Thumbnail
3 months ago
Tetap Aktif dan Mandiri: Aktivitas Calon Jamaah Haji Pascastroke

ZUNITA NOVI ARYANTI

Selama menjalani Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), saya memperoleh banyak pengalaman berharga, khususnya saat melakukan monitoring kesehatan serta edukasi gaya hidup sehat kepada calon jamaah haji yang memiliki riwayat stroke dan hipertensi. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, sekaligus sarana pembelajaran langsung mengenai penerapan upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan. Pendampingan dilakukan secara berkala dengan tujuan membantu calon jamaah haji menjaga kondisi fisik agar tetap optimal menjelang pelaksanaan ibadah. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah kondisi fisik calon jamaah haji yang kami dampingi. Meskipun memiliki riwayat stroke dan hipertensi, beliau justru menunjukkan tingkat kebugaran yang cukup baik. Hal ini terlihat saat kegiatan jalan sehat bersama, di mana beliau mampu mengikuti aktivitas dengan lancar tanpa mengalami sesak napas atau kelelahan yang berarti. Menariknya, kami para mahasiswa pendamping justru mulai merasakan kelelahan terlebih dahulu. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kondisi kesehatan seseorang tidak selalu dapat dinilai hanya dari riwayat penyakit yang dimiliki, tetapi juga dari kebiasaan hidup sehari-hari. Pada kunjungan terakhir, beliau juga menceritakan rutinitas hariannya yang tetap aktif. Setiap hari, beliau berusaha untuk selalu bergerak dan menghindari terlalu banyak berdiam diri. Saya sangat mengapresiasi upaya Ibu Hanina dalam menjaga kebugaran tubuhnya karena hal tersebut merupakan langkah penting dalam mencegah terjadinya serangan stroke berulang. Salah satu aktivitas rutin yang belakangan ini dilakukan beliau adalah mengecat ruangan rumah secara mandiri, bahkan dengan target menyelesaikan satu sisi dinding dalam satu hari. Aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten ini mencerminkan semangat untuk tetap mandiri serta menjaga kebugaran tubuh pascastroke. Selain melakukan pemantauan kesehatan, kami juga memberikan edukasi mengenai pentingnya penerapan gaya hidup sehat. Edukasi tersebut meliputi anjuran untuk tetap aktif bergerak sesuai kemampuan, menjaga pola makan seimbang terutama bagi penderita hipertensi, serta pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan yang dianjurkan oleh dokter. Melalui pengalaman ini, saya menyadari bahwa aktivitas fisik yang rutin dan kesadaran menjaga kesehatan memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup. Pendampingan dan edukasi kesehatan yang berkelanjutan menjadi kunci penting dalam mendukung kesiapan fisik calon jamaah haji.  

Thumbnail
3 months ago
Berjalan Sehat, Pulang dengan Cerita Hangat: Pengalaman Berkesan KKM HIPE di Kampung Kungkuk

