Thumbnail
8 months ago
Pengumuman Juara Gema Isra’ Mi’raj Warnai Perpisahan KKM 81 Abhinaya Bhakti di SDN 2 Ngadilangkung

MADILA AZIZATU MUDAWAMAH

KKM 81 Abhinaya Bhakti melaksanakan kegiatan pengumuman pemenang lomba dan pembagian hadiah Gema Isra’ Mi’raj pada Senin, 26 Januari 2026 di SDN 2 Ngadilangkung. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian Gema Isra’ Mi’raj yang sebelumnya telah dilaksankaan, sekaligus menjadi momen kebersamaan antara mahasiswa KKM, siswa dan siswi, serta bapak dan ibu guru. Pengumuman pemenang lomba disampaikan oleh Alva Solla Nabia, salah satu anggota KKM 81 Abhinaya Bhakti. Satu per satu pemenang dari lomba adzan, puisi, pildacil, mewarnai, hingga fashion show diumumkan di hadapan seluruh siswa. Suasana penuh antusias dan kegembiraan terlihat saat nama-nama pemenang dipanggil. Hadiah lomba diserahkan langsung oleh bapak dan ibu guru yang menjadi juri pada masing-masing lomba, sebagai bentuk apresiasi atas usaha dan keberanian siswa dalam mengikuti kegiatan Gema Isra’ Mi’raj. Penyerahan hadiah ini menjadi simbol dukungan kepada siswa terhadap pengembangan dan krativitas mereka. Selain pengumuman lomba, kegiatan ini juga menjadi momen perpisahan antara KKM 81 Abhinaya Bhakti dengan warga SDN 2 Ngadilangkung. Mahasiswa KKM menyampaikan rasa terimakasih atas sambutan hangat dan kerja sama selama pelaksanaan progam pengabdian di sekolah yang diwakilkan oleh ketua kelompok KKM 81 yaitu saudara Amar Ma’ruf Irsyad Muttaqin. Kegiatan ditutup dengan suasana haru dan penuh keakraban, mahasiswa KKM 81 Abhinaya Bhakti mendapatkan sebuah kenang-kenangan berupa pembacaan puisi oleh beberapa siswa SDN 2 Ngadilangkung. KKM 81 Abhinaya Bhakti berharap kebersamaan yang terjalin selama masa pengabdian dapat menjadi kenangan baik serta memberikan manfaat bagi siswa dna seluruh warga sekolah. 

Thumbnail
8 months ago
Menggerakkan Potensi Lokal: KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh dengan Pendekatan ABCD

