HAJAR UMNIYYATU HANIFAH
Sebagai wujud kepedulian terhadap dunia pendidikan, kelompok KKM kami menggagas sebuah program kerja bimbingan belajar gratis yang ditujukan bagi anak-anak di lingkungan sekitar. Program kerja ini berangkat dari keinginan sederhana untuk menemani dan membantu siswa menghadapi tantangan belajar di luar jam sekolah. Kegiatan bimbel ini dilaksanakan secara rutin setiap Senin hingga Kamis, mulai pukul 19.30 hingga 21.00 WIB, menjadi ruang belajar yang positif sekaligus alternatif bermakna bagi anak-anak dalam memanfaatkan waktu malam mereka. Program kerja bimbingan belajar ini dirancang untuk menjangkau peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama. Agar proses pembelajaran dapat berjalan lebih optimal, kami menerapkan sistem pengajaran berdasarkan tingkat kelas. Setiap anak belajar bersama teman-teman sekelasnya, sehingga materi yang disampaikan dapat disesuaikan dengan kemampuan, kebutuhan, serta cara berpikir mereka. Dengan pola ini, pendekatan belajar menjadi lebih tepat, komunikatif, dan selaras dengan perkembangan kognitif masing-masing peserta. Setiap sesi bimbingan belajar difokuskan pada pendampingan siswa dalam mengerjakan tugas terstruktur atau PR yang mereka terima dari sekolah. Kami memahami bahwa tidak semua anak memiliki akses referensi yang memadai atau pendamping belajar di rumah, sehingga tugas sering kali terasa membingungkan. Melalui kegiatan ini, kami berupaya hadir sebagai teman belajar dan bukan untuk sekadar memberikan jawaban, tetapi menemani mereka memahami alur berpikir dan konsep di balik setiap soal. Dengan begitu, anak-anak dapat menyelesaikan tugasnya dengan lebih percaya diri dan siap menghadapi hari belajar berikutnya. Kegiatan belajar tetap berjalan meski para siswa tidak membawa pekerjaan rumah. Dalam situasi tersebut, kami telah menyiapkan berbagai materi tambahan yang selaras dengan kurikulum yang mereka pelajari di sekolah. Tak jarang, kelompok KKM kami juga mengambil inisiatif untuk memperkenalkan materi yang akan dibahas di kelas keesokan harinya. Strategi “curi start” ini kami lakukan agar anak-anak memiliki gambaran awal dan bekal pemahaman dasar, sehingga mereka dapat lebih percaya diri, aktif, dan berani berpartisipasi saat proses pembelajaran berlangsung bersama guru di sekolah. Menyadari bahwa kegiatan belajar dilakukan pada malam hari, kami berupaya menciptakan suasana yang tetap menyenangkan agar anak-anak tidak merasa jenuh. Proses kegiatan belajar mengajar kami kemas secara interaktif dan penuh variasi. Teknologi pun kami manfaatkan, salah satunya melalui platform seperti Quizizz yang digunakan sebagai media evaluasi dengan konsep kompetisi ringan namun seru. Tak hanya itu, alunan musik dan berbagai permainan edukatif turut kami selipkan di sela-sela pembelajaran, sehingga konsentrasi siswa tetap terjaga dan semangat belajar mereka tidak luntur, meski materi yang dipelajari cukup serius. Program kerja bimbingan belajar ini menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama pelaksanaan KKM. Antusiasme anak-anak yang dengan setia hadir setiap malam, membawa buku dan semangat belajar yang tulus, menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi kami. Kami berharap, langkah kecil ini dapat memberikan pengaruh positif bagi perkembangan akademik mereka, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk bermimpi lebih tinggi. Melalui pendidikan sebagai bekal utama, kami ingin anak-anak desa percaya bahwa masa depan yang cerah selalu layak untuk diperjuangkan.
