MUFIDATUL AMEILIA
Banyuwangi, 23 Januari 2026 — Mahasiswa KKM Mandiri kelompok 175 UIN Malang mengadakan sebuah pelatihan tentang pengolahan sabun cuci piring dari limbah kopi bersama dengan Ibu-Ibu PKK Desa Banyuanyar. Tidak hanya Ibu-Ibu PKK, para staf balai Desa Banyuanyar juga turut aktif dalam mengikuti pelatihan ini. Termasuk pula Ibu Kepala Desa Banyuanyar, yakni Ibu Ill Syilviana, S.ST. Keb. yang memberikan respon positif atas dilaksanankannya kegiatan pelatihan ini. Mahasiswa KKM UIN Malang memilih limbah kulit kopi, tidak lain karena Desa Banyuanyar atau lebih umumnya wilayah Kecamatan Kalibaru merupakan penghasil utama komoditas kopi. Banyak dari masyarakatnya berprofesi sebagai petani kopi. Bahkan menurut dari wawancara yang kami lakukan kepada salah satu warga, ia menyampaikan bahwa hampir semua orang di daerah ini pasti mempunyai kebun kopi. Namun pemanfaatan limbah kopi di daerah ini masih sangat terbatas. Contohnya saja kulit kopi yang hanya dijadikan sebagai makanan hewan ternak. Oleh karena itu, mahasiswa KKM UIN Malang berinovasi dengan memanfaatkan kulit kopi sebagai salah satu bahan untuk pembuatan sabun cuci piring. Kegiatan pelatihan ini dimulai pada pukul 09.30 bertempat di Balai Desa Banyuanyar dan diikuti oleh 20 peserta. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh MC yang bertugas, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan dari koordinator Desa yang disampaikan oleh Kak Akbar, juga tak lupa sambutan dari Ibu Kepala Desa Banyuanyar. Sesi selanjutnya masuk pada acara inti yakni pemaparan materi tentang "Pembuatan Sabun Cuci Piring dari Limbah Kopi" yang disampaikan oleh Kak Eralda dan Kak Nia. Materi yang disampaikan sangat runtut, mulai dari bahan yang dibutuhkan, takaran setiap bahan, langkah-langkah pembuatan, dan benefit yang didapatkan dari pembuatan sabun cuci piring ini. Setelah sesi penyampaian materi, dilanjutkan dengan sesi praktek bersama yang dipandu langsung oleh pemateri. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 5-7 orang. Setiap kelompok mendapatkan bahan dan alat masing-masing. Bahan-bahan tersebut diantaranya 200 gram texapon, garam dapur (NACL), limbah kulit kopi yang sudah ditumbuk dan diseduh (berbentuk cair), dan aromatic kopi, serta 1000 ml air. Masing-masing bahan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Texapon atau biang sabun merupakan bahan inti yang nantinya akan mengeluarkan busa. Air berfungsi untuk melarutkan texapon. Garam dapur berfungsi untuk mengentalkan tekstur sabun. Limbah kulit kopi cair berfungsi sebagai pewarna alami yang menghasilkan warna coklat seperti kopi. Sedangkan aromatic kopi berfungsi untuk menambah aroma khas kopi yang enak dan sedap. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan sabun cuci piring ini sangatlah mudah dan praktis. Pertama masukkan texapon kedalam wadah yang telah disediakan, kemudian masukkan air, larutkan texapon dengan cara meremas-remas hingga teksturnya larut dengan air, kemudian tambahkan garam dapur hingga tesktur sabun mengental, tambahkan limbah kulit kopi secukupnya sebagai pewarna alami, dan yang terakhir tambahkan aromatic kopi. Diamkan sabun selama semalaman untuk menghilangkam busa, dan sabun cuci piring siap untuk digunakan. Para ibu PKK sangat excited dan antusias mengikuti step by step pembuatan sabun cuci piring. Setelah proses pembuatan selesai, setiap peserta mendapatkan 1 botol untuk mewadahi sabun yang telah selesai dibuat. Bahkan tidak jarang, ibu-ibu meminta botol tambahan untuk mewadahi sabun yang masih tersisa. Para peserta terutama Ibu-Ibu PKK merasa bahwa pelatihan sabun cuci piring ini sangat bermanfaat. Selain mudah untuk dipraktekan sendiri di rumah, juga terdapat nilai ekonomis yang terkandung dalam pembuatan sabun cuci piring ini. Mengingat sabun cuci piring merupakan salah satu produk vital yang harus ada di setiap rumah. Tak lupa kegiatan pelatihan ini ditutup dengan sesi dokumentasi bersama dan doa penutup. Penulis: Mufidatul Ameilia
NAELUL GHOZY SYAHIDAN ARSYADALLAH
