Thumbnail
9 months ago
Pendampingan Kesehatan KKM Membangun Kedekatan dan Perubahan Positif pada Calon Jamaah Haji

UTARI IKA HABSARI

Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) tidak hanya menjadi sarana pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam memahami realitas kesehatan di tingkat individu dan keluarga. Hal tersebut tercermin dalam pendampingan kesehatan calon jamaah haji yang dilakukan selama program KKM fakultatif, salah satunya bersama Bu Alminah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengenal calon jamaah haji secara lebih dekat, tidak hanya dari aspek klinis, tetapi juga dari keseharian dan kondisi sosial yang melingkupinya. Proses pendampingan memungkinkan mahasiswa memahami bagaimana rutinitas harian, keterbatasan waktu, serta kebiasaan hidup memengaruhi penerimaan dan keberhasilan intervensi kesehatan. Bu Alminah dan keluarga menyambut kegiatan pendampingan dengan sikap terbuka dan kooperatif. Sambutan yang hangat tersebut menjadi faktor penting dalam membangun hubungan yang baik antara mahasiswa dan calon jamaah haji. Hubungan yang terjalin secara personal dan kekeluargaan membuat proses edukasi kesehatan berjalan lebih efektif dan komunikatif. Selama pendampingan, mahasiswa memberikan edukasi kesehatan serta melakukan pemantauan kondisi fisik secara berkala. Hasil yang diperoleh menunjukkan capaian yang positif, salah satunya berupa penurunan berat badan pada Bu Alminah. Meskipun capaian ini masih memerlukan pemantauan lanjutan agar berkelanjutan, hasil tersebut menjadi indikator bahwa intervensi yang diberikan dapat diterima dan dijalankan dengan baik sesuai kemampuan dan kondisi sehari-hari calon jamaah haji. Lebih dari sekadar hasil numerik, keberhasilan pendampingan tercermin dari kesediaan Bu Alminah untuk menerima edukasi, menerapkan anjuran kesehatan, serta berpartisipasi aktif dalam proses monitoring.  Kegiatan KKM ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa, bahwa pendampingan kesehatan tidak hanya berfokus pada pemberian intervensi, tetapi juga pada upaya membangun kepercayaan dan hubungan yang berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, perubahan perilaku kesehatan dapat tercapai secara bertahap dan bermakna. Pendampingan terhadap Bu Alminah menjadi gambaran bahwa sinergi antara edukasi, pemantauan, dan hubungan yang baik dapat mendukung kesiapan kesehatan calon jamaah haji, sekaligus menjadi pembelajaran penting bagi mahasiswa dalam menjalankan peran sebagai calon tenaga kesehatan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan individu.

Thumbnail
9 months ago
A memorable 5 sundays

AQUILA WANGIPRATIWI

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan KKM HIPE Kelompok 37, kami melaksanakan monitoring rutin kepada Calon Jamaah Haji (CJH) di wilayah Sisir, Batu. Kegiatan ini merupakan bentuk pendampingan berkelanjutan untuk memastikan kesiapan kesehatan dan kesejahteraan CJH menjelang pelaksanaan ibadah haji. Pada kunjungan pertama ini, kami melakukan pemantauan kondisi umum calon jamaah, sekaligus menjalin komunikasi dan silaturahmi agar terbangun hubungan yang lebih dekat dan nyaman. Monitoring dilakukan secara langsung di rumah CJH. Selain pemantauan, di akhir kegiatan kunjungan, Ibu Alifiah yakni CJH kami mempersilahkan kami untuk makan siang. Setiap kali kami berkunjung ke rumah Bu Alifiah, beliau selalu memasakkan kami makanan yang enak. Hal tersebut membuat kami tersentuh sekaligus merasa tidak enak. Pada kunjungan kami yang terakhir, kami membawakan ibu alifiah sedikit buah-buah an, minyak, susu, dan oat meal. Hal tersebut tentu sebagai bentuk sukur kami atas kebaikan ibu alifiah. Melalui kunjungan dan monitoring rutin ini, kami berharap calon jamaah haji dapat menjalani persiapan ibadah dengan kondisi yang lebih optimal, baik secara fisik maupun mental. Kegiatan ini juga menjadi pengalaman berharga bagi kami dalam mengaplikasikan peran sebagai pendamping kesehatan di masyarakat.

