DZIKRY FIKRILLAH
Di tengah kesibukan menjalankan berbagai program kerja fisik maupun sosialisasi, menjaga kedekatan spiritual dengan masyarakat adalah kunci keberhasilan KKM. Salah satu pintu masuk yang paling hangat bagi mahasiswa KKM kelompok 32 di Desa Ngadireso adalah melalui kegiatan keagamaan rutin. Pada kesempatan kali ini, kami berkesempatan untuk berbaur langsung dalam pembacaan Maulid Diba’ bersama warga. Kegiatan Diba’an ini bukan sekadar rutinitas membaca pujian kepada Nabi Muhammad SAW, melainkan juga menjadi ajang silaturahmi yang sangat efektif. Acara dimulai selepas Sholat Isya, bertempat di Kediaman warga setempat. Suasana khidmat mulai terasa saat lantunan sholawat mulai berkumandang. Kehadiran mahasiswa KKM disambut dengan tangan terbuka oleh jamaah. Di sela-sela pembacaan syair, kami juga menyisipkan interaksi ringan dengan warga, yang membuat jarak antara mahasiswa dan masyarakat semakin terkikis. Bagi kami, kegiatan ini adalah momen untuk: Adaptasi Budaya: Mengenal lebih dalam tradisi keagamaan lokal di Desa Ngadireso. Silaturahmi: Memperkenalkan program kerja KKM lainnya kepada tokoh masyarakat secara informal. Integrasi Sosial: Menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya datang untuk tugas akademik, tapi juga untuk menjadi bagian dari kehidupan sosial warga. Melalui gema Diba’an ini, kami berharap keberkahan selalu menyertai setiap langkah program kerja kami di desa ini. Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa pendekatan hati melalui tradisi keagamaan jauh lebih efektif untuk membangun kepercayaan masyarakat dibandingkan sekadar komunikasi formal.
NUR AFIFA
Dusun Sukamade, yang terletak di jantung Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, bukan sekadar wilayah konservasi penyu yang mendunia, tetapi juga rumah bagi para pejuang ekonomi lokal yang penuh potensi. Di tengah rimbunnya kawasan Taman Nasional Meru Betiri, upaya penguatan ekonomi masyarakat terus digencarkan. Salah satu langkah nyatanya hadir melalui inisiasi mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang menggelar sosialisasi UMKM pada Senin malam 05 November 2026, bertempat di ruang kelas SMPN 3 Pesanggaran Satu Atap. Suasana dingin malam di pelosok Banyuwangi tidak menyurutkan semangat warga yang hadir. Pertemuan ini mempertemukan dosen pendamping lapangan sekaligus sebagai narasumber, Ryan Basith Fasih Khan, SE., MM, dengan para pelaku UMKM lokal yang memiliki latar belakang beragam. Mulai dari pengelola wisata pelepasan penyu, pengrajin aksesori bertema alam seperti penyu, hingga produsen hasil kebun seperti kopi dan kerupuk pakis, semuanya berkumpul dengan satu tujuan yaitu mencari celah agar usaha mereka bisa lebih berdaya di tengah keterbatasan geografis. Dalam pemaparan materinya, narasumber menekankan betapa krusialnya peran digitalisasi melalui e-commerce di era sekarang. Langkah ini dinilai sebagai solusi cerdas untuk memutus rantai ketergantungan pada pembeli yang hanya datang secara fisik ke lokasi. Namun, diskusi yang semula terfokus pada teori pemasaran digital mulai berkembang dinamis saat warga menyuarakan realita pahit yang mereka hadapi sehari-hari. Hambatan terbesar yang mengemuka adalah persoalan logistik dan distribusi yang sangat sulit dijangkau dari wilayah Sukamade. Salah satu suara yang cukup memukul realita adalah keluhan dari Pak Edy, seorang pengrajin yang terampil mengubah batok dan serabut kelapa menjadi aksesori penyu yang ikonik. Ia menceritakan betapa tingginya biaya operasional yang harus ia tanggung hanya untuk urusan pengiriman. "Kalau harus kirim ke luar, biayanya besar sekali. Di sini juga tidak ada ekspedisi, jadi produk harus dibawa keluar dulu dari Sukamade," ungkapnya dengan nada penuh harap akan adanya solusi. Masalah ekspedisi ini seolah menjadi tembok besar yang menghalangi produk kreatif Sukamade untuk bersaing di pasar nasional maupun internasional. Merespons kendala tersebut, forum mulai merumuskan usulan strategis jangka menengah, salah satunya adalah permohonan kepada pihak desa untuk pengadaan gudang distribusi di Desa Sarongan. Gudang ini nantinya akan berfungsi sebagai titik konsolidasi barang, sehingga pelaku UMKM dapat mengumpulkan produk mereka di satu tempat sebelum dikirim secara massal, yang tentunya akan menekan biaya logistik secara signifikan. Namun, persoalan ternyata tidak berhenti di urusan pengiriman saja. Diskusi juga mengungkap adanya struktur ekonomi yang mengikat, di mana keterikatan warga dengan pengelola lahan membuat posisi tawar mereka lemah saat berhadapan dengan tengkulak hasil bumi. Di sisi lain, tantangan internal juga menjadi sorotan penting yang disampaikan oleh Kepala Dusun Sukamade, Bapak Fery. Menurutnya, infrastruktur pendukung sebenarnya telah diupayakan, namun pemanfaatannya masih jauh dari kata maksimal karena faktor motivasi dan kepercayaan diri warga. "Sebenarnya sudah ada etalase produk warga di rumah saya. Itu disiapkan untuk menyambut wisatawan, terutama wisatawan Eropa yang biasanya datang sekitar bulan April sampai September, tapi belum dimanfaatkan maksimal," ujarnya. Hal ini menyadarkan semua pihak bahwa penguatan UMKM di Sukamade memerlukan pendekatan menyeluruh, yang menyentuh sisi mentalitas dan kesiapan masyarakat, bukan sekadar urusan teknis pemasaran. Menutup rangkaian kegiatan yang penuh inspirasi tersebut, seluruh peserta, perangkat dusun, serta mahasiswa KKM berkumpul untuk melakukan sesi dokumentasi bersama. Momen foto bersama ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol sinergi dan kehangatan yang telah terbangun selama diskusi berlangsung.
SALMAN MA`RUF HIDAYAT
Pagi itu, suasana di dalam ruangan berdinding putih terasa hangat, bukan hanya karena cahaya lampu yang berpijar dari langit-langit, tetapi karena semangat yang terpancar dari wajah-wajah yang hadir. Di atas hamparan karpet hijau, dua generasi duduk bersimpuh, meleburkan jarak dalam satu tujuan besar: melawan stunting. Di barisan depan, para pemuda dengan rompi krem dan almamater biru tampak bersemangat. Mereka adalah pembawa pesan, anak-anak muda yang membawa data dan ilmu tentang pentingnya gizi di zaman yang serba cepat ini. Di belakang mereka, barisan ibu-ibu dengan kerudung warna-warni tersenyum tulus. Ada sorot mata penuh harap di sana sebuah keinginan sederhana agar anak-cucu mereka tumbuh lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih kuat dari generasi sebelumnya. Percakapannya mengalir santai namun berisi. Di sela-sela sosialisasi, mereka berbagi cerita tentang tantangan pola asuh di masa kini. Ruangan itu menjadi saksi bahwa masalah stunting bukan sekadar teori di buku kesehatan, melainkan perjuangan nyata yang harus dimulai dari dapur dan pola asuh di rumah. Momen kebersamaan yang diabadikan dalam foto ini adalah bukti bahwa perubahan besar selalu dimulai dari ruang-ruang sederhana. Melalui edukasi dan sinergi, mereka tidak hanya sekedar berfoto bersama, namun juga menyediakan masa depan yang lebih cerah bagi generasi yang akan datang
KHAILLA ZULVA AZAHRA
Mengingat perjalanan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kami yang akan segera berakhir pada tanggal 3 Februari 2026, kami memutuskan untuk melaksanakan penutupan program pendidikan lebih awal. Langkah ini diambil agar proses transisi dan pamitan kepada adik-adik serta warga dapat berjalan dengan khidmat dan terencana. Dua agenda utama, yakni Bimbingan Belajar (Bimbel) dan TPQ, menjadi fokus penutupan kami karena kedua kegiatan inilah yang paling intens menghubungkan kami dengan denyut nadi pendidikan generasi muda di desa ini. Momen haru pertama terjadi pada tanggal 29 Januari 2026, saat kami secara resmi menutup kegiatan Bimbel. Karena program ini merupakan inisiatif khusus dari kelompok KKM kami dan kemungkinan besar tidak berlanjut setelah kami pergi, kami ingin memberikan kesan yang mendalam. Pertemuan terakhir diisi dengan pemberian hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi atas semangat belajar mereka yang luar biasa. Kami juga menyisipkan pesan-pesan motivasi agar adik-adik tetap rajin belajar dan berani mengejar cita-cita, meski tidak lagi didampingi oleh kakak-kakak mahasiswa di malam hari. Berlanjut pada tanggal 30 Januari 2026, suasana berbeda menyelimuti penutupan pengajaran kami di TPQ. Berbeda dengan bimbel, kegiatan mengaji di TPQ akan tetap berjalan seperti biasa di bawah asuhan ustadz dan ustadzah setempat. Tugas kami di sini hanyalah berpamitan sebagai pengajar tamu. Namun, momen ini menjadi sangat spesial karena dikemas dalam format "Pertemuan Wali Santri". Kehadiran penanggung jawab serta pendiri TPQ memberikan bobot lebih pada pertemuan ini, menandai pentingnya sinergi antara pengajar dan orang tua dalam mendidik karakter anak. Dalam pertemuan tersebut, pendiri TPQ menyampaikan poin krusial mengenai peran orang tua sebagai pengawas utama anak. Beliau menekankan bahwa orang tua harus benar-benar memastikan anak-anak mereka sampai ke masjid untuk mengaji, bukan justru berbelok untuk bermain di lapangan desa. Pesan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan agama membutuhkan kedisiplinan yang dimulai dari rumah. Selain itu, dibahas pula mengenai transparansi administrasi terkait setoran keuangan bulanan TPQ yang sangat diperlukan untuk menunjang fasilitas dan kelancaran kegiatan belajar mengajar ke depannya. Acara semakin dinamis saat memasuki sesi tanya jawab antara wali santri dan pengurus TPQ. Di sini, para orang tua mendapatkan ruang untuk mengekspresikan keluh kesah serta kebingungan mereka dalam mendampingi proses belajar anak di rumah. Pihak pengurus menyambut setiap pertanyaan dengan terbuka, memberikan solusi, dan penjelasan yang mencerahkan. Dialog dua arah ini membuktikan bahwa kepedulian warga terhadap kualitas pendidikan Al-Quran di desa ini sangatlah tinggi, sebuah hal yang sangat melegakan bagi kami sebelum meninggalkan posko. Rangkaian kegiatan perpisahan ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi kelompok KKM kami. Ada rasa bangga melihat bibit-bibit semangat yang tumbuh di kelas bimbel dan keteguhan sistem di TPQ. Kami menyadari bahwa meskipun pengabdian kami bersifat sementara, hubungan emosional dan ilmu yang sempat terbagi akan tetap menetap. Kami berharap, Masjid Nuurul Jadiid dan rumah-rumah warga akan terus menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya generasi yang cerdas dan berakhlakul karimah, jauh setelah kami kembali ke kampus.
AZWIN SYAHWADI MUSTAJAB
Grand Opening dan Pemaparan Program Kerja KKM Desa Batujai Dalam rangka menandai dimulainya kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Batujai, telah dilaksanakan acara Grand Opening dan Pemaparan Program Kerja KKM Desa Batujai yang bertempat di Kantor Desa Batujai. Kegiatan ini berlangsung dengan tertib dan penuh khidmat, serta dihadiri oleh perangkat desa, dosen pembimbing lapangan, mahasiswa KKM, dan tamu undangan lainnya. Persiapan dan Registrasi Peserta Kegiatan diawali pada pukul 08.00–09.00 WITA dengan persiapan panitia yang dikoordinasikan langsung oleh anggota KKM Desa Batujai. Selanjutnya, pada pukul 09.00–09.30 WITA, dilakukan registrasi peserta dan konsumsi, yang ditangani oleh panitia guna memastikan kelancaran acara sejak awal. Grand Opening Acara resmi dimulai pada pukul 09.30 WITA dengan rangkaian Grand Opening. Kegiatan ini diawali dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah yang di bacakan oleh saudara M. Rizal Fahmi, serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang di pandu oleh saudari Lily Annisa Fitri sebagai bentuk penghormatan dan penanaman nilai nasionalisme. Sesi ini dipandu oleh MC Dwi Silviana Putri dengan petugas tilawah dan pendukung acara lainnya. Sambutan-Sambutan Memasuki acara inti, pada pukul 09.35–10.15 WITA, disampaikan beberapa sambutan penting sebagai bentuk dukungan dan arahan terhadap pelaksanaan KKM, antara lain: Sambutan dari Ketua KKM, Sambutan dari Kepala Desa Batujai, Sambutan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) secara online, Sambutan-sambutan ini menekankan pentingnya sinergi antara mahasiswa dan masyarakat desa dalam menjalankan program kerja yang bermanfaat dan berkelanjutan. Pemaparan Program Kerja KKM Pada pukul 10.15–11.25 WITA, acara dilanjutkan dengan pemaparan program kerja KKM Desa Batujai oleh perwakilan mahasiswa yaitu Azwin Syahwadi Mustajab. Dalam sesi ini, dijelaskan berbagai rencana kegiatan yang akan dilaksanakan selama masa pengabdian, mencakup bidang pendidikan, sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat. Penyerahan Simbolis dan Penutup Sebagai tanda resmi dimulainya kegiatan KKM, dilakukan penyerahan simbolis kepada pihak Desa Batujai dengan penyematan id card yang diwakili ketau kelompok KKM Batujai pada pukul 11.25–11.30 WITA. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh saudara M.Raindra Farizki pada pukul 11.30–11.35 WITA, yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, sebagai harapan agar seluruh kegiatan berjalan lancar dan diberi keberkahan. Kegiatan diakhiri dengan dokumentasi bersama pada pukul 11.35–11.40 WITA sebagai bentuk arsip dan kenang-kenangan atas terselenggaranya acara Grand Opening KKM Desa Batujai. Penutup Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa KKM dapat menjalankan seluruh program kerja dengan baik serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Desa Batujai. Acara ini juga menjadi awal dari kolaborasi yang positif antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat setempat.
NANDA ZADINA KHANSA` HAQ
https://kkm22multividahikmara.blogspot.com/2026/01/menanam-benih-iman-sejak-dini.html Malang , Minggu 21 Januari 2026 Mahasiswa KKM Kelompok 22 memperingati ISRA' MI'RAJ KB-TK Masjid Agung Jami' Malang Di balik pagar warna-warni KB-TK Masjid Agung Jami' Malang, suasana pagi terasa jauh lebih semarak dari hari biasanya. Gelak tawa anak-anak berpadu dengan lantunan shalawat yang diputar di halaman sekolah. Pada hari tersebut, Mahasiswa KKM Kelompok 22 hadir membawa misi istimewa: merayakan Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW bersama tunas-tunas muda harapan bangsa. Memperingati Isra Mi'raj di tingkat KB dan TK membutuhkan kreativitas ekstra. Mahasiswa Kelompok 22 menyadari bahwa peristiwa agung ini tidak bisa disampaikan hanya dengan ceramah panjang. Maka, mereka menyulap ruang kelas menjadi panggung dongeng yang interaktif. Dengan menggunakan media visual yang menarik dan bahasa yang sederhana, mahasiswa bercerita tentang perjalanan malam Rasulullah mengendarai Buraq . Mata anak-anak tampak berbinar penuh rasa ingin tahu saat kakak-kakak siswa menggambarkan betapa indahnya perjalanan menembus langit menuju Sidratul Muntaha. Di sini, Isra Mi'raj tidak lagi terasa sebagai sejarah yang berat, melainkan sebuah petualangan iman yang mengasyikkan bagi imajinasi mereka. Inti dari kegiatan ini adalah memperkenalkan "hadiah" terindah dari Isra Mi'raj, yaitu perintah shalat lima waktu. Mahasiswa Kelompok 22 mengajak adik-adik KB-TK untuk mengajarkan gerakan shalat melalui lagu-lagu Islami yang mudah diingat. "Siapa yang mau masuk surga? Ayo kita belajar shalat!" ajak salah satu siswa yang disambut dengan acungan jari mungil secara serentak. Melalui metode bermain sambil belajar, siswa menanamkan pemahaman bahwa shalat adalah cara kita berkomunikasi dengan Allah SWT. Nilai-nilai kedisiplinan dan ketaatan mulai disemaikan di hati anak-anak ini dengan cara yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Keterlibatan para guru KB-TK Masjid Agung Jami' menambah kehangatan acara ini. Para guru merasa terbantu dengan hadirnya energi muda dari mahasiswa KKM yang membawa inovasi dalam pemenuhan materi keagamaan. Kebersamaan ini menciptakan ekosistem belajar yang positif, di mana siswa belajar cara berkomunikasi dengan anak-anak, sementara sekolah mendapatkan warna baru dalam kegiatannya. Acara juga dimeriahkan dengan berbagai lomba sederhana bernuansa Islami, seperti membuat poster Isra' Miraj', hafalan doa pendek, dan Quis Isra' Miraj'. Setiap anak yang berani maju ke depan diberikan penghargaan berupa hadiah kecil, yang membuat wajah-wajah polos itu berseri-seri penuh kebanggaan. Peringatan Isra Mi'raj ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh siswa, diikuti dengan khidmat oleh para siswa dan seluruh siswa KB-TK. Meski berlangsung dalam durasi yang singkat, pesan yang disampaikan diharapkan menancap kuat dalam ingatan jangka panjang anak-anak. Bagi Mahasiswa KKM Kelompok 22, merayakan Isra Mi'raj di KB-TK Masjid Agung Jami' adalah sebuah pengalaman yang menyegarkan jiwa. Mereka diingatkan kembali bahwa tugas besar pengabdian dimulai dari hal yang paling mendasar: yaitu mencintai anak-anak dan membekali mereka dengan fondasi iman yang kokoh. Hari itu, di bawah naungan masjid agung yang bersejarah, satu langkah kecil telah diambil untuk membentuk generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga taat secara spiritual.