ROHMATUL KAMILAH
Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 09 UIN Malang tidak hanya berpartisipasi dalam kegiatan kajian di Masjid An-Nur, tetapi juga melakukan evaluasi terhadap sistem pelaksanaan kajian yang selama ini berjalan. Evaluasi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pengembangan kegiatan keagamaan serta peningkatan partisipasi jamaah masjid. Kegiatan evaluasi tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan jumlah jamaah yang hadir pada setiap kajian. Dalam beberapa kesempatan, jumlah jamaah terlihat cukup banyak, namun pada waktu lain cenderung menurun. Hal ini mendorong tim KKM untuk mengamati, mencatat, dan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kehadiran jamaah, baik dari segi waktu pelaksanaan, tema kajian, metode penyampaian, maupun sarana pendukung lainnya. Mahasiswa KKM 09 juga berdiskusi langsung dengan pengurus masjid dan sebagian jamaah untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh. Dari hasil pengamatan sementara, diketahui bahwa minat jamaah sangat dipengaruhi oleh relevansi tema kajian dengan kebutuhan masyarakat, kenyamanan pelaksanaan, serta penyebaran informasi kegiatan yang belum maksimal. Selain mengidentifikasi permasalahan, mahasiswa KKM juga menyusun beberapa usulan upaya untuk meningkatkan partisipasi jamaah. Di antaranya adalah pengemasan tema kajian yang lebih kontekstual, penyesuaian waktu pelaksanaan agar lebih sesuai dengan aktivitas warga, serta optimalisasi media informasi masjid untuk mengumumkan jadwal kajian secara lebih luas. Takmir Masjid An-Nur menyambut baik langkah evaluasi yang dilakukan oleh mahasiswa KKM. “Kami sangat mengapresiasi kepedulian mahasiswa KKM yang tidak hanya ikut kegiatan, tetapi juga membantu kami melihat apa yang perlu diperbaiki. Evaluasi seperti ini penting agar kajian di masjid bisa terus berkembang dan semakin diminati jamaah,” ujar Takmir Masjid An-Nur. Lebih lanjut, beliau juga menegaskan bahwa masukan dari mahasiswa KKM akan menjadi bahan pertimbangan pengurus masjid dalam memperbaiki sistem kajian ke depan. Dengan adanya evaluasi ini, diharapkan kegiatan kajian di Masjid An-Nur dapat berjalan lebih efektif, menarik lebih banyak jamaah, serta semakin memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan keagamaan masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM 09 UIN Malang berharap dapat berkontribusi tidak hanya dalam pelaksanaan program, tetapi juga dalam peningkatan kualitas pengelolaan kegiatan masjid. Sinergi antara mahasiswa dan pengurus masjid diharapkan mampu menciptakan suasana kajian yang lebih hidup, partisipatif, dan berkelanjutan bagi seluruh jamaah
SITI A`ISYAH HAKIM
MALANG – Di era digital saat ini, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah fisik, tetapi juga sebagai pusat peradaban yang harus mampu menjangkau jamaah lintas generasi. Semangat inilah yang dibawa oleh mahasiswa KKM 09 UIN Malang saat menjalankan program pengabdian di Masjid An-Nur. Melihat potensi syiar yang besar namun terkendala saluran komunikasi, kelompok yang tergabung dalam tim Karsa Nawasena ini mengambil langkah progresif dengan melakukan digitalisasi total informasi masjid. Sebelumnya, kehadiran Masjid An-Nur di jagat maya sempat vakum akibat akun-akun media sosial lama yang tidak terurus, bahkan beberapa di antaranya telah kehilangan