RIZKYA LARASHATI RAHMADHINI
Mahasiswa KKM Kelompok 30 Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan seminar bertema stunting dan parenting di Balai Desa Karanganyar, Poncokusumo. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 6 Januari 2026 yang dihadiri para kader posyandu dari seluruh pos posyandu di wilayah DesaKaranganyar. Mereka menjadi sasaran utama program karena memiliki peran strategis dalam edukasi kesehatan masyarakat. Mahasiswa KKM 30 berharap kegiatan ini dapat memperkuat pemahaman kader tentang pencegahan stunting dan pola asuh yang tepat. Selain itu, seminar ini dirancang untuk mendorong kolaborasi aktif antara akademisi dan masyarakat desa. Materi pertama seminar menghadirkan Ibu Inu Martina S.ST., M.Si, dosen keperawatan dari Universitas Kepanjen sebagai pemateri bidang kesehatan stunting. Beliau menyampaikan pentingnya memperhatikan asupan gizi sejak kehamilan hingga usia lima tahun. Para kader posyandu diajak memahami tanda-tanda risiko stunting agar dapat melakukan deteksi dini. Materi disampaikan secara komunikatif sehingga mudah dipahami oleh peserta. Kehadiran narasumber ahli ini semakin memperkuat keyakinan kader pada pentingnya penanganan masalah stunting. Dalam pemaparannya, Ibu Inu Martina menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan. Kondisi ini dapat berdampak pada kemampuan belajar anak dan perkembangan kecerdasan di masa depan. Ia menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai dari rumah melalui kebiasaan makan yang sehat dan terpantau. Posyandu diharapkan menjadi sarana utama memantau tumbuh kembang balita secara berkala. Penjelasan mendalam ini membuka wawasan baru bagi para kader yang hadir. Narasumber juga menyoroti peran ibu hamil sebagai sasaran penting edukasi posyandu. Menurutnya, status gizi calon ibu sangat menentukan kualitas pertumbuhan janin. Asupan nutrisi yang kurang dapat memicu risiko bayi lahir dengan kondisi rentan stunting. Karena itu, kader diharapkan aktif memberikan penyuluhan pada masyarakat, terutama melalui pemeriksaan rutin. Penguatan peran posyandu menjadi kunci dalam pencegahan dini stunting di desa. Selain materi stunting, seminar menghadirkan Dr. Hj. Rofiqoh, M.Pd., CHt, dosen Psikologi UIN Malang sebagai pemateri parenting. Beliau menjelaskan bahwa pola asuh yang tepat sangat berpengaruh pada perkembangan emosi dan mental anak. Parenting tidak hanya terkait kebutuhan fisik, tetapi juga melibatkan perhatian, komunikasi, dan kedekatan emosional. Dr. Rofiqoh memberikan contoh-contoh nyata tantangan pola asuh di lingkungan pedesaan. Materi disampaikan secara inspiratif dan interaktif agar mudah diikuti peserta. Dr. Rofiqoh mengajak kader memahami bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Anak yang mendapatkan pendampingan penuh sejak dini cenderung memiliki daya saing lebih tinggi ketika dewasa. Beliau juga menyoroti pentingnya mengurangi pola asuh keras dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih humanis. Parenting yang baik turut mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Peserta terlihat antusias menyimak materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam sesi diskusi, para kader posyandu aktif berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi di lapangan. Mereka menanyakan berbagai kondisi berbeda yang kerap terjadi pada balita dan keluarga binaan. Narasumber menjawab setiap pertanyaan dengan rinci dan memberikan panduan yang aplikatif. Suasana seminar menjadi sangat hidup karena interaksi dua arah berlangsung intensif. Mahasiswa KKM 30 turut mendampingi proses diskusi dan mencatat poin penting yang muncul. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari aparat pemerintah desa yang hadir. Kepala desa menyampaikan bahwa edukasi kesehatan seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat Karanganyar. Ia menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dilakukan serentak oleh semua elemen desa. Kehadiran narasumber profesional dan mahasiswa dianggap mampu memperluas wawasan kader. Pemerintah desa berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan di masa mendatang. Para mahasiswa KKM 30 mengaku bangga bisa berperan langsung dalam pemberdayaan masyarakat. Mereka memandang kegiatan ini sebagai bentuk penerapan ilmu di dunia nyata melalui pengabdian. Mahasiswa berharap kader posyandu dapat menjadi agen perubahan yang aktif di desa. Mereka juga berencana mendampingi kader secara berkelanjutan selama masa pengabdian. Program ini menjadi bagian dari komitmen mahasiswa mendukung perbaikan kualitas hidup masyarakat. Seminar ditutup dengan penyerahan sertifikat dan foto bersama seluruh peserta dan narasumber. Mahasiswa memberikan modul rangkuman materi agar kader dapat mengulangi dan menyebarkan informasi kepada warga. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal menciptakan Karanganyar bebas stunting. Sinergi mahasiswa, dosen ahli, kader posyandu, dan pemerintah desa menjadi kekuatan utama dalam perubahan ini. Dengan pengetahuan baru, kader semakin siap menjadi garda terdepan menjaga tumbuh kembang generasi muda desa.
