Thumbnail
3 months ago
Laporan Akhir KKM Reguler Kelompok 110: Optimalisasi Program Family Corner Berbasis Masjid di Masjid Muthohharun, Kota Malang

MUHAMMAD GUSTI BASKARA NAJIH

Abstrak KKM Reguler Semester Ganjil Kelompok 110 melaksanakan pengabdian masyarakat berbasis masjid di Masjid Muthohharun, Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur. Fokus pengabdian adalah optimalisasi program Family Corner sebagai layanan keluarga berbasis masjid yang terstruktur, mudah diakses, dan berkelanjutan. Penguatan dilakukan melalui integrasi tiga strategi: (1) penguatan tata kelola layanan (arah SOP, kebutuhan operasional, akses layanan), (2) pendekatan preventif melalui psikoedukasi keluarga, dan (3) peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan konselor keluarga. Program inti meliputi sosialisasi Family Corner (±300 peserta), psikoedukasi perkembangan sosioemosi anak (±20 peserta; 14 Januari 2026), serta pelatihan konselor keluarga (±22 peserta; 17 Januari 2026). Hasil pengabdian menunjukkan bahwa optimalisasi Family Corner membutuhkan penguatan sistem layanan, promosi, akses yang jelas, serta peningkatan kompetensi pengelola agar layanan tidak bersifat insidental. Program juga menghasilkan rekomendasi keberlanjutan berupa SOP layanan, jadwal piket, mekanisme penjadwalan/booking, promosi rutin, upgrading SDM, dan psikoedukasi berkala sebagai program preventif. Selain luaran internal, kegiatan terdokumentasi melalui publikasi media online sebagai diseminasi pengabdian. Kata Kunci: KKM; pengabdian masyarakat; Family Corner; masjid; ketahanan keluarga; psikoedukasi; konselor keluarga; tata kelola layanan. 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Keluarga merupakan unit sosial paling dasar yang berperan besar dalam membentuk kualitas kehidupan masyarakat. Masalah keluarga (komunikasi, konflik, pengasuhan, relasi pasangan) berpotensi berdampak luas pada kualitas pendidikan anak, kesehatan mental, stabilitas sosial, dan produktivitas masyarakat. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga menjadi kebutuhan penting yang tidak hanya dilakukan melalui pendekatan individual, tetapi juga melalui penguatan dukungan komunitas. Di sisi lain, masjid dalam masyarakat muslim memiliki posisi yang sangat strategis. Masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, melainkan juga pusat pendidikan keagamaan, aktivitas sosial, dan pembinaan jamaah. Kedekatan masjid dengan jamaah membuat masjid memiliki potensi untuk menjadi “ruang layanan sosial” yang mudah diterima, efektif menjangkau masyarakat, dan relatif berkelanjutan karena ditopang oleh struktur dan jejaring lokal. Dalam konteks itu, Masjid Muthohharun mengembangkan program Family Corner sebagai program layanan keluarga berbasis masjid. Program ini diarahkan menjadi ruang edukasi dan dukungan untuk keluarga—termasuk layanan konsultasi/pendampingan, edukasi keluarga, dan penguatan jejaring rujukan. Namun, sebuah program layanan sosial berbasis komunitas membutuhkan tata kelola yang jelas agar tidak berhenti sebagai kegiatan simbolik. Penguatan tata kelola, akses layanan, promosi yang konsisten, dan peningkatan kapasitas SDM menjadi prasyarat agar Family Corner dapat berjalan sebagai layanan nyata. 