Thumbnail
8 months ago
Melangitkan Sholawat dari Pelosok Malang Pesona Diba'an Rutin Desa Kemiri

INTAN PERMATA SARI

Senja di Dusun Lemahbang, Desa Kemiri, tidak pernah datang dengan tergesa ia selalu datang dengan cerita. Ia hadir perlahan, melukis langit dengan guratan warna kekuningan yang menakjubkan tepat setelah waktu Asar berlalu. Di jam-jam ini, sekitar pukul empat sore. Udara dingin khas dataran tinggi Jabung mulai turun, menyusup ke balik jaket dan menyentuh kulit. Namun, di sebuah mushola kecil, dingin itu seolah tak punya kuasa. Ada kehangatan lain yang menjalar, bukan dari api perapian, melainkan dari lingkar kebersamaan para ibu yang tengah merawat tradisi. Di sinilah kami, mahasiswa KKM yang masih asing, mencoba larut dalam rutinitas Diba’an warga yang sarat akan makna. Jika diukur dengan angka, kegiatan ini mungkin dianggap sepi. Tidak ada ribuan jemaah, tidak ada pengeras suara yang menggelegar ke seluruh penjuru desa. Yang hadir hanyalah segelintir—kurang lebih 5 hingga 12 orang ibu-ibu yang dengan setia meluangkan waktu di sela kesibukan mereka setiap hari Senin. Akan tetapi, justru di situlah letak kekuatannya. "Kecil, namun tak hilang." Frasa ini mungkin paling tepat menggambarkan suasana majelis ini. Jumlah yang sedikit itu justru menciptakan ikatan emosional yang jauh lebih kuat. Kegiatan ini bukan sekadar ritual menggugurkan kewajiban, melainkan sebuah bentuk eksistensi dan penghargaan warga Dusun Lemahbang terhadap nilai religius yang mereka junjung. Konsistensi (istiqomah) mereka adalah bukti bahwa syiar tidak melulu soal keramaian, tapi soal kedalaman hati. Satu hal yang membuat kami tertegun adalah bagaimana para ibu ini melantunkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak ada patokan nada kaku seperti rekaman kaset; mereka memiliki "cengkok" dan kombinasi nada tersendiri. Kreatifitas yang tak memabatasi jenis suara maupun kesukaan apapun. Itu adalah bentuk kreativitas murni, sebuah proses alami yang lahir dari kebiasaan bertahun-tahun. Suara mereka sahut-menyahut, kadang tinggi melengking, kadang rendah syahdu, menciptakan harmoni yang unik. Tak ada satupun yang menghakimi jenis suara apapun dan bagaimanapun. Suasana yang tadinya damai tiba-tiba terasa mencekam ketika salah satu ibu, dengan senyum ramah yang "mematikan", menyodorkan mikrofon ke arah kami. "Monggo, Mbak KKN," (Silakan, Mbak KKN, gantian), ucapnya lembut. Detik itu, waktu serasa berhenti. Jantung kami berdegup lebih kencang dari senandung di mic. Ketegangan bukan karena kami tidak hafal bacaannya, melainkan karena ketidaksiapan kami menghadapi ragam nada kreatif yang mereka bawakan. Ada kepanikan yang tertahan di wajah teman-teman saya; mata yang saling melirik tajam, memberikan sinyal SOS tanpa suara. Nada apa yang harus kami pakai? Apakah kami akan merusak harmoni indah ini dengan suara sumbang kami? Rasanya hampir ingin menangis saking gugupnya. Namun, melihat tatapan tulus dan menyemangati dari para ibu, kami memberanikan diri. Meski dengan suara bergetar dan nada yang mungkin terdengar kaku di telinga mereka, kami mencoba ikut serta. Dan di sanalah letak indahnya: mereka tidak menghakimi, justru tersenyum lebar mengapresiasi usaha kami. Kegiatan rutin ini berakhir satu setengah jam sebelum Maghrib, saat matahari benar-benar pamit ke peraduannya. Kami pulang dengan perasaan campur aduk: lega karena telah melewati "ujian mic", namun juga penuh haru. Diba'an di Dusun Lemahbang mengajarkan kami bahwa hal-hal yang terlihat kecil dan sepele di mata dunia, bisa jadi adalah hal yang paling berharga bagi sebuah komunitas. Di tengah dinginnya udara Jabung, kami menemukan kehangatan yang tak akan kami lupakan.  

