ALVA SOLLA NABIA
Mahasiswa KKM Abhinaya Bhakti melaksanakan kegiatan senam bersama warga Desa Ngadilangkung di Balai Desa Ngadilangkung pada Selasa, 30 Desember 2025. Hal ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh mahasiswa KKM guna mencapai kesehatan jasmani dan juga pendekatan kepada warga setempat. Program senam ini nantinya akan dilaksanakan secara berkala setiap hari Ahad bersama warga desa hingga tanggal 1 Februari mendatang. Senam ini dilaksanakan pada pukul 07.00 WIB. Program ini mendapatkan respons yang sangat baik dari mahasiswa KKM karena senam di pagi hari dinilai dapat meningkatkan produktivitas di hari tersebut. Selain mahasiswa KKM, warga desa pun turut antusias dalam menghadiri senam ini terutama kalangan ibu-ibu yang ingin tetap bugar di tengah kesehariannya yang sibuk mengurus rumah tangga ataupun aktivitas lainnya. Pelaksanaan program senam ini diharapkan dapat membentuk karakter warga desa serta mahasiswa KKM yang disiplin, enerjik, dan peduli terhadap kesehatan jasmani.
NURUL ISNAINIA
Kegiatan diawali dengan Pembukaan KKM yang khidmat, yang menjadi tonggak komitmen mahasiswa untuk turut serta dalam pembangunan desa. Sebagai langkah awal membangun kedekatan dan pemahaman, mahasiswa langsung melaksanakan sensus penduduk secara door to door. Metode ini dipilih bukan hanya untuk memperoleh data yang akurat, tetapi lebih penting untuk menjalin kontak personal dengan setiap keluarga. Dari obrolan di teras rumah dan pintu ke pintu, mahasiswa mendengarkan cerita, kebutuhan, dan aspirasi warga secara langsung, sehingga program kerja yang dirancang dapat benar-benar menyentuh akar persoalan dan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Dua program utama yang menjadi fokus dengan pendekatan berkelanjutan adalah sosialisasi Family Corner dan UPZ (Unit Pengumpul Zakat). Family Corner diperkenalkan untuk mendorong terciptanya budaya literasi di dalam rumah, menjadikan sudut baca sebagai pusat pembelajaran keluarga yang dapat memperkuat ikatan dan pengetahuan bersama. Sementara sosialisasi UPZ bertujuan meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan zakat yang modern dan akuntabel, sehingga potensi ekonomi umat dapat terkumpul dan didistribusikan secara lebih efektif untuk kesejahteraan bersama, sekaligus memberdayakan masyarakat dalam jangka panjang. Di ranah pendidikan, semangat belajar anak-anak semakin menyala dengan kehadiran mahasiswa KKM yang mengajar di TK dan SD setempat. Dengan metode pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, mereka membantu mengisi kekosongan tenaga pendidik dan menyuntikkan energi baru dalam suasana kelas, menciptakan pengalaman belajar yang lebih hidup dan interaktif bagi para siswa. Tidak berhenti pada program struktural, mahasiswa KKM juga larut dalam irama kegiatan rutin masyarakat yang kaya akan nilai spiritual dan kebersamaan. Mereka aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang menjadi penyeimbang jiwa dan raga warga. Setiap pagi usai shalat Subuh, diramaikan dengan pembacaan Surat Al-Waqi’ah bersama. Kegiatan keagamaan lain seperti Ratibul Haddad, pengajian kitab, serta sholawatan rutin turut dihidupkan untuk memperdalam ketakwaan dan menjaga tradisi keilmuan agama. Untuk menjaga kesehatan jasmani, senam bersama digelar secara berkala, menjadi ajang silaturahmi dan kebugaran bagi segala usia. Selain itu, ada juga ruang khusus bagi pemberdayaan perempuan melalui Muslimatan yang diikuti ibu-ibu, serta kegiatan sosial seperti “Jumat Berkah” yang penuh dengan semangat berbagi dan kepedulian sosial. Kegiatan mengaji bersama juga menjadi salah satu rutinitas yang memperkaya batin dan memperkuat fondasi agama generasi muda. Melalui integrasi yang erat dan pendekatan yang humanis ini, mahasiswa KKM tidak sekadar menjalankan tugas pengabdian, tetapi telah menjadi bagian dari komunitas yang belajar, berbagi, dan tumbuh bersama. Mereka hadir sebagai sahabat, pendengar, dan mitra bagi warga Desa Bioro. Diharapkan, setiap kegiatan yang telah dirancang dan dijalankan bersama ini dapat meninggalkan jejak yang dalam membangun fondasi yang kuat untuk kemandirian dan kemajuan desa dan masjid, serta menanamkan nilai-nilai yang terus bersemi bahkan setelah masa KKM berakhir
VIOLA AGATHA SALSABILLA
Di sudut Kecamatan Pujon, tepatnya di Masjid Baiturrahman, para mahasiswa/i KKM 157 Decapropub UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sedang mencoba merajut kembali hubungan yang lebih erat dengan warga sekitar. Kita tahu bahwa di zaman sekarang, gadget seringkali membuat anak muda lebih asyik dengan dunianya sendiri. Dampaknya, masjid pun seringkali hanya dipandang secara sempit sebagai tempat menjalankan salat lima waktu saja, kehilangan fungsi sosialnya sebagai ruang kumpul warga. Fenomena ini menarik untuk dilihat melalui kacamata sosiologi. Apa yang sedang diupayakan oleh mahasiswa/i ini sebenarnya adalah menghidupkan kembali masjid sebagai "The Third Place". Menurut teori sosiolog Ray Oldenburg, “manusia butuh ruang ketiga di luar rumah dan tempat kerja/kampus untuk berinteraksi secara netral dan santai.” Melalui kegiatan ini para mahasiswa/i berharap, masjid dapat bertransformasi menjadi wadah pengembangan modal sosial, di mana interaksi saat mengaji bersama menciptakan rasa saling percaya dan memperkuat jaringan persaudaraan antar-generasi di masyarakat, serta suasana masjid masih tetap terasa hidup walau tidak di saat waktu-waktu ibadah sholat berjamaah. Sebagai langkah nyata, tim KKM 157 menginisiasi kegiatan khataman Al-Quran dengan target pembacaan 2 juz setiap harinya. Gerakan ini dimulai sejak Selasa, 6 Januari 2026. Namun, sebelum program ini berjalan, para mahasiswa tetap mengedepankan etika bertetangga dengan melakukan tradisi sowan (berkunjung) ke kediaman pengurus masjid. Langkah ini dilakukan untuk memohon restu sekaligus menjelaskan konsep kegiatan secara terbuka, agar kolaborasi antara mahasiswa dan pengurus masjid dapat berjalan selaras dan penuh keakraban. Berbaur dalam Hangatnya Kebersamaan Warga. Kehadiran mahasiswa KKM 157 di Masjid Baiturrahman disambut dengan tangan terbuka. Para pengurus masjid tidak sekadar membiarkan mahasiswa menjalankan programnya sendiri, tetapi justru mengajak mereka untuk menyelam lebih dalam ke pusat kehidupan sosial warga. Mahasiswa dilibatkan dalam berbagai kegiatan rutin, seperti pengajian (ta’lim), khataman setiap Kamis Kliwon, hingga doa bersama atau tahlil kubro. Tak hanya urusan ibadah, para mahasiswa juga ikut bahu-membahu membantu proses pembangunan dan pelebaran masjid. Keterlibatan aktif ini menunjukkan adanya Solidaritas Organik, sebuah teori dari sosiolog Émile Durkheim. Dalam teori ini, masyarakat tetap bersatu karena adanya kerja sama yang nyata dalam berbagai peran yang berbeda. Dengan membantu pembangunan fisik dan mengikuti tradisi lokal, mahasiswa tidak lagi dianggap sebagai "tamu jauh", melainkan bagian dari organ masyarakat yang saling melengkapi. Inilah cara paling efektif untuk membangun Modal Sosial, di mana rasa saling percaya antara pemuda dan orang tua lahir secara alami melalui aksi nyata di lapangan. Menghidupkan Suasana dari Maghrib hingga Isya’ Salah satu momen paling berkesan adalah ketika waktu beranjak dari Maghrib menuju Isya’. Jika biasanya jeda waktu tersebut hanya diisi dengan keheningan, kini suasana Masjid Baiturrahman terasa jauh lebih semarak. Para mahasiswa mengisi waktu luang tersebut dengan melantunkan ayat suci Al-Quran sembari menunggu waktu salat berikutnya. Bahkan, beberapa mahasiswa dipercaya untuk mengumandangkan azan (menjadi muazin), yang menambah kekhidmatan suasana masjid. Perubahan suasana ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari warga maupun pengurus masjid. Mereka mengungkapkan rasa syukur karena kehadiran mahasiswa membuat masjid tidak lagi terasa sepi. Kegiatan khataman dan lantunan Quran yang konsisten setiap hari memberikan energi positif dan "ruh" baru bagi lingkungan sekitar. Dalam sosiologi, hal ini disebut sebagai Interaksi Simbolik. Melalui simbol-simbol keagamaan (seperti suara azan dan mengaji), terjadi interaksi yang memberikan makna baru bagi masyarakat: bahwa masjid adalah pusat kehangatan dan kebersamaan. Respons positif warga menunjukkan bahwa kehadiran mahasiswa berhasil meruntuhkan dinding pembatas antara kaum akademisi dengan masyarakat umum, menciptakan harmoni yang indah melalui kegiatan keagamaan. Kerja Bakti Renovasi Masjid: Ibadah dalam Wujud Tindakan Sosial Selain kegiatan yang bersifat ritual dan spiritual, mahasiswa KKM 157 juga terlibat langsung dalam kerja bakti renovasi Masjid Baiturrahman. Kegiatan ini mencakup pembersihan area masjid, pengangkutan material bangunan, hingga membantu proses pelebaran dan perbaikan area wudhu jamaah putri. Meski tampak sederhana, keterlibatan mahasiswa dalam kerja fisik ini memiliki makna sosial yang mendalam. Dalam perspektif sosiologi agama, kerja bakti renovasi masjid dapat dipahami sebagai bentuk ibadah sosial, yakni pengamalan nilai-nilai keagamaan yang diwujudkan melalui aksi nyata untuk kemaslahatan bersama. Masjid tidak hanya dirawat sebagai bangunan suci, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong warga. Kehadiran mahasiswa yang turut memanggul pasir dan membersihkan area masjid mempertegas bahwa pengabdian tidak selalu harus disampaikan lewat mimbar, tetapi juga melalui tangan yang bekerja. Melalui kerja bakti ini, batas antara “mahasiswa” dan “warga” semakin memudar. Percakapan ringan di sela-sela kegiatan, tawa yang tercipta di tengah kelelahan, serta makan bersama setelah kerja bakti menjadi ruang interaksi yang mempererat ikatan emosional. Inilah praktik nyata dari nilai ukhuwah islamiyah yang hidup, bukan sekadar konsep normatif. Menanam Jejak, Bukan Sekadar Program Rangkaian kegiatan khotmil Al-Quran, tahlilan, dan kerja bakti renovasi masjid yang diinisiasi mahasiswa KKM 157 menunjukkan bahwa program keagamaan dapat menjadi medium strategis untuk membangun relasi sosial yang inklusif dan berkelanjutan. Kegiatan ini tidak berhenti pada keberhasilan acara semata, tetapi meninggalkan jejak berupa kebiasaan, suasana, dan kesadaran kolektif akan pentingnya masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat. Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi ruang belajar sosial yang tidak ternilai—belajar tentang adab bermasyarakat, kearifan lokal, serta cara membangun kepercayaan melalui kehadiran yang konsisten. Sementara bagi warga, kehadiran mahasiswa menghadirkan energi baru yang menyegarkan, sekaligus membuka ruang dialog lintas generasi. Dengan demikian, KKM tidak lagi dimaknai sebagai program sementara yang datang dan pergi, melainkan sebagai proses saling belajar dan bertumbuh bersama. Masjid Baiturrahman menjadi saksi bahwa ketika nilai keagamaan dipadukan dengan kepedulian sosial, maka yang terbangun bukan hanya aktivitas ibadah, tetapi juga rasa memiliki dan kebersamaan yang mendalam.
