TALHISUL MURAD
Kuliah kerja Masyarakat (KKM) program wajib yang diadakan disetiap kampus untuk mahasiswa semester 5. kalini kampus UIN Malang melepaskan mahasiswa untuk terjun dan berbaur ke masyarakat. memberikan perubahan dalam fokus "Membangun Desa Berkelanjutan Berbasis Penguatan Moderasi Beragama dan Potensi Lokal". Seperti mahasiswa dari kelompok 188 yang melakukan KKM Mandiri Integritas di Desa Gambiran, Dusun Jagil, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Pelaksaaan KKM Mandiri Intgritas, di Dusun Jagil diawali dengan semangat koloboratif antara mahasiswa kelompok 188 UIN Malang dengan masyarakat setempat. berbagai elemen warga juga dilibatkan dalam menjalankan program kerja yang ada. harapannya semua programa dapat memberikan dampak positif untuk berbagai bidang, seperti pembangunan desa berkelanjutan, moderasi beragama, serta membangun potensi lokal yang ada di desa setempat. kegiatan ini resmi berjalan dengan dilakukannya acara pembukaan. Acara pembukaan KKM Mandiri Intgritas, yang dilaksanakan di kantor posyandu dusun jagil dengan penuh rasa semangat dan hikmat. Dan dihadiri oleh segenap elemen masyarakat mulai dari kepala dusun hingga ketua RT, serta dosen pemdamping Lapangan (DPL) yang mendukung kelancaran acaran pembukaan KKM Mandiri Intgritas (25 Desember 2025). Rangkaian acara yang berlangsung dengan hikmat. diawali dengan pembukaan oleh Master of Ceremony (MC). setelah itu dilanjutkan dengan sambutan - sambutan, Mulai dari ketua kelompok 188 KKM Mandiri Integritas Bima Raka Laksamana Putra dengan tujuan kkm "memperluas publikasi branding dusun dengan potensi lokal yang ada" ujar ketua kelompok 188. Serta dilajutkan dengan sambutan oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Whida Rositama M.Hum dalam sambutannya ia menyampaikan terimakasi kepada masyarakat yang mau menerima dan mengijinkan mahasiswa dampingannya untuk menjalankan pengabdiaan selama satu bulan kedepan, dan ia berharap agar dengan adanya kegiatan inj dapat membantu masrakat setempat. "saya menyerahkan anak - anak kelompok 188 ini untuk dibina dan bimbing agar dapat bermanfaat untuk kemajuan dusun ini." ujar Whida Rositama M.Hum Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). lalu sambutan dilanjutkan dengan kepala Dusun Jagil, Pipit Subroto dalam sambutanya ia sangat senang dengan kedatangan mahasiswa UIN Malang dalam kegiatan KKM Mandiri. Ia juga berharap agar dengan adanya mahasiswa ini dapat memberikan terobosan dan perubahan yang baik keduapannya selama satu bulan pengabdian ini. "terimakasih sudah berkenan untuk memilih dusun ini untuk jadi tempat KKM kalian semoga ini menjadi langkah baik untuk dusun ini." ujar Pipit Subroto Kepala Dusun jagil. Setelah itu acara dilanjutkan dengan pemaparan program kerja oleh sekertaris. program kerja yang sudah dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan dusun setempat dengan memadukan dengan nilai-nilai keagamaan. seperti perogram pendidikan karakter anak dengan menanamkan nilai - nilai islami hingga membantu potensi - potensi yang ada di masyarakat setempat. Acara dilanjutkan dengan pembacaan do'a agar kegiatan KKM Mandiri Intgritas selama satu bulan ini bisa dapat berjalan dengan baik.