akses masuk. Menyadari hambatan tersebut, mahasiswa KKM bergerak melakukan revitalisasi digital secara menyeluruh. Langkah ini diawali dengan pembuatan email resmi sebagai fondasi administrasi digital masjid, yang kemudian diikuti dengan aktivasi multi-platform melalui pembuatan akun baru di Instagram, Facebook, dan TikTok. Tidak sekadar membuat akun, tim juga memastikan adanya penyebaran konten. Tim KKM secara rutin merancang dan mengunggah pamflet jadwal kajian sehingga memudahkan jamaah untuk menyimpan dan membagikan jadwal tersebut melalui grup WhatsApp. Selain itu, setiap rangkaian acara besar di masjid kini didokumentasikan dalam bentuk video recap kegiatan. Video kilas balik ini merangkum esensi acara dengan kemasan yang dinamis, memberikan apresiasi kepada jamaah yang hadir sekaligus memperlihatkan transparansi serta keaktifan kegiatan masjid kepada publik. "Kami ingin Masjid An-Nur lebih dekat dengan pemuda. Dengan hadirnya pamflet dan video recap yang menarik di media sosial, syiar Islam bisa menyelinap masuk ke sela-sela beranda ponsel mereka dalam bentuk yang menarik namun tetap edukatif," ujar tim PDD KKN 09 UIN Malang. Transformasi ini mengubah wajah Masjid An-Nur dari yang semula hanya dikenal melalui pengumuman pengeras suara, kini merambah ke layar gadget jamaah secara visual. Puncak dari inovasi ini adalah peluncuran aplikasi E-Masjid An-Nur. Aplikasi ini diciptakan untuk mengintegrasikan seluruh layanan masjid dalam satu genggaman, mulai dari transparansi laporan keuangan, jadwal petugas jumat, hingga akses langsung ke konten dakwah. Kehadiran aplikasi ini menandai lompatan besar Masjid An-Nur dalam pengelolaan manajemen masjid yang berbasis teknologi informasi. Untuk memperluas jangkauan syiar, tim KKM 09 UIN Malang juga membangun sinergi yang kuat dengan akun media sosial kelompok sendiri, Karsa Nawasena. Strategi yang dijalankan meliputi pengadaan live report untuk menyiarkan momen-momen penting secara langsung, sehingga jamaah yang berhalangan hadir tetap dapat merasakan atmosfer kegiatan di masjid. Langkah ini disambut hangat oleh takmir dan jamaah setempat. Digitalisasi ini dinilai sebagai jembatan penting untuk menyatukan jamaah sepuh dengan generasi z yang sangat aktif di media sosial. Dengan adanya wajah baru di media sosial, Masjid An-Nur kini siap bertransformasi dari sekadar mimbar fisik menuju mimbar digital yang inklusif dan informatif.
LUTFIANA NUR FARIKA
[Tanjungrejo, Malang], Tepat pada tanggal 31 Januari 2026, sebuah perjalanan pengabdian yang penuh makna mencapai puncaknya. Kelompok mahasiswa KKM 117 "Arthaseva" UIN Maulana Malik Ibrahim Malang resmi menutup masa bakti mereka yang telah berlangsung selama 40 hari. Dengan Masjid Darussalam sebagai pusat seluruh kegiatan, acara penutupan ini menjadi momen perpisahan yang khidmat sekaligus ungkapan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh keluarga besar masjid. Acara yang berlangsung di serambi masjid ini dihadiri oleh jajaran tokoh yang telah menjadi pendamping dan pengayom mahasiswa selama pengabdian. Hadir di antaranya Ketua Takmir Masjid Darussalam, Ustadz Fathullah; Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ibu Mubasyiroh, S.S., M.Pd.I; jajaran Ketua RW 07 dan RW 08 beserta pengurusnya; jajaran pengajar TPQ Darussalam; serta rekan-rekan dari pengurus Remaja Masjid Darussalam. Jejak