YUSUF AGENG ARIWIBOWO
Awal Pengabdian dan Proses Adaptasi Kegiatan KKM UIN Malang diawali dengan pelepasan resmi dari kampus sebagai simbol dimulainya pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Setelah itu, mahasiswa mulai beradaptasi dengan lingkungan desa melalui silaturahmi bersama warga sekitar serta perangkat RT dan RW. Interaksi awal ini menjadi langkah penting untuk memperkenalkan keberadaan mahasiswa sekaligus memahami dinamika sosial dan kebiasaan masyarakat setempat. Pemetaan Kebutuhan dan Kolaborasi Lokal Dalam upaya merancang program kerja yang relevan, mahasiswa KKM 153 melakukan koordinasi dengan berbagai pihak di desa. Salah satunya melalui kunjungan ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) untuk mendiskusikan kebutuhan sarana, jenis kegiatan literasi, serta peluang keberlanjutan program. Selain itu, mahasiswa juga menjalin komunikasi dengan Kepala Desa dan pengelola TPQ guna menyelaraskan program KKM dengan kebutuhan pendidikan dan pembinaan keagamaan masyarakat. Partisipasi dalam Kegiatan Sosial dan Keagamaan Mahasiswa juga turut terlibat dalam kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat. Keikutsertaan dalam kegiatan seperti ngawulo (27/12/2025), pengajian rutin, serta interaksi bersama ibu-ibu menjadi sarana efektif untuk membangun kedekatan emosional. Melalui partisipasi langsung ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai-nilai lokal, pola interaksi sosial, serta aktivitas rutin warga. Secara keseluruhan, pekan pertama KKM 153 diarahkan pada penguatan relasi dan pemahaman konteks sosial masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pengabdian berbasis masyarakat, di mana keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh perencanaan, tetapi juga oleh kemampuan mahasiswa untuk menyatu dan belajar dari lingkungan sekitar. Fondasi yang dibangun sejak awal diharapkan mampu mendukung pelaksanaan program kerja yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi masyarakat desa.
SITI SOFIATUN NINGSIH
Sosialisasi Bullying di SDN 1 Poncokusum : Membangun Lingkungan Sekolah yang Aman dan Ramah Anak. Bullying atau perundungan masih menjadi permasalahan yang sering terjadi di lingkungan sekolah, termasuk pada jenjang sekolah dasar. Bentuknya bisa berupa ejekan, penghinaan, pengucilan, ancaman, hingga kekerasan fisik. Tindakan ini sering dianggap sebagai hal biasa atau sekadar bercanda, padahal dampaknya dapat memengaruhi kondisi psikologis dan perkembangan anak dalam jangka panjang. Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan pendidikan yang sehat dan aman, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) melaksanakan kegiatan Sosialisasi Bullying di SDN 1 Poncokusumo. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang apa itu bullying, jenis-jenisnya, dampaknya, serta bagaimana cara mencegah dan menghadapinya. Pentingnya Edukasi Sejak Dini Anak-anak sekolah dasar berada pada tahap perkembangan karakter dan emosi. Oleh karena itu, edukasi mengenai bullying perlu diberikan sejak dini agar mereka memahami batasan antara bercanda dan menyakiti orang lain. Dalam sosialisasi ini, dijelaskan bahwa bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga bisa dalam bentuk: 1. Bullying verbal, seperti mengejek, memanggil dengan sebutan yang tidak baik, atau menghina. 2. Bullying fisik, seperti memukul, mendorong, atau merusak barang milik teman. 3. Bullying sosial, seperti mengucilkan atau tidak mengajak bermain.
