Thumbnail
8 months ago
Menanam Makna dalam Pengabdian: Menyatu dan Belajar Bersama di Desa Sukarara

AHSANA NADIA

Sukarara, Lombok Tengah, Pengabdian mahasiswa melalui Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Mandiri di Desa Sukarara menjadi ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga pada proses membersamai masyarakat. Berangkat dari niat mengabdi, mahasiswa justru menemukan banyak pelajaran tentang sikap, nilai kebersamaan, dan cara memaknai peran sebagai pendatang di tengah kehidupan desa.   Kehangatan Warga dalam Menyambut Kedatangan   Berlokasi di Dusun Lendang, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, kehadiran mahasiswa disambut dengan keterbukaan dan kehangatan warga. Jamuan sederhana khas desa menjadi simbol penerimaan, sekaligus gambaran kuat tentang budaya memuliakan tamu yang masih terjaga. Dari awal kedatangan, interaksi yang baik penuh keramahan mengawali keberlangsungan seluruh program pengabdian. Pendekatan kepada warga menjadi langkah awal yang ditempuh melalui malam tahun baru bersama warga, yang dikemas dalam suasana kebersamaan dan dzikir. Antusiasme warga terlihat nyata, mulai dari keterlibatan sejak persiapan hingga partisipasi penuh saat pelaksanaan melebihi ekspektasi yang ada. Mereka menyumbangkan beberapa ekor ayam, ikan, serta tempat yang diusahakan untuk membantu memeriahkan. Tak ini membuat kita kembali belajar bahwa untuk membantu dan berbagi tak perlu menunggu memiliki lebih, sebab apapun itu pasti berharga dan berarti.   Pendekatan Edukatif pada Remaja dan Anak-Anak   Pada bidang pendidikan, mahasiswa KKM Mandiri melaksanakan psikoedukasi di SMPN 4 Jonggat dengan tema "Healthy Relationship". Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada remaja mengenai relasi yang sehat, komunikasi yang bertanggung jawab, serta pentingnya kesiapan emosional dan psikologis. Melalui pendekatan edukatif, program ini diharapkan dapat menjadi upaya preventif dalam meminimalisir pernikahan dini, ataupun toxic relationship di berbagai lingkungan.  Nilai keagamaan dan kebersamaan turut diperkuat melalui peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang melibatkan anak-anak tingkat sekolah dasar dan warga Dusun Lendang. Berbagai perlombaan bernuansa islami menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mempererat hubungan antarwarga lintas usia. Momentum ini tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga ruang tumbuhnya semangat kebersamaan dalam suasana religius. Komitmen terhadap pendidikan keagamaan diwujudkan melalui pembelajaran Al-Qur’an dan kajian fiqih dasar di TPQ Masjid Nurul Hidayah. Kami turut mendampingi kegiatan mengaji serta memastikan materi fiqih dapat diakses secara berkelanjutan melalui buku kajian fiqih dasar yang telah dicetak dan ditempatkan di masjid. Keberadaan bahan kajian ini diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh anak-anak dan masyarakat setempat.   Kebersamaan dan Proses Belajar Bersama   Sepanjang proses pengabdian, mahasiswa juga dihadapkan pada dinamika sosial yang menuntut sikap saling memahami dan menghargai. Ketika kegiatan tidak selalu berjalan sesuai rencana, komunikasi membantu dalam menemukan pemahaman. Dari situ, pengabdian dimaknai bukan hanya sebagai pelaksanaan program, tetapi juga sebagai latihan kesabaran, empati, dan kedewasaan dalam bersikap. Kebersamaan yang terjalin hingga momen penutupan menjadi penegas bahwa kehadiran mahasiswa bukan sekadar singgah, melainkan bagian dari proses saling belajar. Pengalaman di Desa Sukarara meninggalkan kesan mendalam bukan karena betapa sempurnanya atau betapa berdampaknya kita, tapi karena betapa berharganya pelajaran yang kita terima, dan makna pengabdian yang sesungguhnya.

Thumbnail
8 months ago
Program Konseling Sebaya di Pondok Pesantren An-Najiyah 2 Bahrul Ulum

TIKO DEWI AYUMI

  Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Unggulan Fakultatif Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang telah melaksanakan program konseling sebaya di Pondok Pesantren An-Najiyah 2 dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2, Tambakberas, Jombang. Program kerja ini menjadi salah satu bentuk penerapan keilmuan psikologi secara langsung di lingkungan pesantren. Mahasiswa KKM berupaya menghadirkan layanan konseling sebaya yang menjadi ruang aman dan mudah diakses bagi para santri yang ingin berbagi cerita. Program konseling sebaya merupakan layanan pendampingan psikologis yang dilakukan oleh mahasiswa KKM sebagai konselor sebaya. Layanan ini memberikan kesempatan kepada para santri untuk berbagai cerita, keluh kesah, dan permasalahan pribadi lainnya secara terbuka. Mahasiswa KKM sebagai konselor berusaha memberikan ruang aman bagi para santri (klien) tanpa menghakimi selama proses konseling berlangsung. Hal ini sebagai upaya agar santri merasa aman, nyaman, dan merasa bahwa mereka dipahami. Pelaksanaan konseling sebaya mendapatkan respons positif di para santri. Hal ini terlihat dari antusiasme minat yang tinggi santri untuk mengakses layanan konseling sebaik-baiknya. Banyak santri yang secara sukarela mengikuti sesi konseling dan berusaha terbuka saat berbagi cerita dan permasalahan. Hal ini menunjukkan bahwa program konseling sebaya mampu menjawab kebutuhan santri akan ruang untuk mereka berbagi cerita. Latar belakang dilakukan konseling sebaya Program konseling sebaya dilatarbelakangi oleh kebutuhan santri untuk memperoleh dukungan emosional dalam berbagi cerita atau permasalahan. Santri seringkali menghadapi berbagai tekanan, baik tekanan akademik, sosial, maupun personal, namun mereka tidak selalu memiliki tempat yang memadai untuk mengekspresikan perasaan dan kebingungan yang dialami.  Selain itu, latar belakang pelaksanaan konseling sebaya juga diperkuat oleh hasil program kerja sebelumnya, yaitu Sharing Session. Dari kegiatan tersebut, ditemukan bahwa banyak santri yang mengalami kebingungan terkait masa depan, seperti perencanaan pendidikan selanjutnya, perkuliahan, pilihan karir, serta permasalahan pertemanan. Temuan ini menunjukkan adanya urgensi untuk menghadirkan layanan pendampingan yang pada hal ini telah mahasiswa KKM realisasikan dalam bentuk konseling sebaya.  Pelaksanaan konseling sebaya Program konseling sebaya dilaksanakan selama tiga pekan, yakni mulai tanggal 8 hingga 26 Januari 2026. Program ini dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren An-Najiyah 2 untuk santri putra dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2 untuk santri putri. Pembagian lokasi tersebut dilakukan agar seluruh santri memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses layanan konseling. Menyesuaikan dengan padatnya jadwal kegiatan pesantren, layanan konseling dilaksanakan secara terjadwal sebanyak dua kali dalam satu minggu, yaitu pada Senin malam dan Kamis malam. Jadwal konseling untuk santri putra dijadwalkan pada 21.00 - 23.00, sedangkan untuk santri putri dijadwalkan pada pukul 20.00 - 22.00. Setiap jadwal konseling dilayani oleh tiga konselor, baik untuk santri putra maupun santri putri. Dalam pelaksanaannya, setiap sesi konseling berlangsung dengan durasi maksimal 60 menit untuk setiap klien. Apabila sesi konseling selesai sebelum batas waktu tersebut, konselor dapat melanjutkan sesi dengan klien berikutnya. Pengaturan durasi yang fleksibel ini memungkinkan layanan konseling menjangkau lebih banyak santri tanpa mengurangi kualitas konseling, sekaligus memastikan bahwa proses konseling tetap berlangsung secara efektif. Hasil permasalahan secara umum Pelaksanaan program konseling sebaya menunjukkan adanya berbagai permasalahan yang dialami santri. Selama periode pelaksanaan program, tercatat kurang lebih 70 santri yang sudah mengakses layanan konseling sebaya dan secara aktif memanfaatkan sesi konseling yang disediakan. Berdasarkan hasil pendampingan selama proses konseling, permasalahan yang paling banyak muncul berkaitan dengan aspek akademik dan perencanaan karir masa depan. Dalam banyak kasus, permasalahan ini juga berkaitan dengan dinamika keluarga. Sejumlah santri mengungkapkan kebingungan dalam menentukan arah pendidikan selanjutnya, seperti pilihan jurusan dan rencana melanjutkan pendidikan. Sementara di sisi lain mereka juga menghadapi tuntutan atau harapan tertentu dari keluarga yang tidak selalu sejalan dengan keinginan pribadi. Selain permasalahan yang berkaitan dengan aspek akademik dan dinamika keluarga, konflik pertemanan serta proses pencarian jati diri juga menjadi permasalahan yang cukup sering muncul dalam sesi konseling sebaya. Permasalahan-permasalahan tersebut menunjukkan bahwa santri menghadapi berbagai tekanan dalam proses perkembangan diri mereka dan membutuhkan dukungan untuk mengelola masalah yang dihadapi. Melalui konseling sebaya, santri mendapatkan ruang untuk memahami permasalahan yang dialami, mengekspresikan perasaan, serta mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih tepat dalam menyikapi berbagai permasalahan tersebut.  Penutup mencakup Melalui pelaksanaan program konseling sebaya ini, mahasiswa KKM Unggulan Fakultatif Psikologi UIN Malang berharap layanan konseling serupa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan di lingkungan pesantren. Konseling sebaya diharapkan dapat berkelanjutan menjadi ruang bagi santri untuk berbagi cerita dan mengelola permasalahan yang dihadapi, khususnya terkait aspek akademik, perencanaan masa depan, serta dinamika sosial dan keluarga. Selain itu, mahasiswa KKM juga berharap kerjasama ini bisa terus berlanjut antara pihak pesantren dan perguruan tinggi, terutama untuk menghadirkan program-program yang lebih fokus pada kesehatan mental santri. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak dan keberlanjutan program konseling sebaya, kegiatan ini diharapkan tidak hanya berhenti saat masa KKM berlangsung., tetapi dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pesantren yang lebih peduli terhadap kesejahteraan psikologis santri. Kehadiran konseling sebaya ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan ruang yang aman dan suportif bagi santri untuk didengarkan serta didampingi dalam menghadapi berbagai permasalahan yang mereka alami.  

Thumbnail
8 months ago
“Gaul Asik Tanpa Toxic: Sosialisasi Anti Bullying di Kelas IX MTs Hidayatul Mubtadi'in Tasikmadu Oleh KKM Kelompok 120 UIN Malang”

ANDIKA

Pergaulan di lingkungan sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman dan menyenangkan bagi setiap siswa. Namun, dalam praktiknya, masih banyak perilaku yang dianggap sebagai candaan, tetapi sebenarnya dapat melukai perasaan orang lain. Ejekan, julukan buruk, hingga pengucilan sering kali terjadi tanpa disadari dan perlahan membentuk budaya yang tidak sehat di lingkungan sekolah.   

Thumbnail
8 months ago

EMI ZULFATUR ROIFAH

Thumbnail
8 months ago
Penanaman tosa ( Tanaman Obat Sekolah) oleh Mahasiswa Kkm UIN Malang

DIVA MAYLANA SURYA

Wagir, Malang - Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang bertugas di SMP Sunan Giri melaksanakan salah satu program kerja bidang lingkungan, yaitu kegiatan penanaman Tanaman Obat Sekolah (TOGA) yang disertai dengan pelabelan nama latin dan manfaat tanaman. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa KKM dalam mendukung penguatan Program Adiwiyata serta pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran. Kegiatan penanaman TOGA dilaksanakan di area lingkungan sekolah yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan kondisi lahan yang tersedia. Berbagai jenis tanaman obat ditanam dalam pot dan lahan terbatas, sehingga mudah dirawat dan dimanfaatkan. Tanaman yang dipilih merupakan tanaman obat yang umum dijumpai dan memiliki manfaat kesehatan, sehingga relevan untuk dikenalkan kepada siswa dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai bagian dari nilai edukatif kegiatan, mahasiswa KKM juga melakukan pelabelan tanaman yang memuat informasi nama lokal, nama latin, serta manfaat tanaman obat. Pelabelan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai jenis tanaman obat dari sisi ilmiah dan fungsional. Dengan adanya label tersebut, area tanaman obat sekolah tidak hanya berfungsi sebagai penghijauan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran berbasis literasi lingkungan dan kesehatan. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan kader Adiwiyata SMP Sunan Giri yang berperan aktif dalam proses penanaman dan penataan tanaman. Keterlibatan kader Adiwiyata menjadi bagian dari pembinaan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekolah serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam merawat tanaman secara berkelanjutan. Kolaborasi antara mahasiswa KKM dan kader Adiwiyata diharapkan dapat memperkuat budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah. Program kerja penanaman TOGA ini sejalan dengan komitmen SMP Sunan Giri sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi, khususnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan sekolah secara edukatif dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM turut mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang hijau, sehat, dan informatif, sekaligus memberikan pengalaman belajar langsung bagi siswa. Diharapkan, hasil dari program kerja ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh warga sekolah. Tanaman obat yang telah ditanam dan diberi label edukatif diharapkan terus dirawat dan dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran lingkungan hidup serta penguatan karakter peduli lingkungan di SMP Sunan Giri.

Thumbnail
8 months ago
KKM Unggulan Fakultatif UIN Malang Gelar Konseling Sebaya di Pondok Pesantren An-Najiyah 2

ZAERICHO LEODIKISWARI

Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Unggulan Fakultatif Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang telah melaksanakan program konseling sebaya di Pondok Pesantren An-Najiyah 2 dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2, Tambakberas, Jombang. Program kerja ini menjadi salah satu bentuk penerapan keilmuan psikologi secara langsung di lingkungan pesantren. Mahasiswa KKM berupaya menghadirkan layanan konseling sebaya yang menjadi ruang aman dan mudah diakses bagi para santri yang ingin berbagi cerita. Program konseling sebaya sendiri merupakan layanan pendampingan psikologis yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai konselor sebaya. Layanan ini memberikan kesempatan kepada para santri untuk berbagai cerita, keluh kesah, dan permasalahan pribadi lainnya secara terbuka. Mahasiswa KKM sebagai konselor berusaha memberikan ruang aman bagi para santri (klien) tanpa menghakimi selama proses konseling berlangsung. Hal ini sebagai upaya agar santri merasa aman, nyaman, dan merasa bahwa mereka dipahami. Pelaksanaan konseling sebaya mendapatkan respons positif di para santri. Hal ini terlihat dari antusiasme minat yang tinggi santri untuk mengakses layanan konseling sebaik-baiknya. Banyak santri yang secara sukarela mengikuti sesi konseling dan berusaha terbuka saat berbagi cerita dan permasalahan. Hal ini menunjukkan bahwa program konseling sebaya mampu menjawab kebutuhan santri akan ruang untuk mereka berbagi cerita. Latar belakang dilakukan konseling sebaya Program konseling sebaya dilatarbelakangi oleh kebutuhan santri untuk memperoleh dukungan emosional dalam berbagi cerita atau permasalahan. Santri seringkali menghadapi berbagai tekanan, baik tekanan akademik, sosial, maupun personal, namun mereka tidak selalu memiliki tempat yang memadai untuk mengekspresikan perasaan dan kebingungan yang dialami.  Selain itu, latar belakang pelaksanaan konseling sebaya juga diperkuat oleh hasil program kerja sebelumnya, yaitu Sharing Session. Dari kegiatan tersebut, ditemukan bahwa banyak santri yang mengalami kebingungan terkait masa depan, seperti perencanaan pendidikan selanjutnya, perkuliahan, pilihan karir, serta permasalahan pertemanan. Temuan ini menunjukkan adanya urgensi untuk menghadirkan layanan pendampingan yang pada hal ini telah mahasiswa KKM realisasikan dalam bentuk konseling sebaya.  Teknis pelaksanaan konseling sebaya Program konseling sebaya dilaksanakan selama tiga pekan, yakni mulai tanggal 8 hingga 26 Januari 2026. Program ini dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren An-Najiyah 2 untuk santri putra dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2 untuk santri putri. Pembagian lokasi tersebut dilakukan agar seluruh santri memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses layanan konseling.   Menyesuaikan dengan padatnya jadwal kegiatan pesantren, layanan konseling dilaksanakan secara terjadwal sebanyak dua kali dalam satu minggu, yaitu pada Senin malam dan Kamis malam. Jadwal konseling untuk santri putra dijadwalkan pada 21.00 - 23.00, sedangkan untuk santri putri dijadwalkan pada pukul 20.00 - 22.00. Setiap jadwal konseling dilayani oleh tiga konselor, baik untuk santri putra maupun santri putri. Dalam pelaksanaannya, setiap sesi konseling berlangsung dengan durasi maksimal 60 menit untuk setiap klien. Apabila sesi konseling selesai sebelum batas waktu tersebut, konselor dapat melanjutkan sesi dengan klien berikutnya. Pengaturan durasi yang fleksibel ini memungkinkan layanan konseling menjangkau lebih banyak santri tanpa mengurangi kualitas konseling, sekaligus memastikan bahwa proses konseling tetap berlangsung secara efektif. Pelaksanaan program konseling sebaya menunjukkan adanya berbagai permasalahan yang dialami santri. Selama periode pelaksanaan program, tercatat kurang lebih 70 santri yang sudah mengakses layanan konseling sebaya dan secara aktif memanfaatkan sesi konseling yang disediakan. Berdasarkan hasil pendampingan selama proses konseling, permasalahan yang paling banyak muncul berkaitan dengan aspek akademik dan perencanaan karir masa depan. Dalam banyak kasus, permasalahan ini juga berkaitan dengan dinamika keluarga. Sejumlah santri mengungkapkan kebingungan dalam menentukan arah pendidikan selanjutnya, seperti pilihan jurusan dan rencana melanjutkan pendidikan. Sementara di sisi lain mereka juga menghadapi tuntutan atau harapan tertentu dari keluarga yang tidak selalu sejalan dengan keinginan pribadi. Selain permasalahan yang berkaitan dengan aspek akademik dan dinamika keluarga, konflik pertemanan serta proses pencarian jati diri juga menjadi permasalahan yang cukup sering muncul dalam sesi konseling sebaya. Permasalahan-permasalahan tersebut menunjukkan bahwa santri menghadapi berbagai tekanan dalam proses perkembangan diri mereka dan membutuhkan dukungan untuk mengelola masalah yang dihadapi. Melalui konseling sebaya, santri mendapatkan ruang untuk memahami permasalahan yang dialami, mengekspresikan perasaan, serta mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih tepat dalam menyikapi berbagai permasalahan tersebut.  Melalui pelaksanaan program konseling sebaya ini, mahasiswa KKM Unggulan Fakultatif Psikologi UIN Malang berharap layanan konseling serupa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan di lingkungan pesantren. Konseling sebaya diharapkan dapat berkelanjutan menjadi ruang bagi santri untuk berbagi cerita dan mengelola permasalahan yang dihadapi, khususnya terkait aspek akademik, perencanaan masa depan, serta dinamika sosial dan keluarga. Selain itu, mahasiswa KKM juga berharap kerjasama ini bisa terus berlanjut antara pihak pesantren dan perguruan tinggi, terutama untuk menghadirkan program-program yang lebih fokus pada kesehatan mental santri. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak dan keberlanjutan program konseling sebaya, kegiatan ini diharapkan tidak hanya berhenti saat masa KKM berlangsung., tetapi dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pesantren yang lebih peduli terhadap kesejahteraan psikologis santri. Kehadiran konseling sebaya ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan ruang yang aman dan suportif bagi santri untuk didengarkan serta didampingi dalam menghadapi berbagai permasalahan yang mereka alami.