1.2 Lokasi dan Konteks Dampingan Pengabdian dilaksanakan di: Masjid Muthohharun Jl. Klayatan Gg. 3 No.02, RT.8/RW.2, Bandungrejosari, Kec. Sukun, Kota Malang, Jawa Timur 65148. Pemilihan lokasi didasarkan pada: Masjid memiliki struktur dan aset sosial (takmir, jamaah, ruang kegiatan) yang memungkinkan program layanan berjalan berkelanjutan; Family Corner sudah dirintis sehingga pengabdian dapat difokuskan pada optimalisasi sistem dan penguatan mutu layanan; Kegiatan masjid cukup aktif sehingga program edukasi dan layanan sosial-keluarga berpotensi mudah diintegrasikan dengan aktivitas jamaah. 1.3 Rumusan Masalah Pengabdian ini berangkat dari beberapa pertanyaan inti: Bagaimana bentuk optimalisasi Family Corner agar menjadi layanan keluarga yang terstruktur dan mudah diakses jamaah? Bagaimana menguatkan dimensi preventif (edukasi keluarga) agar Family Corner tidak hanya bersifat kuratif? Bagaimana meningkatkan kapasitas SDM pengelola agar siap menjalankan layanan konseling/pendampingan dan rujukan? 1.4 Tujuan Pengabdian Tujuan umum: mengoptimalkan program Family Corner berbasis masjid sebagai layanan keluarga yang terstruktur, akuntabel, mudah diakses, dan berkelanjutan. Tujuan khusus: memperkuat tata kelola layanan (arah SOP, kebutuhan operasional, alur akses); meningkatkan literasi jamaah melalui sosialisasi layanan; menguatkan pendekatan preventif melalui psikoedukasi; meningkatkan kapasitas SDM pengelola melalui pelatihan konselor keluarga. 1.5 Manfaat Kegiatan Bagi jamaah/masyarakat: memperoleh akses edukasi keluarga dan layanan pendampingan yang lebih jelas serta mudah. Bagi masjid dan pengurus Family Corner: memperoleh dukungan penguatan sistem layanan dan peningkatan kapasitas SDM. Bagi program KKM: menjadi bukti kontribusi pengabdian berbasis institusi masyarakat yang berpotensi berkelanjutan. 2. Metode dan Strategi Pelaksanaan 2.1 Pendekatan Umum KKM Kelompok 110 menggunakan orientasi kerja berbasis aset komunitas (Asset-Based Community Development/ABCD) dengan prinsip: memulai dari potensi yang sudah ada (aset masjid, jamaah, pengurus, jejaring), lalu menguatkan sistem dan kapasitas untuk menghasilkan perubahan yang berkelanjutan. 2.2 Tahapan Pelaksanaan Pelaksanaan program dibagi dalam tahapan: Koordinasi awal dan pemetaan kebutuhan: komunikasi dengan takmir/pengurus, pemetaan kebutuhan layanan Family Corner dan kemungkinan kegiatan. Perancangan intervensi: menyusun agenda sosialisasi, psikoedukasi, dan pelatihan konselor keluarga sebagai pilar program. Pelaksanaan kegiatan inti: menjalankan kegiatan sesuai jadwal dan target sasaran. Refleksi dan rekomendasi: menyusun hasil pembelajaran dan rencana keberlanjutan program. 2.3 Kolaborasi dan Pihak yang Terlibat Pengabdian melibatkan beberapa pihak: Takmir Masjid Muthohharun: dukungan kelembagaan, fasilitasi tempat dan penguatan legitimasi program. Pengurus/Tim Family Corner: pelaksana inti layanan dan sasaran utama peningkatan kapasitas. Jamaah/masyarakat: penerima manfaat sosialisasi dan psikoedukasi. Mitra/jejaring: unsur KUA (terlibat dalam kegiatan sosialisasi) dan narasumber/pemateri kegiatan edukasi/pelatihan. 2.4 Data Factual (Jumlah Peserta dan Waktu) Kegiatan inti dan jumlah peserta (berdasarkan data yang Anda berikan): Sosialisasi Family Corner: ±300 peserta Psikoedukasi Sosioemosi Anak: ±20 peserta (14 Januari 2026) Pelatihan Konselor Keluarga: ±22 peserta (17 Januari 2026) 3. Rangkaian Kegiatan dan Deskripsi Pelaksanaan 3.1 Sosialisasi Family Corner (±300 Peserta) Tujuan utama: memperkenalkan Family Corner sebagai layanan keluarga berbasis masjid—jenis layanan, manfaat, cara akses, dan peran jamaah. Mengapa sosialisasi diperlukan? Banyak program komunitas tidak berjalan optimal