Pengabdian di Jantung Masjid Darussalam Selama 40 hari terakhir, Masjid Darussalam telah menjadi rumah kedua bagi mahasiswa Arthaseva. Fokus pengabdian ini memang diarahkan pada pengembangan potensi dan pemberdayaan kegiatan yang berpusat di lingkungan masjid. Mulai dari pendampingan belajar di TPQ, digitalisasi dakwah bersama Remaja Masjid, hingga kolaborasi sosial dalam kegiatan Family Corner. Dalam sambutannya, Ustadz Fathullah menyampaikan apresiasi atas semangat mahasiswa yang telah membaur dengan baik. Keberadaan mahasiswa tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga menghidupkan suasana religius di lingkungan RW 07 dan RW 08 melalui kedekatan emosional yang terjalin dengan para jamaah dan pengurus masjid. Laporan Pertanggungjawaban dan Penyerahan Vandel Sebagai bentuk amanah akademik, mahasiswa memaparkan rangkuman hasil program kerja yang telah dilaksanakan. Paparan ini menjadi cermin dedikasi mahasiswa dalam berupaya memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi Masjid Darussalam. Program-program yang dijalankan diharapkan dapat terus berlanjut dan dikembangkan oleh para pengurus masjid maupun remaja masjid setempat. Suasana haru mulai menyelimuti saat memasuki prosesi penyerahan vandel sebagai simbol kenang-kenangan. Vandel tersebut diserahkan langsung oleh Ketua KKM 117 kepada pihak Takmir Masjid Darussalam. Namun, kejutan datang dari pihak masjid; secara tak terduga, Takmir Masjid Darussalam juga menyerahkan vandel balasan kepada kelompok KKM 117 Arthaseva. Penyerahan timbal balik ini menjadi simbol kuat bahwa hubungan yang terjalin bukan sekadar tugas kampus, melainkan ikatan kekeluargaan yang saling menghargai. Vandel tersebut menjadi bukti nyata bahwa kehadiran mahasiswa telah diterima dengan tangan terbuka, dan sebaliknya, mahasiswa merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian dari keluarga besar Darussalam. Belum Usai: Menanti Puncak Haflah dan Aftermovie Meski secara formal masa pengabdian 40 hari telah ditutup, ikatan mahasiswa dengan Masjid Darussalam ternyata belum benar-benar berakhir. Mahasiswa KKM 117 dijadwalkan akan kembali hadir pada 7 Februari mendatang untuk menghadiri sekaligus berpartisipasi dalam acara Puncak Haflah Imtihan. Salah satu agenda yang paling dinanti dalam puncak acara tersebut adalah penayangan video aftermovie. Video ini merupakan rangkuman perjalanan mahasiswa selama 40 hari mengabdi, yang akan memutar kembali memori indah, tawa, dan perjuangan bersama jamaah serta santri. Penayangan ini diharapkan menjadi kado perpisahan visual yang manis bagi seluruh warga. Doa Penutup dan Harapan Masa Depan Rangkaian acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Ustadz Kristiawan. Dalam suasana yang hening dan penuh kekhusyukan, doa dipanjatkan sebagai rasa syukur atas kelancaran seluruh kegiatan serta permohonan agar segala ikhtiar yang telah dilakukan menjadi amal jariyah bagi mahasiswa dan membawa keberkahan bagi kemajuan Masjid Darussalam. Acara diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama jajaran takmir, RW, pengajar TPQ, dan remaja masjid. Meski secara fisik mahasiswa KKM 117 harus kembali ke kampus, namun memori tentang kehangatan masyarakat dan syiar di Masjid Darussalam akan selalu tersimpan rapat dalam ingatan mereka. Selamat jalan, Arthaseva 117. Terima kasih, Masjid Darussalam.