Desa Mulyoarjo, Lumajang - Sebuah kolaborasi apik antara mahasiswa dan masyarakat terwujud di Dusun Ampel Gading, Desa Mulyoarjo. Kelompok KKM 104 UIN Malang bersama warga setempat berhasil menyelesaikan pembangunan dinding pembatas Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang dikerjakan dengan penuh semangat gotong royong selama empat hari. Berawal dari Sowan dan Silaturahmi Cerita ini dimulai ketika kelompok KKM 104 tiba di Desa Mulyoarjo. Seperti kebiasaan baik yang sudah mengakar dalam budaya Jawa, langkah pertama yang kami lakukan adalah melakukan sowan ke rumah Bapak RT dan RW di Dusun Ampel Gading. Sowan ini bukan sekadar formalitas, tapi menjadi momen penting untuk mendengarkan langsung apa yang dibutuhkan masyarakat. Saat duduk bersama para sesepuh dan pengurus desa, banyak sekali masukan berharga yang kami terima. Obrolan mengalir santai namun penuh substansi, membahas berbagai persoalan yang dihadapi warga, terutama soal pengelolaan sampah di dusun tersebut. Di sinilah kami menyadari bahwa program kerja yang baik adalah program yang lahir dari kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar ide yang dipaksakan dari luar. "Mas-mas, mbak-mbak, kalau mau bantu di sini, yang paling perlu itu pengelolaan sampahnya. TPS kita butuh pembenahan," ungkap salah satu ketua RW saat kami berdiskusi hangat di rumahnya. Menentukan Prioritas Program Dari diskusi panjang dengan para ketua RW, RT, dan juga pihak pengelola sampah yang ada di Dusun Ampel Gading, kami mendapat dua rekomendasi utama: pembenahan tungku pembakaran sampah dan pembuatan dinding pembatas sampah. Keduanya memang sangat dibutuhkan untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah yang sudah ada. Namun, setelah kami survey lebih dalam dan menghitung-hitung kebutuhan, ternyata pembuatan tungku pembakaran sampah membutuhkan proses yang cukup lama dan biaya yang lumayan tinggi. Mengingat waktu KKM yang terbatas dan budget yang harus dikelola dengan bijak, kami pun berdiskusi lagi dengan pihak desa untuk mencari solusi terbaik. Akhirnya, kami sepakat untuk mengalihkan fokus pada pembuatan dinding pembatas TPS. Meskipun terkesan lebih sederhana, dinding pembatas ini sebenarnya sangat krusial fungsinya. Dengan adanya dinding pembatas, sampah tidak akan berserakan kemana-mana, TPS jadi lebih rapi, dan lingkungan sekitar pun lebih bersih dan nyaman dipandang mata. Semangat Gotong Royong yang Membanggakan Yang paling membuat kami terharu adalah ketika proses pembangunan dimulai. Kami sama sekali tidak merasa bekerja sendirian. Masyarakat Dusun Ampel Gading dan pengurus pengelola sampah benar-benar turun tangan membantu dari awal hingga akhir. Mereka tidak hanya memberikan dukungan moral, tapi juga bantuan material dan tenaga yang sangat berharga. Bahan-bahan untuk membuat dinding pembatas, mulai dari batako, semen, pasir, hingga peralatan lainnya, banyak yang dibantu oleh warga. Bahkan ada beberapa warga yang dengan sukarela menyumbangkan material dari rumah mereka sendiri. Semangat kebersamaan ini benar-benar membuat kami merasa bahwa program ini bukan hanya milik kelompok KKM, tapi milik bersama. Setiap hari selama empat hari pengerjaan, selalu ada warga yang datang membantu. Ada yang membawa kopi dan camilan untuk teman-teman yang sedang bekerja, ada yang ikut mengaduk semen dan menyusun batako, ada juga yang sekadar menemani sambil memberikan arahan dan tips supaya hasilnya maksimal. "Ini namanya program yang pas, makanya masyarakat antusias. Kalau programnya sesuai kebutuhan, pasti warga akan support," kata salah satu pengurus pengelola sampah yang setiap hari menemani kami bekerja. Suasana kekeluargaan yang terjalin selama proses pembangunan ini menjadi pelajaran berharga bagi kami sebagai mahasiswa. Bahwa pembangunan desa bukan soal datang, memberikan sesuatu, lalu pergi. Tapi tentang bagaimana kita bisa melebur bersama masyarakat, bekerja bahu-membahu, dan menciptakan sesuatu yang benar-benar bermanfaat. Hasil yang Membanggakan