Thumbnail
8 months ago
Observasi Program Tahfidz di Pondok Pesantren Putri Tebuireng, KKM Aksara Lakukan Pemetaan Kebutuhan Santri

THALITA NUR SHOBIROH

JOMBANG — Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) melaksanakan kegiatan observasi di Pondok Pesantren Putri Tebuireng, Kabupaten Jombang, pada tanggal 21 Januari 2026 sebagai bagian dari rangkaian awal pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat khususnya program Psikososial Pesantren. Observasi ini difokuskan pada santri putri Pondok Pesantren Tebuireng program tahfidz Al-Qur’an yang menjadi salah satu unggulan pembinaan santri putri di lingkungan pesantren.   Kegiatan observasi dilaksanakan dengan tujuan untuk memahami sistem pembelajaran tahfidz, metode hafalan yang digunakan, serta pola pendampingan santri dalam menjaga kualitas dan konsistensi hafalan Al-Qur’an. Tim Anggota KKM Aksara 255 melakukan pengenalan dan juga pengamatan langsung terhadap aktivitas setoran hafalan, muroja’ah, serta interaksi antara santri dan pembimbing tahfidz.   Selain itu, observasi juga dilakukan melalui dialog singkat dengan pengasuh dan pembina tahfidz guna menggali informasi mengenai tantangan yang dihadapi santri seperti manajemen waktu antara kegiatan akademik dan tahfidz, motivasi menghafal, serta kebutuhan pendukung pembelajaran Al-Qur’an.   Koordinator KKM menyampaikan bahwa hasil observasi ini akan menjadi dasar dalam merancang program kerja yang relevan dan tepat sasaran, khususnya yang mendukung penguatan kualitas hafalan, motivasi santri, serta optimalisasi metode tahfidz yang telah berjalan.   Oleh karena itu, diharapkan dengan adanya kegiatan observasi ini tidak hanya bersifat seremonial, akan tetapi benar-benar memberikan kontribusi nyata dalam mendukung pengembangan program tahfidz di Pondok Pesantren Putri Tebuireng.

Thumbnail
8 months ago
Senam pagi

MOH. MUQOFI JAILANI

Senam pagi bersama calon jamaah haji 

Thumbnail
8 months ago
KKM 153 ARCAPADA: Langkah Awal dengan Masyarakat Padi, Talangsuko

FIRMALA KHISBILLA TAMALIA

Awal Pengabdian dan Proses Adaptasi Kegiatan KKM UIN Malang diawali dengan pelepasan resmi dari kampus sebagai simbol dimulainya pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Setelah itu, mahasiswa mulai beradaptasi dengan lingkungan desa melalui silaturahmi bersama warga sekitar serta perangkat RT dan RW. Interaksi awal ini menjadi langkah penting untuk memperkenalkan keberadaan mahasiswa sekaligus memahami dinamika sosial dan kebiasaan masyarakat setempat.   Pemetaan Kebutuhan dan Kolaborasi Lokal Dalam upaya merancang program kerja yang relevan, mahasiswa KKM 153 melakukan koordinasi dengan berbagai pihak di desa. Salah satunya melalui kunjungan ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) untuk mendiskusikan kebutuhan sarana, jenis kegiatan literasi, serta peluang keberlanjutan program. Selain itu, mahasiswa juga menjalin komunikasi dengan Kepala Desa dan pengelola TPQ guna menyelaraskan program KKM dengan kebutuhan pendidikan dan pembinaan keagamaan masyarakat.   Partisipasi dalam Kegiatan Sosial dan Keagamaan Mahasiswa juga turut terlibat dalam kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat. Keikutsertaan dalam kegiatan seperti ngawulo (27/12/2025), pengajian rutin, serta interaksi bersama ibu-ibu menjadi sarana efektif untuk membangun kedekatan emosional. Melalui partisipasi langsung ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai-nilai lokal, pola interaksi sosial, serta aktivitas rutin warga. Secara keseluruhan, pekan pertama KKM 153 diarahkan pada penguatan relasi dan pemahaman konteks sosial masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pengabdian berbasis masyarakat, di mana keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh perencanaan, tetapi juga oleh kemampuan mahasiswa untuk menyatu dan belajar dari lingkungan sekitar. Fondasi yang dibangun sejak awal diharapkan mampu mendukung pelaksanaan program kerja yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi masyarakat desa.  

Thumbnail
8 months ago
KKM 153 ARCAPADA: Langkah Awal dengan Masyarakat Padi, Talangsuko

MOHAMMAD JUNDUB ALFIAR

Awal Pengabdian dan Proses Adaptasi Kegiatan KKM UIN Malang diawali dengan pelepasan resmi dari kampus sebagai simbol dimulainya pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Setelah itu, mahasiswa mulai beradaptasi dengan lingkungan desa melalui silaturahmi bersama warga sekitar serta perangkat RT dan RW. Interaksi awal ini menjadi langkah penting untuk memperkenalkan keberadaan mahasiswa sekaligus memahami dinamika sosial dan kebiasaan masyarakat setempat.   Pemetaan Kebutuhan dan Kolaborasi Lokal   Dalam upaya merancang program kerja yang relevan, mahasiswa KKM 153 melakukan koordinasi dengan berbagai pihak di desa. Salah satunya melalui kunjungan ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) untuk mendiskusikan kebutuhan sarana, jenis kegiatan literasi, serta peluang keberlanjutan program. Selain itu, mahasiswa juga menjalin komunikasi dengan Kepala Desa dan pengelola TPQ guna menyelaraskan program KKM dengan kebutuhan pendidikan dan pembinaan keagamaan masyarakat.     Partisipasi dalam Kegiatan Sosial dan Keagamaan   Mahasiswa juga turut terlibat dalam kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat. Keikutsertaan dalam kegiatan seperti ngawulo (27/12/2025), pengajian rutin, serta interaksi bersama ibu-ibu menjadi sarana efektif untuk membangun kedekatan emosional. Melalui partisipasi langsung ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai-nilai lokal, pola interaksi sosial, serta aktivitas rutin warga.   Secara keseluruhan, pekan pertama KKM 153 diarahkan pada penguatan relasi dan pemahaman konteks sosial masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pengabdian berbasis masyarakat, di mana keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh perencanaan, tetapi juga oleh kemampuan mahasiswa untuk menyatu dan belajar dari lingkungan sekitar. Fondasi yang dibangun sejak awal diharapkan mampu mendukung pelaksanaan program kerja yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi masyarakat desa.      

