SAYYIDATINA RASYIIDA AULIA
Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) sering kali menjadi momen berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari masyarakat dan lingkungan sekitar. Hal inilah yang dirasakan oleh KKM Arsana Muda, yang tidak hanya berfokus pada program kerja sosial dan edukatif, tetapi juga turut mengenal serta membantu mempromosikan potensi wisata alam di daerah setempat, salah satunya melalui kunjungan ke Coban Gluthak. Coban Gluthak merupakan air terjun alami yang berada di kawasan pedesaan dengan kondisi alam yang masih terjaga. Wisata ini belum terlalu ramai pengunjung, sehingga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis alam. Melalui kegiatan ini, KKM Arsana Muda ingin melihat secara langsung kondisi wisata, akses menuju lokasi, serta daya tarik yang bisa diperkenalkan kepada masyarakat luas. Perjalanan menuju Coban Gluthak tidak bisa ditempuh sepenuhnya dengan kendaraan. Dari titik pemberhentian terakhir, perjalanan harus dilanjutkan dengan trek jalan kaki menyusuri jalur alam. Waktu tempuh menuju air terjun berkisar 30 hingga 45 menit, tergantung kondisi fisik dan cuaca saat itu. Jalur yang dilalui cukup beragam, mulai dari jalan tanah, bebatuan, hingga jalur sempit yang diapit oleh pepohonan dan semak hijau. Medan perjalanan bisa dibilang cukup menantang. Beberapa bagian trek licin dan menurun, terutama karena tanah lembap dan batu-batu yang tertutup lumut. Di beberapa titik, kami harus lebih berhati-hati agar tidak terpeleset. Meski demikian, tantangan ini justru menambah kesan petualangan tersendiri. Perjalanan terasa melelahkan, namun terbayar dengan suasana alam yang sejuk, udara segar, serta suara alam yang menenangkan. Kebersamaan menjadi hal paling terasa selama perjalanan. Anggota KKM Arsana Muda saling membantu, menunggu satu sama lain, dan berbagi semangat ketika melewati jalur yang cukup sulit. Canda tawa di tengah perjalanan membuat rasa lelah terasa lebih ringan. Momen ini menjadi pengalaman berharga yang mempererat kebersamaan dan kekompakan tim. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, tibalah kami di lokasi Coban Gluthak. Pemandangan yang tersaji seketika membuat rasa lelah terbayar lunas. Air terjun yang tinggi dengan aliran air yang deras jatuh di antara tebing hijau yang dipenuhi lumut dan tanaman liar. Airnya terlihat jernih dan segar, sementara suasana di sekitar terasa sangat sejuk dan alami. Keindahan Coban Gluthak tidak hanya terletak pada air terjunnya, tetapi juga pada lingkungan sekitarnya yang masih asri dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Suara gemuruh air berpadu dengan kicauan burung menciptakan suasana yang menenangkan. Tempat ini sangat cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati alam, melepas penat, dan mencari ketenangan. Melalui kegiatan kunjungan ini, KKM Arsana Muda berharap dapat ikut berkontribusi dalam mengenalkan dan mendukung pengembangan wisata lokal. Dengan promosi yang tepat dan pengelolaan yang baik, Coban Gluthak berpotensi menjadi destinasi wisata unggulan yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, tentu dengan tetap menjaga kelestarian alam dan kebersihan lingkungan. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa KKM bukan hanya tentang menjalankan program kerja, tetapi juga tentang belajar, berbagi pengalaman, serta menumbuhkan kepedulian terhadap potensi daerah. Perjalanan ke Coban Gluthak menjadi salah satu pengalaman berharga yang akan selalu dikenang oleh KKM Arsana Muda.
