Thumbnail
8 months ago
Bukan Sekadar Pengabdian: KKM yang Mengubah Tawa Jadi Kenangan

RIA NAJJA NILA NAFIAH

Selama KKM, aku belajar bahwa pengabdian bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi tentang membangun kedekatan yang tulus dengan masyarakat khususnya calon jamaah haji. Salah satu momen paling berkesan bagiku adalah saat kami duduk bersama , menikmati hidangan sederhana sambil berbagi cerita dan tawa. Dari obrolan santai itu, rasa canggung perlahan hilang dan berubah menjadi kehangatan layaknya keluarga.Kebersamaan sederhana tersebut justru menjadi pelajaran paling berharga. Aku belajar tentang empati, kebersamaan, dan arti hadir sepenuhnya di tengah masyarakat. Bagiku, di situlah makna KKM yang sebenarnya bukan sekadar kegiatan, tetapi perjalanan penuh cerita yang akan selalu ku kenang.

Thumbnail
8 months ago
Penguatan Literasi Gizi dan Parenting Berbasis Edukasi Kesehatan Masyarakat, Mahasiswa KKM 38 UIN Malang Sosialisasikan Pencegahan Stunting di PAUD Wonomulyo II

ANANDA AMALIA EFENDI

MALANG – Pencegahan stunting merupakan salah satu agenda penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat karena berkaitan langsung dengan kualitas tumbuh kembang anak dan daya saing generasi masa depan. Kesadaran inilah yang mendorong Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 38 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang untuk menyelenggarakan kegiatan sosialisasi stunting dan parenting di PAUD Wonomulyo II, Dusun Robyong, Desa Wonomulyo, Kecamatan Poncokusumo. Kegiatan yang berlangsung pada pagi hari tersebut diikuti oleh wali murid PAUD beserta sejumlah pihak pendamping. Sosialisasi ini dirancang sebagai ruang edukasi sekaligus dialog bersama, sehingga masyarakat tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk berdiskusi dan mengklarifikasi berbagai persoalan yang sering ditemui dalam pengasuhan anak sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda penyuluhan, melainkan juga bagian dari proses penguatan literasi kesehatan keluarga yang lebih kontekstual. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM 38 menghadirkan pemateri profesional dari bidang kesehatan gizi, yakni Ayu Shinta Arizona, S.Gz., RD., seorang dokter ahli gizi yang memberikan pemaparan mendalam mengenai stunting serta upaya pencegahannya. Kehadiran pemateri langsung dari tenaga profesional menjadi nilai tambah penting karena materi yang disampaikan tidak hanya berbasis pengalaman lapangan, tetapi juga memiliki landasan ilmiah yang kuat dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui pemaparannya, Ayu Shinta Arizona, S.Gz., RD. menjelaskan bahwa stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang terjadi akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang. Belliau menegaskan bahwa dampak stunting tidak hanya terlihat pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap perkembangan kognitif, daya tahan tubuh, hingga produktivitas anak ketika memasuki usia sekolah dan dewasa. Oleh karena itu, pencegahan stunting harus dipahami sebagai langkah strategis yang melibatkan keluarga sebagai pihak paling dekat dengan anak.   Dalam sesi edukasi, peserta diajak memahami bahwa pencegahan stunting dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam keluarga. Pemateri menekankan pentingnya penerapan gizi seimbang, termasuk pemenuhan kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang memadai sesuai tahap usia anak. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa pemberian makan bukan hanya bertujuan agar anak kenyang, melainkan untuk memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi secara tepat. Hal ini termasuk memperhatikan kualitas bahan pangan, variasi menu harian, serta jadwal makan yang teratur agar anak terbiasa dengan pola konsumsi yang sehat. Aspek lain yang turut menjadi perhatian adalah pentingnya kebersihan lingkungan. Pemateri menjelaskan bahwa sanitasi yang buruk dan kurangnya perilaku hidup bersih dapat meningkatkan risiko infeksi pada anak, yang pada akhirnya mengganggu penyerapan nutrisi. Dalam konteks ini, edukasi stunting tidak dapat dipisahkan dari edukasi kesehatan lingkungan, karena keduanya saling berkaitan dalam membentuk ketahanan kesehatan anak. Tidak kalah penting, sosialisasi ini juga mengangkat tema parenting sebagai faktor pendukung utama dalam pencegahan stunting. Para wali murid diberikan pemahaman bahwa pola asuh yang baik tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan emosional dan psikologis anak. Pemateri menekankan pentingnya pola asuh yang responsif, pendampingan yang konsisten, serta stimulasi perkembangan anak melalui interaksi yang positif di rumah. Dengan pola asuh yang tepat, anak akan lebih mudah diarahkan untuk membangun kebiasaan sehat, mulai dari pola makan, kebersihan diri, hingga rutinitas harian. Kegiatan semakin interaktif ketika memasuki sesi diskusi. Wali murid menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan pertanyaan yang beragam, mulai dari cara menghadapi anak yang sulit makan, strategi mengenalkan sayur dan lauk bergizi, hingga tips menyusun menu sehat yang tetap terjangkau bagi keluarga. Antusiasme peserta menjadi indikator bahwa materi yang disampaikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus memperlihatkan tingginya kepedulian orang tua terhadap kesehatan anak. Untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, mahasiswa KKM 38 juga menyisipkan games edukatif yang berkaitan dengan tema gizi dan pola asuh. Kegiatan ini membuat suasana sosialisasi lebih hangat dan komunikatif, sehingga peserta dapat mengikuti rangkaian acara dengan nyaman. Di akhir kegiatan, mahasiswa turut membagikan doorprize sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif wali murid. Pendekatan edukasi yang dipadukan dengan aktivitas interaktif ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta serta memperkuat ingatan terhadap materi yang telah disampaikan. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKM Kelompok 38, Kivah Aha Putra, M.Pd.I, menyampaikan bahwa kegiatan edukasi kesehatan seperti sosialisasi stunting dan parenting memiliki kontribusi penting bagi masyarakat. Menurutnya, pengabdian mahasiswa tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program kerja, tetapi juga pada dampak kebermanfaatan yang dirasakan langsung oleh warga. Ia menilai bahwa penguatan literasi gizi dan pola asuh merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan keluarga, serta mendukung terciptanya generasi yang lebih sehat dan berkualitas. Sebagai tindak lanjut, mahasiswa KKM 38 melakukan dokumentasi kegiatan serta menyusun laporan pelaksanaan sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik. Dokumentasi tersebut sekaligus menjadi bahan evaluasi agar program-program edukatif selanjutnya dapat dirancang lebih tepat sasaran. Mahasiswa berharap, pengetahuan yang diperoleh wali murid tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, melainkan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pengaturan pola makan anak, penerapan kebersihan lingkungan, maupun pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Melalui sosialisasi ini, Mahasiswa KKM 38 UIN Malang menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan edukatif yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Sinergi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan warga desa diharapkan mampu memperkuat kesadaran kolektif mengenai pentingnya pencegahan stunting, sekaligus membangun lingkungan keluarga yang lebih sehat, peduli gizi, dan memiliki pola pengasuhan yang lebih baik.  

Thumbnail
8 months ago
Sosialisasi Parenting: Belajar Pola Asuh yang Lebih Baik Bersama Warga Desa Nglebeng