Setelah empat hari bekerja keras bersama-sama, akhirnya dinding pembatas TPS selesai dibangun. Hasilnya cukup memuaskan. Dinding yang kokoh dan rapi kini berdiri tegak, membatasi area TPS dengan jelas. Sampah-sampah yang sebelumnya kerap berserakan kini bisa lebih tertata dengan baik. Sebagai tanda bahwa ini adalah hasil kolaborasi antara mahasiswa KKM dan masyarakat, kami menuliskan "TPS Ampel Gading KKM 104 UIN Malang" pada dinding yang baru saja selesai dibangun. Bukan untuk mencari nama atau pamer, tapi sebagai kenangan dan bukti bahwa kami pernah bersama-sama bergotong royong membangun sesuatu yang bermanfaat untuk desa ini. "Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Terima kasih banyak untuk teman-teman mahasiswa yang sudah mau membantu desa kami. Semoga TPS ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat dan lingkungan kami jadi lebih bersih," ucap salah satu ketua RT dengan senyum lega. Komitmen untuk Terus Berbuat Baik Program pembangunan dinding pembatas TPS ini adalah salah satu dari sekian banyak program kerja yang akan kami laksanakan selama berada di Desa Mulyoarjo. Kami, Kelompok KKM 104 UIN Malang, berkomitmen untuk terus menjalankan program-program yang tidak hanya bagus di atas kertas, tapi benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat bagi masyarakat. Bagi kami, dinding pembatas TPS ini bukan sekadar tumpukan batako dan semen. Ini adalah simbol dari kolaborasi yang indah antara akademisi dan masyarakat. Kami berharap, dengan adanya dinding pembatas ini, pengelolaan sampah di Dusun Ampel Gading bisa lebih tertata. Lingkungan jadi lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk ditinggali. Terima kasih untuk seluruh masyarakat Dusun Ampel Gading, para ketua RT dan RW, pengurus pengelola sampah, dan semua pihak yang sudah mendukung program kami. Tanpa kalian, program ini tidak akan berjalan semulus dan semenyenangkan ini. Mari kita terus bersama-sama membangun desa yang lebih baik! "Bersama Membangun, Bersama Berkembang" - Kelompok KKM 104 UIN Malang di Desa Mulyoarjo
IQBAL FIRDAUSI
KKM 36 UIN Malang ikut berpartisipasi dalam khataman Al-Qur'an yang dilaksanakan di Mushalla Al-Irsyad dan Mushalla Al-Azmunnuriyyah, RT 03 Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Kegiatan ini diadakan pada Kamis, 25 Desember 2025, mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai, diikuti oleh warga sekitar serta mahasiswa KKM. Kehadiran mahasiswa bertujuan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat desa serta mendukung kelancaran kelancaran kegiatan keagamaan. Pelaksanaan khataman dilakukan secara berbeda berdasarkan jenis kelamin, di mana laki-laki berkumpul di Mushalla Al-Irsyad dan perempuan di Mushalla Al-Azmunnuriyyah. KKM anak-anak ikut berpartisipasi dalam kegiatan khataman, sehingga proses khataman warga, terutama ibu-ibu, dapat berjalan lebih lancar dan efisien. Kehadiran mahasiswa dan anak-anak KKM juga menciptakan suasana kegiatan yang lebih tertib, harmonis, dan penuh kebersamaan. Kegiatan ini mendapat tanggapan positif dari warga. Ibu Neni, salah satu tokoh masyarakat, menyampaikan: “Kami senang pelajar ikut hadir dan berpartisipasi dalam khataman. Kehadiran mereka membantu menjalankan kegiatan sehingga ibu-ibu dapat menyelesaikan khataman dengan lebih lancar.” Melalui partisipasi ini, KKM 36 Ardhacittaberharap kegiatan keagamaan dapat mempererat ikatan antara mahasiswa dan masyarakat, sekaligus memberi pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam berinteraksi dengan warga desa. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa selama KKM sekaligus menumbuhkan nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, dan semangat gotong-royong di lingkungan Desa Belung. Kredit: Mala, Ulum dan Jida
MUHAMMAD QUTHBIL HAIKALY ABIL HASAN ALY ASSYADZILY