NAJWA KARIMA KHOIRUNNASWAH
Desa Pojok kini memiliki inovasi baru dalam bidang keamanan dan kepedulian sosial. Sebuah aplikasi yang dirancang oleh mahasiswa KKM 85 UIN Malang sebagai bentuk kentongan digital yang dirancang untuk membantu warga dalam menghadapi situasi darurat serta mempermudah pelaporan dan penyebaran informasi desa. Sigap Pojok lahir dari keresahan terhadap beberapa persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat desa. Di antaranya adalah kejadian darurat yang membutuhkan respon cepat, informasi penting yang kerap terlambat tersebar, serta pelaporan masalah desa yang belum terpusat. Di sisi lain, hampir seluruh warga Desa Pojok telah memiliki telepon genggam, sehingga pemanfaatan teknologi dinilai menjadi solusi yang relevan dan efektif. Secara definisi, Sigap Pojok merupakan aplikasi kentongan digital warga Desa Pojok. Aplikasi ini dilengkapi dengan beberapa fitur utama, seperti tombol darurat (SOS) untuk kondisi genting, fitur pelaporan masalah desa, serta informasi dan kontak resmi desa yang dapat diakses oleh masyarakat. Dengan fitur-fitur tersebut, Sigap Pojok diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi antara warga dan pihak desa. Adapun tujuan utama pembuatan aplikasi ini adalah untuk meningkatkan keamanan desa, mempercepat penanganan bantuan darurat, serta menumbuhkan rasa kepedulian warga terhadap lingkungan sekitar. Selaras dengan tujuan tersebut, Sigap Pojok juga memberikan berbagai manfaat, seperti respon yang lebih cepat saat terjadi keadaan darurat, sistem laporan desa yang lebih tertib, akses informasi yang lebih mudah, serta mendorong terciptanya warga yang lebih kompak dan peduli. Peluncuran Sigap Pojok menuai beragam respons dari masyarakat. Di satu sisi, banyak warga yang memberikan apresiasi atas inovasi ini. Namun di sisi lain, muncul pula kritik yang menyoroti keterbatasan sumber daya teknis dalam pengembangannya. Pasalnya, teknisi utama aplikasi ini hanya satu orang, yakni mahasiswa dengan latar belakang jurusan Teknologi Informasi. Menjelang peresmian aplikasi, Salman, selaku pembuat aplikasi Sigap Pojok, sempat menyampaikan refleksi pribadinya terkait proses pengembangan aplikasi tersebut. Ia mengaku bahwa keterbatasan sumber daya teknis menjadi tantangan tersendiri selama pengerjaan. "Aku berharapnya KKM tahun depan, UIN bakal menempatkan anak teknik tidak hanya satu orang yang mewakili tiap jurusan. Kayak aku nih, aku hanya seorang yang jurusannya TI, padahal sebenarnya anak TI itu akan maksimal kalau kinerjanya ber-tim," ungkapnya. Salman juga menegaskan bahwa aplikasi Sigap Pojok masih memiliki banyak keterbatasan dan belum sempurna. Oleh karena itu, ke depannya pengembangan aplikasi ini diharapkan dapat dilanjutkan oleh pihak desa. Meski demikian, kelompok KKM 85 UIN Malang menyatakan kesiapan untuk tetap membantu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki apabila dibutuhkan. Terlepas dari pujian dan kritik yang ada, para petinggi Desa Pojok menyatakan dukungan penuh terhadap inovasi yang dihasilkan oleh mahasiswa KKM 85 UIN Malang. Kehadiran Sigap Pojok dinilai sebagai langkah awal menuju desa yang lebih sigap, aman, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
SANIATUL AMALIA
Mahasiswa kkm 85 mitseva meluncurkan aplikasi sigap pojok pada 3 February 2026 bertempat di gedung serbaguna desa pojok peresmian aplikasi tersebut turut dihadiri oleh dosen pembimbing lapangan , Kapolsek, bapak camat,ibu PJ kepala desa pojok serta jajaran petinggi desa lainnya . Sigap pojok merupakan aplikasi kentongan digital yang dirancang sebagai media keamanan sekaligus kepedulian warga desa pojok. Aplikasi ini memungkinkan masyarakat untuk saling terhubung secara cepat dalam situasi darurat, sehingga respons terhadap potensi gangguan keamanan dapat dilakukan lebih sigap dan terkoordinasi. Inovasi yang digagas oleh mahasiswa KKM 85 MITSEVA ini mendapat sambutan positif dari pemerintah desa dan para tamu undangan. Dalam kesempatan tersebut, para petinggi desa menyampaikan apresiasi atas kreativitas dan kontribusi mahasiswa, serta menyatakan komitmen untuk mendukung pengembangan aplikasi Sigap Pojok ke depannya agar dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Selain menjadi ajang peresmian aplikasi, kegiatan penutupan KKM juga diisi dengan penyampaian kesan dan pesan, refleksi perjalanan pengabdian, serta ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya program KKM. Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai akhir kegiatan, menandai terjalinnya hubungan yang erat antara mahasiswa dan warga Desa Pojok. Melalui penutupan ini, KKM 85 MITSEVA berharap seluruh program yang telah dijalankan, termasuk hadirnya aplikasi Sigap Pojok, dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. Pengabdian ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan desa mampu melahirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan lokal, sekaligus memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat.