NUR HUMAIROH
Program kerja RTH (Rumah Taman Hijau) jadi salah satu aksi seru yang digarap oleh KKM Ganiswara Kelompok 64 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di lingkungan sekolah. Lewat program ini, mahasiswa KKM ingin bikin sekolah nggak cuma jadi tempat belajar, tapi juga ruang yang hijau, adem, dan enak dipandang. RTH hadir sebagai bukti kalau peduli lingkungan itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Proses pengerjaan RTH dikerjakan langsung oleh seluruh anggota KKM Ganiswara 64. Dari nyusun konsep taman, milih spot yang pas di sekolah, sampai eksekusi di lapangan, semuanya dilakukan bareng-bareng. Kerja tim dan semangat gotong royong jadi kunci utama biar RTH ini bisa terwujud dengan maksimal. Yang bikin RTH ini beda dari yang lain adalah pemanfaatan botol bekas sebagai media tanam. Botol plastik yang biasanya cuma jadi sampah, di tangan mahasiswa KKM disulap jadi pot tanaman yang estetik. Selain ramah lingkungan, cara ini juga jadi pesan kuat tentang pentingnya daur ulang. Botol-botol bekas tersebut dibersihkan, dipotong, lalu dihias biar tampilannya makin kece. Setelah itu, botol diisi tanah dan ditanami berbagai tanaman hias serta tanaman hijau. Hasilnya, sudut sekolah jadi lebih hidup dan punya nilai seni yang unik. Keberadaan RTH bikin suasana sekolah jadi lebih fresh dan nyaman. Area yang sebelumnya biasa saja kini berubah jadi ruang hijau yang bisa dinikmati warga sekolah. Nggak cuma buat dipandang, RTH juga bisa jadi spot belajar santai atau media pembelajaran luar kelas. Lewat RTH ini, siswa diajak buat lebih peduli sama lingkungan sekitar. Mereka bisa belajar langsung cara merawat tanaman dan memahami bahwa barang bekas masih punya nilai guna. Edukasi lingkungan jadi terasa lebih dekat dan nggak membosankan. Dengan hadirnya RTH di sekolah, KKM Ganiswara Kelompok 64 berharap bisa ninggalin jejak positif yang berkelanjutan. Program ini jadi bukti kalau kreativitas, kepedulian, dan kerja bareng bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Dari botol bekas, lahir taman hijau yang penuh makna.
NAJMA FAHIRA
Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 85 MITSEVA resmi ditutup pada Selasa, 3 Februari 2026, bertempat di Gedung Serbaguna Desa Pojok. Acara penutupan ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, sekaligus momentum istimewa dengan diluncurkannya sebuah inovasi digital bertajuk "Sigap Pojok". Peluncuran aplikasi Sigap Pojok menjadi salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut. Acara ini turut dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Kapolsek setempat, Bapak Camat, Ibu PJ Kepala Desa Pojok, serta jajaran perangkat desa lainnya. Kehadiran para pemangku kebijakan tersebut menunjukkan dukungan nyata terhadap inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan solusi berbasis teknologi bagi masyarakat desa. Sigap Pojok hadir sebagai aplikasi kentongan digital yang dirancang untuk memperkuat sistem keamanan sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial warga Desa Pojok. Aplikasi ini memungkinkan masyarakat untuk saling terhubung secara cepat dalam situasi darurat, sehingga respons terhadap potensi gangguan keamanan dapat dilakukan lebih sigap dan terkoordinasi. Inovasi yang digagas oleh mahasiswa KKM 85 MITSEVA ini mendapat sambutan positif dari pemerintah desa dan para tamu undangan. Dalam kesempatan tersebut, para petinggi desa menyampaikan apresiasi atas kreativitas dan kontribusi mahasiswa, serta menyatakan komitmen untuk mendukung pengembangan aplikasi Sigap Pojok ke depannya agar dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Selain menjadi ajang peresmian aplikasi, kegiatan penutupan KKM juga diisi dengan penyampaian kesan dan pesan, refleksi perjalanan pengabdian, serta ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya program KKM. Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai akhir kegiatan, menandai terjalinnya hubungan yang erat antara mahasiswa dan warga Desa Pojok. Melalui penutupan ini, KKM 85 MITSEVA berharap seluruh program yang telah dijalankan, termasuk hadirnya aplikasi Sigap Pojok, dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. Pengabdian ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan desa mampu melahirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan lokal, sekaligus memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat.
MUHAMMAD YAQI AULAN NI`AM
Kelompok 166 KKM Mandiri Baranova melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Licin dengan fokus pada pembinaan sosial remaja, pemberdayaan ekonomi digital, dan penguatan nilai keagamaan. Melalui sosialisasi anti bullying dan kenakalan remaja, mahasiswa KKM berupaya membangun kesadaran sosial sejak usia dini. Di bidang ekonomi, pendampingan QRIS diberikan sebagai upaya meningkatkan efisiensi transaksi dan literasi keuangan masyarakat. Seluruh kegiatan tersebut dipadukan dengan amaliah keagamaan yang dilaksanakan secara konsisten bersama masyarakat, sehingga pengabdian tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga membangun karakter dan spiritualitas masyarakat Desa Licin.
