Thumbnail
8 months ago
Pembukaan KKM Kelompok 21 di Masjid Asy-Syuhada

NUR AZIZATUN NIKMAH

Pembukaan KKM Kelompok 21 di Masjid Asy-Syuhada: Menguatkan Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat Kegiatan pembukaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 21 resmi dilaksanakan di Masjid Asy-Syuhada sebagai langkah awal dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Acara ini dihadiri oleh pengurus masjid, tokoh masyarakat, serta seluruh anggota KKM Kelompok 21 yang akan menjalankan program pengabdian selama periode KKM berlangsung. Pembukaan KKM ini menjadi momentum penting dalam membangun komunikasi awal antara mahasiswa dan masyarakat setempat. Bertempat di lingkungan masjid yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial warga, kegiatan berlangsung dengan suasana khidmat namun penuh kehangatan. Masjid Asy-Syuhada dipilih sebagai lokasi pembukaan karena perannya yang strategis sebagai ruang berkumpul dan pusat interaksi masyarakat. Dalam rangkaian acara, perwakilan mahasiswa KKM Kelompok 21 menyampaikan maksud dan tujuan pelaksanaan KKM, sekaligus memperkenalkan seluruh anggota kelompok kepada masyarakat. Mahasiswa menegaskan komitmen mereka untuk berkontribusi secara aktif, tidak hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra masyarakat yang siap belajar dan berkolaborasi. Penyerahan simbolis dari pihak kampus kepada pengurus masjid menjadi tanda diterimanya mahasiswa KKM Kelompok 21 secara resmi oleh masyarakat. Tokoh masyarakat dan pengurus Masjid Asy-Syuhada dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa KKM. Mereka berharap program-program yang dirancang dapat memberikan manfaat nyata, terutama dalam penguatan kegiatan keagamaan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, masyarakat juga menaruh harapan agar mahasiswa mampu menjaga etika, sopan santun, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman selama berada di lingkungan desa. Kegiatan pembukaan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi ruang awal untuk membangun kesepahaman bersama. Diskusi singkat antara mahasiswa dan tokoh masyarakat membuka peluang sinergi dalam merancang program yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan program KKM yang berkelanjutan dan berdampak positif. Melalui pembukaan KKM Kelompok 21 di Masjid Asy-Syuhada, mahasiswa secara resmi memulai perjalanan pengabdian yang menuntut tanggung jawab, kedisiplinan, dan empati sosial. Kegiatan ini menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan harmonis antara mahasiswa dan masyarakat. Harapannya, kehadiran mahasiswa KKM tidak hanya meninggalkan jejak program, tetapi juga nilai kebersamaan, gotong royong, dan kebermanfaatan yang dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas.

Thumbnail
8 months ago
Menggerakkan Potensi Lokal: KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh dengan Pendekatan ABCD

