NAYARA ANANDA AGUSTIN
Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat oleh Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 190 Darmabakysa dilaksanakan di SDN 01 Nglebeng dalam kurun waktu 5 Januari 2026 sampai dengan 29 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung proses pendidikan di sekolah dasar melalui program-program edukatif yang disesuaikan dengan kebutuhan dan jenjang kelas siswa. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menumbuhkan sikap saling menghargai antar siswa, meningkatkan kemampuan literasi dasar, serta membekali siswa dengan pemahaman awal mengenai pemanfaatan teknologi digital secara bijak. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa mampu membangun karakter positif, meningkatkan minat belajar, serta memiliki kesiapan menghadapi perkembangan teknologi sesuai dengan usia dan tingkat pendidikannya. Salah satu kegiatan utama yang dilaksanakan selama masa pengabdian adalah edukasi anti bullying yang diberikan kepada seluruh siswa. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap dampak negatif perundungan di lingkungan sekolah serta menanamkan nilai empati, toleransi, dan sikap saling menghormati. Materi disampaikan secara interaktif agar mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, mahasiswa KKM juga melaksanakan kegiatan literasi dasar melalui aktivitas membaca bersama dan diskusi sederhana yang melibatkan siswa dari berbagai jenjang kelas. Adapun kegiatan pemanfaatan teknologi digital dilaksanakan secara khusus untuk siswa kelas 5 dan 6, dengan memberikan pengenalan penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran, pemanfaatan perangkat digital secara positif, serta pemahaman dasar mengenai etika dan tanggung jawab dalam penggunaan teknologi digital. Seluruh rangkaian kegiatan pengabdian ini merupakan bagian dari program kerja Kuliah Kerja Mahasiswa Kelompok 190 Darmabakysa di bidang pendidikan. Melalui pelaksanaan kegiatan selama periode 5–29 Januari 2026 ini, mahasiswa KKM berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, literat, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi, khususnya bagi siswa SDN 01 Nglebeng.
AHNAF TSAQIF KUMARA MAHARDIKA
Pada Jumat, 26 Desember 2025, sebagai wujud nyata pengabdian dengan tema "Berdampak dan Bergerak", mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 96 menunjukkan komitmennya tak hanya melalui program utama yang terstruktur. Mereka memilih untuk terjun langsung ke jantung aktivitas ekonomi warga dengan menyambangi peternakan ayam di Dusun Klagen, Desa Tajinan. Di sana, mereka tak sekadar observasi, tetapi aktif membantu proses panen telur, sebuah kegiatan harian yang menjadi roda penggerak perekonomian beberapa keluarga setempat. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa esensi pengabdian masyarakat dapat diwujudkan melalui pendekatan yang sederhana namun langsung menyentuh kebutuhan riil. Dibandingkan hanya menyusun proposal atau memberikan penyuluhan teoritis, aksi langsung seperti ini justru membuka ruang interaksi yang lebih cair dan bermakna. Mahasiswa belajar bahwa pengabdian bukanlah tentang proyek besar, tetapi tentang kehadiran, ketulusan, dan kontribusi tenaga serta perhatian pada hal-hal yang dianggap rutin oleh warga, namun sebenarnya sangat vital bagi keberlangsungan hidup mereka. Antusiasme dan apresiasi pun datang dari pemilik usaha peternakan. Mereka menyambut dengan hangat kehadiran para mahasiswa KKM yang dengan sukarela menyempatkan waktu membantu kegiatan panen telur yang padat. Keterlibatan para pemuda-pemudi ini dinilai memberikan kontribusi positif yang nyata. Di satu sisi, kehadiran mereka meringankan beban kerja harian, mempercepat proses yang biasanya dikerjakan sendirian atau oleh tenaga terbatas. Di sisi lain, lebih dari itu, tindakan ini dirasakan sebagai wujud perhatian dan kepedulian yang tulus dari generasi muda terdidik terhadap mata pencaharian dan usaha mikro masyarakat desa, menumbuhkan rasa bahwa kegiatan mereka dihargai. Berbeda jauh dengan rutinitas kampus