Thumbnail
4 months ago
Lomba Pidato Cilik Tutup Rangkaian Lomba Isra Miraj di Desa Kelompanggubug Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Lomba Pidato Cilik Tutup Rangkaian Lomba Isra Miraj di Desa Kelompanggubug", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/

AHMAD NIZAR HARIRI

Lomba Pidato Cilik Tutup Rangkaian Lomba Isra Miraj di Desa Kelompanggubug Pada Kamis, 15 Januari 2026, mahasiswa KKM UIN Malang bersama panitia PHBI Desa Kelompanggubug melaksanakan lomba terakhir dalam rangkaian kegiatan Isra Miraj, yaitu lomba pidato cilik. Kegiatan ini digelar setelah salat Isya, tepat pukul 19.00 WIB, dan menjadi penutup dari seluruh rangkaian perlombaan yang telah dilaksanakan sejak awal Januari. Lomba pidato cilik diikuti oleh 10 peserta anak-anak Desa Kelompanggubug. Meski jumlah peserta tidak terlalu banyak, kualitas penampilan yang ditampilkan justru di luar ekspektasi panitia. Anak-anak tampil dengan persiapan yang matang, hafalan yang lancar, serta keberanian yang patut diapresiasi Tema pidato yang dibawakan berkaitan dengan peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Setiap peserta menyampaikan pesan-pesan keislaman dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna. Yang paling mencuri perhatian adalah tingkat kepercayaan diri para peserta. Mereka mampu berdiri di hadapan audiens tanpa ragu, menyampaikan pidato dengan suara lantang dan ekspresi yang meyakinkan. Bagi mahasiswa KKM, lomba ini menjadi bukti bahwa potensi anak-anak Desa Kelompanggubug sangat luar biasa. Dengan pembinaan dan ruang berekspresi yang tepat, anak-anak desa mampu menunjukkan kemampuan public speaking yang tidak kalah dengan anak-anak di wilayah perkotaan.   Lomba pidato cilik ini sekaligus menjadi penutup rangkaian lomba Isra Miraj yang sarat nilai edukatif. Kegiatan tersebut tidak hanya melatih keberanian dan kemampuan berbicara anak-anak, tetapi juga memperkuat kecintaan mereka terhadap nilai-nilai keislaman. Rangkaian lomba pun ditutup dengan rasa bangga, haru, dan optimisme akan masa depan generasi muda Desa Kelompanggubug

Thumbnail
4 months ago
Menghadirkan Ruang Aman bagi Santri: Program Konseling Sebaya KKM Psikologi UIN Malang di Pesantren An-Najiyah 2