WANDHA SANRYA SALSABILA
Salah satu pengalaman paling berkesan selama pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) adalah kegiatan jalan pagi bersama calon jamaah haji yang menjadi bagian dari program pendampingan kesehatan. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas fisik ringan, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang penuh kehangatan antara mahasiswa, dosen pembimbing lapangan, dan calon jamaah haji.Jalan pagi dilaksanakan sebagai bentuk edukasi langsung mengenai pentingnya menjaga kebugaran tubuh sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Dalam suasana yang santai dan penuh semangat, calon jamaah haji diajak untuk bergerak aktif sesuai dengan kemampuan masing-masing. Banyak dari mereka yang awalnya ragu, namun akhirnya menikmati kegiatan ini karena dilakukan bersama-sama dan disesuaikan dengan kondisi fisik peserta, terutama jamaah lanjut usia. Yang membuat kegiatan ini menarik adalah interaksi yang terjalin selama jalan pagi berlangsung. Sambil berjalan, mahasiswa berdiskusi ringan dengan calon jamaah haji mengenai kebiasaan hidup sehat, pengalaman persiapan haji, serta keluhan kesehatan yang sering dirasakan. Suasana kekeluargaan terasa sangat kuat, ditambah dengan semangat dan antusiasme para jamaah yang tetap ingin aktif demi kelancaran ibadah haji nantinya.Kegiatan jalan pagi ini juga menjadi sarana pembelajaran nyata bagi mahasiswa. Tidak hanya mengajarkan pentingnya aktivitas fisik, tetapi juga melatih kepekaan, komunikasi, dan empati dalam mendampingi masyarakat. Mahasiswa belajar bahwa edukasi kesehatan tidak selalu harus dilakukan secara formal, melainkan dapat disampaikan melalui kegiatan sederhana yang aplikatif dan menyenangkan. Sebagai pelengkap kegiatan, setelah jalan pagi dilakukan edukasi kesehatan menggunakan buku saku dan poster sebagai media pendukung. Materi yang disampaikan menjadi lebih mudah diterima karena telah diawali dengan pengalaman langsung melalui aktivitas fisik. Kegiatan ini kemudian ditutup dengan pemberian kenang-kenangan berupa kaos dan buah tangan sebagai simbol kebersamaan dan apresiasi kepada calon jamaah haji.Pengalaman jalan pagi bersama calon jamaah haji ini menjadi salah satu momen paling bermakna selama KKM. Kegiatan sederhana tersebut memberikan pelajaran bahwa kebersamaan, kepedulian, dan pendekatan humanis memiliki peran penting dalam keberhasilan pendampingan kesehatan masyarakat.
ANISA WIDYA NINGRUM
*Dari Aset ke Aksi : Membangun Desa Berdaya Melalui Pendekatan Asset Based Community Development* Pembangunan desa selama ini kerap dimaknai sebagai upaya mengatasi berbagai keterbatasan, mulai dari persoalan ekonomi, kesehatan, hingga kualitas sumber daya manusia. Cara pandang yang terlalu berfokus pada masalah sering kali menempatkan desa sebagai pihak yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Padahal, di balik berbagai tantangan tersebut, desa menyimpan kekuatan sosial, budaya, dan manusia yang jika dikenali dan dikelola dengan tepat, dapat menjadi modal utama pembangunan yang berkelanjutan. Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, merupakan salah satu contoh desa dengan potensi lokal yang kaya. Masyarakatnya memiliki tradisi gotong royong yang kuat, jaringan sosial yang aktif, serta berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan yang hidup dalam keseharian warga. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam satu kerangka pembangunan yang terarah. Di sisi lain, desa juga menghadapi tantangan nyata, seperti perlunya penguatan UMKM lokal, peningkatan literasi pemasaran digital, serta peningkatan kesadaran keluarga terhadap isu kesehatan, khususnya pencegahan stunting dan pola asuh anak. Dalam konteks tersebut, pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) menjadi relevan untuk digunakan sebagai kerangka berpikir dan bertindak. Pendekatan ini menekankan bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan berangkat dari pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki masyarakat, bukan semata-mata dari intervensi eksternal. Masyarakat diposisikan sebagai subjek pembangunan yang aktif, sementara pihak luar berperan sebagai fasilitator dan pendamping. Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman dan temuan lapangan dalam kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Kebobang, dengan tujuan memetakan aset desa, merumuskan mimpi kolektif warga, serta menyajikan praktik perancangan program berbasis potensi lokal. Melalui tulisan ini, diharapkan pembaca dapat melihat bahwa pembangunan desa bukan sekadar soal apa yang kurang, tetapi tentang bagaimana menggerakkan apa yang sudah ada agar memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. *Tahap Discovery: Mengungkap Aset yang Selama Ini Terabaika* Berdasarkan diskusi, survei aset, dan refleksi bersama masyarakat Desa Kebobang, teridentifikasi bahwa warga memiliki mimpi kolektif yang relatif selaras dan realistis dengan kondisi lokal. Mimpi tersebut tidak lahir dari keinginan abstrak, melainkan dari pengalaman sehari-hari warga dalam menghadapi dinamika sosial, ekonomi, dan keluarga. Mimpi utama warga mencakup terbentuknya posko bank sampah yang terkelola secara berkelanjutan sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi mikro. Selain itu, warga mengharapkan pembangunan tugu desa sebagai simbol identitas dan kebanggaan kolektif yang merepresentasikan nilai kebersamaan masyarakat Desa Kebobang. Di sektor ekonomi, warga memiliki harapan agar UMKM lokal dapat berkembang lebih terarah dan memiliki daya saing, terutama melalui peningkatan pengetahuan pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital. Sementara itu, pada aspek keluarga dan kesehatan, muncul kebutuhan kuat akan edukasi parenting dan pencegahan stunting yang berkelanjutan, khususnya bagi orang tua dan wali murid tingkat SD/MI. Mimpi-mimpi ini menunjukkan bahwa warga desa tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, tetapi juga menginginkan perubahan sosial yang berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Visi tersebut menjadi landasan penting dalam merancang program KKM yang relevan, kontekstual, dan berorientasi jangka panjang. *Tahap Dream: Merumuskan Mimpi Kolektif Warga* Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. *Tahap Design: Merancang Strategi Berbasis Aset* Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. *Tahap Destiny: Implementasi dan Penguatan Keberlanjutan* Implementasi program dirancang secara bertahap dan partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lokal. Kader PKK, guru PAUD, Karang Taruna, tokoh agama, serta perangkat desa berperan sebagai pelaksana utama, sementara mahasiswa KKM bertindak sebagai fasilitator dan pendamping program. Pemanfaatan aset yang telah tersedia, seperti balai desa, jaringan Dasa Wisma, lembaga pendidikan, dan kegiatan keagamaan, memungkinkan program dijalankan secara realistis dan efisien. Pendekatan ini juga meminimalkan ketergantungan pada bantuan eksternal serta mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola program. Selain itu, keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mendorong tumbuhnya kepemimpinan lokal dan rasa memiliki terhadap program. Dengan demikian, keberlanjutan kegiatan tidak berhenti pada masa KKM, tetapi berpotensi dilanjutkan oleh masyarakat desa secara mandiri. *Tahap Refleksi: Dampak Awal dan Pembelajaran* Refleksi awal terhadap pelaksanaan program menunjukkan beberapa pembelajaran penting. Pertama, warga mulai menyadari bahwa kekuatan desa tidak hanya terletak pada bantuan dari luar, tetapi juga pada aset sosial, manusia, dan budaya yang telah dimiliki. Kesadaran ini mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap pembangunan desa. Kedua, terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan, khususnya pada program yang menyentuh langsung kebutuhan keluarga dan ekonomi. Hal ini menunjukkan tumbuhnya rasa memiliki terhadap proses dan hasil program. Ketiga, muncul komitmen kolektif dari warga dan pemangku