WILDATULLAILI
Kampung Zakat Terpadu yang berada di Dusun Paceh, Desa Jambearum, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, kembali menggelar agenda tahunan dalam rangka peringatan hari lahir ke-VIII Tahun 1447 H atau 2026 M. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut, mulai Jumat, 31 Januari hingga Minggu, 1 Februari 2026. Rangkaian acara mencakup wisuda santri, khataman Al-Qur'an, berbagai lomba edukatif, hingga aksi sosial berbasis zakat, infak, dan sedekah. Kegiatan harlah menjadi momentum penting bagi Kampung Zakat Terpadu untuk merefleksikan peran zakat tidak hanya sebagai instrumen ekonomi, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan pendidikan dan sosial masyarakat. Selama tiga hari, suasana Dusun Paceh tampak lebih hidup dengan kehadiran santri, wali santri, tokoh agama, tokoh masyarakat, relawan zakat, serta pelajar yang terlibat dalam pendampingan kegiatan. Hari pertama kegiatan diawali dengan pembukaan resmi yang menandai dimulainya seluruh rangkaian acara. Pembukaan ini menjadi titik temu antara panitia, masyarakat, dan para santri untuk menyamakan semangat dan tujuan kegiatan. Setelah pembukaan, panitia langsung menggelar berbagai lomba yang dirancang sesuai dengan kemampuan santri dan tingkatan jilid yang tersedia di TPQ Darul Qur'an Al-Ibrahimy. Lomba mewarnai diperuntukkan bagi santri TK A sebagai sarana melatih motorik dan kreativitas. Lomba bilal, hafalan bacaan shalat, hafalan doa-doa harian, tartil dan tilawati Al-Qur'an, serta baca kitab menjadi bagian utama yang penekanan aspek penguasaan dasar-dasar keagamaan diperuntukkan bagi santri jilid 1-6 dan madin. Pada hari pertama, kegiatan yang dilaksanakan berupa santunan dan pentasyarufan ZIS (Zakat, Infak, dan Sedekah) kepada masyarakat yang berhak menerima (anak yatim, lansia, dan kaum dhuafa). Penyaluran zakat, infak, dan sedekah dilakukan secara langsung dan terbuka, dengan harapan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar mustahik serta memperkuat rasa kebersamaan antara pengelola zakat dan masyarakat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa zakat tidak berhenti pada pengumpulan dana, tetapi harus hadir secara nyata di tengah kehidupan masyarakat. Hari kedua, kegiatan difokuskan pada penguatan hafalan, pemahaman, dan keterampilan santri. Lomba hafalan bacaan shalat, hafalan doa-doa harian, tartil dan tilawati, serta baca kitab dilanjutkan untuk memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh peserta. Selain itu, panitia menambah variasi lomba yang bersifat edukatif dan kolaboratif. Lomba merangkai kalimat dan huruf dirancang untuk melatih kemampuan dasar literasi santri. Lomba muadzin melatih keberanian dan ketepatan dalam melafalkan adzan. Hafalan nadlom Aqidatul Awam menjadi sarana penguatan akidah melalui tradisi keilmuan pesantren. Panitia juga menggelar lomba lagu belajar atau nasyid yang bertujuan menumbuhkan minat belajar melalui media seni. Hafalan surat-surat pendek dan ayat pilihan menjadi bagian dari upaya membiasakan santri dekat dengan Al-Qur'an sejak dini. Lomba cerdas cermat menutup rangkaian hari kedua dengan suasana kompetitif yang sehat, mendorong santri untuk berpikir cepat dan tepat dalam menjawab pertanyaan seputar pengetahuan agama dan umum. Hari ketiga menjadi puncak seluruh rangkaian kegiatan. Acara diawali dengan pengajian atau majlisul ilmi yang diikuti oleh santri dan masyarakat sekitar. Pengajian ini menjadi ruang refleksi dan penguatan nilai-nilai keislaman, sekaligus pengingat bahwa proses belajar tidak berhenti pada perlombaan dan seremoni. Setelah pengajian, dilaksanakan muwadda'ah atau perpisahan dengan guru tugas dari Pondok Pesantren Sidogiri serta mahasiswa KKM 168 Eskalasi