjid sebagai pusat solusi,” ujarnya. Ia menekankan bahwa layanan Family Corner bersifat inklusif dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, tidak terbatas pada jamaah masjid. “Siapapun yang membutuhkan layanan konsultasi atau pendampingan keluarga bisa memanfaatkan Family Corner, termasuk dari luar jamaah,” tegasnya. Menurut Dr. Miftah, keberadaan Family Corner menjadikan masjid lebih hidup dan fungsional, sekaligus mendorong partisipasi jamaah lintas usia. Apalagi, lokasi Masjid Al Iksan yang strategis berada di jalur utama lintas kabupaten dinilai sangat potensial untuk pengembangan layanan berbasis masyarakat. Sementara bagi masyarakat, program ini diharapkan mampu menekan angka konflik keluarga dan perceraian, meningkatkan keharmonisan rumah tangga, serta membangun lingkungan sosial yang religius dan sehat. “Program ini mendapat dukungan empat pilar utama, yakni Pemerintah Kota Malang, Kementerian Agama, Dewan Masjid Indonesia (DMI), dan akademisi UIN Maliki Malang,” jelasnya. Menutup pemaparannya, Dr. Miftah yang menjadi Ketua Family Corner Fakultas Syariah UIN Malang periode 2023-2024 berpesan kepada jajaran takmir dan pengurus Family Corner agar memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat jejaring dan kerja sama antar pengurus. “Agar bisa saling berbagi dan menguatkan satu sama lain. Saling mendukung dan mensupport program kerja,” pungkas Miftah.
AULIA ARIANTI
Sukarara, Lombok Tengah, Pengabdian mahasiswa melalui Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Mandiri di Desa Sukarara menjadi ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga pada proses membersamai masyarakat. Berangkat dari niat mengabdi, mahasiswa justru menemukan banyak pelajaran tentang sikap, nilai kebersamaan, dan cara memaknai peran sebagai pendatang di tengah kehidupan desa. Kehangatan Warga dalam Menyambut Kedatangan Berlokasi di Dusun Lendang, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, kehadiran mahasiswa disambut dengan keterbukaan dan kehangatan warga. Jamuan sederhana khas desa menjadi simbol penerimaan, sekaligus gambaran kuat tentang budaya memuliakan tamu yang masih terjaga. Dari awal kedatangan, interaksi yang baik penuh keramahan mengawali keberlangsungan seluruh program pengabdian. Pendekatan kepada warga menjadi langkah awal yang ditempuh melalui malam tahun baru bersama warga, yang dikemas dalam suasana kebersamaan dan dzikir. Antusiasme warga terlihat nyata, mulai dari keterlibatan sejak persiapan hingga partisipasi penuh saat pelaksanaan melebihi ekspektasi yang ada. Mereka menyumbangkan beberapa ekor ayam, ikan, serta tempat yang diusahakan untuk membantu memeriahkan. Tak ini membuat kita kembali belajar bahwa untuk membantu dan berbagi tak perlu menunggu memiliki lebih, sebab apapun itu pasti berharga dan berarti. Pendekatan Edukatif pada Remaja dan Anak-Anak Pada bidang pendidikan, mahasiswa KKM Mandiri melaksanakan psikoedukasi di SMPN 4 Jonggat dengan tema "Healthy Relationship". Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada remaja mengenai relasi yang sehat, komunikasi yang bertanggung jawab, serta pentingnya kesiapan emosional dan psikologis. Melalui pendekatan edukatif, program ini diharapkan dapat menjadi upaya preventif dalam meminimalisir pernikahan dini, ataupun toxic relationship di berbagai lingkungan. Nilai keagamaan dan kebersamaan turut diperkuat melalui peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang melibatkan anak-anak tingkat sekolah dasar dan warga Dusun Lendang. Berbagai perlombaan bernuansa islami menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mempererat hubungan antarwarga lintas usia. Momentum ini tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga ruang tumbuhnya semangat kebersamaan dalam suasana religius. Komitmen terhadap pendidikan keagamaan diwujudkan melalui pembelajaran Al-Qur’an dan kajian fiqih dasar di TPQ Masjid Nurul Hidayah. Kami turut mendampingi kegiatan mengaji serta memastikan materi fiqih dapat diakses secara berkelanjutan melalui buku kajian fiqih dasar yang telah dicetak dan ditempatkan di masjid. Keberadaan bahan kajian ini diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh anak-anak dan masyarakat setempat. Kebersamaan dan Proses Belajar Bersama Sepanjang proses pengabdian, mahasiswa juga dihadapkan