Thumbnail
9 months ago
Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk memperkuat fondasi spiritual keluarga. Hal tersebut tergambar dalam kegiatan peringatan Isra Mi’raj yang digelar Takmir Masjid Shirothol Mustaqim Tlogomas,

JELITA QUEENTASARI

Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk memperkuat fondasi spiritual keluarga. Hal tersebut tergambar dalam kegiatan peringatan Isra Mi’raj yang digelar Takmir Masjid Shirothol Mustaqim Tlogomas, Kota Malang, Jumat (16/1) malam.   Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri ratusan jamaah serta warga sekitar di Masjid Shirothol Mustaqim Tlogomas. Tahun ini, panitia mengangkat tema “Isra Mi’raj sebagai Fondasi Spiritual dalam Membangun Keluarga Sakinah.”   Peringatan Isra Mi’raj menghadirkan penceramah Ustad Dr. H. Miftahul Huda, SHI., M.H., dosen Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan ini juga merupakan kolaborasi dengan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) LP2M UIN Malang Kelompok 123 Bhakti Satya, sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan penguatan keimanan menjelang bulan suci Ramadan.   Wakil Ketua Takmir Masjid Shirothol Mustaqim, Ir. H. Haris Nasrullah, mengapresiasi peran aktif mahasiswa KKM UIN Malang yang dinilai mampu menghidupkan kembali kegiatan keagamaan di masjid.   Ustad Dr H.Miftahul Huda, SHI ,M.H bersama pengurus masjid dan mahasiswa KKM UIN Malang. “Isra Mi’raj mengingatkan kita pada perintah salat sebagai ibadah utama dan fondasi ketakwaan. Dari salat inilah akan tumbuh kekuatan iman yang menopang amal ibadah lainnya,” ujar Ustad Haris dalam sambutannya.   Apresiasi serupa juga disampaikan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 123 Bhakti Satya, Rochmawati, M.Pd. Ia menilai kegiatan tersebut berjalan sukses dan mendapat antusiasme tinggi dari jamaah.   “Acaranya sangat bagus sekali jamaah antusias jamaah dari awal hingga penutupan, dan bisa berdampak kepada masyarakat luas karena mengingatkan dan mengajak jama’ah untuk menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai pondasi keluarga yang sakinah mawadah warohmah,” ujarnya.   Sementara itu, dalam tausiyahnya, Ustad Miftah menegaskan bahwa peringatan Isra Mi’raj tidak sekadar ritual tahunan, melainkan momentum penting untuk memperkuat ketahanan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan masyarakat.   Menurutnya dalam konteks keluarga, Isra Mi’raj tidak hanya menjadi bukti kebesaran Allah, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang penguatan spiritual, tanggung jawab, dan nilai kebersamaan dalam menghadapi tantangan hidup.   “Peristiwa ini menggambarkan bagaimana Rasulullah menghadapi kesedihan yang mendalam setelah kehilangan dua orang tercinta, Khadijah RA, istri yang setia, dan Abu Thalib, paman yang melindungi. Allah memberikan penghiburan dengan peristiwa agung ini, mengajarkan bahwa di balik setiap kesulitan, ada kemudahan dan pertolongan,” ujarnya.   Ustad Miftah menegaskan bahwa pesan utama Isra Mi’raj adalah menjadikan seluruh ruang kehidupan sebagai ruang ibadah, termasuk rumah dan lingkungan keluarga. Ia menekankan bahwa kualitas sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kekuatan keluarga sebagai unit sosial terkecil yang memiliki nilai keagamaan yang kokoh.   “Rumah kita harus menjadi masjid, artinya menjadi tempat tumbuhnya nilai ibadah, akhlak, dan keteladanan. Ini bukan berarti rumah harus menjadi bangunan fisik masjid, melainkan harus berfungsi secara metaforis sebagai pusat spiritual dan moral,” tutur Ustad Miftah.   Ia menambahkan bahwa salat yang diwajibkan melalui peristiwa Isra Mi’raj merupakan mi’raj bagi orang beriman. Menjadi sarana utama untuk naik mendekat kepada Allah, menguatkan spiritualitas, dan membangun karakter, yang dampaknya harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di keluarga, dengan mendidik anak, menciptakan keteladanan, serta membangun dialog iman untuk membentuk generasi saleh dan berakhlak mulia, menjadikannya pondasi kuat bagi ketahanan keluarga Muslim   “Salat bukan sekadar ritual, tetapi mi’rajnya orang beriman, yang membentuk kesadaran batin dan karakter dalam kehidupan sehari-hari, menjadi simbol ketaatan tertinggi dan fondasi keimanan keluarga,” jelasnya.   Hikmah Isra Mi’raj dalam konteks keluarga di tahun 2026, Ustad Miftah menekankan pada penguatan spiritual dan ketahanan mental untuk menghadapi tantangan zaman modern. Ia secara khusus menyinggung kondisi di Kabupaten Malang dan Kota Malang yang masih menghadapi angka perceraian relatif tinggi   “Masalah kesehatan mental yang berdampak langsung pada keharmonisan rumah tangga utamanya terkait dengan tekanan ekonomi, ketidakstabilan emosional, kesulitan mendidik anak di era digital dan kesulitan komunikasi yang diperparah oleh stres pasca-pandemi dan tuntutan sosial-ekonomi. Inilah tantangan keluarga di era modern yang semuanya menguji keharmonisan keluarga dan menuntut adaptasi serta penguatan nilai agama dan sosial,” jelas Ustad Miftah yang juga fasilitator Bimwin Kementerian Agama. Ustad Miftah juga menyinggung family corner berbasis masjid. Seperti Masjid Shirothol Mustaqim Tlogomas ini sudah ada family corner (layanan konseling dan pendampingan keluarga) yang harus didukung oleh jamaah.   Ia menegaskan besarnya potensi masjid sebagai pusat pelayanan umat, termasuk dalam penguatan keluarga, yang harus dikelola secara terstruktur dan kolaboratif. Ditegaskannya fungsi masjid tidak hanya sebatas tempat ibadah ritual, melainkan juga memiliki peran strategis dalam penguatan sosial kemasyarakatan.   “Banyak sekali persoalan yang muncul dalam keluarga, dan inilah peran masjid sebagai pusat solusi,” ujarnya.   Menurutnya, family corner membuat masjid lebih hidup dan fungsional, sekaligus mendorong partisipasi jamaah lintas usia. Terlebih, letak Masjid Shirothol Mustaqim yang strategis di jalur utama lintas kabupaten dinilai sangat potensial untuk pengembangan layanan berbasis masyarakat.   “Pengurus family corner masjid harus mensosialisasikan kepada jamaah dan masyarakat sekitar,” pesannya.   Menjelang penutupan tausiyah, Ustad Miftah mengingatkan jamaah bahwa kurang dari satu bulan lagi umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadan. Ia mengajak jamaah menjadikan bulan Rajab dan Syaban sebagai fase persiapan spiritual dan penguatan keluarga.   “Rajab dan Syaban adalah masa pemanasan spiritual. Mari kita gunakan untuk taubat, memperbaiki ibadah, dan memperkuat hubungan keluarga, kita evaluasi hubungan kita dengan Allah dengan memperbaiki sholat lima waktu, sholat tahajud, membaca Al Qur’an, berbakti kepada kedua orang tua dan membangun suasana rumah tangga yang lebih religius. Mari jadikan Isra Mi’raj sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas ibadah,” pungkasnya yang menutup acara ini dengan pembacaan doa.