yang sarat teori, suasana di balik kandang ayam Dusun Klagen menawarkan kurikulum praktik yang tak ternilai harganya. Seluruh rangkaian kegiatan mereka lakukan dengan penuh semangat, tetap mengikuti arahan dan protokol dari pemilik usaha agar proses berjalan lancar dan sesuai standar. Pengalaman sensorik seperti suara, bau, dan tekstur menjadi bagian dari pembelajaran yang tak terlupakan. Partisipasi di hari Jumat itu manfaatnya melampaui sekadar bantuan tenaga fisik. Interaksi intens yang terjalin selama kegiatan berlangsung dari obrolan ringan, tanya jawab tentang peternakan, hingga canda tawa berhasil menciptakan dinamika komunikasi yang lebih baik dan alami. Dari situlah tumbuh rasa kebersamaan, kesetaraan, dan saling menghargai antara mahasiswa pendatang dengan warga lokal. Ini adalah fondasi sosial yang penting untuk membangun trust dan keberlanjutan hubungan. Jika dibandingkan dengan program pengabdian yang bersifat seremonial atau satu arah seperti seminar atau pemberian bantuan secara simbolis, pendekatan partisipatif dan langsung seperti ini memiliki keunggulan yang nyata. Metode "turun tangan" terbukti lebih efektif dalam menanamkan rasa saling percaya, karena menunjukkan kesediaan untuk merasakan, belajar, dan berkeringat bersama. Pendekatan ini meninggalkan kesan yang lebih dalam dan personal bagi kedua belah pihak. Melalui aksi-aksi nyata dan membumi seperti di Dusun Klagen ini, tema "Berdampak dan Bergerak" benar-benar menemukan napas dan wujudnya. Mahasiswa pulang membawa lebih dari sekadar laporan; mereka membawa memori, pelajaran hidup tentang kerja keras, ketelitian, dan nilai sebuah proses, serta hubungan manusiawi yang hangat. Dampak positif semacam inilah yang diharapkan terus bergulir, menciptakan ripple effect bagi pengabdian pengabdian berikutnya.
A YOGI RAMA PUTRA
SINGOSARI, MALANG -- Keselamatan berkendara menjadi perhatian serius oleh kawan-kawan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 90 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pada Minggu (01/02/2026), para mahasiswa bersama warga melakukan pemasangan kaca cembung (convex mirror) di salah satu titik paling rawan kecelakaan di Dusun Bodean Puthuk, Desa Toyomarto. Solusi untuk "Tikungan Buta" Pemasangan ini dipusatkan tepat di depan kediaman Bapak Kusnan. Lokasi tersebut dipilih bukan tanpa alasan, kondisi jalan yang memiliki tikungan sangat tajam menjadikannya blind spot yang sering memicu kecelakaan maupun insiden tidak terduga lainnya. "Jalan ini riskan sekali karena sudutnya tajam. Kaca cembung ini adalah salah satu barang fisik yang memang sangat dibutuhkan oleh warga di sini untuk meminimalisir risiko tersebut," ujar salah satu perwakilan mahasiswa KKM 90. Gotong Royong Lintas Generasi Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 hingga 11.30 WIB ini berlangsung lancar berkat kolaborasi erat antara mahasiswa laki-laki KKM 90 dengan tokoh masyarakat setempat. Turut hadir membantu di lapangan, Bapak Sutrisno selaku Kepala Dusun (Kasun), Bapak Kusnan selaku tokoh agama, serta Bapak Agus sebagai Ketua RW 04. Proses pengerjaan dilakukan secara manual dan kokoh. Tim menggali tanah sedalam 50 cm, memasang tiang besi, lalu memperkuat fondasinya dengan coran semen agar tahan lama. Dukungan Penuh Warga Keberadaan kaca cembung ini disambut antusias oleh warga. Mengingat jalan tersebut sering dilalui kendaraan besar seperti truk dan bus pariwisata terutama karena adanya usaha penyewaan bus pariwisata di sebelah posko, kaca ini menjadi alat bantu vital bagi pengemudi untuk melihat kendaraan dari arah berlawanan. "Warga sangat senang dengan adanya inisiatif ini. Sekarang sopir bus atau truk yang lewat jadi lebih tenang karena bisa melihat kondisi jalan di balik tikungan dengan jelas," ungkap Bapak Sutrisno. Dengan selesainya pemasangan ini, kelompok KKM 90 berharap fasilitas ini dapat dijaga bersama oleh warga setempat. Diharapkan, angka kecelakaan di Dusun Bodean Puthuk dapat ditekan, serta memberikan rasa aman bagi setiap pengguna jalan yang melintas.