AZZAHRA INTAN SALSABILA

Pembangunan desa selama ini masih sering dipahami dari sudut pandang kekurangan. Desa kerap digambarkan sebagai wilayah dengan fasilitas terbatas, sumber daya manusia yang belum optimal, serta keterbatasan akses terhadap program pemberdayaan dan peluang ekonomi. Cara pandang tersebut secara tidak langsung menempatkan desa sebagai objek pembangunan yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Akibatnya, potensi yang sebenarnya telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat sering kali luput dari perhatian. Padahal, setiap desa memiliki kekuatan lokal yang lahir dari aktivitas warganya sehari-hari, hubungan sosial yang terjalin, lembaga-lembaga komunitas yang terus berjalan, serta berbagai bentuk usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri. Potensi tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk fasilitas fisik yang besar, melainkan tersimpan dalam keterampilan warga, kebiasaan gotong royong, semangat belajar anak-anak, kepedulian keluarga terhadap kesehatan, serta kreativitas pelaku usaha lokal. Apabila potensi ini dikenali, dipetakan, dan dikembangkan secara bersama, desa memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk membangun kesejahteraan warganya secara berkelanjutan. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, memperlihatkan bahwa pembangunan berbasis potensi lokal dapat diwujudkan melalui pendekatan yang tepat. Melalui kerangka Asset Based Community Development (ABCD) yang dikembangkan oleh LP2M, mahasiswa hadir bukan untuk membawa program siap pakai, melainkan memfasilitasi proses pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki desa. Pendekatan ABCD memandang masyarakat sebagai pemilik utama sumber daya dan pengetahuan lokal. Dalam praktiknya, mahasiswa KKM berperan sebagai mitra dan fasilitator yang membantu warga menggali potensi, menghubungkan antar kelompok masyarakat, serta mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor desa. Proses ini diawali dengan pengenalan kondisi desa, interaksi langsung dengan warga, diskusi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, pengelola lembaga pendidikan, kader posyandu, pemuda Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Melalui dialog dan keterlibatan langsung, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Desa Sengguruh memiliki banyak aset sosial, pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi yang dapat saling mendukung apabila dikelola secara terpadu. *Pendidikan Anak dan TPQ sebagai Aset Sosial yang Hidup* Salah satu aset penting yang dimiliki Desa Sengguruh adalah keberadaan lembaga pendidikan formal dan nonformal yang aktif dan mendapatkan dukungan masyarakat. Kegiatan asistensi mengajar yang dilaksanakan di SDN Sengguruh menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan kepercayaan diri anak-anak. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan praktik sederhana yang melibatkan siswa secara langsung. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan, berani bertanya, serta aktif menyampaikan pendapat. Respons positif ini menunjukkan bahwa minat belajar dan rasa ingin tahu anak-anak di Desa Sengguruh merupakan aset sosial yang sangat berharga. Selain di sekolah, kegiatan pendampingan juga dilaksanakan di TPQ Nurul Huda. TPQ berperan sebagai ruang pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan sikap disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab. Anak-anak mengikuti kegiatan mengaji dengan penuh semangat, sementara mahasiswa membantu dalam penguatan bacaan, hafalan, serta penyampaian nilai-nilai akhlak sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keberadaan SDN Sengguruh dan TPQ Nurul Huda memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan di desa tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara pembelajaran, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial anak-anak dan orang tua. Sekolah dan TPQ menjadi titik temu antara pendidik, keluarga, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak desa, lembaga pendidikan ini berpotensi menjadi pusat pengembangan generasi muda yang kreatif, berkarakter, religius, dan adaptif terhadap perubahan. *Posyandu dan Edukasi Keluarga sebagai Aset Kesehatan yang Efektif* Di bidang kesehatan, Desa Sengguruh memiliki jaringan posyandu yang aktif dan didukung oleh kader-kader yang berperan langsung dalam pelayanan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan posyandu selama empat hari menunjukkan tingginya partisipasi warga, khususnya ibu-ibu yang membawa balita untuk melakukan penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, serta konsultasi kesehatan. Selain pelayanan rutin, mahasiswa KKM turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi kesehatan dan edukasi parenting. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang mendukung perkembangan anak, pencegahan penyakit ringan di lingkungan keluarga, serta peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan emosional anak. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima. Posyandu di Desa Sengguruh tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan dasar, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi keluarga. Interaksi antara kader, mahasiswa, dan warga membentuk proses pertukaran pengetahuan yang sederhana namun bermakna. Melalui pendekatan ABCD, keberadaan kader posyandu, PKK, serta jaringan ibu-ibu desa dipandang sebagai aset sosial yang mampu menyebarluaskan informasi kesehatan secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah ada, edukasi kesehatan tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dapat diteruskan melalui pertemuan rutin, kegiatan PKK, dan interaksi informal antarwarga. Dampaknya dirasakan langsung oleh unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sebagai fondasi utama pembangunan kualitas sumber daya manusia desa. *UMKM Lokal dan Penguatan Ekonomi Desa* Desa Sengguruh memiliki potensi ekonomi lokal yang cukup beragam. Beberapa UMKM telah berjalan secara mandiri, seperti usaha batik, produksi keripik tempe, dan pembuatan sepatu. Usaha-usaha ini menunjukkan kemampuan warga dalam mengelola keterampilan, bahan lokal, dan jaringan pemasaran sederhana. Namun, salah satu aset ekonomi sekaligus budaya yang paling menonjol adalah Rumah Topeng Desa Sengguruh. Rumah Topeng tidak hanya berperan sebagai tempat produksi topeng tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya desa yang merepresentasikan nilai seni, sejarah, dan kearifan lokal. Keberadaan Rumah Topeng menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar desa, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Mahasiswa KKM mendampingi pengelola UMKM, khususnya Rumah Topeng, melalui kegiatan penataan ruang produksi, perbaikan tampilan visual, serta diskusi mengenai strategi promosi sederhana. Pendampingan ini menekankan bahwa penguatan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari perbaikan tata ruang, dokumentasi produk yang lebih menarik, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Melalui proses tersebut, pengelola UMKM memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya tampilan produk, cerita di balik produk lokal, serta potensi pasar yang dapat dijangkau secara lebih luas. Dengan dukungan berbasis aset dan kreativitas lokal, UMKM di Desa Sengguruh memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. *Kohesi Sosial dan Balai Desa sebagai Pusat Aktivitas Masyarakat* Selain aset pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Desa Sengguruh juga memiliki kekuatan sosial yang tercermin melalui aktivitas pemuda dan keberfungsian balai desa. Kegiatan kerja bakti yang melibatkan pemuda Karang Taruna menjadi contoh nyata semangat gotong royong yang masih terjaga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang interaksi antarwarga lintas usia. Pemuda desa menunjukkan peran aktif dalam mendukung berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Keterlibatan mereka menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan program desa, sekaligus sebagai calon penggerak pembangunan desa di masa depan. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi berbagai kegiatan masyarakat. Berbagai program KKM, seperti sosialisasi kesehatan, pertemuan UMKM, diskusi bersama perangkat desa, hingga kegiatan komunitas pemuda, dilaksanakan di balai desa. Keberadaan balai desa sebagai ruang publik memungkinkan terbangunnya komunikasi yang terbuka, partisipasi warga, serta proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif. Pemanfaatan balai desa dan jejaring sosial yang telah terbentuk membuat setiap kegiatan saling terhubung dan berjalan lebih efektif. Rasa memiliki terhadap program desa pun semakin kuat, sehingga ketergantungan terhadap bantuan eksternal dapat secara perlahan dikurangi. *ABCD sebagai Kerangka Pemberdayaan Desa* Pendekatan ABCD dari LP2M menjadi landasan utama bagi KKM Reguler Kelompok 82 dalam merancang seluruh kegiatan di Desa Sengguruh. Fokus utama pendekatan ini adalah mengidentifikasi dan mengoptimalkan aset yang sudah ada, baik berupa aset individu, kelompok, lembaga, maupun fasilitas desa. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antar aset agar dapat saling mendukung. Edukasi parenting di posyandu dapat dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran karakter di sekolah dan TPQ. Promosi UMKM dan Rumah Topeng dapat terintegrasi dengan pemanfaatan balai desa sebagai pusat informasi dan ruang pamer. Kegiatan kerja bakti dan peran pemuda Karang Taruna memperkuat kohesi sosial yang menjadi landasan keberlanjutan program-program tersebut. Melalui integrasi ini, masyarakat mulai melihat bahwa setiap kelompok dan lembaga di desa memiliki peran yang saling melengkapi. Desa Sengguruh tidak lagi diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek pembangunan yang memiliki kapasitas untuk menentukan arah, prioritas, dan bentuk pengembangan desanya sendiri. *Penutup* Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan berangkat dari kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengelola, dan merawat potensi yang telah dimiliki. Desa Sengguruh membuktikan bahwa aset manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan dapat saling terhubung untuk menghasilkan perubahan yang nyata. Anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, ibu-ibu yang semakin peduli terhadap kesehatan keluarga, UMKM kreatif terutama Rumah Topeng sebagai ikon budaya desa, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial, serta balai desa yang berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, menjadi fondasi penting bagi masa depan Desa Sengguruh yang mandiri dan berdaya. Pembangunan desa tidak lagi semata-mata dipahami sebagai upaya memperbaiki kekurangan, tetapi sebagai proses menggerakkan, menghubungkan, dan mengembangkan kekuatan lokal agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan mahasiswa KKM, Desa Sengguruh memiliki modal sosial yang kuat untuk melanjutkan praktik pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Thumbnail
8 months ago
BLOG KKM 67 KALIASRI

