RYVA VALENTINO ROSYID ZIDAN
Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan di Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang kelompok 35 menjadi salah satu bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat, khususnya di bidang pendidikan. Program ini dirancang sebagai upaya untuk membantu meningkatkan kualitas belajar anak-anak di desa melalui kegiatan bimbingan belajar (bimbel) yang terstruktur dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berperan aktif dalam memberikan dukungan akademik sekaligus motivasi belajar kepada peserta didik tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kegiatan bimbingan belajar tersebut dilaksanakan di Kantor NU Desa Pandansari yang menjadi pusat kegiatan pendidikan nonformal selama program KKN berlangsung. Bimbel diadakan secara rutin setiap hari Kamis dan Jumat setelah waktu Maghrib, sehingga anak-anak dapat mengikuti kegiatan belajar tambahan di luar jam sekolah tanpa mengganggu aktivitas utama mereka. Suasana belajar yang santai namun tetap terarah menjadi ciri khas kegiatan ini, sehingga peserta merasa nyaman dan antusias dalam mengikuti setiap sesi. Materi yang diajarkan dalam bimbel mencakup berbagai mata pelajaran sesuai kebutuhan siswa, seperti matematika, bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan alam, pendidikan agama, serta pelajaran lainnya yang dianggap sulit oleh peserta. Mahasiswa KKN berusaha menyesuaikan metode pengajaran dengan tingkat kemampuan anak-anak, menggunakan pendekatan yang interaktif agar proses belajar tidak terasa membosankan. Selain itu, adanya komunikasi yang baik antara tutor dan peserta membuat proses belajar menjadi lebih efektif dan menyenangkan. Salah satu tujuan utama dari program bimbingan belajar ini adalah mempersiapkan siswa Sekolah Dasar untuk mengikuti lomba cerdas cermat yang diselenggarakan oleh seluruh kelompok KKN di Kecamatan Poncokusumo. Oleh karena itu, selain membantu pengerjaan tugas sekolah, mahasiswa juga memberikan latihan soal, simulasi kuis, serta strategi menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga melatih rasa percaya diri, kerja sama tim, dan kemampuan berpikir kritis. Antusiasme peserta terlihat dari kehadiran yang konsisten setiap pekan, bahkan beberapa siswa datang lebih awal untuk mempersiapkan materi yang ingin dipelajari. Dukungan dari masyarakat dan pengurus setempat juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini, karena menyediakan fasilitas serta membantu mengajak anak-anak untuk berpartisipasi aktif. Kolaborasi antara mahasiswa KKN dan masyarakat menciptakan lingkungan belajar yang positif dan kondusif. Melalui kegiatan bimbel ini, diharapkan anak-anak Desa Pandansari dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih luas dan memiliki kesiapan yang baik dalam menghadapi lomba cerdas cermat maupun tantangan akademik lainnya. Selain memberikan manfaat bagi peserta didik, program ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan mengajar, komunikasi sosial, serta meningkatkan rasa kepedulian terhadap dunia pendidikan di masyarakat. Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam mengimplementasikan nilai-nilai pengabdian dan pemberdayaan masyarakat selama pelaksanaan KKN.
RIZKINA AMANDA PUTRI
Bu Narti merupakan salah satu calon jemaah haji (CJH) yang kami dampingi selama pelaksanaan KKM. Beliau adalah seorang lansia yang tinggal seorang diri, dengan keterbatasan mobilitas dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sebagai mahasiswa yang baru pertama kali terjun langsung ke masyarakat, jujur saja saya sempat merasa khawatir, apakah kami mampu menjalankan program pendampingan ini dengan maksimal, terutama pada kondisi lansia seperti Bu Narti. Namun, segala keresahan itu perlahan pudar saat kami pertama kali berkunjung ke rumah beliau. Bu Narti menyambut kami dengan senyum hangat dan sikap yang sangat ramah. Bahkan, di tengah keterbatasannya, beliau masih menyempatkan diri menyiapkan suguhan yang dimasak sendiri untuk kami. Sambutan sederhana itu justru menjadi awal dari kesan mendalam yang sulit saya lupakan. Selama proses pendampingan, Bu Narti menunjukkan semangat yang luar biasa. Beliau menerima setiap edukasi kesehatan dengan sangat baik, rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran, serta berusaha konsisten melakukan olahraga ringan. Tekadnya untuk menjaga kesehatan demi bisa berangkat menunaikan ibadah haji benar-benar terasa kuat. Dari beliau, saya belajar bahwa keterbatasan fisik tidak selalu menjadi penghalang bagi seseorang yang memiliki niat dan harapan besar. Menjelang berakhirnya program KKM, Bu Narti mengungkapkan kesedihannya. Beliau berharap kegiatan pendampingan ini bisa berlangsung lebih lama. Ungkapan sederhana itu justru menjadi momen paling menyentuh bagi saya, bahwa kehadiran kami bukan sekadar menjalankan program, tetapi juga memberi arti dan menemani seseorang yang selama ini menjalani hari-harinya seorang diri. KKM ini mengajarkan saya bahwa pengabdian bukan hanya tentang apa yang kita berikan, tetapi juga tentang apa yang kita pelajari. Dan dari Bu Narti, saya belajar tentang keteguhan, ketulusan, dan arti harapan yang sesungguhnya.
SALSABILA AZZAHRA
Kabut pagi masih menyelimuti udara sejuk Bumiaji ketika kami, sepuluh mahasiswa, berkumpul di titik awal. Agenda hari itu adalah pendampingan jalan sehat untuk sepasang calon jamaah haji, suami istri yang akan berangkat musim depan. Namun, mereka tidak datang sendirian. Sepasang calon haji lainnya, teman satu kelompok mereka, ikut serta. Jadilah rombongan kami berjumlah empat belas orang. Rutenya cukup menantang: menyusuri jalanan berkelok dari Bumiaji, melewati kawasan Selecta, dan berujung di Coban Talun sebelum kembali pulang. Sebagai anak muda, kami tentu percaya diri. Sepatu hiking dan jaket sporti kami seolah menjamin ketangguhan. Awal perjalanan lancar. Kami sambil menikmati pemandangan kebun apel dan sayur. Namun, seiring jalan menurun dan mulai landai, ritme kami justru mulai tak karuan. Napas kami cepat tersengal, lutut mulai terasa berat. Sebaliknya, keempat bapak dan ibu itu berjalan dengan langkah terukur dan stabil. Topi haji putih mereka tampak tetap rapi, wajah mereka tenang, bahkan sesekali tersenyum sambil menikmati udara pagi. Mereka berjalan bagai punya cadangan energi tak berujung, sementara kami, di usia sepertiga mereka, sudah seperti mesin tua yang reyot. Kami terus berjalan, melewati gerbang Selecta yang masih sepi, lalu menyusuri jalan setapak menuju Coban Talun. Suara gemericik air terjun mulai terdengar, menyegarkan sekaligus menyadarkan betapa lelahnya kaki-kaki kami. Sesampainya di sana, kami langsung merebahkan diri di bebatuan dekat air terjun, menyerap keindahan alam yang menyejukkan. Keempat calon haji itu justru duduk dengan tenang, menikmati panorama sambil mungkin mengingat kebesaran Pencipta alam yang mereka akan segera kunjungi tanah suci-Nya. Perjalanan pulang terasa lebih berat. Medan yang didominasi tanjakan membuat otot betis kami berteriak. Kami tertatih-tatih, sementara langkah mereka tetap ajek, seolah beban usia dan tanjakan tak berarti apa-apa dibanding beban rindu mereka untuk bersimpuh di depan Ka'bah. Rasa malu dan kagum bercampur dalam diri kami. Setelah berjam-jam berjalan, akhirnya kami tiba kembali di titik awal. Tubuh kami lunglai, hanya ingin beristirahat. Namun, tiba-tiba dari dalam rumah calon haji pertama, tersiar aroma sedap yang menggugah selera. Kami diajak masuk. Sungguh di luar dugaan, di meja makan telah terhidang pesta kecil: nasi liwet hangat, ayam goreng lengkuas, sayur asem bening, sambal terasi, dan aneka lauk pendamping lainnya. Ternyata, sang istri telah mempersiapkan semuanya sejak subuh, sebelum perjalanan kami mulai. Kami makan dengan lahap dan penuh rasa syukur. Di balik rasa lelah yang mendalam, ada pelajaran sederhana namun mendalam tentang konsistensi, persiapan, dan keramahan yang tulus. Hari itu kami kalah secara fisik, tetapi kami pulang membawa sebuah pelajaran tentang stamina sejati yang tidak diukur oleh usia, melainkan oleh keteguhan hati dan tujuan yang luhur.
M. NURIL AKBAR MAULIDY
Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang berfokus pada pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji memberikan kesan yang sangat mendalam dan bermakna, karena saya dapat terlibat langsung dalam pelayanan kesehatan preventif bagi masyarakat. Melalui pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, serta wawancara riwayat penyakit, saya belajar memahami kondisi kesehatan jamaah secara holistik sekaligus meningkatkan keterampilan komunikasi medis yang empatik. Interaksi dengan para calon jamaah haji juga menumbuhkan rasa tanggung jawab profesional, mengingat kesehatan mereka sangat menentukan kelancaran dan keselamatan ibadah di Tanah Suci. Kegiatan ini menyadarkan saya bahwa peran tenaga kesehatan tidak hanya terbatas pada pengobatan, tetapi juga pada edukasi dan deteksi dini faktor risiko penyakit. Secara keseluruhan, KKN ini menjadi pengalaman berharga yang memperkuat nilai pengabdian, kerja tim, dan penerapan ilmu kedokteran secara nyata di tengah masyarakat.
MUKHAMMAD ARSYAD ROMADHON
Di suatu sore, kita kelompok 44 berjumlah 5 orang akan mengunjungi calon jamaah yang amanahkan pada kita untuk memeriksa kesehatan, di sore ini itu sudah menjadi kunjungan terakhir kami, itu menjadi sebuah perpisahan atau kunjungan terakhir bagi kita, karna kita mendapat jatah 5 kali saja, disore itu kita hanya bercengkrama saja dan menikmati sore itu, dan sambil memakan bakso yang diberikan oleh beliau dan kami disuruh menghabiskan semua karena itu sebagai kunjungan terakhir kita, kami memakan dan sambil bersendau gurau sebagai perpisahan, diakhir kita meminta pesan dan kesan selama kita memberi atau memeriksa kesehatan, karna itu jujur pengalaman pertama kita, dan setelah selesai kita perpisahan sambil berpelukan, dan diakhir beliau mengundang kita untuk datang kembali setelah haji.
CINTA FARRAHDINA ISLAMY
Datang sebagai orang asing, pulang sebagai keluarga. Itulah garis besar yang menggambarkan perjalanan kami selama KKM HIPE bersama dengan calon jamaah haji, ibu Alifiah. Di balik lembaran poster edukasi kesehatan dan rutinitas pengecekan kesehatan setiap minggunya, kami menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu senyum tulus dari orang tua yang menyambut kami layaknya cucu sendiri. Pada saat dihari pertama datang, kami tidak membawa apa pun untuk diberikan kepada beliau kami hanya memperkenalan diri, tetapi pada saat kami pamit pulang ibu Alifiah melarang kami, beliau berkata "Jangan pulang dulu sebelum makan dirumah saya", sejak saat itu, setiap kami berkunjung ke rumah ibu Alifiah selalu keluar dengan perut kenyang dan kami merasakan seperti dirumah nenek. Selain itu, ibu Alifiah sangatlah gemar bercerita, beliau suka menceritakan kesehariannya yang dimulai dari minum air hangat, jalan pagi bersama cucu, hingga pada saat malam beliau suka tidur di ruang tamu. Kami selalu mendengarkan cerita-cerita seru keseharian beliau di setiap minggunya dan dari situ kami sangat merasa senang dikarenakan kedatangan kami terasa sangat di hormati. Ibu Alifiah juga paruh terhadap monitoring yang telah kami persiapkan, beliau sangat antusias dalam mengisi buku monitoring maupun pada saat kami memberikan poster dan booklet. Dipertemuan terakhir, kami membawakan bingkisan sembako kepada ibu Alifiah dan disitu beliau berkata "ngapain repot-repot bawa ini, besok-besok ngga usah bawa loh yaa", disitu kami hanya tersenyum mendengarkannya, seperti cucu dimarahin nenek. Catatan ini bukan sekadar laporan tugas, melainkan kumpulan memori tentang pengabdian yang dimulai dari hati.