KHASYADIVA AFRIS NASUTION
Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Dhahawicaksana menyelenggarakan kegiatan Maliki English Course sebagai salah satu program di bidang pendidikan. Kegiatan ini merupakan program mengajar bahasa Inggris yang dilaksanakan di SDN Selopanggung 1 dan ditujukan untuk mendukung proses pembelajaran siswa di sekolah. Pelaksanaan kegiatan Maliki English Course dilakukan pada saat jam pelajaran bahasa Inggris berlangsung, sehingga selaras dengan kurikulum dan aktivitas belajar mengajar di sekolah. Kegiatan Maliki English Course bertujuan untuk membantu meningkatkan kemampuan dasar bahasa Inggris siswa, khususnya dalam penguasaan kosakata dan pelafalan sederhana. Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional dinilai penting untuk dikenalkan sejak dini agar siswa memiliki kesiapan dan kepercayaan diri dalam berkomunikasi di masa depan. Oleh karena itu, KKM Dhahawicaksana berupaya menghadirkan metode pembelajaran yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM Dhahawicaksana berperan sebagai pendamping dan fasilitator pembelajaran. Materi yang disampaikan disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa dan dikemas secara interaktif, seperti melalui pengenalan kosakata sehari-hari, latihan pengucapan, serta permainan edukatif sederhana. Dengan pendekatan tersebut, siswa diharapkan dapat lebih aktif dan berani menggunakan bahasa Inggris dalam kegiatan belajar. Suasana pembelajaran selama kegiatan Maliki English Course berlangsung dengan tertib dan kondusif. Siswa SDN Selopanggung 1 tampak antusias mengikuti setiap sesi pembelajaran yang diberikan. Mereka aktif menjawab pertanyaan, menirukan pengucapan kosakata, serta berpartisipasi dalam kegiatan yang dipandu oleh mahasiswa KKM. Kehadiran mahasiswa KKM di dalam kelas juga memberikan suasana baru yang membuat siswa lebih bersemangat dalam belajar. Pihak sekolah menyambut baik pelaksanaan kegiatan Maliki English Course ini. Guru mata pelajaran bahasa Inggris menilai bahwa kegiatan tersebut dapat membantu memperkuat pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari di kelas. Kolaborasi antara mahasiswa KKM Dhahawicaksana dan pihak sekolah diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas pembelajaran. Melalui kegiatan Maliki English Course ini, KKM Dhahawicaksana berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung pendidikan di Desa Selopanggung. Kegiatan ini menjadi salah satu wujud pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, khususnya di bidang pendidikan, dengan menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris yang menyenangkan, edukatif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa sekolah dasar.
NAURAH ZAKIAH ANARGYA
KKM Halal Center Hadir untuk UMK Dusun Bendo Dusun Bendo, Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung menjadi lokasi kegiatan pengabdian mahasiswa KKM Unggulan Halal Center UIN Malang. Di wilayah RT 27 hingga RT 30, para mahasiswa turun langsung untuk melakukan wawancara dan pendataan sertifikasi halal kepada pelaku Usaha Mikro Kecil (UMK). Kegiatan ini dilakukan secara door to door dengan mendatangi satu per satu tempat usaha warga. Cara ini dipilih agar komunikasi terasa lebih dekat dan santai. Dengan berbincang langsung di lokasi usaha, mahasiswa dapat melihat proses produksi sekaligus memahami kondisi dan kebutuhan setiap pelaku UMK secara lebih jelas. Berbagai jenis usaha dikunjungi dalam kegiatan ini, seperti donat kentang, keripik singkong, keripik tempe, lontong, tahu crispy, mie telur, hingga usaha tempe dan tahu rumahan. Dalam setiap kunjungan, mahasiswa memberikan penjelasan tentang pengertian sertifikasi halal, manfaat yang bisa diperoleh, serta tahapan pendampingan yang akan dilakukan. Sebagian pelaku usaha mengaku belum begitu memahami proses sertifikasi halal dan menganggapnya cukup rumit. Karena itu, mahasiswa berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sederhana bahwa sertifikasi halal bukan hanya sekadar label, tetapi bentuk jaminan mutu produk. Dengan sertifikat halal, kepercayaan konsumen dapat meningkat dan peluang usaha untuk berkembang menjadi lebih besar. Hasil wawancara menunjukkan bahwa mayoritas pelaku UMK menyambut baik program ini. Mereka tertarik untuk mengikuti proses pendampingan lebih lanjut karena melihat manfaatnya bagi usaha mereka. Namun, ada juga beberapa pelaku usaha yang memilih untuk menunda dengan alasan keterbatasan waktu dan kesiapan administrasi. Secara umum, respons masyarakat Dusun Bendo tergolong positif. Warga terbuka untuk berdiskusi dan antusias mendengarkan informasi yang disampaikan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pendataan, tetapi juga membangun hubungan dan kepercayaan antara mahasiswa dan masyarakat. Melalui program ini, KKM Unggulan Halal Center berharap para pelaku UMK semakin memahami pentingnya sertifikasi halal sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas produk dan daya saing usaha. Lebih dari sekadar program kerja, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendukung perkembangan UMK di Dusun Bendo agar semakin maju dan berkelanjutan.