AMOXSAN FAIRUZ SYIFA

Mengikuti KKM HIPE bukan hanya tentang menjalankan program dan mengisi laporan, tetapi juga tentang pengalaman berharga yang akan selalu dikenang. Salah satu momen paling berkesan selama KKM adalah saat kami melakukan jalan santai bersama calon jamaah haji (CJH) mengelilingi Kampung Kungkuk, Desa Punten. Pagi itu kami berkumpul dengan suasana yang santai dan penuh semangat. Jalan santai dilakukan sebagai bagian dari program SEGAR HAJI, namun suasananya jauh dari kesan formal. Kami berjalan menyusuri kampung dengan langkah pelan sambil berbincang ringan bersama CJH. Tidak terasa lelah, karena sepanjang perjalanan disuguhkan pemandangan pegunungan yang indah, udara yang sejuk, serta lingkungan kampung yang asri. Kampung Kungkuk dipenuhi dengan berbagai tanaman hias, bunga berwarna-warni, serta tanaman buah dan sayur yang tertata rapi di pekarangan warga. Pemandangan tersebut membuat suasana semakin menenangkan dan membuat kegiatan berjalan terasa nyaman dan menyenangkan. Udara sejuk khas pegunungan membuat kami betah berlama-lama, bahkan lupa bahwa kami sedang berolahraga. Setelah selesai berjalan santai, kami melanjutkan kegiatan dengan piknik sederhana bersama CJH. Kami membawa makanan masing-masing dari rumah dan menikmatinya bersama dalam suasana kekeluargaan. Tidak ada jarak antara mahasiswa dan CJH, semua duduk bersama, saling berbagi cerita, tawa, dan makanan. Momen ini terasa sangat hangat dan penuh kebersamaan. Bagi kami, kegiatan sederhana ini menjadi pengalaman yang sangat berarti. Kami tidak hanya belajar tentang kesehatan dan kebugaran, tetapi juga belajar tentang kebersamaan, empati, dan menikmati proses pengabdian dengan hati yang gembira. KKM Haji mengajarkan bahwa pendampingan kesehatan bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, penuh kehangatan, dan meninggalkan kenangan indah bagi semua yang terlibat.  

Thumbnail
3 months ago
Di Balik Pertanyaan Sederhana

KHOIRUNNISA LUTHFIYYAH ANDARWATI

Selama kegiatan KKM, salah satu hal yang paling menarik buat saya bukan hanya kegiatan kesehatan seperti senam atau edukasi, tapi juga interaksi dengan calon jamaah haji (CJH) yang ternyata sangat akrab dan curious dengan kami. CJH yang kami dampingi adalah orang yang terbuka dan senang bercerita. Suatu hari, beliau bercerita tentang pengalaman keluarganya saat masa pandemi COVID-19. Menurut cerita beliau, saat itu bukan hanya dirinya yang terkena COVID-19, tetapi juga beberapa anggota keluarganya. Awalnya kondisi keluarganya di rumah terlihat baik-baik saja. Namun setelah dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan suntikan (terapi), sekitar 5–6 jam kemudian keluarga beliau meninggal dunia. Lalu beliau bertanya kepada kami dengan nada serius, “Ini saya benar-benar bertanya ya… kenapa kok bisa seperti itu?” sebagai mahasiswa semester 5 yang masih belajar, saya sempat panik dalam hati. Saya ingin menjawab dengan cara yang tetap ilmiah, tetapi tidak menyinggung perasaan beliau, apalagi karena ini menyangkut pengalaman kehilangan keluarga. Akhirnya saya menjelaskan dengan hati-hati bahwa pandemi COVID-19 terjadi sangat cepat dan dalam waktu yang relatif singkat, sekitar tiga tahun. Pada masa itu, angka kematian juga meningkat dengan cepat, sehingga tenaga kesehatan harus mengambil keputusan terapi dalam waktu yang cepat pula. Padahal, pengembangan obat idealnya membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan bisa mencapai 5–10 tahun sampai benar-benar terbukti aman dan efektif. Saya juga menyampaikan bahwa terapi yang diberikan saat itu kemungkinan adalah obat atau tindakan yang pada masa tersebut dianggap bisa membantu meringankan COVID-19 berdasarkan pengetahuan medis yang tersedia saat itu. Namun, respons tubuh tiap orang bisa berbeda-beda, tergantung kondisi awal pasien, tingkat keparahan penyakit, komorbid, serta daya tahan tubuhnya. Jadi, efek dari terapi bisa berbeda pada setiap individu. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa pertanyaan seperti ini sangat mungkin sering muncul di masyarakat, baik sekarang maupun nanti ketika kami sudah menjadi tenaga kesehatan. Oleh karena itu, kami perlu belajar menjelaskan informasi medis dengan jelas, dapat dipahami, tetap ilmiah, dan yang paling penting disampaikan dengan hati-hati agar tidak menyinggung pasien maupun siapa pun yang sedang mengalami kehilangan atau trauma.