TRI SAPUTRA
Memasuki tanggal 5 Januari 2026, suasana baru terasa di Desa Kelompanggubug, Pulau Bawean. Bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru, mahasiswa KKM Arantra UIN Malang mulai menjalankan kegiatan di lingkungan sekolah. Sejak pagi hari, siswa mendatangi sekolah untuk berdiskusi bersama para guru mengenai jadwal mengajar serta sistem pembelajaran yang dinilai paling sesuai dengan kondisi dan karakter peserta didik. Diskusi ini menjadi langkah awal penting agar kegiatan mengajar dapat berjalan efektif. Mahasiswa berusaha menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan siswa, sekaligus memahami budaya belajar yang telah diterapkan di sekolah. Pada hari pertama ini, mahasiswa KKM juga ikut mengikuti apel pagi sebagai bagian dari konservasi dan penghormatan terhadap budaya sekolah. Pengalaman menarik muncul ketika siswa mulai masuk ke beberapa kelas untuk melakukan perkenalan. Pada saat inilah, siswa belajar banyak tentang bahasa Bawean secara langsung dari para siswa. Salah satunya adalah hitung-hitungan dalam bahasa Bawean, yakni setong, duek, telok, empak, lemak, enem, petok, beluk, sangak, hingga sepolo. Kata-kata ini terdengar asing, namun menjadi pengalaman berharga yang memperkaya interaksi di dalam kelas. Dari seluruh kelas yang dikunjungi, kelas 4 menjadi perhatian tersendiri. Kelas ini merupakan kelas dengan jumlah siswa terbanyak, yakni 20 orang, serta dikenal paling aktif dan paling banyak. Kelas tersebut diampu oleh siswa KKM, Nia dan Fajar, yang kemudian membagikan pengalaman mengajarnya kepada siswa lain sebagai bahan pembelajaran bersama. Hari pertama mengajar menjadi pengalaman yang penuh energi. Meski melelahkan, antusiasme siswa dan dinamika kelas justru menjadi suntikan semangat bagi siswa KKM untuk menjalani hari-hari pengabdian selanjutnya.
SYIFA ALISTYA SEVITA PUTRI
JOMBANG — Adanya penguatan kesehatan mental di lingkungan pesantren sangat diperlukan mengingat tidak hanya di lembaga umum saja melainkan di Pesantren ternyata juga diperlukan. Dalam upaya tersebut maka Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) unggulan fakultatif Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Aksara 255, menyelenggarakan kegiatan Psikoedukasi Santri dengan judul "Psycotalk: Ruang Empati 2026" sebagai bentuk pendampingan psikologis bagi santri putri Pondok Pesantren Tebuireng, Kamis (29/1/2026) malam. Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB ini berlangsung khidmat dan interaktif di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng Putri. Kegiatan Psikoedukasi ini sengaja dirancang sebagai ruang dialog terbuka yang aman dan suportif bagi santri untuk memahami isu kesehatan mental agar dapat mengenali emosi diri serta membangun empati dalam kehidupan sehari-hari di pesantren. Dimana program ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa KKM ryang menitikberatkan pada penguatan aspek psikologis dan kesejahteraan emosional santri. Dalam pemaparannya, tim KKM Unggulan Fakultas Psikologi UIN Malang Aksara menyampaikan materi psikoedukasi yang relevan dengan kehidupan santri, mulai dari pengenalan emosi, manajemen stres hingga pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah rutinitas pendidikan dan aktivitas keagamaan yang padat. Bahkan materi disampaikan dengan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami sehingga santri dapat mengikuti kegiatan dengan antusias. Tidak hanya berhenti pada penyampaian materi akan tetapi kegiatan "Psycotalk: Ruang Empati 2026" ini juga menghadirkan sesi konseling dan pendampingan. Sesi ini memberikan kesempatan bagi santri untuk menyampaikan