M. LUKMAN HAKIM
Kegiatan Shalawat Diba’ kembali menjadi ruang kebersamaan yang mempererat hubungan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat. Hal ini terlihat dalam kegiatan Shalawat Diba’ yang dilaksanakan di Dusun Bendo, Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung, dan diikuti oleh warga setempat serta mahasiswa KKM. Kegiatan ini tidak hanya bernilai religius, tetapi juga memperkuat semangat kekeluargaan dan gotong royong antar generasi. Kegiatan Shalawat Diba’ dilaksanakan hari rabu malam jam 18:00 – 20:00 dan bertempat di rumah salah satu warga Dusun Bendo. Sejak awal, suasana acara berlangsung dengan khidmat dan penuh kekeluargaan. Jamaah Shalawat Diba’, warga sekitar, serta mahasiswa KKM hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib. Rangkaian acara diawali dengan tawasul, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Shalawat Diba’ sebagai bentuk doa bersama dan ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan serta keselamatan bagi seluruh warga. Suasana acara berlangsung khusyuk dan penuh kekhidmatan, mencerminkan kecintaan kepada Rasulullah SAW serta penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat. Mahasiswa KKM turut berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Kehadiran mereka tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang ikut menjaga dan melestarikan tradisi keagamaan di lingkungan desa. Selama kegiatan berlangsung, suasana keakraban sangat terasa. Interaksi yang terjalin antara jamaah Shalawat Diba’, warga, dan mahasiswa KKM menciptakan nuansa kekeluargaan yang hangat. Kegiatan ini menjadi sarana silaturahmi sekaligus ruang berbagi cerita dan pengalaman antar generasi. Sebagai penutup, seluruh peserta mengabadikan momen kebersamaan melalui foto bersama. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama secara sederhana. Momen ini menjadi simbol rasa syukur serta mempererat hubungan emosional antara jamaah Shalawat Diba’, warga Dusun Bendo, dan mahasiswa KKM. Kegiatan Shalawat Diba’ di Dusun Bendo, Desa Sukolilo, ini mencerminkan sinergi yang baik antara masyarakat desa dan mahasiswa KKM dalam menjaga tradisi keagamaan. Diharapkan kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut sebagai upaya memperkuat nilai religius dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan Shalawat Diba’ ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dalam lantunan shalawat mampu menumbuhkan ketenangan batin, memperkuat iman, serta menghadirkan energi positif dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui shalawat, masyarakat diajak untuk senantiasa meneladani akhlak Rasulullah SAW sebagai landasan dalam bersikap, berinteraksi, dan membangun harmoni sosial. Kehadiran berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai keislaman dapat menjadi perekat persatuan lintas generasi. Shalawat Diba’ tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga sarana pembinaan spiritual yang mendorong tumbuhnya rasa syukur, kepedulian sosial, serta semangat untuk terus berbuat kebaikan. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk menjadikan shalawat sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari, sehingga tercipta lingkungan yang religius, damai, dan penuh keberkahan. Konsistensi dalam menjaga tradisi Shalawat Diba’ juga menjadi bentuk ikhtiar bersama dalam memperkuat identitas keislaman dan mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah dinamika kehidupan modern.
MOH MUZAKKI ALAMSYAH
Di Dusun Baran Bendo, kegiatan bimbingan belajar (bimbel) hadir sebagai ruang sederhana yang sarat makna. Kegiatan ini dilaksanakan di salah satu rumah warga, memanfaatkan fasilitas yang ada dengan penuh kesadaran dan kebersamaan. Bimbel dibagi ke dalam dua waktu pembelajaran, yakni sore hari untuk kegiatan membaca Al-Qur’an dan malam hari untuk pembelajaran umum. Meski berlangsung secara sederhana, suasana belajar yang tercipta terasa hangat, akrab, dan dipenuhi semangat kebersamaan antara anak-anak dan para pendamping. Pada sesi sore, anak-anak berkumpul untuk belajar membaca Al-Qur’an. Kemampuan mereka beragam; sebagian sudah cukup lancar membaca dan bahkan menghafal surah-surah pendek dalam Juz 30, sementara sebagian lainnya masih berada pada tahap awal mengenal huruf hijaiyah. Proses pembelajaran dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. Tidak ada tekanan ataupun paksaan, melainkan dorongan yang lembut agar anak-anak berani mencoba, tidak takut salah, dan terus menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Ketika malam tiba, kegiatan bimbel dilanjutkan dengan pembelajaran umum seperti membaca, menulis, dan berhitung. Anak-anak kembali hadir dengan antusias yang sama, meskipun sebagian dari mereka masih mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis. Keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang, justru menjadi titik awal untuk belajar bersama. Untuk menjaga semangat dan fokus anak-anak, pembelajaran sering diselingi dengan berbagai permainan edukatif yang membuat suasana belajar lebih hidup dan menyenangkan. Dari situ terlihat jelas keinginan anak-anak untuk terus mencoba dan tidak menyerah, meskipun harus memulai dari dasar. Hal yang membuat kegiatan bimbel di Dusun Baran Bendo terasa istimewa adalah antusiasme anak-anak yang begitu tulus. Mereka datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu, aktif bertanya, dan berusaha mengikuti setiap arahan yang diberikan. Proses belajar memang tidak selalu berjalan mulus, namun dari setiap kesalahan, percobaan, dan tawa yang muncul, perlahan terlihat perkembangan dalam diri anak-anak, baik dari segi kemampuan maupun sikap belajar. Bimbingan belajar di Dusun Baran Bendo pada akhirnya bukan hanya tentang penyampaian materi pelajaran. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk menumbuhkan keberanian, kepercayaan diri, kedisiplinan, dan kebiasaan belajar yang positif. Bimbel sederhana ini menjadi tempat tumbuh bersama, di mana anak-anak belajar bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berusaha. Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat belajar anak-anak Dusun Baran Bendo dapat terus tumbuh dan menjadi bekal berharga bagi masa depan mereka
AHID FATTAH ATH THORIQ
Pelepasan KKM 2025: Langkah Awal Argantara dalam Pengabdian Nyata kepada Masyarakat
SHOFIA SALSABILA AISY
SDN Kalikatir, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto Kesadaran akan pentingnya mengonsumsi makanan sehat harus dipupuk sejak dini agar anak-anak tidak terjebak dalam bahaya jajanan sembarangan. Memahami hal tersebut, mahasiswa KKM Kelompok 183 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan sosialisasi dan uji keamanan pangan di SDN Kalikatir pada Jum'at dan Sabtu (09-10/01/2026). Kegiatan ini dirancang secara terstruktur dan berlangsung kondusif di dalam ruang kelas masing-masing, sehingga materi yang disampaikan dapat diserap dengan maksimal oleh seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Pada hari pertama Jum'at, 9 Januari 2026 kegiatan difokuskan bagi siswa kelas rendah, yakni kelas 1, 2, dan 3. Mahasiswa masuk ke setiap kelas untuk memberikan pemahaman dasar mengenai ciri-ciri makanan sehat dan tidak sehat melalui media visual yang menarik. Dengan suasana yang tenang namun antusias, anak-anak diajarkan untuk lebih waspada terhadap jajanan yang memiliki warna terlalu mencolok atau rasa yang terlalu gurih. Pendekatan di dalam kelas ini memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih personal antara mahasiswa dan siswa, sehingga pesan mengenai pola makan sehat tersampaikan dengan baik. Memasuki hari kedua Sabtu, 10 Januari 2026, giliran siswa kelas 4, 5, dan 6 yang mendapatkan edukasi. Berbeda dengan hari sebelumnya, materi untuk kelas tinggi ini disusun dengan penjelasan yang lebih mendalam mengenai dampak jangka panjang dari penggunaan bahan kimia pada makanan. Siswa diajak berdiskusi secara aktif mengenai kebiasaan jajan mereka di luar sekolah. Suasana belajar di masing-masing kelas tetap terjaga kondusif karena mahasiswa menggunakan metode penyampaian yang santai namun tetap sarat akan muatan ilmiah yang mudah dipahami oleh anak usia sekolah dasar. Fokus utama dari kegiatan ini adalah praktik langsung pengujian zat berbahaya pada jajanan yang sering ditemui di lingkungan sekitar sekolah. Tim KKM 183 membawa sampel makanan yang diambil bukan dari kantin sekolah, melainkan dari pedagang luar, yaitu bakso, tempura, dan mie instan. Pengambilan sampel ini bertujuan untuk memberikan gambaran nyata kepada siswa bahwa risiko kontaminasi bahan tambahan pangan berbahaya justru sering kali muncul dari jajanan yang tidak diawasi oleh standar kebersihan sekolah. Dalam uji coba tersebut, mahasiswa mendemonstrasikan cara mendeteksi boraks menggunakan ekstrak kunyit. Siswa di tiap kelas diajak mengamati bagaimana cairan kunyit berubah warna menjadi merah pekat saat bereaksi dengan sampel yang mengandung boraks. Selain itu, untuk pengujian formalin, mahasiswa memanfaatkan bahan alami berupa ekstrak kulit buah naga. Jika warna ungu alami dari kulit buah naga memudar setelah dicampurkan dengan sampel bakso atau mie, maka hal tersebut menjadi indikasi kuat adanya kandungan pengawet mayat di dalam makanan tersebut. Rangkaian kegiatan selama dua hari ini berjalan sukses dan mendapatkan apresiasi tinggi dari pihak guru SDN Kalikatir. Dengan metode yang aplikatif, para siswa kini memiliki pengetahuan baru untuk menjadi lebih selektif dalam memilih konsumsi harian mereka. Kelompok 183 KKM UIN Malang berharap melalui edukasi mandiri menggunakan bahan-bahan di dapur seperti kunyit dan kulit buah naga, siswa dapat melindungi diri mereka sendiri serta membagikan ilmu berharga ini kepada orang tua di rumah untuk mewujudkan pola hidup sehat yang berkelanjutan.