KHILQOTUL GHONIYAH

Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Unggulan Fakultatif Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan keilmuan psikologi secara langsung di tengah masyarakat. Salah satu program unggulan yang dilaksanakan adalah konseling sebaya di Pondok Pesantren An-Najiyah 2 dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2, Tambakberas, Jombang.   Program ini hadir sebagai upaya mahasiswa KKM untuk menyediakan ruang aman, nyaman, dan mudah diakses bagi para santri yang ingin berbagi cerita, keluh kesah, maupun permasalahan pribadi yang mereka alami selama menjalani kehidupan di pesantren.   Konseling Sebaya sebagai Bentuk Pendampingan Psikologis   Konseling sebaya merupakan layanan pendampingan psikologis yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai konselor sebaya. Dalam prosesnya, mahasiswa berperan sebagai pendengar yang empatik, tidak menghakimi, serta berupaya membantu santri memahami permasalahan yang sedang dihadapi. Melalui pendekatan ini, santri diberikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara terbuka tanpa rasa takut atau cemas.   Mahasiswa KKM berupaya menciptakan suasana konseling yang aman dan suportif, sehingga santri merasa dihargai dan dipahami. Hal ini menjadi poin penting dalam proses konseling, mengingat tidak semua santri memiliki ruang yang cukup untuk menyalurkan emosi dan kebingungan yang mereka rasakan.   Latar Belakang Pelaksanaan Program   Pelaksanaan konseling sebaya dilatarbelakangi oleh kebutuhan santri akan dukungan emosional. Dalam keseharian, santri dihadapkan pada berbagai tekanan, mulai dari tuntutan akademik, dinamika pertemanan, hingga persoalan personal dan keluarga. Namun, tidak semua santri memiliki tempat yang memadai untuk mengekspresikan perasaan dan permasalahan tersebut.   Selain itu, latar belakang program ini juga diperkuat oleh hasil kegiatan Sharing Session yang sebelumnya telah dilaksanakan oleh mahasiswa KKM. Dari kegiatan tersebut, ditemukan bahwa banyak santri mengalami kebingungan terkait masa depan, seperti perencanaan pendidikan lanjutan, pilihan jurusan, dunia perkuliahan, hingga arah karier. Temuan ini menunjukkan urgensi menghadirkan layanan pendampingan yang lebih personal dan berkelanjutan, yang kemudian diwujudkan melalui program konseling sebaya.   Teknis Pelaksanaan Konseling Sebaya   Program konseling sebaya dilaksanakan selama tiga pekan, yaitu mulai tanggal 8 hingga 26 Januari 2026. Pelaksanaan dilakukan di dua lokasi, yakni Pondok Pesantren An-Najiyah 2 untuk santri putra dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2 untuk santri putri. Pembagian lokasi ini bertujuan agar seluruh santri memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses layanan konseling.   Menyesuaikan dengan padatnya jadwal kegiatan pesantren, layanan konseling dilaksanakan secara terjadwal sebanyak dua kali dalam satu minggu, yaitu pada Senin malam dan Kamis malam. Untuk santri putra, konseling dilaksanakan pada pukul 21.00–23.00, sedangkan santri putri dijadwalkan pada pukul 20.00–22.00. Setiap sesi konseling dilayani oleh tiga konselor sebaya.   Durasi setiap sesi konseling maksimal berlangsung selama 60 menit untuk setiap klien. Apabila sesi selesai sebelum batas waktu tersebut, konselor dapat melanjutkan sesi dengan klien berikutnya. Pengaturan durasi yang fleksibel ini memungkinkan layanan konseling menjangkau lebih banyak santri tanpa mengurangi kualitas pendampingan.   Respons dan Permasalahan yang Ditemukan   Pelaksanaan konseling sebaya mendapatkan respons yang sangat positif dari para santri. Antusiasme terlihat dari tingginya minat santri dalam mengakses layanan konseling. Selama periode pelaksanaan, tercatat kurang lebih 70 santri yang secara aktif memanfaatkan layanan konseling sebaya.   Berdasarkan hasil pendampingan, permasalahan yang paling banyak muncul berkaitan dengan aspek akademik dan perencanaan karier masa depan. Dalam banyak kasus, persoalan tersebut juga berkaitan erat dengan dinamika keluarga. Beberapa santri mengungkapkan kebingungan dalam menentukan pilihan pendidikan lanjutan serta menghadapi tuntutan dan harapan keluarga yang tidak selalu sejalan dengan keinginan pribadi.   Selain itu, konflik pertemanan dan proses pencarian jati diri juga menjadi permasalahan yang cukup sering dibahas dalam sesi konseling. Hal ini menunjukkan bahwa santri berada pada fase perkembangan yang penuh dengan tantangan dan membutuhkan dukungan psikologis yang memadai.   Melalui konseling sebaya, santri mendapatkan ruang untuk memahami permasalahan yang dialami, mengekspresikan perasaan, serta mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih tepat dalam menyikapi berbagai persoalan tersebut.   Harapan Keberlanjutan Program   Melalui pelaksanaan program konseling sebaya ini, mahasiswa KKM Unggulan Fakultatif Psikologi UIN Malang berharap layanan serupa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan di lingkungan pesantren. Konseling sebaya diharapkan menjadi ruang berkelanjutan bagi santri untuk berbagi cerita dan mengelola permasalahan, khususnya yang berkaitan dengan aspek akademik, perencanaan masa depan, serta dinamika sosial dan keluarga.   Selain itu, mahasiswa KKM juga berharap kerja sama antara pihak pesantren dan perguruan tinggi dapat terus terjalin, terutama dalam menghadirkan program-program yang berfokus pada kesehatan mental santri. Dengan dukungan berbagai pihak, konseling sebaya diharapkan tidak hanya berhenti pada masa KKM, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pesantren yang lebih peduli terhadap kesejahteraan psikologis santri.

