SITI UMRAH LAMOWA
Kegiatan pengajaran Bahasa Arab menjadi salah satu program Pendidikan yang dilaksanakan oleh KKM 81 Abhinaya Bhakti selama masa pengabdian di Desa Ngadilangkung. Program ini dilaksanakan di dua Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), yaitu TPQ Khoirun Najwa dan TPQ Darul Muttaqin, sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembelajaran keagamaan bagi anak-anak. Pengajaran Bahasa Arab di TPQ Khoirun Najwa dilaksanakan secara rutin setiap hari Rabu dan Jumat. Kegiatan ini diikuti oleh santri TPQ dengan antusias, terutama karena materi yang disampaiakn menggunakan metode yang mudah dipahami dan sederhana seperti bernyanyi dan menggunakan flash card. Hal ini diupayakan oleh mahasiswa KKM untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar santri lebih mudah memahami kosakata dasar Bahasa Arab. Sementara itu, pengajaran Bahasa Arab di TPQ Darul Muttaqin dilaksanakan setiap hari Selasa dan Kamis. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM mendampingi santri dalam pelafalan Bahasa Arab yang benar. Kegiatan ini juga dikombinasikan dengan latihan membaca dan pengulangan bersama untuk mrningkatkan pemahaman santri. Metode pengajaran yang dipakai juga sama dengan menggunakan lagu dan flash card, serta memberikan hadiah berupa snack sebagai bentuk apresiasi kepada santri yang telah berani menjawab soal pertanyaan. Melalui kegiatan pengajaran ini, KKM 81 Abhinaya Bhakti berharap dapat membantu meningkatkan minat belajar santri terhadap Bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk berperan aktif dalam dunia Pendidikan keagamaan di lingkungan masyarakat desa. Program pengajaran Bahasa Arab di dua TPQ ini mendapat respon positif dari pengurus TPQ dan para santri. Keharidan mahasiswa KKM dinilai mampu memberikan warna baru dalam proses pembelajaran serta mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat, khususnya dalam bidang Pendidikan dan keagamaan.
MUHAMMAD DIMAS MAULANA
Kediri, 11 Januari 2026 - Pagi yang cerah di Desa Klampisan, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri, menjelma menjadi ruang belajar terbuka yang sarat semangat dan kebersamaan. Mahasiswa KKM 109 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghadirkan kegiatan unggulan berupa pelatihan pembuatan pupuk kompos, sebuah program yang selaras dengan tema besar KKM 109, yakni ekoteologi---pandangan bahwa merawat bumi merupakan bagian dari nilai ibadah sekaligus tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Kegiatan diawali dengan senam pagi bersama yang diikuti oleh ibu-ibu Desa Klampisan serta beberapa pengurus Pondok Bahrul Ulum Klampisan. Gerak yang serempak, tawa yang mengalir, dan suasana penuh keakraban menjadi pembuka yang hangat. Senam pagi tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas penyegar tubuh, tetapi juga menjadi simbol awal kebersamaan antara mahasiswa dan masyarakat. Usai senam, peserta disuguhi hidangan sederhana berupa buah-buahan segar dan kolak kacang hijau. Sajian ini menjadi pelengkap suasana santai, menghadirkan ruang interaksi yang cair dan penuh kehangatan. Obrolan ringan yang terjalin secara alami semakin mempererat hubungan antara mahasiswa KKM 109 dan warga Desa Klampisan. Memasuki agenda utama, pelatihan pembuatan pupuk kompos dipandu oleh Muhammad Dimas Maulana, yang menyampaikan materi dengan gaya komunikatif dan mudah dipahami. Peserta diajak mengenal konsep dasar kompos, manfaatnya bagi kesuburan tanah dan lingkungan, hingga praktik langsung mengolah limbah organik rumah tangga menjadi pupuk yang bernilai guna. Antusiasme peserta terlihat jelas dari keterlibatan aktif, banyaknya pertanyaan, serta semangat mencoba di setiap tahapan pelatihan. Pelatihan ini menjadi bukti bahwa program unggulan KKM 109 tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan. Melalui pendekatan ekoteologi, mahasiswa mengajak masyarakat untuk memaknai pengelolaan sampah dan pelestarian alam sebagai bentuk amanah moral dan spiritual yang harus dijaga bersama. Rangkaian acara berlangsung meriah dari awal hingga akhir. Wajah-wajah antusias dan semangat belajar para peserta menjadi gambaran keberhasilan kegiatan ini. Harapannya, pelatihan pupuk kompos dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi Desa Klampisan, khususnya dalam mengelola limbah organik secara bijak dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Dari senam pagi hingga praktik pengomposan, KKM 109 UIN Malang menghadirkan pengabdian yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga inspiratif---menegaskan bahwa merawat bumi sejatinya adalah bagian dari merawat kehidupan itu sendiri.
ANNISA KHOIROMZUL FAUZIYAH
Poncokusumo, Kabupaten Malang — Rabu, 23 Desember 2025, Balai Desa Poncokusumo dipenuhi suasana hangat dan penuh harapan. Sebanyak 15 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang secara resmi membuka kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) sebagai tanda dimulainya masa pengabdian mereka di tengah masyarakat desa. Desa Poncokusumo terletak di kawasan kaki Gunung Bromo dan dikenal sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Malang. Keindahan alam pegunungan, udara sejuk, hamparan kebun jeruk, serta berbagai destinasi wisata alam menjadi kekuatan utama desa ini. Secara pembangunan, Poncokusumo tergolong desa yang maju dan aktif, dengan masyarakat yang terbuka terhadap perubahan dan kolaborasi. Namun demikian, potensi besar tersebut masih menyimpan tantangan, terutama dalam pengembangan dan pemasaran UMKM lokal agar mampu bersaing dan dikenal lebih luas. Mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok 28 dengan nama tim LASKARA terdiri dari 6 mahasiswa laki-laki dan 9 mahasiswa perempuan. Selama kurang lebih 40 hari , mereka akan berbaur, belajar, dan bekerja bersama masyarakat Desa Poncokusumo melalui berbagai program kerja berbentuk pengabdian yang disusun dan direncanakan. Pembukaan KKM dilaksanakan di Balai Desa Poncokusumo dan dihadiri oleh perangkat desa, termasuk Kepala Dusun yang akrab disapa Pak Yudi, dosen pembimbing lapangan (DPL) Bapak Achmad Busiri, M.Pd.I., perwakilan masyarakat, serta seluruh mahasiswa peserta KKM. Acara berlangsung dengan tertib dan penuh keakraban, mencerminkan semangat kebersamaan sejak hari pertama. Dalam sambutannya, pihak desa menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus harapan agar kehadiran mahasiswa KKM dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Program-program yang akan dijalankan diharapkan mampu mendukung potensi desa, baik dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, kesehatan, kebersihan lingkungan, maupun pemberdayaan UMKM dan desa wisata. Bagi mahasiswa, KKM bukan sekadar pelaksanaan kewajiban akademik, tetapi juga ruang belajar yang nyata tentang kehidupan bermasyarakat. Dari Desa Poncokusumo, mereka belajar tentang empati, kerja sama, dan makna pengabdian. Dengan dibukanya secara resmi kegiatan KKM ini, Kelompok KKM 28 ini memulai perjalanan pengabdian dengan harapan dapat meninggalkan manfaat dan kesan positif yang berkelanjutan bagi masyarakat desa.
RAIHANA NUR FADHILA
KKM Kelompok 177 mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang hadir di Desa Sukomulyo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat. Selama masa pengabdian, mahasiswa tidak hanya datang membawa program, tetapi juga berusaha menyatu dengan kehidupan warga, mendengar, memahami, dan bergerak bersama untuk menjawab kebutuhan yang ada di tengah masyarakat. Berangkat dari semangat pemberdayaan, KKM Kelompok 177 merancang berbagai program kerja yang berorientasi pada kemajuan sosial, pendidikan, dan keagamaan masyarakat Desa Sukomulyo. Salah satu program unggulan yang menjadi fokus utama adalah edukasi mengenai permasalahan pernikahan dini, yang masih menjadi isu sensitif namun penting untuk dibahas. Edukasi ini disampaikan dengan pendekatan persuasif dan edukatif, menekankan dampak pernikahan dini dari berbagai aspek, seperti kesehatan reproduksi, kesiapan mental dan emosional, pendidikan, serta masa depan ekonomi keluarga. Melalui diskusi dan penyampaian materi yang sederhana, masyarakat diajak untuk memahami bahwa pernikahan bukan sekadar kesiapan usia, tetapi juga kesiapan mental, pengetahuan, dan tanggung jawab. Program ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif agar masyarakat lebih bijak dalam mengambil keputusan terkait pernikahan. Selain itu, KKM Kelompok 177 juga memberikan edukasi mengenai parenting orang tua. Program ini dilaksanakan melalui dua kali kegiatan sosialisasi yang berkolaborasi dengan Posyandu serta dilanjutkan dengan pemberian pemahaman kepada wali murid TPQ Al-Qodar. Melalui kegiatan ini, para orang tua diajak untuk memahami peran penting keluarga dalam tumbuh kembang anak, baik dari aspek emosional, pendidikan, maupun pembentukan karakter. Edukasi parenting ini memberikan manfaat nyata, di antaranya meningkatnya kesadaran orang tua tentang pola asuh yang lebih positif, komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak, serta pentingnya pendampingan belajar dan ibadah sejak usia dini. Di bidang pendidikan, KKM Kelompok 177 turut aktif mendukung program yang berkolaborasi dengan sekolah. Mahasiswa terlibat dalam kegiatan Adiwiyata sebagai upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Selain itu, mahasiswa juga berperan langsung dalam kegiatan mengajar di sekolah, membuka bimbingan belajar (bimbel) bagi siswa, serta menciptakan ruang pengembangan diri bagi anak-anak dan remaja dengan menggali bakat terpendam. Melalui pelatihan menyanyi, menjadi MC, menari, hingga desain poster, anak-anak Desa Sukomulyo diberi kesempatan untuk mengenali potensi diri, meningkatkan rasa percaya diri, dan menyalurkan kreativitas secara positif. Tidak hanya berhenti di ranah pendidikan formal, KKM Kelompok 177 juga aktif dalam program keagamaan desa. Mahasiswa bekerja sama dengan empat TPQ untuk membantu kegiatan mengajar, mulai dari membaca Al-Qur’an, hafalan doa, hingga pembinaan akhlak. Kehadiran mahasiswa di TPQ memberikan tambahan tenaga pengajar sekaligus menghadirkan suasana belajar yang lebih variatif dan menyenangkan bagi santri. Salah satu program keagamaan yang menjadi perhatian khusus adalah peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Dalam kegiatan ini, KKM Kelompok 177 berkontribusi dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga pendampingan acara. Mahasiswa membantu penyusunan rangkaian acara, mendampingi anak-anak dalam penampilan keagamaan, serta menyampaikan pesan-pesan hikmah Isra’ Mi’raj dengan bahasa yang mudah dipahami. Dampak dari kegiatan ini tidak hanya terlihat dari kelancaran acara, tetapi juga dari meningkatnya antusiasme masyarakat, terutama anak-anak, dalam mengikuti kegiatan keagamaan serta memahami nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Selain program-program tersebut, program kemasyarakatan menjadi bagian penting dari pengabdian KKM Kelompok 177. Mahasiswa aktif membaur dengan masyarakat melalui keterlibatan dalam kegiatan gotong royong, kerja bakti lingkungan, menghadiri kegiatan sosial warga, serta membantu berbagai aktivitas desa sesuai kebutuhan. Interaksi sehari-hari dengan masyarakat, baik dalam kegiatan formal maupun nonformal, mempererat hubungan emosional antara mahasiswa dan warga. Kehadiran mahasiswa tidak hanya dirasakan sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra dan keluarga baru bagi masyarakat Desa Sukomulyo. Melalui pembauran ini, tercipta rasa kebersamaan, kepercayaan, dan solidaritas sosial yang kuat. Mahasiswa memperoleh pembelajaran langsung tentang nilai gotong royong dan kearifan lokal, sementara masyarakat merasakan manfaat dari kehadiran mahasiswa yang siap membantu dan berkontribusi. Program kemasyarakatan ini menjadi fondasi penting bagi keberhasilan seluruh program KKM yang dijalankan. Secara keseluruhan, KKM Kelompok 177 tidak hanya menghadirkan program kerja, tetapi juga berupaya meninggalkan jejak kebermanfaatan. Setiap kegiatan dirancang untuk memberi dampak berkelanjutan, baik dalam peningkatan pengetahuan, perubahan sikap, maupun penguatan nilai-nilai sosial dan keagamaan. Pengabdian ini menjadi proses belajar bersama, di mana mahasiswa dan masyarakat tumbuh berdampingan, saling menguatkan, dan bergerak menuju Desa Sukomulyo yang lebih berdaya.
