AISAH SALSABILA
Awal Pengabdian dan Proses Adaptasi Kegiatan KKM UIN Malang diawali dengan pelepasan resmi dari kampus sebagai simbol dimulainya pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Setelah itu, mahasiswa mulai beradaptasi dengan lingkungan desa melalui silaturahmi bersama warga sekitar serta perangkat RT dan RW. Interaksi awal ini menjadi langkah penting untuk memperkenalkan keberadaan mahasiswa sekaligus memahami dinamika sosial dan kebiasaan masyarakat setempat. Pemetaan Kebutuhan dan Kolaborasi Lokal Dalam upaya merancang program kerja yang relevan, mahasiswa KKM 153 melakukan koordinasi dengan berbagai pihak di desa. Salah satunya melalui kunjungan ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) untuk mendiskusikan kebutuhan sarana, jenis kegiatan literasi, serta peluang keberlanjutan program. Selain itu, mahasiswa juga menjalin komunikasi dengan Kepala Desa dan pengelola TPQ guna menyelaraskan program KKM dengan kebutuhan pendidikan dan pembinaan keagamaan masyarakat. Partisipasi dalam Kegiatan Sosial dan Keagamaan Mahasiswa juga turut terlibat dalam kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat. Keikutsertaan dalam kegiatan seperti ngawulo (27/12/2025), pengajian rutin, serta interaksi bersama ibu-ibu menjadi sarana efektif untuk membangun kedekatan emosional. Melalui partisipasi langsung ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai-nilai lokal, pola interaksi sosial, serta aktivitas rutin warga. Secara keseluruhan, pekan pertama KKM 153 diarahkan pada penguatan relasi dan pemahaman konteks sosial masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pengabdian berbasis masyarakat, di mana keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh perencanaan, tetapi juga oleh kemampuan mahasiswa untuk menyatu dan belajar dari lingkungan sekitar. Fondasi yang dibangun sejak awal diharapkan mampu mendukung pelaksanaan program kerja yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi masyarakat desa. https://www.kompasiana.com/kkmarcapada0803/695e8c9734777c7371094762/kkm-153-arcapada-langkah-awal-dengan-masyarakat-padi-talangsuko?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Desktop
SULTON ABDUL AZIZ
https://drive.google.com/drive/folders/1HP1trPzJlLbGDxMv7reDL4kGFf_2APyt
IKE CAHYANINGTYAS
Kalau ada yang tanya, "Gimana KKN di Banyuwangi kemarin?" jawaban saya pasti cuma satu, yaitu Campur aduk. Tapi kalau ditanya momen apa yang paling nggak bisa dilupakan, ingatan saya pasti langsung lari ke sebuah sekolah di ujung Pesanggaran, SDN 1 Sarongan. Di sana, saya bukan cuma mengajar, tapi justru saya yang banyak "diajar" oleh anak-anak hebat ini. Jujur saja, perjalanan menuju Sarongan itu perjuangan. Jalanan yang menantang dan jauh dari hiruk-pikuk kota sempat bikin saya mikir, "Bisa nggak ya saya bertahan di sini?" Setiap pagi, rasa lelah karena kurang tidur mendadak hilang tiap kali melihat senyum lebar anak-anak di depan gerbang. Mereka nggak butuh fasilitas mewah untuk semangat sekolah. Melihat mereka lari-larian dengan seragam yang mungkin nggak selalu licin disetrika, tapi dengan binar mata yang tulus, itu rasanya seperti disuntik energi tambahan. Selama di kampus, saya belajar teori pendidikan, cara bikin laporan keuangan, dan tentang Perusahaan, sesuailah dengan jurusan saya. Tapi di SDN 1 Sarongan, saya belajar hal-hal yang jauh lebih penting. Mengajar satu kelas yang isinya anak-anak super aktif itu butuh stok sabar yang nggak habis-habis. Tapi di balik "kenakalan" mereka, sebenarnya mereka cuma ingin diperhatikan. Bahagia di sana itu sesederhana diajak main bola bareng di lapangan yang berdebu, atau saat mereka berebut ingin salim tangan kita saat pulang sekolah. Anak-anak Sarongan punya cara unik buat bilang terima kasih. Kadang lewat surat kecil yang tulisannya miring-miring, atau bahkan main ke posko dengan membawa makanan untuk kami. Dan momen paling berat adalah hari perpisahan. Melihat mereka sedih karena kami harus kembali ke kota masing-masing membuat saya sadar kalau pengabdian ini bukan sekadar tugas kuliah. Ada ikatan emosional yang tertinggal di sana. Saya pulang membawa oleh-oleh yang lebih berharga dari sekadar nilai A di transkrip nilai. Saya pulang dengan hati yang lebih penuh. Terima kasih SDN 1 Sarongan, terima kasih bapak/ibu guru yang luar biasa dedikasinya, dan terima kasih adik-adikku yang sudah mengajarkan saya arti bersyukur di tengah keterbatasan. Sarongan mungkin jauh di peta, tapi akan selalu punya tempat khusus di ingatan saya.