Abhipraya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Tahun 2025--2026 yang telah mendampingi kegiatan pendidikan dan sosial di Kampung Zakat Terpadu. Prosesi kirab santri menjadi salah satu momen yang paling dinantikan. Santri berjalan menyusuri kampung zakat dengan membawa obor secara bersama-sama dengan diiringi marching band sebagai simbol perjalanan belajar yang telah mereka tempuh. Kirab ini dilanjutkan dengan prosesi wisuda santri dan khataman Al-Qur'an. Wisuda tidak dimaknai sebagai akhir proses belajar, tetapi sebagai penanda capaian dan motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba menjadi bentuk apresiasi atas usaha dan kerja keras santri selama mengikuti kegiatan. Rangkaian kegiatan harlah ditutup secara resmi oleh panitia. Penutupan ini menjadi penanda berakhirnya kegiatan, sekaligus awal dari komitmen baru untuk terus mengembangkan Kampung Zakat Terpadu sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan berjalan dengan tertib dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat. Harlah ke-VIII Kampung Zakat Terpadu menunjukkan bahwa pengelolaan zakat dapat berjalan seiring dengan penguatan pendidikan keagamaan. Kampung Zakat Terpadu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pendistribusian dana zakat, tetapi juga sebagai ruang pembinaan santri dan penguatan nilai-nilai sosial. Kegiatan ini menampilkan bagaimana zakat, pendidikan, dan partisipasi masyarakat dapat saling terhubung dalam satu ekosistem yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara pengelola zakat, pesantren, perguruan tinggi, dan masyarakat desa Kampung Zakat Terpadu di Dusun Paceh berupaya membangun model pemberdayaan yang dilaksanakan pada kebutuhan lokal. Kegiatan harlah menjadi bukti bahwa pembangunan sumber daya manusia dapat dimulai dari desa dengan pendekatan yang sederhana, terencana, dan berbasis nilai keislaman.
HILMAN ANDI MUHAMMADA
Kampung Zakat Terpadu yang berada di Dusun Paceh, Desa Jambearum, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, kembali menggelar agenda tahunan dalam rangka peringatan hari lahir ke-VIII Tahun 1447 H atau 2026 M. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut, mulai Jumat, 31 Januari hingga Minggu, 1 Februari 2026. Rangkaian acara mencakup wisuda santri, khataman Al-Qur'an, berbagai perlombaan edukatif, hingga aksi sosial berbasis zakat, infak, dan sedekah. Kegiatan harlah menjadi momentum penting bagi Kampung Zakat Terpadu untuk merefleksikan peran zakat tidak hanya sebagai instrumen ekonomi, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan pendidikan dan sosial masyarakat. Selama tiga hari, suasana Dusun Paceh tampak lebih hidup dengan kehadiran santri, wali santri, tokoh agama, tokoh masyarakat, relawan zakat, serta mahasiswa yang terlibat dalam pendampingan kegiatan. Hari pertama kegiatan diawali dengan pembukaan resmi yang menandai dimulainya seluruh rangkaian acara. Pembukaan ini menjadi titik temu antara panitia, masyarakat, dan para santri untuk menyamakan semangat dan tujuan kegiatan. Setelah pembukaan, panitia langsung menggelar berbagai lomba yang dirancang sesuai dengan kemampuan santri dan tingkatan jilid yang tersedia di TPQ Darul Qur'an Al-Ibrahimy. Lomba mewarnai diperuntukkan bagi santri TK A sebagai sarana melatih motorik dan kreativitas. Lomba bilal, hafalan bacaan shalat, hafalan doa-doa harian, tartil dan tilawati Al-Qur'an, serta baca kitab menjadi bagian utama yang menekankan aspek penguasaan dasar-dasar keagamaan diperuntukkan bagi santri jilid 1-6 dan madin. Pada hari pertama, kegiatan yang dilaksanakan berupa santunan dan pentasyarufan ZIS (Zakat, Infak, dan Sedekah) kepada masyarakat yang berhak menerima (anak yatim, lansia, dan kaum dhuafa). Penyaluran zakat, infak, dan