IMAAD AQIL

Pembangunan desa selama ini masih sering dipahami dari sudut pandang kekurangan. Desa kerap digambarkan sebagai wilayah dengan fasilitas terbatas, sumber daya manusia yang belum optimal, serta keterbatasan akses terhadap program pemberdayaan dan peluang ekonomi. Cara pandang tersebut secara tidak langsung menempatkan desa sebagai objek pembangunan yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Akibatnya, potensi yang sebenarnya telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat sering kali luput dari perhatian. Padahal, setiap desa memiliki kekuatan lokal yang lahir dari aktivitas warganya sehari-hari, hubungan sosial yang terjalin, lembaga-lembaga komunitas yang terus berjalan, serta berbagai bentuk usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri. Potensi tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk fasilitas fisik yang besar, melainkan tersimpan dalam keterampilan warga, kebiasaan gotong royong, semangat belajar anak-anak, kepedulian keluarga terhadap kesehatan, serta kreativitas pelaku usaha lokal. Apabila potensi ini dikenali, dipetakan, dan dikembangkan secara bersama, desa memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk membangun kesejahteraan warganya secara berkelanjutan. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, memperlihatkan bahwa pembangunan berbasis potensi lokal dapat diwujudkan melalui pendekatan yang tepat. Melalui kerangka Asset Based Community Development (ABCD) yang dikembangkan oleh LP2M, mahasiswa hadir bukan untuk membawa program siap pakai, melainkan memfasilitasi proses pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki desa. Pendekatan ABCD memandang masyarakat sebagai pemilik utama sumber daya dan pengetahuan lokal. Dalam praktiknya, mahasiswa KKM berperan sebagai mitra dan fasilitator yang membantu warga menggali potensi, menghubungkan antar kelompok masyarakat, serta mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor desa. Proses ini diawali dengan pengenalan kondisi desa, interaksi langsung dengan warga, diskusi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, pengelola lembaga pendidikan, kader posyandu, pemuda Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Melalui dialog dan keterlibatan langsung, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Desa Sengguruh memiliki banyak aset sosial, pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi yang dapat saling mendukung apabila dikelola secara terpadu. *Pendidikan Anak dan TPQ sebagai Aset Sosial yang Hidup* Salah satu aset penting yang dimiliki Desa Sengguruh adalah keberadaan lembaga pendidikan formal dan nonformal yang aktif dan mendapatkan dukungan masyarakat. Kegiatan asistensi mengajar yang dilaksanakan di SDN Sengguruh menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan kepercayaan diri anak-anak. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan praktik sederhana yang melibatkan siswa secara langsung. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan, berani bertanya, serta aktif menyampaikan pendapat. Respons positif ini menunjukkan bahwa minat belajar dan rasa ingin tahu anak-anak di Desa Sengguruh merupakan aset sosial yang sangat berharga. Selain di sekolah, kegiatan pendampingan juga dilaksanakan di TPQ Nurul Huda. TPQ berperan sebagai ruang pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan sikap disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab. Anak-anak mengikuti kegiatan mengaji dengan penuh semangat, sementara mahasiswa membantu dalam penguatan bacaan, hafalan, serta penyampaian nilai-nilai akhlak sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keberadaan SDN Sengguruh dan TPQ Nurul Huda memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan di desa tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara pembelajaran, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial anak-anak dan orang tua. Sekolah dan TPQ menjadi titik temu antara pendidik, keluarga, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak desa, lembaga pendidikan ini berpotensi menjadi pusat pengembangan generasi muda yang kreatif, berkarakter, religius, dan adaptif terhadap perubahan. *Posyandu dan Edukasi Keluarga sebagai Aset Kesehatan yang Efektif* Di bidang kesehatan, Desa Sengguruh memiliki jaringan posyandu yang aktif dan didukung oleh kader-kader yang berperan langsung dalam pelayanan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan posyandu selama empat hari menunjukkan tingginya partisipasi warga, khususnya ibu-ibu yang membawa balita untuk melakukan penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, serta konsultasi kesehatan. Selain pelayanan rutin, mahasiswa KKM turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi kesehatan dan edukasi parenting. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang mendukung perkembangan anak, pencegahan penyakit ringan di lingkungan keluarga, serta peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan emosional anak. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima. Posyandu di Desa Sengguruh tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan dasar, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi keluarga. Interaksi antara kader, mahasiswa, dan warga membentuk proses pertukaran pengetahuan yang sederhana namun bermakna. Melalui pendekatan ABCD, keberadaan kader posyandu, PKK, serta jaringan ibu-ibu desa dipandang sebagai aset sosial yang mampu menyebarluaskan informasi kesehatan secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah ada, edukasi kesehatan tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dapat diteruskan melalui pertemuan rutin, kegiatan PKK, dan interaksi informal antarwarga. Dampaknya dirasakan langsung oleh unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sebagai fondasi utama pembangunan kualitas sumber daya manusia desa. *UMKM Lokal dan Penguatan Ekonomi Desa* Desa Sengguruh memiliki potensi ekonomi lokal yang cukup beragam. Beberapa UMKM telah berjalan secara mandiri, seperti usaha batik, produksi keripik tempe, dan pembuatan sepatu. Usaha-usaha ini menunjukkan kemampuan warga dalam mengelola keterampilan, bahan lokal, dan jaringan pemasaran sederhana. Namun, salah satu aset ekonomi sekaligus budaya yang paling menonjol adalah Rumah Topeng Desa Sengguruh. Rumah Topeng tidak hanya berperan sebagai tempat produksi topeng tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya desa yang merepresentasikan nilai seni, sejarah, dan kearifan lokal. Keberadaan Rumah Topeng menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar desa, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Mahasiswa KKM mendampingi pengelola UMKM, khususnya Rumah Topeng, melalui kegiatan penataan ruang produksi, perbaikan tampilan visual, serta diskusi mengenai strategi promosi sederhana. Pendampingan ini menekankan bahwa penguatan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari perbaikan tata ruang, dokumentasi produk yang lebih menarik, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Melalui proses tersebut, pengelola UMKM memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya tampilan produk, cerita di balik produk lokal, serta potensi pasar yang dapat dijangkau secara lebih luas. Dengan dukungan berbasis aset dan kreativitas lokal, UMKM di Desa Sengguruh memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. *Kohesi Sosial dan Balai Desa sebagai Pusat Aktivitas Masyarakat* Selain aset pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Desa Sengguruh juga memiliki kekuatan sosial yang tercermin melalui aktivitas pemuda dan keberfungsian balai desa. Kegiatan kerja bakti yang melibatkan pemuda Karang Taruna menjadi contoh nyata semangat gotong royong yang masih terjaga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang interaksi antarwarga lintas usia. Pemuda desa menunjukkan peran aktif dalam mendukung berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Keterlibatan mereka menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan program desa, sekaligus sebagai calon penggerak pembangunan desa di masa depan. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi berbagai kegiatan masyarakat. Berbagai program KKM, seperti sosialisasi kesehatan, pertemuan UMKM, diskusi bersama perangkat desa, hingga kegiatan komunitas pemuda, dilaksanakan di balai desa. Keberadaan balai desa sebagai ruang publik memungkinkan terbangunnya komunikasi yang terbuka, partisipasi warga, serta proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif. Pemanfaatan balai desa dan jejaring sosial yang telah terbentuk membuat setiap kegiatan saling terhubung dan berjalan lebih efektif. Rasa memiliki terhadap program desa pun semakin kuat, sehingga ketergantungan terhadap bantuan eksternal dapat secara perlahan dikurangi. *ABCD sebagai Kerangka Pemberdayaan Desa* Pendekatan ABCD dari LP2M menjadi landasan utama bagi KKM Reguler Kelompok 82 dalam merancang seluruh kegiatan di Desa Sengguruh. Fokus utama pendekatan ini adalah mengidentifikasi dan mengoptimalkan aset yang sudah ada, baik berupa aset individu, kelompok, lembaga, maupun fasilitas desa. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antar aset agar dapat saling mendukung. Edukasi parenting di posyandu dapat dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran karakter di sekolah dan TPQ. Promosi UMKM dan Rumah Topeng dapat terintegrasi dengan pemanfaatan balai desa sebagai pusat informasi dan ruang pamer. Kegiatan kerja bakti dan peran pemuda Karang Taruna memperkuat kohesi sosial yang menjadi landasan keberlanjutan program-program tersebut. Melalui integrasi ini, masyarakat mulai melihat bahwa setiap kelompok dan lembaga di desa memiliki peran yang saling melengkapi. Desa Sengguruh tidak lagi diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek pembangunan yang memiliki kapasitas untuk menentukan arah, prioritas, dan bentuk pengembangan desanya sendiri. *Penutup* Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan berangkat dari kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengelola, dan merawat potensi yang telah dimiliki. Desa Sengguruh membuktikan bahwa aset manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan dapat saling terhubung untuk menghasilkan perubahan yang nyata. Anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, ibu-ibu yang semakin peduli terhadap kesehatan keluarga, UMKM kreatif terutama Rumah Topeng sebagai ikon budaya desa, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial, serta balai desa yang berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, menjadi fondasi penting bagi masa depan Desa Sengguruh yang mandiri dan berdaya. Pembangunan desa tidak lagi semata-mata dipahami sebagai upaya memperbaiki kekurangan, tetapi sebagai proses menggerakkan, menghubungkan, dan mengembangkan kekuatan lokal agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan mahasiswa KKM, Desa Sengguruh memiliki modal sosial yang kuat untuk melanjutkan praktik pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Thumbnail
8 months ago
Pembukaan kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa

ILHAM DANIELLAH KAMAL

Malang – Kegiatan Pembukaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang resmi dilaksanakan pada Senin, 29 Desember 2026. Acara ini berlangsung di Dusun Cukal, Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Pembukaan kegiatan KKM ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Bendosari, Sri Hari Kartini, S.E., beserta perangkat desa dan masyarakat setempat. Kehadiran mahasiswa KKM disambut hangat sebagai bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam pembangunan desa, khususnya pada bidang pendidikan. Penandatanganan berita acara serah terima mahasiswa KKM Ganesha 178 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Adapun anggota Kelompok KKM Ganesha 178 yang terdiri dari 11 orang. Anggota kelompok tersebut yaitu Achmad Nurif Al Akmal, Ahmad Zainal Arifin, Afiyah Mubarokah, Azzah Maulidiah, Dendy Tegar Syahputra, Elga Imtiyaz Zakiyatun Nisa, Ilham Daniellah Kamal, M. Devid Isa Indana, M. Fahrizal Maulana, dan M. Farhan Pradana. Dalam sambutannya, Kepala Desa Bendosari Sri Hari Kartini, S.E. menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa KKM UIN Malang. Ia berharap program yang dijalankan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Dusun Cukal, terutama dalam mendukung kemajuan pendidikan anak-anak dan generasi muda. Sementara itu, Kelompok KKM Ganesha 178 menyampaikan bahwa fokus utama program kerja yang akan dilaksanakan adalah bidang pendidikan. Program-program tersebut dirancang untuk membantu masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, melalui kegiatan belajar, bimbingan pendidikan, serta berbagai aktivitas yang mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di lingkungan desa. Dengan terlaksananya pembukaan KKM ini, diharapkan kegiatan mahasiswa selama berada di Dusun Cukal dapat berjalan lancar serta mampu memberikan kontribusi positif bagi perkembangan masyarakat Desa Bendosari.

Thumbnail
8 months ago
Menembus Rimba Meru Betiri: Menyalakan Lilin Mimpi di SMPN 3 Pesanggaran Satu Atap

ARIEF ZAKARIYA SUKMA

Dusun Sukamade, yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi, sering kali hanya dikenal sebagai surga bagi konservasi penyu. Namun, di balik keindahan alamnya yang eksotis, tersimpan realitas pendidikan yang penuh dengan perjuangan fisik dan mental. Di wilayah ini, sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan sebuah benteng pertahanan bagi masa depan anak-anak yang terkepung oleh tantangan geografis. ​Pada Senin, 5 Januari 2026, tim Kuliah Kerja Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang hadir di SMPN 3 Pesanggaran Satu Atap. Kehadiran mereka membawa misi khusus: menyalakan kembali semangat belajar siswa melalui sosialisasi lanjut studi serta edukasi mengenai pencegahan kenakalan remaja dan perundungan (bullying). Rombongan mahasiswa tiba dan disambut langsung oleh Kepala Sekolah, Bapak Supiyanto, atau yang akrab disapa Pak Pi, tepat pukul 08.00 WIB. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan tersebut menjadi ruang bagi Pak Pi untuk mencurahkan kegelisahannya mengenai kondisi pendidikan di Sukamade. ​Beliau menyampaikan apresiasi yang mendalam atas inisiatif para mahasiswa. Bagi Pak Pi, kehadiran sosok-sosok terpelajar dari luar wilayah sangat dibutuhkan sebagai suntikan motivasi bagi para siswa yang selama ini merasa terisolasi dari dunia luar. Pak Pi bahkan berharap agar program seperti ini dapat berlangsung dalam durasi yang lebih lama agar pengaruh positifnya lebih tertanam kuat pada karakter anak didik mereka. Berdasarkan diskusi mendalam dan pengamatan di lapangan, terungkap bahwa rendahnya angka partisipasi pendidikan menengah di Sukamade dipicu oleh tumpukan masalah yang saling mengunci satu sama lain. ​Pertama adalah persoalan paradigma sosial. Banyak orang tua di Dusun Sukamade merasa bahwa pendidikan tingkat SMP sudah lebih dari cukup. Anak-anak dianggap sudah cukup dewasa untuk mulai membantu ekonomi keluarga, baik dengan bekerja di perkebunan maupun membantu pekerjaan rumah tangga. Lingkungan sosial yang homogen membuat cita-cita untuk kuliah atau bekerja di sektor profesional terasa sangat asing dan sulit dicapai. ​Kedua adalah tantangan geografis yang ekstrem. Alam Sukamade yang indah bisa menjadi penghalang utama saat musim hujan tiba. Tidak adanya jembatan permanen membuat siswa harus menyeberangi sungai untuk mencapai sekolah. Jika hujan deras mengguyur pada malam hari, air sungai akan meluap dan praktis memutus akses pendidikan. Hal ini terbukti saat kegiatan berlangsung dari total 27 siswa, hanya 17 yang bisa hadir, sementara 10 lainnya terjebak di seberang sungai yang banjir. ​Ketiga adalah kendala infrastruktur dan jarak. Ketiadaan sekolah menengah atas (SMA/SMK) di dalam Dusun Sukamade memaksa lulusan SMP untuk menempuh perjalanan ke Desa Sarongan. Jarak 10 kilometer mungkin terdengar pendek, namun medan yang dilalui adalah jalan berbatu tajam di tengah hutan yang memakan waktu tempuh hampir tiga jam. Kondisi ini membuat banyak orang tua merasa berat hati membiarkan anak-anak mereka, terutama anak perempuan, menempuh risiko keamanan di perjalanan setiap harinya. Di tengah suasana ruang kelas yang sederhana, mahasiswa KKM berupaya memecah kebuntuan tersebut. Materi sosialisasi disampaikan dengan pendekatan dialogis agar siswa merasa nyaman untuk bercerita. ​Dalam sesi Motivasi Lanjut Studi, mahasiswa berbagi kisah nyata tentang perjuangan mereka menembus perguruan tinggi. Mereka menekankan bahwa latar belakang daerah bukan penghalang untuk meraih beasiswa dan kesuksesan. Tujuannya jelas: membuka cakrawala berpikir siswa bahwa pendidikan adalah "eskalator sosial" yang dapat mengubah nasib keluarga mereka. ​Sementara itu, pada sesi Pencegahan Kenakalan Remaja, penekanan diberikan pada pentingnya menjaga kesehatan mental dan lingkungan sekolah yang suportif. Mahasiswa memberikan pemahaman mendalam mengenai dampak buruk bullying, baik bagi korban maupun pelaku, guna memastikan bahwa sekolah tetap menjadi tempat yang aman meskipun fasilitasnya terbatas. Kegiatan ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di daerah terpencil seperti Sukamade tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu cara. Dibutuhkan sinergi antara pembangunan akses fisik, dukungan kebijakan, serta perubahan pola pikir masyarakat. ​Meski kehadiran mahasiswa KKM bersifat sementara, jejak dialog dan motivasi yang ditinggalkan diharapkan mampu menjadi "suluh" bagi siswa SMPN 3 Pesanggaran Satu Atap. Sebagaimana pesan salah satu mahasiswa di akhir sesi, pendidikan mungkin tidak langsung merubah dunia, tapi pendidikan pasti merubah cara seseorang memandang dunia dan masa depannya sendiri.

Thumbnail
8 months ago
proker pembantu UMKM untuk mendaftar G maps dan inovasi digital serta pemberdayaan kualitas UMKM

ARYA BAGUS SETIAWAN

Di desa jambersari terutama di dusun pabrikan kami mengsurvey UMKM yang ada di dusun tersebut, lalu kami list di daftar untuk di rapatkan dan di cari solusi atau pun merencanakan bantuan apapun yang dapat mengembangkan UMKM. Di mulai dari UMKM yang belum berdigital dalam pemberdayaanya, di situ kami bantu dengan membuatkan Qris untuk menginovasikan UMKM yang belum ber inovasi dalam digitalisasi. Adapun untuk UMKM yang pemberdayaanya agak lemah dari penampilanya, di situ kita juga bantu untuk membuatkan baner bagi UMKM yang kami pikir membutuhkan baner tersebut lalu juga pembuatan daftar menu untuk UMKM yang membutuhkan daftar menu juga. Adapun pendaftaran Gmaps pada seluruh UMKM yang belum terdaftar pada Gmaps agar membantu UMKM tersebut lebih di kenal dan gampang di cari oleh banyakan orang.

Thumbnail
8 months ago
Menapak Jejak: Pengenalan dan Penerimaan KKM 109 di Desa Klampisan

AHMAD WAFI MAULANA

Kediri, 29 Desember menjadi hari bersejarah bagi KKM 109 Pradipa Nawasena untuk memulai jejak pengabdian di Desa Klampisan. Pada hari ini kegiatan KKM 109 resmi dibuka secara simbolis dengan agenda utama untuk memperkenalkan para mahasiswa dengan dengan perangkat desa sekaligus menyampaikan berbagai program kerja yang akan dilaksanakan.  Kegiatan pengenalan dan penerimaan terlaksana dengan khidmat dan penuh rasa kebersamaan. Ketua KKM 109 Larasati Nur Aisyah menyampaikan bahwa kegiatan yang diberikan menjadi bagian dari wujud aktif mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan belajar untuk hidup bermasayarakat. Hal ini menjadi pemantik sekaligus penggugah semangat bahwa esensi mahasiswa sejatinya adalah menjadi insan pengabdi dan pelayan bagi masyarakat Tidak sampai disitu, Kepala Desa Klampisan Bapak Muhammad Fajri juga menyampaikan kalimat pembuka sekaligus motivasi bagi KKM 109 bahwa segala bentuk pengabdian yang dilakukan niatkanlah sebagai ibadah dengan penuh keikhlasan. Mengingat tiadak ada perbuatan yang lebih tinggi kedudukannya selain dilandasi dengan keikhlasan  Pada momen ini, kelompok KKM 109 dengan segenap perangkat desa juga turut berkenalan sebagai upaya untuk menjalin keakraban dan membangun komunikasi aktif guna mendukung kelancaran kegiatan KKM.  Pada akhirnya pemasangan lanyard dan penyerahan vest menjadi agenda penutup sekaligus pembukaan secara simbolis kegiatan KKM 109. Semoga dengan adanya pembukaan ini menjadi langkah awal dan pendongrak semangat bagi seluruh elemen agar terlibat secara aktif dalam menyukseskan kegiatan KKM UIN Malang 2025.