DIVAANA AL-FATHANI
Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu akademik, tetapi juga menjadi ladang pengabdian sosial dan keagamaan yang nyata. Hal inilah yang sedang dijalani oleh mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 78 ArthaBhumi melalui salah satu program kerja yang telah berjalan, yakni mengajar di TPQ Al-Ikhlas, Desa Banjarejo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Kegiatan mengajar di TPQ Al-Ikhlas dilaksanakan secara rutin dari hari Senin hingga Sabtu, sementara hari Minggu digunakan sebagai waktu libur. Setiap harinya, mahasiswa KKM dijadwalkan secara bergiliran dengan pembagian satu kelompok berisi tiga hingga empat orang. Sistem ini diterapkan agar proses belajar mengajar dapat berjalan efektif sekaligus menjadi sarana belajar kerja sama dan tanggung jawab antaranggota kelompok. Aktivitas TPQ dimulai pukul 15.00 WIB, diawali dengan persiapan sekaligus mengikuti jamaah sholat Ashar bersama. Seusai sholat, kegiatan pembelajaran Al-Qur'an langsung dilaksanakan dan berlangsung hingga sekitar pukul 16.30 WIB. Rutinitas ini tidak hanya membentuk kedisiplinan waktu, tetapi juga menanamkan nilai religius sejak awal kegiatan belajar. Di TPQ Al-Ikhlas, mahasiswa KKM mengajar tiga kelas yang terbagi berdasarkan kemampuan santri. Terdapat satu kelas Al-Qur'an bagi santri yang telah lancar membaca, serta dua kelas Iqro' untuk santri yang masih berada pada tahap pengenalan dan pembelajaran dasar membaca huruf hijaiyah. Pembagian kelas ini membantu proses pembelajaran menjadi lebih terarah dan sesuai dengan kemampuan masing-masing santri. Bagi mahasiswa KKM Kelompok 78 ArthaBhumi, kegiatan mengajar di TPQ bukan sekadar menyampaikan materi membaca Al-Qur'an. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana belajar tentang kesabaran, keikhlasan, serta pentingnya peran pendidik dalam membentuk karakter generasi muda. Interaksi langsung dengan anak-anak TPQ menghadirkan pengalaman berharga yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas perkuliahan. Melalui program ini, mahasiswa KKM berharap dapat memberikan kontribusi positif bagi penguatan pendidikan keagamaan di Desa Banjarejo. Di sisi lain, pengalaman mengajar di TPQ Al-Ikhlas juga menjadi bekal spiritual dan sosial bagi mahasiswa untuk terus menumbuhkan kepedulian, tanggung jawab, serta semangat mengabdi kepada masyarakat.