VIDIA ALIPVIANA
Partisipasi Kelompok Ranasvara dalam Kegiatan Posyandu Desa Sumbersuko Sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kelompok Ranasvara turut terlibat dalam kegiatan Posyandu di Desa Sumbersuko. Dalam kegiatan ini, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) berperan aktif membantu pelaksanaan Posyandu bersama kader kesehatan dan tenaga terkait. Keterlibatan ini menjadi wujud kepedulian mahasiswa terhadap bidang kesehatan masyarakat di tingkat desa. Mahasiswa KKM membantu berbagai kegiatan Posyandu, mulai dari persiapan tempat, pendampingan warga, hingga membantu kelancaran jalannya pelayanan. Partisipasi ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat proses pelayanan kesehatan dasar serta peran penting Posyandu dalam mendukung kesehatan ibu dan anak. Pelaksanaan Posyandu di Desa Sumbersuko memiliki jadwal yang terbatas, yaitu dilaksanakan satu kali dalam satu bulan, biasanya pada tanggal 5. Apabila tanggal tersebut bertepatan dengan hari Minggu, maka kegiatan Posyandu dimajukan ke hari Senin. Meskipun tidak dilaksanakan secara rutin setiap minggu, kegiatan ini tetap menjadi agenda penting bagi masyarakat desa. Melalui keterlibatan dalam kegiatan Posyandu ini, kelompok Ranasvara berharap dapat membantu kelancaran pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya bagi ibu dan balita. Selain itu, kegiatan ini juga menambah wawasan serta pengalaman mahasiswa KKM mengenai pentingnya peran Posyandu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Desa Sumbersuko.
DIVA SOUMI ROMADHONA
Pembangunan desa selama ini masih sering dipahami dari sudut pandang kekurangan. Desa kerap digambarkan sebagai wilayah dengan fasilitas terbatas, sumber daya manusia yang belum optimal, serta keterbatasan akses terhadap program pemberdayaan dan peluang ekonomi. Cara pandang tersebut secara tidak langsung menempatkan desa sebagai objek pembangunan yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Akibatnya, potensi yang sebenarnya telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat sering kali luput dari perhatian. Padahal, setiap desa memiliki kekuatan lokal yang lahir dari aktivitas warganya sehari-hari, hubungan sosial yang terjalin, lembaga-lembaga komunitas yang terus berjalan, serta berbagai bentuk usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri. Potensi tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk fasilitas fisik yang besar, melainkan tersimpan dalam keterampilan warga, kebiasaan gotong royong, semangat belajar anak-anak, kepedulian keluarga terhadap kesehatan, serta kreativitas pelaku usaha lokal. Apabila potensi ini dikenali, dipetakan, dan dikembangkan secara bersama, desa memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk membangun kesejahteraan warganya secara berkelanjutan. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, memperlihatkan bahwa pembangunan berbasis potensi lokal dapat diwujudkan melalui pendekatan yang tepat. Melalui kerangka Asset Based Community Development (ABCD) yang dikembangkan oleh LP2M, mahasiswa hadir bukan untuk membawa program siap pakai, melainkan memfasilitasi proses pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki desa. Pendekatan ABCD memandang masyarakat sebagai pemilik utama sumber daya dan pengetahuan lokal. Dalam praktiknya, mahasiswa KKM berperan sebagai mitra dan fasilitator yang membantu warga menggali potensi, menghubungkan antar kelompok masyarakat, serta mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor desa. Proses ini diawali dengan pengenalan kondisi desa, interaksi langsung dengan warga, diskusi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, pengelola lembaga pendidikan, kader posyandu, pemuda Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Melalui dialog dan keterlibatan langsung, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Desa Sengguruh memiliki banyak aset sosial, pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi yang dapat saling mendukung apabila dikelola secara terpadu. *Pendidikan Anak dan TPQ sebagai Aset Sosial yang Hidup* Salah satu aset penting yang dimiliki Desa Sengguruh adalah keberadaan lembaga pendidikan formal dan nonformal yang aktif dan mendapatkan dukungan masyarakat. Kegiatan asistensi mengajar yang dilaksanakan di SDN Sengguruh menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan kepercayaan diri anak-anak. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan praktik sederhana yang melibatkan siswa secara langsung. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan, berani bertanya, serta aktif menyampaikan pendapat. Respons positif ini menunjukkan bahwa minat belajar dan rasa ingin tahu anak-anak di Desa Sengguruh merupakan aset sosial yang sangat berharga. Selain di sekolah, kegiatan pendampingan juga dilaksanakan di TPQ Nurul Huda. TPQ berperan sebagai ruang pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan sikap disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab. Anak-anak mengikuti kegiatan mengaji dengan penuh semangat, sementara mahasiswa membantu dalam penguatan bacaan, hafalan, serta penyampaian nilai-nilai akhlak sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keberadaan SDN Sengguruh dan TPQ Nurul Huda memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan di desa tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara pembelajaran, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial anak-anak dan orang tua. Sekolah dan TPQ menjadi titik temu antara pendidik, keluarga, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak desa, lembaga pendidikan ini berpotensi menjadi pusat pengembangan generasi muda yang kreatif, berkarakter, religius, dan adaptif terhadap perubahan. *Posyandu dan Edukasi Keluarga sebagai Aset Kesehatan yang Efektif* Di bidang kesehatan, Desa Sengguruh memiliki jaringan posyandu yang aktif dan didukung oleh kader-kader yang berperan langsung dalam pelayanan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan posyandu selama empat hari menunjukkan tingginya partisipasi warga, khususnya ibu-ibu yang membawa balita untuk melakukan penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, serta konsultasi kesehatan. Selain pelayanan rutin, mahasiswa KKM turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi kesehatan dan edukasi parenting. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang mendukung perkembangan anak, pencegahan penyakit ringan di lingkungan keluarga, serta peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan emosional anak. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima. Posyandu di Desa Sengguruh tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan dasar, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi keluarga. Interaksi antara kader, mahasiswa, dan warga membentuk proses pertukaran pengetahuan yang sederhana namun bermakna. Melalui pendekatan ABCD, keberadaan kader posyandu, PKK, serta jaringan ibu-ibu desa dipandang sebagai aset sosial yang mampu menyebarluaskan informasi kesehatan secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah ada, edukasi kesehatan tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dapat diteruskan melalui pertemuan rutin, kegiatan PKK, dan interaksi informal antarwarga. Dampaknya dirasakan langsung oleh unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sebagai fondasi utama pembangunan kualitas sumber daya manusia desa. UMKM Lokal dan Penguatan Ekonomi Desa Desa Sengguruh memiliki potensi ekonomi lokal yang cukup beragam. Beberapa UMKM telah berjalan secara mandiri, seperti usaha batik, produksi keripik tempe, dan pembuatan sepatu. Usaha-usaha ini menunjukkan kemampuan warga dalam mengelola keterampilan, bahan lokal, dan jaringan pemasaran sederhana. Namun, salah satu aset ekonomi sekaligus budaya yang paling menonjol adalah Rumah Topeng Desa Sengguruh. Rumah Topeng tidak hanya berperan sebagai tempat produksi topeng tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya desa yang merepresentasikan nilai seni, sejarah, dan kearifan lokal. Keberadaan Rumah Topeng menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar desa, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Mahasiswa KKM mendampingi pengelola UMKM, khususnya Rumah Topeng, melalui kegiatan penataan ruang produksi, perbaikan tampilan visual, serta diskusi mengenai strategi promosi sederhana. Pendampingan