ZAFIRAH TALITHA
Pada hari Selasa, 30 Desember 2025, mahasiswa KKM UIN Malang melaksanakan kegiatan bantuan tenaga kerja tani di lahan perkebunan milik warga setempat. Kegiatan ini difokuskan pada proses panen komoditas daun bawang sebagai bagian dari program kerja pengabdian masyarakat di bidang ekonomi dan pertanian. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa terjun langsung ke ladang untuk membantu petani mencabut dan menyortir daun bawang yang telah siap panen. Berdasarkan dokumentasi kegiatan, proses ini dilakukan bersama petani lokal di area lahan yang dikelola menggunakan sistem mulsa plastik untuk menjaga kualitas tanaman. Interaksi yang terjalin di sela-sela aktivitas panen menjadi ruang dialog bagi mahasiswa untuk memahami teknik budidaya tanaman di dataran tinggi. Selain memberikan bantuan tenaga, kehadiran mahasiswa bertujuan untuk mempererat silaturahmi dengan warga sebelum pelaksanaan agenda perayaan malam tahun baru di balai desa. Hasil panen yang telah dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam keranjang-keranjang plastik siap angkut untuk didistribusikan. Keterlibatan aktif ini diharapkan dapat meringankan beban kerja petani sekaligus memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa mengenai rantai pasok hasil pertanian desa secara langsung. Kegiatan di ladang berakhir pada sore hari dengan suasana yang penuh keakraban antara mahasiswa dan masyarakat tani. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar dan menjadi bekal cerita positif bagi mahasiswa dalam menjalankan masa KKM di desa tersebut. Sebagai penutup, kegiatan ini diakhiri dengan penyerahan hasil panen secara simbolis kepada pengepul dan pembersihan area ladang. Partisipasi ini menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa KKM tidak hanya berfokus pada program administratif, namun juga aktif berkontribusi dalam kegiatan ekonomi harian warga desa.
SITI KHOIRUN NISA
Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 85 MITSEVA resmi ditutup pada Selasa, 3 Februari 2026, bertempat di Gedung Serbaguna Desa Pojok. Acara penutupan ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, sekaligus momentum istimewa dengan diluncurkannya sebuah inovasi digital bertajuk "Sigap Pojok". Peluncuran aplikasi Sigap Pojok menjadi salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut. Acara ini turut dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Kapolsek setempat, Bapak Camat, Ibu PJ Kepala Desa Pojok, serta jajaran perangkat desa lainnya. Kehadiran para pemangku kebijakan tersebut menunjukkan dukungan nyata terhadap inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan solusi berbasis teknologi bagi masyarakat desa. Sigap Pojok hadir sebagai aplikasi kentongan digital yang dirancang untuk memperkuat sistem keamanan sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial warga Desa Pojok. Aplikasi ini memungkinkan masyarakat untuk saling terhubung secara cepat dalam situasi darurat, sehingga respons terhadap potensi gangguan keamanan dapat dilakukan lebih sigap dan terkoordinasi. Inovasi yang digagas oleh mahasiswa KKM 85 MITSEVA ini mendapat sambutan positif dari pemerintah desa dan para tamu undangan. Dalam kesempatan tersebut, para petinggi desa menyampaikan apresiasi atas kreativitas dan kontribusi mahasiswa, serta menyatakan komitmen untuk mendukung pengembangan aplikasi Sigap Pojok ke depannya agar dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Selain menjadi ajang peresmian aplikasi, kegiatan penutupan KKM juga diisi dengan penyampaian kesan dan pesan, refleksi perjalanan pengabdian, serta ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya program KKM. Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai akhir kegiatan, menandai terjalinnya hubungan yang erat antara mahasiswa dan warga Desa Pojok. Melalui penutupan ini, KKM 85 MITSEVA berharap seluruh program yang telah dijalankan, termasuk hadirnya aplikasi Sigap Pojok, dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. Pengabdian ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan desa mampu melahirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan lokal, sekaligus memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat.