M. ABDAU` SHOHIBUL HASAN AZZAINURI
Di tengah arus modernisasi dan pesatnya perkembangan teknologi, pelestarian budaya lokal menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi generasi muda. Menyadari hal tersebut, SDN 4 Sukowilangun secara konsisten melaksanakan program Sabtu Budaya, sebuah kegiatan kokurikuler yang bertujuan mengenalkan serta menanamkan nilai-nilai budaya tradisional kepada para siswa sejak dini. Sabtu Budaya dilaksanakan dengan suasana yang berbeda dari hari belajar biasanya. Sejak pagi, halaman sekolah tampak lebih semarak. Anak-anak datang ke sekolah mengenakan pakaian adat yang seragam, menciptakan nuansa tradisional yang kental dan membangkitkan rasa bangga terhadap budaya daerah. Tidak ada pembelajaran di dalam kelas seperti hari-hari biasanya karena seluruh kegiatan dipusatkan di lapangan sekolah, yang disulap menjadi ruang belajar budaya yang menyenangkan. Kegiatan Sabtu Budaya di SDN 4 Sukowilangun lebih difokuskan pada permainan tradisional dan aktivitas kebersamaan antar pengajar dan siswa. Contohnya, anak-anak diajak bermain berbagai permainan daerah seperti congklak dan engklek, yang kini mulai jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Melalui permainan ini, siswa tidak hanya belajar tentang budaya, tetapi juga melatih konsentrasi, sportivitas, serta kerja sama dengan teman sebaya. Suasana semakin meriah ketika anak-anak bernyanyi lagu-lagu tradisional bersama guru dan kakak-kakak mahasiswa KKM yang turut mendampingi kegiatan. Lagu-lagu tradisional dinyanyikan sambil bermain, sehingga para siswa dapat menikmati proses belajar tanpa merasa terbebani. Interaksi yang terjalin antara siswa, guru, dan mahasiswa KKM menciptakan suasana akrab dan penuh keceriaan. Program Sabtu Budaya sendiri merupakan kegiatan kokurikuler yang dirancang untuk mengenalkan, melestarikan, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal dan tradisional. Secara umum, kegiatan ini sejalan dengan tujuan pembentukan Profil Pelajar Pancasila, terutama dalam aspek berkebinekaan global, gotong royong, dan kemandirian. Selain itu, aktivitas fisik yang dilakukan selama kegiatan juga membantu meningkatkan kebugaran jasmani siswa. Harapannya dengan Sabtu Budaya ini akan berdampak positif terhadap siswa. Siswa menjadi lebih mengenal budaya tradisional yang sebelumnya asing bagi mereka. Selain itu, kegiatan ini juga mampu meningkatkan kreativitas, mempererat interaksi sosial yang positif, serta menumbuhkan rasa kebersamaan di lingkungan sekolah. Melalui Sabtu Budaya, SDN 4 Sukowilangun menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan identitas budaya. Dengan mengenalkan budaya sejak dini melalui cara yang menyenangkan, diharapkan generasi muda mampu tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berbudaya, dan tetap mencintai warisan leluhur di tengah perkembangan zaman.
INDAH FEBRIYANTI
Dalam rangka menumbuhkan kreativitas serta meningkatkan minat belajar anak-anak, mahasiswa KKM Kelompok 10 Aksantara UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan kolase pada Jumat, 26 Desember 2025. Kegiatan ini bertempat di RT 3 RW 6 Griya Damai Sejahtera dan dimulai pada pukul 09.00 WIB. Kegiatan kolase ini terlaksana melalui kerja sama antara mahasiswa KKM dan organisasi sukarelawan setempat, yaitu Reading Corner yang dikelola oleh Mbak Nana. Kerja sama ini menjadi wujud sinergi dalam menghadirkan kegiatan edukatif yang kreatif dan menyenangkan bagi anak-anak di lingkungan RW 6. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajak untuk berkreasi membuat karya kolase menggunakan berbagai bahan alam dan bahan sederhana. Bahan yang digunakan antara lain biji-bijian seperti kacang merah, kedelai, serta beras yang telah diberi warna. Selain itu, anak-anak juga memanfaatkan daun-daun kering yang digunting menjadi berbagai bentuk untuk melengkapi karya kolase mereka. Dengan pendampingan dari mahasiswa KKM dan relawan Reading Corner, anak-anak tampak antusias menuangkan ide dan imajinasi mereka. Setiap anak bebas menyusun dan menempelkan bahan sesuai kreativitas masing-masing, sehingga menghasilkan karya kolase yang beragam dan unik. Suasana kegiatan berlangsung ceria dan penuh semangat. Melalui kegiatan kolase ini, anak-anak tidak hanya dilatih kreativitasnya, tetapi juga kemampuan motorik halus, konsentrasi, serta rasa percaya diri. Mahasiswa KKM berharap kegiatan ini dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermanfaat bagi perkembangan anak-anak di lingkungan Griya Damai Sejahtera. Kegiatan kolase ini menjadi salah satu bentuk kegiatan edukatif yang memberikan dampak positif, serta mempererat hubungan antara mahasiswa KKM, relawan, dan masyarakat setempat.
SAIFUL
Kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik terus didorong melalui berbagai kegiatan edukatif. Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan sharing session dan praktik pembuatan eco enzyme yang dilaksanakan pada Jumat, 23 Januari, bertempat di Balai Desa Sukowilangun. Kegiatan ini dimulai pukul 09.00 hingga 10.00 WIB dan dihadiri oleh perwakilan ibu-ibu PKK dari setiap dusun di Desa Sukowilangun. Setiap dusun mengirimkan tiga perwakilan, sehingga dari empat dusun yang ada, total peserta dari PKK berjumlah dua belas orang. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh tiga orang perwakilan perangkat desa dan juga perwakilan anggota karang taruna. Acara diawali dengan penyampaian materi singkat mengenai apa itu eco enzyme dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Pemaparan dilakukan secara sederhana dan tidak terlalu panjang agar mudah dipahami oleh peserta. Eco enzyme dijelaskan sebagai cairan hasil fermentasi sampah organik berupa sisa buah dan sayuran yang dicampur dengan air dan gula merah, yang memiliki berbagai manfaat, mulai dari pembersih alami hingga pengurai limbah organik. Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan eco enzyme. Dimulai dari memotong bahan-bahannya hingga proses penimbangan. Dalam praktik tersebut, digunakan galon berukuran lima liter dengan takaran tiga liter air, 300 gram sampah organik berupa kulit buah dan sisa sayuran, serta 100 gram gula merah sebagai bahan fermentasi. Proses praktik dilakukan secara interaktif dengan melibatkan audiens. Beberapa ibu PKK dan juga perangkat desa tampak antusias untuk mencoba langsung memasukkan sampah organik yang sudah dipotong-potong ke dalam galon. Untuk menambah pemahaman peserta, panitia juga memperlihatkan sampel eco enzyme yang telah jadi. Tidak hanya ditunjukkan secara visual, efektivitas eco enzyme juga dibuktikan secara langsung dengan menggunakannya untuk membersihkan kerak membandel yang ada di lantai balai desa. Hasilnya, kerak tersebut dapat dibersihkan dengan cukup mudah, sehingga membuat para peserta semakin yakin akan manfaat eco enzyme. Selama proses praktik berlangsung, suasana kegiatan terasa hidup dan interaktif. Beberapa ibu-ibu PKK yang aktif bertanya, salah satunya mengenai alasan mengapa sampah organik yang digunakan tidak boleh terlalu keras, seperti kulit durian dan lain sebagainya. Pertanyaan tersebut dijawab dengan penjelasan bahwa sampah yang terlalu keras membutuhkan waktu penguraian yang sangat lama dan dapat menghambat proses fermentasi, sehingga hasil eco enzyme menjadi kurang optimal. Selain itu, peserta juga diberikan penjelasan mengenai proses perawatan eco enzyme setelah pembuatan. Dijelaskan bahwa pada satu minggu pertama, tutup botol galon harus dibuka setiap hari untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi. Sementara itu, pada minggu-minggu berikutnya, tutup botol cukup dibuka satu kali dalam seminggu hingga proses fermentasi selesai selama kurang lebih 3 bulan. Secara keseluruhan, kegiatan sharing session dan praktik pembuatan eco enzyme ini berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. Interaksi aktif antara pemateri dan peserta, serta pembuktian langsung manfaat eco enzyme, membuat kegiatan ini terasa seru dan mudah dipahami. Diharapkan, melalui kegiatan ini, ibu-ibu PKK dapat menerapkan pembuatan eco enzyme secara mandiri di rumah sebagai salah satu upaya pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Sharing Session Eco Enzyme: Edukasi dan Praktik Pengelolaan Sampah Organik Bersama PKK Sukowilangun", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/kkm62satyavara1706/697a27f634777c7a437d3272/sharing-session-eco-enzime-edukasi-dan-praktik-pengelolaan-sampah-organik-bersama-pkk-sukowilangun?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Desktop Kreator: Satyavarakkm62 Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
MOHAMMAD SETO NUGROHO
https://www.kompasiana.com/narakarya42/698083d8c925c44fb61c7084/menyalakan-harapanhttps://www.kompasiana.com/narakarya42/698083d8c925c44fb61c7084/menyalakan-harapan-dari-minyak-jelantah-bersama-ibu-pkk-dari-minyak-jelantah-bersama-ibu-pkk
MAFAZATUL MAULIDA
Wagir, Malang - Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang bertugas di SMP Sunan Giri melaksanakan salah satu program kerja bidang lingkungan, yaitu kegiatan penanaman Tanaman Obat Sekolah (TOGA) yang disertai dengan pelabelan nama latin dan manfaat tanaman. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa KKM dalam mendukung penguatan Program Adiwiyata serta pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran. Kegiatan penanaman TOGA dilaksanakan di area lingkungan sekolah yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan kondisi lahan yang tersedia. Berbagai jenis tanaman obat ditanam dalam pot dan lahan terbatas, sehingga mudah dirawat dan dimanfaatkan. Tanaman yang dipilih merupakan tanaman obat yang umum dijumpai dan memiliki manfaat kesehatan, sehingga relevan untuk dikenalkan kepada siswa dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai bagian dari nilai edukatif kegiatan, mahasiswa KKM juga melakukan pelabelan tanaman yang memuat informasi nama lokal, nama latin, serta manfaat tanaman obat. Pelabelan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai jenis tanaman obat dari sisi ilmiah dan fungsional. Dengan adanya label tersebut, area tanaman obat sekolah tidak hanya berfungsi sebagai penghijauan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran berbasis literasi lingkungan dan kesehatan. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan kader Adiwiyata SMP Sunan Giri yang berperan aktif dalam proses penanaman dan penataan tanaman. Keterlibatan kader Adiwiyata menjadi bagian dari pembinaan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekolah serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam merawat tanaman secara berkelanjutan. Kolaborasi antara mahasiswa KKM dan kader Adiwiyata diharapkan dapat memperkuat budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah. Program kerja penanaman TOGA ini sejalan dengan komitmen SMP Sunan Giri sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi, khususnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan sekolah secara edukatif dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM turut mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang hijau, sehat, dan informatif, sekaligus memberikan pengalaman belajar langsung bagi siswa. Diharapkan, hasil dari program kerja ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh warga sekolah. Tanaman obat yang telah ditanam dan diberi label edukatif diharapkan terus dirawat dan dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran lingkungan hidup serta penguatan karakter peduli lingkungan di SMP Sunan Giri.
AJENG RIZQI NINGRUM
Pada Kamis, 25 Desember 2025, kami dari KKM Mandiri Gravia kelompok 162 berkesempatan melakukan kunjungan edukatif ke Museum Keraton Sumenep, tempat bersejarah yang menjadi saksi kejayaan Kerajaan Sumenep di masa lampau. Begitu memasuki kawasan keraton, suasana masa lalu langsung terasa kuat. Bangunan tua yang masih berdiri kokoh ini seolah mengajak kami menelusuri jejak sejarah para pemimpin Sumenep yang pernah berjaya pada ratusan tahun silam. Museum Keraton Sumenep menyimpan berbagai koleksi bersejarah yang sangat bernilai. Di dalamnya terdapat pusaka kerajaan seperti keris, tombak, pakaian kebesaran raja, hingga perabot rumah tangga kerajaan, termasuk kursi dan tempat tidur yang merupakan hadiah dari Ratu Inggris. Salah satu koleksi yang paling menarik perhatian kami adalah mushaf Al-Qur’an tulisan tangan Sultan Abdurrahman, serta berbagai naskah lontar yang memuat ajaran Islam dan tradisi lokal masyarakat Madura. Selain itu, terdapat pula piagam perdamaian yang menjadi bukti hubungan diplomasi Kerajaan Sumenep dengan negara-negara Eropa, Tiongkok, dan Arab. Selain itu, museum ini juga menyimpan kereta kencana peninggalan kerajaan, termasuk yang pernah digunakan oleh tokoh bersejarah seperti Arya Wiraraja. Koleksi-koleksi tersebut menunjukkan bahwa Kerajaan Sumenep tidak hanya kuat secara budaya dan spiritual, tetapi juga aktif menjalin hubungan dengan dunia luar. Dari sisi arsitektur, Keraton Sumenep memiliki keunikan yang tersendiri. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Tionghoa bernama Louw Phia Ngo, yang berhasil memadukan berbagai gaya arsitektur secara harmonis. Unsur Jawa, Madura, Islam, Tiongkok, dan Eropa berpadu indah dalam setiap detail bangunan, mencerminkan keterbukaan dan kekayaan budaya Kerajaan Sumenep pada masanya. Di dalam kompleks keraton, terdapat beberapa bangunan penting yang masih terawat hingga kini. Labang Mesem sebagai gerbang utama menyambut setiap pengunjung dengan kesan megah. Pendopo Agung menjadi pusat pertemuan dan upacara resmi kerajaan, sementara Taman Sare dulunya digunakan sebagai tempat pemandian bangsawan. Bangunan lain seperti Kantor Koeninglijk dan Kantor Ambtenaar juga menunjukkan bagaimana sistem pemerintahan kerajaan dijalankan secara terstruktur. Melalui kunjungan ini, kami tidak hanya memperoleh pengetahuan sejarah, tetapi juga belajar tentang nilai-nilai kepemimpinan, toleransi budaya, dan pentingnya menjaga warisan leluhur. Museum Keraton Sumenep menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan fondasi untuk memahami jati diri dan budaya bangsa di masa kini.