Thumbnail
3 months ago
Langkah Kecil Menuju Sehat Bersama: Peran Mahasiswa Kedokteran dalam Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat

MUHAMMAD ALTHOF TAQIYUDDIN

Sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa kedokteran melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan melalui media poster, video edukasi, serta buku saku. Dengan desain yang minimalis dan praktis, buku saku ini diharapkan dapat menjadi panduan yang mudah dibawa dan digunakan oleh calon jamaah saat menjalankan ibadah di Tanah Suci. Buku saku tersebut memuat wawasan mengenai ibadah haji, informasi kesehatan penting, serta panduan obat-obatan herbal yang dapat dibuat secara mandiri oleh calon jamaah haji. Selain itu, buku saku juga berisi hasil pemeriksaan kesehatan rutin yang telah dilakukan sebelum keberangkatan, sehingga dapat menjadi pengingat sekaligus panduan kesehatan. Melalui langkah kecil ini, mahasiswa kedokteran berupaya memberikan kontribusi nyata dalam pemberdayaan kesehatan masyarakat. Edukasi yang diberikan diharapkan mampu meningkatkan kesiapan fisik dan pengetahuan calon jamaah haji sehingga dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan optimal. Bersama masyarakat, mari membangun kesadaran bahwa persiapan kesehatan yang baik merupakan bagian penting dari perjalanan ibadah yang bermakna.

Thumbnail
3 months ago
Bersama Menuju Sehat: Jalan Sehat Ceria dalam Kegiatan KKM HIPE Kelompok 19

RISKA MAULINA WARDANI

Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa-HIPE (Hajj Interprofessional Education) yang saya ikuti merupakan program kolaborasi antara Program Studi Pendidikan Dokter dan Program Studi Sarjana Farmasi. Program ini mengusung semangat Together Toward Wellness, di mana mahasiswa dari berbagai profesi bekerja sama untuk mendampingi calon jemaah haji. Salah satu tugas yang saya jalani selama KKM adalah memantau dan mendampingi calon jemaah haji, yaitu Bu Mudrikah. Pada awalnya, saya mengira kegiatan pendampingan akan berjalan secara formal dan kaku, namun ternyata kegiatan yang kami lakukan justru penuh kebersamaan dan suasana yang menyenangkan. Salah satu kegiatan yang kami lakukan bersama adalah jalan sehat. Bu Mudrikah dikenal sebagai sosok yang aktif dan gemar berjalan kaki, sehingga kegiatan ini terasa ringan dan menyenangkan. Selama jalan sehat, kami banyak berbincang santai tentang kegiatan sehari-hari, kesehatan, dan harapan Bu Mudrikah untuk menjalani ibadah haji dengan baik. Momen-momen sederhana seperti ini membuat saya merasa lebih dekat dan memahami pentingnya pendekatan yang memperhatikan kebutuhan emosional dalam pendampingan. Dalam kegiatan jalan sehat, kami berkunjung ke Concrete Cafe yang berada di daerah Kampung Wisata Kungkuk, Bumiaji, Kota Batu. Lokasinya dekat dengan tempat tinggal ibu Mudrikah. Suasana di sekitar cafe terasa sejuk dan nyaman sehingga membuat kami betah berlama-lama. Di sana, kami menikmati pemandangan serta mencicipi buah bit bersama. Momen ini terasa ringan dan menyenangkan, seolah kegiatan KKM bukan sekadar tugas, melainkan juga pengalaman yang dapat dinikmati. Kegiatan kemudian dilanjutkan menuju gazebo di Kampung Wisata Kungkuk. Di sana, kami beristirahat sambil menikmati jajanan yang telah dibawa bersama. Meskipun aktivitas yang dilakukan sederhana, kebersamaan membuat semuanya terasa hangat. Bahkan, rasa lelah yang muncul setelah berjalan cukup jauh terasa terbayarkan oleh suasana kebersamaan dan canda tawa yang tercipta. Melalui kegiatan ini, saya menyadari bahwa KKM HIPE bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi juga tentang membangun kedekatan, empati, dan kepedulian terhadap calon jemaah haji. Pendampingan yang dilakukan dengan pendekatan yang hangat dan penuh kebersamaan dapat membantu meningkatkan kenyamanan dan semangat calon jemaah haji dalam mempersiapkan ibadah. Pengalaman bersama Bu Mudrikah menjadi salah satu momen berkesan selama mengikuti KKM, karena kegiatan ini mengajarkan saya bahwa kesehatan bukan hanya soal fisik, tetapi juga tentang kebersamaan dan dukungan sosial.