karena informasi layanan tidak tersampaikan, masyarakat tidak memahami akses, atau program dipersepsikan sebagai kegiatan “sementara”. Sosialisasi menjadi langkah penting untuk membangun legitimasi sosial, meningkatkan literasi layanan, dan memperkuat dukungan jamaah. Isi pokok kegiatan sosialisasi: pengenalan Family Corner (fungsi dan layanan); edukasi singkat tentang pentingnya penguatan keluarga; penjelasan mekanisme akses layanan (bagaimana jamaah dapat menghubungi/menjadwalkan); penguatan kemitraan dengan pihak terkait (termasuk unsur KUA sebagai penguat sinergi). Hasil langsung yang terlihat: meningkatnya awareness jamaah terhadap Family Corner; terbukanya peluang partisipasi jamaah dalam mendukung layanan; terbentuknya basis legitimasi bahwa Family Corner adalah ikhtiar masjid untuk kesejahteraan keluarga. 3.2 Psikoedukasi Perkembangan Sosioemosi Anak (±20 Peserta; 14 Januari 2026) Tujuan: memperkuat pendekatan preventif Family Corner melalui edukasi keluarga, khususnya literasi pengasuhan dan emosi anak. Mengapa tema sosioemosi anak? Isu pengasuhan adalah salah satu sumber stres keluarga. Minimnya pemahaman perkembangan anak dapat memicu miskomunikasi, pola asuh yang kurang tepat, konflik, bahkan kekerasan verbal/emosional. Edukasi sosioemosi anak membantu orang tua/pendamping memahami perilaku anak secara lebih ilmiah dan empatik. Materi pokok psikoedukasi: pengenalan perilaku anak dan dinamika emosi; pengertian perkembangan sosioemosi; tahapan perkembangan sosioemosi; faktor yang memengaruhi (keluarga, lingkungan, komunikasi, pola interaksi); dampak jika perkembangan sosioemosi tidak optimal; peran orang tua (termasuk peran ibu/pengasuh utama); strategi praktis membantu regulasi emosi anak; diskusi tanya jawab dan refleksi kasus ringan. Output kegiatan: peserta memperoleh pengetahuan dan strategi pengasuhan yang lebih terstruktur; muncul kebutuhan tema edukasi lanjutan seperti komunikasi keluarga, manajemen emosi, dan disiplin positif. 3.3 Pelatihan Konselor Keluarga (±22 Peserta; 17 Januari 2026) Tujuan: meningkatkan kapasitas SDM pengelola/relawan Family Corner agar mampu menjalankan layanan pendampingan awal dan rujukan secara lebih profesional. Mengapa pelatihan ini sangat penting? Tanpa SDM yang siap, layanan keluarga rentan menjadi tidak konsisten, tidak terdokumentasi, dan tidak terarah. Pelatihan konselor keluarga membantu membangun kemampuan dasar: empati, mendengar aktif, komunikasi, tahapan konseling, dan penentuan rujukan. Materi pokok pelatihan: konsep konselor keluarga dan batasan peran; pemahaman emosi dalam proses konseling; tahapan konseling keluarga (pembukaan–asesmen–intervensi awal–penutupan–tindak lanjut); teknik dasar konseling (active listening, klarifikasi, refleksi perasaan, pertanyaan terbuka, penguatan); praktik/simulasi konseling; evaluasi dan refleksi program. Output kegiatan: peserta (pengurus/pengelola) mendapatkan kompetensi dasar konseling; layanan Family Corner memiliki fondasi SDM yang lebih siap; terbuka kebutuhan peningkatan lanjutan seperti supervisi, modul kasus, dan penguatan jejaring rujukan. 