Thumbnail
8 months ago
Pengenalan Bullying Di Sekolah

RENA AL`RIZKI PERDANA

Pada era digital seperti sekarang, penggunaan teknologi dan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak usia sekolah dasar. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 67 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan edukatif di SDN 4 Kaliasri, Desa Kaliasri, Kecamatan Kalipare dengan mengangkat tema cyber bullying. Tema ini dipilih karena masih banyak anak yang belum memahami bahaya perundungan di dunia digital. Cyber bullying merupakan tindakan perundungan yang dilakukan melalui media digital seperti media sosial, aplikasi pesan, maupun permainan online. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari mengejek teman lewat pesan singkat, memberikan komentar kasar di media sosial, menyebarkan foto tanpa izin, hingga mengucilkan seseorang dari grup online. Meskipun dilakukan secara tidak langsung, dampak dari cyber bullying bisa sangat besar bagi korban. Bagi anak-anak, cyber bullying dapat memengaruhi kondisi psikologis dan sosial mereka. Korban biasanya akan merasa malu, takut, cemas, bahkan kehilangan rasa percaya diri. Hal ini tentu berdampak pada semangat belajar dan interaksi sosial mereka di sekolah maupun lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pemahaman mengenai cyber bullying perlu diberikan sejak dini agar anak-anak lebih waspada dan bijak dalam menggunakan teknologi. Melalui kegiatan KKM ini, mahasiswa KKM 67 memberikan edukasi kepada siswa SDN 4 Kaliasri mengenai pentingnya bersikap sopan dan saling menghargai di dunia digital. Anak-anak diajak untuk menggunakan media sosial secara bijak, tidak mudah membagikan informasi pribadi, serta berani melapor kepada guru atau orang tua apabila mengalami atau melihat tindakan cyber bullying. Selain cyber bullying, bullying di sekolah juga menjadi permasalahan serius yang sering terjadi dan perlu mendapat perhatian bersama. Bullying di sekolah dapat dibedakan menjadi tiga bentuk utama, yaitu bullying fisik, bullying verbal, dan bullying sosial. Ketiga bentuk ini kerap dialami oleh siswa dan sering kali terjadi tanpa disadari oleh lingkungan sekitar. Bullying fisik merupakan tindakan perundungan yang melibatkan kontak langsung dengan tubuh korban. Contohnya antara lain memukul, mendorong, menendang, mencubit, atau merusak barang milik teman. Meskipun terlihat jelas, bullying fisik sering dianggap sebagai kenakalan biasa, padahal dapat menyebabkan rasa sakit, trauma, dan ketakutan bagi korban. Bullying verbal adalah bentuk perundungan yang dilakukan melalui ucapan. Bentuknya bisa berupa mengejek, menghina, memanggil dengan julukan yang tidak pantas, mengancam, atau merendahkan teman di depan orang lain. Bullying verbal sering kali tidak terlihat secara fisik, namun dampaknya sangat besar karena dapat melukai perasaan, menurunkan rasa percaya diri, dan membuat korban merasa tidak dihargai. Sementara itu, bullying sosial merupakan tindakan perundungan yang bertujuan merusak hubungan sosial korban. Contohnya adalah mengucilkan teman dari pergaulan, menyebarkan gosip, memengaruhi teman lain agar tidak bergaul dengan korban, atau sengaja mengabaikan keberadaan seseorang. Bullying sosial dapat membuat korban merasa kesepian dan tidak diterima di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan KKM 67 UIN Malang di SDN 4 Kaliasri, mahasiswa memberikan pemahaman kepada siswa bahwa bullying fisik, verbal, maupun sosial merupakan perilaku yang tidak dibenarkan. Siswa diajak untuk saling menghormati, menghargai perbedaan, serta berani bersikap baik kepada sesama teman. Selain itu, siswa juga diimbau untuk segera melapor kepada guru apabila mengalami atau melihat tindakan bullying agar dapat ditangani dengan tepat. Dengan adanya edukasi ini, diharapkan lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh siswa, sehingga mereka dapat belajar dan berkembang tanpa rasa takut.