Thumbnail
2 months ago
Sosialisasi bahaya pernikahan dini di dusun sukamade

IKA LORENZA APRILIA SUKMA WARDAYA

Putus Rantai Pernikahan Dini, Mahasiswa KKM UIN Malang Bakar Semangat Siswa SMPN 3 Pesanggaran Dusun Sukamade, Banyuwangi – Di tengah rimbunnya belantara Taman Nasional Meru Betiri, upaya menyelamatkan masa depan generasi muda terus dilakukan. Senin siang, mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar sosialisasi bahaya pernikahan dini dan motivasi pendidikan bagi siswa-siswi SMPN 3 Pesanggaran Satu Atap, Dusun Sukamade.  Menghadirkan narasumber Ryan Basith Fasih Khan, SE., MM, selaku Dosen Pendamping Lapangan, kegiatan ini menyoroti tingginya persentase perjodohan dan pernikahan usia anak di wilayah tersebut. Pendidikan jenjang tinggi ditekankan sebagai "senjata" utama untuk memutus rantai keterbatasan ekonomi dan geografis yang selama ini membelenggu warga Sukamade. Melawan Tradisi dengan Mimpi Diskusi berlangsung dinamis saat para siswa mulai terbuka mengenai realita sosial yang mereka hadapi. Di Sukamade, tantangan terbesar bukan sekadar jarak sekolah yang jauh, melainkan pola pikir lingkungan yang menganggap pernikahan sebagai jalan pintas setelah lulus sekolah tingkat pertama. Kepala Dusun Sukamade, Bapak Fery, mengakui bahwa motivasi internal menjadi kendala utama. "Potensi anak-anak kita besar, tapi seringkali mereka minder dan terjebak tradisi perjodohan yang kuat. Sosialisasi ini penting untuk membangun kembali kepercayaan diri mereka," ujarnya. Mahasiswa KKM hadir memberikan perspektif baru bahwa anak pelosok pun berhak memiliki karier dan pendidikan tinggi. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa-siswi SMPN 3 Pesanggaran lebih berani mengejar cita-cita dan menunda pernikahan demi masa depan yang lebih mapan. Acara ditutup dengan sesi dokumentasi bersama, menandai komitmen bersama antara mahasiswa, pihak dusun, dan sekolah untuk terus mengawal mimpi anak-anak di ujung Banyuwangi tersebut.

Thumbnail
2 months ago
Perjalanan Pengabdian Mahasiswa KKM 158 Girinadiwana di Desa Plumpung

