Thumbnail
3 months ago
Perjalanan Pengabdian Mahasiswa KKM 158 Girinadiwana di Desa Plumpung

MOCHAMMAD FAROQ ZAAKY SHAHARA

Perjalanan kegiatan KKM 158 Girinadiwana di Desa Plumpung, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan menjadi pengalaman pengabdian yang dijalankan secara bertahap dan menyatu dengan kehidupan masyarakat. Selama berada di desa, tim mahasiswa tidak hanya menjalankan satu jenis program, tetapi bergerak di berbagai bidang seperti pendidikan, kegiatan sosial, keagamaan, serta pendampingan ekonomi melalui program UMKM dan pemanfaatan teknologi digital. Sejak awal, kegiatan dirancang supaya benar-benar terasa manfaatnya dan sekaligus membangun kedekatan dengan perangkat desa maupun warga. Kedatangan tim diawali dengan orientasi wilayah dan kunjungan silaturahmi kepada Kepala Desa serta para Ketua RT. Dari pertemuan itu, mahasiswa mulai menyusun langkah kerja dan menyesuaikan program dengan kebutuhan lapangan. Pembukaan KKM kemudian dilaksanakan secara resmi di balai desa sebagai tanda dimulainya seluruh rangkaian kegiatan. Di masa awal pelaksanaan, tim juga ikut terjun dalam kerja bakti membantu warga menangani dampak longsor di wilayah perbatasan RT. Keterlibatan ini menjadi bentuk kepedulian sekaligus upaya membangun kebersamaan sejak hari pertama. Dalam bidang pendidikan keagamaan, mahasiswa rutin mendampingi kegiatan belajar di TPQ. Proses pembelajaran dilakukan pelan-pelan dan disesuaikan dengan kemampuan santri, mulai dari membaca, perbaikan tajwid, hingga latihan praktik. Suasana belajar dibuat santai dan interaktif agar anak-anak merasa nyaman. Selain di TPQ, mahasiswa juga membantu kegiatan belajar di MI setempat, termasuk pendampingan materi, kegiatan kepramukaan, serta penyampaian edukasi tentang pentingnya sikap saling menghormati di lingkungan sekolah. Di sisi lain, program penguatan UMKM juga menjadi perhatian utama. Tim melakukan pendataan dan kunjungan langsung ke pelaku usaha rumahan seperti produsen roti, tahu, tempe, dan pemilik toko. Dari kegiatan itu, mahasiswa membantu pemetaan lokasi usaha dan fasilitas umum melalui Google Maps agar lebih mudah ditemukan. Warga juga diperkenalkan dengan sistem pembayaran digital menggunakan QRIS, lengkap dengan pendampingan cara penggunaannya. Pendekatan dilakukan secara langsung dan bersahabat supaya pelaku usaha lebih terbuka menerima hal baru. Mahasiswa turut ambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan desa. Mereka membantu persiapan dan pelaksanaan peringatan Isra’ Mi’raj di MI dengan berbagai lomba dan kegiatan bernuansa keagamaan. Kegiatan berlangsung meriah dengan kebersamaan warga dan siswa. Selain itu, diadakan juga pelatihan keterampilan digital untuk ibu-ibu PKK sebagai tambahan wawasan ekonomi kreatif. Keterlibatan tim juga terlihat pada kegiatan Posyandu dan pendampingan belajar masyarakat. Kontribusi lainnya diwujudkan melalui kerja bakti di masjid, penyerahan tempat sampah untuk mendukung kebersihan lingkungan, serta pemasangan papan informasi desa sebagai sarana edukasi. Seluruh program diupayakan bersifat praktis dan bisa terus dimanfaatkan setelah masa KKM selesai. Menjelang akhir kegiatan, pengajaran di TPQ ditutup dengan doa bersama dan penyerahan kenang-kenangan sebagai tanda terima kasih. Rangkaian KKM kemudian diakhiri melalui acara penutupan di balai desa yang berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Berakhirnya program ini menjadi penutup masa pengabdian mahasiswa sekaligus meninggalkan harapan agar manfaat kegiatannya tetap dirasakan oleh masyarakat Desa Plumpung ke depannya.