sedekah dilakukan secara langsung dan terbuka, dengan harapan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar mustahik serta memperkuat rasa kebersamaan antara pengelola zakat dan masyarakat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa zakat tidak berhenti pada pengumpulan dana, tetapi harus hadir secara nyata di tengah kehidupan masyarakat. Hari kedua, kegiatan difokuskan pada penguatan hafalan, pemahaman, dan keterampilan santri. Lomba hafalan bacaan shalat, hafalan doa-doa harian, tartil dan tilawati, serta baca kitab dilanjutkan untuk memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh peserta. Selain itu, panitia menambah variasi lomba yang bersifat edukatif dan kolaboratif. Lomba merangkai kalimat dan huruf dirancang untuk melatih kemampuan dasar literasi santri. Lomba muadzin melatih keberanian dan ketepatan dalam melafalkan adzan. Hafalan nadlom Aqidatul Awam menjadi sarana penguatan akidah melalui tradisi keilmuan pesantren. Panitia juga menggelar lomba lagu belajar atau nasyid yang bertujuan menumbuhkan minat belajar melalui media seni. Hafalan surat-surat pendek dan ayat pilihan menjadi bagian dari upaya membiasakan santri dekat dengan Al-Qur'an sejak dini. Lomba cerdas cermat menutup rangkaian hari kedua dengan suasana kompetitif yang sehat, mendorong santri untuk berpikir cepat dan tepat dalam menjawab pertanyaan seputar pengetahuan agama dan umum. Hari ketiga menjadi puncak seluruh rangkaian kegiatan. Acara diawali dengan pengajian atau majlisul ilmi yang diikuti oleh santri dan masyarakat sekitar. Pengajian ini menjadi ruang refleksi dan penguatan nilai-nilai keislaman, sekaligus pengingat bahwa proses belajar tidak berhenti pada perlombaan dan seremoni. Setelah pengajian, dilaksanakan muwadda'ah atau perpisahan dengan guru tugas dari Pondok Pesantren Sidogiri serta mahasiswa KKM 168 Eskalasi Abhipraya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Tahun 2025--2026 yang telah mendampingi kegiatan pendidikan dan sosial di Kampung Zakat Terpadu. Prosesi kirab santri menjadi salah satu momen yang paling dinantikan. Santri berjalan menyusuri kampung zakat dengan membawa obor secara bersama-sama dengan diiringi marching band sebagai simbol perjalanan belajar yang telah mereka tempuh. Kirab ini dilanjutkan dengan prosesi wisuda santri dan khataman Al-Qur'an. Wisuda tidak dimaknai sebagai akhir proses belajar, tetapi sebagai penanda capaian dan motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba menjadi bentuk apresiasi atas usaha dan kerja keras santri selama mengikuti kegiatan. Rangkaian kegiatan harlah ditutup secara resmi oleh panitia. Penutupan ini menjadi penanda berakhirnya kegiatan, sekaligus awal dari komitmen baru untuk terus mengembangkan Kampung Zakat Terpadu sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan berjalan dengan tertib dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat. Harlah ke-VIII Kampung Zakat Terpadu menunjukkan bahwa pengelolaan zakat dapat berjalan seiring dengan penguatan pendidikan keagamaan. Kampung Zakat Terpadu tidak hanya berfungsi sebagai tempat distribusi dana zakat, tetapi juga sebagai ruang pembinaan santri dan penguatan nilai sosial. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana zakat, pendidikan, dan partisipasi masyarakat dapat saling terhubung dalam satu ekosistem yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara pengelola zakat, pesantren, perguruan tinggi, dan masyarakat desa Kampung Zakat Terpadu di Dusun Paceh berupaya membangun model pemberdayaan yang berakar pada kebutuhan lokal. Kegiatan harlah menjadi bukti bahwa pembangunan sumber daya manusia dapat dimulai dari desa dengan pendekatan yang sederhana, terencana, dan berbasis nilai keislaman.
