AYU ZANTIKA NAJMI
Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 93 Kalventra Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan penempatan Bank Sampah di Dusun Duren, Desa Dawuhan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja pengelolaan lingkungan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah secara berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM 93 Kalventra membuat dan menempatkan lima unit Bank Sampah yang didistribusikan di lima Rukun Tetangga (RT), yaitu RT 45, RT 46, RT 47, RT 48, dan RT 49. Setiap RT menerima satu Bank Sampah yang dapat dimanfaatkan oleh warga sebagai sarana pengelolaan sampah anorganik. Penempatan Bank Sampah dilakukan di lokasi yang strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Penentuan lokasi dilakukan melalui koordinasi dengan perangkat desa dan pengurus RT agar Bank Sampah dapat digunakan secara optimal oleh warga di masing-masing wilayah. Program Bank Sampah ini bertujuan untuk mendorong masyarakat melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai guna diharapkan dapat dikumpulkan dan dikelola dengan baik sehingga mampu mengurangi volume sampah serta memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat. Kegiatan penempatan Bank Sampah mendapat sambutan positif dari masyarakat Dusun Duren. Antusiasme warga terlihat dari dukungan serta kesiapan untuk memanfaatkan Bank Sampah yang telah disediakan di setiap RT. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM 93 Kalventra berharap Bank Sampah yang telah ditempatkan dapat digunakan secara berkelanjutan serta menjadi langkah awal dalam membangun budaya peduli lingkungan dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab di Dusun Duren, Desa Dawuhan.
HIDAYATUS SA`ADAH
Desa Gadang, Kec. Sukun, Kab. Malang-- (04/02/26), Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Program ini dirancang untuk mempertemukan mahasiswa dengan realitas sosial secara langsung, sehingga mereka mampu mengaplikasikan pengetahuan akademik, mengembangkan kepekaan sosial, serta membangun kemampuan berinteraksi dengan masyarakat. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan pengabdian, KKM Kelompok 113 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang secara resmi melaksanakan acara penutupan sebagai penanda berakhirnya masa KKM. Acara penutupan tersebut dilaksanakan di Masjid Ali Musthofa dan berlangsung secara tertib serta khidmat. Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa pengurus takmir masjid, mahasiswa KKM Kelompok 113, serta Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Kehadiran para pengurus takmir masjid mencerminkan dukungan dan keterlibatan aktif pihak masjid dalam seluruh rangkaian kegiatan KKM yang telah dilaksanakan. Penutupan KKM menjadi momentum reflektif bagi mahasiswa untuk meninjau kembali proses pengabdian yang telah dijalani. Selama masa KKM, mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang berorientasi pada penguatan peran masjid sebagai pusat aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, acara penutupan tidak hanya dimaknai sebagai akhir kegiatan lapangan, tetapi juga sebagai sarana evaluasi dan penguatan nilai-nilai pengabdian. Dalam rangkaian acara, dilakukan prosesi penegasan berakhirnya masa tugas mahasiswa KKM di lokasi pengabdian. Prosesi ini merepresentasikan selesainya tanggung jawab mahasiswa dalam menjalankan peran pendampingan dan pemberdayaan masyarakat. Secara konseptual, kegiatan tersebut mencerminkan prinsip kedisiplinan, akuntabilitas, serta kepatuhan terhadap mekanisme kelembagaan dalam pelaksanaan program pengabdian masyarakat. Selain itu, acara penutupan juga diisi dengan prosesi serah terima mahasiswa KKM dari pihak takmir Masjid Ali Musthofa kepada Dosen Pendamping Lapangan. Serah terima ini memiliki makna institusional sebagai bentuk pengembalian tanggung jawab pendampingan mahasiswa dari masyarakat kepada pihak universitas. Dalam sambutannya, perwakilan takmir masjid menyampaikan apresiasi atas kontribusi dan keterlibatan aktif mahasiswa selama masa KKM. Pengurus takmir masjid menilai bahwa kehadiran mahasiswa KKM Kelompok 113 memberikan dampak positif terhadap dinamika kegiatan masjid dan kehidupan sosial masyarakat sekitar. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja yang telah direncanakan, tetapi juga mampu berbaur dengan jamaah dan warga, serta turut mendukung aktivitas keagamaan dan sosial yang berlangsung di masjid. Dosen Pendamping Lapangan dalam sambutannya menyampaikan penghargaan atas dedikasi mahasiswa selama menjalankan KKM. Kegiatan KKM dipandang sebagai wahana pembelajaran kontekstual yang penting dalam membentuk karakter mahasiswa, khususnya dalam hal tanggung jawab sosial, kerja sama, dan kemampuan adaptasi di tengah masyarakat. Dengan berakhirnya masa KKM di Masjid Ali Musthofa, mahasiswa kembali ke lingkungan kampus membawa pengalaman empiris yang memperkaya perspektif keilmuan dan sosial. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam membentuk lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan komitmen terhadap pembangunan serta pemberdayaan masyarakat.
HASNA NADIYAH FITRI
Mahasiswa KKM Kelompok 30 Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan seminar bertema stunting dan parenting di Balai Desa Karanganyar, Poncokusumo. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 6 Januari 2026 yang dihadiri para kader posyandu dari seluruh pos posyandu di wilayah DesaKaranganyar. Mereka menjadi sasaran utama program karena memiliki peran strategis dalam edukasi kesehatan masyarakat. Mahasiswa KKM 30 berharap kegiatan ini dapat memperkuat pemahaman kader tentang pencegahan stunting dan pola asuh yang tepat. Selain itu, seminar ini dirancang untuk mendorong kolaborasi aktif antara akademisi dan masyarakat desa. Materi pertama seminar menghadirkan Ibu Inu Martina S.ST., M.Si, dosen keperawatan dari Universitas Kepanjen sebagai pemateri bidang kesehatan stunting. Beliau menyampaikan pentingnya memperhatikan asupan gizi sejak kehamilan hingga usia lima tahun. Para kader posyandu diajak memahami tanda-tanda risiko stunting agar dapat melakukan deteksi dini. Materi disampaikan secara komunikatif sehingga mudah dipahami oleh peserta. Kehadiran narasumber ahli ini semakin memperkuat keyakinan kader pada pentingnya penanganan masalah stunting. Dalam pemaparannya, Ibu Inu Martina menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan. Kondisi ini dapat berdampak pada kemampuan belajar anak dan perkembangan kecerdasan di masa depan. Ia menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai dari rumah melalui kebiasaan makan yang sehat dan terpantau. Posyandu diharapkan menjadi sarana utama memantau tumbuh kembang balita secara berkala. Penjelasan mendalam ini membuka wawasan baru bagi para kader yang hadir. Narasumber juga menyoroti peran ibu hamil sebagai sasaran penting edukasi posyandu. Menurutnya, status gizi calon ibu sangat menentukan kualitas pertumbuhan janin. Asupan nutrisi yang kurang dapat memicu risiko bayi lahir dengan kondisi rentan stunting. Karena itu, kader diharapkan aktif memberikan penyuluhan pada masyarakat, terutama melalui pemeriksaan rutin. Penguatan peran posyandu menjadi kunci dalam pencegahan dini stunting di desa. Selain materi stunting, seminar menghadirkan Dr. Hj. Rofiqoh, M.Pd., CHt, dosen Psikologi UIN Malang sebagai pemateri parenting. Beliau menjelaskan bahwa pola asuh yang tepat sangat berpengaruh pada perkembangan emosi dan mental anak. Parenting tidak hanya terkait kebutuhan fisik, tetapi juga melibatkan perhatian, komunikasi, dan kedekatan emosional. Dr. Rofiqoh memberikan contoh-contoh nyata tantangan pola asuh di lingkungan pedesaan. Materi disampaikan secara inspiratif dan interaktif agar mudah diikuti peserta. Dr. Rofiqoh mengajak kader memahami bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Anak yang mendapatkan pendampingan penuh sejak dini cenderung memiliki daya saing lebih tinggi ketika dewasa. Beliau juga menyoroti pentingnya mengurangi pola asuh keras dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih humanis. Parenting yang baik turut mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Peserta terlihat antusias menyimak materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam sesi diskusi, para kader posyandu aktif berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi di lapangan. Mereka menanyakan berbagai kondisi berbeda yang kerap terjadi pada balita dan keluarga binaan. Narasumber menjawab setiap pertanyaan dengan rinci dan memberikan panduan yang aplikatif. Suasana seminar menjadi sangat hidup karena interaksi dua arah berlangsung intensif. Mahasiswa KKM 30 turut mendampingi proses diskusi dan mencatat poin penting yang muncul. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari aparat pemerintah desa yang hadir. Kepala desa menyampaikan bahwa edukasi kesehatan seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat Karanganyar. Ia menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dilakukan serentak oleh semua elemen desa. Kehadiran narasumber profesional dan mahasiswa dianggap mampu memperluas wawasan kader. Pemerintah desa berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan di masa mendatang. Para mahasiswa KKM 30 mengaku bangga bisa berperan langsung dalam pemberdayaan masyarakat. Mereka memandang kegiatan ini sebagai bentuk penerapan ilmu di dunia nyata melalui pengabdian. Mahasiswa berharap kader posyandu dapat menjadi agen perubahan yang aktif di desa. Mereka juga berencana mendampingi kader secara berkelanjutan selama masa pengabdian. Program ini menjadi bagian dari komitmen mahasiswa mendukung perbaikan kualitas hidup masyarakat. Seminar ditutup dengan penyerahan sertifikat dan foto bersama seluruh peserta dan narasumber. Mahasiswa memberikan modul rangkuman materi agar kader dapat mengulangi dan menyebarkan informasi kepada warga. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal menciptakan Karanganyar bebas stunting. Sinergi mahasiswa, dosen ahli, kader posyandu, dan pemerintah desa menjadi kekuatan utama dalam perubahan ini. Dengan pengetahuan baru, kader semakin siap menjadi garda terdepan menjaga tumbuh kembang generasi muda desa.
HANA DWI QOLISYAH
Foto kolase ini merupakan potongan cerita selama KKM kami bersama calon jamaah haji (CJH) yaitu Bapak Solikhudin dan Ibu Djubaidah. Dari kegiatan kesehatan hingga momen-momen sederhana bersama kelompok kami, semuanya menjadi pengalaman yang berkesan. KKM mengajarkanku bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam hal besar, tetapi sering kali tumbuh dari kepedulian kecil yang dilakukan dengan tulus. Kami melakukan jalan pagi bersama calon jamaah haji sebagai latihan agar mereka terbiasa berjalan kaki dan siap menghadapi aktivitas fisik di Tanah Suci. Selain itu, kami juga mengadakan pemeriksaan kesehatan sederhana serta edukasi melalui video dan poster tentang pola hidup sehat dan kepatuhan minum obat. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan dengan suasana santai dan penuh kehangatan. Yang paling membekas adalah sikap Bapak dan Ibu calon jamaah haji yang begitu ramah dan terbuka. Kami diterima dengan hangat, bahkan diperlakukan seperti anak sendiri. Tak hanya itu, keluarga besar mereka pun menganggap kami sebagai bagian dari keluarga dan menerima kami dengan sangat baik. Rasa nyaman, kebersamaan, dan kekeluargaan inilah yang membuat setiap kegiatan terasa lebih bermakna. Pada akhirnya, KKM ini bukan hanya tentang program kerja yang kami jalankan, tetapi tentang ikatan yang terbangun. Foto ini menjadi pengingat bahwa di tempat yang awalnya terasa asing, kami justru menemukan keluarga baru, dan membawa pulang pelajaran berharga tentang empati, kebersamaan, dan arti pulang yang sesungguhnya.
INTAN NUR FAUZIAH SAPUTRI
JOMBANG — Adanya penguatan kesehatan mental di lingkungan pesantren sangat diperlukan mengingat tidak hanya di lembaga umum saja melainkan di Pesantren ternyata juga diperlukan. Dalam upaya tersebut maka Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) unggulan fakultatif Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Aksara 255, menyelenggarakan kegiatan Psikoedukasi Santri dengan judul "Psycotalk: Ruang Empati 2026" sebagai bentuk pendampingan psikologis bagi santri putri Pondok Pesantren Tebuireng, Kamis (29/1/2026) malam. Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB ini berlangsung khidmat dan interaktif di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng Putri. Kegiatan Psikoedukasi ini sengaja dirancang sebagai ruang dialog terbuka yang aman dan suportif bagi santri untuk memahami isu kesehatan mental agar dapat mengenali emosi diri serta membangun empati dalam kehidupan sehari-hari di pesantren. Dimana program ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa KKM ryang menitikberatkan pada penguatan aspek psikologis dan kesejahteraan emosional santri. Dalam pemaparannya, tim KKM Unggulan Fakultas Psikologi UIN Malang Aksara menyampaikan materi psikoedukasi yang relevan dengan kehidupan santri, mulai dari pengenalan emosi, manajemen stres hingga pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah rutinitas pendidikan dan aktivitas keagamaan yang padat. Bahkan materi disampaikan dengan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami sehingga santri dapat mengikuti kegiatan dengan antusias. Tidak hanya berhenti pada penyampaian materi akan tetapi kegiatan "Psycotalk: Ruang Empati 2026" ini juga menghadirkan sesi konseling dan pendampingan. Sesi ini memberikan kesempatan bagi santri untuk menyampaikan keluh kesah, perasaan, maupun permasalahan yang selama ini mungkin sulit diungkapkan. Sehingga melalui pendekatan empatik dan non-judgmental maka santri Pondok Pesantren Tebuireng diajak untuk mengenali diri sendiri serta menemukan cara-cara sehat dalam menghadapi tekanan emosional. Kegiatan ini merupakan wujud dari salah satu proker besar KKM Aksara yang mana dari Abah Hj. Lukman selaku mudir Pondok pesantren Tebuireng menjelaskan bahwa diharapkan kegiatan ini lahir dari hasil observasi dan dialog awal dengan lingkungan pesantren. “Kami melihat pentingnya ruang aman bagi santri untuk berbicara tentang perasaan dan kondisi mental mereka. Pesantren tidak hanya mendidik aspek intelektual dan spiritual akan tetapi juga perlu sering berkomunikasi dengan santri agar dapat memperhatikan kesehatan mental santri,” ungkapnya. Adapun kegiatan Psikoedukasi ini memberikan respon positif terlihat dari antusiasme para santri putri yang mengikuti kegiatan hingga selesai. Banyak santri yang aktif bertanya, berbagi pengalaman, serta mengikuti sesi konseling dengan penuh keterbukaan. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan edukasi kesehatan mental di lingkungan pesantren semakin relevan dan mendesak. Ditambahi pihak pesantren Tebuireng khususnya Putri Usatdzah Dian menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Kehadiran Psycotalk yang dinilai mampu menjadi sarana pendukung dalam membentuk pribadi santri yang tidak hanya kuat secara spiritual, akan tetapi juga tangguh secara mental dan emosional. Lingkungan pesantren yang sehat secara psikologis diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif dan harmonis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa melalui kegiatan ini nantinya KKM Aksara 255 berharap santri putri Pondok Pesantren Tebuireng memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental. Serta diharapkan mampu menumbuhkan empati terhadap sesama, membangun komunikasi yang sehat, serta mengembangkan ketahanan diri dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Jombang, 31 Januari 2026 Ditulis Oleh: KKM Unggulan Fakultas Psikologi UIN Malang