WAHYU ADI NUGROHO

  Program kerja UMKM pembuatan kecap Patin dilaksanakan sebagai upaya mendorong pengembangan usaha olahan pangan melalui inovasi produk kecap dengan merek lokal “Patin”. Kegiatan ini meliputi sosialisasi kepada masyarakat, pelatihan proses produksi kecap mulai dari pengolahan bahan baku, pemasakan hingga pengemasan, serta pendampingan sederhana terkait branding dan pemasaran produk. Melalui program ini, masyarakat diharapkan memiliki keterampilan produksi kecap yang bernilai jual, mampu mengembangkan merek lokal secara mandiri, serta memperkuat keberlanjutan UMKM desa.

Thumbnail
8 months ago
Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Tradisi Lokal: Mahasiswa KKM 38 UIN Malang Gelar Kajian “Menjaga Warisan Tradisi dalam Keteguhan Akidah” di Musholla Miftahul Falah

JIHAN FARICHA PUTRI

MALANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 38 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan moderasi beragama bertema “Menjaga Warisan Tradisi dalam Keteguhan Akidah” pada malam hari di Musholla Miftahul Falah, Dusun Wates, Desa Wonomulyo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Kegiatan yang berlangsung pada pukul 20.00 hingga 22.30 WIB ini menjadi salah satu program kerja utama mahasiswa KKM dalam rangka penguatan literasi keagamaan masyarakat. Kajian tersebut dihadiri oleh masyarakat setempat dari berbagai kalangan, serta turut diikuti oleh beberapa kelompok KKM UIN Malang se-Poncokusumo, sehingga kegiatan berjalan lebih luas dan penuh antusiasme. Mahasiswa KKM Kelompok 38 hadir tidak hanya sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga sebagai fasilitator edukasi yang mendorong penguatan nilai-nilai moderasi beragama. Dalam konteks masyarakat yang beragam, moderasi beragama dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang, tidak ekstrem, tidak mudah menyalahkan pihak lain, serta tetap menjunjung tinggi prinsip ajaran Islam yang damai dan menebarkan kemaslahatan sosial. Tema kajian menekankan pentingnya menjaga tradisi lokal yang telah mengakar di masyarakat, selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar akidah. Tradisi dipandang sebagai bagian dari identitas sosial yang memiliki peran dalam mempererat hubungan antarwarga, menumbuhkan gotong royong, serta menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat. Materi utama disampaikan oleh Ustadz Susiono, yang menjelaskan bahwa tradisi merupakan warisan sosial yang dapat menjadi sarana memperkuat persaudaraan. Namun demikian, beliau menegaskan bahwa keteguhan akidah tetap menjadi pondasi utama umat Islam, sehingga setiap tradisi perlu dipahami dengan bijak, dilestarikan nilai baiknya, serta disaring agar tidak melenceng dari prinsip-prinsip keimanan. Penyampaian materi dilakukan secara komunikatif dan mudah dipahami. Ustadz Susiono juga mengajak jamaah untuk tidak mudah menghakimi praktik tradisi tertentu tanpa pemahaman yang cukup, karena sikap santun dan berilmu merupakan bagian dari cara menjaga persatuan umat. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi dialog dan diskusi bersama. Warga diberi kesempatan menyampaikan pertanyaan maupun pandangan terkait tradisi sosial-keagamaan yang berkembang di lingkungan mereka. Forum tersebut menjadi ruang refleksi bersama bahwa perbedaan praktik tradisi dapat dikelola dengan dialog yang sehat, bukan dengan konflik. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKM Kelompok 38, Kivah Aha Putra, M.Pd.I, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan edukasi keagamaan yang kontekstual dan dibutuhkan masyarakat. Menurut beliau, program moderasi beragama menjadi bentuk implementasi pengabdian yang tidak hanya berdampak sosial, namun juga memperkuat nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. Beliau menilai, mahasiswa KKM tidak sekadar menjalankan program kerja, melainkan juga membawa pendekatan edukatif dalam menyampaikan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, dan memperhatikan kondisi sosial masyarakat setempat. Melalui kegiatan ini, masyarakat memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menjaga tradisi dalam bingkai keteguhan akidah. Selain itu, mahasiswa berharap nilai-nilai moderasi beragama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga kerukunan, memperkuat persatuan, serta mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan. Mahasiswa KKM 38 UIN Malang berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan edukatif yang relevan dan bermanfaat selama masa pengabdian berlangsung. Dengan sinergi antara mahasiswa, masyarakat, dan kelompok KKM se-Poncokusumo, kegiatan keagamaan diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga menjadi ruang penguatan nilai serta pembangunan karakter sosial yang harmonis.    

Thumbnail
8 months ago
Mahasiswa FKIK UIN Malang Dampingi Calon Jamaah Haji di Batu Lewat Edukasi Sehat dan Monitoring Kesehatan

MUHAMMAD SYAHDAN GUSTI ABDILLAH PRATAMA

Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Program Hajj Interprofessional Education (HIPE) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghadirkan kegiatan pendampingan kesehatan bagi calon jamaah haji di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu. Kelompok 38 melaksanakan program ini selama kurang lebih satu bulan, mulai akhir Desember 2025 hingga awal Februari 2026, dengan fokus utama meningkatkan kesiapan fisik atau istitha’ah kesehatan calon jamaah haji sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Keunggulan utama dari pelaksanaan KKM ini terletak pada adanya intervensi kesehatan yang spesifik dan langsung menyasar calon jamaah haji (CJH), khususnya yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi, obesitas, hiperkolesterolemia, serta kebiasaan merokok aktif. Program ini tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga dirancang secara terstruktur untuk membantu CJH meningkatkan kesadaran dan kesiapan dalam menjaga kondisi kesehatan menjelang ibadah haji. Intervensi dilakukan melalui kombinasi pemeriksaan kesehatan berkala, penyuluhan menggunakan media poster dan video edukasi, pemberian booklet journaling untuk memantau pola hidup sehari-hari, serta aktivitas fisik berupa jalan sehat sebagai persiapan menghadapi rangkaian ibadah haji yang menuntut stamina tinggi. Pendekatan komprehensif ini menjadikan kegiatan KKM lebih tepat sasaran, memberikan dampak nyata, serta mendukung calon jamaah haji agar mampu menjalankan ibadah secara aman, lancar, dan mandiri.

Thumbnail
8 months ago
Peringatan Isra' Mi'raj di SDN 1 Sidodadi Berlangsung Khidmat dan Meriah

DRESTANTA PAMBUDI

Sidodadi Lawang -- SD Negeri 1 Sidodadi menggelar kegiatan Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW pada Rabu, 21 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung sejak pukul 07.30 hingga 10.00 WIB dan diikuti oleh seluruh siswa serta guru dengan penuh antusias dan tertib.Rangkaian acara diawali pada pukul 07.30 WIB dengan Semarak Isra' Mi'raj keliling desa yang diiringi oleh drumband sekolah. Seluruh siswa dan guru mengenakan busana muslim sebagai bentuk penghormatan terhadap peringatan hari besar Islam tersebut. Kegiatan keliling desa berlangsung dengan tertib dan aman, serta mendapat perhatian positif dari masyarakat sekitar. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini turut dibantu oleh mahasiswa KKM Artha Mandala -- UIN Malang. Mahasiswa berperan aktif dalam mengarahkan adik-adik siswa selama di jalan serta membantu menjaga ketertiban dan keamanan selama kegiatan keliling desa berlangsung. Kehadiran mahasiswa KKM memberikan dukungan nyata terhadap kelancaran rangkaian acara.Setelah kegiatan keliling desa selesai, acara dilanjutkan dengan banjarian yang diikuti oleh siswa dan guru. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap shalawat serta memperkuat nilai-nilai religius di lingkungan sekolah. Rangkaian acara berikutnya adalah pemutaran video kisah Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, dilanjutkan dengan video tentang pentingnya melaksanakan sholat sebagai inti pesan dari peristiwa Isra' Mi'raj. Untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi siswa, panitia mengadakan sesi tanya jawab yang disertai dengan pembagian doorprize bagi siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar. Seluruh rangkaian kegiatan Peringatan Isra' Mi'raj di SD Negeri 1 Sidodadi berakhir pada pukul 10.00 WIB dan berjalan dengan lancar, aman, serta kondusif. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa dapat memahami makna Isra' Mi'raj secara lebih mendalam serta termotivasi untuk mengamalkan nilai-nilai keislaman, khususnya dalam menjaga kewajiban sholat dalam kehidupan sehari-hari.