RIO ZIDAN MAULANA AZIS
ARDHACITTA - (28/01/2026) Salah satu anggota Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 36 Ardhacitta UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mendapat kesempatan untuk memberikan saran dan masukan terkait sistem pengelolaan perpustakaan di Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa Pajaran, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada Selasa (28/01/2026). Kegiatan ini berlangsung atas undangan pemuda penggerak desa yang mengajak mahasiswa KKM untuk meninjau langsung kondisi perpustakaan pondok. Mahasiswa yang ditunjuk merupakan mahasiswa dari jurusan Perpustakaan dan Sains Informasi, sehingga dinilai memiliki kompetensi dan pemahaman mengenai sistem pengelolaan perpustakaan yang baik dan sesuai standar. Berdasarkan hasil observasi, Perpustakaan Pondok Pesantren Nurul Huda telah menggunakan aplikasi otomasi perpustakaan berbasis open-source, yaitu SLIMS (Senayan Library Management System). Penggunaan SLIMS merupakan langkah maju dalam mendukung sistem pengelolaan perpustakaan yang lebih modern dan terstruktur. Namun demikian, dalam praktiknya masih ditemukan beberapa kendala teknis. Salah satunya adalah fitur pencarian pada aplikasi SLIMS yang kerap mengalami error. Ketika dilakukan pencarian judul buku yang telah terinput di sistem dan tersedia di rak, hasil pencarian tidak selalu muncul sebagaimana mestinya. Selain kendala teknis tersebut, terdapat beberapa aspek lain yang perlu mendapat perhatian untuk peningkatan kualitas pengelolaan perpustakaan, di antaranya: Katalog buku belum lengkap. Peletakan label buku sebaiknya di bagian samping (punggung buku), bukan di bagian belakang. Belum terdapat stempel klasifikasi buku. Buku belum memiliki nomor klasifikasi yang sesuai standar. Belum tercantum jumlah eksemplar per judul buku. Petunjuk jenis atau kategori buku di rak belum lengkap. Buku inventaris (catatan pengadaan dan sumber perolehan koleksi) masih kurang. Foto sampul (book cover) pada aplikasi SLIMS belum tersedia secara lengkap. Sistem aplikasi SLIMS masih sering mengalami gangguan (error). Koleksi buku secara keseluruhan masih perlu ditambah untuk menunjang kebutuhan santri. Masukan yang disampaikan bukanlah bentuk kritik semata, melainkan wujud kepedulian dan kontribusi akademik mahasiswa dalam mendukung peningkatan kualitas literasi dan sistem pengelolaan perpustakaan di lingkungan pesantren. Semoga sinergi antara mahasiswa, pengelola perpustakaan, dan masyarakat desa dapat terus terjalin demi terwujudnya perpustakaan yang lebih tertata, profesional, dan bermanfaat bagi seluruh santri.
KHILYATUL BADI`AH
Dalisodo, Wagir - Upaya pelestarian lingkungan hidup membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk generasi muda. Kesadaran inilah yang mendorong kami sebagai mahasiswa KKM 55 Abhiyana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk melaksanakan kegiatan penanaman pohon pinus bersama masyarakat Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kab. Malang. Kegiatan ini mengusung tema “Penanaman Pohon Hari Ini untuk Lingkungan yang Lestari di Masa Depan” sebagai bentuk kepedulian terhadap keinginan lingkungan. Kegiatan penanaman pohon tersebut dilaksanakan pada Kamis (29/12), mulai pukul 08.00 WIB, bertempat di wilayah Sempu Kerep, Desa Dalisodo, tepatnya di Wisata Pancuran Mbok Rondo Kuning. Sejak pagi hari, mahasiswa KKM bersama perangkat desa dan warga setempat telah berkumpul di lokasi kegiatan. Suasana kebersamaan dan gotong royong terasa kuat sejak awal pelaksanaan, mencerminkan semangat kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat. Penanaman pohon pinus dipilih sebagai bentuk aksi nyata karena memiliki dampak jangka panjang bagi lingkungan. Pohon pinus memiliki berbagai kegunaan penting, baik dari segi ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, pohon pinus berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Sistem perakaran pinus yang kuat mampu menahan struktur tanah sehingga efektif mencegah erosi dan longsor, terutama di wilayah perbukitan dan lereng. Selain itu, pinus membantu meningkatkan daya resap air ke dalam tanah, sehingga berkontribusi dalam menjaga ketersediaan air tanah dan mengurangi risiko banjir. Dengan terlaksananya kegiatan ini, mahasiswa KKM 55 Abhiyana UIN Malang bersama Bapak Kepala Desa dan masyarakat Desa Dalisodo telah menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar, tetapi dapat berawal dari tindakan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama. Penanaman pohon yang dilaksanakan hari ini bukan sekadar aktivitas simbolis, melainkan wujud nyata komitmen kolektif dalam menjaga keseimbangan alam. Melalui langkah kecil ini, harapan akan terciptanya lingkungan yang lebih hijau, lestari, dan berkelanjutan di masa depan mulai ditanam dan dirawat sejak sekarang, demi kesejahteraan generasi yang akan datang.