Thumbnail
4 months ago
Pengajian rutin

DINDA NOVRIKA FITRIA YUSUP

Dalam rangka mempererat hubungan silaturahmi dengan masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) turut berpartisipasi dalam kegiatan pengajian rutin yang dilaksanakan di Desa Poncokusumo. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan diikuti oleh masyarakat setempat dari berbagai kalangan.   Pengajian rutin tersebut merupakan agenda keagamaan yang secara konsisten dilaksanakan oleh warga desa sebagai sarana memperdalam ilmu agama serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam kesempatan ini, mahasiswa KKM tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga turut membantu jalannya kegiatan, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan acara. Partisipasi mahasiswa KKM dalam pengajian rutin ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Kehadiran mahasiswa diharapkan dapat memberikan energi baru serta memperkuat sinergi antara generasi muda dan masyarakat dalam menjaga kegiatan keagamaan di desa.   Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM berharap dapat terus berkontribusi secara aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, sekaligus belajar langsung dari masyarakat tentang nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan kehidupan bermasyarakat.

Thumbnail
4 months ago
Sosialisasi Mahasiswa KKM ESHORA 177 UIN Malang. Tips Kunci Anak Hebat dari Pola Asuh Tepat

MAHFUDZ ALI MURTADLA

SUKOMULYO, Pujon – Dalam upaya meningkatkan kualitas pengasuhan anak di tingkat keluarga, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar serangkaian sosialisasi parenting di Dusun Gumul, Desa Sukomulyo. Kegiatan yang mengusung tema “Parenting: Peran Pola Asuh” ini diselenggarakan dalam dua sesi terpisah, yakni pada 9 dan 14 Januari 2026.   Kelompok KKM Eshora, yang bertugas di daerah tersebut, memilih lokasi strategis yang banyak dikunjungi orang tua. Sosialisasi pertama dilaksanakan di TPQ Lailatul Qadr pada 9 Januari, menyasar wali murid taman pendidikan Al-Qur’an. Kelanjutan program digelar di Posyandu setempat yang berlokasi di kediaman Ibu Nikita selaku Kepala Dusun Gumul, pada 14 Januari.   “Tujuan utama kegiatan ini adalah mengedukasi para orang tua, baik yang anaknya aktif di TPQ maupun yang rutin ke Posyandu, tentang pentingnya pola asuh yang tepat dan berkesinambungan. Kami percaya fondasi keluarga yang kuat dimulai dari pemahaman pengasuhan yang baik,” jelas perwakilan kelompok KKM Eshora.   Materi sosialisasi disampaikan secara interaktif oleh Kholid Mawardi, salah satu anggota kelompok yang merupakan mahasiswa Program Studi Psikologi UIN Malang. Dengan memanfaatkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, Kholid membagikan wawasan praktis seputar teknik komunikasi dengan anak, pendampingan sesuai usia, serta pentingnya dukungan emosional dalam proses tumbuh kembang. “Harapannya, melalui pemahaman ini, anak-anak di Dusun Gumul dapat menerima pola asuh yang cukup dan tepat dari orang tuanya. Dukungan yang baik dari keluarga adalah modal utama membentuk generasi yang sehat secara fisik, emosional, dan spiritual,” papar Kholid dalam penyampaian materinya.   Antusiasme warga terlihat tinggi selama sosialisasi berlangsung. Banyak orang tua yang aktif bertanya dan berbagi pengalaman, menandakan kesadaran akan pentingnya topik ini. Ibu Nikita, selaku tuan rumah, mengapresiasi inisiatif mahasiswa.   Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program pengabdian masyarakat yang dijalankan kelompok KKM Eshora selama penempatannya di Desa Sukomulyo. Diharapkan, edukasi semacam ini dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat, dimulai dari lingkungan keluarga.

