DIVA MAYLANA SURYA
Wagir, Malang - Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang bertugas di SMP Sunan Giri melaksanakan salah satu program kerja bidang lingkungan, yaitu kegiatan penanaman Tanaman Obat Sekolah (TOGA) yang disertai dengan pelabelan nama latin dan manfaat tanaman. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa KKM dalam mendukung penguatan Program Adiwiyata serta pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran. Kegiatan penanaman TOGA dilaksanakan di area lingkungan sekolah yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan kondisi lahan yang tersedia. Berbagai jenis tanaman obat ditanam dalam pot dan lahan terbatas, sehingga mudah dirawat dan dimanfaatkan. Tanaman yang dipilih merupakan tanaman obat yang umum dijumpai dan memiliki manfaat kesehatan, sehingga relevan untuk dikenalkan kepada siswa dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai bagian dari nilai edukatif kegiatan, mahasiswa KKM juga melakukan pelabelan tanaman yang memuat informasi nama lokal, nama latin, serta manfaat tanaman obat. Pelabelan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai jenis tanaman obat dari sisi ilmiah dan fungsional. Dengan adanya label tersebut, area tanaman obat sekolah tidak hanya berfungsi sebagai penghijauan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran berbasis literasi lingkungan dan kesehatan. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan kader Adiwiyata SMP Sunan Giri yang berperan aktif dalam proses penanaman dan penataan tanaman. Keterlibatan kader Adiwiyata menjadi bagian dari pembinaan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekolah serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam merawat tanaman secara berkelanjutan. Kolaborasi antara mahasiswa KKM dan kader Adiwiyata diharapkan dapat memperkuat budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah. Program kerja penanaman TOGA ini sejalan dengan komitmen SMP Sunan Giri sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi, khususnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan sekolah secara edukatif dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM turut mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang hijau, sehat, dan informatif, sekaligus memberikan pengalaman belajar langsung bagi siswa. Diharapkan, hasil dari program kerja ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh warga sekolah. Tanaman obat yang telah ditanam dan diberi label edukatif diharapkan terus dirawat dan dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran lingkungan hidup serta penguatan karakter peduli lingkungan di SMP Sunan Giri.
ZAERICHO LEODIKISWARI
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Unggulan Fakultatif Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang telah melaksanakan program konseling sebaya di Pondok Pesantren An-Najiyah 2 dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2, Tambakberas, Jombang. Program kerja ini menjadi salah satu bentuk penerapan keilmuan psikologi secara langsung di lingkungan pesantren. Mahasiswa KKM berupaya menghadirkan layanan konseling sebaya yang menjadi ruang aman dan mudah diakses bagi para santri yang ingin berbagi cerita. Program konseling sebaya sendiri merupakan layanan pendampingan psikologis yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai konselor sebaya. Layanan ini memberikan kesempatan kepada para santri untuk berbagai cerita, keluh kesah, dan permasalahan pribadi lainnya secara terbuka. Mahasiswa KKM sebagai konselor berusaha memberikan ruang aman bagi para santri (klien) tanpa menghakimi selama proses konseling berlangsung. Hal ini sebagai upaya agar santri merasa aman, nyaman, dan merasa bahwa mereka dipahami. Pelaksanaan konseling sebaya mendapatkan respons positif di para santri. Hal ini terlihat dari antusiasme minat yang tinggi santri untuk mengakses layanan konseling sebaik-baiknya. Banyak santri yang secara sukarela mengikuti sesi konseling dan berusaha terbuka saat berbagi cerita dan permasalahan. Hal ini menunjukkan bahwa program konseling sebaya mampu menjawab kebutuhan santri akan ruang untuk mereka berbagi cerita. Latar belakang dilakukan konseling sebaya Program konseling sebaya dilatarbelakangi oleh kebutuhan santri untuk memperoleh dukungan emosional dalam berbagi cerita atau permasalahan. Santri seringkali menghadapi berbagai tekanan, baik tekanan akademik, sosial, maupun personal, namun mereka tidak selalu memiliki tempat yang memadai