AMELIFIA TIARA NUR RAFIQAH

Keluarga adalah tempat pertama anak belajar banyak hal, mulai dari cara berbicara, bersikap, sampai mengenal nilai-nilai dalam kehidupan. Karena itu, pola asuh orang tua punya peran besar dalam membentuk karakter anak sejak dini. Berangkat dari hal tersebut, mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan kegiatan Sosialisasi Parenting di Desa Nglebeng sebagai salah satu program kerja selama pelaksanaan KKM. Dalam sosialisasi ini, pembahasan berfokus pada hal-hal yang sering terjadi di rumah, seperti cara membangun komunikasi yang baik dengan anak, bagaimana menghadapi anak ketika sedang marah atau sulit diatur, serta pentingnya memberikan contoh yang baik melalui perilaku orang tua. Peserta juga diajak memahami bahwa mendidik anak bukan hanya soal menasihati, tetapi juga soal menciptakan lingkungan rumah yang nyaman dan mendukung. Bagian yang paling menarik adalah sesi diskusi. Banyak peserta yang menyampaikan pertanyaan sekaligus cerita tentang kendala yang sering mereka alami saat mendampingi anak. Mulai dari anak yang susah diarahkan, kurang disiplin, sampai tantangan orang tua dalam membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Dari sesi ini, suasana semakin hidup karena peserta saling bertukar pandangan, dan solusi yang diberikan pun terasa lebih relevan. Melalui kegiatan Sosialisasi Parenting ini, mahasiswa KKM berharap warga Desa Nglebeng bisa mendapatkan wawasan baru tentang pola asuh yang lebih positif dan sehat. Harapannya, ilmu yang didapat tidak hanya berhenti di kegiatan ini saja, tetapi bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar anak tumbuh dengan lebih percaya diri, mandiri, dan memiliki sikap yang baik. Kegiatan ini juga menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa KKM karena bisa terlibat langsung dalam proses belajar bersama masyarakat. Semoga kegiatan seperti ini bisa menjadi langkah kecil yang membawa manfaat besar, terutama dalam membangun keluarga yang lebih harmonis dan generasi yang lebih baik.

Thumbnail
8 months ago
Jalan Pagi Bersama CJH

LAELY ANISATURROHMAH

Pada minggu ketiga kunjungan KKM (24 Januari 2026), kami kelompok 42 melakukan agenda yang pertama yaitu jalan pagi bersama dengan CJH yaitu Pak Eddy dan juga Bu Yani. Kami melakukan jalan pagi di batu panorama dan berhasil mendapatkan ±5 km langkah. Kami sangat senang karena dapat mendampingi Pak Eddy dan Bu Yani untuk mempersiapkan kebugaran fisik beliau ketika menjalankan ibadah haji di Tanah Suci nantinya. Setelah melakukan jalan pagi bersama, kemudian kita makan bubur bersama. Sebelum makan, kami melakukan pengecekan kesehatan terlebih dahulu kepada bapak dan ibu CJH. Setelah selesai makan, kita langsung kembali ke rumah CJH bersama sama. Lalu, kami memberikan media berupa poster sebagai salah satu media intervensi bapak dan ibu CJH. Selain itu, kami juga berbincang bincang bersama. Kami merasa senang karena alhamdulilah dari awal kunjungan bapak dan ibu CJH dapat menerima kami dengan sangat hangat dan bersedia untuk kami dampingi sebelum berangkat ke Tanah Suci.  Dengan adanya program KKM ini dapat menjadi sarana untuk para mahasiswa FKIK dapat mengabdikan diri kepada masyarakat dan mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh di perkuliahan kepada masyarakat. Harapan saya untuk program KKM ini kedepannya yaitu semoga dapat terus berjalan dan berkembang meluas ke wilayah lain agar dapat memberikan pendampingan serta wawasan terkait kesiapan fisik untuk menunjang istithoah kesehatan para CJH. 

Thumbnail
8 months ago
Kontribusi Mahasiswa KKM Kelompok 80 dalam Kegiatan Munajat Jalanan di Pondok Pesantren Al-Ghozali