MUHAMMAD ZULFA
selama melakukan monitoring dan intervensi terhadap ibu alfiah, kami mendapatkan bangak pengalaman, dimana ibu alfiah juga sangat menerima kami dan memberikan jamuan setiap kami kunjungan, kami juga senantiasa melakukan monitoring tekanan darah asam urat, dan kolesterol ibu alfiah dan selalu mengupayakan agar kondisi ibu alfiah selalu dalam keadaan yang sehat
AKMAL PUTRA SOBUR
Pembangunan desa selama ini kerap dimaknai sebagai upaya mengatasi berbagai keterbatasan, mulai dari persoalan ekonomi, kesehatan, hingga kualitas sumber daya manusia. Cara pandang yang terlalu berfokus pada masalah sering kali menempatkan desa sebagai pihak yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Padahal, di balik berbagai tantangan tersebut, desa menyimpan kekuatan sosial, budaya, dan manusia yang jika dikenali dan dikelola dengan tepat, dapat menjadi modal utama pembangunan yang berkelanjutan. Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, merupakan salah satu contoh desa dengan potensi lokal yang kaya. Masyarakatnya memiliki tradisi gotong royong yang kuat, jaringan sosial yang aktif, serta berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan yang hidup dalam keseharian warga. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam satu kerangka pembangunan yang terarah. Di sisi lain, desa juga menghadapi tantangan nyata, seperti perlunya penguatan UMKM lokal, peningkatan literasi pemasaran digital, serta peningkatan kesadaran keluarga terhadap isu kesehatan, khususnya pencegahan stunting dan pola asuh anak. Dalam konteks tersebut, pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) menjadi relevan untuk digunakan sebagai kerangka berpikir dan bertindak. Pendekatan ini menekankan bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan berangkat dari pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki masyarakat, bukan semata-mata dari intervensi eksternal. Masyarakat diposisikan sebagai subjek pembangunan yang aktif, sementara pihak luar berperan sebagai fasilitator dan pendamping. Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman dan temuan lapangan dalam kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Kebobang, dengan tujuan memetakan aset desa, merumuskan mimpi kolektif warga, serta menyajikan praktik perancangan program berbasis potensi lokal. Melalui tulisan ini, diharapkan pembaca dapat melihat bahwa pembangunan desa bukan sekadar soal apa yang kurang, tetapi tentang bagaimana menggerakkan apa yang sudah ada agar memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Tahap Discovery: Mengungkap Aset yang Selama Ini Terabaika Berdasarkan diskusi, survei aset, dan refleksi bersama masyarakat Desa Kebobang, teridentifikasi bahwa warga memiliki mimpi kolektif yang relatif selaras dan realistis dengan kondisi lokal. Mimpi tersebut tidak lahir dari keinginan abstrak, melainkan dari pengalaman sehari-hari warga dalam menghadapi dinamika sosial, ekonomi, dan keluarga. Mimpi utama warga mencakup terbentuknya posko bank sampah yang terkelola secara berkelanjutan sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi mikro. Selain itu, warga mengharapkan pembangunan tugu desa sebagai simbol identitas dan kebanggaan kolektif yang merepresentasikan nilai kebersamaan masyarakat Desa Kebobang. Di sektor ekonomi, warga memiliki harapan agar UMKM lokal dapat berkembang lebih terarah dan memiliki daya saing, terutama melalui peningkatan pengetahuan pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital. Sementara itu, pada aspek keluarga dan kesehatan, muncul kebutuhan kuat akan edukasi parenting dan pencegahan stunting yang berkelanjutan, khususnya bagi orang tua dan wali murid tingkat SD/MI. Mimpi-mimpi ini menunjukkan bahwa warga desa tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, tetapi juga menginginkan perubahan sosial yang berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Visi tersebut menjadi landasan penting dalam merancang program KKM yang relevan, kontekstual, dan berorientasi jangka panjang. Tahap Dream: Merumuskan Mimpi Kolektif Warga Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. Tahap Design: Merancang Strategi Berbasis Aset Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. Tahap Destiny: Implementasi dan Penguatan Keberlanjutan Implementasi program dirancang secara bertahap dan partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lokal. Kader PKK, guru PAUD, Karang Taruna, tokoh agama, serta perangkat desa berperan