4. Hasil dan Capaian Pengabdian 4.1 Capaian Berdasarkan Tujuan Tujuan 1 – Penguatan tata kelola: Pengabdian menghasilkan penguatan arah tata kelola: kebutuhan SOP layanan, jadwal layanan/piket, kebutuhan operasional layanan, serta alur akses yang perlu dipermudah. Tujuan 2 – Literasi jamaah dan akses layanan: Sosialisasi skala besar (±300) memperluas pemahaman jamaah tentang Family Corner sehingga layanan lebih dikenal dan memiliki peluang pemanfaatan lebih tinggi. Tujuan 3 – Preventif melalui edukasi: Psikoedukasi (±20) menjadi langkah konkret memperkuat fungsi preventif Family Corner, mengurangi risiko masalah keluarga melalui peningkatan literasi pengasuhan. Tujuan 4 – Capacity building SDM: Pelatihan konselor keluarga (±22) menjadi fondasi peningkatan mutu layanan agar pengelola memiliki kompetensi dasar untuk pendampingan awal dan rujukan. 4.2 Output Sistem dan Operasional Layanan Hasil pendampingan menunjukkan bahwa Family Corner memerlukan komponen operasional berikut agar menjadi layanan yang berjalan: ruang konsultasi/ruang layanan yang nyaman dan menjaga privasi; format berkas konsultasi untuk pencatatan aman (minimal: identifikasi masalah, kebutuhan, tindak lanjut, rujukan); jadwal layanan/piket dan penanggung jawab; contact person yang jelas; media informasi (banner/papan pengumuman + kanal digital); jejaring rujukan untuk kasus yang memerlukan tenaga profesional atau layanan formal. 4.3 Dampak Pembelajaran (Learning Outcomes) Bagi jamaah: bertambahnya pemahaman tentang akses layanan keluarga di masjid serta literasi pengasuhan. Bagi pengelola: meningkatnya kesiapan menjalankan layanan pendampingan serta kesadaran pentingnya tata kelola. Bagi masjid: penguatan fungsi sosial masjid sebagai pusat layanan keluarga dan edukasi komunitas. 5. Evaluasi, Tantangan, dan Refleksi 5.1 Hal yang Berjalan Baik Partisipasi jamaah pada sosialisasi sangat tinggi (±300), menunjukkan dukungan sosial yang kuat. Format kegiatan berjenjang (sosialisasi → edukasi → pelatihan) membuat program lebih sistematis dan tidak “sekali selesai”. Ada ruang diskusi dan refleksi sehingga kebutuhan masyarakat dapat teridentifikasi lebih nyata. 5.2 Tantangan yang Ditemukan Standarisasi layanan: SOP dan alur rujukan perlu dirapikan agar layanan konsisten. Akses layanan: perlu mekanisme akses yang sederhana (mis. booking/form) agar jamaah tidak bingung. Keberlanjutan SDM: pelatihan dasar perlu ditindaklanjuti dengan upgrading berkala dan supervisi agar mutu layanan stabil. Promosi: perlu strategi informasi rutin agar jamaah tidak hanya mengetahui, tetapi juga memanfaatkan layanan dengan benar. 5.3 Refleksi Pembelajaran utama dari pengabdian ini adalah: program layanan keluarga berbasis masjid akan berdampak jika diposisikan sebagai layanan (service), bukan sekadar kegiatan. Layanan membutuhkan sistem, SDM, akses yang jelas, dan program preventif yang konsisten. Karena itu, keberlanjutan Family Corner ditentukan oleh sejauh mana masjid dan pengurus dapat mengoperasikan sistem layanan pasca-KKM. 6. Rekomendasi Keberlanjutan Program (Roadmap Praktis) Agar Family Corner Masjid Muthohharun terus berkembang, rekomendasi yang dapat dilakukan secara bertahap: 6.1 Penguatan Tata Kelola Menyusun SOP layanan: kerahasiaan, pencatatan, alur konsultasi, rujukan, dan tindak lanjut. Menentukan struktur peran (koordinator layanan, administrasi, humas/promosi, penjadwalan). Menetapkan jadwal layanan/piket yang rutin dan diumumkan secara terbuka. 6.2 Penguatan Akses Layanan Menetapkan contact person dan kanal komunikasi resmi. Membuat sistem booking/penjadwalan (misalnya formulir online sederhana) agar layanan lebih tertib. Menyediakan prosedur layanan untuk kasus darurat dan rujukan profesional. 6.3 Penguatan SDM Pelatihan lanjutan (komunikasi konseling, etika, penanganan kasus dasar). Supervisi berkala (sharing kasus, evaluasi dokumentasi, penguatan rujukan). Menyusun modul layanan yang ringkas (panduan 1–2 halaman untuk petugas). 