SAQYA HILYA NADHIVA
Kampung Zakat Terpadu yang berada di Dusun Paceh, Desa Jambearum, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, kembali menggelar agenda tahunan dalam rangka peringatan hari lahir ke-VIII Tahun 1447 H atau 2026 M. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut, mulai Jumat, 31 Januari hingga Minggu, 1 Februari 2026. Rangkaian acara mencakup wisuda santri, khataman Al-Qur'an, berbagai perlombaan edukatif, hingga aksi sosial berbasis zakat, infak, dan sedekah. Kegiatan harlah menjadi momentum penting bagi Kampung Zakat Terpadu untuk merefleksikan peran zakat tidak hanya sebagai instrumen ekonomi, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan pendidikan dan sosial masyarakat. Selama tiga hari, suasana Dusun Paceh tampak lebih hidup dengan kehadiran santri, wali santri, tokoh agama, tokoh masyarakat, relawan zakat, serta mahasiswa yang terlibat dalam pendampingan kegiatan. Hari pertama kegiatan diawali dengan pembukaan resmi yang menandai dimulainya seluruh rangkaian acara. Pembukaan ini menjadi titik temu antara panitia, masyarakat, dan para santri untuk menyamakan semangat dan tujuan kegiatan. Setelah pembukaan, panitia langsung menggelar berbagai lomba yang dirancang sesuai dengan kemampuan santri dan tingkatan jilid yang tersedia di TPQ Darul Qur'an Al-Ibrahimy. Lomba mewarnai diperuntukkan bagi santri TK A sebagai sarana melatih motorik dan kreativitas. Lomba bilal, hafalan bacaan shalat, hafalan doa-doa harian, tartil dan tilawati Al-Qur'an, serta baca kitab menjadi bagian utama yang menekankan aspek penguasaan dasar-dasar keagamaan diperuntukkan bagi santri jilid 1-6 dan madin. Pada hari pertama, kegiatan yang dilaksanakan berupa santunan dan pentasyarufan ZIS (Zakat, Infak, dan Sedekah) kepada masyarakat yang berhak menerima (anak yatim, lansia, dan kaum dhuafa). Penyaluran zakat, infak, dan sedekah dilakukan secara langsung dan terbuka, dengan harapan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar mustahik serta memperkuat rasa kebersamaan antara pengelola zakat dan masyarakat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa zakat tidak berhenti pada pengumpulan dana, tetapi harus hadir secara nyata di tengah kehidupan masyarakat. Hari kedua, kegiatan difokuskan pada penguatan hafalan, pemahaman, dan keterampilan santri. Lomba hafalan bacaan shalat, hafalan doa-doa harian, tartil dan tilawati, serta baca kitab dilanjutkan untuk memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh peserta. Selain itu, panitia menambah variasi lomba yang bersifat edukatif dan kolaboratif. Lomba merangkai kalimat dan huruf dirancang untuk melatih kemampuan dasar literasi santri. Lomba muadzin melatih keberanian dan ketepatan dalam melafalkan adzan. Hafalan nadlom Aqidatul Awam menjadi sarana penguatan akidah melalui tradisi keilmuan pesantren. Panitia juga menggelar lomba lagu belajar atau nasyid yang bertujuan menumbuhkan minat belajar melalui media seni. Hafalan surat-surat pendek dan ayat pilihan menjadi bagian dari upaya membiasakan santri dekat dengan Al-Qur'an sejak dini. Lomba cerdas cermat menutup rangkaian hari kedua dengan suasana kompetitif yang sehat, mendorong santri untuk berpikir cepat dan tepat dalam menjawab pertanyaan seputar pengetahuan agama dan umum. Hari ketiga menjadi puncak seluruh rangkaian kegiatan. Acara diawali dengan pengajian atau majlisul ilmi yang diikuti oleh santri dan masyarakat sekitar. Pengajian ini menjadi ruang refleksi dan penguatan nilai-nilai keislaman, sekaligus pengingat bahwa proses