MOCHAMAD AKBAR FAUZAN ALI
Dalam rangka memberi kemudahan akases layanan konsultasi keluarga bagi masyarakat. Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 18 Sattvaghana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) meresmikan Family Corner dan juga menggelar acara Seminar Parenting. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Ainul Yaqin Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang pada Selasa (27/1/2026). Langkah Strategis Menjamin Keberlanjutan Layanan Konsultasi Keluarga Dalam laporannya, Renata Dwi Yasarah menjelaskan rangkaian acara diawali dengan prosesi pelantikan pengurus Family Corner Masjid Ainul Yaqin. “Pelantikan ini merupakan langkah strategis untuk menjamin keberlanjutan layanan konsultasi keluarga di lingkungan masyarakat,” ujar Renata. Kelompok KKM 19 UIN Malang berperan penting dalam mengawal pembentukan struktur. Sehingga ke depannya warga memiliki wadah resmi yang dikelola secara profesional untuk mengadukan serta mencari solusi atas permasalahan rumah tangga. Family Corner sebagai Ruang Aman bagi Masyarakat Pada kegiatan utama yang dilaksanakan KKM Kelompok 19 UIN Malang. Inisiator Family Corner UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Mufidah Cholil, M.Ag secara resmi meresmikan fasilitas tersebut sekaligus memberikan sosialisasi mendalam terkait konsep Family Corner. “Kehadiran lembaga ini bertujuan untuk mendekatkan layanan penguatan keluarga ke basis masyarakat terkecil,” jelas Prof. Mufidah. Dalam sosialisasinya, ia menekankan bahwa Family Corner dirancang sebagai ruang aman bagi masyarakat untuk mendapatkan edukasi. Selain itu juga sebagai solusi atas berbagai problematika rumah tangga dengan landasan nilai-nilai religi yang kokoh. Gandeng Dosen Psikologi UIN Malang dalam Acara Seminar Parenting Melengkapi aspek sosialisasi kelembagaan, acara dilanjutkan dengan Seminar Parenting yang menghadirkan narasumber dari dosen Psikologi UIN Malang, Dr. Hj. Rofiqoh Rosidi, M.Pd, C.HT. Melalui materi bertema Peran Keluarga dalam Menghadapi Perubahan Zaman: Anak, Orang Tua, dan Kakek-Nenek. Ia memberikan pandangan dan strategi praktis pengasuhan yang menitikberatkan pada pentingnya keselarasan komunikasi antara tiga generasi agar tidak terjadi benturan pola asuh di era digital yang penuh tantangan. Antusiasme peserta yang didominasi oleh warga lokal dan penggiat keluarga, menunjukkan bahwa kebutuhan akan ruang edukasi seperti sangatlah tinggi. Kolaborasi antara LP2M UIN Malang, KKM 19, dan takmir Masjid Ainul Yaqin serta kepengurusan Family Corner. Kolaborasi ini diharapkan menjadi pilar utama dalam mencetak keluarga yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman. Melalui peresmian dan pembekalan materi ini, Family Corner Masjid Ainul Yaqin siap beroperasi secara optimal untuk memberikan manfaat luas bagi kemaslahatan umat.
EKA ZHAREZHA LUSITA DEWI
Hari-hari awal pelaksanaan KKM menjadi langkah pertama dalam perjalanan yang penuh rasa penasaran dan penyesuaian. Wajah-wajah yang semula terasa asing perlahan berubah menjadi akrab, sapaan sederhana pun berkembang menjadi canda dan tawa. Melalui persiapan kegiatan serta diskusi singkat di sela waktu, kami belajar menyatukan langkah dan tujuan untuk mengabdi dengan sepenuh hati kepada masyarakat. Seiring berjalannya waktu, kebersamaan kami semakin terjalin kuat. Kami bekerja sama dalam menyusun rencana, menjalankan program, serta menghadapi berbagai tantangan yang datang tanpa diduga. ari proses tersebut, kami memahami bahwa melayani bukan hanya tentang menyelesaikan tanggung jawab, tetapi juga menghadirkan ketulusan dalam setiap tindakan. Dalam kunjungan tersebut, kami melaksanakan program Amanah dan Kawan CJH melalui pemeriksaan kesehatan sederhana, seperti tekanan darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol yang dapat membantu calon jamaah haji mengetahui kondisi kesehatannya. Kami juga berbincang santai bersama Bapak Ismadi dan Ibu Sri Rahayu yang berbagi kisah hidup penuh makna. Makan bersama, berbagi cerita, dan tertawa dalam kesederhanaan menjadi kenangan yang tak tergantikan. Kunjungan kepada calon jamaah haji bukan hanya menjadi bagian dari program KKM, tetapi juga menjadi perjalanan hati yang mengajarkan arti keluarga, kepedulian, dan makna pengabdian yang sesungguhnya.
AURALIA ZAHRIZKY
Momen kunjungan silaturahim pertama ke kediaman calon jemaah haji kami adalah saat yang sangat dinantikan. Dengan hati yang tulus dan penuh harap, kami disambut dengan sangat hangat oleh Bapak/Ibu calon jemaah haji, Bapak Ismadi dan Ibu Sri Rahayu, di rumah mereka. Merasakan kebahagiaan dan kesyukuran atas kesempatan untuk berbagi doa dan dukungan. Kami berharap program edukasi yang kami laksanakan dapat membantu dan menambah wawasan beliau dalam menjalani ibadah haji yang istitaah dan mabrur. Semoga perjalanan ibadah haji Bapak Ismadi dan Ibu Sri Rahayu berjalan lancar, penuh keberkahan, dan menjadi awal lembaran baru untuk membuka pintu kebaikan dan juga rezeki dari Allah SWT. Aamiin.
DWIYANTI MELIANI
Jalan Jalan Sehat Sambil Melihat Kebun Bersama Bapak Ahmad dan kak ihza merupakan salah satu dari intervensi program kami, dimanan dari program ini calon jemaah haji bisa terbiasa untuk jalan pagi untuk mempersiapkan diri ketika ibadah di tanah suci nanti dimana akan berjalan berkilo-kilo jauhnya. Jalan sehat dilakukan di pagi hari sekitar jam setengah 7 di sekitar rumah bapak ahmad khoifin, dimana udara masih terasa dingin dan juga sejuk. Tidak hanya itu kami juga belajar mengenai tanaman tanaman apa saja yang sering kali di tanam oleh masyarakat di desa bumiaji, kerap kali melihat orang orang yang bersiap untuk berangkat ke kebun, ada juga yang sudah memulai aktivitasnya di kebun, ada juga warga yang senam bersama memmngingat kami kkunjungan pada hari minggu. Bapak ahmad menjelaskan kami beberapa jenis tanaman yang sering ditanam oleh warga, ada wortel, sawi hijau atau pakcoy, bunga kol dan beberapa kebun ditanami oleh pohon apel, strawberry, alpukat dan jeruk. Jarak 100 meter dari rumah bapak ahmad juga ada pembangunan taman bermain yang mungkin 5 bulan lagi akan beroperasi.
M. FAIZIN AL ANSORI
Ada hal-hal yang baru terasa maknanya setelah kita benar-benar menjalaninya. Salah satunya: hari Rabu. Dalam Ta’lim Muta’allim karya Syekh Az-Zarnuji, ada nasihat yang unik sekaligus menenangkan: memulai suatu kegiatan pada hari Rabu adalah anjuran yang baik, karena hari tersebut punya keistimewaan. Dulu, aku menganggapnya sekadar kalimat klasik dalam kitab. Tapi ternyata, di Desa Sumberdem, nasihat itu seperti “hidup” dan menjelma menjadi pengalaman nyata. Kami, mahasiswa KKM Astra Pradhipta 73, melaksanakan pengabdian di Dusun Durengede (Ngemplak) dan Sumberingin, Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, sejak 23 Desember hingga 04 Februari. Mengusung tema besar KKM Berdampak, kami membawa tiga program unggulan: pengembangan UMKM, pencegahan stunting, dan moderasi beragama. Namun, dari sekian banyak kegiatan, ada satu rutinitas yang paling melekat di kepala dan (jujur) paling terasa di punggung: kerja bakti pembangunan wisata sungai di Kampoeng KRPL—setiap hari Rabu. Sungai Itu Indah, Tapi Jalannya… Bikin Tobat Awal mula kami terlibat dalam pembangunan wisata ini terjadi saat pertama kali bersilaturahmi dengan Ketua Pokdarwis Kampoeng KRPL. Dari beliau kami tahu, setiap hari Rabu para pemuda desa dan bapak-bapak aktivis desa rutin kerja bakti membangun wisata desa. Wisata yang dimaksud adalah wisata air yang berada di balik pemukiman warga. Kedengarannya sederhana, tapi kenyataannya… jalannya tidak ramah sama sekali. Sungainya tersembunyi, menjorok ke bawah, dan dikelilingi hutan yang masih alami. Aksesnya masih berupa jalan setapak yang licin, curam, dan rawan terpeleset. Waktu pertama kali turun, beberapa dari kami sempat terdiam, bukan karena kagum—tapi karena sedang menimbang: “Ini beneran jalan atau jalur ujian hidup?” Tapi anehnya, rasa takut itu bercampur bangga. Karena kami sadar: kami termasuk orang-orang pertama yang ikut membuka jalan menuju potensi besar desa. Mengangkat Batu, Mengangkat Harapan Pada Rabu pertama, tugas kami cukup “legendaris”: mengambil batu-batu besar dari dasar sungai untuk dijadikan pondasi tangga akses menuju lokasi wisata. Kami berjajar membentuk barisan. Batu-batu itu dioper dari bawah ke atas dengan penuh kehati-hatian. Medannya licin, kaki sering selip, tangan pegal, tapi kami tetap lanjut. Di sisi lain, bapak-bapak warga fokus mencangkul tanah, membentuk anak tangga, dan merapikan jalur. Di momen itu kami belajar: membangun wisata desa itu bukan soal konsep besar di atas kertas, tapi tentang hal-hal sederhana seperti: membersihkan jalur menata batu memperkuat akses dan yang paling penting: konsisten datang kembali Rabu berikutnya, kami kembali ke lokasi yang sama. Kali ini untuk menata batu-batu tadi menjadi pondasi tangga sesuai arahan warga yang sudah lebih berpengalaman. Dari sini kami paham, membangun itu bukan tentang kecepatan, tapi tentang ketepatan dan kesabaran. Tiga Minggu, Satu Tempat, dan Banyak Pelajaran Selama kurang lebih tiga sampai empat minggu, setiap hari Rabu kami “bertemu lagi” dengan tempat yang sama. Fokus kerja pun berkembang. Mulai dari: memperkuat akses jalan menghias jalur masuk dengan tanaman membantu pendirian gazebo sederhana hingga merapikan titik-titik yang akan jadi area istirahat Di sela istirahat, Ketua Pokdarwis sering menjelaskan konsep wisata ini. Ternyata, wisata sungai ini tidak hanya akan menjadi wisata air, tetapi juga dikembangkan sebagai wisata edukasi dan perkebunan. Konsepnya menarik: pengunjung bisa memanen sayuran dan tanaman masyarakat, lalu mengolahnya langsung dalam cooking class. Jadi bukan sekadar wisata “lihat-lihat”, tapi wisata yang: memberi nilai edukasi menghidupkan pertanian warga dan membuka peluang UMKM baru Bisa dibayangkan, kalau wisata ini berkembang, maka akan muncul banyak peluang: warung makan, produk olahan, jasa pemandu, hingga penjualan hasil tani. Istiqomah Itu Ternyata… Datang Lagi dan Lagi Kalau ditanya pelajaran paling kuat dari kegiatan ini, jawabannya adalah satu: istiqomah. Dalam Islam, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus walaupun sedikit.” Dan kami merasakan sendiri maknanya. Kerja bakti itu bukan acara seremonial. Tidak ada panggung. Tidak ada spanduk besar. Bahkan tidak ada “tepuk tangan penonton”. Yang ada hanya: tanah batu keringat dan orang-orang yang tetap datang setiap Rabu Masyarakat Desa Sumberdem mengajarkan bahwa membangun desa bukan soal hasil instan, tapi soal kesungguhan untuk terus kembali dan melanjutkan. Pulang dengan Baju Kotor, Tapi Hati Bersih Setiap selesai kerja bakti, kami pulang dengan tubuh kotor oleh tanah dan keringat. Kadang tangan pegal. Kadang kaki lecet. Kadang baju penuh lumpur. Tapi entah kenapa, hati terasa lebih ringan. Kami sadar, pengabdian sejati sering dimulai jauh dari keramaian. Di tempat yang sepi, licin, dan melelahkan. Tapi justru di sanalah harapan tumbuh. Di Kampoeng KRPL, kami belajar bahwa:membangun desa bukan tentang “datang lalu selesai”, tapi tentang “datang, kembali, lalu terus melanjutkan”. Penutup: Rabu yang Tak Lagi Sama Sekarang, setiap mendengar kata “Rabu”, kami tidak lagi mengingatnya sebagai hari biasa. Kami mengingat sungai, batu, tangga, hutan, gazebo, dan gotong royong. Kami mengingat bagaimana warga desa mengajarkan bahwa sebuah wisata desa, UMKM, bahkan harapan, semuanya dimulai dari langkah kecil. Dan kami bersyukur pernah menjadi bagian dari langkah kecil itu. Tabik… Salam hangat dari KKM Astra Pradhipta 73
GUNAWAN
Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 50 Astraya melaksanakan program kerja berupa kegiatan sosialisasi tentang bullying serta kebersihan dan kesehatan pada hari Senin dan Selasa. Kegiatan ini dilaksanakan di dua lembaga pendidikan, yakni SDN 01 Sidomulyo pada Senin, 12 Januari 2026, dan MI Al Hidayah Sidomulyo pada Selasa, 13 Januari 2026, dengan melibatkan siswa-siswi serta guru pendamping. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sejak dini mengenai bahaya perilaku bullying serta pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Materi yang disampaikan meliputi bahaya konsumsi minuman kemasan, risiko penyakit cacingan, pentingnya mencuci tangan dengan benar, serta pemahaman mengenai bullying dan dampaknya terhadap lingkungan sekolah. Pemateri dalam kegiatan ini berasal dari perwakilan mahasiswa KKM 50 Astraya. Materi mengenai bahaya minuman kemasan disampaikan oleh saudara Rafi, yang menjelaskan dampak negatif konsumsi minuman kemasan secara berlebihan terhadap kesehatan anak. Selanjutnya, materi tentang penyakit cacingan disampaikan oleh saudara Gunawan, yang memaparkan penyebab, dampak, serta cara pencegahan cacingan melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Sementara itu, materi mengenai bullying disampaikan oleh saudara Ibrahim, yang menjelaskan bentuk-bentuk bullying, dampaknya bagi korban, serta pentingnya saling menghargai dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Kegiatan diikuti dengan antusias oleh para siswa. Penyampaian materi dilakukan dengan metode yang interaktif dan mudah dipahami, seperti penjelasan sederhana, tanya jawab, serta praktik langsung cara mencuci tangan yang baik dan benar. Hal ini bertujuan agar siswa dapat memahami dan menerapkan materi yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh ketua kelompok KKM 50 Astraya dan dilanjutkan juga dengan pembukaan dari perwakilan salah satu guru di setiap Lembaga. Setelah itu, dilanjutkan dengan pemaparan materi sosialisasi, praktik cuci tangan, serta sesi diskusi bersama siswa. Para guru dan pihak sekolah turut mendampingi jalannya kegiatan dan memberikan dukungan penuh terhadap program yang dilaksanakan. Kegiatan sosialisasi ini berlangsung dengan lancar dan mendapatkan respon positif dari pihak sekolah. Melalui program kerja ini, diharapkan siswa-siswi SDN 01 Sidomulyo dan MI Al Hidayah Sidomulyo dapat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menjauhi perilaku bullying dalam lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.