SITI DINA HAMIDAH
Dalisodo, Wagir- Posyandu masih memegang peran penting sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat dusun, khususnya bagi lansia dan balita. Melalui Posyandu, pemantauan kesehatan dapat dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Berangkat dari kesadaran tersebut, mahasiswa KKM 55 UIN Malang turut serta melakukan pendampingan Posyandu sekaligus sosialisasi pencegahan stunting di Dusun Precet sebagai bentuk kontribusi nyata dalam penguatan kesehatan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan pada [Sabtu, 10/01] bertempat di Dusun Precet, dengan melibatkan kader Posyandu, tenaga kesehatan, serta masyarakat setempat. Sejak pagi hari, mahasiswa KKM 55 hadir mendampingi jalannya kegiatan Posyandu, mulai dari persiapan tempat, pendataan peserta, hingga membantu proses pelayanan kesehatan bagi lansia dan balita. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa turut membantu penimbangan balita, pencatatan pertumbuhan dan perkembangan anak, serta pendampingan lansia dalam pemeriksaan kesehatan rutin. Selain itu, mahasiswa KKM 55 juga melakukan sosialisasi mengenai stunting kepada orang tua balita dan masyarakat dengan mendatangkan pemateri dari UIN Malang. Sosialisasi ini menekankan pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang tepat, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai langkah pencegahan stunting sejak dini. Pendampingan Posyandu dan sosialisasi stunting ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan sejak usia dini hingga lanjut usia. Kegiatan ini juga memperkuat peran Posyandu tidak hanya sebagai tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai ruang edukasi bagi masyarakat dalam membangun keluarga yang sehat dan berkualitas. Bagi mahasiswa KKM 55 UIN Malang, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga dalam memahami langsung kondisi kesehatan masyarakat di tingkat dusun. Interaksi dengan kader Posyandu, lansia, dan orang tua balita memberikan pembelajaran sosial yang penting tentang peran mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Dengan terlaksananya kegiatan ini, mahasiswa KKM 55 UIN Malang bersama kader Posyandu dan masyarakat Dusun Precet telah menunjukkan bahwa penguatan kesehatan lansia dan balita dapat dimulai dari kegiatan sederhana yang dilakukan secara kolaboratif. Dari Posyandu menuju pencegahan stunting, upaya ini diharapkan mampu memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi kualitas kesehatan masyarakat Dusun Precet.
HAIDAR ALI
Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok Ardhacitta 36 melaksanakan kegiatan bersih-bersih Masjid Ar Ridho yang berlokasi di Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada Kamis, 01 Januari 2026, mulai pukul 15.30 WIB hingga selesai. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja rutin KKN yang dilaksanakan setiap hari Kamis. Kegiatan bersih-bersih masjid ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan ibadah yang bersih, nyaman, dan asri bagi jamaah. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara mahasiswa KKN dengan warga serta pengurus masjid setempat. Sebanyak 15 orang mahasiswa KKN Ardhacitta 36 terlibat langsung dalam kegiatan ini. Pelaksanaan bersih-bersih juga didukung oleh warga sekitar serta petugas kebersihan masjid, sehingga kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan penuh kebersamaan. Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi menyapu halaman masjid, mengepel lantai, membersihkan taman, mencabut rumput liar, mengangkut sampah, serta membersihkan jendela masjid. Mahasiswa dan warga bekerja sama membagi tugas agar seluruh area masjid dapat dibersihkan secara maksimal. Petugas kebersihan Masjid Ar Ridho, Pak Haryono, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. https://kkm36ardhacitta.blogspot.com/2026/01/bersama-warga-mahasiswa-kkn-ardhacitta.html