Thumbnail
9 months ago
Peran Perhatian Bapak dan Ibu CJH dalam Menumbuhkan Kebersamaan Selama KKN

YUMNA SELMA SAKANTI

Bulan Januari tahun 2026 ini menjadi saksi betapa hangatnya proses KKN yang Kelompok 22 jalani. Sejak awal hingga akhir kegiatan, kami tidak hanya diterima sebagai mahasiswa yang menjalankan program, tetapi diperlakukan layaknya anak sendiri. Bapak dan Ibu dengan penuh ketulusan memberikan perhatian, kepercayaan, serta dukungan tanpa batas kepada kami. Pengalaman ini mengajarkan bahwa KKN bukan hanya tentang mengabdi dan menjalankan proyek, tetapi juga tentang membangun ikatan kemanusiaan. Di tempat ini, kami belajar arti diterima, dipercaya, dan disayangi. Kenangan bersama Bapak dan Ibu akan selalu kami simpan sebagai bagian paling berharga dari perjalanan KKN kami.  Dari dalam hati saya senantiasa mendoakan kesehatan dan kebahagiaan Bapak dan Ibu CJH 

Thumbnail
9 months ago
Serasehan Budaya Anak

QURROTUL AINI

Kegiatan Serasehan Budaya Anak: Sosialisasi Anti Bullying Berbasis Nilai Budaya dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB hingga 13.00 WIB. Acara dimulai dengan registrasi dan absensi peserta pada pukul 10.00 WIB hingga 10.10 WIB. Peserta yang hadir merupakan anak-anak kelas 4, 5, dan 6 MI Al-Hikmah Simpar. Setelah registrasi selesai, kegiatan dibuka oleh MC pada pukul 10.10 WIB sebagai tanda dimulainya rangkaian acara. Selanjutnya dilaksanakan kegiatan sosialisasi anti bullying kepada peserta anak-anak. Pada sesi ini disampaikan pengertian bullying, contoh perilaku bullying di lingkungan sekolah maupun pergaulan, serta dampak yang ditimbulkan bagi korban maupun pelaku. Agar suasana lebih interaktif, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking berupa nyanyian anak-anak dan permainan tebak-tebakan yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman anak-anak dengan cara yang menyenangkan. Setelah itu, narasumber menyampaikan materi budaya mengenai sopan santun dan unggah-ungguh dalam kehidupan sehari-hari, baik terhadap teman sebaya, orang tua, guru, maupun masyarakat sekitar. Materi menekankan pentingnya menghormati sesama, berbicara dengan baik, serta menjaga sikap sebagai bagian dari nilai budaya yang harus diterapkan sejak dini. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi penutup sebagai akhir dari rangkaian acara serasehan budaya anak.

Thumbnail
9 months ago
Langkah Pagi Bersama CJH: 3 KM Penuh Cerita dan Makna

AZKYA ARSYA SYAFIKA PUTRI

Pagi itu, tepat pukul 07.00, kami sudah janjian berkumpul di Panorama untuk memulai jalan pagi bersama para calon jamaah haji (CJH). Udara masih sejuk, langit sedikit mendung, tapi semangat semua peserta terasa hangat sejak awal pertemuan. Sebelum memulai aktivitas fisik, kami terlebih dahulu melakukan pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari monitoring kondisi para jamaah. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan kesiapan fisik mereka sebelum melakukan aktivitas, sekaligus menjadi momen edukasi kesehatan ringan. Setelah semua dinyatakan siap, perjalanan pun dimulai. Kami berjalan santai sejauh kurang lebih 3 kilometer. Sepanjang jalan, suasana terasa akrab, bukan hanya sekadar olahraga, tapi juga ruang untuk saling berbagi cerita. Para CJH banyak bercerita tentang persiapan ibadah, pengalaman hidup, hingga harapan mereka menjelang keberangkatan. Di sisi lain, kami juga menyelipkan edukasi ringan seputar menjaga stamina, pentingnya hidrasi, dan cara mengatur energi selama aktivitas fisik yang menyerupai rangkaian ibadah haji nanti. Langkah demi langkah terasa ringan karena ditemani tawa dan obrolan hangat. Momen ini bukan hanya tentang jalan pagi, tetapi juga tentang membangun kedekatan, meningkatkan kesadaran kesehatan, dan menyiapkan fisik serta mental para jamaah. Kegiatan sederhana seperti ini ternyata punya makna besar, bukan hanya menjaga kebugaran, tapi juga memperkuat kebersamaan antara mahasiswa kesehatan dan para calon tamu Allah. Pagi itu berakhir dengan rasa lelah yang menyenangkan dan hati yang penuh syukur. Dari 3 kilometer perjalanan, kami belajar bahwa persiapan haji bukan hanya soal fisik, tetapi juga tentang dukungan, empati, dan perjalanan bersama menuju kesehatan yang lebih baik.