kepentingan lokal untuk melanjutkan pendekatan berbasis aset sebagai strategi pembangunan desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan. *Penutup* Pengalaman pemberdayaan masyarakat di Desa Kebobang menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari daftar kekurangan dan masalah. Melalui pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), masyarakat diajak untuk mengenali kembali kekuatan yang selama ini hadir dalam kehidupan mereka, namun sering kali luput disadari. Aset manusia, sosial, institusional, budaya, dan alam yang dimiliki desa terbukti menjadi fondasi penting dalam merancang program yang relevan dan berdaya guna. Pendekatan berbasis aset juga memperlihatkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap program pembangunan. Ketika warga, kader, pemuda, dan tokoh lokal diberi ruang untuk berperan, proses pembangunan tidak lagi dipandang sebagai agenda eksternal, melainkan sebagai bagian dari kebutuhan dan cita-cita bersama. Hal ini menjadi kunci bagi keberlanjutan program setelah kegiatan pendampingan, termasuk KKM, berakhir. Lebih dari sekadar metode, ABCD menawarkan perubahan cara pandang dalam pembangunan desa. Desa tidak diposisikan sebagai objek yang menunggu bantuan, tetapi sebagai komunitas yang memiliki kapasitas untuk bertumbuh dari dalam. Penguatan UMKM, edukasi parenting dan pencegahan stunting, moderasi beragama, serta penguatan kohesi sosial di Desa Kebobang menjadi contoh bagaimana aset lokal dapat dihubungkan untuk menjawab tantangan nyata masyarakat. Pada akhirnya, pembangunan desa yang berkelanjutan menuntut keberanian untuk berpindah dari pendekatan berbasis masalah menuju pendekatan berbasis kekuatan. Pengalaman di Desa Kebobang menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan sumber daya besar, melainkan kemauan untuk melihat, menggerakkan, dan merawat potensi yang sudah ada. Jika pendekatan ini terus dilanjutkan dan diperkuat, desa tidak hanya akan menjadi objek pembangunan, tetapi aktor utama dalam menentukan masa depannya sendiri.
ADINDA DWI RAHMAWATI
SRIGADING, LAWANG — Semangat pengabdian terpancar di Desa Srigading saat puluhan mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari Kelompok 101 (Arutala Pratista) dan 106 (Dharmayatra) bahu-membahu pada Jumat (26/12). Aksi nyata bertajuk “Pembersihan Green House” menjadi titik awal kebangkitan aset desa yang sempat tertidur. Bukan sekadar bersih-bersih biasa, para mahasiswa harus berhadapan dengan "hutan kecil" di dalam bangunan. Pembersihan vegetasi liar dan penataan ulang pipa hidroponik menjadi agenda utama. Menariknya, aksi ini sempat diwarnai momen seru saat para mahasiswa menemukan beragam fauna lokal, termasuk seekor belut yang muncul tiba-tiba. Namun, dengan prinsip etika lingkungan, seluruh hewan tersebut dievakuasi dengan aman tanpa merusak ekosistem. Apresiasi datang langsung dari Kepala Desa Srigading yang meninjau lokasi pukul 10.00 WIB. Beliau menegaskan bahwa Green House ini adalah pilar bagi megaproyek Green Village. "Ini bukan sekadar tempat menanam, tapi calon destinasi wisata edukasi dan simbol ketahanan pangan mandiri," ungkap beliau. Kini, setelah peluh kering dan instalasi pipa hidroponik kembali tertata rapi, green house Desa Srigading telah siap memasuki babak baru: fase pembibitan. Masukan strategis dari perangkat desa selama kunjungan tadi menjadi bahan evaluasi penting bagi mahasiswa untuk merancang program keberlanjutan selama masa pengabdian mereka. Apa yang dimulai dari langkah kecil mencabut rumput dan membenahi pipa ini diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi lahirnya Green Village di Srigading. Perjalanan menuju desa mandiri memang masih panjang, namun kolaborasi apik antara pemikiran akademisi mahasiswa UIN Malang dan visi strategis pemerintah desa adalah kunci utama untuk memastikan program ini tidak berhenti hanya sebagai seremoni, melainkan warisan yang terus tumbuh. Green House siap membawa Srigading selangkah lebih dekat menuju desa mandiri yang lestari.