NASYWA ZAHRA PUTRI KANAYA
Kegiatan pemeriksaan kesehatan pada calon jamaah haji (CJH) kali ini jadi pengalaman yang seru dan berkesan buat saya. Pemeriksaan dilakukan langsung di rumah pasien, jadi suasananya terasa lebih santai dan kekeluargaan dibandingkan di klinik atau puskesmas. Kami melakukan cek GCU (Glucose, Cholesterol, Uric acid), jadi bukan cuma gula darah saja, tapi juga kolesterol dan asam urat untuk memastikan kondisi kesehatan CJH benar-benar siap sebelum berangkat haji. Saat proses pemeriksaan, pasien terlihat cukup santai dan kooperatif, bahkan sambil mengobrol ringan dan bercanda, sehingga suasana jadi tidak tegang. Rasanya seperti berkunjung ke rumah keluarga sendiri, bukan sedang melakukan tindakan medis. Dari kegiatan ini, saya jadi belajar banyak hal, mulai dari menyiapkan alat, melakukan pengambilan darah kapiler dengan teknik yang benar, sampai menjelaskan hasil pemeriksaan dengan bahasa yang mudah dipahami pasien. Yang paling berkesan adalah interaksi hangat dengan pasien dan keluarganya, karena kami tidak hanya memeriksa kesehatan, tetapi juga memberi edukasi tentang pola makan, istirahat, dan pentingnya menjaga kondisi tubuh menjelang ibadah haji. Menurut saya, pemeriksaan model home visit seperti ini unik dan menyenangkan, karena terasa lebih personal, dekat, dan membuat pelayanan kesehatan jadi lebih humanis. Pengalaman sederhana ini ternyata memberi banyak pelajaran dan kenangan yang tidak terlupakan.
RAHMAT ENOMOTO
Minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai limbah rumah tangga ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai guna. Hal tersebut ditunjukkan melalui kegiatan pelatihan pembuatan lilin aroma terapi berbahan minyak jelantah yang digelar di Balai RW 11, Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Sabtu (10/1/2025). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 19 UIN Malang sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan. Pelatihan yang berlangsung sejak pukul 09.20 hingga 10.20 WIB ini diikuti oleh sekitar 30 peserta yang merupakan ibu-ibu RW 11. Menurut Renata Dwi Yasarah (Mahasiswa pelaksana KKM) Para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias, mulai dari pemaparan materi hingga praktik langsung pembuatan lilin aromaterapi. Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali pengetahuan mengenai dampak pembuangan minyak jelantah terhadap lingkungan serta teknik pengolahannya menjadi produk ramah lingkungan. Sebelum proses pemanasan, minyak jelantah terlebih dahulu dijernihkan melalui proses perendaman menggunakan arang aktif selama 24 jam. Tahapan ini bertujuan untuk mengurangi bau serta kotoran yang terkandung di dalam minyak. Setelah melalui tahap penjernihan, minyak jelantah kemudian dipanaskan dan dicampur dengan palm wax menggunakan perbandingan tertentu. Selanjutnya, ditambahkan pewarna dan essential oil secukupnya, lalu adonan diaduk hingga merata sebelum dituangkan ke dalam cetakan gelas yang telah diberi sumbu. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif mereka selama proses praktik berlangsung. Sejumlah peserta tampak mencoba setiap tahapan pembuatan lilin serta mengajukan pertanyaan terkait teknik pembuatan dan aspek keamanan bahan yang digunakan. Melalui kegiatan itu, diharapkan masyarakat dapat lebih peduli terhadap pengelolaan limbah rumah tangga serta mampu memanfaatkan minyak jelantah menjadi produk bernilai guna yang ramah lingkungan dan berpotensi memiliki nilai ekonomi.
CHOIRUL ANAM MAULA
Dalam rangka mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan membantu proses belajar anak-anak, siswa KKM VISHVALAYA (kelompok 108) melaksanakan kegiatan Bimbingan Belajar (Bimbel) yang dilakukan setiap hari rabu dan kamis. Bimbel awal dilaksanakan pada hari Selasa, 30 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan secara terencana dan berkelanjutan, bertempat di Posko Cewek KKM. Kegiatan bimbingan belajar dilaksanakan dengan suasana yang interaktif dan edukatif. Materi yang disampaikan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dengan sasaran anak-anak tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Dasar (SD), meliputi pengenalan dasar membaca, menulis, berhitung, pendampingan mengerjakan tugas sekolah, serta pembelajaran melalui permainan edukatif. Metode pembelajaran dibuat menarik agar siswa lebih mudah memahami materi dan termotivasi untuk belajar. Selama pelaksanaan bimbel, siswa berperan aktif sebagai pendamping dan fasilitator belajar. Siswa terlihat antusias mengikuti kegiatan, ditampilkan dengan keaktifan dalam bertanya dan berdiskusi. Interaksi dua arah antara siswa dan siswa menjadi nilai tambah dalam proses pembelajaran, sehingga suasana belajar terasa lebih menyenangkan. Melalui kegiatan bimbingan belajar ini, diharapkan anak-anak dapat meningkatkan kemampuan dasar akademik serta menumbuhkan semangat belajar sejak dini. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan serta meningkatkan kemampuan komunikasi dan kepedulian sosial. Kegiatan bimbel ini menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di bidang pendidikan serta komitmen untuk terus berperan aktif dalam mendukung kemajuan masyarakat, khususnya dalam pendampingan belajar anak usia dini hingga sekolah dasar.
LUTHFIYYAH SRI WURYANINGSIH
PONCOKUSUMO – Pada tanggal 28 Januari 2025 Pada program Kerja Mahasiswa (KKM) 35 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar seminar bertema "Pernikahan Dini dan Stunting" di MA Al Hidayah, Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, pada hari ini. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka pernikahan dini di wilayah tersebut, yang menjadi salah satu faktor pemicu stunting pada anak. Seminar yang diikuti oleh seluruh siswa-siswi dan dewan guru MA Al Hidayah ini menghadirkan narasumber dari Koppatara (Korps Pelajar Penyuluh Anti Rokok) yang memberikan pemaparan komprehensif tentang bahaya pernikahan dini dan dampaknya terhadap kesehatan generasi mendatang. "Kami melihat pernikahan dini masih menjadi fenomena yang cukup tinggi di Desa Pandansari. Hal ini sangat berkaitan erat dengan masalah stunting, karena ibu yang menikah di usia muda biasanya belum siap secara fisik dan mental untuk mengandung dan membesarkan anak," jelas salah satu koordinator KKM 35. Narasumber dari Koppatara memaparkan bahwa pernikahan dini berisiko tinggi menyebabkan stunting karena kesiapan reproduksi remaja putri yang belum optimal. Kondisi gizi ibu yang masih dalam masa pertumbuhan, ditambah kurangnya pengetahuan tentang pola asuh dan nutrisi, menjadi kombinasi berbahaya bagi tumbuh kembang anak. Para peserta seminar tampak antusias mengikuti sesi tanya jawab dan diskusi. Beberapa siswa mengajukan pertanyaan seputar usia ideal menikah dan cara mencegah stunting sejak masa kehamilan. Kepala MA Al Hidayah menyambut baik kegiatan ini dan berharap seminar seperti ini dapat memberikan kesadaran kepada para siswa tentang pentingnya merencanakan masa depan dengan matang, termasuk dalam hal pernikahan dan kesehatan keluarga. "Semoga melalui edukasi ini, generasi muda kita lebih memahami pentingnya mempersiapkan diri dengan baik sebelum menikah, demi masa depan anak-anak Indonesia yang bebas stunting," tutup koordinator KKM 35.
ATHA SALSABILA PUTRI HUDA
Sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat, Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 35 Pandareka UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjalankan program bimbingan belajar untuk siswa sekolah dasar di Desa Pandansari. Program yang dilaksanakan setiap Kamis dan Jumat malam ini menjadi salah satu program unggulan bidang pendidikan yang bertujuan membantu anak-anak dalam memahami materi pelajaran sekolah dengan lebih baik. Sebagai mahasiswa yang terjun langsung ke lapangan, kami merasakan betapa program bimbel ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak di desa, mengingat banyak orang tua yang memiliki keterbatasan waktu atau kemampuan untuk mendampingi anak-anak belajar di rumah setelah pulang dari sekolah. Antusiasme anak-anak menjadi energi tersendiri bagi kami. Meski lelah seharian bersekolah, mereka tetap datang dengan semangat membawa buku dan peralatan tulis. Dalam pelaksanaannya, kami tidak hanya mengajarkan cara mengerjakan soal, tetapi juga memberi pemahaman dengan memperhatikan bahwa setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Untuk membuat suasana belajar tidak membosankan, kami menggunakan berbagai metode pembelajaran yang menyenangkan, seperti menggunakan tebak-tebakan penjumlahan matematika, bermain tebak kata dalam bahasa Indonesia. Keceriaan anak-anak saat belajar menjadi indikator bahwa belajar tidak harus selalu serius dan menegangkan. Kami menghadapi berbagai tantangan, terutama perbedaan tingkat pemahaman antar siswa. Di dalam satu kelas bimbel, ada anak yang sudah lancar membaca dan lancar berhitung, tetapi ada juga yang masih kesulitan dengan teori dasar. Kondisi ini mengharuskan kami untuk lebih sabar dan kreatif dalam menyampaikan materi. Namun, setiap kemajuan sekecil apapun dari anak-anak adalah pencapaian yang patut disyukuri. Ketika seorang anak yang sebelumnya tidak percaya diri akhirnya berani menjawab pertanyaan, atau ketika anak yang kesulitan membaca mulai bisa membaca kalimat dengan lancar, itu adalah momen-momen berharga yang membuat kami merasa bahwa usaha kami tidak sia-sia. Bagi kami, program bimbel ini bukan hanya tentang membagi ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang membangun hubungan emosional dengan anak-anak sebagai kakak dan teman. Anak-anak tidak malu bercerita tentang keseharian mereka di sekolah, teman-teman mereka, atau bahkan cita-cita mereka menjadi dokter, guru, atau polisi. Cerita-cerita polos itu mengingatkan kami pada tanggung jawab untuk memberikan bekal pendidikan yang baik. Program bimbingan belajar KKM 35 Pandareka di Desa Pandansari adalah bukti kecil bahwa mahasiswa dapat berperan aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kami berharap program ini bisa dilanjutkan oleh angkatan KKM berikutnya atau bahkan dikembangkan menjadi program rutin desa, karena anak-anak di Desa Pandansari memiliki potensi luar biasa yang hanya membutuhkan pendampingan tepat untuk berkembang. Bagi kami sebagai mahasiswa, program ini memberikan pembelajaran berharga bahwa pengabdian bukan hanya tentang memberikan ilmu, tetapi juga tentang menerima pelajaran hidup tentang kesederhanaan, ketulusan, dan kebahagiaan dari anak-anak dan masyarakat desa. Melalui program sederhana namun bermakna ini, kami berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi generasi penerus bangsa yang lebih baik, dimulai dari anak-anak Desa Pandansari.
NISRINA TAQILLAH
KKM Arunika Karsa 110 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan Peer Counseling bersama Remaja Masjid Muthohharun sebagai upaya menghadirkan ruang aman (safe space) bagi remaja dalam menghadapi persoalan psikososial yang mereka alami. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kesadaran remaja akan pentingnya dukungan sebaya dalam menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan emosional. Kegiatan Peer Counseling ini menghadirkan Muhammad Gusti Baskara Najih dan Nayla Nur Safa Septiasa Putri sebagai pemateri. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada pemahaman konseptual mengenai konseling sebaya, peran peer counselor, serta keterampilan dasar yang perlu dimiliki oleh remaja agar mampu menjadi pendengar yang empatik dan suportif bagi sesamanya. Secara konseptual, konseling dipahami sebagai hubungan interpersonal antara konselor dan konseli yang bertujuan membantu individu memahami dirinya, kondisi yang dihadapi, serta kemungkinan solusi atas permasalahan yang dialami. Dalam konteks konseling sebaya, peran ini dijalankan oleh individu non-profesional yang memiliki kedekatan usia, pengalaman, dan karakteristik sosial yang serupa, sehingga proses bantuan menjadi lebih setara dan mudah diterima. Pemateri menjelaskan bahwa peer counseling bukanlah praktik terapi profesional, melainkan bentuk dukungan awal berbasis empati, keterampilan mendengar aktif, dan komunikasi interpersonal. Remaja dilatih untuk membangun rapport, menjaga kerahasiaan, menghindari sikap menghakimi, serta memberikan ruang bagi konseli untuk menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Selain itu, disampaikan pula manfaat peer counseling bagi remaja, antara lain membantu pencegahan perilaku berisiko, meningkatkan keterampilan sosial, serta menciptakan iklim sosial yang lebih sehat di lingkungan remaja masjid. Dukungan teman sebaya dinilai lebih efektif karena remaja cenderung lebih terbuka dan nyaman berbagi cerita dengan rekan seusia dibandingkan dengan figur otoritas seperti guru atau orang tua Melalui kegiatan ini, KKM Arunika Karsa 110 UIN Malang berharap Remaja Masjid Muthohharun tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga agen perubahan yang mampu menciptakan lingkungan masjid yang ramah, inklusif, dan peduli terhadap kondisi emosional sesama remaja. Peer counseling diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya saling mendukung dan memperkuat ketahanan mental generasi muda berbasis nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.