PRIYANKA ELVINADYA
Dalam rangka memperingati Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW . selalu menjadi momen yang istimewa bagi umat Islam. Peristiwa besar ini tidak hanya mengingatkan tentang perjalanan Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ajakan untuk memperkuat keimanan dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT serta sesama manusia. Momen ini dirasakan secara khidmat oleh masyarakat Dusun Sundan melalui kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di Musholla Syuhada' . Kegiatan peringatan Isra' Mi'raj ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 17 Januari 2026 , dengan mengusung tema “ Rayakan Isra' Mi'raj dengan Meningkatkan Iman, Doa, dan Ukhuwah.” Acara ini dihadiri oleh masyarakat setempat, mulai dari pengurus dan pengajar TPQ, wali santri, anak-anak TPQ, hingga perwakilan mahasiswa KKM UIN Malang. Kehadiran mereka dapat mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap nilai-nilai keagamaan di lingkungan Musholla Suhada'. Mulai dari awal acara, suasana khidmat sudah terasa degan dinginnya angin dan hujan. Jamaah yang hadir diajak untuk menata hati dan niat melalui lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan dengan penuh penghayatan. Alunan ayat-ayat suci tersebut menghadirkan ketenangan dan pembuka yang penuh akan keberkahan. Keterlibatan mahasiswa KKM UIN Malang dalam kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kerjasama antara mahasiswa dan masyarakat. Kehadiran mereka tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang turut mendukung dan meramaikan kegiatan keagamaan di Dusun Sundan. Suasana semakin terasa saat lantunan sholawat Nabi menggema di area musholla. Penayangan sholawat dengan iringan hadroh menciptakan suasana yang menyejukkan hati sekaligus menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Sholawat menjadi sarana untuk memperkuat iman dan memperbanyak doa, selaras dengan tema besar kegiatan Isra' Mi'raj tahun ini. Kegiatan ini juga melibatkan santri TPQ Syuhada' yang turut mengambil bagian dalam rangkaian acara. Penampilan mereka menjadi wujud pembinaan keagamaan sejak dini serta sarana melatih kepercayaan diri anak-anak. Antusiasme dan dukungan dari para wali santri serta masyarakat menambah kehangatan suasana kebersamaan. Sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan semangat belajar santri, panitia juga memberikan penghargaan kepada peserta lomba mewarnai dalam rangka Hari Santri Nasional. Apresiasi tersebut diharapkan dapat memotivasi anak-anak untuk terus belajar, berkarya, dan berprestasi. Makna Isra' Mi'raj semakin diperdalam melalui sinkronisasi mauidhoh hasanah yang mengajak seluruh hadirin untuk merefleksikan kembali pesan utama dari peristiwa Isra' Mi'raj, khususnya tentang pentingnya salat, keimanan, dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan-pesan tersebut menjadi pengingat agar nilai-nilai ibadah tidak hanya dijalankan secara ritual, tetapi juga diwujudkan dalam sikap dan perilaku sosial. Acara ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk harapan agar seluruh rangkaian kegiatan membawa keberkahan serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat. Peringatan Isra' Mi'raj yang dilaksanakan pada Sabtu, 17 Januari 2026 ini menjadi bukti bahwa kebersamaan, iman, dan doa dapat tumbuh kuat melalui kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara gotong royong dan penuh keikhlasan.