pada dinamika sosial yang menuntut sikap saling memahami dan menghargai. Ketika kegiatan tidak selalu berjalan sesuai rencana, komunikasi membantu dalam menemukan pemahaman. Dari situ, pengabdian dimaknai bukan hanya sebagai pelaksanaan program, tetapi juga sebagai latihan kesabaran, empati, dan kedewasaan dalam bersikap. Kebersamaan yang terjalin hingga momen penutupan menjadi penegas bahwa kehadiran mahasiswa bukan sekadar singgah, melainkan bagian dari proses saling belajar. Pengalaman di Desa Sukarara meninggalkan kesan mendalam bukan karena betapa sempurnanya atau betapa berdampaknya kita, tapi karena betapa berharganya pelajaran yang kita terima, dan makna pengabdian yang sesungguhnya.
AHSANA NADIA
Sukarara, Lombok Tengah, Pengabdian mahasiswa melalui Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Mandiri di Desa Sukarara menjadi ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga pada proses membersamai masyarakat. Berangkat dari niat mengabdi, mahasiswa justru menemukan banyak pelajaran tentang sikap, nilai kebersamaan, dan cara memaknai peran sebagai pendatang di tengah kehidupan desa. Kehangatan Warga dalam Menyambut Kedatangan Berlokasi di Dusun Lendang, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, kehadiran mahasiswa disambut dengan keterbukaan dan kehangatan warga. Jamuan sederhana khas desa menjadi simbol penerimaan, sekaligus gambaran kuat tentang budaya memuliakan tamu yang masih terjaga. Dari awal kedatangan, interaksi yang baik penuh keramahan mengawali keberlangsungan seluruh program pengabdian. Pendekatan kepada warga menjadi langkah awal yang ditempuh melalui malam tahun baru bersama warga, yang dikemas dalam suasana kebersamaan dan dzikir. Antusiasme warga terlihat nyata, mulai dari keterlibatan sejak persiapan hingga partisipasi penuh saat pelaksanaan melebihi ekspektasi yang ada. Mereka menyumbangkan beberapa ekor ayam, ikan, serta tempat yang diusahakan untuk membantu memeriahkan. Tak ini membuat kita kembali belajar bahwa untuk membantu dan berbagi tak perlu menunggu memiliki lebih, sebab apapun itu pasti berharga dan berarti. Pendekatan Edukatif pada Remaja dan Anak-Anak Pada bidang pendidikan, mahasiswa KKM Mandiri melaksanakan psikoedukasi di SMPN 4 Jonggat dengan tema "Healthy Relationship". Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada remaja mengenai relasi yang sehat, komunikasi yang bertanggung jawab, serta pentingnya kesiapan emosional dan psikologis. Melalui pendekatan edukatif, program ini diharapkan dapat menjadi upaya preventif dalam meminimalisir pernikahan dini, ataupun toxic relationship di berbagai lingkungan. Nilai keagamaan dan kebersamaan turut diperkuat melalui peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang melibatkan anak-anak tingkat sekolah dasar dan warga Dusun Lendang. Berbagai perlombaan bernuansa islami menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mempererat hubungan antarwarga lintas usia. Momentum ini tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga ruang tumbuhnya semangat kebersamaan dalam suasana religius. Komitmen terhadap pendidikan keagamaan diwujudkan melalui pembelajaran Al-Qur’an dan kajian fiqih dasar di TPQ Masjid Nurul Hidayah. Kami turut mendampingi kegiatan mengaji serta memastikan materi fiqih dapat diakses secara berkelanjutan melalui buku kajian fiqih dasar yang telah dicetak dan ditempatkan di masjid. Keberadaan bahan kajian ini diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh anak-anak dan masyarakat setempat. Kebersamaan dan Proses Belajar Bersama Sepanjang proses pengabdian, mahasiswa juga dihadapkan pada dinamika sosial yang menuntut sikap saling memahami dan menghargai. Ketika kegiatan tidak selalu berjalan sesuai rencana, komunikasi membantu dalam menemukan pemahaman. Dari situ, pengabdian dimaknai bukan hanya sebagai pelaksanaan program, tetapi juga sebagai latihan kesabaran, empati, dan kedewasaan dalam bersikap. Kebersamaan yang terjalin hingga momen penutupan menjadi penegas bahwa kehadiran mahasiswa bukan sekadar singgah, melainkan bagian dari proses saling belajar. Pengalaman di Desa Sukarara meninggalkan kesan mendalam bukan karena betapa sempurnanya atau betapa berdampaknya kita, tapi karena betapa berharganya pelajaran yang kita terima, dan makna pengabdian yang sesungguhnya.
