Thumbnail
3 months ago
Hidupkan Tradisi Maulid Diba’ di Masjid Tawakkal

SYIFA KAMILAN

  KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 124 “Adhikara Nawasena” Hidupkan Tradisi Maulid Diba di Masjid Tawakkal Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 124 yang mengusung nama “Adhikara Nawasena” melaksanakan kegiatan rutin pembacaan Maulid Diba setiap hari Senin selama masa pengabdian di lingkungan Masjid Tawakkal. Kegiatan ini menjadi salah satu program keagamaan yang bertujuan menghidupkan tradisi islami sekaligus meningkatkan partisipasi dan keterampilan generasi muda di lingkungan sekitar masjid. Pada minggu pertama, kegiatan pembacaan Maulid Diba masih diikuti oleh jumlah jamaah yang terbatas. Peserta yang hadir didominasi oleh anggota KKM 124, sementara keterlibatan warga sekitar masih tergolong minim. Meski demikian, kegiatan tetap berjalan dengan khidmat sebagai langkah awal pengenalan program kepada masyarakat. Memasuki minggu kedua, kelompok KKM 124 mulai melakukan pendekatan kepada anak-anak dan remaja sekitar masjid. Mereka diajak untuk terlibat dalam kegiatan Diba, khususnya sebagai pengiring menggunakan alat banjari atau terbangan. Namun, karena belum adanya latihan terpadu, para remaja tersebut pada tahap ini masih mengikuti pembacaan Diba sebagai jamaah, sembari mulai dikenalkan dengan ritme dan pola tabuhan. Perkembangan signifikan terlihat pada minggu ketiga. Setelah dilakukan latihan terbangan yang dibimbing langsung oleh anggota KKM 124, kegiatan pembacaan Maulid Diba berlangsung semakin meriah. Alunan terbangan mulai mengiringi lantunan shalawat, menciptakan suasana religius yang lebih hidup. Antusiasme warga pun meningkat, ditandai dengan bertambahnya jumlah jamaah yang hadir setiap pekan. Puncak kegiatan terjadi pada minggu terakhir masa KKM. Jumlah remaja yang terlibat semakin bertambah, disertai penambahan alat banjari untuk mendukung penampilan. Kegiatan Diba tidak hanya menjadi rutinitas keagamaan, tetapi juga wadah pengembangan minat dan bakat anak-anak remaja di bidang seni islami. Partisipasi aktif masyarakat menunjukkan bahwa program ini diterima dengan sangat baik oleh warga sekitar Masjid Tawakkal. Secara keseluruhan, kegiatan pembacaan Maulid Diba yang diinisiasi oleh KKM 124 “Adhikara Nawasena” memberikan dampak positif bagi masyarakat. Selain mempererat ukhuwah dan menghidupkan suasana masjid, kegiatan ini juga berhasil mengasah keterampilan, rasa percaya diri, dan kebersamaan anak-anak remaja, sehingga diharapkan dapat terus berlanjut meski masa KKM telah berakhir. https://www.kompasiana.com/zahra9194/698b44e6ed641531ac30d033/kkm-uin-malang-adhikara-nawasena-hidupkan-tradisi-maulid-diba-di-masjid-tawakkal

Thumbnail
3 months ago
KKM NAVASHILA DORONG KADER POSYANDU KARANGANYAR MENJADI GARDA TERDEPAN MENCEGAH STUNTING DAN MEMPERBAIKI PARENTING

