Thumbnail
3 months ago
Sepak Terjang BKKM Desa Pojok

ADINDA ISNA MAULIDAH

https://kkm-85-mitseva.blogspot.com/2026/01/sepak-terjang-bkmm-di-masjid-baitul.html  Masjid bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga pusat kehidupan sosial umat. Gambaran inilah yang kini terasa kuat di Baitul Muqaddam. Sejak BKMM diaktifkan pada tahun 2022, masjid ini perlahan mengalami perubahan signifikan yang tidak hanya dari segi aktivitas keagamaan, tetapi juga dalam peran sosialnya di tengah masyarakat.   BKMM hadir sebagai pegiat masjid yang tidak sekadar mengisi agenda seremonial, melainkan membangun ekosistem masjid yang ramah, aktif, dan fungsional. Sejumlah kegiatan rutin diselenggarakan, mulai dari Jumat Berkah hingga peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Hari Santri. Kehadiran program-program tersebut menjadikan masjid semakin hidup dan terbuka bagi berbagai kalangan.   Salah satu program yang paling dirasakan dampaknya oleh masyarakat adalah Jumat Berkah. Program ini tidak hanya menghadirkan nilai ibadah melalui sedekah dan berbagi, tetapi juga menjadi sarana menghidupkan masjid secara nyata. Antusiasme jamaah pun meningkat dari waktu ke waktu. Bu Soliha, salah satu anggota BKMM di Masjid Baitul Muqaddam, mengungkapkan bahwa keberadaan Jumat Berkah membawa perubahan besar. “Alhamdulillah, semenjak ada Jumat Berkah jamaah sholat Jumat melonjak banget. Terutama anak-anak jadi rajin, bahkan anak-anak yang biasanya keluyuran juga banyak yang mampir ikut sholat,” tuturnya. Selain berdampak pada peningkatan jumlah jamaah, Jumat Berkah juga menyentuh aspek yang kerap luput dari perhatian, yakni kenyamanan dan keamanan jamaah. Sejak program ini berjalan, pengelolaan parkir di lingkungan masjid menjadi lebih aman, mengingat sebelumnya sering pernah terjadi pencurian. Para pegiat BKMM turut mengakomodasi kebutuhan tersebut, terutama saat jumlah jamaah meningkat tajam pada hari Jumat. Hal sederhana seperti pengamanan parkir ini memberi dampak besar. Jamaah merasa lebih tenang dan nyaman saat beribadah tanpa kekhawatiran terhadap kendaraannya. Inisiatif ini menunjukkan bahwa memakmurkan masjid tidak selalu harus melalui program besar dan formal, melainkan juga melalui kepedulian pada kebutuhan praktis jamaah. Melalui berbagai kegiatan yang digerakkan BKMM, Masjid Baitul Muqaddam kini tampil sebagai ruang publik religius yang inklusif. Selain diramaikan oleh doa, tetapi juga kepedulian, kebersamaan, dan rasa aman membersamai suasana lingkup masjid Baitul Muqaddam. Pengalaman inilah yang kemudian menginspirasi mahasiswa KKM 85 MITSEVA untuk memahami bahwa memakmurkan masjid adalah bagian dari pengabdian sosial yang nyata dan berdampak langsung bagi masyarakat.    

Thumbnail
3 months ago
Menggerakkan Potensi Lokal: KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh dengan Pendekatan ABCD

