Thumbnail
3 months ago
Kajian Ba'da Shubuh & Magrib: "Hidup adalah perubahan"

REISKA INDAH AYU WULANDARI

“Hidup adalah Perubahan" Suasana Kajian Ba’da Subuh Kajian pertama dilaksanakan ba’da Sholat Subuh berjamaah. Jamaah hadir sejak dini hari, memenuhi shaf dengan penuh ketenangan. Setelah sholat, Ustadz Kasuwi menyampaikan kajian dengan tema: “Hidup adalah Perubahan” Beliau menekankan bahwa kehidupan manusia tidak pernah statis. Setiap hari adalah proses berubah baik menuju kebaikan atau sebaliknya tergantung bagaimana seseorang menyikapi waktu, ujian, dan hidayah dari Allah SWT. Ustadz mengingatkan bahwa Islam hadir sebagai pedoman agar perubahan hidup selalu mengarah kepada ketaatan, bukan sekadar mengikuti arus zaman. Kajian Ba’da Maghrib Kajian kedua dilaksanakan ba’da Sholat Maghrib berjamaah. Pada sesi ini, Ustadz kembali menguatkan pesan bahwa perubahan sejati dimulai dari hati dan niat. Beliau mengingatkan sabda Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”(HR. Muslim) Perubahan hidup tidak selalu terlihat dari luar, namun Allah menilai dari kesungguhan hati dan amal yang dilakukan.

Thumbnail
3 months ago
Mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 103 Gelar Seminar Parenting untuk Warga Desa Turirejo

YOGA ARDIANSAH

Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 103 menggelar kegiatan seminar parenting bagi warga Desa Turirejo pada Senin, 26 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya memberikan edukasi kepada orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak di lingkungan keluarga. Seminar parenting tersebut diikuti oleh warga Desa Turirejo dengan antusias. Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKM menyampaikan pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter anak, membangun komunikasi yang baik dalam keluarga, serta menciptakan lingkungan rumah yang aman dan nyaman bagi anak. Melalui seminar ini, warga diajak untuk memahami bahwa pola asuh yang tepat memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sikap, perilaku, dan kepribadian anak. Selain itu, seminar parenting juga menjadi ruang diskusi bagi para orang tua untuk berbagi pengalaman serta tantangan dalam mendidik anak di era modern. Kegiatan seminar parenting ini merupakan bagian dari program kerja mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 103 yang berfokus pada penguatan peran keluarga dalam pendidikan. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan orang tua di Desa Turirejo dapat semakin sadar akan pentingnya keterlibatan aktif dalam proses tumbuh kembang anak. Melalui kolaborasi antara mahasiswa KKM dan masyarakat desa, seminar parenting ini diharapkan mampu memberikan manfaat nyata serta menjadi langkah awal dalam membangun keluarga yang harmonis dan berdaya di Desa Turirejo.