6.4 Penguatan Program Preventif Psikoedukasi keluarga rutin (tema: parenting, komunikasi pasangan, manajemen konflik, kesehatan mental). Kelas parenting berkala (bulanan/dua bulanan) sebagai penguatan literasi. Edukasi remaja dan keluarga (terintegrasi dengan kegiatan remaja masjid) agar pencegahan dimulai sejak dini. 7. Diseminasi dan Publikasi Media Online (Luaran Dokumentasi) Sebagai bentuk pertanggungjawaban publik dan diseminasi pengabdian, kegiatan KKM Kelompok 110 didokumentasikan melalui publikasi media online: https://retizen.republika.co.id/posts/735912/resmi-dibuka-26-desember-2025-kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-awali-pengabdian https://retizen.republika.co.id/posts/735909/kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-laksanakan-survei-lokasi-bersama-takmir-masjid-muthohharun-kecamatan-sukun https://retizen.republika.co.id/posts/735911/perkuat-sinergi-program-kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-temui-takmir-dan-tpq-masjid-muthohharun https://retizen.republika.co.id/posts/735939/kumpul-santai-penuh-makna-kkm-arunika-karsa-110-bersama-remas-masjid-muthohharun https://siaran-berita.com/resmi-dibuka-26-desember-2025-kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-awali-pengabdian/ https://siaran-berita.com/sosialisasi-family-corner-di-masjid-muthohharun-kolaborasi-kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-bersama-dr-h-anas-fauzie-s-ag-m-pd/ https://kkmarunikakarsa110uinmalang.blogspot.com/2025/12/semangat-liburan-dengan-pesantren-ceria.html https://kkmarunikakarsa110uinmalang.blogspot.com/2025/12/penguatan-disiplin-ibadah-dan.html https://kkmarunikakarsauinmalang110.blogspot.com/2025/12/peer-counseling-sebagai-ruang-aman.html https://siaran-berita.com/peer-counseling-sebagai-ruang-aman-remaja-inisiatif-kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-bersama-remaja-masjid-muthohharun/ https://siaran-berita.com/plc-day-4-fun-game-outdoor-lomba-seru-dan-sholat-jamaah-bersama-kkm-arunika-karsa-110-dan-remaja-masjid-muthohharun/ https://siaran-berita.com/puncak-pesantren-liburan-ceria-remaja-masjid-muthohharun-dan-kkm-arunika-karsa-110-uin-malang-hadirkan-fun-game-hingga-apresiasi-anak-tpq-rajin-jamaah/ 8. Penutup KKM Reguler Semester Ganjil Kelompok 110 memfokuskan pengabdian pada optimalisasi Family Corner berbasis masjid sebagai strategi penguatan ketahanan keluarga di Masjid Muthohharun, Kota Malang. Dengan kegiatan inti berupa sosialisasi layanan (±300 peserta), psikoedukasi sosioemosi anak (±20 peserta; 14 Januari 2026), dan pelatihan konselor keluarga (±22 peserta; 17 Januari 2026), program ini menghasilkan penguatan literasi jamaah, penguatan dimensi preventif, peningkatan kapasitas SDM pengelola, serta rekomendasi tata kelola layanan untuk keberlanjutan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Takmir dan jamaah Masjid Muthohharun, pengurus Family Corner, serta pihak mitra yang mendukung kelancaran program. Harapannya, Family Corner dapat terus berkembang menjadi layanan keluarga yang terstruktur, mudah diakses, dan berdampak nyata bagi masyarakat Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Thumbnail
3 months ago
GEMA PAMIT DI PINTU ILMU: SALAM PERPISAHAN MAHASISWA KKM KELOMPOK 22 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG, BERSAMA GURU DAN ADIK-ADIK KB-TK MASJID AGUNG JAMI’ MALANG