LEDINA MAULIYAH

Pembangunan desa selama ini masih sering dipahami dari sudut pandang kekurangan. Desa kerap digambarkan sebagai wilayah dengan fasilitas terbatas, sumber daya manusia yang belum optimal, serta keterbatasan akses terhadap program pemberdayaan dan peluang ekonomi. Cara pandang tersebut secara tidak langsung menempatkan desa sebagai objek pembangunan yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Akibatnya, potensi yang sebenarnya telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat sering kali luput dari perhatian. Padahal, setiap desa memiliki kekuatan lokal yang lahir dari aktivitas warganya sehari-hari, hubungan sosial yang terjalin, lembaga-lembaga komunitas yang terus berjalan, serta berbagai bentuk usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri. Potensi tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk fasilitas fisik yang besar, melainkan tersimpan dalam keterampilan warga, kebiasaan gotong royong, semangat belajar anak-anak, kepedulian keluarga terhadap kesehatan, serta kreativitas pelaku usaha lokal. Apabila potensi ini dikenali, dipetakan, dan dikembangkan secara bersama, desa memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk membangun kesejahteraan warganya secara berkelanjutan. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, memperlihatkan bahwa pembangunan berbasis potensi lokal dapat diwujudkan melalui pendekatan yang tepat. Melalui kerangka Asset Based Community Development (ABCD) yang dikembangkan oleh LP2M, mahasiswa hadir bukan untuk membawa program siap pakai, melainkan memfasilitasi proses pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki desa. Pendekatan ABCD memandang masyarakat sebagai pemilik utama sumber daya dan pengetahuan lokal. Dalam praktiknya, mahasiswa KKM berperan sebagai mitra dan fasilitator yang membantu warga menggali potensi, menghubungkan antar kelompok masyarakat, serta mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor desa. Proses ini diawali dengan pengenalan kondisi desa, interaksi langsung dengan warga, diskusi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, pengelola lembaga pendidikan, kader posyandu, pemuda Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Melalui dialog dan keterlibatan langsung, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Desa Sengguruh memiliki banyak aset sosial, pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi yang dapat saling mendukung apabila dikelola secara terpadu. Pendidikan Anak dan TPQ sebagai Aset Sosial yang Hidup Salah satu aset penting yang dimiliki Desa Sengguruh adalah keberadaan lembaga pendidikan formal dan nonformal yang aktif dan mendapatkan dukungan masyarakat. Kegiatan asistensi mengajar yang dilaksanakan di SDN Sengguruh menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan kepercayaan diri anak-anak. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan praktik sederhana yang melibatkan siswa secara langsung. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan, berani bertanya, serta aktif menyampaikan pendapat. Respons positif ini menunjukkan bahwa minat belajar dan rasa ingin tahu anak-anak di Desa Sengguruh merupakan aset sosial yang sangat berharga. Selain di sekolah, kegiatan pendampingan juga dilaksanakan di TPQ Nurul Huda. TPQ berperan sebagai ruang pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan sikap disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab. Anak-anak mengikuti kegiatan mengaji dengan penuh semangat, sementara mahasiswa membantu dalam penguatan bacaan, hafalan, serta penyampaian nilai-nilai akhlak sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keberadaan SDN Sengguruh dan TPQ Nurul Huda memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan di desa tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara pembelajaran, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial anak-anak dan orang tua. Sekolah dan TPQ menjadi titik temu antara pendidik, keluarga, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak desa, lembaga pendidikan ini berpotensi menjadi pusat pengembangan generasi muda yang kreatif, berkarakter, religius, dan adaptif terhadap perubahan. Posyandu dan Edukasi Keluarga sebagai Aset Kesehatan yang Efektif Di bidang kesehatan, Desa Sengguruh memiliki jaringan posyandu yang aktif dan didukung oleh kader-kader yang berperan langsung dalam pelayanan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan posyandu selama empat hari menunjukkan tingginya partisipasi warga, khususnya ibu-ibu yang membawa balita untuk melakukan penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, serta konsultasi kesehatan. Selain pelayanan rutin, mahasiswa KKM turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi kesehatan dan edukasi parenting. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang mendukung perkembangan anak, pencegahan penyakit ringan di lingkungan keluarga, serta peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan emosional anak. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima. Posyandu di Desa Sengguruh tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan dasar, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi keluarga. Interaksi antara kader, mahasiswa, dan warga membentuk proses pertukaran pengetahuan yang sederhana namun bermakna. Melalui pendekatan ABCD, keberadaan kader posyandu, PKK, serta jaringan ibu-ibu desa dipandang sebagai aset sosial yang mampu menyebarluaskan informasi kesehatan secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah ada, edukasi kesehatan tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dapat diteruskan melalui pertemuan rutin, kegiatan PKK, dan interaksi informal antarwarga. Dampaknya dirasakan langsung oleh unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sebagai fondasi utama pembangunan kualitas sumber daya manusia desa. UMKM Lokal dan Penguatan Ekonomi Desa Desa Sengguruh memiliki potensi ekonomi lokal yang cukup beragam. Beberapa UMKM telah berjalan secara mandiri, seperti usaha batik, produksi keripik tempe, dan pembuatan sepatu. Usaha-usaha ini menunjukkan kemampuan warga dalam mengelola keterampilan, bahan lokal, dan jaringan pemasaran sederhana. Namun, salah satu aset ekonomi sekaligus budaya yang paling menonjol adalah Rumah Topeng Desa Sengguruh. Rumah Topeng tidak hanya berperan sebagai tempat produksi topeng tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya desa yang merepresentasikan nilai seni, sejarah, dan kearifan lokal. Keberadaan Rumah Topeng menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar desa, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Mahasiswa KKM mendampingi pengelola UMKM, khususnya Rumah Topeng, melalui kegiatan penataan ruang produksi, perbaikan tampilan visual, serta diskusi mengenai strategi promosi sederhana. Pendampingan ini menekankan bahwa penguatan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari perbaikan tata ruang, dokumentasi produk yang lebih menarik, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Melalui proses tersebut, pengelola UMKM memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya tampilan produk, cerita di balik produk lokal, serta potensi pasar yang dapat dijangkau secara lebih luas. Dengan dukungan berbasis aset dan kreativitas lokal, UMKM di Desa Sengguruh memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Kohesi Sosial dan Balai Desa sebagai Pusat Aktivitas Masyarakat Selain aset pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Desa Sengguruh juga memiliki kekuatan sosial yang tercermin melalui aktivitas pemuda dan keberfungsian balai desa. Kegiatan kerja bakti yang melibatkan pemuda Karang Taruna menjadi contoh nyata semangat gotong royong yang masih terjaga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang interaksi antarwarga lintas usia. Pemuda desa menunjukkan peran aktif dalam mendukung berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Keterlibatan mereka menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan program desa, sekaligus sebagai calon penggerak pembangunan desa di masa depan. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi berbagai kegiatan masyarakat. Berbagai program KKM, seperti sosialisasi kesehatan, pertemuan UMKM, diskusi bersama perangkat desa, hingga kegiatan komunitas pemuda, dilaksanakan di balai desa. Keberadaan balai desa sebagai ruang publik memungkinkan terbangunnya komunikasi yang terbuka, partisipasi warga, serta proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif. Pemanfaatan balai desa dan jejaring sosial yang telah terbentuk membuat setiap kegiatan saling terhubung dan berjalan lebih efektif. Rasa memiliki terhadap program desa pun semakin kuat, sehingga ketergantungan terhadap bantuan eksternal dapat secara perlahan dikurangi. ABCD sebagai Kerangka Pemberdayaan Desa Pendekatan ABCD dari LP2M menjadi landasan utama bagi KKM Reguler Kelompok 82 dalam merancang seluruh kegiatan di Desa Sengguruh. Fokus utama pendekatan ini adalah mengidentifikasi dan mengoptimalkan aset yang sudah ada, baik berupa aset individu, kelompok, lembaga, maupun fasilitas desa. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antar aset agar dapat saling mendukung. Edukasi parenting di posyandu dapat dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran karakter di sekolah dan TPQ. Promosi UMKM dan Rumah Topeng dapat terintegrasi dengan pemanfaatan balai desa sebagai pusat informasi dan ruang pamer. Kegiatan kerja bakti dan peran pemuda Karang Taruna memperkuat kohesi sosial yang menjadi landasan keberlanjutan program-program tersebut. Melalui integrasi ini, masyarakat mulai melihat bahwa setiap kelompok dan lembaga di desa memiliki peran yang saling melengkapi. Desa Sengguruh tidak lagi diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek pembangunan yang memiliki kapasitas untuk menentukan arah, prioritas, dan bentuk pengembangan desanya sendiri. Penutup Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan berangkat dari kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengelola, dan merawat potensi yang telah dimiliki. Desa Sengguruh membuktikan bahwa aset manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan dapat saling terhubung untuk menghasilkan perubahan yang nyata. Anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, ibu-ibu yang semakin peduli terhadap kesehatan keluarga, UMKM kreatif terutama Rumah Topeng sebagai ikon budaya desa, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial, serta balai desa yang berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, menjadi fondasi penting bagi masa depan Desa Sengguruh yang mandiri dan berdaya. Pembangunan desa tidak lagi semata-mata dipahami sebagai upaya memperbaiki kekurangan, tetapi sebagai proses menggerakkan, menghubungkan, dan mengembangkan kekuatan lokal agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan mahasiswa KKM, Desa Sengguruh memiliki modal sosial yang kuat untuk melanjutkan praktik pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Thumbnail
3 months ago
Tah Hanya Teori, KKM Sarimi Adhiyaksa bersama Muslimat Belajar Merawat Jenazah

