TEGAR BAGUS SANTOSO
Pada hari ini telah dilaksanakan kegiatan kunjungan edukatif ke Bhakti Alam yang diikuti oleh anak-anak KKN sebagai bagian dari program pembelajaran dan pengembangan kebersamaan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar di luar ruangan sekaligus mengenalkan pentingnya menjaga alam dan lingkungan. Kegiatan kunjungan ke Bhakti Alam dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dan berlangsung dengan tertib. Seluruh peserta berangkat dan mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh antusias, didampingi oleh pendamping serta koordinator kegiatan KKN. Selama berada di lokasi Bhakti Alam, kami mendapatkan pengetahuan mengenai berbagai jenis tanaman, meras susu sapi, serta pengelolaan lingkungan. kami diajak untuk mengenal alam secara langsung dan memahami pentingnya pelestarian lingkungan melalui kegiatan edukatif yang disediakan. Selain kegiatan edukasi, anak-anak KKN juga melaksanakan kegiatan renang di area yang telah disediakan. Kegiatan renang ini bertujuan untuk memberikan penyegaran, melatih keberanian, serta menumbuhkan rasa percaya diri peserta dengan tetap memperhatikan faktor keselamatan. Kegiatan selanjutnya adalah permainan (game) yang dilakukan secara berkelompok. Permainan ini dirancang untuk melatih kerja sama, kekompakan, serta mempererat kebersamaan antar peserta KKN. Seluruh peserta mengikuti permainan dengan penuh semangat dan keceriaan. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar, tertib, dan aman. Peserta, pendamping, serta pihak pengelola Bhakti Alam bekerja sama dengan baik sehingga kegiatan dapat terlaksana sesuai rencana. Dengan adanya kegiatan kunjungan edukatif, renang, dan permainan ini, diharapkan anak-anak KKN memperoleh pengalaman berharga, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, serta memperkuat rasa kebersamaan dan tanggung jawab.
UZLIFATIL JANNAH
Dalam rangka memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, mahasiswa KKN 43 Pradipta UIN Malang turut berpartisipasi dalam kegiatan pawai yang diselenggarakan oleh SDN 1 Gading Kembar. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada siswa melalui pendekatan yang edukatif dan menyenangkan. Pawai berlangsung dengan tertib dan penuh semangat. Antusiasme para siswa terlihat jelas dari semangat mereka mengikuti rangkaian kegiatan, membawa atribut peringatan, serta mengikuti arahan guru dengan penuh keceriaan. Suasana kebersamaan dan kekhidmatan terasa menyatu dalam kegiatan tersebut. Keterlibatan mahasiswa KKN dalam pawai ini tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai pendamping yang membantu menjaga ketertiban serta memberikan dukungan moral kepada siswa. Kehadiran mahasiswa di tengah kegiatan sekolah diharapkan dapat mempererat hubungan antara dunia pendidikan dan pengabdian masyarakat. Secara keseluruhan, kegiatan pawai peringatan Isra’ Mi’raj ini berjalan dengan lancar tanpa hambatan berarti. Lebih dari sekadar perayaan tahunan, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran nilai religius, kebersamaan, dan disiplin bagi siswa sejak usia dini.
AZMI FASH SHALNA ZAIBA
https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/khataman-al-quran.html?m=1 Subuh itu, Desa Poncokusumo masih diselimuti udara dingin khas pegunungan. Kabut tipis menggantung pelan di antara rumah-rumah warga, sementara suara adzan Subuh menggema lembut dari musholla setempat. Di momen hening itulah, kami — mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) — melangkahkan kaki menuju musholla dengan hati yang terasa lebih tenang dari biasanya. Kegiatan Khataman Al-Qur’an yang kami rencanakan sejak awal KKM akhirnya tiba, bukan sebagai agenda seremonial, tetapi sebagai ruang kebersamaan dan perenungan di tengah pengabdian kami kepada masyarakat. Sejak sebelum Subuh, satu per satu mahasiswa sudah berkumpul. Ada yang membawa mushaf, ada yang masih menahan kantuk, tapi semuanya datang dengan niat yang sama. Musholla desa Poncokusumo pagi itu terasa lebih hidup. Lampu-lampu kecil menyala, sajadah tersusun rapi, dan suasana khusyuk mulai terbangun. Kegiatan ini memang ditujukan untuk internal mahasiswa KKM, namun tetap terasa menyatu dengan denyut kehidupan desa. Kami mengaji bersama, saling menyimak, saling mengingatkan, dan merasakan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dihidupi, apalagi di tengah proses belajar bermasyarakat seperti KKM. Proses khataman berjalan sederhana, tanpa protokol yang rumit. Setiap mahasiswa mengambil bagian sesuai kemampuan, membaca dengan tartil, dan berusaha menjaga kekhusyukan. Tidak ada target cepat selesai, yang kami jaga justru ketenangan suasana. Di sela-sela lantunan ayat suci, sesekali terdengar suara alam pagi—ayam berkokok, angin yang berdesir pelan—seolah ikut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan ini. Meskipun sasaran kegiatan adalah mahasiswa KKM sendiri, kehadiran warga yang ikut shalat Subuh berjamaah memberi nuansa hangat tersendiri. Senyum dan sapaan mereka setelah shalat menjadi bentuk dukungan yang sederhana, namun bermakna. Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar mengaji bersama. Di tengah padatnya agenda KKM—dari program edukasi, sosial, hingga administrasi — khataman Al-Qur’an menjadi titik jeda yang menenangkan. Ia mengingatkan bahwa pengabdian tidak selalu tentang aktivitas fisik dan program besar, tetapi juga tentang memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan diri sendiri. Banyak dari kami yang merasakan suasana batin yang lebih ringan setelah kegiatan ini, seolah diberi energi baru untuk melanjutkan pengabdian di desa. Dampak kegiatan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam bentuk angka atau capaian program, tetapi terasa secara personal. Bagi mahasiswa, khataman ini mempererat kebersamaan tim KKM, membangun rasa saling peduli, dan menumbuhkan kesadaran spiritual di tengah dinamika lapangan. Bagi lingkungan sekitar, meski secara tidak langsung, kehadiran mahasiswa yang aktif memakmurkan musholla memberi kesan positif bahwa KKM bukan hanya hadir untuk bekerja, tetapi juga untuk menyatu dengan nilai-nilai lokal dan religius masyarakat desa. Menutup kegiatan, kami duduk sejenak di dalam musholla, berbagi kesan singkat dan doa bersama. Pagi perlahan beranjak terang, dan aktivitas desa mulai berjalan seperti biasa. Dari kegiatan sederhana ini, kami belajar bahwa kebermaknaan KKM tidak selalu lahir dari program yang besar dan ramai, tetapi dari niat yang tulus dan kebersamaan yang hangat. Harapan kami, semangat seperti ini bisa terus berlanjut, tidak hanya selama KKM berlangsung, tetapi juga ketika kami kembali ke kehidupan kampus dan masyarakat masing-masing. Khataman Al-Qur’an di musholla desa Poncokusumo pada 4 Januari 2026 itu akan selalu kami ingat sebagai salah satu momen paling tenang selama KKM. Sebuah pagi yang mengajarkan kami untuk melambat sejenak, menata niat, dan melangkah kembali dengan hati yang lebih siap untuk mengabdi.
MIRZA MILLATA HANIFAH
16 Januari 2026, Desa Putukrejo Mahasiswa KKM 59 UIN Malang Samudrawisesa melaksanakan program sosialisasi Stop Bullying di sejumlah sekolah dasar yang berada di Desa Putukrejo. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang bahaya perundungan serta mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan saling menghargai. Program ini difokuskan pada siswa kelas 4 hingga kelas 6 sekolah dasar. Pemilihan jenjang ini didasarkan pada pertimbangan bahwa usia tersebut merupakan fase penting dalam pembentukan karakter, sikap sosial, dan cara berinteraksi dengan teman sebaya. Melalui sosialisasi ini, siswa diharapkan mampu mengenali bentuk-bentuk bullying serta memahami dampak negatifnya terhadap korban. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM 59 UIN Malang Samudrawisesa menjelaskan bahwa bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat terjadi dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Ucapan mengejek, memberi julukan yang merendahkan, mengucilkan teman, hingga gestur merendahkan termasuk dalam perilaku bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan pada pagi hari mulai pukul 09.00 WIB di masing-masing sekolah dasar. Materi disampaikan dengan pendekatan yang mudah dipahami anak-anak, sehingga mereka dapat lebih mudah mengaitkan materi dengan situasi yang mereka alami sehari-hari di sekolah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM 59 UIN Malang Samudrawisesa berharap siswa tidak hanya mampu mengenali perilaku bullying, tetapi juga berani menolak dan mencegahnya. Dengan meningkatnya kesadaran sejak usia dini, diharapkan budaya saling menghargai dan peduli terhadap sesama dapat tumbuh kuat di lingkungan sekolah dasar Desa Putukrejo. Program ini menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih aman, ramah anak, dan bebas dari praktik perundungan.
MOCHAMMAD NURIL AKHYAR EFFENDI
Dalam beberapa pekan terakhir, Dusun Segelan Sidomulyo, Desa Balesari, kembali menunjukkan potret kuatnya tradisi gotong royong yang telah mengakar dalam kehidupan warganya. Di dusun ini, kerja bakti bukan dipahami sebagai kegiatan insidental semata, melainkan menjadi rutinitas kolektif yang dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan. Bahkan, kerja bakti dilaksanakan hampir setiap hari dengan sistem bergiliran antarblok. Konsistensi tersebut mencerminkan komitmen tinggi masyarakat dalam merawat lingkungan dan membangun fasilitas bersama. Pola kerja bakti yang terjadwal ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, melainkan pelaksanaan ini terlihat adanya kesetaraan gender dimana perempuan turut berperan aktif tidak hanya dalam dukungan logistik, tetapi juga dalam perencanaan kegiatan lapangan serta pengambilan keputusan. Keterlibatan seluruh masyarakat ini memperkuat partisipasi kolektif, nilai kebersamaan dan menciptakan lingkungan yang penuh semangat kebersamaan. Tradisi gotong royong di Dusun Segelan Sidomulyo telah teruji melalui berbagai kegiatan pembangunan yang dilakukan secara swadaya oleh warga, salah satunya pada perbaikan dan pembangunan jalan desa yang sebelumnya mengalami kerusakan parah. Melalui kerja sama kolektif dan partisipasi aktif masyarakat, pembangunan jalan tersebut berhasil diwujudkan dan menjadi bukti nyata bahwa nilai kebersamaan di Dusun Segelan Sidomulyo bukan sekadar jargon, melainkan terimplementasi dalam aksi nyata yang berdampak langsung bagi kehidupan warga. Kerja bakti dilaksanakan secara sukarela tanpa paksaan, dengan pembagian tugas yang berjalan alami di lapangan. Kelompok bapak-bapak umumnya menangani pekerjaan berat seperti mencangkul, mengecor, dan pekerjaan teknis lainnya, sementara para ibu turut berperan aktif membantu pekerjaan ringan, penataan lingkungan, serta menyiapkan konsumsi. Seluruh proses dilakukan bersama-sama, mencerminkan kuatnya solidaritas sosial dan semangat gotong royong yang terus terjaga di tengah masyarakat Dusun Segelan Sidomulyo . Konsistensi kehadiran warga dalam setiap kegiatan kerja bakti menjadi kekuatan utama Dusun Segelan Sidomulyo , Desa Balesari. Tingginya partisipasi masyarakat mencerminkan rasa memiliki yang kuat terhadap lingkungan serta hasil pembangunan yang dikerjakan secara bersama-sama. Konsistensi inilah yang kemudian mendorong keberlanjutan berbagai program pembangunan, sehingga dapat berjalan lancar dan berkesinambungan. Saat ini, gotong royong warga difokuskan pada pembangunan dan penataan taman lingkungan serta pembuatan dan perbaikan gorong-gorong sebagai kelanjutan dari pembangunan jalan yang telah dilakukan sebelumnya. Keberadaan taman di pinggir jalan diharapkan menjadi upaya peningkatan kualitas tampilan jalan desa, sementara gorong-gorong yang tertata dengan baik berfungsi untuk memperlancar aliran air dan mencegah terjadinya genangan. Dampaknya pun dapat langsung dirasakan masyarakat, baik dari sisi kenyamanan lingkungan maupun kemudahan akses. Dalam konteks inilah, mahasiswa KKM Reguler UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 114 hadir dan turut terlibat aktif bersama warga Dusun Segelan Sidomulyo. Kehadiran mahasiswa tidak sebatas melakukan pengamatan, melainkan diwujudkan melalui partisipasi langsung di lapangan dengan menyumbangkan tenaga dan membaur dalam setiap proses kegiatan kerja bakti. Mahasiswa KKM Reguler UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 114 ikut mendukung kelancaran kegiatan dengan bekerja bersama masyarakat, sekaligus belajar dan beradaptasi dengan pola gotong royong yang telah lama mengakar. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa berposisi sebagai mitra masyarakat yang mendukung kegiatan, tanpa mengambil alih peran utama warga yang selama ini menjadi penggerak pembangunan dusun. Keterlibatan mahasiswa KKM Reguler UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 114 dalam kerja bakti rutin di Dusun Segelan Sidomulyo memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak. Bagi warga, kehadiran mahasiswa tidak hanya menambah tenaga kerja, tetapi juga menghadirkan semangat kebersamaan dalam setiap kegiatan pembangunan lingkungan. Sementara itu, mahasiswa KKM Reguler UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 114 menilai kegiatan ini memberi pengalaman sosial yang berharga, terutama dalam memahami secara langsung nilai gotong royong, solidaritas sosial, serta praktik pembangunan berbasis partisipasi masyarakat. Interaksi yang terjalin selama kegiatan berlangsung turut mempererat hubungan sosial antara warga dan mahasiswa, sekaligus berkontribusi pada terciptanya lingkungan dusun yang semakin tertata dan nyaman. Ke depan, masyarakat Dusun Segelan Sidomulyo berharap tradisi kerja bakti yang telah mengakar ini dapat terus berlanjut dan menjadi contoh praktik baik pembangunan desa yang lahir dari kekuatan kolektif warga. Model kerja bakti rutin di Dusun Segelan Sidomulyo menunjukkan bahwa pembangunan desa dapat berjalan efektif ketika digerakkan oleh kesadaran kolektif masyarakat, sementara bagi mahasiswa KKM Reguler UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 114, keterlibatan ini menjadi pengalaman pengabdian yang bermakna serta bekal nilai sosial penting untuk kehidupan bermasyarakat di masa mendatang.
ENI KURNIAWATI
https://arutalapratista.blogspot.com/2026/02/