JOMBANG — Penguatan kesehatan mental di lingkungan pesantren tidak hanya diperlukan bagi santri, tetapi juga bagi para pendamping yang berperan langsung dalam proses pembinaan keseharian. Menyadari hal tersebut, Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Unggulan Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Aksara 255 menyelenggarakan program unggulan PsychoCare: Pendamping Sehat, Pesantren Kuat yang dirangkaikan dengan seminar bertema “Mengenal Diri Sebelum Mendampingi”, sebagai bentuk penguatan kapasitas psikologis bagi pendamping Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jumat (30/1/2026). Kegiatan yang dilaksanakan pada pukul 19.30 WIB ini berlangsung dengan penuh antusias dan suasana reflektif di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng. Program PsychoCare dirancang sebagai ruang aman dan suportif bagi para pendamping untuk memahami kondisi psikologis diri, mengenali emosi pribadi, serta membangun kesiapan mental sebelum menjalankan peran pendampingan santri. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini menghadirkan Ibu Bilqis Rahmanda Hakim, S.Psi., M.Psi., Psikolog selaku asisten dosen Fakultas Psikologi UIN Malang, sebagai pemateri utama. Melalui seminar “Mengenal Diri Sebelum Mendampingi”, beliau menekankan pentingnya kesadaran diri, regulasi emosi, serta kesehatan mental pendamping sebagai fondasi utama dalam proses pendampingan yang empatik dan efektif. Materi disampaikan secara komunikatif dan aplikatif, sehingga mudah dipahami serta relevan dengan realitas pendampingan di lingkungan pesantren. Tidak hanya sebatas penyampaian materi, program PsychoCare juga dilengkapi dengan sesi diskusi reflektif dan pendampingan psikologis. Pada sesi ini, para pendamping diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman, tantangan emosional, serta dinamika psikologis yang sering dihadapi dalam mendampingi santri. Pendekatan yang digunakan bersifat empatik dan non-judgmental, sehingga peserta merasa nyaman untuk membuka diri dan melakukan refleksi personal. Program PsychoCare merupakan salah satu program kerja unggulan KKM Aksara 255 yang lahir dari hasil observasi dan dialog awal dengan pihak pesantren. Abah Hj. Lukman selaku mudir Pondok Pesantren Tebuireng, menyampaikan bahwa pendamping memiliki peran strategis dalam menjaga iklim psikologis pesantren. “Pendamping yang sehat secara mental akan mampu mendampingi santri dengan lebih sabar, empatik, dan bijaksana. Oleh karena itu, kegiatan seperti PsychoCare ini sangat penting dan relevan,” ungkapnya. Respon positif juga ditunjukkan oleh para pendamping pesantren yang mengikuti kegiatan hingga selesai. Antusiasme terlihat dari keaktifan peserta dalam sesi diskusi, refleksi diri, serta keterbukaan dalam menyampaikan pengalaman pendampingan. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan penguatan kesehatan mental bagi pendamping pesantren semakin mendesak dan perlu mendapat perhatian berkelanjutan. Sementara itu, pihak pesantren Tebuireng Putri turut mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Ustadzah Dian menyampaikan bahwa PsychoCare menjadi langkah strategis dalam mendukung terciptanya lingkungan pesantren yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga sehat secara psikologis. Pendamping yang mampu mengenali diri sendiri diharapkan dapat membangun relasi pendampingan yang lebih hangat, manusiawi, dan penuh empati. Melalui program PsychoCare ini, KKM Aksara 255 berharap para pendamping Pondok Pesantren Tebuireng memiliki kesadaran yang lebih tinggi akan pentingnya menjaga kesehatan mental pribadi. Selain itu, diharapkan para pendamping mampu mengembangkan empati, komunikasi yang sehat, serta ketahanan psikologis dalam menjalankan peran pendampingan santri secara berkelanjutan. Jombang, 6 Februari 2026 Ditulis oleh: KKM Unggulan Fakultas Psikologi UIN Malang
DHAFA AFRIANDITO PRATAMA