TIKO DEWI AYUMI
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Unggulan Fakultatif Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang telah melaksanakan program konseling sebaya di Pondok Pesantren An-Najiyah 2 dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2, Tambakberas, Jombang. Program kerja ini menjadi salah satu bentuk penerapan keilmuan psikologi secara langsung di lingkungan pesantren. Mahasiswa KKM berupaya menghadirkan layanan konseling sebaya yang menjadi ruang aman dan mudah diakses bagi para santri yang ingin berbagi cerita. Program konseling sebaya merupakan layanan pendampingan psikologis yang dilakukan oleh mahasiswa KKM sebagai konselor sebaya. Layanan ini memberikan kesempatan kepada para santri untuk berbagai cerita, keluh kesah, dan permasalahan pribadi lainnya secara terbuka. Mahasiswa KKM sebagai konselor berusaha memberikan ruang aman bagi para santri (klien) tanpa menghakimi selama proses konseling berlangsung. Hal ini sebagai upaya agar santri merasa aman, nyaman, dan merasa bahwa mereka dipahami. Pelaksanaan konseling sebaya mendapatkan respons positif di para santri. Hal ini terlihat dari antusiasme minat yang tinggi santri untuk mengakses layanan konseling sebaik-baiknya. Banyak santri yang secara sukarela mengikuti sesi konseling dan berusaha terbuka saat berbagi cerita dan permasalahan. Hal ini menunjukkan bahwa program konseling sebaya mampu menjawab kebutuhan santri akan ruang untuk mereka berbagi cerita. Latar belakang dilakukan konseling sebaya Program konseling sebaya dilatarbelakangi oleh kebutuhan santri untuk memperoleh dukungan emosional dalam berbagi cerita atau permasalahan. Santri seringkali menghadapi berbagai tekanan, baik tekanan akademik, sosial, maupun personal, namun mereka tidak selalu memiliki tempat yang memadai untuk mengekspresikan perasaan dan kebingungan yang dialami. Selain itu, latar belakang pelaksanaan konseling sebaya juga diperkuat oleh hasil program kerja sebelumnya, yaitu Sharing Session. Dari kegiatan tersebut, ditemukan bahwa banyak santri yang mengalami kebingungan terkait masa depan, seperti perencanaan pendidikan selanjutnya, perkuliahan, pilihan karir, serta permasalahan pertemanan. Temuan ini menunjukkan adanya urgensi untuk menghadirkan layanan pendampingan yang pada hal ini telah mahasiswa KKM realisasikan dalam bentuk konseling sebaya. Pelaksanaan konseling sebaya Program konseling sebaya dilaksanakan selama tiga pekan, yakni mulai tanggal 8 hingga 26 Januari 2026. Program ini dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren An-Najiyah 2 untuk santri putra dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2 untuk santri putri. Pembagian lokasi tersebut dilakukan agar seluruh santri memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses layanan konseling. Menyesuaikan dengan padatnya jadwal kegiatan pesantren, layanan konseling dilaksanakan secara terjadwal sebanyak dua kali dalam satu minggu, yaitu pada Senin malam dan Kamis malam. Jadwal konseling untuk santri putra dijadwalkan pada 21.00 - 23.00, sedangkan untuk santri putri dijadwalkan pada pukul 20.00 - 22.00. Setiap jadwal konseling dilayani oleh tiga konselor, baik untuk santri putra maupun santri putri. Dalam pelaksanaannya, setiap sesi konseling berlangsung dengan durasi maksimal 60 menit untuk setiap klien. Apabila sesi konseling selesai sebelum