RAIHAN RABBANI
KKN/KKM sering dipersepsikan sebagai agenda program pengabdian yang serat. Proposal disusun rapim sasaran yang dicantumkan ambisi, dan keberhasilan sering diukur dari seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan. Namun pengalaman saya dan rekan rekan selama KKN di Dusun Baran, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokesumo, Kota Malang justru menunjukkab bahwa kenyataan sosial tidak selalu sejalan dengan logika kampus administrasi. Di lapangan, permasalahan masyarakat tidak ditampilkan dalam bentuk masalah besar yang mudah diselesaikan melalui satu atau program unggulan saja. Yang kami temui justru persoalan- persoalan dasar yang berlangsung lama dan mungkin dianggap wajar seperti literasi keuangan keluarga yang rendah, pola pengasuhan anak yang minim dialog, pengelolaan sampah yang belum terarah, hingga perilaku perundungan di lingkungan sekolah yang sering kali dianggap sekadar candaan anak-anak semata. Sayangnya, masalah-masalah pribadi semacam ini sering kali luput dari perhatian karena tidak cukup menjual sebagai program yang seremonial. Padahal, dampaknya justru panjang dan menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Di titik inilah, relevansi KKN patut dijawab apakah KKN hadir untuk memenuhi indikator laporan, memenuhi kewajiban atas tugas yang diberikan oleh kampus semata, atau benar-benar menjawab kebutuhan warga/masyarakat. Isu lingkungan kami disentuh melalui penyuluhan pengelolaan sampah. Persoalan sampah sering kali dianggap sepele selama tidak terlihat mengganggu, padahal dampaknya nyata bagi kesehatan dan kualitas hidup. Kegiatan ini merupakan upaya awal membangun kesadaran bahwa kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab kolektif, bukan sekedar urusan individu. Selain itu, kami melakukan sosialisasi bullying kepada anak-anak dan remaja. Perundungan sering kali dibiarkan karena dianggap bagian dari proses tumbuh kembang, tanpa disadari dampak psikologis jangka panjangnya. Pendidikan sederhana ini diharapkan mampu menanamkan empati sejak dini. Dalam bidang pendidikan dan keagamaan, kami juga membantu pengajaran di TPQ terdekat. Disinggung kami merasakan langsung bahwa kehadiran siswa sering kali lebih berarti daripada materi yang dibawa. Anak-anak tidak selalu membutuhkan metode baru, tetapi figur yang mau hadir, mendampingi, dan peduli. Dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut, saya beserta rekan-rekan belajar bahwa perubahan sosial tidak lahir dari program yang besar dan berlangsung singkat, melainkan dari upaya kecil yang konsisten dan relevan. KKN akan kehilangan maknanya jika hanya menjadi rutinitas administratif yang selesai bersamaan dengan penarikan siswa. Sebagai pelajar, pengalaman ini menjadi referensi penting bagi kami. Ilmu pengetahuan tidak cukup berhenti di ruang kelas atau laporan akhir. KKN mengajarkan bahwa peran intelektual bukan sekedar menjalankan program, tetapi berani jujur pada kenyataan sosial dan rendah hati dalam menawarkan solusi. Dari Dusun Baran, kami juga belajar bahwa pengabdian bukan tentang terlihat bekerja, melainkan tentang benar-benar hadir.