NAZIRA RASHIQA ZAHRA
Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) kami di Desa Sepakek pada bulan Januari ini terasa sangat istimewa. Entah karena kebetulan atau memang waktunya yang pas, kehadiran kami bertepatan dengan berbagai agenda besar desa. Mulai dari perayaan hari besar Islam, musim pernikahan, hingga momen duka warga terjadi secara berurutan. Hal ini membuat hari-hari kami tidak hanya diisi dengan program kerja formal di kantor desa atau sekolah, tetapi juga keterlibatan langsung dalam denyut kehidupan sosial warga yang sesungguhnya. Kesibukan kami dimulai tepat pada awal tahun. Lombok memang dikenal sebagai "Pulau Seribu Masjid", dan kami merasakan kebenarannya di sini. Desa Sepakek memiliki sembilan masjid yang tersebar di berbagai dusun, dan peringatan Isra Mi'raj tidak dilaksanakan serentak dalam satu malam saja, seperti yang sudah kami ceritakan di artikel kami sebelumnya(link). Namun, belum sempat kami beristirahat panjang dari safari Isra Mi'raj tersebut, desa kembali ramai dengan acara pernikahan. Bulan Januari ini tercatat ada tiga pernikahan yang digelar oleh warga. Di Lombok, persiapan pernikahan disebut dengan Begawe. Kami cukup terkejut melihat dapur umum acara hajatan di sini, yang ternyata bapak-bapaklah yang memegang kendali memasak nasi dan daging di kuali-kuali raksasa, dengan menu wajib Sayur Ares. Sementara itu, peran kami bersama para pemuda desa adalah membantu distribusi makanan. Kami bertugas mengantar hidangan Dulang tersebut ke hadapan para tamu undangan yang duduk melingkar di tempat-tempat yang sudah disediakan di sekitar halaman rumah dari tempat tersebut. Rasanya cukup melelahkan mondar-mandir membawa nampan berat, namun melihat kekompakan warga, rasa lelah itu tidak begitu terasa. Dari tiga pernikahan tersebut, dua di antaranya mengadakan tradisi Nyongkolan, dan kami berkesempatan mengikuti keduanya. Ini adalah pengalaman baru bagi kami. Nyongkolan adalah arak-arakan pengantin menuju rumah mempelai wanita yang diiringi musik tradisional seperti Gendang Beleq atau Kecimol. Kami ikut berjalan kaki di tengah barisan warga yang mengenakan pakaian adat, merasakan kemeriahan yang luar biasa. Melihat tradisi yang masih sangat lestari ini, kami sebagai anak muda yang besar di kota merasa kagum karena budaya lokal di sini masih dipegang teguh dan dijalankan dengan antusias. Rangkaian pengalaman kami di Desa Sepakek ini terakhir ada momen yang lebih emosional. Beberapa hari yang lalu, salah satu warga tetangga di dekat posko kami meninggal dunia. Suasana yang tadinya ramai oleh pesta, berubah menjadi syahdu penuh solidaritas. Tanpa dikomando, warga berdatangan untuk membantu keluarga yang berduka. Kami pun langsung turun tangan membantu mendirikan tenda dan menyusun kursi untuk para pelayat. Di sini, rangkaian doa dan tahlil biasanya berlangsung hingga hari ke-9 atau yang disebut Nyiwak. Setiap tamu yang datang selalu disuguhkan kopi hitam. Kami duduk bersama warga, menyeruput kopi, dan melihat bahwa gotong royong di desa ini tidak hanya hadir saat pesta pora, tetapi juga berdiri paling depan saat ada warga yang berduka. Satu bulan ini benar-benar membuka mata kami. Desa Sepakek bukan sekadar lokasi KKN, melainkan tempat belajar tentang arti kebersamaan yang sesungguhnya.
