RIZQIYAH NURIL KHASANAH
Sungguh, suasana di Madrasah Diniyah (Madin) terasa lebih syahdu dari biasanya. Lantunan shalawat yang menggema merdu dari lisan para santri pada saat sore di sekitar kawasan Masjid Jami'. Hari ini, Mahasiswa KKM Kelompok 22 bersama seluruh keluarga besar Madin berkumpul dalam satu saf yang rapat untuk memperingati sebuah peristiwa monumental dalam sejarah Islam: Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Peringatan Isra Mi'raj ini bukan sekedar agenda rutin tahunan, melainkan momen bagi mahasiswa KKM Kelompok 22 untuk melebur dalam nilai-nilai spiritual. Persiapan telah dilakukan sejak siang hari; para pelajar bahu-membahu dengan para santri membuat panggung sederhana, menyiapkan konsumsi, hingga mengatur tata letak ruangan. Kerja sama ini menjadi bukti nyata bahwa kehadiran KKM bukan hanya soal program kerja fisik, tetapi tentang terjalinnya ikatan batin melalui syiar agama. Acara dibuka dengan pembacaan Maulid Diba', ayat suci Al-Qur'an, dan cerita Isra' Mi'raj yang dilantunkan dengan sangat indah oleh Mahasiswa kelompok 22, membuat suasana seketika menjadi hening dan penuh takdzim. Bagi para pelajar, momen ini adalah mengingatkan bahwa di tengah hiruk pikuk tugas akademik, ada ruang ruhani yang harus tetap terisi. Acara puncak diisi dengan mauidzah hasanah atau ceramah agama yang mengulas makna perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga menuju Sidratul Muntaha. Tema utama yang diangkat adalah tentang kedisiplinan dan urgensi shalat lima waktu sebagai buah tangan dari perjalanan agung tersebut. Para mahasiswa KKM Kelompok 22 menyimak dengan saksama, memikirkan bagaimana nilai-nilai Isra Mi'raj—seperti keteguhan hati dan kepatuhan kepada perintah Allah yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat mereka sedang menjalankan tugas pengabdian di tengah masyarakat. Ceramah tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah pengabdian tidak hanya diukur dari hasil yang terlihat mata, tetapi dari seberapa kuat hubungan spiritual kita dengan Sang Pencipta. Selesai ceramah, acara dilanjutkan dengan penyerahan juara lomba sambung ayat, hafalan nadom aqidatul awam, dan pegon dan dilanjut doa bersama yang dipimpin oleh salah satu asatidz Madin. Doa-doa tulus dipanjatkan untuk keselamatan umat, keberkahan ilmu bagi para santri, serta kelancaran tugas bagi para mahasiswa KKM. Suasana haru sempat memecahkan ruangan saat semua yang hadir memimpin kepala dalam kepasrahan yang sama. Peringatan Isra Mi'raj di Madrasah Diniyah ini meninggalkan kesan mendalam bagi Kelompok 22. Membawa semangat baru, menyadari bahwa pengabdian masyarakat adalah bentuk "perjalanan" kecil mereka untuk menebar manfaat. Melalui peringatan ini, Kelompok 22 berharap api semangat dari peristiwa Isra Mi'raj dapat terus menyala dalam setiap program kerja yang mereka jalankan. Bahwa setiap langkah kaki menuju kebaikan, sekecil apa pun itu, adalah bagian dari perjalanan menuju derajat yang lebih mulia di sisi Allah SWT.
RENO FERDIAN R.R.A
https://www.kompasiana.com/kkmwirasenabadra3911/69770c94ed64150a9e7c6a45/the-journey-of-kkm-wirasenabadra-menapaki-kaki-langit-desa-taji-sebuah-perjalanan-profilisasi-dan-harapan
DEWI INDAH SULISTYAWATI
Kegiatan belajar mengajar menjadi salah satu bentuk pengabdian yang kami lakukan selama menjalani Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Dalam kesempatan ini, kami, Kelompok 91 KKM Reguler Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, turut terlibat langsung dalam kegiatan belajar mengajar di MI Roudlotul Nasyi’in. Kegiatan ini dilaksanakan dengan mendampingi proses pembelajaran siswa kelas 1 hingga kelas 6. Kami membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran, membimbing siswa saat mengerjakan tugas, serta menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan. Sebagai mahasiswa, pengalaman terjun langsung ke ruang kelas memberikan pembelajaran yang tidak kami dapatkan di bangku perkuliahan. Kami belajar bagaimana menghadapi karakter siswa yang beragam, mengelola kelas, serta menyesuaikan metode pembelajaran agar mudah dipahami oleh anak-anak. Selama proses belajar mengajar berlangsung, siswa terlihat antusias dan aktif berinteraksi. Kehadiran mahasiswa di kelas memberikan suasana baru yang membuat siswa lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Interaksi sederhana, seperti berdiskusi dan bermain sambil belajar, menjadi momen yang berkesan. Melalui kegiatan ini, kami menyadari bahwa peran pendidik bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga tentang membangun kedekatan, memberikan motivasi, serta menjadi teladan bagi peserta didik. Kegiatan belajar mengajar ini menjadi pengalaman berharga yang memperkuat makna pengabdian bagi kami sebagai mahasiswa KKM. Kami berharap keterlibatan kami dalam kegiatan belajar mengajar di MI Roudlotul Nasyi’in dapat memberikan manfaat bagi siswa dan sekolah. Bagi kami, pengalaman ini menjadi bekal penting dalam memahami dunia pendidikan sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial.
ANNISA PRIMA DINATA
Edukasi pengelolaan sampah diselenggarakan oleh Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 84 UIN Malang di dua sekolah dasar di Kecamatan Dampit. Kegiatan pertama dilaksanakan di SDN 002 Dampit pada Rabu (14/01/26), sedangkan kegiatan kedua digelar di SDN 003 Dampit pada Sabtu (24/01/26). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang benar serta menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan sejak dini. Dalam edukasi ini, siswa diperkenalkan dengan jenis-jenis sampah, yaitu sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3), beserta contoh-contohnya. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM mengajak siswa untuk melakukan praktik langsung memilah sampah. Tiga tempat sampah disediakan sesuai dengan kategori sampah organik, anorganik, dan B3, sehingga siswa dapat secara langsung berpikir dan menentukan jenis sampah yang harus dibuang ke tempat yang tepat. Metode praktik ini dipilih agar siswa lebih mudah memahami materi dan terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan dan aktif saat praktik memilah sampah. Pihak sekolah memberikan respon positif serta mengapresiasi kegiatan ini karena dinilai mampu membentuk sikap peduli lingkungan dan melatih tanggung jawab siswa terhadap kebersihan sekolah. Melalui kegiatan edukasi pengelolaan sampah ini, KKM Kelompok 84 UIN Malang berharap siswa dapat menerapkan kebiasaan memilah sampah dengan benar, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah, sehingga tercipta lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. https://www.kompasiana.com/afiyahhakim2360/698aa404ed64153d0b167ee2/tumbuhkan-kepedulian-lingkungan-sejak-dini-kkm-kelompok-84-uin-malang-gelar-edukasi-pengelolaan-sampah-di-dampit?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile
FITHROTIN AFIYAH
Edukasi peningkatan kemampuan bercerita diselenggarakan oleh Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 84 UIN Malang bekerja sama dengan komunitas Ruang Cerita dari mahasiswa UIN Malang jurusan Psikologi. Kegiatan ini dilaksanakan di dua sekolah dasar di Kecamatan Dampit, yakni di SDN 002 Dampit pada Selasa (27/01/26) dan di SDN 003 Dampit pada Sabtu (31/01/26). Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, serta daya imajinasi siswa sejak dini melalui metode belajar yang menyenangkan. Edukasi bercerita dipilih sebagai sarana untuk mendorong anak agar berani mengungkapkan ide, perasaan, dan pengalaman mereka secara lisan. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM dan tim Ruang Cerita menggunakan media permainan ular tangga sebagai alat bantu pembelajaran. Cara bermain dilakukan seperti permainan pada umumnya, di mana setiap siswa mengocok dadu dan melangkah menuju angka terakhir. Namun, pada kotak tertentu yang telah diberi tanda, siswa diwajibkan mengambil kartu berisi pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dirancang untuk merangsang imajinasi dan mendorong siswa bercerita sesuai dengan tema yang tertera pada kartu. Para siswa tampak antusias mengikuti permainan dan berani menyampaikan cerita di depan teman-temannya. Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan penuh keceriaan. Pihak sekolah memberikan respon positif serta mengapresiasi metode pembelajaran kreatif yang dinilai mampu meningkatkan keberanian dan kemampuan berbicara siswa. Melalui edukasi ini, KKM Kelompok 84 UIN Malang berharap siswa dapat semakin percaya diri dalam bercerita, mampu mengekspresikan diri dengan baik, serta memiliki keterampilan komunikasi yang bermanfaat bagi perkembangan akademik dan sosial mereka. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Asah Kepercayaan Diri dan Imajinasi Anak, KKM Kelompok 84 UIN Malang Gelar Edukasi Peningkatan Kemampuan Bercerita di Dampit", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/afiyahhakim2360/698aa723c925c435e96505c2/asah-kepercayaan-diri-dan-imajinasi-anak-kkm-kelompok-84-uin-malang-gelar-edukasi-peningkatan-kemampuan-bercerita-di-dampit?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile Kreator: Fithrotin Afiyah