NABIL `ATIEQ MUBAROK
Lapangan badminton Desa Pojok mendadak menjadi pusat perhatian warga pada pertengahan Januari 2026. Setelah sekian lama, akhirnya lapangan kembali hidup melalui kelompok KKM MITSEVA yang menyelenggarakan lomba badminton ganda campuran tingkat desa dengan konsep fun game yang dikemas santai, tetapi tetap menjunjung sportivitas. Kegiatan ini secara resmi dibuka sekaligus mulai dilaksanakan pada 14 Januari 2026 dan berlangsung selama dua hari hingga 15 Januari 2026. Turnamen ini diikuti oleh perwakilan dari setiap RT di Desa Pojok, dengan kepanitiaan yang sepenuhnya ditangani oleh mahasiswa KKM MITSEVA. Bagi warga Desa Pojok, ajang ini menjadi pengalaman baru, sebab ini merupakan turnamen badminton pertama yang digagas oleh kelompok KKM di desa tersebut. Meski digagas dan dijalankan secara mandiri oleh KKM MITSEVA, terselenggaranya kegiatan ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Sebagian kebutuhan pendanaan kegiatan turut mendapatkan bantuan dari pejabat Desa Pojok, yakni Ibu PJ Desa serta Bapak PJ Desa pada periode sebelumnya, yang memberikan dukungan moril maupun materil. Dukungan tersebut menjadi bentuk kepercayaan sekaligus penyemangat bagi panitia untuk tetap melanjutkan kegiatan hingga terlaksana dengan baik. Di balik kemeriahan yang terlihat, perjalanan menuju hari pelaksanaan tidaklah mudah. Sejak tahap persiapan hingga menjelang hari H, berbagai keraguan dan rasa pesimis sempat menghantui panitia. Puncaknya terjadi saat technical meeting yang dilaksanakan sehari sebelum pertandingan dimulai. Dalam forum tersebut, panitia menjelaskan secara rinci mengenai aturan permainan, alur pertandingan, serta konsep lomba yang diusung. Forum ini juga menjadi ruang diskusi terbuka bagi para ketua RT dan peserta untuk menyampaikan pertanyaan maupun pandangan mereka. Tak dapat dimungkiri, pro dan kontra pun muncul. Salah satu tokoh desa menyampaikan pandangannya bahwa aturan yang ditetapkan panitia dinilai kurang menunjukkan sisi kompetitif. Ia juga menyoroti tantangan dalam mencari pasangan ganda campuran, terutama dari kalangan perempuan. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membebani peserta laki-laki. Menanggapi hal tersebut, panitia dengan tenang menjelaskan bahwa konsep lomba ini sejak awal memang bukan untuk kompetisi serius, melainkan sekadar fun game untuk menciptakan keseruan dan kebersamaan. “Sebenarnya ini konsepnya hanya sekadar fun game saja, Pak. Untuk keseruan semata,” ujar perwakilan panitia. Diskusi sempat berlangsung cukup hangat. Namun pada akhirnya, seluruh pihak sepakat untuk mengikuti aturan panitia. Dengan kesadaran bahwa kegiatan ini ditujukan sebagai hiburan dan ajang silaturahmi, warga memilih untuk menjalani lomba dengan santai, tanpa menghilangkan nilai sportivitas. Meski sempat merasa down akibat beberapa komentar, semangat KKM MITSEVA tidak luntur. Dukungan justru datang dari warga yang melihat sisi positif kegiatan ini. “Bagus loh, Kak, inisiatifnya. Programnya bagus, dengan kegiatan ini warga Desa Pojok bisa berkumpul. Jarang sekali ada momen seperti ini,” ungkap salah satu istri peserta lomba. Pernyataan tersebut menjadi penguat bahwa apa yang dilakukan KKM MITSEVA bukanlah hal sia-sia. Seperti kata pepatah "Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil," usaha dan ketekunan panitia akhirnya terbayar. Hal itu terbukti pada hari pelaksanaan, meskipun terdapat beberapa peserta yang berhalangan hadir, acara tetap berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Para peserta tampil tidak setengah-setengah. Mereka mempersiapkan diri dengan latihan, bahkan memperhatikan atribut yang digunakan saat bertanding. Tak hanya peserta lomba, para perangkat dan tokoh Desa Pojok turut ambil bagian dalam fun matchsebagai hiburan sekaligus pelepas ketegangan menjelang babak final. Momen ini menjadi daya tarik tersendiri dan sukses menciptakan tawa serta sorak sorai penonton. Menariknya lagi, dari ajang yang awalnya hanya bertujuan sebagai fun game, warga mulai melihat munculnya bibit-bibit atlet badminton di Desa Pojok. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan sederhana pun dapat menjadi ruang untuk mengenali potensi generasi desa, khususnya di bidang olahraga. Lebih dari sekadar permainan, lomba badminton ganda campuran ini menjadi ajang silaturahmi antarwarga, mempererat hubungan sosial, serta menghadirkan ruang kebersamaan yang selama ini jarang terwujud. Lapangan badminton bukan hanya tempat bertanding, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kebahagiaan warga Desa Pojok.