Thumbnail
3 months ago
KKM 112 UIN MALANG SELENGGARAKAN SOSIALISASI KETAHANAN MENTAL BERSAMA ANAK YATIM

MOH IDRUS

Masa remaja merupakan tahap perkembangan yang ditandai oleh berbagai perubahan, baik dari segi fisik, kemampuan berpikir, maupun aspek psikososial. Perubahan-perubahan tersebut menuntut kesiapan mental yang baik agar remaja mampu menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang terus berkembang. Tanpa kesiapan tersebut, proses adaptasi dapat menjadi tantangan tersendiri bagi remaja, terutama dalam menghadapi tekanan sosial dan perubahan peran. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang terarah untuk membekali remaja dengan kemampuan psikologis yang memadai. Merespon kebutuhan tersebut, Kuliah Kerja Mahasiswa kelompok 112  meyelenggarakan sebuah program sosialisasi strategis pada tanggal 24 januari 2026 dengan judul "Tumbuh Kuat Menjadi HERO di Tengah Perubahan". Tujuan dari kegiatan ini untuk memberikan penguatan mental dan psikologis, khususnya bagi anak-anak yatim usia remaja, agar mereka mampu tumbuh menjadi individu yang lebih kuat, mandiri, dan adaptif dalam menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupan. Kegiatan ini berfokus pada pengenalan konsep HERO, yang merupakan akronim dari empat elemen kunci ketahanan mental: Hope (Harapan), Efficacy (Keyakinan Diri), Resilience (Ketangguhan), dan Optimism (Optimisme).   Muh. Anwar Fu'ady menjelaskan, "Perubahan yang dialami anak pada masa remaja, baik secara fisik, kognitif, maupun psikososial, menuntut kesiapan mental yang kuat agar dapat dihadapi secara positif. Oleh karena itu, penanaman karakter HERO yang mencakup Hope, Efficacy, Resilience, dan Optimism yang akan menjadi bekal penting dalam menghadapi dinamika kehidupan." Dalam sesi pemaparan materi yang disampaikan oleh Muh. Anwar Fu'ady, S.Psi., M.A peserta tidak hanya menerima penjelasan secara teoritis, tetapi juga dilibatkan secara aktif melalui pembagian worksheet yang berisi sejumlah pertanyaan terkait evaluasi diri. Lembar kerja tersebut dirancang untuk membantu peserta merefleksikan kondisi diri, potensi, serta tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Para peserta mengisi worksheet tersebut dengan cermat dan penuh perhatian. Setelah sesi pengisian selesai, beberapa perwakilan peserta secara sukarela maju ke depan untuk menyampaikan hasil refleksi dan jawaban mereka, sehingga tercipta suasana diskusi yang interaktif dan partisipatif.  Penyerahan Sertifikat dari Ketua KKM 112 kepada Pemateri Selain pemberian materi psikoedukatif, kegiatan sosialisasi ini juga dilengkapi dengan dukungan pemenuhan kebutuhan dasar peserta. Para peserta menerima paket gizi gratis yang disalurkan oleh Lembaga Yatim Mandiri serta paket RendangMU yang diberikan oleh Lembaga Lazismu. Selain itu, peserta juga memperoleh santunan yang di oleh Masjid Al-Falah sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap anak-anak yatim. Pemberian bantuan tersebut menjadi wujud perhatian nyata terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak-anak yatim, sekaligus memperkuat tujuan kegiatan dalam mendukung tumbuh kembang remaja secara holistik, baik dari aspek psikologis maupun fisik.

Thumbnail
3 months ago
Pembuatan Mading Masjid Al-Khoirot oleh KKM 16 UIN Malang

ALMADANI ARROZI

Dalam rangka mendukung penyebaran informasi yang lebih efektif dan menarik bagi jamaah, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 16 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan program kerja pembuatan mading masjid di Masjid Al-Khoirot, Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang. Program ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan media informasi yang mudah diakses oleh seluruh jamaah masjid. Selama ini, informasi mengenai kegiatan masjid, jadwal kajian, laporan keuangan, maupun pengumuman penting lainnya masih dibagikan secara terbatas. Oleh karena itu, mading masjid yang diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif antara pengurus masjid dan jamaah. Proses pembuatan mading dilakukan secara gotong royong oleh seluruh anggota KKM 16. Kegiatan diawali dengan perencanaan konsep desain mading, pemilihan tema, hingga pengumpulan materi yang akan ditampilkan. Mading dirancang dengan tampilan yang menarik, informatif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Beberapa informasi yang ditampilkan dalam mading antara lain jadwal shalat, agenda kegiatan masjid, artikel keislaman, laporan singkat keuangan masjid, serta dokumentasi kegiatan KKM. Selain itu, tersedia juga kolom khusus untuk kreativitas remaja masjid, seperti puisi islami, kaligrafi, dan informasi edukatif lainnya. Pembuatan mading ini tidak hanya bertujuan sebagai media informasi, tetapi juga sebagai upaya untuk meningkatkan keterlibatan jamaah dalam setiap kegiatan masjid. Dengan adanya mading, diharapkan jamaah dapat lebih mudah memperoleh informasi terbaru dan termotivasi untuk ikut serta dalam berbagai program yang diselenggarakan. Kegiatan ini mendapat respon positif dari pengurus masjid dan jamaah. Mereka merasa terbantu dengan adanya papan informasi yang lebih tertata dan menarik. Pengurus masjid juga berharap agar mading ini dapat terus diperbarui secara berkala sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Melalui program sederhana ini, KKM 16 berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi Masjid Al-Khoirot serta meningkatkan semangat literasi dan keterbukaan di lingkungan masjid. Semoga mading masjid ini dapat menjadi langkah awal menuju informasi masjid yang lebih baik dan modern.

Thumbnail
3 months ago
Dari Aset ke Aksi : Membangun Desa Berdaya Melalui Pendekatan Asset Based Community Development

FINA NURUL QOYYIMAH

Pembangunan desa selama ini kerap dimaknai sebagai upaya mengatasi berbagai keterbatasan, mulai dari persoalan ekonomi, kesehatan, hingga kualitas sumber daya manusia. Cara pandang yang terlalu berfokus pada masalah sering kali menempatkan desa sebagai pihak yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Padahal, di balik berbagai tantangan tersebut, desa menyimpan kekuatan sosial, budaya, dan manusia yang jika dikenali dan dikelola dengan tepat, dapat menjadi modal utama pembangunan yang berkelanjutan. Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, merupakan salah satu contoh desa dengan potensi lokal yang kaya. Masyarakatnya memiliki tradisi gotong royong yang kuat, jaringan sosial yang aktif, serta berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan yang hidup dalam keseharian warga. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam satu kerangka pembangunan yang terarah. Di sisi lain, desa juga menghadapi tantangan nyata, seperti perlunya penguatan UMKM lokal, peningkatan literasi pemasaran digital, serta peningkatan kesadaran keluarga terhadap isu kesehatan, khususnya pencegahan stunting dan pola asuh anak. Dalam konteks tersebut, pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) menjadi relevan untuk digunakan sebagai kerangka berpikir dan bertindak. Pendekatan ini menekankan bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan berangkat dari pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki masyarakat, bukan semata-mata dari intervensi eksternal. Masyarakat diposisikan sebagai subjek pembangunan yang aktif, sementara pihak luar berperan sebagai fasilitator dan pendamping. Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman dan temuan lapangan dalam kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Kebobang, dengan tujuan memetakan aset desa, merumuskan mimpi kolektif warga, serta menyajikan praktik perancangan program berbasis potensi lokal. Melalui tulisan ini, diharapkan pembaca dapat melihat bahwa pembangunan desa bukan sekadar soal apa yang kurang, tetapi tentang bagaimana menggerakkan apa yang sudah ada agar memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Tahap Discovery: Mengungkap Aset yang Selama Ini Terabaika Berdasarkan diskusi, survei aset, dan refleksi bersama masyarakat Desa Kebobang, teridentifikasi bahwa warga memiliki mimpi kolektif yang relatif selaras dan realistis dengan kondisi lokal. Mimpi tersebut tidak lahir dari keinginan abstrak, melainkan dari pengalaman sehari-hari warga dalam menghadapi dinamika sosial, ekonomi, dan keluarga. Mimpi utama warga mencakup terbentuknya posko bank sampah yang terkelola secara berkelanjutan sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi mikro. Selain itu, warga mengharapkan pembangunan tugu desa sebagai simbol identitas dan kebanggaan kolektif yang merepresentasikan nilai kebersamaan masyarakat Desa Kebobang. Di sektor ekonomi, warga memiliki harapan agar UMKM lokal dapat berkembang lebih terarah dan memiliki daya saing, terutama melalui peningkatan pengetahuan pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital. Sementara itu, pada aspek keluarga dan kesehatan, muncul kebutuhan kuat akan edukasi parenting dan pencegahan stunting yang berkelanjutan, khususnya bagi orang tua dan wali murid tingkat SD/MI. Mimpi-mimpi ini menunjukkan bahwa warga desa tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, tetapi juga menginginkan perubahan sosial yang berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Visi tersebut menjadi landasan penting dalam merancang program KKM yang relevan, kontekstual, dan berorientasi jangka panjang. Tahap Dream: Merumuskan Mimpi Kolektif Warga Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. Tahap Design: Merancang Strategi Berbasis Aset Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. Tahap Destiny: Implementasi dan Penguatan Keberlanjutan Implementasi program dirancang secara bertahap dan partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lokal. Kader PKK, guru PAUD, Karang Taruna, tokoh agama, serta perangkat desa berperan sebagai pelaksana utama, sementara mahasiswa KKM bertindak sebagai fasilitator dan pendamping program. Pemanfaatan aset yang telah tersedia, seperti balai desa, jaringan Dasa Wisma, lembaga pendidikan, dan kegiatan keagamaan, memungkinkan program dijalankan secara realistis dan efisien. Pendekatan ini juga meminimalkan ketergantungan pada bantuan eksternal serta mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola program. Selain itu, keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mendorong tumbuhnya kepemimpinan lokal dan rasa memiliki terhadap program. Dengan demikian, keberlanjutan kegiatan tidak berhenti pada masa KKM, tetapi berpotensi dilanjutkan oleh masyarakat desa secara mandiri. Tahap Refleksi: Dampak Awal dan Pembelajaran Refleksi awal terhadap pelaksanaan program menunjukkan beberapa pembelajaran penting. Pertama, warga mulai menyadari bahwa kekuatan desa tidak hanya terletak pada bantuan dari luar, tetapi juga pada aset sosial, manusia, dan budaya yang telah dimiliki. Kesadaran ini mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap pembangunan desa. Kedua, terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan, khususnya pada program yang menyentuh langsung kebutuhan keluarga dan ekonomi. Hal ini menunjukkan tumbuhnya rasa memiliki terhadap proses dan hasil program. Ketiga, muncul komitmen kolektif dari warga dan pemangku kepentingan lokal untuk melanjutkan pendekatan berbasis aset sebagai strategi pembangunan desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Penutup Pengalaman pemberdayaan masyarakat di Desa Kebobang menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari daftar kekurangan dan masalah. Melalui pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), masyarakat diajak untuk mengenali kembali kekuatan yang selama ini hadir dalam kehidupan mereka, namun sering kali luput disadari. Aset manusia, sosial, institusional, budaya, dan alam yang dimiliki desa terbukti menjadi fondasi penting dalam merancang program yang relevan dan berdaya guna. Pendekatan berbasis aset juga memperlihatkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap program pembangunan. Ketika warga, kader, pemuda, dan tokoh lokal diberi ruang untuk berperan, proses pembangunan tidak lagi dipandang sebagai agenda eksternal, melainkan sebagai bagian dari kebutuhan dan cita-cita bersama. Hal ini menjadi kunci bagi keberlanjutan program setelah kegiatan pendampingan, termasuk KKM, berakhir. Lebih dari sekadar metode, ABCD menawarkan perubahan cara pandang dalam pembangunan desa. Desa tidak diposisikan sebagai objek yang menunggu bantuan, tetapi sebagai komunitas yang memiliki kapasitas untuk bertumbuh dari dalam. Penguatan UMKM, edukasi parenting dan pencegahan stunting, moderasi beragama, serta penguatan kohesi sosial di Desa Kebobang menjadi contoh bagaimana aset lokal dapat dihubungkan untuk menjawab tantangan nyata masyarakat. Pada akhirnya, pembangunan desa yang berkelanjutan menuntut keberanian untuk berpindah dari pendekatan berbasis masalah menuju pendekatan berbasis kekuatan. Pengalaman di Desa Kebobang menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan sumber daya besar, melainkan kemauan untuk melihat, menggerakkan, dan merawat potensi yang sudah ada. Jika pendekatan ini terus dilanjutkan dan diperkuat, desa tidak hanya akan menjadi objek pembangunan, tetapi aktor utama dalam menentukan masa depannya sendiri.

Thumbnail
3 months ago
Mahasiswa UIN Malang KKM 89 Satyawara Berkolaborasi dengan Karang Taruna Mengadakan Kegiatan Lomba Isra' Mi'raj di Dusun Kunci

MUHAMMAD NAUFAL HANIF

Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang KKM 89 Satyawara berkolaborasi dengan Karang Taruna Dusun Kunci dalam menyelenggarakan kegiatan Lomba Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk syiar Islam sekaligus upaya menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak dini kepada anak-anak di lingkungan Dusun Kunci. Kegiatan ini melibatkan 16 orang mahasiswa KKM 89 Satyawara yang bekerja sama dengan beberapa anggota Karang Taruna serta diikuti dengan antusias oleh anak-anak Dusun Kunci. Sinergi antara mahasiswa dan pemuda desa menjadi kekuatan utama dalam menyukseskan acara, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pendampingan peserta lomba. Adapun lomba-lomba yang diselenggarakan meliputi lomba adzan, lomba mewarnai, cerdas cermat Islami, lomba melipat mukena, serta lomba sambung ayat Al-Qur’an. Setiap lomba dirancang tidak hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai sarana edukatif untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan kecintaan anak-anak terhadap ajaran Islam. Melalui kegiatan ini, diharapkan anak-anak Dusun Kunci dapat lebih memahami makna peristiwa Isra’ Mi’raj serta termotivasi untuk terus belajar dan mengamalkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mempererat hubungan antara mahasiswa KKM, Karang Taruna, dan masyarakat setempat.

Thumbnail
3 months ago
One Day One Juz & Yasinan Bersama Remaja Masjid Ar-Ridlo

IKHZA NABIL HAZIM

Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, kegiatan One Day One Juz kembali kami laksanakan sebagai bagian dari upaya menghidupkan suasana Qur’ani di Masjid Ar-Ridlo, Blimbing. Pada kesempatan ini, kegiatan tersebut dirangkaikan dengan yasinan bersama, yang diikuti oleh Remaja Masjid Ar-Ridlo serta seluruh anggota KKM 03.     Kegiatan ini menjadi sarana memperkuat keimanan, menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta mempererat ukhuwah antara mahasiswa KKM dan pemuda masjid. ? One Day One Juz Menjelang Maghrib Kegiatan One Day One Juz dimulai pada pukul 17.00 WIB, menjelang waktu Sholat Maghrib. Ayat-ayat suci Al-Qur’an dilantunkan melalui speaker masjid, mengisi sore hari dengan kalam Allah yang menenangkan hati.   Suasana sekitar masjid terasa lebih teduh. Jamaah yang hadir lebih awal dapat menyimak bacaan Al-Qur’an, sementara masyarakat sekitar turut mendengarkan lantunan ayat yang menggema dari masjid.   ? Sholat Maghrib & Isya Berjamaah Setelah rangkaian One Day One Juz selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Sholat Maghrib berjamaah. Kebersamaan semakin terasa seiring bertambahnya jamaah yang datang.   Menjelang Isya, jamaah memanfaatkan waktu dengan dzikir dan persiapan kegiatan selanjutnya. Kemudian, Sholat Isya berjamaah dilaksanakan sebagai penutup rangkaian ibadah wajib malam itu.