ZULFA MUBAROKATUL FAIQOH

Mahasiswa KKM Kelompok 30 Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan seminar bertema stunting dan parenting di Balai Desa Karanganyar, Poncokusumo. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 6 Januari 2026 yang dihadiri para kader posyandu dari seluruh pos posyandu di wilayah Desa Karanganyar. Mereka menjadi sasaran utama program karena memiliki peran strategis dalam edukasi kesehatan masyarakat. Mahasiswa KKM 30 berharap kegiatan ini dapat memperkuat pemahaman kader tentang pencegahan stunting dan pola asuh yang tepat. Selain itu, seminar ini dirancang untuk mendorong kolaborasi aktif antara akademisi dan masyarakat desa. Materi pertama seminar menghadirkan Ibu Inu Martina S.ST., M.Si, dosen keperawatan dari Universitas Kepanjen sebagai pemateri bidang kesehatan stunting. Beliau menyampaikan pentingnya memperhatikan asupan gizi sejak kehamilan hingga usia lima tahun. Para kader posyandu diajak memahami tanda-tanda risiko stunting agar dapat melakukan deteksi dini. Materi disampaikan secara komunikatif sehingga mudah dipahami oleh peserta. Kehadiran narasumber ahli ini semakin memperkuat keyakinan kader pada pentingnya penanganan masalah stunting. Dalam pemaparannya, Ibu Inu Martina menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan. Kondisi ini dapat berdampak pada kemampuan belajar anak dan perkembangan kecerdasan di masa depan. Ia menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai dari rumah melalui kebiasaan makan yang sehat dan terpantau. Posyandu diharapkan menjadi sarana utama memantau tumbuh kembang balita secara berkala. Penjelasan mendalam ini membuka wawasan baru bagi para kader yang hadir. Narasumber juga menyoroti peran ibu hamil sebagai sasaran penting edukasi posyandu. Menurutnya, status gizi calon ibu sangat menentukan kualitas pertumbuhan janin. Asupan nutrisi yang kurang dapat memicu risiko bayi lahir dengan kondisi rentan stunting. Karena itu, kader diharapkan aktif memberikan penyuluhan pada masyarakat, terutama melalui pemeriksaan rutin. Penguatan peran posyandu menjadi kunci dalam pencegahan dini stunting di desa. Selain materi stunting, seminar menghadirkan Dr. Hj. Rofiqoh, M.Pd., CHt, dosen Psikologi UIN Malang sebagai pemateri parenting. Beliau menjelaskan bahwa pola asuh yang tepat sangat berpengaruh pada perkembangan emosi dan mental anak. Parenting tidak hanya terkait kebutuhan fisik, tetapi juga melibatkan perhatian, komunikasi, dan kedekatan emosional. Dr. Rofiqoh memberikan contoh-contoh nyata tantangan pola asuh di lingkungan pedesaan. Materi disampaikan secara inspiratif dan interaktif agar mudah diikuti peserta. Dr. Rofiqoh mengajak kader memahami bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Anak yang mendapatkan pendampingan penuh sejak dini cenderung memiliki daya saing lebih tinggi ketika dewasa. Beliau juga menyoroti pentingnya mengurangi pola asuh keras dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih humanis. Parenting yang baik turut mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Peserta terlihat antusias menyimak materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam sesi diskusi, para kader posyandu aktif berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi di lapangan. Mereka menanyakan berbagai kondisi berbeda yang kerap terjadi pada balita dan keluarga binaan. Narasumber menjawab setiap pertanyaan dengan rinci dan memberikan panduan yang aplikatif. Suasana seminar menjadi sangat hidup karena interaksi dua arah berlangsung intensif. Mahasiswa KKM 30 turut mendampingi proses diskusi dan mencatat poin penting yang muncul. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari aparat pemerintah desa yang hadir. Kepala desa menyampaikan bahwa edukasi kesehatan seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat Karanganyar. Ia menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dilakukan serentak oleh semua elemen desa. Kehadiran narasumber profesional dan mahasiswa dianggap mampu memperluas wawasan kader. Pemerintah desa berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan di masa mendatang. Para mahasiswa KKM 30 mengaku bangga bisa berperan langsung dalam pemberdayaan masyarakat. Mereka memandang kegiatan ini sebagai bentuk penerapan ilmu di dunia nyata melalui pengabdian. Mahasiswa berharap kader posyandu dapat menjadi agen perubahan yang aktif di desa. Mereka juga berencana mendampingi kader secara berkelanjutan selama masa pengabdian. Program ini menjadi bagian dari komitmen mahasiswa mendukung perbaikan kualitas hidup masyarakat. Seminar ditutup dengan penyerahan sertifikat dan foto bersama seluruh peserta dan narasumber. Mahasiswa memberikan modul rangkuman materi agar kader dapat mengulangi dan menyebarkan informasi kepada warga. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal menciptakan Karanganyar bebas stunting. Sinergi mahasiswa, dosen ahli, kader posyandu, dan pemerintah desa menjadi kekuatan utama dalam perubahan ini. Dengan pengetahuan baru, kader semakin siap menjadi garda terdepan menjaga tumbuh kembang generasi muda desa.    

Thumbnail
3 months ago
Peresmian aplikasi sigap pojok

AHSAN PRAWIRA MUKTI

Mahasiswa KKM 85 MITSEVA resmi meluncurkan aplikasi Sigap Pojok pada 3 Februari 2026 bertempat di Gedung Serbaguna Desa Pojok. Peresmian aplikasi tersebut turut dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Kapolsek, Bapak Camat, Ibu PJ Kepala Desa Pojok, serta jajaran petinggi desa lainnya.     Sigap Pojok merupakan aplikasi kentongan digital yang dirancang sebagai media keamanan sekaligus kepedulian warga Desa Pojok. Kehadiran aplikasi ini disambut hangat oleh para pemangku kebijakan desa. Dalam kesempatan tersebut, para petinggi desa menyampaikan apresiasi atas inovasi yang dihadirkan mahasiswa KKM, serta menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan aplikasi ke depannya.   Suasana peresmian berlangsung hangat dan penuh semangat. Bahkan, di sela pidatonya, Bapak Camat melontarkan celetukan yang mengundang senyum hadirin.

Thumbnail
3 months ago
Tak Hanya Teori, KKM Sarimi Adhiyaksa bersama Muslimat Belajar Merawat Jenazah

MUHAMMAD SYAHRUL ABROR

Kegiatan penyuluhan perawatan jenazah diselenggarakan oleh Kelompok KKM Sarimi Adhiyaksa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama ibu-ibu Muslimat Kelurahan Jodipan pada Minggu, 11 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Roisiyah Kelurahan Jodipan, Kota Malang. Penyuluhan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tata cara perawatan jenazah sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Materi yang disampaikan meliputi tahapan memandikan, mengkafani, hingga menshalatkan jenazah. Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara interaktif melalui pemaparan materi dan sesi diskusi. Para peserta tidak hanya menyimak penjelasan, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan terkait praktik perawatan jenazah yang kerap dijumpai di lingkungan sekitar. Antusiasme ibu-ibu Muslimat terlihat dari keaktifan mereka selama kegiatan berlangsung. Melalui penyuluhan ini, mahasiswa KKM Sarimi Adhiyaksa berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat serta menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam menghadapi peristiwa kematian yang membutuhkan kesiapan lahir dan batin.

Thumbnail
3 months ago
Saat Teknologi Sederhana Menjaga Alam: Cerita Rocket Stove Desa Ngadas

RISMA ROKYUL AINI

Di balik kabut tipis yang menyelimuti lereng pegunungan Bromo, Desa Ngadas berdiri tenang dengan hamparan ladang yang menjadi sumber kehidupan warganya. Desa yang berada di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang ini dikenaldengan udara sejuk, pemandangan indah, serta kearifan lokal masyarakatnya yang masih terjaga. Namun, di balik keindahanalam tersebut, desa ini juga menghadapi tantangan yang tidakt erlihat dari kejauhan, yaitu persoalan pengelolaan sampah. Seiring meningkatnya aktivitas masyarakat, volume sampah rumah tangga pun ikut bertambah. Sampah yang awalnya terlihat sepele, perlahan menjadi persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian bersama. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, merusak keindahan alam desa, bahkan mengganggu aktivitas pertanian warga. Desa Ngadas sebenarnya telah memiliki Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang cukup besar yang berada di area ladang warga. TPS ini menjadi tempat berkumpulnya berbagai sampah rumah tangga masyarakat. Pemerintah desa sempat menghadirkan solusi melalui program pengelolaan sampah terpadu dengan sistem kontribusi masyarakat sebesar Rp7.500 per bulan per kepala keluarga. Nominal yang sederhana ini diharapkan mampu membantu operasional pengurus yang bertugas mengelola sampah desa agar lingkungan tetap bersih dan terjaga. Namun seiring berjalannya waktu, program tersebut menghadapi berbagai kendala di lapangan. Pengelolaan yang belum berjalan maksimal membuat program ini akhirnya dihentikan, meninggalkan tantangan baru bagi desa untuk mencari cara lain dalam menangani persoalan sampah.  Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKM UIN Malang mencoba menghadirkan solusi sederhana namun bermanfaat melalui pembuatan rocket stove minim asap. Rocket stove merupakan tungku pembakaran yang dirancang dengan sistem sirkulasi udara khusus sehingga proses pembakaran menjadi lebih efisien, lebih panas, dan menghasilkan asap yang jauh lebih sedikit dibanding pembakaran biasa. Alasan pembuatan rocket stove ini tidak hanya untuk membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga untuk meminimalisir dampak asap pembakaran yang selama ini sering mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dengan alat ini, pembakaran sampah bisa dilakukan lebih terkendali. Harapannya, udara desa tetap bersih, ladang tetap nyaman untuk bekerja, dan aktivitas masyarakat tidak terganggu oleh asap pembakaran yang berlebihan. Proses pembuatan rocket stove juga tidak hanya berhenti pada pembuatan alat saja. Mahasiswa KKM turut memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara penggunaan, cara perawatan, serta manfaat jangka panjangnya bagi lingkungan desa. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama, di mana ilmu dari bangku perkuliahan bertemu dengan pengalaman hidup masyarakat desa. Dari sinilah semangat gotong royong kembali terasa hangat. Lebih dari sekadar program kerja, rocket stove menjadi bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan dan masyarakat. Di tengah udara dingin pegunungan Ngadas, rocket stove hadir sebagai simbol usaha kecil yang membawa harapan besar. Harapan akan lingkungan yang lebih bersih, udara yang lebih sehat, dan kesadaran bersama untuk menjaga alam. Langkah ini mungkin belum menyelesaikan seluruh persoalan sampah di Desa Ngadas. Namun perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Seperti api kecil yang mampu menyalakan cahaya di tengah gelap, inovasi sederhana ini diharapkan menjadi awal kesadaran bersama untuk menjagal ingkungan. Karena pada akhirnya, merawat alam berarti merawat kehidupan itu sendiri.

Thumbnail
3 months ago
Menanamkan Sikap Saling Menghargai: Sosialisasi Anti Bullying di TPQ Masjid Nurul Jihad

NAUFAL WAHIB

  Sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak, telah dilaksanakan program kerja sosialisasi bullying kepada anak-anak TPQ Masjid Nurul Jihad. Kegiatan ini menjadi langkah preventif yang penting untuk mengenalkan sejak dini apa itu bullying, dampaknya, serta bagaimana bersikap baik dan saling menghargai sesama teman. Sosialisasi ini dikemas secara sederhana dan ramah anak, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan mudah dan menyenangkan. Kegiatan berlangsung dengan suasana yang interaktif dan penuh antusiasme. Anak-anak diajak memahami bahwa bullying bukan hanya tentang kekerasan fisik, tetapi juga mencakup ejekan, hinaan, dan sikap meremehkan teman. Melalui contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, anak-anak belajar membedakan perilaku yang baik dan tidak baik, serta diajak untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Selain penyampaian materi, kegiatan ini juga diselingi dengan diskusi ringan dan tanya jawab. Anak-anak diberi ruang untuk bercerita, menyampaikan pendapat, dan belajar mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang positif. Hal ini bertujuan agar anak-anak tidak hanya memahami konsep anti bullying, tetapi juga berani bersikap dan berkata baik, serta saling menjaga dalam pergaulan sehari-hari di lingkungan TPQ maupun di luar. Melalui sosialisasi bullying ini, diharapkan anak-anak TPQ Masjid Nurul Jihad dapat tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga kuat secara karakter dan kepekaan sosial.