ALWAN MAZDA FARID AHMAD

KKM MULTIVIDA HIKMARA 22 GEMA PAMIT DI PINTU ILMU: SALAM PERPISAHAN MAHASISWA KKM KELOMPOK 22 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG, BERSAMA GURU DAN ADIK-ADIK KB-TK MASJID AGUNG JAMI’ MALANG Februari 01, 2026 Malang, Senin 2 Februari 2026. Mahasiswa KKM Kelompok 22 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, mengikuti perpisahan terakhir di KB-TK Masjid Agung Jami' Malang.          Sebuah perjalanan pengabdian yang sarat akan makna akhirnya sampai pada titik puncaknya. Pagi itu, suasana di KB-TK Masjid Agung Jami’ tidak seperti pagi biasanya yang riuh oleh senam dan obrolan riang. Ada warna haru yang menyelinap di antara tawa polos anak-anak saat Mahasiswa KKM Kelompok 22 berkumpul untuk mengikuti prosesi Salam Perpisahan. Agenda ini menjadi momen sakral untuk menghaturkan terima kasih secara formal sekaligus berpamitan kepada keluarga besar KB-TK.             Acara menjadi sangat berkesan dengan kehadiran Ketua Yayasan Masjid Agung Jami' Malang, Bapak Ikhwan Kurniawan, S.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi yang mendalam atas dedikasi dan kontribusi nyata yang telah diberikan mahasiswa selama masa KKM. Sebagai seorang pendidik dan pemimpin yayasan, beliau menekankan bahwa kehadiran mahasiswa telah memberikan energi baru bagi metode pendampingan anak-anak di lembaga tersebut.         "Adik-adik mahasiswa telah menjadi jembatan antara dunia akademik yang dinamis dan dunia keceriaan anak-anak kami. Terima kasih telah membantu menanamkan nilai-nilai karakter dan adab sejak dini dengan penuh kesabaran," tutur Bapak Ikhwan Kurniawan dengan penuh kewibawaan namun tetap hangat. Beliau juga memberikan wejangan agar pengalaman di KB-TK ini dijadikan bekal berharga bagi mahasiswa untuk menjadi calon pemimpin masa depan yang memiliki kepekaan sosial dan kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan.     Bagi Kelompok 22, berpisah dengan siswa KB-TK adalah bagian tersulit. Selama ini, mereka telah menjadi saksi bagaimana jari-jari mungil itu belajar memegang pensil, mendengar celoteh jujur mereka, hingga membantu mereka memahami gerakan shalat di serambi masjid. Saat sesi ramah tamah, anak-anak dengan polosnya memberikan pelukan dan ucapan terima kasih sederhana yang membuat suasana menjadi semakin emosional.       Sebagai simbol kenang-kenangan, mahasiswa memberikan cinderamata kepada sekolah yang diserahkan langsung kepada Bapak Ikhwan Kurniawan. Pemberian ini bukan sekadar benda, melainkan wujud penghormatan atas bimbingan dan kepercayaan yang telah diberikan pihak yayasan selama mahasiswa mengabdi di sana.        Kolaborasi antara mahasiswa, para guru, dan yayasan di bawah kepemimpinan Bapak Ikhwan Kurniawan telah menciptakan ekosistem pengabdian yang harmonis. Mahasiswa Kelompok 22 merasa sangat beruntung karena diberikan ruang untuk berinovasi, mulai dari membantu kegiatan belajar mengajar harian hingga menyukseskan acara-acara besar sekolah. Keterbukaan pihak yayasan membuat mahasiswa merasa benar-benar menjadi bagian dari keluarga besar Masjid Agung Jami’.          Ketua Kelompok 22 dalam pesan pamitnya menyampaikan bahwa keramahan yang mereka terima akan selalu menjadi memori indah. Mereka belajar bahwa mendidik bukan hanya soal mentransfer ilmu, melainkan tentang ketulusan hati, sebuah nilai yang mereka lihat langsung dari cara para guru dan pengurus yayasan mengelola KB-TK ini.           Prosesi salam perpisahan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto sebagai tanda berakhirnya masa pengabdian. Namun, seperti yang disampaikan oleh Bapak Ikhwan Kurniawan, silaturahmi yang sudah terbangun diharapkan tidak terputus begitu saja.          Mahasiswa KKM Kelompok 22 meninggalkan halaman KB-TK dengan hati yang penuh cinta. Mereka membawa pulang pelajaran berharga tentang kesabaran, cara berkomunikasi dengan kasih sayang, dan pentingnya menjaga tunas-tunas muda bangsa. Perpisahan ini hanyalah sebuah transisi, karena jejak pengabdian mereka kini telah melekat pada dinding-dinding kelas dan dalam ingatan manis adik-adik KB-TK Masjid Agung Jami’ Malang. https://kkm22multividahikmara.blogspot.com/2026/02/gema-pamit-di-pintu-ilmu-salam.html?m=1

Thumbnail
3 months ago
Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Desa: Seminar Penyakit Jantung dan Diabetes di Bunutwetan

YENI SEPTIYANA

Upaya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan terus dilakukan melalui berbagai kegiatan edukatif. Salah satunya diwujudkan dalam seminar kesehatan mengenai penyakit jantung dan diabetes yang diselenggarakan oleh KKM Kelompok 76 pada 24 Januari 2026 bertempat di Balai Desa Bunutwetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Kegiatan ini dimulai pada pukul 09.00 WIB dan dihadiri oleh seluruh kader posyandu Desa Bunutwetan. Turut hadir pula tamu undangan, di antaranya kepala kader posyandu, bidan desa, perawat, serta perwakilan dari puskesmas, yang menunjukkan besarnya perhatian lintas sektor terhadap isu kesehatan masyarakat desa. Acara dibuka oleh MC Marsheila Fithri Aisyah Nurahmani dan Nuriyah Izza Afkarina, yang memandu jalannya kegiatan dengan tertib dan komunikatif. Selanjutnya, hadirin bersama-sama menyanyikan Lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh dirijen Yeni Septiyana, sebagai bentuk penghormatan dan peneguhan semangat kebersamaan. Sambutan disampaikan oleh Kepala Desa Bunutwetan, Bapak Buchori, serta Ibu Lurah, Ibu Atik, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar kesehatan ini. Dalam sambutannya, pihak desa menekankan pentingnya peran kader posyandu sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat, khususnya terkait penyakit tidak menular seperti jantung dan diabetes. Memasuki sesi inti, seminar menghadirkan pemateri dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok KKM 76, Ibu Putri Wulan Akbar. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa penyakit jantung dan diabetes merupakan penyakit tidak menular yang sangat berkaitan dengan pola hidup sehari-hari. Oleh karena itu, pencegahan menjadi langkah utama yang perlu dipahami dan diterapkan oleh masyarakat. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya menjaga pola makan yang seimbang dengan membatasi konsumsi gula dan lemak berlebih, serta membiasakan aktivitas fisik secara rutin sesuai dengan kemampuan masing-masing. Selain itu, pemateri juga menyoroti pentingnya menjaga berat badan ideal, menghindari kebiasaan merokok, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai upaya deteksi dini. Dalam konteks desa, kader posyandu dipandang memiliki peran strategis sebagai penghubung antara tenaga kesehatan dan masyarakat dalam menyampaikan edukasi serta memantau kondisi kesehatan warga. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab (Q&A) yang dipandu oleh moderator Nailah Zahroh Ilmiyah. Sesi ini berlangsung interaktif, dengan berbagai pertanyaan dari peserta terkait penerapan pola hidup sehat, penanganan awal, serta strategi komunikasi kader posyandu dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat. Seluruh rangkaian materi dan diskusi berlangsung selama kurang lebih satu jam. Seminar kesehatan ini ditutup pada pukul 11.00 WIB. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman kader posyandu terhadap penyakit jantung dan diabetes, serta memperkuat peran mereka dalam upaya promotif dan preventif di Desa Bunutwetan. Melalui kegiatan ini, sinergi antara mahasiswa KKM, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa kembali ditegaskan sebagai langkah penting dalam membangun masyarakat yang lebih sadar, peduli, dan bertanggung jawab terhadap kesehatan bersama.

Thumbnail
3 months ago
KKM Menggerakkan Pesantren Kilat Inspiratif

ARRIFAH CHAFSOH MAULIDAH PUTRI

Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai keislaman di kalangan anak-anak, Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) melaksanakan program kerja Pesantren Kilat di Masjid AL-Iksan Gadang. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan dan keagamaan, selama menjalankan program KKM. Program Pesantren Kilat dipilih atas kebutuhan masyarakat akan adanya pembinaan keagamaan yang lebih intensif bagi anak-anak, terutama di luar jam pendidikan formal. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM berupaya menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini, sekaligus membentuk karakter peserta agar memiliki akhlak yang baik dan mampu mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan Pesantren Kilat dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026 dan bertempat di Masjid Al-Iksan Gadang. Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak dengan penuh antusiasme. Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh berbagai materi keislaman, antara lain pembelajaran membaca Al-Qur'an, fun learning, pembinaan akhlak dan adab dalam kehidupan sehari-hari, serta hafalan surat-surat pendek. Materi disampaikan dengan metode yang komunikatif dan disesuaikan dengan usia peserta agar mudah dipahami. Mahasiswa KKM berperan aktif sebagai pendamping dan pengajar dalam kegiatan tersebut. Selain menyampaikan materi, mahasiswa juga berupaya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui pendekatan edukatif dan interaktif. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM turut bekerja sama dengan pihak TPQ sehingga kegiatan dapat berjalan dengan tertib dan lancar. Program Pesantren Kilat ini mendapatkan respon positif dari masyarakat, khususnya para orang tua peserta. Mereka menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat yang nyata dalam membantu meningkatkan pemahaman agama serta membentuk sikap religius anak-anak. Kehadiran mahasiswa KKM melalui program ini dinilai mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi pembinaan generasi muda di desa. Melalui pelaksanaan Pesantren Kilat, mahasiswa KKM berharap peserta dapat meningkatkan pemahaman keislaman serta mampu menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi masyarakat untuk terus melaksanakan pembinaan keagamaan secara berkelanjutan, meskipun masa pengabdian mahasiswa KKM telah berakhir.

Thumbnail
3 months ago
Mengenal Rocket Stove: Edukasi Pembakaran Minim Asap untuk Tim KIR MTs NU Pakis

NGARIFATUL LATIFAH

Bunutwetan, Pakis — 27 Januari 2026, d alam upaya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan wawasan ilmiah siswa, MTs NU Pakis menggelar kegiatan pembekalan bagi Tim Karya Ilmiah Remaja (KIR) dengan mengangkat tema Rocket Stove sebagai Metode Pembakaran Minim Asap. Kegiatan pembekalan ini bertujuan untuk mengenalkan teknologi sederhana yang ramah lingkungan serta dapat menjadi solusi alternatif dalam mengurangi polusi udara akibat pembakaran sampah. Kompor roket merupakan alat pembakaran yang dirancang dengan sistem aliran udara optimal sehingga proses pembakaran berlangsung lebih efisien, menghasilkan panas maksimal, dan meminimalkan asap. Dalam kegiatan tersebut, anggota Tim KIR mendapatkan materi pembekalan yang meliputi: Pengertian dan prinsip kerja kompor roket   Perbedaan antara pembakaran konvensional dan pembakaran konvensional minimal secepatnya   Manfaat kompor roket dalam pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan   Potensi penerapan kompor roket di lingkungan sekolah maupun masyarakat   Penyampaian materi dilakukan secara interaktif, sehingga siswa tidak hanya berperan sebagai pendengar, tetapi juga aktif bertanya dan berdiskusi. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan terkait mekanisme kerja, efektivitas, serta manfaat penggunaan kompor dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan pembekalan ini, diharapkan anggota KIR MTs NU Pakis mampu menjadi pelopor dalam penerapan teknologi ramah lingkungan di lingkungan sekolah dan masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bekal awal bagi siswa untuk mengembangkan karya ilmiah berbasis lingkungan yang bersifat aplikatif dan memiliki dampak nyata. Kegiatan pembekalan kompor roket ini sejalan dengan komitmen MTs NU Pakis dalam mendukung pendidikan berkelanjutan serta membentuk generasi muda yang peduli terhadap isu lingkungan dan inovasi sederhana yang bermanfaat bagi kehidupan.  

Thumbnail
3 months ago
Pemberdayaan Pariwisata Melalui Peningkatan Kesadaran Masyarakat Terhadap Kebersihan Lingkungan

MOH. ABBADI

pada hari kamis tanggal 22 bulan januari 2026  Kuliah Kerja Mahasiswa kelompok 190 mengundang kapolres, koramil serta pemerintah desa untuk melakukan bersih bersih di pantai konang. Kegiatan ini juga di ikuti oleh beberapa pemilik UMKM sekitar pantai serta beberapa kepala dusun Desa nglebeng, kegiatan ini berlangsung dengan meriah dengan beberapa respon baik serta partisipasi masyarakat sekitar.  Kegiatan bersih bersih ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan hususnya di tempat wisata pantai Konang, sekaligus menjadi awal dalam melibatkan masyarakat agar ikut andil dalam pemberdayaan tempat wisata. melalui kegiatan ini di harapkan masyarakat desa nglebeng dapat lebih peduli terhadap setiap hal yang dapat merusak lingkungan hususnya di bagian sampah.  Program bersih bersih ini di awali dengan pembukaan oleh bapak koramil serta penyampain pesan kepada seluruh elemen agar dapat lebih memperhatikan kebersihan lingkungan, dengan melibatkan para aparat pemerintah serta pihak keamanan para warga mengikuti kegiatan ini dengan penuh semangat dan mendapatkan rasa kepemilikan terhadap tempat wisata melalui sinergi yang di bangun bersama. Program kerja bersih bersih lingkungan ini merupakan salah satu proker Kuliah Kerja Mahasiswa yang di rancang untuk menumbuhkan rasa kepedulian masyarakat dalam menjaga tempat wisata pantai konang, mahasiswa  KKM juga turut andil dalam menyebarkan edukasi melalui praktek secara langsung, dengan ini tujuan dalam melakukan pemberdayaan tempat  wisata dapat mencapai desa ngelebeng sebagai desa wisata yang bersifat sustainabality.