Kelompok KKM 262 PSGAD UIN Malang melakukan kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) pada 21-27 Januari 2026. Kegiatan ini sebagai bentuk keterlibatan mahasiswa KKM dalam mendukung upaya perlindungan perempuan dan anak melalui penguatan akses informasi layanan PPA di Kecamatan Pakis dan Tumpang. Pemindahan lokasi kantor UPTD PPA Kabupaten Malang ”yang dianggap baru” menjadi latar belakang kegiatan ini, karena sebelumnya berada di Kecamatan Klojen, Kota Malang. Kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA bertujuan untuk memperkenalkan layanan UPTD PPA DP3A Kabupaten Malang ke 13 sekolah di kecamatan Pakis dan Tumpang. Kegiatan ini sekaligus menjadikan sekolah sebagai target utama pengenalan agar informasi tersebut dapat menjangkau seluruh warga sekolah apabila membutuhkan bantuan dari UPTD PPA DP3A Kabupaten Malang. Selain bantuan itu, kegiatan dimaksudkan untuk membuka akses rujukan jika sekolah membutuhkan bantuan oleh yang lebih profesional, sehingga pihak sekolah dan siswa memiliki alternatif layanan pendampingan di luar izin sekolah. Bentuk pelaksanaan pengenalan layanan UPTD PPA Kabupaten Malang dilakukan melalui pemberian 1 paket brosur dan pemasangan poster yang disesuaikan dengan jenjang sekolah. Satu paket brosur terdiri dari lima tema yang berbeda. brosur pertama memuat informasi dasar tentang jenis layanan UPTD PPA Kabupaten Malang, serta kontak pengaduan. Brosur kedua, memperkenalkan BimWin yaitu aplikasi bimbingan pranikah digital yang dikembangkan sebagai transformasi dari bimbingan pernikahan yang sebelumnya dilakukan di Kantor Urusan Agama. Brosur ketiga berisi pesan edukatif untuk memperkuat peran perempuan melalui gerakan suara dan aksi perempuan pelopor. Brosur keempat mengenalkan fasilitas ruang laktasi (mom's corner) beserta kegunaannya. Sementara brosur kelima memuat informasi tentang fasilitas ruang aman bermain untuk anak-anak. Selain brosur, mahasiswa KKM UIN Malang juga menyerahkan poster yang isi pesannya telah disesuaikan dengan jenjang sekolah antara SMP dan SMA. Isi poster tersebut juga beragam, mulai dari poster berisi motivasi, edukasi cara menghadapi perasaan cemas, bingung, meragukan diri sendiri dan hati terasa berat, pesan bahwa cerita setiap anak itu penting, hingga edukasi tentang perempuan berdaya sebagai pondasi bangsa. Poster dipasang di mading sekolah, sedangkan brosur diserahkan langsung kepada pihak sekolah untuk ditindaklanjuti agar informasinya dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga sekolah, baik siswa, guru, maupun karyawan. Salah satu sekolah yang dituju adalah SMPN 2 Pakis. Ibu Laily Nurfarida, S.E., selaku wakil kepala sekolah bagian kurikulum memberikan respon yang positif terhadap kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA DP3A Kabupaten Malang. Pihak sekolah menilai kegiatan ini bermanfaat karena sebelumnya belum mengetahui secara pasti lokasi kantor UPTD PPA serta mengalami kesulitan mencari pemateri untuk edukasi materi perlindungan anak. Pihak SMPN 2 Pakis menyambut baik kegiatan penyebaran poster dan brosur, beliau menyatakan, ”Kalau saya sangat positif sekali alhamdulillah, karena kita juga nggak tahu adanya kantor tersebut disini, padahal itu dekat sekali dengan kita. Jadi dengan menginformasikan layanan kantor ini kan kita tahu, oh ternyata sekarang sudah dekat. Ketika ada apa-apa kita bisa konsultasi juga…”. Pihak sekolah SMPN 2 Pakis juga menyampaikan harapannya terhadap layanan UPTD PPA Kabupaten Malang agar dapat mengadakan edukasi via online, beliau menyatakan “Mungkin misalkan pihak UPT PPA DP3A Kabupaten Malang memiliki situs, nanti bisa memberikan edukasi-edukasi terkait kekerasan secara online. Kebetulan kan siswa sulit lepas dari hp, sehingga anak-anak bisa melihat melalui situs atau media sosial tersebut. Sehingga anak-anak menyadari apakah perilakunya termasuk perundungan dan sebagainya”. Respon positif juga disampaikan oleh pihak SMAN 1 Tumpang. Pihak sekolah menilai informasi layanan UPTD PPA Kabupaten Malang merupakan hal yang berharga dan relevan dengan kondisi sekolah, mengingat mayoritas siswa di SMAN 1 Tumpang adalah perempuan. Pihak SMAN 1 Tumpang menyampaikan, “Terima kasih yaa, saya pastikan ini sesuatu yang sangat berharga bagi kami. Dengan adanya informasi seperti ini, setidaknya kami dari sekolah bisa