Thumbnail
3 months ago
Kehangatan Kekeluargaan dalam Pelaksanaan Edukasi Kesehatan Calon Jamaah Haji melalui Media Video dan Kegiatan Jalan Pagi

MASYAYU MAYSA AZ ZAHRA

Selama pelaksanaan KKM, pengalaman yang paling berkesan adalah kunjungan ke-2, pada tanggal 3 Januari 2026. Pada kunjungan tersebut, kami (saya dan rekan-rekan kelompok) bersama Ibu Demi dan Bapak Sugeng (CJH) melaksanakan kegiatan jalan kaki pagi dan memberikan edukasi video. Setibanya di rumah, Bapak dan Ibu CJH menyambut kami dengan sangat ramah dan hangat, layaknya keluarga sendiri. Kami juga disuguhi sarapan nasi jagung pecel yang sederhana, kerupuk, buah pisang, dan air putih. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan jalan kaki pagi sejauh kurang lebih 3 km. Selama perjalanan, terlihat jelas semangat Bapak Sugeng dan IBu Demi yang tetap baik dan tidak memperlihatkan kelelahan, meskipun beliau telah berusia 62 tahun. Hal tersebut tak luput dari kegiatan sehari-hari Bapak Sugeng dan Ibu Demi yang mengelola sawah dan biasanya senam pagi satu minggu sekali. Tentunya menjadi motivasi tersendiri bagi kami dan mencerminkan pentingnya menjaga kebugaran fisik, terutama bagi CJH. Kegiatan jalan pagi tersebut semakin mempererat keakraban antara kami dengan Bapak dan Ibu CJH. Sepanjang perjalanan, kami saling berbincang dengan hangat dan santai, membahas berbagai hal seputar kehidupan sehari-hari. Di sela-sela itu, kami juga menyisipkan edukasi kesehatan serta diskusi ringan mengenai aktivitas dan kondisi yang mungkin dihadapi saat pelaksanaan ibadah haji nanti. Suasana terasa sangat akrab dan penuh kekeluargaan, sehingga kegiatan berjalan dengan nyaman dan menyenangkan. Setelah selesai jalan pagi, kami kembali ke rumah Bapak dan Ibu CJH dan beristirahat selama kurang lebih 15–20 menit. Pada waktu tersebut, kami melanjutkan obrolan sekaligus memberikan tayangan video edukasi kesehatan. Video tersebut berisi pengetahuan singkat mengenai kondisi cuaca di Makkah dan Madinah, serta berbagai risiko masalah kesehatan yang dapat muncul, seperti gejala hipertensi, diabetes, asam urat, kolesterol, dan heat stroke. Selain itu, disampaikan pula cara penanganan dan pengendalian kondisi tersebut, serta beberapa keringanan dalam pelaksanaan ibadah haji apabila jamaah mengalami masalah kesehatan. Bapak dan Ibu CJH terlihat menyimak video dengan baik, memahami materi yang disampaikan, serta aktif mengajukan pertanyaan. Antusiasme tersebut ditunjukkan dengan komunikasi dua arah yang sangat positif dan akrab. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan, meliputi pengecekan tekanan darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, kami pun berpamitan untuk pulang. Selama kunjungan, Bapak Sugeng juga kerap melontarkan candaan ringan bersama Ibu Demi, yang memperlihatkan kasih sayang dan keharmonisan di antara keduanya. Hal ini membuat kami benar-benar merasakan kehangatan suasana keluarga yang kami rindukan diperantauan. Ibu Demi pun menunjukkan sikap yang sangat penuh perhatian dan keibuan. Meskipun baru merupakan kunjungan kedua, kami sudah dianggap seperti anak sendiri. Pada setiap kunjungan, Bapak dan Ibu CJH selalu menyambut kami dengan baik, hangat, dan penuh semangat, serta menerima setiap edukasi yang diberikan dengan terbuka dan penuh pemahaman. Sejujurnya, seluruh kegiatan KKM selama ini, kunjungan ke rumah Bapak Sugeng dan Ibu Demi menjadi momen yang berkesan dan tidak terlupakan. 