keluh kesah, perasaan, maupun permasalahan yang selama ini mungkin sulit diungkapkan. Sehingga melalui pendekatan empatik dan non-judgmental maka santri Pondok Pesantren Tebuireng diajak untuk mengenali diri sendiri serta menemukan cara-cara sehat dalam menghadapi tekanan emosional. Kegiatan ini merupakan wujud dari salah satu proker besar KKM Aksara yang mana dari Abah Hj. Lukman selaku mudir Pondok pesantren Tebuireng menjelaskan bahwa diharapkan kegiatan ini lahir dari hasil observasi dan dialog awal dengan lingkungan pesantren. “Kami melihat pentingnya ruang aman bagi santri untuk berbicara tentang perasaan dan kondisi mental mereka. Pesantren tidak hanya mendidik aspek intelektual dan spiritual akan tetapi juga perlu sering berkomunikasi dengan santri agar dapat memperhatikan kesehatan mental santri,” ungkapnya. Adapun kegiatan Psikoedukasi ini memberikan respon positif terlihat dari antusiasme para santri putri yang mengikuti kegiatan hingga selesai. Banyak santri yang aktif bertanya, berbagi pengalaman, serta mengikuti sesi konseling dengan penuh keterbukaan. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan edukasi kesehatan mental di lingkungan pesantren semakin relevan dan mendesak. Ditambahi pihak pesantren Tebuireng khususnya Putri Usatdzah Dian menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Kehadiran Psycotalk yang dinilai mampu menjadi sarana pendukung dalam membentuk pribadi santri yang tidak hanya kuat secara spiritual, akan tetapi juga tangguh secara mental dan emosional. Lingkungan pesantren yang sehat secara psikologis diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif dan harmonis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa melalui kegiatan ini nantinya KKM Aksara 255 berharap santri putri Pondok Pesantren Tebuireng memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental. Serta diharapkan mampu menumbuhkan empati terhadap sesama, membangun komunikasi yang sehat, serta mengembangkan ketahanan diri dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Jombang, 31 Januari 2026 Ditulis Oleh: KKM Unggulan Fakultas Psikologi UIN Malang
NURUL MUAWANAH
Artikel ini membahas inovasi mahasiswa KKM 85 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang meluncurkan program Kentongan Digital melalui aplikasi bernama SIGAP POJOK sebagai upaya meningkatkan keamanan dan kewaspadaan masyarakat desa. Kentongan Digital merupakan pengembangan dari sistem kentongan tradisional yang selama ini digunakan warga sebagai alat komunikasi darurat. Melalui aplikasi SIGAP POJOK, sistem keamanan desa menjadi lebih modern karena memungkinkan warga untuk melaporkan kondisi darurat secara cepat dan terintegrasi menggunakan teknologi digital. Aplikasi SIGAP POJOK dirancang untuk membantu masyarakat dalam menyampaikan informasi terkait gangguan keamanan, kondisi darurat, serta kejadian penting lainnya. Dengan sistem ini, koordinasi antarwarga dan perangkat desa diharapkan menjadi lebih efektif, sehingga respons terhadap kejadian darurat dapat dilakukan dengan lebih cepat. Program ini menunjukkan peran aktif mahasiswa dalam mendorong transformasi digital di tingkat desa, sekaligus memperkuat sistem keamanan berbasis partisipasi masyarakat. Selain meningkatkan rasa aman, inovasi ini juga menjadi contoh pemanfaatan teknologi sederhana namun berdampak nyata bagi kehidupan sosial warga desa. Secara keseluruhan, artikel menegaskan bahwa kehadiran aplikasi SIGAP POJOK dan Kentongan Digital merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKM dalam mendukung keamanan desa dan memperkuat kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat.