SALSABILA NAURA ZAHRA`
Persiapan fisik merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang kelancaran pelaksanaan ibadah haji, mengingat rangkaian ibadah yang membutuhkan stamina dan ketahanan tubuh yang baik. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kelompok 13 KKM adalah melalui program jalan kaki bersama sebagai latihan kebugaran jasmani. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kekuatan otot, daya tahan jantung dan paru, serta membiasakan tubuh dengan aktivitas berjalan jarak jauh yang identik dengan pelaksanaan ibadah haji. Dilaksanakan di lingkungan alam terbuka dengan suasana sejuk dan pemandangan pegunungan, program jalan kaki ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga menyajikan keindahan alam yang dapat menemani tiap persiapan fisik tersebut. Sehingga, akan dipersiapkan diri menjadi jamaah haji yang unggul, sehat, dan siap secara lahir maupun batin.
NUR SUCI RAMADHANI
Kegiatan KKM HIPE Kelompok 24 ini melibatkan mahasiswa lintas program studi, yaitu Nahda Rahma Salvia (Pendidikan Dokter 2023), Rafidatul Kharismah (Farmasi 2023), Ilma Rosiana Aliyati (Farmasi 2023), Alfrida Resti Wardani (Farmasi 2023), dan Nur Suci Ramadhani (Farmasi 2023). Program ini bisa terlaksana berkat kerja sama antara FKIK UIN Malang dengan Dinas Kesehatan, Kementerian Agama (Kemenag), serta Pusat Kesehatan Haji (Puskeshaji). Sasaran kegiatan kami adalah calon jamaah haji di wilayah Puskesmas Bumiaji, yaitu Ibu Sripujiati dan Ibu Sripatun, yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan selama satu bulan penuh. Program kesehatan yang kami jalankan meliputi edukasi kesehatan, pemeriksaan kesehatan rutin, serta aktivitas fisik ringan yang disesuaikan dengan kondisi calon jamaah haji. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah membantu menjaga kondisi kesehatan tetap stabil dan meningkatkan kesiapan fisik mereka dalam menghadapi ibadah haji yang membutuhkan ketahanan tubuh yang baik. Kami juga berusaha memberikan pendampingan secara langsung agar calon jamaah lebih sadar pentingnya menjaga pola hidup sehat sehari-hari. Pada kunjungan pertama, kami melakukan pengenalan program yang akan dilaksanakan selama satu bulan, sekaligus pemeriksaan kesehatan awal dan pretest. Kunjungan kedua diisi dengan pemberian media edukasi kesehatan serta penjelasan cara pengisian jurnal monitoring kesehatan. Di kunjungan ketiga, kami mengadakan jalan sehat gembira sebagai bentuk aktivitas fisik bersama. Awalnya kami menargetkan jarak 1,6 km, tetapi ternyata calon jamaah mampu berjalan hingga 5 km, yang menunjukkan kondisi kebugaran mereka cukup baik. Kunjungan keempat dilanjutkan dengan pelaksanaan posttest untuk melihat tingkat keberhasilan program yang sudah dijalankan. Kunjungan kelima menjadi pertemuan terakhir kami sekaligus momen pamitan bersama dosen pembimbing lapangan, disertai pemberian cenderamata dari kelompok kami. Di akhir kegiatan, Ibu Sripujiati dan Ibu Sripatun menyampaikan kesan dan pesan positif terhadap program KKM HIPE ini. Mereka merasa kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan baru tentang kesehatan serta membantu mereka lebih teratur dalam menjaga pola hidup dan pola makan. Mereka juga memberikan pesan kepada kami agar tetap semangat menjalani perkuliahan dan seluruh aktivitas akademik ke depannya.
AHMAD DIKA FIRDAUSY
Pembangunan desa selama ini kerap dimaknai sebagai upaya mengatasi berbagai keterbatasan, mulai dari persoalan ekonomi, kesehatan, hingga kualitas sumber daya manusia. Cara pandang yang terlalu berfokus pada masalah sering kali menempatkan desa sebagai pihak yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Padahal, di balik berbagai tantangan tersebut, desa menyimpan kekuatan sosial, budaya, dan manusia yang jika dikenali dan dikelola dengan tepat, dapat menjadi modal utama pembangunan yang berkelanjutan. Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, merupakan salah satu contoh desa dengan potensi lokal yang kaya. Masyarakatnya memiliki tradisi gotong royong yang kuat, jaringan sosial yang aktif, serta berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan yang hidup dalam keseharian warga. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam satu kerangka pembangunan yang terarah. Di sisi lain, desa juga menghadapi tantangan nyata, seperti perlunya penguatan UMKM lokal, peningkatan literasi pemasaran digital, serta peningkatan kesadaran keluarga terhadap isu kesehatan, khususnya pencegahan stunting dan pola asuh anak. Dalam konteks tersebut, pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) menjadi relevan untuk digunakan sebagai kerangka berpikir dan bertindak. Pendekatan ini menekankan bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan berangkat dari pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki masyarakat, bukan semata-mata dari intervensi eksternal. Masyarakat diposisikan sebagai subjek pembangunan yang aktif, sementara pihak luar berperan sebagai fasilitator dan pendamping. Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman dan temuan lapangan dalam kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Kebobang, dengan tujuan memetakan aset desa, merumuskan mimpi kolektif warga, serta menyajikan praktik perancangan program berbasis potensi lokal. Melalui tulisan ini, diharapkan pembaca dapat melihat bahwa pembangunan desa bukan sekadar soal apa yang kurang, tetapi tentang bagaimana menggerakkan apa yang sudah ada agar memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Tahap Discovery: Mengungkap Aset yang Selama Ini Terabaika Berdasarkan diskusi, survei aset, dan refleksi bersama masyarakat Desa Kebobang, teridentifikasi bahwa warga memiliki mimpi kolektif yang relatif selaras dan realistis dengan kondisi lokal. Mimpi tersebut tidak lahir dari keinginan abstrak, melainkan dari pengalaman sehari-hari warga dalam menghadapi dinamika sosial, ekonomi, dan keluarga. Mimpi utama warga mencakup terbentuknya posko bank sampah yang terkelola secara berkelanjutan sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi mikro. Selain itu, warga mengharapkan pembangunan tugu desa sebagai simbol identitas dan kebanggaan kolektif yang merepresentasikan nilai kebersamaan masyarakat Desa Kebobang. Di sektor ekonomi, warga memiliki harapan agar UMKM lokal dapat berkembang lebih terarah dan memiliki daya saing, terutama melalui peningkatan pengetahuan pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital. Sementara itu, pada aspek keluarga dan kesehatan, muncul kebutuhan kuat akan edukasi parenting dan pencegahan stunting yang berkelanjutan, khususnya bagi orang tua dan wali murid tingkat SD/MI. Mimpi-mimpi ini menunjukkan bahwa warga desa tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, tetapi juga menginginkan perubahan sosial yang berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Visi tersebut menjadi landasan penting dalam merancang program KKM yang relevan, kontekstual, dan berorientasi jangka panjang. Tahap Dream: Merumuskan Mimpi Kolektif Warga Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. Tahap Design: Merancang Strategi Berbasis Aset Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. Tahap Destiny: Implementasi dan Penguatan Keberlanjutan Implementasi program dirancang secara bertahap dan partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lokal. Kader PKK, guru PAUD, Karang Taruna, tokoh agama, serta perangkat desa berperan sebagai pelaksana utama, sementara mahasiswa KKM bertindak sebagai fasilitator dan pendamping program. Pemanfaatan aset yang telah tersedia, seperti balai desa, jaringan Dasa Wisma, lembaga pendidikan, dan kegiatan keagamaan, memungkinkan program dijalankan secara realistis dan efisien. Pendekatan ini juga meminimalkan ketergantungan pada bantuan eksternal serta mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola program. Selain itu, keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mendorong tumbuhnya kepemimpinan lokal dan rasa memiliki terhadap program. Dengan demikian, keberlanjutan kegiatan tidak berhenti pada masa KKM, tetapi berpotensi dilanjutkan oleh masyarakat desa secara mandiri. Tahap Refleksi: Dampak Awal dan Pembelajaran Refleksi awal terhadap pelaksanaan program menunjukkan beberapa pembelajaran penting. Pertama, warga mulai menyadari bahwa kekuatan desa tidak hanya terletak pada bantuan dari luar, tetapi juga pada aset sosial, manusia, dan budaya yang telah dimiliki. Kesadaran ini mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap pembangunan desa. Kedua, terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan, khususnya pada program yang menyentuh langsung kebutuhan keluarga dan ekonomi. Hal ini menunjukkan tumbuhnya rasa memiliki terhadap proses dan hasil program. Ketiga, muncul komitmen kolektif dari warga dan pemangku kepentingan lokal untuk melanjutkan pendekatan berbasis aset sebagai strategi pembangunan desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Penutup Pengalaman pemberdayaan masyarakat di Desa Kebobang menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari daftar kekurangan dan masalah. Melalui pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), masyarakat diajak untuk mengenali kembali kekuatan yang selama ini hadir dalam kehidupan mereka, namun sering kali luput disadari. Aset manusia, sosial, institusional, budaya, dan alam yang dimiliki desa terbukti menjadi fondasi penting dalam merancang program yang relevan dan berdaya guna. Pendekatan berbasis aset juga memperlihatkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap program pembangunan. Ketika warga, kader, pemuda, dan tokoh lokal diberi ruang untuk berperan, proses pembangunan tidak lagi dipandang sebagai agenda eksternal, melainkan sebagai bagian dari kebutuhan dan cita-cita bersama. Hal ini menjadi kunci bagi keberlanjutan program setelah kegiatan pendampingan, termasuk KKM, berakhir. Lebih dari sekadar metode, ABCD menawarkan perubahan cara pandang dalam pembangunan desa. Desa tidak diposisikan sebagai objek yang menunggu bantuan, tetapi sebagai komunitas yang memiliki kapasitas untuk bertumbuh dari dalam. Penguatan UMKM, edukasi parenting dan pencegahan stunting, moderasi beragama, serta penguatan kohesi sosial di Desa Kebobang menjadi contoh bagaimana aset lokal dapat dihubungkan untuk menjawab tantangan nyata masyarakat. Pada akhirnya, pembangunan desa yang berkelanjutan menuntut keberanian untuk berpindah dari pendekatan berbasis masalah menuju pendekatan berbasis kekuatan. Pengalaman di Desa Kebobang menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan sumber daya besar, melainkan kemauan untuk melihat, menggerakkan, dan merawat potensi yang sudah ada. Jika pendekatan ini terus dilanjutkan dan diperkuat, desa tidak hanya akan menjadi objek pembangunan, tetapi aktor utama dalam menentukan masa depannya sendiri.