banyak belajar terkait pemberdayaan perempuan. Bagaimanapun juga siswa kami mayoritas adalah perempuan, sehingga dari sini kami bisa belajar bagaimana mengantisipasi dan menentukan langkah yang seharusnya dilakukan. Judulnya di sini sudah jelas, bukan hanya tentang menjadi perempuan, tetapi bagaimana berusaha menjadi perempuan yang tangguh. Tangguh itu pemahamannya luas. Saya membaca sepintas, tetapi sudah menarik dan justru menimbulkan banyak pertanyaan”. Lebih lanjut, pihak sekolah juga menyampaikan rencana tindak lanjut setelah diterimanya informasi tersebut, salah satunya dengan menghadirkan pemateri yang relevan dengan perlindungan perempuan dan anak sesuai dengan kondisi siswa. “Sepintas saya justru ingin mendatangkan pemateri. Materinya nanti bisa disesuaikan dengan kondisi siswa, karena ada banyak hal terkait perlindungan dan pemberdayaan perempuan serta anak-anak yang perlu disampaikan di sekolah ini”. Kegiatan penyebaran poster dan brosur layanan UPTD PPA Kabupaten Malang ini menjadi pengalaman belajar bagi mahasiswa KKM PSGAD 262 UIN Malang dalam memahami pentingnya peran sederhana di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga belajar melihat secara langsung bagaimana isu perlindungan perempuan dan anak direspons oleh lingkungan sekolah. Respon positif dari pihak sekolah dalam bentuk ketertarikan untuk mempelajari lebih lanjut layanan UPTD PPA serta harapan akan adanya tindak lanjut edukasi, menunjukkan bahwa informasi yang disampaikan relevan dengan kebutuhan sekolah. Bagi pelajar, pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa kontribusi kecil seperti memperkenalkan layanan dan membuka jalur komunikasi dapat menjadi langkah awal yang bermakna dalam mendukung upaya perlindungan perempuan dan anak.
MIFTAKHUL HUDDAH NUR ARIANI
Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriyah berlangsung khidmat dan penuh hikmah pada Kamis malam, 15 Januari 2026, bertempat di Masjid Al-Mustaqim. Ini merupakan hasil kolaborasi baik antara Takmir Masjid setempat dengan para mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang sedang bertugas di daerah tersebut. Yang melibatkan mahasiswa sebagai panitia acara isra mi'raj. Rangkaian acara dimulai tepat setelah shalat Isya berjamaah. Pembukaan dilakukan dengan penuh khidmat, dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibawakan dengan merdu oleh saudara Azzam Faizurrahman, menyentuh hati para jamaah yang hadir. Sambutan disampaikan oleh Bapak Muji Rahayu selaku Ketua Takmir Masjid. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para mahasiswa KKM yang telah turut serta aktif mempersiapkan dan memeriahkan acara ini. Sinergi ini dinilai sangat positif dalam membangun ukhuwah dan semangat keagamaan, khususnya di kalangan pemuda. Puncak acara adalah Mauidhoh Hasanah yang disampaikan oleh KH. Abdul Aziz. Dengan gaya bertutur yang santun dan mendalam, beliau mengupas makna hakiki dari peristiwa agung Isra Mi'raj, menekankan pentingnya menegakkan shalat, meningkatkan ketakwaan, serta meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Tausiyah yang penuh nasihat tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh sang kyai. Acara kemudian diakhiri dengan penutup. Keberhasilan acara ini menunjukkan bahwa keterlibatan generasi muda, dalam hal ini mahasiswa KKM, sebagai bagian dari panitia dapat memberikan energi dan warna tersendiri dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Diharapkan, sinergi semacam ini dapat terus berlanjut untuk membangun masyarakat yang lebih religius dan bersatu. “Alhamdulillah acara berjalan lancar. Partisipasi adik-adik mahasiswa KKM sangat membantu dan membawa semangat baru. Ini bukti bahwa pemuda dan lembaga keagamaan bisa bersama-sama mengisi pembangunan rohani masyarakat,” ujar Bapak Muji Rahayu usai acara. Dengan diadakannya acara ini, semoga nilai-nilai spiritual dari Isra Mi'raj dapat menginspirasi seluruh jamaah untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbaiki ibadah, khususnya shalat lima waktu.