AZZAHVA QESMEA DANY
Mahasiswa KKN 43 Pradipta UIN Malang melaksanakan kegiatan pembuatan rocket stove di Desa Gading Kembar, Kecamatan Jabung, pada hari Sabtu, 25 Januari 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang berfokus pada pemanfaatan teknologi sederhana, hemat energi, dan ramah lingkungan. Rocket stove merupakan kompor alternatif yang dirancang untuk menghasilkan panas lebih efisien dengan penggunaan bahan bakar yang minimal. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperkenalkan konsep dasar rocket stove kepada masyarakat, mulai dari fungsi, cara kerja, hingga proses pembuatannya dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Pembuatan rocket stove dilakukan secara langsung dan partisipatif. Mahasiswa KKN mengajak masyarakat untuk terlibat dalam setiap tahap, mulai dari perakitan hingga uji coba penggunaan. Pendekatan ini bertujuan agar warga tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu membuat serta mengaplikasikan rocket stove secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan mendapat respons positif dari masyarakat. Antusiasme terlihat dari keaktifan warga dalam mengikuti proses pembuatan dan diskusi mengenai manfaat rocket stove sebagai alternatif alat memasak yang lebih efisien dan minim asap. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendorong penerapan teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat. Rocket stove diharapkan dapat menjadi solusi sederhana dalam menghemat energi sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib tanpa hambatan berarti. Lebih dari sekadar praktik pembuatan alat, kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa KKN 43 Pradipta UIN Malang dalam membangun kesadaran energi ramah lingkungan di tingkat desa.
DAVIQ EL JALALUDIN RUMI
Kediri, 25 Desember 2025- Aneh terdengar di telinga bagaimana bisa hubungan terjalin dengan memasang paving, itulah yang mahasiswa KKM 109 lakukan di hari kedua kedatangan. Mahasiswa KKM 109 UIN Malang turut serta dalam kegiatan tersebut untuk membantu meringankan pekerjaan dan sekaligus menjalin keakraban dengan warga sekitar. Pemasangan paving menjadi salah satu bentuk nyata kebutuhan masyarakat yang mampu terserap dan direalisasikan dengan baik oleh pemerintah desa setempat. Besar harapan dengan adanya kegiatan ini hubungan mahasiswa KKM 109 dengan masyarakat dapat terjalin dengan baik dan harmonis. Dengan terjalinya hubungan baik dan harmonis menjadi salah satu modal awal mahasiswa agar mampu memberi dampak nyata implementasi ilmu pengetahuan dan keterampilan guna mewujudkan KKM Berdampak dan Bergerak Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Upaya Bonding Lewat Pasang Paving?", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/pradipanawasenakkm1096405/694e2269c925c43dc3048a42/upaya-bonding-lewat-pasang-paving?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Desktop Kreator: Pradipa Nawasenakkm109 Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com