ini menekankan bahwa penguatan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari perbaikan tata ruang, dokumentasi produk yang lebih menarik, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Melalui proses tersebut, pengelola UMKM memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya tampilan produk, cerita di balik produk lokal, serta potensi pasar yang dapat dijangkau secara lebih luas. Dengan dukungan berbasis aset dan kreativitas lokal, UMKM di Desa Sengguruh memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Kohesi Sosial dan Balai Desa sebagai Pusat Aktivitas Masyarakat Selain aset pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Desa Sengguruh juga memiliki kekuatan sosial yang tercermin melalui aktivitas pemuda dan keberfungsian balai desa. Kegiatan kerja bakti yang melibatkan pemuda Karang Taruna menjadi contoh nyata semangat gotong royong yang masih terjaga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang interaksi antarwarga lintas usia. Pemuda desa menunjukkan peran aktif dalam mendukung berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Keterlibatan mereka menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan program desa, sekaligus sebagai calon penggerak pembangunan desa di masa depan. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi berbagai kegiatan masyarakat. Berbagai program KKM, seperti sosialisasi kesehatan, pertemuan UMKM, diskusi bersama perangkat desa, hingga kegiatan komunitas pemuda, dilaksanakan di balai desa. Keberadaan balai desa sebagai ruang publik memungkinkan terbangunnya komunikasi yang terbuka, partisipasi warga, serta proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif. Pemanfaatan balai desa dan jejaring sosial yang telah terbentuk membuat setiap kegiatan saling terhubung dan berjalan lebih efektif. Rasa memiliki terhadap program desa pun semakin kuat, sehingga ketergantungan terhadap bantuan eksternal dapat secara perlahan dikurangi. ABCD sebagai Kerangka Pemberdayaan Desa Pendekatan ABCD dari LP2M menjadi landasan utama bagi KKM Reguler Kelompok 82 dalam merancang seluruh kegiatan di Desa Sengguruh. Fokus utama pendekatan ini adalah mengidentifikasi dan mengoptimalkan aset yang sudah ada, baik berupa aset individu, kelompok, lembaga, maupun fasilitas desa. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antar aset agar dapat saling mendukung. Edukasi parenting di posyandu dapat dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran karakter di sekolah dan TPQ. Promosi UMKM dan Rumah Topeng dapat terintegrasi dengan pemanfaatan balai desa sebagai pusat informasi dan ruang pamer. Kegiatan kerja bakti dan peran pemuda Karang Taruna memperkuat kohesi sosial yang menjadi landasan keberlanjutan program-program tersebut. Melalui integrasi ini, masyarakat mulai melihat bahwa setiap kelompok dan lembaga di desa memiliki peran yang saling melengkapi. Desa Sengguruh tidak lagi diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek pembangunan yang memiliki kapasitas untuk menentukan arah, prioritas, dan bentuk pengembangan desanya sendiri. Penutup Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan berangkat dari kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengelola, dan merawat potensi yang telah dimiliki. Desa Sengguruh membuktikan bahwa aset manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan dapat saling terhubung untuk menghasilkan perubahan yang nyata. Anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, ibu-ibu yang semakin peduli terhadap kesehatan keluarga, UMKM kreatif terutama Rumah Topeng sebagai ikon budaya desa, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial, serta balai desa yang berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, menjadi fondasi penting bagi masa depan Desa Sengguruh yang mandiri dan berdaya. Pembangunan desa tidak lagi semata-mata dipahami sebagai upaya memperbaiki kekurangan, tetapi sebagai proses menggerakkan, menghubungkan, dan mengembangkan kekuatan lokal agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan mahasiswa KKM, Desa Sengguruh memiliki modal sosial yang kuat untuk melanjutkan praktik pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.