Thumbnail
3 months ago

M. AKBAR

Thumbnail
3 months ago
Pembukaan KKM Kelompok 21 di Masjid Asy-Syuhada

DICKY SHOHIBUL FALAH ALFAJAR

Pembukaan KKM Kelompok 21 di Masjid Asy-Syuhada: Menguatkan Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat Kegiatan pembukaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 21 resmi dilaksanakan di Masjid Asy-Syuhada sebagai langkah awal dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Acara ini dihadiri oleh pengurus masjid, tokoh masyarakat, serta seluruh anggota KKM Kelompok 21 yang akan menjalankan program pengabdian selama periode KKM berlangsung. Pembukaan KKM ini menjadi momentum penting dalam membangun komunikasi awal antara mahasiswa dan masyarakat setempat. Bertempat di lingkungan masjid yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial warga, kegiatan berlangsung dengan suasana khidmat namun penuh kehangatan. Masjid Asy-Syuhada dipilih sebagai lokasi pembukaan karena perannya yang strategis sebagai ruang berkumpul dan pusat interaksi masyarakat. Dalam rangkaian acara, perwakilan mahasiswa KKM Kelompok 21 menyampaikan maksud dan tujuan pelaksanaan KKM, sekaligus memperkenalkan seluruh anggota kelompok kepada masyarakat. Mahasiswa menegaskan komitmen mereka untuk berkontribusi secara aktif, tidak hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra masyarakat yang siap belajar dan berkolaborasi. Penyerahan simbolis dari pihak kampus kepada pengurus masjid menjadi tanda diterimanya mahasiswa KKM Kelompok 21 secara resmi oleh masyarakat. Tokoh masyarakat dan pengurus Masjid Asy-Syuhada dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa KKM. Mereka berharap program-program yang dirancang dapat memberikan manfaat nyata, terutama dalam penguatan kegiatan keagamaan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, masyarakat juga menaruh harapan agar mahasiswa mampu menjaga etika, sopan santun, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman selama berada di lingkungan desa. Kegiatan pembukaan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi ruang awal untuk membangun kesepahaman bersama. Diskusi singkat antara mahasiswa dan tokoh masyarakat membuka peluang sinergi dalam merancang program yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan program KKM yang berkelanjutan dan berdampak positif. Melalui pembukaan KKM Kelompok 21 di Masjid Asy-Syuhada, mahasiswa secara resmi memulai perjalanan pengabdian yang menuntut tanggung jawab, kedisiplinan, dan empati sosial. Kegiatan ini menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan harmonis antara mahasiswa dan masyarakat. Harapannya, kehadiran mahasiswa KKM tidak hanya meninggalkan jejak program, tetapi juga nilai kebersamaan, gotong royong, dan kebermanfaatan yang dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas.

Thumbnail
3 months ago
Serunya Sosialisasi Gemar Menabung bareng Siswa MI Darul Ulum, Bersama KKM Cakrasena 160 UIN Malang.

MOHAMMAD RIEFKY DIMAS ARDIFANSYAH

Pendidikan finansial seringkali dianggap sebagai materi yang berat dan membosankan, padahal menanamkan kebiasaan mengelola uang sejak dini adalah kunci kesejahteraan di masa depan. Berangkat dari kesadaran inilah, kami dari KKM Cakrasena Kelompok 160 berinisiatif menggelar acara edukatif bertajuk "Sosialisasi Menabung". Target audiens kami kali ini adalah siswa-siswi kelas 5 dan 6 MI Darul Ulum, Desa Simpang. Mengapa kelas besar? Karena di usia inilah mereka mulai memiliki kontrol lebih besar terhadap uang saku mereka sendiri, sehingga momennya sangat pas untuk diajarkan cara mengelolanya dengan bijak. Acara yang berlangsung pada hari cerah ini dimulai tepat pukul 07.00 WIB. Bertempat di Ruang Kelas 6 yang biasanya tenang mendadak riuh oleh semangat puluhan siswa yang telah berkumpul. Sebagai pembuka yang menghormati tuan rumah, acara diawali dengan sambutan hangat dari Kepala Sekolah MI Darul Ulum, Ibu Kholifah. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada mahasiswa KKM. Beliau menekankan betapa pentingnya ilmu ini bagi anak-anak didiknya, agar mereka tidak hanya pandai secara akademik, tetapi juga cerdas dalam mengatur keuangan pribadi sejak kecil.       Setelah sambutan resmi, kendali acara diambil alih oleh moderator andalan kami, Kak Guntur. Dengan gaya bicaranya yang luwes dan penuh energi, Kak Guntur menyapa seluruh peserta dengan salam semangat yang langsung membakar suasana. Tidak butuh waktu lama bagi Kak Guntur untuk memecahkan kebekuan, sapaan-sapaan akrabnya membuat adik-adik yang awalnya duduk malu-malu menjadi lebih santai dan siap menerima materi. Sebelum masuk ke sesi yang lebih serius, kami menyempatkan diri untuk melakukan sesi dokumentasi foto bersama. Mumpung wajah-wajah peserta masih segar dan seragam masih rapi, kami mengabadikan momen kebersamaan ini. Senyum lebar dan pose ceria dari adik-adik kelas 5 dan 6 menjadi bukti antusiasme mereka menyambut "kakak-kakak mahasiswa" yang hari ini beralih fungsi menjadi mentor keuangan mereka. Sesi inti pun dimulai. Materi sosialisasi disampaikan oleh pemateri kami, Kak Wildan, yang membawakan presentasi visual bertema "Warna-Warni Mengenal Uang". Kak Wildan mengawali penjelasannya dengan mengenalkan kembali bentuk fisik uang yang beredar di Indonesia, mulai dari uang logam recehan hingga uang kertas dengan berbagai nominal. Meski terlihat sepele, pemahaman dasar ini penting agar mereka menghargai setiap keping uang yang mereka miliki, sekecil apa pun nilainya.       Masuk ke inti materi, Kak Wildan menjelaskan definisi menabung dengan bahasa yang sangat sederhana namun ngena. Menabung, menurut penjelasan Kak Wildan, adalah aktivitas menyisihkan uang yang kita punya, alias tidak menghabiskan semua uang jajan dalam satu waktu. Konsep "menyisihkan" ini ditekankan berulang kali agar adik-adik paham bahwa menabung itu dilakukan di awal saat menerima uang, bukan menunggu sisa uang di akhir hari yang seringkali sudah ludes tak bersisa. Kak Wildan juga memperkenalkan berbagai wadah atau tempat menabung yang bisa dipilih. Mulai dari cara tradisional menggunakan celengan ayam di rumah, menabung di bank yang lebih aman, hingga pengenalan teknologi finansial modern seperti E-Wallet. Penjelasan ini membuka wawasan mereka bahwa menabung di era digital ini semakin mudah dan variatif, menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang mereka alami.       Salah satu poin paling krusial yang disampaikan adalah membedakan antara "Kebutuhan" dan "Keinginan". Kak Wildan menjelaskan dengan gamblang bahwa kebutuhan adalah hal yang wajib dipenuhi karena sifatnya mendesak, seperti untuk peralatan sekolah, makanan, hingga untuk rencana masa depan mereka. Sementara itu, keinginan adalah hal yang pemenuhannya bisa ditunda setelah kebutuhan utama beres, seperti mainan atau jajan berlebih. Memahami beda keduanya adalah pondasi utama agar mereka tidak terjebak perilaku boros. Agar materi tidak sekadar teori, Kak Wildan memberikan simulasi hitung-hitungan yang membuat mata peserta terbelalak. Dengan asumsi uang saku Rp10.000 per hari, Kak Wildan mengajak mereka berhitung: Rp3.000 untuk jajan sekolah, Rp2.000 untuk infaq, Rp2.000 untuk jajan sore, dan sisanya Rp3.000 wajib dimasukkan ke celengan. Kalkulasi sederhana ini membuktikan bahwa dengan menyisihkan Rp3.000 saja setiap hari, dalam seminggu mereka bisa mengumpulkan Rp21.000. Lebih mencengangkan lagi ketika hitungan ditarik ke skala bulanan. Kak Wildan menunjukkan slide yang memperlihatkan bahwa Rp3.000 dikali 30 hari bisa menghasilkan Rp90.000!. Angka yang cukup fantastis bagi anak SD, bukan? Di sinilah Kak Wildan menyisipkan pepatah populer, "Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit". Pesan moral ini seolah menancap kuat di benak mereka, bahwa konsistensi recehan bisa berubah menjadi jutaan jika dilakukan dengan tekun.   Melihat fokus peserta yang mulai agak menurun karena banyaknya angka, duo Kak Guntur dan Kak Wildan langsung berkolaborasi menggelar sesi ice breaking. Game kecil-kecilan yang melatih konsentrasi dimainkan dengan seru. Gelak tawa pecah memenuhi ruangan ketika ada peserta yang salah gerakan atau terlambat merespons instruksi. Sesi permainan ini sukses mengembalikan energi dan keceriaan, membuat suasana belajar menjadi cair kembali tanpa rasa bosan. Keseruan berlanjut ke sesi tanya jawab. Antusiasme peserta ternyata di luar dugaan; banyak tangan teracung ingin bertanya atau sekadar berbagi cerita tentang pengalaman mereka menabung (atau pengalaman uang celengannya yang sering "dipinjam" orang tua, hehe). Interaksi dua arah ini membuat sosialisasi terasa hidup. Kak Wildan dan Kak Guntur dengan sabar menjawab setiap pertanyaan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan diselingi candaan. Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, menandakan berakhirnya durasi acara kami. Kak Guntur selaku moderator kembali mengambil alih mikrofon untuk menutup acara. Ia menyampaikan rangkuman singkat dan pesan pamungkas agar ilmu yang didapat hari ini langsung dipraktikkan sepulang sekolah nanti. Acara sosialisasi ini ditutup dengan perasaan puas dan lega. Melihat binar mata adik-adik kelas 5 dan 6 MI Darul Ulum yang kini tampak lebih paham cara menghargai uang, kami optimis. Harapan kami sederhana, semoga dari langkah kecil menyisihkan uang saku mereka per hari ini, lahir generasi-generasi cerdas finansial yang mampu mengelola masa depan mereka dengan gemilang. Yuk, mulai menabung dari sekarang!

Thumbnail
3 months ago
Misteri ,sepeda hilang di sumber jenon

MUHAMMAD FAIZ KHOIRUZEN

Misteri "Sepeda Hilang" di Sumber Jenon         Kelompok KKN 96 Swarganala baru-baru ini mengangkat kembali sebuah kisah lokal yang cukup menggetarkan warga di Kecamatan Tajinan. Cerita ini berpusat pada sebuah kejadian di tahun 2020 yang hingga kini masih sering dibicarakan sebagai bagian dari sisi mistis Sumber Jenon.        Kronologi Kejadian Kejadian bermula saat seorang warga berniat melakukan tradisi syukuran dengan memandikan sepeda barunya di sana—sebuah bentuk ritual keselamatan yang umum dilakukan masyarakat setempat. Namun, nahas, sepeda tersebut terperosok ke area mata air bagian timur yang memiliki kedalaman sekitar 14 meter.         Upaya penyelamatan pun dilakukan dengan bantuan warga sekitar menggunakan tali. Namun, hal aneh terjadi: setiap kali ditarik, tali tersebut selalu putus. Setelah berkali-kali mencoba tanpa hasil, sepeda itu raib seolah "ditelan" oleh sumber air dan tidak pernah ditemukan hingga detik ini.          Meski menyimpan kisah mistis yang membuat kita lebih waspada, Sumber Jenon tetaplah permata tersembunyi di Malang yang memiliki banyak sisi positif: Kejernihan Air yang Alami: Sumber Jenon dikenal memiliki air berwarna biru kehijauan yang sangat jernih dan segar, langsung dari mata air purba.           Destinasi Wisata Relaksasi: Tempat ini adalah lokasi sempurna untuk melepas penat. Suasananya yang rimbun dan tenang memberikan efek terapi bagi para pengunjung.            Kearifan Lokal yang Terjaga: Cerita mistis ini sebenarnya mencerminkan betapa masyarakat sangat menjaga dan menghormati alam. Hal ini membuat Sumber Jenon tetap terjaga keasriannya karena pengunjung diingatkan untuk selalu bersikap sopan.           Ikan Dewa yang Ikonik: Di sini, pengunjung bisa melihat ikan-ikan penghuni sumber yang dianggap keramat, menambah daya tarik edukasi budaya bagi wisatawan.           Pesan Moral: Kisah yang dihimpun KKN 96 ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik keindahan alam yang memukau, ada kekuatan alam dan kearifan lokal yang patut kita hargai