Thumbnail
4 months ago
KKM FAKULTATIF FAKULTAS PSIKOLOGI UIN MALANG

M. ADLA MUDAFI

MALANG– Kelompok KKM AKSARA 255 unggulan fakultatif Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang resmi diberangkatkan menuju Kabupaten Jombang pada Kamis, 01 Januari 2025, Pukul 10.00 WIB. Pemberangkatan ini menandai dimulainya pelaksanaan pengabdian mahasiswa di lingkungan pesantren dengan fokus program unggulan psikososial pesantren.   KKM AKSARA 255 merupakan kelompok unggulan yang dirancang untuk mengintegrasikan keilmuan psikologi dengan praktik pengabdian masyarakat berbasis nilai-nilai keislaman dan kepesantrenan khususnya pesantren Tebuireng Jombang. Selama pelaksanaan KKM, mahasiswa akan menjalankan berbagai program pendampingan yang berorientasi pada penguatan kesehatan mental, emosional, dan sosial santri.   Adapun koordinator KKM AKSARA 255 Unggulan Fakultas Psikologi, Bapak Muhammad Arif Furqon, M.Psi., Psikolog menyampaikan sebelumnya bahwa keberangkatan mahasiswa ke Jombang merupakan wujud komitmen Fakultas Psikologi UIN Malang dalam menghadirkan pengabdian yang kontekstual dan berbasis kebutuhan masyarakat. “Lingkungan pesantren memiliki dinamika yang khas. Melalui pendekatan psikososial, mahasiswa diharapkan mampu menjadi mitra pesantren dalam mendukung pembinaan santri secara holistik,” ujarnya.   Sebelum pemberangkatan mahasiswa KKM AKSARA 255 telah melalui berbagai tahapan persiapan, mulai dari koordinasi internal, pemetaan kebutuhan selama KKM, persiapan transportasi menuju pesantren, hingga pematangan program kerja unggulan. Program yang akan dilaksanakan meliputi penguatan karakter santri, pengelolaan emosi, peningkatan kepercayaan diri, serta pengembangan keterampilan sosial melalui pendekatan edukatif dan partisipatif yang selaras dengan kultur pesantren.   Salah satu anggota KKM AKSARA 255 yang sekaligus menjadi Ketua kelompok mengungkapkan bahwa kegiatan KKM ini tidak hanya menjadi kewajiban akademik, akan tetapi juga sarana pembelajaran langsung di masyarakat. “Kami berharap program yang dijalankan dapat memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi santri dan lingkungan pesantren,” ujarnya.   Ditambah lagi, setibanya di Jombang Kehadiran mahasiswa disambut baik dengan warga sekitar Tebuireng, dengan diharapkan dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pesantren dalam menciptakan lingkungan pembinaan santri yang sehat secara mental, sosial, dan spiritual kalau bisa juga di Desa nya.    Oleh karena itu, dengan resmi diberangkatkannya KKM AKSARA 255 ke Jombang, Fakultas Psikologi UIN Malang optimistis mahasiswa mampu menjalankan peran sebagai agen perubahan melalui pengabdian yang humanis, aplikatif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. #Jombang #KKM #UIN MALANG #LP2M

Thumbnail
4 months ago
Day Two KKM : DMI Luncurkan "Family Corner", Transformasi Masjid Jadi Pusat Pembinaan Keluarga