QORI`ATUN NABILA
Sekolah Rakyat Terintegrasi 48 Pasuruan selalu berusaha untuk menciptakan ruang belajar yang menyenangkan, kreatif, dan membangun karakter para siswanya. Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut adalah penyelenggaraan lomba oleh kelompok KKM Unggulan PSGA 267, terdapat dua lomba yang diikuti dengan baik oleh para siswa yaitu lomba mewarnai untuk siswa SD dan baca puisi untuk siswa SMA. Kegiatan lomba ini bertujuan untuk melatih keberanian, kreativitas, serta menumbuhkan rasa percaya diri para siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 48 Pasuruan. Lomba dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Januari 2026. Lomba mewarnai dilaksanakan di kelas, sedangkan lomba membaca puisi dilaksanakan di aula sekolah dengan ditonton oleh teman-teman SMA seangkatannya dengan suasana penuh suasana semangat. Saat lomba mewarnai, para peserta diberikan gambar kaligrafi untuk diwarnai sesuai keinginan dan kreativitas masing-masing. Para siswa tampak antusias menggunakan pensil warna untuk menghasilkan karya yang indah dan penuh makna. Ketika lomba membaca puisi, para peserta membacakan puisi bertema pendidikan. Mereka tampil dengan ekspresi, intonasi, dan keberanian yang luar biasa, sehingga mampu menyentuh hati para penonton dan juri. Tujuan diadakannya kegiatan lomba ini yaitu untuk mengasah kreativitas dan imajinasi siswa melalui seni mewarnai, melatih keterampilan berbahasa dan ekspresi diri lewat puisi, menumbuhkan rasa percaya diri untuk tampil di depan umum, serta membangun kebersamaan antar siswa untuk saling mendukung satu sama lain. Karya-karya yang dihasilkan dari goresan warna menunjukkan bahwa setiap anak memiliki kreativitas dan imajinasi yang berbeda. Sementara itu, pembacaan puisi menghadirkan suasana haru dan bangga, terutama ketika para siswa dengan penuh semangat dan lantang membacakan puisi. Juri, wali asuh, dan panitia memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang berkontribusi dalam kegiatan lomba. Melalui lomba mewarnai dan baca puisi ini, diharapkan Sekolah Rakyat Terintegrasi 48 Pasuruan dapat terus menumbuhkan generasi yang kreatif, berkarakter, dan berani berkarya. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan bukan hanya tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang seni, ekspresi, dan keberanian untuk tampil di depan umum.
KARTIKA ATAMEVIA
Pada kunjungan kedua ini, saya merasa sangat takjub. Rasanya benar-benar berbeda dari kunjungan pertama dan menjadi salah satu pemgalaman paling berkesan selama kegiatan KKM. Pada hari itu, kegiatan kami tidak hanya sebatas pemeriksaan tekanan darah CJH ( Calon Jamaah Haji), tetapi juga diisi dengan kegiatan jalan lagi atau jalan kaki bersama. Sejak awal suasana sudah sangat hangat akrab, dan penuh semangat. Setelah pemeriksaan tekanan darah selesai dilakukan, kami langsung bersiap untuk berjalan bersama para CJH. Awalnya aku membayangkan jalan paginya hanya santai di sekitar rumah, tapi ternyata kami diajak melewati rute yang cukup menantang. Jalannya naik turun, melewati hutan kecil, taman bunga, dan area hijau lainnya yang pemandangannya benar-benar indah. Udara pagi yang sejuk, pepohonan yang rimbun, serta suasana alam yang masih asri membuat perjalanan ini terasa sangat menyenangkan. Walaupun cukup melelahkan, rasa capeknya tetapi sangat senang dan antusias. Selama perjalanan, Pak Usman, salah satu CJH, banyak sekali bercerita dan menjelaskan berbagai hal kepada kami. Beliau menjelaskan tentang lingkungan sekitar, kondisi alam, hingga pengalaman-pengalaman hidup yang diceritakan dengan gaya santai dan penuh canda. Cara beliau bercerita membuat suasana perjalanan terasa hidup dan tidak membosankan. Kami pun menikmati setiap langkah perjalanan karena diisi dengan dialog seru dan tawa. Jalan kaki yang panjang terasa singkat karena suasananya begitu hangat dan menyenangkan. Di beberapa titik, kami sempat berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan. Menurutku, momen inilah yang membuat foto-foto yang diambil terasa sangat menarik. Pemandangan alam yang hijau, udara yang bersih, serta kebersamaan kami dengan para CJH menjadi perpaduan yang indah dan berkesan. Saat perjalanan pulang, Pak Usman mengajak kami mampir ke sebuah tempat makan prasmanan bernama Nasi Mpok. Kami benar-benar tidak menyangka akan diajak makan bersama, apalagi ditraktir. Nasi Mpok atau yang juga dikenal sebagai sego empok merupakan makanan tradisional khas Jawa Timur yang terbuat dari jagung pipil kering yang ditumbuk atau digiling kasar, kemudian dikukus hingga matang. Makanan ini biasanya disajikan dengan lauk-pauk sederhana seperti sayur nangka muda, urap, ikan asin, tempe mendol, dan sambal. Selain rasanya yang khas, nasi empok juga dikenal sebagai kuliner yang sehat karena seratnya yang tinggi. Menikmati nasi empok bersama-sama setelah perjalanan panjang benar-benar menjadi pengalaman yang unik dan menyenangkan. Setelah makan, ternyata kegiatan kami belum selesai. Pak Usman kembali mengajak kami untuk berjalan menuju sebuah sumber air. Tempat ini sangat indah, airnya jernih sekali, mengalir alami tanpa limbah, dan di dalamnya terdapat ikan koi yang berenang dengan tenang. Awalnya kami memberi makan ikan koi menggunakan keripik peyek karena penjual pakan ikan belum buka. Meski hanya dengan peyek, kami sudah merasa sangat senang melihat ikan-ikan koi berebut makanan. Tidak lama kemudian, saat penjual pakan ikan sudah buka, Pak Usman langsung membelikan pakan ikan dalam jumlah banyak karena melihat kami begitu antusias. Kebaikan beliau benar-benar terasa tulus dan membuat kami semakin terharu. Setelah puas menikmati suasana di sumber air, kami melanjutkan perjalanan kembali ke rumah Pak Usman. Di sana kami beristirahat dan menyuguhi minuman serta berbagai keripik buah hasil produksi usaha beliau sendiri. Suasananya terasa sangat hangat, seperti bertamu ke rumah keluarga. Tidak hanya itu, kami juga ditraktir kue putu, jajanan tradisional Indonesia yang terbuat dari tepung beras butiran kasar, biasanya berwarna hijau dari pandan atau putih, berisi gula merah yang lumer di dalamnya, dan dikukus menggunakan tabung bambu kecil. Aroma khas kue putu yang harum dan rasanya yang manis membuat suasana semakin akrab dan menyenangkan. Sambil menikmati suguhan, kami berbincang banyak hal, tertawa bersama, dan saling berbagi cerita. Waktu berjalan terasa sangat cepat karena suasananya begitu seru dan hangat. Saat kami hendak pulang, Pak Usman kembali memberi kami oleh-oleh berupa keripik buah dan buah apel. Hal tersebut menjadi penutup yang manis dari rangkaian kegiatan hari itu. Keseluruhan pengalaman pada kunjungan kedua ini menjadi salah satu pengalaman paling menarik dan paling berkesan selama kegiatan KKM. Bukan hanya karena kegiatannya yang beragam, tetapi juga karena kehangatan dan kebaikan Pak Usman dan Mbak Carissa yang membuat kami merasa diterima dengan penuh rasa kekeluargaan.
LAILATUL FIRDAUSIYAH
Pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) salah satunyadiisi dengan kegiatan yang menyegarkan raga sekaligus mempererat tali silaturahmi. Kami berkesempatan untuk mengadakan kegiatan Jalan Sehat bersama menuju kawasan Agrowisata setempat. Keakraban di Tengah Hamparan Hijau Tak hanya sekadar berjalan kaki, momen ini menjadi ruang bagi kami, para mahasiswa, untuk berinteraksi lebih dekat dengan Calon Jamaah Haji. Sambil menikmati udara pagi yang masih bersih dan pemandangan gunung yang memukau, kami berbincang santai mengenai kegiatan setiap hari yang dilakukan oleh Calon jamaah haji. Membangun Kedekatan, Menciptakan Kenangan Melihat senyum dari Calon Jamaah Haji setelah melakukan kegiatan membuat lelah jadi tak terasa. Kami percaya bahwa pengabdian yang baik dimulai dari kedekatan emosional yang tulus. Agrowisata ini bukan hanya soal pemandangan, tapi tentang bagaimana kami belajar menghargai harmoni antara manusia dan alam.