Thumbnail
3 months ago
Jejak Pengabdian KKM 41 UIN Malang di Desa Gubugklakah

MUHAMAD KHARIS IHSAN

daya tarik usaha, memperkuat identitas UMKM lokal, serta mendorong peningkatan kunjungan dan penjualan. Melalui pendampingan sederhana namun tepat sasaran, mahasiswa berupaya mendukung pengembangan ekonomi Desa Gubugklakah agar potensi wisata yang telah ada dapat tumbuh secara lebih optimal dan berkelanjutan.   Pada aspek budaya, mahasiswa turut mendukung pelestarian adat Barikan, tradisi leluhur masyarakat Tengger yang dilaksanakan secara rutin setiap tiga bulan sekali di punden desa. Selain itu, kolaborasi strategis dilakukan bersama komunitas Lampahklakah dalam penyusunan Kamus Bahasa Tengger. Inisiatif ini menjadi langkah nyata pelestarian bahasa ibu sebagai identitas budaya sekaligus kontribusi literasi yang bernilai akademik dan sosial.       Di bidang pelayanan publik dan teknologi, Kelompok 41 KKM UIN Malang mengembangkan sistem pembayaran air bersih desa berbasis web. Digitalisasi ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas layanan air bersih, sekaligus menjadi langkah awal transformasi digital desa. Mahasiswa juga melaksanakan piket rutin di Balai Desa Gubugklakah untuk membantu administrasi dan pelayanan masyarakat, serta terlibat dalam penyambutan kunjungan Wakil Gubernur Kabupaten Malang dalam rangka pengembangan potensi pertanian desa.   Seluruh dinamika kehidupan masyarakat Desa Gubugklakah kemudian dirangkum dalam film dokumenter berjudul “Di Bawah Langit Gubugklakah”. Film ini merekam potret desa dari aspek budaya, religius, pertanian, pariwisata, pendidikan, hingga sejarah sebagai upaya dokumentasi dan pelestarian kearifan lokal.   Rangkaian pengabdian ditutup dengan Pentas Seni Penutupan dan Perpisahan Kelompok 41 KKM UIN Malang Aksara Vardhana. Acara ini menjadi ruang ekspresi budaya, apresiasi masyarakat, serta simbol penutup kebersamaan yang telah terjalin selama masa KKM.   Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan bahwa pengabdian bukan sekadar pelaksanaan program, melainkan proses merawat hubungan, menumbuhkan kesadaran, dan meninggalkan jejak kebermanfaatan yang berkelanjutan. Desa Gubugklakah tidak hanya menjadi tempat mengabdi, tetapi juga ruang belajar yang mengajarkan makna kemanusiaan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial.

Thumbnail
3 months ago
Posyandu sebagai Ruang Kepedulian Kesehatan Masyarakat di RW 09 Pandanwangi

RABI` ATUL ADAWIYAH

Pelaksanaan kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan salah satu bentuk nyata kepedulian masyarakat terhadap kesehatan anak dan ibu. Kegiatan ini kembali dilaksanakan di RW 09, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, dengan antusiasme warga yang cukup tinggi, khususnya para ibu, balita, dan lansia. Kegiatan posyandu ini menjadi agenda rutin yang bertujuan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan balita, memberikan pelayanan kesehatan dasar, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan sejak usia dini.  Layanan yang diberikan meliputi penimbangan balita, pengukuran tinggi badan, pemberian vitamin, serta konsultasi kesehatan dengan kader Posyandu. Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Arunika Nusa Kelompok 5 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa KKM tidak hanya membantu kelancaran kegiatan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran langsung mengenai kondisi kesehatan masyarakat di lingkungan sekitar. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM membantu proses pendataan balita, mendampingi ibu-ibu selama kegiatan berlangsung, serta ikut menjaga ketertiban dan kenyamanan selama Posyandu berlangsung. Interaksi yang terjalin antara mahasiswa, kader Posyandu, dan warga menciptakan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan. Melalui kegiatan Posyandu ini, diharapkan kesadaran masyarakat RW 09 terhadap pentingnya kesehatan ibu dan anak semakin meningkat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa kolaborasi antara masyarakat dan mahasiswa KKM mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Kegiatan Posyandu di RW 09 Kelurahan Pandanwangi tidak hanya menjadi wadah pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi ruang sosial yang mempererat hubungan antarwarga. Mahasiswa KKM Arunika Nusa Kelompok 5 UIN Malang berharap kegiatan semacam ini dapat terus berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.

Thumbnail
3 months ago
Menggerakkan Potensi Lokal: KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh dengan Pendekatan ABCD

ANNISA AFRIDAYANTI

Pembangunan desa selama ini masih sering dipahami dari sudut pandang kekurangan. Desa kerap digambarkan sebagai wilayah dengan fasilitas terbatas, sumber daya manusia yang belum optimal, serta keterbatasan akses terhadap program pemberdayaan dan peluang ekonomi. Cara pandang tersebut secara tidak langsung menempatkan desa sebagai objek pembangunan yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Akibatnya, potensi yang sebenarnya telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat sering kali luput dari perhatian. Padahal, setiap desa memiliki kekuatan lokal yang lahir dari aktivitas warganya sehari-hari, hubungan sosial yang terjalin, lembaga-lembaga komunitas yang terus berjalan, serta berbagai bentuk usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri. Potensi tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk fasilitas fisik yang besar, melainkan tersimpan dalam keterampilan warga, kebiasaan gotong royong, semangat belajar anak-anak, kepedulian keluarga terhadap kesehatan, serta kreativitas pelaku usaha lokal. Apabila potensi ini dikenali, dipetakan, dan dikembangkan secara bersama, desa memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk membangun kesejahteraan warganya secara berkelanjutan. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, memperlihatkan bahwa pembangunan berbasis potensi lokal dapat diwujudkan melalui pendekatan yang tepat. Melalui kerangka Asset Based Community Development (ABCD) yang dikembangkan oleh LP2M, mahasiswa hadir bukan untuk membawa program siap pakai, melainkan memfasilitasi proses pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki desa. Pendekatan ABCD memandang masyarakat sebagai pemilik utama sumber daya dan pengetahuan lokal. Dalam praktiknya, mahasiswa KKM berperan sebagai mitra dan fasilitator yang membantu warga menggali potensi, menghubungkan antar kelompok masyarakat, serta mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor desa. Proses ini diawali dengan pengenalan kondisi desa, interaksi langsung dengan warga, diskusi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, pengelola lembaga pendidikan, kader posyandu, pemuda Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Melalui dialog dan keterlibatan langsung, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Desa Sengguruh memiliki banyak aset sosial, pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi yang dapat saling mendukung apabila dikelola secara terpadu. Pendidikan Anak dan TPQ sebagai Aset Sosial yang Hidup Salah satu aset penting yang dimiliki Desa Sengguruh adalah keberadaan lembaga pendidikan formal dan nonformal yang aktif dan mendapatkan dukungan masyarakat. Kegiatan asistensi mengajar yang dilaksanakan di SDN Sengguruh menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan kepercayaan diri anak-anak. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan praktik sederhana yang melibatkan siswa secara langsung. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan, berani bertanya, serta aktif menyampaikan pendapat. Respons positif ini menunjukkan bahwa minat belajar dan rasa ingin tahu anak-anak di Desa Sengguruh merupakan aset sosial yang sangat berharga. Selain di sekolah, kegiatan pendampingan juga dilaksanakan di TPQ Nurul Huda. TPQ berperan sebagai ruang pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan sikap disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab. Anak-anak mengikuti kegiatan mengaji dengan penuh semangat, sementara mahasiswa membantu dalam penguatan bacaan, hafalan, serta penyampaian nilai-nilai akhlak sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keberadaan SDN Sengguruh dan TPQ Nurul Huda memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan di desa tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara pembelajaran, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial anak-anak dan orang tua. Sekolah dan TPQ menjadi titik temu antara pendidik, keluarga, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak desa, lembaga pendidikan ini berpotensi menjadi pusat pengembangan generasi muda yang kreatif, berkarakter, religius, dan adaptif terhadap perubahan. Posyandu dan Edukasi Keluarga sebagai Aset Kesehatan yang Efektif Di bidang kesehatan, Desa Sengguruh memiliki jaringan posyandu yang aktif dan didukung oleh kader-kader yang berperan langsung dalam pelayanan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan posyandu selama empat hari menunjukkan tingginya partisipasi warga, khususnya ibu-ibu yang membawa balita untuk melakukan penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, serta konsultasi kesehatan. Selain pelayanan rutin, mahasiswa KKM turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi kesehatan dan edukasi parenting. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang mendukung perkembangan anak, pencegahan penyakit ringan di lingkungan keluarga, serta peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan emosional anak. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima. Posyandu di Desa Sengguruh tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan dasar, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi keluarga. Interaksi antara kader, mahasiswa, dan warga membentuk proses pertukaran pengetahuan yang sederhana namun bermakna. Melalui pendekatan ABCD, keberadaan kader posyandu, PKK, serta jaringan ibu-ibu desa dipandang sebagai aset sosial yang mampu menyebarluaskan informasi kesehatan secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah ada, edukasi kesehatan tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dapat diteruskan melalui pertemuan rutin, kegiatan PKK, dan interaksi informal antarwarga. Dampaknya dirasakan langsung oleh unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sebagai fondasi utama pembangunan kualitas sumber daya manusia desa. UMKM Lokal dan Penguatan Ekonomi Desa Desa Sengguruh memiliki potensi ekonomi lokal yang cukup beragam. Beberapa UMKM telah berjalan secara mandiri, seperti usaha batik, produksi keripik tempe, dan pembuatan sepatu. Usaha-usaha ini menunjukkan kemampuan warga dalam mengelola keterampilan, bahan lokal, dan jaringan pemasaran sederhana. Namun, salah satu aset ekonomi sekaligus budaya yang paling menonjol adalah Rumah Topeng Desa Sengguruh. Rumah Topeng tidak hanya berperan sebagai tempat produksi topeng tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya desa yang merepresentasikan nilai seni, sejarah, dan kearifan lokal. Keberadaan Rumah Topeng menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar desa, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Mahasiswa KKM mendampingi pengelola UMKM, khususnya Rumah Topeng, melalui kegiatan penataan ruang produksi, perbaikan tampilan visual, serta diskusi mengenai strategi promosi sederhana. Pendampingan ini menekankan bahwa penguatan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari perbaikan tata ruang, dokumentasi produk yang lebih menarik, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Melalui proses tersebut, pengelola UMKM memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya tampilan produk, cerita di balik produk lokal, serta potensi pasar yang dapat dijangkau secara lebih luas. Dengan dukungan berbasis aset dan kreativitas lokal, UMKM di Desa Sengguruh memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Kohesi Sosial dan Balai Desa sebagai Pusat Aktivitas Masyarakat Selain aset pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Desa Sengguruh juga memiliki kekuatan sosial yang tercermin melalui aktivitas pemuda dan keberfungsian balai desa. Kegiatan kerja bakti yang melibatkan pemuda Karang Taruna menjadi contoh nyata semangat gotong royong yang masih terjaga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang interaksi antarwarga lintas usia. Pemuda desa menunjukkan peran aktif dalam mendukung berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Keterlibatan mereka menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan program desa, sekaligus sebagai calon penggerak pembangunan desa di masa depan. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi berbagai kegiatan masyarakat. Berbagai program KKM, seperti sosialisasi kesehatan, pertemuan UMKM, diskusi bersama perangkat desa, hingga kegiatan komunitas pemuda, dilaksanakan di balai desa. Keberadaan balai desa sebagai ruang publik memungkinkan terbangunnya komunikasi yang terbuka, partisipasi warga, serta proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif. Pemanfaatan balai desa dan jejaring sosial yang telah terbentuk membuat setiap kegiatan saling terhubung dan berjalan lebih efektif. Rasa memiliki terhadap program desa pun semakin kuat, sehingga ketergantungan terhadap bantuan eksternal dapat secara perlahan dikurangi. ABCD sebagai Kerangka Pemberdayaan Desa Pendekatan ABCD dari LP2M menjadi landasan utama bagi KKM Reguler Kelompok 82 dalam merancang seluruh kegiatan di Desa Sengguruh. Fokus utama pendekatan ini adalah mengidentifikasi dan mengoptimalkan aset yang sudah ada, baik berupa aset individu, kelompok, lembaga, maupun fasilitas desa. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antar aset agar dapat saling mendukung. Edukasi parenting di posyandu dapat dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran karakter di sekolah dan TPQ. Promosi UMKM dan Rumah Topeng dapat terintegrasi dengan pemanfaatan balai desa sebagai pusat informasi dan ruang pamer. Kegiatan kerja bakti dan peran pemuda Karang Taruna memperkuat kohesi sosial yang menjadi landasan keberlanjutan program-program tersebut. Melalui integrasi ini, masyarakat mulai melihat bahwa setiap kelompok dan lembaga di desa memiliki peran yang saling melengkapi. Desa Sengguruh tidak lagi diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek pembangunan yang memiliki kapasitas untuk menentukan arah, prioritas, dan bentuk pengembangan desanya sendiri. Penutup Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan berangkat dari kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengelola, dan merawat potensi yang telah dimiliki. Desa Sengguruh membuktikan bahwa aset manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan dapat saling terhubung untuk menghasilkan perubahan yang nyata. Anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, ibu-ibu yang semakin peduli terhadap kesehatan keluarga, UMKM kreatif terutama Rumah Topeng sebagai ikon budaya desa, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial, serta balai desa yang berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, menjadi fondasi penting bagi masa depan Desa Sengguruh yang mandiri dan berdaya. Pembangunan desa tidak lagi semata-mata dipahami sebagai upaya memperbaiki kekurangan, tetapi sebagai proses menggerakkan, menghubungkan, dan mengembangkan kekuatan lokal agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan mahasiswa KKM, Desa Sengguruh memiliki modal sosial yang kuat untuk melanjutkan praktik pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.  

Thumbnail
3 months ago
Bersama Wali Murid, KKM 44 “Bhavishya” Wujudkan Generasi Anak Hebat Melalui Sosialisasi Parenting

SITI MUSLIHATUL JANNAH

Anak adalah cerminan dari cara mereka dibesarkan. Berangkat dari pemahaman tersebut, KKM 44 Bhavishya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan sosialisasi parenting pada Senin, (12/01/2026) pukul 09.00 WIB di PAUD Tunas Harapan Desa Gunung Jati.  Kegiatan ini diikuti oleh ibu-ibu wali murid PAUD Tunas Harapan serta para guru PAUD. Kehadiran para peserta menunjukkan antusiasme dan kepedulian yang tinggi terhadap pentingnya pola asuh yang tepat bagi tumbuh kembang anak. Sosialisasi ini menjadi ruang edukatif sekaligus ajang silaturahmi antara orang tua, guru, dan mahasiswa KKM dalam membangun sinergi pendidikan anak sejak usia dini. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM 44 “Bhavishya” memperkenalkan salah satu program kerja mereka di bidang pendidikan keluarga. Sosialisasi parenting ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para orang tua tentang pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pertama dalam pembentukan karakter, emosi, dan kepribadian anak. Nanik Indahayati, selaku kepala PAUD Tunas Harapan desa Gunung Jati memeberikan sambutan sekaligus menyampaikan terima kasih kepada KKM 44 Bhavishya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang karena telah mengadakan sosialisasi parenting ini. “Terima kasih banyak kepada kakak-kakak KKM sudah mengadakan sosialisasi parenting di PAUD ini, semoga bermanfaat untuk ibu-ibu wali murid dan bisa diterapkan untuk anak-anaknya”. Ujarnya. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Ma’rifatul Munjiah, M.HI., M.Pd. sebagai pemateri. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa mendidik anak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek emosional, psikologis, dan spiritual. Orang tua diharapkan mampu menjadi pendamping yang sabar, komunikatif, serta memberikan teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau mendidik anak itu jangan menggunakan kalimat yang keras, harus dengan ucapan yang lembut. Kalau anak melakukan hal baik dan mencapai keberhasilan, orang tua bisa membrikan reward.” Ujarnya. Sesi diskusi dan tanya jawab menjadi salah satu bagian paling menarik dalam kegiatan ini. Para wali murid secara aktif berbagi pengalaman seputar tantangan dalam mendidik anak, mulai dari mengatasi emosi anak, penggunaan gawai, hingga kesulitan anak dalam bersosialisasi. Para guru PAUD pun turut menyampaikan pandangan mereka terkait pentingnya keselarasan pola asuh di rumah dan di sekolah. Melalui sosialisasi parenting ini, KKM 44 “Bhavishya” berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan mendukung perkembangan anak secara optimal. Kegiatan ini menjadi wujud nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus upaya membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak baik.

Thumbnail
3 months ago
Pembuatan Qris membantu UMKM

FITRI SEKARWATI SUMARSONO

Desa Gondowangi memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi dan sumber daya manusianya. Desa ini berada di lereng Gunung Kawi, memberikan bentang alam yang subur dan pemandangan yang asri. Mata pencaharian penduduk adalah Tani, Buruh, Industri rumah tangga, dagang. Sehingga terdapat keberagaman produksi masyarakat terutama pertanian. Potensi pertanian diantaranya kayu, tebu, polowijo, padi. Di sektor ekonomi, UMKM menjadi penggerak utama roda perekonomian desa. Berbagai usaha mikro dan kecil tumbuh sebagai sumber penghasilan masyarakat. Namun demikian, sebagian besar pelaku UMKM di Desa Gondowangi masih melakukan transaksi secara tunai dan belum memanfaatkan sistem pembayaran non-tunai seperti QRIS. Keterbatasan pemahaman terhadap teknologi digital serta minimnya pendampingan menjadi faktor yang menyebabkan pelaku UMKM belum sepenuhnya beradaptasi dengan sistem pembayaran cashless, padahal penerapan QRIS dapat meningkatkan efisiensi transaksi dan daya saing usaha. Sebagian besar pelaku UMKM di Desa Gondowangi masih melakukan transaksi secara tunai dan belum memanfaatkan sistem pembayaran non-tunai seperti QRIS. Keterbatasan pemahaman terhadap teknologi digital serta minimnya pendampingan menjadi faktor yang menyebabkan pelaku UMKM belum sepenuhnya beradaptasi dengan sistem pembayaran cashless, padahal penerapan QRIS dapat meningkatkan efisiensi transaksi dan daya saing usaha. https://www.kompasiana.com/narawastra9791/697d8332c925c420d82dae12/mendampingi-umkm-dalam-pembuatan-qris-sebagai-strategi-pengembangan-usaha