AMAR FATKHUL MANAN

Perjalanan kegiatan KKM 158 Girinadiwana di Desa Plumpung, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan menjadi pengalaman pengabdian yang dijalankan secara bertahap dan menyatu dengan kehidupan masyarakat. Selama berada di desa, tim mahasiswa tidak hanya menjalankan satu jenis program, tetapi bergerak di berbagai bidang seperti pendidikan, kegiatan sosial, keagamaan, serta pendampingan ekonomi melalui program UMKM dan pemanfaatan teknologi digital. Sejak awal, kegiatan dirancang supaya benar-benar terasa manfaatnya dan sekaligus membangun kedekatan dengan perangkat desa maupun warga. Kedatangan tim diawali dengan orientasi wilayah dan kunjungan silaturahmi kepada Kepala Desa serta para Ketua RT. Dari pertemuan itu, mahasiswa mulai menyusun langkah kerja dan menyesuaikan program dengan kebutuhan lapangan. Pembukaan KKM kemudian dilaksanakan secara resmi di balai desa sebagai tanda dimulainya seluruh rangkaian kegiatan. Di masa awal pelaksanaan, tim juga ikut terjun dalam kerja bakti membantu warga menangani dampak longsor di wilayah perbatasan RT. Keterlibatan ini menjadi bentuk kepedulian sekaligus upaya membangun kebersamaan sejak hari pertama. Dalam bidang pendidikan keagamaan, mahasiswa rutin mendampingi kegiatan belajar di TPQ. Proses pembelajaran dilakukan pelan-pelan dan disesuaikan dengan kemampuan santri, mulai dari membaca, perbaikan tajwid, hingga latihan praktik. Suasana belajar dibuat santai dan interaktif agar anak-anak merasa nyaman. Selain di TPQ, mahasiswa juga membantu kegiatan belajar di MI setempat, termasuk pendampingan materi, kegiatan kepramukaan, serta penyampaian edukasi tentang pentingnya sikap saling menghormati di lingkungan sekolah. Di sisi lain, program penguatan UMKM juga menjadi perhatian utama. Tim melakukan pendataan dan kunjungan langsung ke pelaku usaha rumahan seperti produsen roti, tahu, tempe, dan pemilik toko. Dari kegiatan itu, mahasiswa membantu pemetaan lokasi usaha dan fasilitas umum melalui Google Maps agar lebih mudah ditemukan. Warga juga diperkenalkan dengan sistem pembayaran digital menggunakan QRIS, lengkap dengan pendampingan cara penggunaannya. Pendekatan dilakukan secara langsung dan bersahabat supaya pelaku usaha lebih terbuka menerima hal baru. Mahasiswa turut ambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan desa. Mereka membantu persiapan dan pelaksanaan peringatan Isra’ Mi’raj di MI dengan berbagai lomba dan kegiatan bernuansa keagamaan. Kegiatan berlangsung meriah dengan kebersamaan warga dan siswa. Selain itu, diadakan juga pelatihan keterampilan digital untuk ibu-ibu PKK sebagai tambahan wawasan ekonomi kreatif. Keterlibatan tim juga terlihat pada kegiatan Posyandu dan pendampingan belajar masyarakat. Kontribusi lainnya diwujudkan melalui kerja bakti di masjid, penyerahan tempat sampah untuk mendukung kebersihan lingkungan, serta pemasangan papan informasi desa sebagai sarana edukasi. Seluruh program diupayakan bersifat praktis dan bisa terus dimanfaatkan setelah masa KKM selesai. Menjelang akhir kegiatan, pengajaran di TPQ ditutup dengan doa bersama dan penyerahan kenang-kenangan sebagai tanda terima kasih. Rangkaian KKM kemudian diakhiri melalui acara penutupan di balai desa yang berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Berakhirnya program ini menjadi penutup masa pengabdian mahasiswa sekaligus meninggalkan harapan agar manfaat kegiatannya tetap dirasakan oleh masyarakat Desa Plumpung ke depannya.

Thumbnail
2 months ago
Penutupan KKM Aksiloka Kelompok 11: Menutup Pengabdian dengan Kebersamaan di Masjid Nailun Hamam Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Penutupan KKM Aksiloka Kelompok 11: Menutup Pengabdian dengan Kebersamaan di Masjid Nailun Hamam",

AFAN KISBULLOH

Mahasiswa KKM Aksiloka Kelompok 11 secara resmi menutup rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilaksanakan di lingkungan Masjid Nailun Hamam melalui acara penutupan yang berlangsung dengan penuh kebersamaan dan rasa syukur. Kegiatan ini menjadi momen refleksi sekaligus ungkapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program KKM sejak awal hingga akhir.   Acara diawali dengan persiapan bersama oleh mahasiswa KKM yang menata tempat serta memastikan seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Setelah seluruh peserta dan tamu undangan hadir, kegiatan resmi dibuka dan dilanjutkan dengan berbagai macam dari para tokoh yang selama ini berperan penting dalam mendampingi mahasiswa selama menjalankan pengabdian.   Sambutan disampaikan oleh pihak takmir Masjid Nailun Hamam, Ibu Mardianah selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), perwakilan dari TK, TPQ, serta tokoh masyarakat yang diwakili oleh Ketua RT. Selain itu, perwakilan dari Rumah Qur'an juga turut memberikan pesan dan kesan terhadap kehadiran mahasiswa selama kegiatan KKM berlangsung. Ketua KKM Aksiloka Kelompok 11 juga menyampaikan rasa terima kasih serta harapan agar hubungan silaturahmi yang telah terjalin dapat terus berlanjut di masa mendatang.   