untuk mengekspresikan perasaan dan kebingungan yang dialami. Selain itu, latar belakang pelaksanaan konseling sebaya juga diperkuat oleh hasil program kerja sebelumnya, yaitu Sharing Session. Dari kegiatan tersebut, ditemukan bahwa banyak santri yang mengalami kebingungan terkait masa depan, seperti perencanaan pendidikan selanjutnya, perkuliahan, pilihan karir, serta permasalahan pertemanan. Temuan ini menunjukkan adanya urgensi untuk menghadirkan layanan pendampingan yang pada hal ini telah mahasiswa KKM realisasikan dalam bentuk konseling sebaya. Teknis pelaksanaan konseling sebaya Program konseling sebaya dilaksanakan selama tiga pekan, yakni mulai tanggal 8 hingga 26 Januari 2026. Program ini dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren An-Najiyah 2 untuk santri putra dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2 untuk santri putri. Pembagian lokasi tersebut dilakukan agar seluruh santri memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses layanan konseling. Menyesuaikan dengan padatnya jadwal kegiatan pesantren, layanan konseling dilaksanakan secara terjadwal sebanyak dua kali dalam satu minggu, yaitu pada Senin malam dan Kamis malam. Jadwal konseling untuk santri putra dijadwalkan pada 21.00 - 23.00, sedangkan untuk santri putri dijadwalkan pada pukul 20.00 - 22.00. Setiap jadwal konseling dilayani oleh tiga konselor, baik untuk santri putra maupun santri putri. Dalam pelaksanaannya, setiap sesi konseling berlangsung dengan durasi maksimal 60 menit untuk setiap klien. Apabila sesi konseling selesai sebelum batas waktu tersebut, konselor dapat melanjutkan sesi dengan klien berikutnya. Pengaturan durasi yang fleksibel ini memungkinkan layanan konseling menjangkau lebih banyak santri tanpa mengurangi kualitas konseling, sekaligus memastikan bahwa proses konseling tetap berlangsung secara efektif. Pelaksanaan program konseling sebaya menunjukkan adanya berbagai permasalahan yang dialami santri. Selama periode pelaksanaan program, tercatat kurang lebih 70 santri yang sudah mengakses layanan konseling sebaya dan secara aktif memanfaatkan sesi konseling yang disediakan. Berdasarkan hasil pendampingan selama proses konseling, permasalahan yang paling banyak muncul berkaitan dengan aspek akademik dan perencanaan karir masa depan. Dalam banyak kasus, permasalahan ini juga berkaitan dengan dinamika keluarga. Sejumlah santri mengungkapkan kebingungan dalam menentukan arah pendidikan selanjutnya, seperti pilihan jurusan dan rencana melanjutkan pendidikan. Sementara di sisi lain mereka juga menghadapi tuntutan atau harapan tertentu dari keluarga yang tidak selalu sejalan dengan keinginan pribadi. Selain permasalahan yang berkaitan dengan aspek akademik dan dinamika keluarga, konflik pertemanan serta proses pencarian jati diri juga menjadi permasalahan yang cukup sering muncul dalam sesi konseling sebaya. Permasalahan-permasalahan tersebut menunjukkan bahwa santri menghadapi berbagai tekanan dalam proses perkembangan diri mereka dan membutuhkan dukungan untuk mengelola masalah yang dihadapi. Melalui konseling sebaya, santri mendapatkan ruang untuk memahami permasalahan yang dialami, mengekspresikan perasaan, serta mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih tepat dalam menyikapi berbagai permasalahan tersebut. Melalui pelaksanaan program konseling sebaya ini, mahasiswa KKM Unggulan Fakultatif Psikologi UIN Malang berharap layanan konseling serupa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan di lingkungan pesantren. Konseling sebaya diharapkan dapat berkelanjutan menjadi ruang bagi santri untuk berbagi cerita dan mengelola permasalahan yang dihadapi, khususnya terkait aspek akademik, perencanaan masa depan, serta dinamika sosial dan keluarga. Selain itu, mahasiswa KKM juga berharap kerjasama ini bisa terus berlanjut antara pihak pesantren dan perguruan tinggi, terutama untuk menghadirkan program-program yang lebih fokus pada kesehatan mental santri. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak dan keberlanjutan program konseling sebaya, kegiatan ini diharapkan tidak hanya berhenti saat masa KKM berlangsung., tetapi dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pesantren yang lebih peduli terhadap kesejahteraan psikologis santri. Kehadiran konseling sebaya ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan ruang yang aman dan suportif bagi santri untuk didengarkan serta didampingi dalam menghadapi berbagai permasalahan yang mereka alami.