NAZILATUL ILMIAH
https://drive.google.com/drive/folders/1L4IX-k8aQMSS1fdtwYV-I_Gqnl_-NR9I?usp=drive_link
MUHAMMAD RESTU AULIA
https://drive.google.com/drive/folders/1L4IX-k8aQMSS1fdtwYV-I_Gqnl_-NR9I?usp=drive_link
NUR ADILATUN NASHIHAH
Malang – Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai Gebyar Penutupan KKM Unggulan Halal Center UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 3 yang digelar di Perumahan Pondok Mutiara Asri (POMURI). Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian pengabdian mahasiswa selama melaksanakan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di lingkungan perumahan yang dikenal memiliki banyak pelaku UMKM rumahan tersebut. Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang menghadirkan suasana khidmat, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai bentuk penghormatan dan semangat kebangsaan. Momentum ini menjadi simbol sinergi antara nilai religiusitas dan nasionalisme dalam setiap program pengabdian yang dijalankan. Ketua Kelompok 3 dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh warga POMURI yang telah menerima mahasiswa dengan hangat serta berkolaborasi aktif dalam setiap program kerja, khususnya pendampingan sertifikasi halal bagi UMKM rumahan. “Kami hadir bukan hanya untuk menjalankan program akademik, tetapi juga untuk belajar bersama masyarakat dan tumbuh bersama,” ujarnya. Sambutan turut disampaikan oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ketua RW, serta Ketua Takmir Masjid Al Firdaus. Ketiganya memberikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa yang dinilai telah memberikan dampak nyata, terutama dalam penguatan ekosistem usaha halal dan pemberdayaan masyarakat berbasis masjid. Gebyar penutupan semakin semarak dengan berbagai penampilan dari lintas generasi. Anak-anak TPQ Masjid Al Firdaus menampilkan tari kreatif dan pertunjukan pantomim yang mengundang tepuk tangan meriah dari para hadirin. Remaja desa turut mempersembahkan tari khas Jawa Timur yang energik dan sarat nilai budaya lokal. Tak kalah memukau, ibu-ibu Majelis Hadrah Jidor Al Firdaus tampil membawakan lantunan shalawat yang menggugah suasana religius sekaligus mempererat ukhuwah antarwarga. Sebagai penampilan pamungkas, mahasiswa KKM mempersembahkan drama musikal yang mengisahkan perjalanan pengabdian mereka selama di POMURI—mulai dari pendampingan UMKM, pelatihan kreatif, hingga kebersamaan dengan anak-anak TPQ. Drama tersebut sukses menghadirkan tawa sekaligus haru di penghujung acara. Selain pentas seni, momen penting lainnya adalah pengumuman pemenang lomba kreasi anak yang sebelumnya telah digelar sebagai bagian dari program pemberdayaan. Tidak hanya itu, secara simbolis juga diumumkan capaian sertifikat halal bagi pelaku usaha yang telah berhasil lolos proses pendampingan, sebagai bentuk komitmen terhadap penguatan UMKM di lingkungan perumahan. Acara ditutup dengan penayangan video after movie KKM dalam format short film yang merangkum seluruh perjalanan pengabdian mahasiswa. Tayangan tersebut menjadi refleksi sekaligus kenangan manis atas kolaborasi yang telah terjalin antara mahasiswa dan masyarakat. Ketua RW POMURI menyampaikan harapannya agar silaturahmi tetap terjaga meski masa KKM telah berakhir. “Kami merasakan manfaat nyata dari kehadiran adik-adik mahasiswa, terutama bagi UMKM rumahan yang menjadi kekuatan ekonomi warga,” ungkapnya. Gebyar penutupan ini bukan sekadar seremoni akhir kegiatan, melainkan simbol keberhasilan kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kemandirian ekonomi, memperkuat nilai religius, serta menumbuhkan semangat kreativitas di tengah lingkungan perumahan yang produktif.
