KENNY HERMAWANTI SETYA PUTRI
Desa Sidem, Kecamatan Gondang, menjadi saksi berakhirnya masa pengabdian mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Acara perpisahan digelar di Balai Desa Sidem, Selasa, 3 Februari 2026, sebagai penanda tuntasnya pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Mengusung tema “Jejak Pengabdian Masyarakat”, kegiatan ini menegaskan peran mahasiswa tidak hanya sebagai insan intelektual, tetapi juga agen perubahan yang mampu mengaplikasikan ilmu secara nyata dan berdampak bagi masyarakat. Acara dihadiri oleh perangkat desa, masyarakat, serta tamu undangan. Suasana haru terasa kuat, terutama saat penayangan after movie KKM yang merekam perjalanan kebersamaan mahasiswa dan warga. Tangis haru pun tak terbendung, menandai kedekatan emosional yang telah terjalin selama masa pengabdian. Acara semakin khidmat dengan lantunan selawat yang diiringi hadroh lokal, dilanjutkan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan penerimaan masyarakat Desa Sidem kepada mahasiswa KKM. Meski masa tugas telah berakhir, mahasiswa berharap program dan nilai yang ditanamkan dapat terus memberi manfaat, mendorong kemajuan desa, serta mencetak generasi penerus yang lebih baik. Penutupan ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari jejak pengabdian yang akan terus dikenang.
RAHMA MAITSA AGHNA
https://www.kompasiana.com/hurin31681/6965219b34777c470a369d62/uin-malang-berdaya-kolaborasi-dinas-perikanan-dan-karang-taruna-desa-pakis-kembar-kkm-uin-malang-jadikan-sungai-desa-sentra-ekonomi
CHINTIA AINA SALSABILA
Pembangunan desa selama ini masih sering dipahami dari sudut pandang kekurangan. Desa kerap digambarkan sebagai wilayah dengan fasilitas terbatas, sumber daya manusia yang belum optimal, serta keterbatasan akses terhadap program pemberdayaan dan peluang ekonomi. Cara pandang tersebut secara tidak langsung menempatkan desa sebagai objek pembangunan yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Akibatnya, potensi yang sebenarnya telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat sering kali luput dari perhatian. Padahal, setiap desa memiliki kekuatan lokal yang lahir dari aktivitas warganya sehari-hari, hubungan sosial yang terjalin, lembaga-lembaga komunitas yang terus berjalan, serta berbagai bentuk usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri. Potensi tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk fasilitas fisik yang besar, melainkan tersimpan dalam keterampilan warga, kebiasaan gotong royong, semangat belajar anak-anak, kepedulian keluarga terhadap kesehatan, serta kreativitas pelaku usaha lokal. Apabila potensi ini dikenali, dipetakan, dan dikembangkan secara bersama, desa memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk membangun kesejahteraan warganya secara berkelanjutan. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, memperlihatkan bahwa pembangunan berbasis potensi lokal dapat diwujudkan melalui pendekatan yang tepat. Melalui kerangka Asset Based Community Development (ABCD) yang dikembangkan oleh LP2M, mahasiswa hadir bukan untuk membawa program siap pakai, melainkan memfasilitasi proses pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki desa. Pendekatan ABCD memandang masyarakat sebagai pemilik utama sumber daya dan pengetahuan lokal. Dalam praktiknya, mahasiswa KKM berperan sebagai mitra dan fasilitator yang membantu warga menggali potensi, menghubungkan antar kelompok masyarakat, serta mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor desa. Proses ini diawali dengan pengenalan kondisi desa, interaksi langsung dengan warga, diskusi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, pengelola lembaga pendidikan, kader posyandu, pemuda Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Melalui dialog dan keterlibatan langsung, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Desa Sengguruh memiliki banyak aset sosial, pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi yang dapat saling mendukung apabila dikelola secara terpadu. *Pendidikan Anak dan TPQ sebagai Aset Sosial yang Hidup* Salah satu aset penting yang dimiliki Desa Sengguruh adalah keberadaan lembaga pendidikan formal dan nonformal yang aktif dan mendapatkan dukungan masyarakat. Kegiatan asistensi mengajar yang dilaksanakan di SDN Sengguruh menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan kepercayaan diri anak-anak. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan praktik sederhana yang melibatkan siswa secara langsung. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan, berani bertanya, serta aktif menyampaikan pendapat. Respons positif ini menunjukkan bahwa minat belajar dan rasa ingin tahu anak-anak di Desa Sengguruh merupakan aset sosial yang sangat berharga. Selain di sekolah, kegiatan pendampingan juga dilaksanakan di TPQ Nurul Huda. TPQ berperan sebagai ruang pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan sikap disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab. Anak-anak mengikuti kegiatan mengaji dengan penuh semangat, sementara mahasiswa membantu dalam penguatan bacaan, hafalan, serta penyampaian nilai-nilai akhlak sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keberadaan SDN Sengguruh dan TPQ Nurul Huda memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan di desa tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara pembelajaran, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial anak-anak dan orang tua. Sekolah dan TPQ menjadi titik temu antara pendidik, keluarga, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak desa, lembaga pendidikan ini berpotensi menjadi pusat pengembangan generasi muda yang kreatif, berkarakter, religius, dan adaptif terhadap perubahan. *Posyandu dan Edukasi Keluarga sebagai Aset Kesehatan yang Efektif* Di bidang kesehatan, Desa Sengguruh memiliki jaringan posyandu yang aktif dan didukung oleh kader-kader yang berperan langsung dalam pelayanan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan posyandu selama empat hari menunjukkan tingginya partisipasi warga, khususnya ibu-ibu yang membawa balita untuk melakukan penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, serta konsultasi kesehatan. Selain pelayanan rutin, mahasiswa KKM turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi kesehatan dan edukasi parenting. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang mendukung perkembangan anak, pencegahan penyakit ringan di lingkungan keluarga, serta peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan emosional anak. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima. Posyandu di Desa Sengguruh tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan dasar, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi keluarga. Interaksi antara kader, mahasiswa, dan warga membentuk proses pertukaran pengetahuan yang sederhana namun bermakna. Melalui pendekatan ABCD, keberadaan kader posyandu, PKK, serta jaringan ibu-ibu desa dipandang sebagai aset sosial yang mampu menyebarluaskan informasi kesehatan secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah ada, edukasi kesehatan tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dapat diteruskan melalui pertemuan rutin, kegiatan PKK, dan interaksi informal antarwarga. Dampaknya dirasakan langsung oleh unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sebagai fondasi utama pembangunan kualitas sumber daya manusia desa. *UMKM Lokal dan Penguatan Ekonomi Desa* Desa Sengguruh memiliki potensi ekonomi lokal yang cukup beragam. Beberapa UMKM telah berjalan secara mandiri, seperti usaha batik, produksi keripik tempe, dan pembuatan sepatu. Usaha-usaha ini menunjukkan kemampuan warga dalam mengelola keterampilan, bahan lokal, dan jaringan pemasaran sederhana. Namun, salah satu aset ekonomi sekaligus budaya yang paling menonjol adalah Rumah Topeng Desa Sengguruh. Rumah Topeng tidak hanya berperan sebagai tempat produksi topeng tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya desa yang merepresentasikan nilai seni, sejarah, dan kearifan lokal. Keberadaan Rumah Topeng menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar desa, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Mahasiswa KKM mendampingi pengelola UMKM, khususnya Rumah Topeng, melalui kegiatan penataan ruang produksi, perbaikan tampilan visual, serta diskusi mengenai strategi promosi sederhana. Pendampingan ini menekankan bahwa penguatan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari perbaikan tata ruang, dokumentasi produk yang lebih menarik, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Melalui proses tersebut, pengelola UMKM memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya tampilan produk, cerita di balik produk lokal, serta potensi pasar yang dapat dijangkau secara lebih luas. Dengan dukungan berbasis aset dan kreativitas lokal, UMKM di Desa Sengguruh memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. *Kohesi Sosial dan Balai Desa sebagai Pusat Aktivitas Masyarakat* Selain aset pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Desa Sengguruh juga memiliki kekuatan sosial yang tercermin melalui aktivitas pemuda dan keberfungsian balai desa. Kegiatan kerja bakti yang melibatkan pemuda Karang Taruna menjadi contoh nyata semangat gotong royong yang masih terjaga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang interaksi antarwarga lintas usia. Pemuda desa menunjukkan peran aktif dalam mendukung berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Keterlibatan mereka menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan program desa, sekaligus sebagai calon penggerak pembangunan desa di masa depan. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi berbagai kegiatan masyarakat. Berbagai program KKM, seperti sosialisasi kesehatan, pertemuan UMKM, diskusi bersama perangkat desa, hingga kegiatan komunitas pemuda, dilaksanakan di balai desa. Keberadaan balai desa sebagai ruang publik memungkinkan terbangunnya komunikasi yang terbuka, partisipasi warga, serta proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif. Pemanfaatan balai desa dan jejaring sosial yang telah terbentuk membuat setiap kegiatan saling terhubung dan berjalan lebih efektif. Rasa memiliki terhadap program desa pun semakin kuat, sehingga ketergantungan terhadap bantuan eksternal dapat secara perlahan dikurangi. *ABCD sebagai Kerangka Pemberdayaan Desa* Pendekatan ABCD dari LP2M menjadi landasan utama bagi KKM Reguler Kelompok 82 dalam merancang seluruh kegiatan di Desa Sengguruh. Fokus utama pendekatan ini adalah mengidentifikasi dan mengoptimalkan aset yang sudah ada, baik berupa aset individu, kelompok, lembaga, maupun fasilitas desa. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antar aset agar dapat saling mendukung. Edukasi parenting di posyandu dapat dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran karakter di sekolah dan TPQ. Promosi UMKM dan Rumah Topeng dapat terintegrasi dengan pemanfaatan balai desa sebagai pusat informasi dan ruang pamer. Kegiatan kerja bakti dan peran pemuda Karang Taruna memperkuat kohesi sosial yang menjadi landasan keberlanjutan program-program tersebut. Melalui integrasi ini, masyarakat mulai melihat bahwa setiap kelompok dan lembaga di desa memiliki peran yang saling melengkapi. Desa Sengguruh tidak lagi diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek pembangunan yang memiliki kapasitas untuk menentukan arah, prioritas, dan bentuk pengembangan desanya sendiri. *Penutup* Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan berangkat dari kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengelola, dan merawat potensi yang telah dimiliki. Desa Sengguruh membuktikan bahwa aset manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan dapat saling terhubung untuk menghasilkan perubahan yang nyata. Anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, ibu-ibu yang semakin peduli terhadap kesehatan keluarga, UMKM kreatif terutama Rumah Topeng sebagai ikon budaya desa, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial, serta balai desa yang berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, menjadi fondasi penting bagi masa depan Desa Sengguruh yang mandiri dan berdaya. Pembangunan desa tidak lagi semata-mata dipahami sebagai upaya memperbaiki kekurangan, tetapi sebagai proses menggerakkan, menghubungkan, dan mengembangkan kekuatan lokal agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan mahasiswa KKM, Desa Sengguruh memiliki modal sosial yang kuat untuk melanjutkan praktik pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.
MUHAMMAD SYAMIL
Sidem, Tulungagung – Pendidikan bukan sekadar tentang apa yang tertulis di papan tulis, melainkan juga tentang lingkungan yang memicu inspirasi. Menyadari hal tersebut, kelompok KKM Arutama Mandhala UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menginisiasi sebuah proyek perubahan fisik yang bermakna: revitalisasi halaman sekolah melalui pembuatan taman berbasis Do It Yourself (DIY) di SDN 2 Sidem. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 24 Januari 2026 ini bertujuan untuk mengubah area gersang di sudut sekolah menjadi fase hijau yang menyegarkan mata sekaligus menjadi media pembelajaran luar ruangan bagi siswa. Halaman sekolah seringkali menjadi area yang terlupakan, padahal di sanalah interaksi sosial siswa paling banyak terjadi. Sebelum sentuhan tangan siswa KKM tiba, area depan kelas di SDN 2 Sidem tampak gersang dan kurang tertata. Dengan semangat pengabdiannya, Arutama Mandhala memutuskan untuk menyulap lahan terbatas tersebut menjadi fase hijau yang menyejukkan mata. Proyek ini bukan sekedar menanam bunga, melainkan sebuah perwujudan dari pilar "Lingkungan Sehat" dalam program kerja mereka. Konsep DIY dipilih bukan tanpa alasan; Selain efisiensi biaya, konsep ini menekankan pada kreativitas dan keinginan. Langkah awal dimulai dengan pembersihan lahan dan pemetaan zona tanam. Siswa bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mengumpulkan materi pendukung. Keunikan dari taman ini terletak pada elemen-elemennya: Pemanfaatan Material Lokal: Penggunaan batu alam sekitar dan kayu sisa untuk pembatas taman (edging). Media Tanam Organik: Pencampuran tanah dengan pupuk organik guna memastikan nutrisi tanaman tetap terjaga dalam jangka panjang. Pemilihan Vegetasi: Mahasiswa memilih jenis tanaman yang tahan cuaca namun estetis, seperti lidah mertua (Sansevieria), pucuk merah, dan berbagai jenis tanaman hias daun yang memberikan gradasi warna yang segar. Setiap pagi dan sore, para siswa bahu-membahu mencangkul, mengecat pot, hingga menata komposisi tanaman agar terlihat harmonis secara visual. Hal yang paling menarik dari proyek ini adalah keterlibatan para siswa SDN 2 Sidem. Mahasiswa Arutama Mandhala tidak bekerja sendiri; mereka menjadikan momen ini sebagai sarana edukasi luar kelas. “Kami ingin adik-adik di sini merasa memiliki taman ini. Jika mereka ikut menanam, mereka akan lebih peduli untuk menyiram dan menjaga kelaknya,” ujar salah satu anggota KKM Arutama Mandhala. Anak-anak mengajarkan cara memindahkan bibit dengan benar, pentingnya drainase pada pot, serta bagaimana menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Gelak tawa dan antusiasme siswa saat tangan mereka kotor terkena tanah menjadi pemandangan indah yang menghiasi hari-hari pengabdian di Desa Sidem. Hasilnya kini bisa dinikmati oleh seluruh warga sekolah. Halaman yang dulunya tampak kusam kini berganti rupa menjadi sudut yang asri dan Instagrammable. Perubahan ini membawa dampak psikologis yang positif; suasana belajar menjadi lebih tenang dan udara di sekitar kelas terasa lebih segar. Kepala Sekolah SDN 2 Sidem pun memberikan apresiasi yang tinggi. Kehadiran mahasiswa UIN Malang dianggap membawa "napas baru" bagi estetika sekolah yang selama ini belum sempat tergarap maksimal karena keterbatasan SDM. Program pembuatan taman DIY ini adalah bukti nyata bahwa pengabdian masyarakat tidak harus selalu berupa seminar formal. Melalui aksi nyata yang menyentuh aspek visual dan lingkungan, KKM Arutama Mandhala telah mewariskan warisan fisik yang akan terus tumbuh seiring dengan bertumbuhnya cita-cita siswa di SDN 2 Sidem. Taman ini kini berdiri sebagai simbol kolaborasi antara pelajar dan masyarakat desa—sebuah bukti bahwa dengan sedikit kreativitas dan kerja keras, lingkungan yang sederhana bisa berubah menjadi ruang yang luar biasa.
MUHAMMAD WIJAYA
Dalam rangka mempererat hubungan dengan lembaga pendidikan keagamaan di Desa Sumbersuko, kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) melaksanakan kegiatan silaturahmi ke TPQ Darussalam 2. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan diri kepada para masyayikh, para guru, serta murid-murid yang sedang menimba ilmu di TPQ tersebut. Kunjungan ini menjadi langkah awal yang penting, mengingat salah satu program kerja utama kelompok KKM adalah berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran di TPQ. Melalui kegiatan silaturahmi ini, mahasiswa KKM menyampaikan maksud dan tujuan kehadiran mereka, sekaligus memohon izin serta dukungan untuk turut membantu proses belajar mengajar di TPQ Darussalam 2 selama masa pelaksanaan KKM. Para masyayikh dan guru TPQ Darussalam 2 menyambut kedatangan mahasiswa KKM dengan baik dan penuh kehangatan. Dalam suasana yang akrab, mahasiswa KKM juga berkesempatan untuk berkenalan langsung dengan para santri. Interaksi awal ini diharapkan dapat membangun kedekatan emosional antara mahasiswa dan murid-murid, sehingga proses pembelajaran selanjutnya dapat berlangsung dengan lebih nyaman dan efektif. Melalui kegiatan silaturahmi ini, mahasiswa KKM berharap dapat berkontribusi secara aktif dalam meningkatkan semangat belajar para santri, khususnya dalam bidang pendidikan Al-Qur�an dan keagamaan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wujud komitmen mahasiswa KKM dalam mendukung dan berperan serta dalam pengembangan pendidikan keagamaan di Desa Sumbersuko