Thumbnail
3 months ago
Di Balik Pertanyaan Sederhana

KHOIRUNNISA LUTHFIYYAH ANDARWATI

Selama kegiatan KKM, salah satu hal yang paling menarik buat saya bukan hanya kegiatan kesehatan seperti senam atau edukasi, tapi juga interaksi dengan calon jamaah haji (CJH) yang ternyata sangat akrab dan curious dengan kami. CJH yang kami dampingi adalah orang yang terbuka dan senang bercerita. Suatu hari, beliau bercerita tentang pengalaman keluarganya saat masa pandemi COVID-19. Menurut cerita beliau, saat itu bukan hanya dirinya yang terkena COVID-19, tetapi juga beberapa anggota keluarganya. Awalnya kondisi keluarganya di rumah terlihat baik-baik saja. Namun setelah dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan suntikan (terapi), sekitar 5–6 jam kemudian keluarga beliau meninggal dunia. Lalu beliau bertanya kepada kami dengan nada serius, “Ini saya benar-benar bertanya ya… kenapa kok bisa seperti itu?” sebagai mahasiswa semester 5 yang masih belajar, saya sempat panik dalam hati. Saya ingin menjawab dengan cara yang tetap ilmiah, tetapi tidak menyinggung perasaan beliau, apalagi karena ini menyangkut pengalaman kehilangan keluarga. Akhirnya saya menjelaskan dengan hati-hati bahwa pandemi COVID-19 terjadi sangat cepat dan dalam waktu yang relatif singkat, sekitar tiga tahun. Pada masa itu, angka kematian juga meningkat dengan cepat, sehingga tenaga kesehatan harus mengambil keputusan terapi dalam waktu yang cepat pula. Padahal, pengembangan obat idealnya membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan bisa mencapai 5–10 tahun sampai benar-benar terbukti aman dan efektif. Saya juga menyampaikan bahwa terapi yang diberikan saat itu kemungkinan adalah obat atau tindakan yang pada masa tersebut dianggap bisa membantu meringankan COVID-19 berdasarkan pengetahuan medis yang tersedia saat itu. Namun, respons tubuh tiap orang bisa berbeda-beda, tergantung kondisi awal pasien, tingkat keparahan penyakit, komorbid, serta daya tahan tubuhnya. Jadi, efek dari terapi bisa berbeda pada setiap individu. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa pertanyaan seperti ini sangat mungkin sering muncul di masyarakat, baik sekarang maupun nanti ketika kami sudah menjadi tenaga kesehatan. Oleh karena itu, kami perlu belajar menjelaskan informasi medis dengan jelas, dapat dipahami, tetap ilmiah, dan yang paling penting disampaikan dengan hati-hati agar tidak menyinggung pasien maupun siapa pun yang sedang mengalami kehilangan atau trauma.

Thumbnail
3 months ago
Langkah Kecil Menuju Sehat Bersama: Peran Mahasiswa Kedokteran dalam Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat

MUHAMMAD ALTHOF TAQIYUDDIN

Sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa kedokteran melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan melalui media poster, video edukasi, serta buku saku. Dengan desain yang minimalis dan praktis, buku saku ini diharapkan dapat menjadi panduan yang mudah dibawa dan digunakan oleh calon jamaah saat menjalankan ibadah di Tanah Suci. Buku saku tersebut memuat wawasan mengenai ibadah haji, informasi kesehatan penting, serta panduan obat-obatan herbal yang dapat dibuat secara mandiri oleh calon jamaah haji. Selain itu, buku saku juga berisi hasil pemeriksaan kesehatan rutin yang telah dilakukan sebelum keberangkatan, sehingga dapat menjadi pengingat sekaligus panduan kesehatan. Melalui langkah kecil ini, mahasiswa kedokteran berupaya memberikan kontribusi nyata dalam pemberdayaan kesehatan masyarakat. Edukasi yang diberikan diharapkan mampu meningkatkan kesiapan fisik dan pengetahuan calon jamaah haji sehingga dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan optimal. Bersama masyarakat, mari membangun kesadaran bahwa persiapan kesehatan yang baik merupakan bagian penting dari perjalanan ibadah yang bermakna.