sebagai pelaksana utama, sementara mahasiswa KKM bertindak sebagai fasilitator dan pendamping program. Pemanfaatan aset yang telah tersedia, seperti balai desa, jaringan Dasa Wisma, lembaga pendidikan, dan kegiatan keagamaan, memungkinkan program dijalankan secara realistis dan efisien. Pendekatan ini juga meminimalkan ketergantungan pada bantuan eksternal serta mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola program. Selain itu, keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mendorong tumbuhnya kepemimpinan lokal dan rasa memiliki terhadap program. Dengan demikian, keberlanjutan kegiatan tidak berhenti pada masa KKM, tetapi berpotensi dilanjutkan oleh masyarakat desa secara mandiri. Tahap Refleksi: Dampak Awal dan Pembelajaran Refleksi awal terhadap pelaksanaan program menunjukkan beberapa pembelajaran penting. Pertama, warga mulai menyadari bahwa kekuatan desa tidak hanya terletak pada bantuan dari luar, tetapi juga pada aset sosial, manusia, dan budaya yang telah dimiliki. Kesadaran ini mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap pembangunan desa. Kedua, terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan, khususnya pada program yang menyentuh langsung kebutuhan keluarga dan ekonomi. Hal ini menunjukkan tumbuhnya rasa memiliki terhadap proses dan hasil program. Ketiga, muncul komitmen kolektif dari warga dan pemangku kepentingan lokal untuk melanjutkan pendekatan berbasis aset sebagai strategi pembangunan desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Penutup Pengalaman pemberdayaan masyarakat di Desa Kebobang menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari daftar kekurangan dan masalah. Melalui pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), masyarakat diajak untuk mengenali kembali kekuatan yang selama ini hadir dalam kehidupan mereka, namun sering kali luput disadari. Aset manusia, sosial, institusional, budaya, dan alam yang dimiliki desa terbukti menjadi fondasi penting dalam merancang program yang relevan dan berdaya guna. Pendekatan berbasis aset juga memperlihatkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap program pembangunan. Ketika warga, kader, pemuda, dan tokoh lokal diberi ruang untuk berperan, proses pembangunan tidak lagi dipandang sebagai agenda eksternal, melainkan sebagai bagian dari kebutuhan dan cita-cita bersama. Hal ini menjadi kunci bagi keberlanjutan program setelah kegiatan pendampingan, termasuk KKM, berakhir. Lebih dari sekadar metode, ABCD menawarkan perubahan cara pandang dalam pembangunan desa. Desa tidak diposisikan sebagai objek yang menunggu bantuan, tetapi sebagai komunitas yang memiliki kapasitas untuk bertumbuh dari dalam. Penguatan UMKM, edukasi parenting dan pencegahan stunting, moderasi beragama, serta penguatan kohesi sosial di Desa Kebobang menjadi contoh bagaimana aset lokal dapat dihubungkan untuk menjawab tantangan nyata masyarakat. Pada akhirnya, pembangunan desa yang berkelanjutan menuntut keberanian untuk berpindah dari pendekatan berbasis masalah menuju pendekatan berbasis kekuatan. Pengalaman di Desa Kebobang menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan sumber daya besar, melainkan kemauan untuk melihat, menggerakkan, dan merawat potensi yang sudah ada. Jika pendekatan ini terus dilanjutkan dan diperkuat, desa tidak hanya akan menjadi objek pembangunan, tetapi aktor utama dalam menentukan masa depannya sendiri.
DAVINA SESYLIA PUTRI
Upaya peningkatan kualitas pendidikan dan pembentukan karakter siswa terus dilakukan melalui berbagai kegiatan edukatif. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan pengabdian KKM Kelompok 76 yang dilaksanakan di SDN Bunutwetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung pengembangan pendidikan dasar di lingkungan masyarakat. Selama pelaksanaan KKM, mahasiswa turut membantu guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Kegiatan pendampingan belajar ini dilaksanakan secara berkelanjutan pada 5 Januari hingga 29 Januari 2026, dengan membantu penyampaian materi, membimbing siswa saat mengerjakan tugas, serta mendampingi proses pembelajaran agar berjalan lebih interaktif, menarik, dan mudah dipahami oleh siswa. Selain pendampingan belajar, mahasiswa KKM juga melaksanakan sosialisasi stop bullying pada 28 Januari 2026. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pengertian bullying, bentuk-bentuk bullying di lingkungan sekolah, serta dampak negatif yang ditimbulkan, baik secara psikologis maupun sosial. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh siswa, serta disertai contoh situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dan praktik pemilahan sampah organik dan anorganik pada 29 Januari 2026. Siswa dikenalkan pada jenis-jenis sampah serta cara memilah sampah dengan benar, kemudian diajak melakukan praktik langsung untuk memperkuat pemahaman, sekaligus menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan sejak dini. Seluruh rangkaian kegiatan mendapat respons positif dari pihak sekolah. Guru merasa terbantu dengan adanya pendampingan belajar, sementara siswa terlihat antusias mengikuti kegiatan yang dilaksanakan, yang terlihat dari partisipasi aktif siswa selama kegiatan berlangsung. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa SDN Bunutwetan memiliki pemahaman yang lebih baik serta kesadaran untuk saling menghargai dan peduli terhadap lingkungan, serta mampu menerapkan nilai-nilai karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
MOCH DIMAS NURHUDA
Penutupan Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa(KKM) Desa Ngebruk Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kelompok 108di Desa Ngebruk secara resmi ditutup pada Rabu, 4 Februari2026, bertempat di Balai Desa Ngebruk. Acara penutupanyang dimulai pada pukul 18.30 WIB tersebut berlangsungdengan khidmat dan dihadiri oleh mahasiswa KKM, dosenpembimbing lapangan, perangkat desa, serta masyarakat Desa Ngebruk. Kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya seluruhrangkaian pengabdian mahasiswa kepada masyarakat selamapelaksanaan KKM. Rangkaian acara penutupan diisi dengan pembagianhadiah perlombaan Isra’ Mi’raj yang sebelumnya telahdiselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan keagamaan di Desa Ngebruk. Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh para peserta dan masyarakat sebagai bentuk apresiasi ataspartisipasi dan semangat dalam memeriahkan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Suasana kebersamaan dan kekeluargaan terasa kuat dalam momen tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan launching website resmi Desa Ngebruk sebagai salah satu program unggulan mahasiswaKKM dalam mendukung pengembangan desa berbasisteknologi informasi. Website desa ini diharapkan dapatmenjadi media informasi yang efektif, sarana publikasikegiatan desa, serta penunjang transparansi dan pelayanankepada masyarakat. Sebagai penutup rangkaian kegiatan, diputar after movie KKM yang menampilkan dokumentasiberbagai aktivitas dan program kerja mahasiswa selamamelaksanakan pengabdian di Desa Ngebruk. Pada sesi sambutan, Ketua KKM menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah desa dan masyarakat atasdukungan serta kerja sama yang telah terjalin selamapelaksanaan KKM. Sambutan dilanjutkan oleh Dosen Pembimbing Lapangan yang memberikan apresiasi atasdedikasi dan tanggung jawab mahasiswa dalam melaksanakanprogram kerja. Kepala Desa Ngebruk dalam sambutannyajuga menyampaikan rasa terima kasih serta harapan agar program-program yang telah dilaksanakan dapat memberikanmanfaat berkelanjutan bagi masyarakat. Dengan berakhirnyaacara penutupan tersebut, seluruh rangkaian kegiatan KKM di Desa Ngebruk resmi dinyatakan selesai.
NAURAH KAMILAH FIRDAUSY
Awalnya saya mengira kegiatan KKM ke calon jamaah haji akan terasa formal dan kaku. Ternyata justru sebaliknya. CJH yang kami dampingi sangat ramah, terbuka, dan menerima kami seperti keluarga sendiri. Edukasi kesehatan yang kami siapkan berubah menjadi obrolan santai yang penuh cerita, berisi mulai dari kekhawatiran kesehatan sampai harapan saat berangkat haji. Dari situ saya belajar bahwa kepercayaan lebih penting daripada sekadar menyampaikan materi. Pengalaman lain yang berkesan datang dari kerja kelompok. Kami berasal dari prodi berbeda, sehingga cara berpikir kami pun tidak sama. Awalnya sering berbeda pendapat, tetapi lama-kelamaan kami justru saling melengkapi. Ada yang fokus medis, ada yang komunikasi, ada yang perilaku. Di situ saya benar-benar merasakan arti kolaborasi dalam pelayanan kesehatan. Dosen pembimbing lapangan juga sangat membantu. Setiap evaluasi diberikan dengan detail dan langsung bisa kami perbaiki saat kunjungan berikutnya. Hal-hal kecil seperti cara bertanya dan menjelaskan ternyata sangat mempengaruhi kenyamanan CJH. KKM ini singkat, tetapi memberi pelajaran besar: melayani masyarakat bukan hanya soal pengetahuan, melainkan empati, komunikasi, dan kerja sama.