Thumbnail
2 months ago
Menyatu dengan Budaya Bawean : Serunya Menonton Toktok Sapi di Desa Grejeg Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menyatu dengan Budaya Bawean : Serunya Menonton Toktok Sapi di Desa Grejeg", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/

MOH RANDY FERDIANSYAH

Kelompanggubug, 18 Januari 2026 Pengalaman berharga kembali kami dapatkan selama menjalani Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Kelompanggubug. Pada Minggu, 18 Januari 2026, kami diajak oleh warga sekitar untuk menyaksikan salah satu tradisi khas Bawean yang jarang ditemui di daerah lain, yakni Toktok Sapi.   Toktok sapi sekilas mirip dengan kerapan sapi yang populer di Madura. Namun, jika kerapan sapi identik dengan balapan, maka toktok sapi lebih dikenal sebagai adu kekuatan sapi. Tradisi ini menjadi salah satu hiburan rakyat yang sarat akan nilai budaya dan kebersamaan warga. Tak heran jika Bawean sering disebut memiliki kemiripan dengan Madura, baik dari bidang bahasa, Kebudayaan, maupun aktivitas masyarakatnya.     Untuk menyaksikan toktok sapi, kami menempuh perjalanan sekitar 24 menit dari posko, tepatnya menuju Desa Grejeg, Kecamatan Tambak. Meski jaraknya cukup jauh, rasa lelah terbayar lunas oleh antusiasme dan suasana meriah yang menyambut kami di lokasi. Selama kurang lebih 1--2 jam, kami menyaksikan sekitar dua hingga tiga pertandingan adu sapi. Sorak sorai penonton, canda warga, dan suasana lapangan yang ramai membuat pengalaman ini terasa sangat hidup dan menyenangkan. Kami benar-benar merasakan bagaimana tradisi ini menjadi ruang berkumpul dan hiburan bersama bagi masyarakat.   Tak lengkap rasanya menonton tanpa jajan. Di lokasi, kami mencoba berbagai makanan khas yang dijajakan warga, mulai dari rujak, koncok-koncok, hingga jajanan lain yang sebelumnya belum pernah kami nikmati. Menikmati kuliner lokal sambil menyaksikan tradisi daerah menjadi pengalaman sederhana namun berkesan. Yang paling membekas dari kegiatan ini adalah penghematan warga. Mereka begitu terbuka, ramah, dan antusias berbincang dengan kami. Suasana akrab dan penuh tawa membuat kami merasa benar-benar diterima sebagai bagian dari lingkungan tersebut Menonton toktok sapi bukan hanya soal hiburan, tetapi juga tentang belajar memahami budaya lokal secara langsung. Bagi kami, pengalaman ini menjadi salah satu momen yang sangat ingin diulangi---karena Bawean selalu punya cara sederhana untuk membuat siapa pun jatuh cinta.  

Thumbnail
2 months ago
Rangkul Sesama Lestarikan Budaya : Mahasiswa KKM Mandiri 175 UIN Malang gelar Seminar Tari Gandrung dan Sosialisasi Anti-Bullying di MI Miftahul Jadid