NEZA INDRA AYU ANGGRAENI
31 Januari 2026 SMP Sunan Giri Wagir Malang — Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang bertugas di SMP Sunan Giri melaksanakan salah satu program kerja di bidang lingkungan, yaitu kegiatan penanaman Tanaman Obat Sekolah (TOSA) yang disertai dengan pelabelan nama latin serta manfaat dari setiap tanaman. Kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKM dalam mendukung penguatan Program Adiwiyata sekaligus memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sarana pembelajaran bagi siswa. Kegiatan penanaman TOSA dilaksanakan di area lingkungan sekolah yang telah ditentukan. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM melakukan penanaman berbagai jenis tanaman obat yang bermanfaat bagi kesehatan, kemudian memberikan label berisi nama tanaman dan kegunaannya. Pelabelan ini bertujuan agar siswa dapat mengenal jenis-jenis tanaman obat serta memahami manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, diharapkan warga sekolah dapat lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus menambah wawasan mengenai pemanfaatan tanaman obat. Program penanaman TOSA dan pelabelan edukatif ini juga menjadi upaya untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan sekolah yang hijau, sehat, dan edukatif.
AULIA RAHMADINA
Dari Kampus ke Desa: Awal Pengabdian Mahasiswa Sejak 23 Desember 2025 hingga 4 Februari 2026, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Unggulan Halal Center UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjalankan program pengabdian masyarakat di Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Selama 40 hari, seluruh anggota kelompok DarmaWidya hadir bukan sebagai tamu, melainkan sebagai mitra belajar dan pendamping masyarakat. Fokus utama pengabdian diarahkan pada sosialisasi serta percepatan sertifikasi halal bagi pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) sebagai langkah strategis membangun ekosistem ekonomi halal berbasis komunitas. Program ini menjadi bentuk nyata implementasi tridharma perguruan tinggi—membawa ilmu dari ruang kelas untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat. Latar Belakang: Rendahnya Literasi Halal Pelaku UMK Pelaksanaan program dilandasi temuan awal bahwa masih banyak pelaku UMK yang: belum memahami kewajiban sertifikasi halal, memiliki keterbatasan literasi administrasi, belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), serta merasa proses legalitas usaha terlalu rumit dan menakutkan. Padahal, sertifikasi halal bukan hanya bernilai religius, tetapi juga berperan penting dalam menjamin keamanan produk, meningkatkan kepercayaan konsumen, serta memperkuat daya saing usaha di tengah kebijakan wajib halal nasional. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa untuk hadir sebagai fasilitator sekaligus pendamping teknis. Pembekalan Profesional: Mahasiswa sebagai Pendamping P3H Sebelum terjun ke lapangan, seluruh mahasiswa mengikuti pembekalan Pendamping Proses Produk Halal (P3H). Pembekalan ini mencakup pemahaman: konsep halal–haram, alur sertifikasi halal, peran BPJPH, serta penggunaan sistem pendaftaran daring SIHALAL. Melalui proses ini, mahasiswa dipersiapkan secara akademik dan teknis agar mampu mendampingi masyarakat secara profesional, kredibel, dan solutif. Menyapa Warga: Survei dan Pendekatan Door to Door Program dimulai dengan koordinasi