belajar tidak berhenti pada perlombaan dan seremoni. Setelah pengajian, dilaksanakan muwadda'ah atau perpisahan dengan guru tugas dari Pondok Pesantren Sidogiri serta mahasiswa KKM 168 Eskalasi Abhipraya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Tahun 2025--2026 yang telah mendampingi kegiatan pendidikan dan sosial di Kampung Zakat Terpadu. Prosesi kirab santri menjadi salah satu momen yang paling dinantikan. Santri berjalan menyusuri kampung zakat dengan membawa obor secara bersama-sama dengan diiringi marching band sebagai simbol perjalanan belajar yang telah mereka tempuh. Kirab ini dilanjutkan dengan prosesi wisuda santri dan khataman Al-Qur'an. Wisuda tidak dimaknai sebagai akhir proses belajar, tetapi sebagai penanda capaian dan motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba menjadi bentuk apresiasi atas usaha dan kerja keras santri selama mengikuti kegiatan. Rangkaian kegiatan harlah ditutup secara resmi oleh panitia. Penutupan ini menjadi penanda berakhirnya kegiatan, sekaligus awal dari komitmen baru untuk terus mengembangkan Kampung Zakat Terpadu sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan berjalan dengan tertib dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat. Harlah ke-VIII Kampung Zakat Terpadu menunjukkan bahwa pengelolaan zakat dapat berjalan seiring dengan penguatan pendidikan keagamaan. Kampung Zakat Terpadu tidak hanya berfungsi sebagai tempat distribusi dana zakat, tetapi juga sebagai ruang pembinaan santri dan penguatan nilai sosial. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana zakat, pendidikan, dan partisipasi masyarakat dapat saling terhubung dalam satu ekosistem yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara pengelola zakat, pesantren, perguruan tinggi, dan masyarakat desa Kampung Zakat Terpadu di Dusun Paceh berupaya membangun model pemberdayaan yang berakar pada kebutuhan lokal. Kegiatan harlah menjadi bukti bahwa pembangunan sumber daya manusia dapat dimulai dari desa dengan pendekatan yang sederhana, terencana, dan berbasis nilai keislaman.
M. SIHABUDDIN
Pada hari Sabtu tanggal 17 Januari 2026 Kegiatan sosialisasi digitalisasi gerabah UMKM di Desa Alas Kandang dilaksanakan oleh mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, khususnya kelompok 150 Artaghata, dengan tujuan memberdayakan masyarakat pengrajin gerabah melalui pemanfaatan teknologi digital. Kegiatan ini dihadiri oleh kepala desa, masyarakat pengrajin gerabah, serta beberapa tokoh setempat, sehingga tercipta suasana diskusi yang interaktif dan konstruktif. Sosialisasi ini membahas berbagai strategi digitalisasi, mulai dari pemanfaatan media sosial, pemasaran online, hingga cara meningkatkan daya saing produk gerabah melalui platform digital, sehingga produk lokal dapat dikenal lebih luas dan meningkatkan potensi ekonomi desa. Mahasiswa KKM kelompok 150 Artaghata berperan aktif dalam memberikan materi, pendampingan, dan simulasi penggunaan media digital untuk pemasaran produk gerabah. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk bertanya langsung dan berbagi pengalaman seputar produksi dan pemasaran gerabah. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat pengrajin dapat lebih siap memanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan usaha mereka, sehingga UMKM gerabah Desa Alas Kandang dapat lebih berkembang dan dikenal secara luas. Kegiatan sosialisasi berjalan dengan lancar, antusiasme peserta tinggi, dan memberikan dampak positif baik secara ekonomi maupun sosial bagi masyarakat desa.