QANITA AQILA HURUL JANNAH
Jamuran — Kelompok KKM 250 Terravera turut berpartisipasi dalam kegiatan Fatayat Dusun Jamuran yang dilaksanakan di Dusun Jamuran, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir pada Selasa, 6 Januari 2026. Keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan ini bertujuan untuk menjalin kebersamaan serta mempererat hubungan sosial dengan masyarakat setempat. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa Kelompok KKM 250 Terravera mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib dan penuh antusias. Kehadiran mahasiswa disambut baik oleh anggota Fatayat dan warga setempat, sehingga tercipta suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan. Kegiatan Fatayat ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk lebih mengenal kehidupan sosial dan budaya masyarakat Dusun Jamuran, sekaligus sebagai bentuk keterlibatan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan selama masa pengabdian KKM. Melalui keikutsertaan dalam kegiatan Fatayat ini, diharapkan dapat terjalin hubungan yang semakin harmonis antara Kelompok KKM 250 Terravera dan masyarakat Dusun Jamuran. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam membangun komunikasi sosial serta menumbuhkan sikap peduli dan saling menghargai dalam kehidupan bermasyarakat. Ditulis oleh : Qanita Aqila Hurul Jannah
MUHAMMAD FAIZ FADHILAH
Kegiatan Penutupan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Mandhaloka dilaksanakan pada Selasa, 3 Januari 2026, bertempat di Balai Desa Kluwut. Acara ini dimulai pada pukul 09.00 WIB hingga selesai dan dihadiri oleh berbagai pihak, di antaranya kepala desa, perangkat balai desa, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), serta seluruh mahasiswa/i KKM Mandhaloka. Kehadiran seluruh unsur tersebut menjadi wujud sinergi antara mahasiswa dan pemerintah desa, sehingga suasana acara berlangsung dengan meriah dan penuh kebersamaan. Rangkaian kegiatan penutupan diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan acara serta sambutan dari ketua KKM, DPL, dan kepala desa. Acara inti ditandai dengan pemotongan tumpeng secara simbolis sebagai tanda peresmian penutupan KKM, yang kemudian dilanjutkan dengan penyerahan denah desa dan bingkai kenang-kenangan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa kepada desa. Selain itu, para peserta juga disuguhkan pemutaran video profil desa dan aftermovie kegiatan KKM yang menampilkan berbagai momen pengabdian dan kebersamaan selama pelaksanaan KKM. Sebagai penutup, acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan ramah tamah antara mahasiswa dan perangkat desa. Kegiatan Penutupan KKM Mandhaloka ini mengusung tema “Merajut Pengabdian, Menyemai Harapan, dan Menyimpan Kenangan”, yang mencerminkan semangat kebersamaan serta harapan agar hasil pengabdian mahasiswa dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Desa Kluwut dan meninggalkan kesan positif bagi seluruh pihak yang terlibat.
MOHAMMAD GHAZY
Penjangka, 23 Januari 2026 – Siapa bilang belajar tentang sampah itu membosankan? Bagi siswa-siswi SDN 1 Penjangka, belajar menjaga lingkungan justru bisa jadi ajang adu kreativitas yang seru dan menantang. Mahasiswa KKM Mandiri Kelompok 156 "Patibrata" UIN Malang baru saja menggelar kegiatan sosialisasi lingkungan dengan konsep edutainment (edukasi dan hiburan). Bukan sekadar ceramah, kami mengajak adik-adik SD untuk beraksi langsung "menyulap" sampah menjadi karya seni. Duet Kak Maulida dan Kak JiraSesi materi dipandu oleh dua kakak fasilitator yang energik, Kak Maulida dan Kak Jira. Dengan gaya bahasa yang renyah dan mudah dipahami anak-anak, mereka menjelaskan perbedaan antara sampah organik (mudah busuk) dan anorganik (sulit terurai). "Kalau sisa apel masuk tong warna apa? Kalau bungkus permen masuk mana?" tanya Kak Jira yang langsung disambut teriakan antusias para siswa berebut menjawab. Mini Game: Kolase Pahlawan dari SampahKeseruan memuncak saat masuk ke sesi Mini Game. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk misi khusus: Membuat Kolase Gambar Pahlawan Nasional dari Sampah Plastik. Berbekal potongan plastik bekas jajanan yang sudah dibersihkan, adik-adik SDN 1 Penjangka beradu kreativitas. Mereka menempelkan warna-warni plastik untuk membentuk siluet gambar pahlawan, seperti Bung Karno hingga pahlawan revolusi lainnya. Suasana kelas menjadi riuh dan kompetitif. Ada kelompok yang sibuk menggunting pola, ada yang berdebat soal warna plastik, namun semuanya tertawa lepas. Aktivitas ini mengajarkan filosofi Reuse (menggunakan kembali) dengan cara yang menyenangkan, sekaligus menanamkan rasa nasionalisme. Harapan untuk "Pahlawan Lingkungan" CilikKegiatan ini ditutup dengan pameran hasil karya kolase mereka. Kami dari KKM 156 "Patibrata" dibuat kagum dengan imajinasi mereka yang luar biasa. Melalui kegiatan ini, kami berharap adik-adik di SDN 1 Penjangka tidak hanya mengenal gambar pahlawan nasional, tapi juga tumbuh menjadi "Pahlawan Lingkungan" masa depan yang bijak mengelola sampah di Desa Sepakek.