NADZIROTUL MASUDAH
Pandansari, 2 Januari 2026 Mengawali tahun baru dengan kegiatan bermanfaat, saya bersama Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 35 Pandareka UIN Maulana Malik Ibrahim mengadakan pelatihan public speaking bagi pelajar Desa Pandansari. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 2 Januari ini kami tujukan kepada para pelajar setempat sebagai upaya meningkatkan kemampuan komunikasi sekaligus daya kritis mereka. Inisiatif Kelompok KKM 35 Pandareka UIN Malang dalam menggelar pelatihan public speaking di Desa Pandansari menurut saya merupakan sebuah langkah cerdas dalam mendobrak stigma bahwa belajar bicara di depan umum itu membosankan. Alih-alih menggunakan metode ceramah konvensional, penerapan Focus Group Discussion (FGD) dan bedah studi kasus menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi yang baik sebenarnya berakar dari ketajaman nalar dan berpikir kritis. Saya melihat penggunaan kertas plano sebagai media diskusi kelompok kecil bukan sekadar alat bantu visual, melainkan strategi jitu untuk menciptakan "ruang aman" bagi pelajar setempat agar berani berpendapat tanpa merasa terintimidasi. Hal ini sangat krusial, karena para peserta tidak hanya diajarkan tentang teknis berbicara, tetapi juga dipaksa untuk membedah masalah organisasi dan berdiskusi di kelas secara sistematis sehingga pendapat yang dihasilkan memiliki isi dan solusi yang kuat. Dengan adanya sesi presentasi yang penuh antusiasme dan pemberian apresiasi bagi seluruh peserta, kegiatan ini bagi saya adalah investasi nyata dalam membangun rasa percaya diri pelajar agar tidak hanya piawai merangkai kata, tetapi juga tangguh dalam menghadapi tekanan serta tantangan organisasi di masa depan. Dari proses diskusi hingga sesi presentasi, terlihat bagaimana para pelajar mulai berani menyuarakan pendapat dan percaya pada kemampuan diri mereka sendiri. pengalaman ini menjadi bukti nyata bahwa ruang belajar yang aman dan nyaman mampu menumbuhkan rasa keberanian, penalaran kritis, serta rasa percaya diri yang tinggi. Harapannya, nilai-nilai yang tumbuh melalui kegiatan pelatihan public speaking ini dapat terus melekat dan menjadi bekal berharga bagi pelajar Desa Pandansari dalam menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang.
M MUCHTAR SYAFAAT
Menjadi siswa kelas VI Madrasah Ibtidaiyah bukanlah hal yang mudah. Di usia tersebut, anak-anak mulai dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari persiapan ujian, tuntutan belajar yang meningkat, hingga rasa takut gagal dan kurang percaya diri. Tidak jarang, tekanan tersebut membuat sebagian siswa merasa cemas dan ragu terhadap kemampuan dirinya sendiri. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKM UIN Malang 2026 Kelompok 120 Raksaka Dharma berupaya menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga mampu menguatkan mental dan semangat belajar siswa.