CHELSIE AURELIA ALMIRA
Selasa, 06 Januari 2026- Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 63 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan salah satu program kerja unggulan berupa Sosialisasi Branding Desa di Desa Tumpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Program ini bertujuan memberikan edukasi dan pendampingan mengenai strategi branding desa melalui media sosial sebagai langkah adaptif menghadapi perkembangan era digital. Di era transformasi digital saat ini, media sosial bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan juga menjadi media promosi yang efektif dan efisien. Desa Tumpakrejo memiliki berbagai potensi, mulai dari sumber daya alam, kegiatan masyarakat, budaya lokal, hingga potensi UMKM yang perlu dipublikasikan secara lebih luas. Namun, potensi tersebut memerlukan wadah resmi dan pengelolaan yang terarah agar mampu membangun citra positif desa. Melalui kegiatan sosialisasi ini, mahasiswa KKM memberikan pemaparan mengenai pentingnya branding desa, teknik dasar pembuatan konten digital, pengelolaan akun media sosial desa, hingga strategi menjaga konsistensi unggahan agar mampu menjangkau masyarakat secara luas. Selain penyampaian materi, kegiatan juga disertai dengan praktik langsung pembuatan akun sosial media desa. Media sosial tersebut diharapkan menjadi: Sarana publikasi informasi kegiatan desa Media promosi potensi dan produk UMKM Wadah dokumentasi program pembangunan desa Alat komunikasi yang transparan antara pemerintah desa dan masyarakat Dengan adanya media sosial resmi desa, informasi dapat tersampaikan secara lebih cepat, akurat, dan terjangkau lebih luas. Selain itu, keberadaan platform digital ini juga diharapkan mampu meningkatkan citra positif desa serta membuka peluang kerja sama dengan pihak eksternal. Program Sosialisasi Branding Desa ini menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran bahwa branding desa merupakan investasi jangka panjang yang memerlukan kolaborasi, konsistensi, dan komitmen bersama. Melalui sinergi antara mahasiswa KKM dan masyarakat, Desa Tumpakrejo diharapkan mampu berkembang sebagai desa yang adaptif, informatif, dan berdaya saing di era digital.
MOH YASYFA ANJANA
JOMBANG — Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) melaksanakan kegiatan observasi di lingkungan Pondok Pesantren Putra Tebuireng, Kabupaten Jombang, pada tanggal 20 Januari 2026, dengan meninjau secara langsung pelaksanaan program pendidikan reguler. Kegiatan ini didampingi oleh Ustadz Lukman, Bagas, dan Hasyim selaku pembina santri putra. Observasi dilakukan untuk memahami secara mendalam pola pembinaan santri dalam program reguler, khususnya terkait sistem pembelajaran, kedisiplinan harian, serta pembentukan karakter santri. Tim KKM mengikuti sejumlah aktivitas santri, mulai dari kegiatan pagi, proses pembelajaran di kelas, hingga kegiatan keagamaan yang menjadi rutinitas pondok. Pendamping kegiatan Ustadz Lukman juga menjelaskan bahwa program reguler dirancang untuk membentuk santri yang tidak hanya unggul dalam aspek akademik keagamaan, akan tetapi juga memiliki akhlak dan kedisiplinan yang kuat. Sementara itu, Usatdz Bagas dan ustadz Hasyim turut memberikan gambaran teknis mengenai pelaksanaan kegiatan harian santri serta metode pembinaan yang diterapkan di pondok putra. Melalui observasi ini, KKM memperoleh data awal terkait kondisi riil pondok, yang nantinya akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan program pengabdian. Pendekatan observatif ini diharapkan mampu menghasilkan program KKM yang relevan dan tidak bertentangan dengan sistem pendidikan pesantren yang telah berjalan. Dengan begitu, dari adanya kegiatan ini maka dapat menilai bahwa keterbukaan pihak pondok dalam mendampingi kegiatan observasi menjadi modal penting bagi terjalinnya kerja sama yang konstruktif selama masa pengabdian berlangsung.