MUH. AKBAR SAPUTRA

Selasa, 13 Januari 2026 —— Mahasiswa KKM Mandiri 175 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar kegiatan Sosialisasi Anti bullying sekaligus Seminar Tari Gandrung di MI Miftahul Jadid Dusun Curah Leduk, Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini menjadi salah satu program kerja utama dari kelompok KKM Mandiri Sahwahita yang diikuti oleh 120 siswa mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Acara ini dimulai pada pukul 07.30 WIB tepat setelah selesainya kegiatan Shobahul Lughoh  yang rutin dilaksanakan setelah apel pagi. Acara sosialisasi ini dimulai dengan pembukaan non formal oleh kak Lajan sebagai MC yang bertugas. Mahasiswa KKM  menyadari bahwa peserta sosialisasi tidak terfokus pada salah satu kelas, melainkan mengikutsertakan semua siswa di MI Miftahul Jadid. Oleh karena itu acara ini dikemas dengan begitu menyenangkan lewat ice breaking dan yel-yel, sehingga membuat acara terasa seru dan tidak monoton. Acara selanjutnya diisi dengan seminar Tari Gandrung yang disampaikan oleh Kak Eralda. Latar belakang pemilihan materi ini tidak lain karena Tari Gandrung sendiri merupakan tarian khas Banyuwangi. Hal ini tentu sangat cocok dengan budaya yang ada di masyarakat tempat pelaksanaan KKM, terutama para siswi MI Miftahul Jadid yang sudah tidak asing dengan tarian ini. Pemateri juga mengenalkan tentang "Festival Gandrung Sewu", sebuah tradisi yang wajib ditampilkan dalam rangkaian acara Hari Jadi Banyuwangi setiap bulan Oktober yang bertempat di Pantai Marina Boom, Banyuwangi.  Seminar ini kemudian ditutup dengan penampilan Tari Gandrung oleh kak Atina. Tidak hanya berhenti disitu, dengan adanya seminar Tari Gandrung ini juga memberikan peluang kepada para siswi MI Miftahul Jadid untuk mengikuti pelatihan tari yang akan dilaksanakan setiap minggunya di posko KKM, yang mana tari ini nantinya akan ditampilkan saat malam puncak perpisahan kegiatan KKM. Kemudian rangkaian acara dilanjutkan dengan sosialisasi anti bullying,yang juga menjadi sesi inti dari kegiatan ini. Materi anti bullying disampaikan oleh Kak Akbar dan Kak Oliv. Sebelum masuk ke materi inti, para siswa terlebih dahulu diputarkan film pendek yang menceritakan tentang bullying. Hal ini dimaksudkan supaya para siswa tahu mengenai gambaran bullying dan apa dampak buruk yang ditimbulkannya. Terdapat beberapa poin penting mengenai materi yang disampaikan, diantaranya adalah pengertian bullying, ciri-ciri bullying, jenis-jenis bullying meliputi bullying fisik, bullying verbal, bullying sosial, dan cyber bullying, dan upaya pencegahan bullying.  Di sela-sela penyampaian materi, Kak Akbar dan Kak Oliv juga memberikan beberapa kuis sederhana yang berkaitan dengan tema bullying. Para siswa yang berhasil menjawab dengan benar diberikan hadiah. Sebelum mengakhiri materi, para siswa juga diberikan kesempatan untuk menuliskan tentang perasaan ataupun kisah mereka yang pernah menjadi korban bullying dalam secarik kertas.  Tidak sedikit siswa yang mau untuk berbagi cerita kepada kakak-kakak mahasiswa KKM UIN Malang. Bahkan ada beberapa dari mereka yang menangis ketika teringat perundungan yang dulu pernah dialami.  Mahasiswa KKM juga memberikan apresiasi kepada anak-anak yang sudah berani untuk bercerita dengan memberikan hadiah. Suasana yang semula ceria menjadi sedikit sedih dan sendu.  Hal ini menunjukkan bahwa ternyata dampak buruk dari bullying memang benar adanya, tidak hanya menyerang fisik, namun mental dari si korban bullying juga akan terkena imbasnya. Setelah dirasa cukup waktu untuk bercerita, acara kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi bersama. Masing-masing siswa terdiri dari 3 orang berfoto dengan menggunakan twibbon bertuliskan "stop bullying". Tidak hanya dokumentasi semata guna mengabadikan sebuah moment, hal ini juga dimasudkan sebagai upaya atau tindakan nyata untuk menolak segala bentuk perundungan.  Dengan terlaksananya kegiatan ini, menjadi salah satu bukti akan kontribusi mahasiswa KKM UIN Malang dalam memberikan edukasi tentang pentingnya penanaman pendidikan karakter anak sedari dini. Besar harapan kami kepada mereka supaya belajar untuk saling menghargai dan menghormati sesama, menghindari perundungan, dan mau berteman dengan siapapun tanpa membeda-membedakan antara satu sama lain.

Thumbnail
2 months ago
Mahasiswa KKM 72 UIN Malang Hadirkan Bimbingan Belajar untuk Dukung Prestasi Anak SD di Dusun Sundan, Desa Plaosan Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mahasiswa KKM 72 UIN Malang Hadirkan Bimbingan Belajar untuk Dukung Prestasi Anak

PAULA AL HIDAYAH

Mahasiswa KKN 72 UIN Malang mengadakan kegiatan Bimbingan Belajar (Bimbel) bagi anak-anak Sekolah Dasar di Dusun Sundan, Desa Plaosan, Kecamatan Wonosari, yang dilaksanakan selama tiga hari (Senin hingga Rabu) setelah Maghrib di musholla setempat. Kegiatan ini bertujuan membantu siswa mengerjakan PR serta memberikan pendampingan belajar di luar jam sekolah, dengan materi meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan IPA sesuai kebutuhan siswa. Program ini mendapat respon positif dari anak-anak dan orang tua, terlihat dari antusiasme peserta yang aktif bertanya dan mengikuti pembelajaran. Mahasiswa berperan memberikan penjelasan materi dengan metode santai dan komunikatif agar mudah dipahami, sekaligus menambah wawasan baru bagi siswa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam bidang pendidikan serta membantu meningkatkan motivasi dan pemahaman belajar anak-anak di Dusun Sundan.