Thumbnail
3 months ago
Bersama Menuju Sehat: Jalan Sehat Ceria dalam Kegiatan KKM HIPE Kelompok 19

RISKA MAULINA WARDANI

Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa-HIPE (Hajj Interprofessional Education) yang saya ikuti merupakan program kolaborasi antara Program Studi Pendidikan Dokter dan Program Studi Sarjana Farmasi. Program ini mengusung semangat Together Toward Wellness, di mana mahasiswa dari berbagai profesi bekerja sama untuk mendampingi calon jemaah haji. Salah satu tugas yang saya jalani selama KKM adalah memantau dan mendampingi calon jemaah haji, yaitu Bu Mudrikah. Pada awalnya, saya mengira kegiatan pendampingan akan berjalan secara formal dan kaku, namun ternyata kegiatan yang kami lakukan justru penuh kebersamaan dan suasana yang menyenangkan. Salah satu kegiatan yang kami lakukan bersama adalah jalan sehat. Bu Mudrikah dikenal sebagai sosok yang aktif dan gemar berjalan kaki, sehingga kegiatan ini terasa ringan dan menyenangkan. Selama jalan sehat, kami banyak berbincang santai tentang kegiatan sehari-hari, kesehatan, dan harapan Bu Mudrikah untuk menjalani ibadah haji dengan baik. Momen-momen sederhana seperti ini membuat saya merasa lebih dekat dan memahami pentingnya pendekatan yang memperhatikan kebutuhan emosional dalam pendampingan. Dalam kegiatan jalan sehat, kami berkunjung ke Concrete Cafe yang berada di daerah Kampung Wisata Kungkuk, Bumiaji, Kota Batu. Lokasinya dekat dengan tempat tinggal ibu Mudrikah. Suasana di sekitar cafe terasa sejuk dan nyaman sehingga membuat kami betah berlama-lama. Di sana, kami menikmati pemandangan serta mencicipi buah bit bersama. Momen ini terasa ringan dan menyenangkan, seolah kegiatan KKM bukan sekadar tugas, melainkan juga pengalaman yang dapat dinikmati. Kegiatan kemudian dilanjutkan menuju gazebo di Kampung Wisata Kungkuk. Di sana, kami beristirahat sambil menikmati jajanan yang telah dibawa bersama. Meskipun aktivitas yang dilakukan sederhana, kebersamaan membuat semuanya terasa hangat. Bahkan, rasa lelah yang muncul setelah berjalan cukup jauh terasa terbayarkan oleh suasana kebersamaan dan canda tawa yang tercipta. Melalui kegiatan ini, saya menyadari bahwa KKM HIPE bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi juga tentang membangun kedekatan, empati, dan kepedulian terhadap calon jemaah haji. Pendampingan yang dilakukan dengan pendekatan yang hangat dan penuh kebersamaan dapat membantu meningkatkan kenyamanan dan semangat calon jemaah haji dalam mempersiapkan ibadah. Pengalaman bersama Bu Mudrikah menjadi salah satu momen berkesan selama mengikuti KKM, karena kegiatan ini mengajarkan saya bahwa kesehatan bukan hanya soal fisik, tetapi juga tentang kebersamaan dan dukungan sosial.

Thumbnail
3 months ago
Bukan Sekadar Posyandu: Mahasiswa KKN UIN Malang Racik Jus Herbal Penurun Hipertensi untuk Lansia