HILWA IZZATI WAFA
Mengajar dengan Hati di SDN 4 Sukomulyo Selama menjalani KKM di Desa Sukomulyo, Dusun Gumul, Kecamatan Pujon, Malang, ada satu tempat yang selalu membuatku merasa hangat setiap pagi: SDN 4 Sukomulyo. Sekolah sederhana yang berdiri di tengah suasana desa yang sejuk itu menjadi ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagiku. Aku datang sebagai mahasiswa KKM yang ingin mengabdi, tetapi justru pulang membawa begitu banyak pelajaran kehidupan. Langkah Pertama di Gerbang Sekolah Hari pertama masuk kelas, aku merasakan campuran rasa gugup dan antusias. Berdiri di depan siswa-siswi SD bukan hal yang mudah. Tatapan polos mereka membuatku sadar bahwa apa yang aku sampaikan akan mereka dengarkan dengan sungguh-sungguh. Aku mendapat kesempatan mengajar beberapa kelas, salah satunya kelas 3 untuk mata pelajaran Matematika. Materi bangun datar yang awalnya terlihat sederhana ternyata membutuhkan kreativitas agar mudah dipahami. Aku mencoba tidak hanya menjelaskan lewat papan tulis. Kami menggambar bersama, mencari bentuk persegi dan segitiga di sekitar kelas, bahkan bermain kuis kecil. Ketika mereka mulai tertawa dan berani mengangkat tangan, aku tahu suasana belajar mulai terasa menyenangkan. Belajar Memahami Setiap Karakter Setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Ada yang aktif dan selalu ingin menjawab. Ada yang pendiam namun sebenarnya sangat memperhatikan. Ada yang mudah terdistraksi dan perlu diajak bicara secara personal. Awalnya aku sempat kewalahan. Tapi pelan-pelan aku belajar untuk tidak menyamaratakan cara mengajar. Aku belajar bahwa kesabaran adalah kunci. Mengulang penjelasan bukan tanda kegagalan, tetapi bentuk kepedulian. Di situlah aku benar-benar memahami bahwa menjadi pendidik bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi tentang membangun kedekatan dan rasa aman bagi siswa. Program Adiwiyata: Menanamkan Cinta Lingkungan Selain mengajar di kelas, aku juga terlibat dalam program Adiwiyata di SDN 4 Sukomulyo. Bersama siswa-siswi, kami belajar tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Kami mengajak mereka memilah sampah, menjaga kebersihan kelas, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya ternyata menjadi pembelajaran karakter yang besar. Melihat mereka mulai sadar dan saling mengingatkan temannya untuk menjaga kebersihan menjadi momen yang sangat membahagiakan bagiku. Momen-Momen Sederhana yang Berarti Ada satu hal yang selalu aku ingat: setelah jam pelajaran selesai, beberapa siswa sering mendekat hanya untuk bercerita. Tentang keluarga mereka, tentang cita-cita, bahkan tentang hal-hal kecil yang mereka alami di rumah. Di Dusun Gumul yang tenang itu, aku menyadari bahwa pendidikan bukan hanya terjadi di dalam buku, tetapi dalam percakapan sederhana dan perhatian kecil. Sekolah ini mungkin tidak memiliki fasilitas selengkap sekolah di kota besar, tetapi semangat belajar anak-anaknya luar biasa. Mereka datang dengan wajah cerah dan rasa ingin tahu yang tinggi. Dan itu sudah lebih dari cukup. Refleksi Pribadi Mengajar di SDN 4 Sukomulyo membuatku belajar banyak tentang diriku sendiri. Aku belajar mengelola emosi. Aku belajar berbicara dengan lebih sabar. Aku belajar bahwa perubahan tidak harus besar untuk menjadi bermakna. KKM ini memang hanya berlangsung selama 40 hari, tetapi pengalaman di SDN 4 Sukomulyo akan selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupku. Di Desa Sukomulyo, Dusun Gumul, Kecamatan Pujon, aku menemukan bahwa pengabdian bukan sekadar program kerja. Ia adalah tentang kehadiran, ketulusan, dan kemauan untuk tumbuh bersama. Dan jika suatu hari nanti aku benar-benar berdiri sebagai seorang pendidik, aku ingin selalu mengingat kelas kecil di SDN 4 Sukomulyo, tempat di mana aku pertama kali belajar mengajar dengan hati.