SHALIA SULFINA

Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 80 yang melaksanakan pengabdian di Desa Pakis Kembar, Kabupaten Malang, turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat. Salah satu bentuk kontribusi tersebut adalah keterlibatan mahasiswa KKM dalam kegiatan Munajat Jalan yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Al-Ghozali. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu malam Minggu, 27 Desember 2025. Kegiatan Munajat Jalan merupakan peringatan haul para kiai dan tokoh terdahulu Pondok Pesantren Al-Ghozali yang dikemas secara inklusif. Penamaan Munajat Jalan dipilih sebagai simbol upaya pondok pesantren dalam merangkul masyarakat luas, khususnya anak-anak jalanan dan komunitas Vespa, agar dapat ikut serta dalam kegiatan keagamaan tanpa adanya sekat sosial. Berbeda dengan kegiatan haul pada umumnya, Munajat Jalan tidak hanya diisi dengan pembacaan sholawat, pengajian, dan doa bersama, tetapi juga menampilkan pertunjukan dari anak-anak jalanan, seperti bernyanyi dan seni musik. Hal ini menjadi wujud dakwah yang humanis serta bentuk kepedulian terhadap anak-anak jalanan agar mereka merasa dihargai dan diterima di tengah masyarakat. Tujuan dari kegiatan ini tidak hanya untuk mendoakan para kiai dan tokoh yang telah wafat, tetapi juga sebagai bentuk munajat dan doa bagi anak-anak jalanan agar senantiasa diberikan perlindungan, keselamatan, dan harapan kehidupan yang lebih baik. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKM Kelompok 80 berperan sebagai panitia dengan membantu persiapan dan kelancaran acara. Keterlibatan ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam menumbuhkan rasa kepedulian sosial, kerja sama, serta penguatan peran mahasiswa sebagai agen pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan Munajat Jalan, diharapkan nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, dan kemanusiaan dapat terus terjaga serta memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.

Thumbnail
8 months ago
Dari Bambu Menjadi Rupiah : Kegiatan Ekonomi Kreatif Industri tusuk Sate di Desa Pakis Kembar Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Dari Bambu Menjadi Rupiah : Kegiatan Ekonomi Kreatif Industri tusuk Sate di Desa Pakis Kembar", Klik u

FERA VERONIKA

Desa Pakiskembar, yang terletak di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, mungkin tampak seperti pedesaan pada umumnya di Jawa Timur. Namun dibalik desa yang asri tersebut terdapat industri kecil (home industry) di dusun Jambon desa pakiskembar yaitu pembuatan tusuk sate, yang telah memasok kebutuhan lokal hingga merambah ke luar kota. Industri ini bukan sekedar usaha sampingan, melainkan urat nadi ekonomi yang menghidupkan ratusan kepala keluarga di sana. Pak Yeto pengusaha tusuk sate di Pakiskembar yang memulai usahanya sejak tujuh  tahun lalu. Awalnya, pembuatan tusuk sate dilakukan secara manual dengan alat seadanya, namun seiring berjalannya waktu pak Yeto mulai beralih ke mekanisasi dan mengimpor alat dari Thailand sehingga dapat  membantu mempermudah pekerja dalam bekerja.   Dengan banyaknya permintaan pasar terutama dari pedagang sate ayam, sate kambing, hingga jajanan kekinian seperti froozen food dan cilok. Pak Yeto berinisiatif untuk membuat mesin sendiri dengan mempertimbangkan pengeluaran anggaran dalam pembelian mesin poles impor dengan membuat mesin poles sendiri.   Keberhasilan tusuk sate pak yeto terletak pada keuletannya dalam mempromosikan tusuk sate miliknya dan tidak luput dengan pemilihan bahan baku serta ketelitian prosesnya.   Industri tusuk sate ini menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusf. Tidak hanya pemilik usaha yang diuntungkan, tetapi juga warga sekitar melalui sistem padat karya. Banyak ibu rumah tangga di dusun jambon yang mengisi waktu luan mereka dengan membantu proses penyortiran dan pengemasan. Pekerjaan ini memungkinkan mreka tetap berada di rumah sambil mendapatkan penghasila tambahan untuk membantu biaya sekolah anak atau kebutuhan dapur. Industri ini adalah bukti nyata bagaimana sebuah desa mampu mandirisecara ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya alam dan kreativitas. Meskipun terlihat sederhana, tusuk sate adalah komponen penting dalam kuliner Indonesia yang tak lekang oleh waktu. (Redaksi Sadyacara kel.80 KKM UIN MALANG)