batas waktu tersebut, konselor dapat melanjutkan sesi dengan klien berikutnya. Pengaturan durasi yang fleksibel ini memungkinkan layanan konseling menjangkau lebih banyak santri tanpa mengurangi kualitas konseling, sekaligus memastikan bahwa proses konseling tetap berlangsung secara efektif. Hasil permasalahan secara umum Pelaksanaan program konseling sebaya menunjukkan adanya berbagai permasalahan yang dialami santri. Selama periode pelaksanaan program, tercatat kurang lebih 70 santri yang sudah mengakses layanan konseling sebaya dan secara aktif memanfaatkan sesi konseling yang disediakan. Berdasarkan hasil pendampingan selama proses konseling, permasalahan yang paling banyak muncul berkaitan dengan aspek akademik dan perencanaan karir masa depan. Dalam banyak kasus, permasalahan ini juga berkaitan dengan dinamika keluarga. Sejumlah santri mengungkapkan kebingungan dalam menentukan arah pendidikan selanjutnya, seperti pilihan jurusan dan rencana melanjutkan pendidikan. Sementara di sisi lain mereka juga menghadapi tuntutan atau harapan tertentu dari keluarga yang tidak selalu sejalan dengan keinginan pribadi. Selain permasalahan yang berkaitan dengan aspek akademik dan dinamika keluarga, konflik pertemanan serta proses pencarian jati diri juga menjadi permasalahan yang cukup sering muncul dalam sesi konseling sebaya. Permasalahan-permasalahan tersebut menunjukkan bahwa santri menghadapi berbagai tekanan dalam proses perkembangan diri mereka dan membutuhkan dukungan untuk mengelola masalah yang dihadapi. Melalui konseling sebaya, santri mendapatkan ruang untuk memahami permasalahan yang dialami, mengekspresikan perasaan, serta mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih tepat dalam menyikapi berbagai permasalahan tersebut. Penutup mencakup Melalui pelaksanaan program konseling sebaya ini, mahasiswa KKM Unggulan Fakultatif Psikologi UIN Malang berharap layanan konseling serupa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan di lingkungan pesantren. Konseling sebaya diharapkan dapat berkelanjutan menjadi ruang bagi santri untuk berbagi cerita dan mengelola permasalahan yang dihadapi, khususnya terkait aspek akademik, perencanaan masa depan, serta dinamika sosial dan keluarga. Selain itu, mahasiswa KKM juga berharap kerjasama ini bisa terus berlanjut antara pihak pesantren dan perguruan tinggi, terutama untuk menghadirkan program-program yang lebih fokus pada kesehatan mental santri. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak dan keberlanjutan program konseling sebaya, kegiatan ini diharapkan tidak hanya berhenti saat masa KKM berlangsung., tetapi dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pesantren yang lebih peduli terhadap kesejahteraan psikologis santri. Kehadiran konseling sebaya ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan ruang yang aman dan suportif bagi santri untuk didengarkan serta didampingi dalam menghadapi berbagai permasalahan yang mereka alami.
ANDIKA
Pergaulan di lingkungan sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman dan menyenangkan bagi setiap siswa. Namun, dalam praktiknya, masih banyak perilaku yang dianggap sebagai candaan, tetapi sebenarnya dapat melukai perasaan orang lain. Ejekan, julukan buruk, hingga pengucilan sering kali terjadi tanpa disadari dan perlahan membentuk budaya yang tidak sehat di lingkungan sekolah.