Thumbnail
3 months ago
Bukan Sekadar Posyandu: Mahasiswa KKN UIN Malang Racik Jus Herbal Penurun Hipertensi untuk Lansia

AISYAH NUR AFNI

PANDANWANGI (10-01/2026) – Mahasiswa KKN 09-Karsa Nawasena UIN Malang menunjukkan kepedulian nyata terhadap kesehatan masyarakat di wilayah RW 13, Kecamatan Pandanwangi. Jika biasanya kegiatan Posyandu hanya diisi dengan timbang badan dan imunisasi, kehadiran mahasiswa KKN UIN Malang memberikan warna baru yang lebih segar. Melalui kolaborasi dengan kader Posyandu setempat menghadirkan inovasi berupa minuman kesehatan berbasis buah dan herbal untuk balita serta lansia.    Kegiatan dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan antusiasme warga yang cukup tinggi. Mahasiswa KKN turut serta mendampingi warga dalam mengikuti alur pelayanan Posyandu yang sistematis mulai dari kedatangan dan pendaftaran, pemeriksaan medis meliputi pemeriksaan fisik, mulai dari penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, hingga konsultasi kesehatan.    Fokus utama kegiatan kali ini adalah edukasi gizi melalui pembuatan jus segar. Bagi masyarakat umum dan anak-anak, mahasiswa menyediakan jus melon dan jambu yang kaya akan vitamin C dan antioksidan untuk meningkatkan imunitas tubuh. Namun, yang paling menarik perhatian adalah racikan khusus bagi para penderita lansia hipertensi.   Kehadiran menu unik ini sempat memancing rasa penasaran warga. "Apa sih sebenarnya hanya hipertensi itu? Lalu, dari bahan-bahan apa saja jus ini dibuat sehingga bisa berkhasiat?" tanya Pak Endro, salah satu warga lansia yang hadir. Menanggapi pertanyaan tersebut, tim KKN menjelaskan bahwa mereka membuat jus herbal dengan komposisi kompleks yang terdiri dari:  Buah-buahan: Apel, belimbing, nanas, jeruk nipis, dan buah plum.  Sayuran: Wortel, timun, dan seledri.   Bumbu Herbal: Bawang merah dan bawang putih tunggal Bahan-bahan ini dipercaya secara turun-temurun dan melalui referensi kesehatan dapat membantu menurunkan tekanan darah serta melancarkan aliran darah.   Tidak hanya fokus pada gizi, mahasiswa KKN juga aktif membantu teknis pelaksanaan Posyandu dengan juga dalam penanganan balita hingga mengajak anak-anak berinteraksi agar tidak takut saat menjalani pemeriksaan kesehatan. Sebagai bentuk apresiasi bagi warga yang telah antusias memeriksakan kesehatannya, siswa membagikan jus dan bubur kacang hijau kepada setiap pasien yang telah selesai menjalani rangkaian pemeriksaan di Posyandu.   "Inisiatif pembuatan jus sehat ini bagus. Saya juga sangat terbantu dengan adanya siswa yang mendampingi balita, sehingga proses pemeriksaan terasa lebih tenang dan lancar," ungkap seorang warga RW 13 saat ditemui di lokasi.   Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari warga RW 13 Pandanwangi. Para lansia mengaku terkesan dengan rasa jus herbal yang unik, sementara para ibu merasa terbantu dengan kehadiran siswa dalam menjaga anak-anak mereka selama antrean.