MUHAMMAD ARIEFKY ADMAJA

Kegiatan penyuluhan perawatan jenazah diselenggarakan oleh Kelompok KKM Sarimi Adhiyaksa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama ibu-ibu Muslimat Kelurahan Jodipan pada Minggu, 11 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Roisiyah Kelurahan Jodipan, Kota Malang. Penyuluhan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tata cara perawatan jenazah sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Materi yang disampaikan meliputi tahapan memandikan, mengkafani, hingga menshalatkan jenazah. Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara interaktif melalui pemaparan materi dan sesi diskusi. Para peserta tidak hanya menyimak penjelasan, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan terkait praktik perawatan jenazah yang kerap dijumpai di lingkungan sekitar.

Thumbnail
3 months ago
Sepak Terjang BKMM di Masjid Baitul Muqaddam Telah Menginspirasi Mahasiswa KKM 85 MITSEVA akan Rasa Kepedulian

ALPIN NOVAL MUHABBAH

Masjid bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga pusat kehidupan sosial umat. Gambaran inilah yang kini terasa kuat di Baitul Muqaddam. Sejak BKMM diaktifkan pada tahun 2022, masjid ini perlahan mengalami perubahan signifikan yang tidak hanya dari segi aktivitas keagamaan, tetapi juga dalam peran sosialnya di tengah masyarakat. BKMM hadir sebagai pegiat masjid yang tidak sekadar mengisi agenda seremonial, melainkan membangun ekosistem masjid yang ramah, aktif, dan fungsional. Sejumlah kegiatan rutin diselenggarakan, mulai dari Jumat Berkah hingga peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Hari Santri. Kehadiran program-program tersebut menjadikan masjid semakin hidup dan terbuka bagi berbagai kalangan.   Salah satu program yang paling dirasakan dampaknya oleh masyarakat adalah Jumat Berkah. Program ini tidak hanya menghadirkan nilai ibadah melalui sedekah dan berbagi, tetapi juga menjadi sarana menghidupkan masjid secara nyata. Antusiasme jamaah pun meningkat dari waktu ke waktu.   Bu Soliha, salah satu anggota BKMM di Masjid Baitul Muqaddam, mengungkapkan bahwa keberadaan Jumat Berkah membawa perubahan besar.   “Alhamdulillah, semenjak ada Jumat Berkah jamaah sholat Jumat melonjak banget. Terutama anak-anak jadi rajin, bahkan anak-anak yang biasanya keluyuran juga banyak yang mampir ikut sholat,” tuturnya. Selain berdampak pada peningkatan jumlah jamaah, Jumat Berkah juga menyentuh aspek yang kerap luput dari perhatian, yakni kenyamanan dan keamanan jamaah. Sejak program ini berjalan, pengelolaan parkir di lingkungan masjid menjadi lebih aman, mengingat sebelumnya sering pernah terjadi pencurian. Para pegiat BKMM turut mengakomodasi kebutuhan tersebut, terutama saat jumlah jamaah meningkat tajam pada hari Jumat.   Hal sederhana seperti pengamanan parkir ini memberi dampak besar. Jamaah merasa lebih tenang dan nyaman saat beribadah tanpa kekhawatiran terhadap kendaraannya. Inisiatif ini menunjukkan bahwa memakmurkan masjid tidak selalu harus melalui program besar dan formal, melainkan juga melalui kepedulian pada kebutuhan praktis jamaah. Melalui berbagai kegiatan yang digerakkan BKMM, Masjid Baitul Muqaddam kini tampil sebagai ruang publik religius yang inklusif. Selain diramaikan oleh doa, tetapi juga kepedulian, kebersamaan, dan rasa aman membersamai suasana lingkup masjid Baitul Muqaddam. Pengalaman inilah yang kemudian menginspirasi mahasiswa KKM 85 MITSEVA untuk memahami bahwa memakmurkan masjid adalah bagian dari pengabdian sosial yang nyata dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Thumbnail
3 months ago
Mahasiswa KKM UIN Malang Hadirkan Website Profil Desa Sumberngepoh untuk Dorong Transparansi dan Digitalisasi