MAHFUD ALI

Malang - Dewan Masjid Indonesia (DMI) mendorong masjid-masjid di Tanah Air untuk naik kelas, dalam era di mana tantangan keluarga semakin kompleks, keberadaan masjid sebagai pusat spiritual kini mulai mengalami transformasi yang signifikan. Salah satu inovasi yang tengah naik daun adalah konsep Family Corner, sebuah wadah yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat edukasi, pendampingan, dan penguatan keluarga berbasis nilai-nilai agama, psikologi, dan sosial.   "Family Corner adalah upaya menjadikan masjid bukan cuma tempat shalat, tapi community hub yang memanusiakan dan membina keluarga", ujar pengurus DMI, menggambarkan visi program tersebut. Program ini dirancang dengan empat fungsi utama. Memperkuat Fungsi Edukatif Family Corner berperan sebagai ruang literasi keluarga modern. Melalui berbagai kegiatan seperti kelas parenting Islami, edukasi pernikahan, komunikasi suami-istri, serta pengasuhan anak dan kesehatan mental keluarga, program ini menawarkan pendekatan yang interaktif dan aplikatif. Tidak lagi ceramah satu arah, melainkan diskusi terbuka, pelatihan praktis, serta sharing pengalaman langsung dari para ahli dan praktisi. Target utamanya adalah agar keluarga memahami perannya secara konkret dan mampu menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari bukan sekadar niat baik tanpa arahan jelas. Fungsi Preventif dan Kuratif Psikososial Selain aspek edukatif, Family Corner juga memiliki fungsi preventif dan kuratif psikososial yang penting namun sering terlupakan. Tempat ini menjadi ruang aman (safe space) bagi keluarga yang menghadapi masalah seperti konflik rumah tangga, pola asuh bermasalah, stres ekonomi, hingga isu remaja seperti kenakalan dan kecanduan gawai. Dengan kehadiran konselor terlatih maupun relawan komunitas, masalah tidak menunggu menjadi viral atau parah dulu untuk ditangani. Pendekatan early detection dan early action menjadi kunci dalam menjaga stabilitas psikologis keluarga secara komunitas. Menanamkan Nilai Spiritual Secara Kontekstual Penguatan nilai keislaman menjadi fondasi utama dalam Family Corner. Namun bukan sekadar mengajarkan dalil normatif saja, melainkan mengintegrasikan nilai tersebut dalam praktik kehidupan sehari-hari dapur, ruang tamu, bahkan grup WhatsApp keluarga. Misalnya melalui adab komunikasi pasangan yang santun atau peran ayah dalam pengasuhan anak. Spirit utamanya adalah bahwa agama harus hidup dan dirasakan langsung oleh setiap anggota keluarga sebagai bagian dari pengalaman nyata mereka. Menguatkan Jaringan Sosial dan Komunitas Dalam kerangka membangun ekosistem sosial yang saling mendukung, Family Corner menghubungkan keluarga dengan keluarga lain melalui komunitas ayah, ibu, remaja masjid hingga kolaborasi dengan instansi pemerintah maupun lembaga sosial seperti UPZ dan BKKBN. Hal ini membuat keluarga tidak berjalan sendiri-sendiri tetapi saling menguatkan satu sama lain sebuah bentuk pembangunan jejaring sosial yang kokoh. “Ini adalah intervensi sosial berbasis masjid. Negara punya program, tapi masjid punya kedekatan emosional. Family Corner hadir menjawab problem nyata: angka perceraian, kompleksitas pengasuhan, dan tekanan kesehatan mental keluarga,” jelasnya. Secara lebih mendalam, keberadaan Family Corner merupakan bentuk intervensi sosial berbasis masjid yang menjawab berbagai problem nyata bangsa Indonesia saat ini: meningkatnya angka perceraian, kompleksitas pola asuh anak-anak muda zaman now, tekanan kesehatan mental keluarga serta melemahnya fungsi kekeluargaan. Meski negara memiliki program-program nasional terkait pembangunan keluarga berencana atau kesehatan mental, kedekatan emosional masjid tetap menjadi kekuatan unik di masyarakat. Di sinilah peran game changer dari Family Corner muncul menjadi jembatan antara ajaran agama dan realitas sosial umat. Implementasinya dapat bersifat fleksibel. Kegiatan Family Corner dapat disusun dalam berbagai bentuk sesuai kebutuhan komunitas: ruang fisik di masjid yang nyaman; program rutin mingguan maupun bulanan; layanan konsultasi terjadwal; pojok baca keluarga lengkap dengan bahan edukasi; bahkan versi digital seperti grup WhatsApp maupun webinar serta hotline khusus. Yang terpenting adalah substansi program tetap dijalankan secara konsisten agar memberi dampak nyata. Ringkasnya, Family Corner adalah strategi DMI untuk memanusiakan masjid dengan menjadikan keluarga sebagai pusat peradaban umat. Melalui pendekatan holistik ini edukasi berbasis agama dan psikologi serta penguatan jejaring sosial masjid tidak lagi sekadar tempat beribadah ritual semata tetapi telah berubah menjadi pusat pembinaan manusia seutuhnya. Dengan transformasi ini, diharapkan masyarakat Indonesia mampu menghadapi tantangan zaman sekaligus memperkuat fondasi keluarga sakinah mawaddah warahmah sebagai pilar utama bangsa.