AISYAH NUR AFNI

PANDANWANGI (10-01/2026) – Mahasiswa KKN 09-Karsa Nawasena UIN Malang menunjukkan kepedulian nyata terhadap kesehatan masyarakat di wilayah RW 13, Kecamatan Pandanwangi. Jika biasanya kegiatan Posyandu hanya diisi dengan timbang badan dan imunisasi, kehadiran mahasiswa KKN UIN Malang memberikan warna baru yang lebih segar. Melalui kolaborasi dengan kader Posyandu setempat menghadirkan inovasi berupa minuman kesehatan berbasis buah dan herbal untuk balita serta lansia.    Kegiatan dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan antusiasme warga yang cukup tinggi. Mahasiswa KKN turut serta mendampingi warga dalam mengikuti alur pelayanan Posyandu yang sistematis mulai dari kedatangan dan pendaftaran, pemeriksaan medis meliputi pemeriksaan fisik, mulai dari penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, hingga konsultasi kesehatan.    Fokus utama kegiatan kali ini adalah edukasi gizi melalui pembuatan jus segar. Bagi masyarakat umum dan anak-anak, mahasiswa menyediakan jus melon dan jambu yang kaya akan vitamin C dan antioksidan untuk meningkatkan imunitas tubuh. Namun, yang paling menarik perhatian adalah racikan khusus bagi para penderita lansia hipertensi.   Kehadiran menu unik ini sempat memancing rasa penasaran warga. "Apa sih sebenarnya hanya hipertensi itu? Lalu, dari bahan-bahan apa saja jus ini dibuat sehingga bisa berkhasiat?" tanya Pak Endro, salah satu warga lansia yang hadir. Menanggapi pertanyaan tersebut, tim KKN menjelaskan bahwa mereka membuat jus herbal dengan komposisi kompleks yang terdiri dari:  Buah-buahan: Apel, belimbing, nanas, jeruk nipis, dan buah plum.  Sayuran: Wortel, timun, dan seledri.   Bumbu Herbal: Bawang merah dan bawang putih tunggal Bahan-bahan ini dipercaya secara turun-temurun dan melalui referensi kesehatan dapat membantu menurunkan tekanan darah serta melancarkan aliran darah.   Tidak hanya fokus pada gizi, mahasiswa KKN juga aktif membantu teknis pelaksanaan Posyandu dengan juga dalam penanganan balita hingga mengajak anak-anak berinteraksi agar tidak takut saat menjalani pemeriksaan kesehatan. Sebagai bentuk apresiasi bagi warga yang telah antusias memeriksakan kesehatannya, siswa membagikan jus dan bubur kacang hijau kepada setiap pasien yang telah selesai menjalani rangkaian pemeriksaan di Posyandu.   "Inisiatif pembuatan jus sehat ini bagus. Saya juga sangat terbantu dengan adanya siswa yang mendampingi balita, sehingga proses pemeriksaan terasa lebih tenang dan lancar," ungkap seorang warga RW 13 saat ditemui di lokasi.   Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari warga RW 13 Pandanwangi. Para lansia mengaku terkesan dengan rasa jus herbal yang unik, sementara para ibu merasa terbantu dengan kehadiran siswa dalam menjaga anak-anak mereka selama antrean.

Thumbnail
3 months ago
Belajar Lebih Dekat dengan Masyarakat: Pengalaman Melakukan Pemeriksaan Kesehatan Selama KKM

NITI MURNI KUSUMANINGRUM

Salah satu pengalaman paling berkesan selama kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) adalah ketika kami berkesempatan melakukan pemeriksaan kesehatan langsung kepada masyarakat menggunakan metode Point of Care Testing (POCT). Pada saat ini, saya melakukan pemeriksaan POCT kepada Bapak Nurkolis dan Ibu Nur Khasanah di kediaman mereka. Pemeriksaan dilakukan dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan. Berbeda dengan suasana klinik atau rumah sakit, pemeriksaan kesehatan di rumah warga memberikan pengalaman tersendiri karena kami harus menyesuaikan cara komunikasi agar lebih mudah dipahami dan tidak menimbulkan kecemasan. Selama pemeriksaan kami juga tidak lupa untuk memberikan edukasi terkait kesehatan seperti angka kecukupan gizi perharinya (AKG), dan kebutuhan glukosa harian. Selain POCT kami juga melakukan pengukuran tekanan darah dan penimbangan berat badan pada CJH Selain bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan secara umum, kegiatan ini juga menjadi sarana skrining awal bagi masyarakat agar lebih menyadari pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin. Hasil pemeriksaan yang diperoleh langsung kami jelaskan kepada Bapak Nurkolis dan Ibu Nur Khasanah dengan bahasa yang sederhana, sehingga mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang diberikan tidak hanya terfokus pada hasil pemeriksaan, tetapi juga penerapan pada pola hidup sehat seperti pengaturan pola makan, aktivitas fisik, serta pentingnya menjaga keseimbangan asupan gizi sesuai kebutuhan tubuh. Melalui kegiatan pemeriksaan ini, saya memperoleh pengalaman berharga dalam menerapkan ilmu yang telah dipelajari di bangku perkuliahan ke dalam praktik langsung di masyarakat. Interaksi secara langsung dengan warga mengajarkan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya mengajarkan keterampilan klinis, tetapi juga kemampuan komunikasi, empati, dan pendekatan yang humanis.

Thumbnail
3 months ago
Jalan bersama CJH

NICO DWI PURNOMO

Di pagi yang cerah, CJH atas nama Bapak Rapi'i dan Ibu Enis bersedia untuk melakukan jalan sehat bersama. Kegiatan dilakukan pukul 09.00, tepat setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Selama kegiatan ini, saya secara langsung mendampingi Bapak Rapi'i saling berbagi pengalaman dan saya juga menyempatkan untuk bertanya terkait dengan masalah kesehatan dan melakukan edukasi terkait masalah tersebut. Setelah berjalan berkisar 1 jam, kami memutuskan untuk berkumpul kembali dan beristirahat sembari melakukan foto bersama sebagai kenang-kenangan.