FANI RAHMASARI
Kegiatan dimulai sejak pukul 08.00 WIB dengan persiapan panitia. Seluruh anggota KKM 98 hadir lebih awal untuk menata tempat, menyiapkan perlengkapan seminar, serta memastikan kelancaran acara. Sebelum peserta hadir, panitia juga mengadakan briefing singkat guna menyamakan persepsi dan pembagian tugas agar acara berjalan sesuai dengan susunan yang telah direncanakan. Tepat pukul 09.00 WIB, acara seminar stunting resmi dibuka. Pembukaan berlangsung dengan khidmat dan disambut antusias oleh para peserta yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu Desa Mulyoarjo. Kehadiran mereka mencerminkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan anak dan masa depan keluarga. Acara dilanjutkan dengan Beragam dari Kepala Desa Mulyoarjo. Dalam perayaannya, beliau menyampaikan penghargaan kepada mahasiswa KKM 98 atas inisiatif dan kontribusi nyata dalam membantu program kesehatan desa. Kepala desa juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mencegah stunting melalui pola asuh dan menyediakan nutrisi yang baik. Setelah itu, Seremonial disampaikan oleh Ketua KKM 98 Muhammad Shohibul Fajar . Ketua KKM menyampaikan tujuan dilaksanakannya seminar stunting ini sebagai bagian dari program kerja KKM yang fokus pada pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi warga Desa Mulyoarjo. Memasuki acara inti, sesi pemaparan materi dibuka oleh pemateri utama, Ibu Eka Lestari. Dalam paparannya, beliau menjelaskan secara rinci mengenai pengertian stunting, faktor penyebab, dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak, serta cara pencegahannya melalui asupan gizi seimbang dan perawatan kesehatan yang tepat. Materi yang disampaikan oleh Ibu Eka Lestari disambut dengan penuh perhatian oleh para peserta. Bahasa yang mudah dipahami serta contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat peserta semakin memahami pentingnya pencegahan stunting sejak masa kehamilan hingga usia balita. Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para ibu tampak antusias mengajukan pertanyaan seputar pola makan anak, gizi ibu hamil, serta langkah-langkah sederhana yang dapat diterapkan di rumah. Sesi ini menjadi ruang interaktif yang sangat bermanfaat bagi peserta. Sebagai penutup materi, dilakukan sesi kesimpulan yang merangkum poin-poin penting dari seminar. Peserta diharapkan dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, sehingga upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara berkelanjutan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Acara kemudian ditutup dengan dokumentasi bersama antara panitia, pemateri, dan peserta seminar. Sebagai penghargaan, seluruh panitia KKM 98 juga membagikan souvenir kepada ibu-ibu yang telah menghadiri acara. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal yang bermakna dalam meningkatkan kesadaran masyarakat Desa Mulyoarjo terhadap pentingnya kesehatan anak dan pencegahan stunting.
HIMMATUL ALIYAH
Kesehatan mental anak usia sekolah dasar menadi perhatian penting dalam dunia pendidikan modern. Menyadari hal ini, kelompok 106 Dharmayatra menghadirkan inovasi sederhana namun bermakna melalui program pembuatan papan emosi di dua sekolag dasar di Srigading. Kelompok 106 Dharmayatra melaksanakan program kerja di Sekolah Dasar Negeri 01 Srigading dan Sekolah Dasar Negeri 03 Srigading dengan fokus pada pengembangan kecerdasan emosional siswa. Program yang dilaksanakan adalah pembuatan dan penerapan papan emosi di lingkungan sekolah. Papan emosi dirancang dengan dua tujuan utama yang saling berkaitan: Memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan emosi mereka secara sehat dan terbuka. Banyak anak usia sekolah dasar yang belum memiliki keterampilan verbal yang cukup untuk mengungkapkan perasaan mereka. Papan emosi menjadi media alternatif yang visual dan mudah dipahami. Menumbuhkan kepedulian terhadap kondisi emosional teman-teman sekelas. Dengan melihat papan emosi, siswa dapat lebih peka terhadap perasaan teman-teman mereka dan belajar berempati sejak dini. Papan emosi dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan penggunaan oleh anak-anak sekolah dasar. Papan ini menampilkan empat emosi dasar yang mudah dikenali, yaitu senang, sedih, marah, dan takut. Setiap emosi digambarkan dengan karakter yang menarik dan ekspresif, sehingga anak-anak dapat dengan mudah mengidentifikasi perasaan mereka. Untuk memudahkan penggunaan, setiap siswa diberikan stick yang telah dihiasi dengan nama mereka masing-masing. Stick ini berfungsi sebagai penanda pribadi yang akan mereka tempatkan pada bagian emosi yang sesuai dengan perasaan mereka saat itu. Papan emosi dipasang di dalam kelas pada lokasi yang mudah dijangkau oleh seluruh siswa. Rutinitas penggunaan papan dimulai setiap pagi ketika anak-anak memasuki kelas. Mereka diajak untuk meluangkan waktu sejenak merenungkan perasaan mereka dan menempatkan stick nama mereka pada emosi yang sesuai. Yang menarik dari sistem ini adalah fleksibilitasnya. Anak-anak tidak hanya mengisi papan di pagi hari, tetapi juga dapat memindahkan stick mereka kapan saja sepanjang hari ketika mereka merasakan perubahan emosi. Hal ini mengajarkan kepada mereka bahwa emosi adalah sesuatu yang dinamis dan wajar untuk berubah. Kehadiran papan emosi di kelas memberikan berbagai manfaat bagi ekosistem pembelajaran: Bagi siswa, papan emosi menjadi sarana untuk belajar mengenali dan menamai emosi mereka sendiri, keterampilan yang sangat penting untuk perkembangan emosional. Mereka juga belajar bahwa semua emosi adalah valid dan boleh dirasakan. Lebih dari itu, dengan melihat papan emosi, mereka dapat mengembangkan kepekaan sosial dan empati terhadap teman-teman mereka yang mungkin sedang mengalami emosi yang berbeda. Bagi guru, papan emosi menjadi alat bantu yang efektif untuk memahami kondisi emosional siswa di kelas. Dengan sekilas melihat papan, guru dapat mengidentifikasi siswa yang mungkin memerlukan perhatian khusus atau dukungan tambahan. Informasi ini sangat berharga untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih responsif terhadap kebutuhan emosional siswa. Program pembuatan papan emosi oleh Kelompok 106 Dharmayatra di SDN 1 Srigading dan SDN 3 Srigading merupakan langkah konkret dalam membangun kesadaran akan pentingnya kesehatan mental sejak usia dini. Melalui alat sederhana namun efektif ini, diharapkan tercipta generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan kepedulian sosial yang tinggi. Inovasi seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter dan kesehatan mental dapat diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak.
SINTIA KRISNAWATI
Permasalahan pengelolaan sampah masih menjadi isu utama di wilayah pedesaan, khususnya pada desa yang belum memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kondisi tersebut menyebabkan penumpukan sampah dan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), Kelompok 70 “Nirmalasara” melaksanakan program kerja pembuatan insinerator sebagai salah satu solusi alternatif dalam pengelolaan sampah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa insinerator yang dibangun dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengolahan sampah rumah tangga dan mendapat respons positif dari masyarakat desa. Sampah merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang hingga saat ini belum sepenuhnya tertangani, terutama di wilayah pedesaan. Keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan sampah, seperti tidak tersedianya Tempat Pembuangan Akhir (TPA), menyebabkan masyarakat cenderung membuang sampah secara sembarangan atau melakukan pembakaran terbuka. Praktik tersebut dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, serta menurunnya kualitas hidup masyarakat. Guna menghadapi permasalahan di atas, Desa Plandi, tepatnya Dusun Pandan Ploso, merupakan lokasi pelaksanaan KKM Kelompok 70 “Nirmalasara”. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan perangkat desa serta masyarakat setempat, pengelolaan sampah menjadi salah satu permasalahan utama yang membutuhkan penanganan. Oleh karena itu, Kelompok 70 “Nirmalasara” merancang dan melaksanakan program kerja pembuatan insinerator sebagai upaya pengelolaan sampah yang sederhana, efektif, dan sesuai dengan kondisi desa. Kegiatan pembuatan insinerator ini bertujuan untuk: 1. Menyediakan sarana pengelolaan sampah bagi masyarakat desa. 2. Mengurangi volume sampah yang tidak terkelola akibat ketiadaan TPA. 3. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan dan kelestarian lingkungan. 4. Mendukung terciptanya lingkungan desa yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Pelaksanaan kegiatan pembuatan insinerator dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut. Observasi dan Identifikasi Masalah Kelompok melakukan observasi langsung terhadap kondisi lingkungan desa serta melakukan wawancara singkat dengan perangkat desa dan masyarakat untuk mengidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan pengelolaan sampah. Perencanaan Program Berdasarkan hasil observasi, kelompok menyusun perencanaan program kerja yang meliputi desain insinerator, pemilihan bahan, serta penentuan lokasi pembangunan dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan kemudahan penggunaan. Pelaksanaan Pembuatan Insinerator Pembuatan insinerator dilaksanakan secara gotong royong oleh anggota Kelompok 70 “Nirmalasara” dengan melibatkan masyarakat setempat. Proses ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap fasilitas yang dibangun. Sosialisasi kepada Masyarakat Setelah insinerator selesai dibuat, dilakukan peresmian sekaligus sosialisasi kepada masyarakat mengenai fungsi, cara penggunaan, serta perawatan insinerator agar dapat digunakan secara optimal dan berkelanjutan. Hasil dari kegiatan ini adalah terbangunnya satu unit insinerator yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengolahan sampah rumah tangga di desa. Insinerator tersebut mampu mengurangi volume sampah dan membantu mengatasi permasalahan penumpukan sampah yang sebelumnya terjadi akibat ketiadaan TPA. Partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan menunjukkan antusiasme dan respons yang positif. Masyarakat mulai memahami pentingnya pengelolaan sampah yang baik serta dampaknya terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan. Dengan demikian, program kerja ini tidak hanya menghasilkan sarana fisik, tetapi juga memberikan dampak edukatif bagi masyarakat desa. Program kerja pembuatan insinerator yang dilaksanakan oleh Kelompok 70 KKM “Nirmalasara” merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang memberikan manfaat nyata. Keberadaan insinerator dapat menjadi solusi alternatif dalam pengelolaan sampah di desa yang belum memiliki TPA. Selain itu, kegiatan ini turut meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Diharapkan pemerintah desa dan masyarakat setempat dapat menjaga, merawat, serta memanfaatkan insinerator yang telah dibangun secara optimal. Selain itu, diperlukan program lanjutan berupa edukasi pemilahan sampah agar pengelolaan sampah di desa dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.