SALSA BIILAA ROSYIDAH AZZAH

Dalam upaya meningkatkan transparansi informasi sekaligus memperkenalkan potensi desa kepada masyarakat luas, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Malang Kelompok 102 Desa Sumberngepoh melaksanakan program kerja pembuatan website desa. Program ini diharapkan menjadi sarana digital yang informatif, mudah diakses, dan bermanfaat bagi masyarakat maupun pemerintah desa. Website tersebut dirancang untuk memuat berbagai informasi penting, mulai dari sejarah desa, struktur pemerintahan, produk unggulan, hingga berita dan agenda kegiatan desa. Kehadiran platform digital ini diharapkan dapat mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi secara cepat dan akurat. Selain sebagai media informasi, website ini juga dilengkapi dengan fitur laporan dan pengaduan. Melalui fitur tersebut, warga dapat menyampaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan infrastruktur, lingkungan, maupun pelayanan publik secara langsung kepada perangkat desa, sehingga diharapkan dapat mempercepat proses tindak lanjut dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Bagus Achmad Syahputra  selaku penanggung jawab program menyampaikan bahwa pembuatan website profil desa ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam meningkatkan keterbukaan informasi serta efisiensi pelayanan kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa melalui website tersebut, masyarakat dapat lebih mudah mengakses berbagai informasi sekaligus berpartisipasi dalam pembangunan desa melalui fitur laporan dan pengaduan. Perangkat desa menyambut baik inovasi tersebut dan mengapresiasi inisiatif mahasiswa dalam mendukung upaya digitalisasi desa. Kepala Desa menyampaikan bahwa keberadaan website ini sangat membantu pemerintah desa dalam menyebarluaskan informasi sekaligus menampung aspirasi masyarakat secara lebih cepat dan terstruktur. “Website ini sangat membantu dalam menyebarluaskan informasi desa dan menerima aspirasi warga dengan lebih cepat. Kami berkomitmen untuk terus mengelola dan memperbarui website agar tetap bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Kepala Desa. Dengan hadirnya website profil desa ini, diharapkan desa dapat semakin maju dalam pemanfaatan teknologi informasi, mempercepat penanganan laporan masyarakat, serta meningkatkan daya tarik dan potensi desa di tingkat yang lebih luas. Program ini menjadi salah satu wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam mendorong pengembangan desa berbasis digital, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam pembangunan yang berkelanjutan.

Thumbnail
3 months ago
Mading TPQ Nurul Huda : Berekspresi Bersama KKM 33 UIN MALANG

AULIA RAFA XENA

  Di TPQ, mading bukan sekadar hiasan dinding. Ia menjadi ruang ekspresi bagi santri dan mahasiswa untuk menuangkan perasaan, cerita, serta pengalaman selama kegiatan KKM berlangsung. Anak-anak TPQ dengan polos menuliskan kesan mereka: rasa senang diajar mengaji, bermain sambil belajar, hingga kebahagiaan memiliki “kakak-kakak KKM” yang sabar dan ramah. Sementara itu, mahasiswa juga menyampaikan pesan penuh harapan dan doa untuk masa depan TPQ dan desa. Salah satu bagian paling mengharukan dari mading TPQ adalah kesan dari para santri. Banyak dari mereka menuliskan kalimat sederhana seperti: “Terima kasih kakak KKM sudah mengajar kami mengaji.” “Saya senang belajar bersama kakak-kakak, semoga bisa datang lagi.” Kata-kata yang singkat, namun penuh makna. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran mahasiswa KKM benar-benar dirasakan dan memberi warna baru dalam proses belajar di TPQ. Anak-anak tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga belajar berani mengekspresikan diri. Mading menjadi pengingat bahwa meskipun waktu KKM terbatas, nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian diharapkan tetap tumbuh dan berlanjut setelah mahasiswa kembali ke kampus. Keberadaan mading di TPQ menjadikan kesan dan pesan KKM tidak hilang begitu saja. Ia tetap menempel di dinding, dibaca setiap hari, dan menjadi kenangan yang terus hidup. Bagi anak anak, mading adalah cerita tentang kakak-kakak yang pernah hadir dalam hidup mereka. Bagi mahasiswa, mading adalah bukti bahwa pengabdian kecil dapat meninggalkan dampak yang besar. Mading TPQ tentang kesan dan pesan KKM membuktikan bahwa media sederhana bisa memiliki makna luar biasa. Ia menjadi jembatan antara mahasiswa dan masyarakat, antara proses belajar dan kenangan, serta antara perpisahan dan harapan. Semoga semangat kebersamaan yang tertulis di mading tersebut terus menginspirasi, baik bagi TPQ, desa, maupun generasi mahasiswa KKM berikutnya.