bersama pemerintah desa, dilanjutkan survei lapangan untuk memetakan kondisi sosial ekonomi dan keberadaan pelaku usaha. Mahasiswa melakukan kunjungan langsung (door to door) ke rumah-rumah produksi. Dari interaksi tersebut terungkap bahwa sebagian besar pelaku UMK belum memahami prosedur sertifikasi dan merasa cemas menghadapi proses administrasi. Pendekatan personal inilah yang menjadi pintu masuk utama membangun kepercayaan. Pendampingan Intensif: Dari Bahan Baku hingga SIHALAL Menjawab berbagai kendala, mahasiswa memberikan pendampingan individual secara menyeluruh, meliputi: edukasi pemilihan bahan baku halal, pengecekan proses produksi, penataan sanitasi dan kebersihan, fasilitasi pembuatan NIB, hingga pengajuan sertifikasi melalui sistem SIHALAL. Pendekatan dialogis membuat pelaku usaha merasa didampingi, bukan dihakimi. Perlahan, rasa takut berubah menjadi semangat untuk berbenah. Edukasi Kolektif: Sosialisasi Desa hingga Kecamatan Selain pendampingan personal, DarmaWidya juga menggelar sosialisasi kolektif. Di tingkat desa, kegiatan dilaksanakan di Masjid Al-Firdaus Pandanlandung dengan melibatkan pelaku UMK dan warga sekitar. Sementara di tingkat kecamatan, sosialisasi dikemas dalam talkshow “Penguatan UMKM Menuju Daya Saing Unggul melalui Ekosistem Halal” di Pendopo Kecamatan Wagir, menghadirkan narasumber dari: Halal Center UIN Malang, Bank Indonesia Malang, serta dosen pendamping. Forum ini memperluas jangkauan edukasi hingga peserta dari 12 desa se-Kecamatan Wagir. Capaian Nyata: 14 UMK Resmi Bersertifikat Halal Upaya pendampingan membuahkan hasil signifikan. Dari 18 pelaku UMK yang didampingi, sebanyak 14 usaha berhasil memperoleh sertifikat halal, sementara sisanya masih dalam tahap verifikasi. Capaian ini menunjukkan bahwa proses yang semula dianggap rumit ternyata dapat diselesaikan lebih cepat melalui pendampingan yang terstruktur. Produk-produk lokal kini memiliki legalitas resmi, kepercayaan konsumen meningkat, serta peluang pasar yang semakin luas. Lebih dari Sekadar Administrasi: Proses Pemberdayaan Dampak program tidak berhenti pada terbitnya sertifikat. Mahasiswa juga menyaksikan perubahan sikap pelaku usaha: yang awalnya ragu menjadi percaya diri, yang semula pasif menjadi proaktif, yang takut administrasi kini mulai melek legalitas. Transformasi ini menegaskan bahwa sertifikasi halal bukan hanya urusan dokumen, tetapi juga proses pemberdayaan dan peningkatan kapasitas masyarakat. DarmaWidya sebagai Jembatan Negara dan Masyarakat Selama 40 hari, DarmaWidya hadir sebagai penghubung antara kebijakan negara dan realitas pelaku usaha desa. Pendekatan humanis, partisipatif, dan berbasis komunitas terbukti efektif dalam: membangun literasi halal, menumbuhkan kepercayaan, serta memperkuat ekosistem ekonomi lokal. Pengabdian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu berperan sebagai agen perubahan sosial. Penutup: Jejak Pengabdian yang Akan Terus Hidup Program KKM mungkin telah berakhir pada 4 Februari 2026, namun dampaknya akan terus terasa. Sertifikat halal yang terbit, pengetahuan yang dibagikan, dan hubungan yang terjalin menjadi warisan berharga bagi Desa Pandanlandung. Dari cerita, lika-liku, hingga pencapaian, DarmaWidya meninggalkan satu pesan sederhana: bahwa pengabdian bukan hanya tentang hadir, tetapi tentang memberi makna dan meninggalkan perubahan nyata.
ILHAM ZUHRI MUHTAROM
Ucapan Selamat Tinggal Tepat pada tanggal 31 Januari 2026, sebuah perjalanan pengabdian yang penuh makna mencapai puncaknya. Kelompok mahasiswa KKM 117 "Arthaseva" UIN Maulana Malik Ibrahim Malang resmi menutup masa bakti mereka yang telah berlangsung selama 40 hari. Dengan Masjid Darussalam sebagai pusat seluruh kegiatan, acara penutupan ini menjadi momen perpisahan yang khidmat sekaligus ungkapan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh keluarga besar masjid. Acara yang berlangsung di serambi masjid ini dihadiri oleh jajaran tokoh yang telah menjadi pendamping dan pengayom mahasiswa selama pengabdian. Hadir di antaranya Ketua Takmir Masjid Darussalam, Ustadz Fathullah; Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ibu Mubasyiroh, S.S., M.Pd.I; jajaran Ketua RW 07 dan RW 08 beserta pengurusnya; jajaran pengajar TPQ Darussalam; serta rekan-rekan dari pengurus Remaja Masjid Darussalam. Jejak Pengabdian di Jantung Masjid Darussalam Selama 40 hari terakhir, Masjid Darussalam telah menjadi rumah kedua bagi mahasiswa Arthaseva. Fokus pengabdian ini memang diarahkan pada pengembangan potensi dan pemberdayaan kegiatan yang berpusat di lingkungan masjid. Mulai dari pendampingan belajar di TPQ, digitalisasi dakwah bersama Remaja Masjid, hingga kolaborasi sosial dalam kegiatan Family Corner. Dalam sambutannya, Ustadz Fathullah menyampaikan apresiasi atas semangat mahasiswa yang telah membaur dengan baik. Keberadaan mahasiswa tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga menghidupkan suasana religius di lingkungan RW 07 dan RW 08 melalui kedekatan emosional yang terjalin dengan para jamaah dan pengurus masjid. Laporan Pertanggungjawaban dan Penyerahan Vandel Sebagai bentuk amanah akademik, mahasiswa memaparkan rangkuman hasil program kerja yang telah dilaksanakan. Paparan ini menjadi cermin dedikasi mahasiswa dalam berupaya memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi Masjid Darussalam. Program-program yang dijalankan diharapkan dapat terus berlanjut dan dikembangkan oleh para pengurus masjid maupun remaja masjid setempat. Suasana haru mulai menyelimuti saat memasuki prosesi penyerahan vandel sebagai simbol kenang-kenangan. Vandel tersebut diserahkan langsung oleh Ketua KKM 117 kepada pihak Takmir Masjid Darussalam. Namun, kejutan datang dari pihak masjid; secara tak terduga, Takmir Masjid Darussalam juga menyerahkan vandel balasan kepada kelompok KKM 117 Arthaseva. Penyerahan timbal balik ini menjadi simbol kuat bahwa hubungan yang terjalin bukan sekadar tugas kampus, melainkan ikatan kekeluargaan yang saling menghargai. Vandel tersebut menjadi bukti nyata bahwa kehadiran mahasiswa telah diterima dengan tangan terbuka, dan sebaliknya, mahasiswa merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian dari keluarga besar Darussalam. Belum Usai: Menanti Puncak Haflah dan Aftermovie Meski secara formal masa pengabdian 40 hari telah ditutup, ikatan mahasiswa dengan Masjid Darussalam ternyata belum benar-benar berakhir. Mahasiswa KKM 117 dijadwalkan akan kembali hadir pada 7 Februari mendatang untuk menghadiri sekaligus berpartisipasi dalam acara Puncak Haflah Imtihan. Salah satu agenda yang paling dinanti dalam puncak acara tersebut adalah penayangan video aftermovie. Video ini merupakan rangkuman perjalanan mahasiswa selama 40 hari mengabdi, yang akan memutar kembali memori indah, tawa, dan perjuangan bersama jamaah serta santri. Penayangan ini diharapkan menjadi kado perpisahan visual yang manis bagi seluruh warga. Doa Penutup dan Harapan Masa Depan Rangkaian acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Ustadz Kristiawan. Dalam suasana yang hening dan penuh kekhusyukan, doa dipanjatkan sebagai rasa syukur atas kelancaran seluruh kegiatan serta permohonan agar segala ikhtiar yang telah dilakukan menjadi amal jariyah bagi mahasiswa dan membawa keberkahan bagi kemajuan Masjid Darussalam. Acara diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama jajaran takmir, RW, pengajar TPQ, dan remaja masjid. Meski secara fisik mahasiswa KKM 117 harus kembali ke kampus, namun memori tentang kehangatan masyarakat dan syiar di Masjid Darussalam akan selalu tersimpan rapat dalam ingatan mereka. Selamat jalan, Arthaseva 117. Terima kasih,