CITRA LAILY AZIZAH CHOIRUL ANAM
Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, menjadi lokasi pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berlangsung mulai 23 Desember 2025 hingga 4 Februari 2026. Pelaksanaan KKM diawali dengan forum serah terima dari dosen pembimbing lapangan kepada Pemerintah Desa Arjowilangun. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Kelompok 66 KKM UIN Malang, Darvesh Fajriansyah, menyampaikan harapannya agar mahasiswa mendapatkan bimbingan dan arahan selama menjalankan program KKM di desa Arjowilangun. “Kami mohon bimbingan dari pemerintah desa dan seluruh elemen masyarakat dalam proses pelaksanaan KKM di Desa Arjowilangun, agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan memberi manfaat,” ujarnya. Dosen Pembimbing Lapangan KKM UIN Malang, Nasikhin Muad, Lc., MA, menekankan pentingnya mahasiswa untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial masyarakat desa. Menurutnya, pengetahuan akademik yang dimiliki siswa perlu dilengkapi dengan pemahaman sosial dan budaya masyarakat setempat. “Ilmu sudah lengkap di kampus, yang kurang adalah ilmu masyarakat. Mahasiswa diharapkan mengikuti aturan dan norma yang berlaku agar tidak terjadi hal-hal yang bertentangan dengan masyarakat,” tegasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya pemahaman moderasi beragama, khususnya dalam konteks kehidupan sosial keagamaan di Desa Arjowilangun. Lebih lanjut, Nasikhin Muad mendorong mahasiswa agar tidak sungkan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan Kepala Desa maupun perangkat desa terkait pelaksanaan program KKM. Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Desa Arjowilangun atas kesediaannya menerima mahasiswa KKM UIN Malang, serta memohon maaf apabila terdapat mahasiswa yang mengirimkan kurang sopan selama kegiatan berlangsung. Sementara itu, Kepala Desa Arjowilangun, Kuswianto,S.Pd., menyambut baik kehadiran mahasiswa KKM UIN Malang. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Desa terbuka untuk belajar dan berkolaborasi dengan mahasiswa, khususnya dalam bidang keagamaan dan penguasaan bahasa. “Kami justru akan menimba ilmu dari mahasiswa KKM, karena ilmu agama dan bahasa juga sangat penting bagi masyarakat kami,” ungkapnya. Kuswianto juga menjelaskan bahwa Desa Arjowilangun memiliki potensi sumber daya manusia yang beragam, termasuk banyaknya warga yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI), serta lembaga pendidikan yang lengkap mulai dari PAUD, SD/MI, SMPI/K dan Mts, hingga SMK. Ia mempersilakan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan keagamaan di dusun-dusun sesuai kebutuhan masyarakat. “Atas nama Pemerintah Desa, apabila selama pelaksanaan KKM terdapat hal-hal yang kurang berkenan, kami mohon maaf. Segala permasalahan selanjutnya akan kami komunikasikan dengan baik,” tutupnya. Dengan sinergi antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan Pemerintah Desa, pelaksanaan KKM UIN Malang di Desa Arjowilangun diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekaligus menjadi sarana pembelajaran sosial bagi mahasiswa.
AISYAH ROMADHONA
[Tanjungrejo, Malang], Tepat pada tanggal 31 Januari 2026, sebuah perjalanan pengabdian yang penuh makna mencapai puncaknya. Kelompok mahasiswa KKM 117 "Arthaseva" UIN Maulana Malik Ibrahim Malang resmi menutup masa bakti mereka yang telah berlangsung selama 40 hari. Dengan Masjid Darussalam sebagai pusat seluruh kegiatan, acara penutupan ini menjadi momen perpisahan yang khidmat sekaligus ungkapan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh keluarga besar masjid. Acara yang berlangsung di serambi masjid ini dihadiri oleh jajaran tokoh yang telah menjadi pendamping dan pengayom mahasiswa selama pengabdian. Hadir di antaranya Ketua Takmir Masjid Darussalam, Ustadz Fathullah; Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ibu Mubasyiroh, S.S., M.Pd.I; jajaran Ketua RW 07 dan RW 08 beserta pengurusnya; jajaran pengajar TPQ Darussalam; serta rekan-rekan dari pengurus Remaja Masjid Darussalam. Jejak Pengabdian di Jantung Masjid Darussalam Selama 40 hari terakhir, Masjid Darussalam telah menjadi rumah kedua bagi mahasiswa Arthaseva. Fokus pengabdian ini memang diarahkan pada pengembangan potensi dan pemberdayaan kegiatan yang berpusat di lingkungan masjid. Mulai dari pendampingan belajar di TPQ, digitalisasi dakwah bersama Remaja Masjid, hingga kolaborasi sosial dalam kegiatan Family Corner. Dalam sambutannya, Ustadz Fathullah menyampaikan apresiasi atas semangat mahasiswa yang telah membaur dengan baik. Keberadaan mahasiswa tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga menghidupkan suasana religius di lingkungan RW 07 dan RW 08 melalui kedekatan emosional yang terjalin dengan para jamaah dan pengurus masjid. Laporan Pertanggungjawaban dan Penyerahan Vandel Sebagai bentuk amanah akademik, mahasiswa memaparkan rangkuman hasil program kerja yang telah dilaksanakan. Paparan ini menjadi cermin dedikasi mahasiswa dalam berupaya memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi Masjid Darussalam. Program-program yang dijalankan diharapkan dapat terus berlanjut dan dikembangkan oleh para pengurus masjid maupun remaja masjid setempat. Suasana haru mulai menyelimuti saat memasuki prosesi penyerahan vandel sebagai simbol kenang-kenangan. Vandel tersebut diserahkan langsung oleh Ketua KKM 117 kepada pihak Takmir Masjid Darussalam. Namun, kejutan datang dari pihak masjid; secara tak terduga, Takmir Masjid Darussalam juga menyerahkan vandel balasan kepada kelompok KKM 117 Arthaseva. Penyerahan timbal balik ini menjadi simbol kuat bahwa hubungan yang terjalin bukan sekadar tugas kampus, melainkan ikatan kekeluargaan yang saling menghargai. Vandel tersebut menjadi bukti nyata bahwa kehadiran mahasiswa telah diterima dengan tangan terbuka, dan sebaliknya, mahasiswa merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian dari keluarga besar Darussalam. Belum Usai: Menanti Puncak Haflah dan Aftermovie Meski secara formal masa pengabdian 40 hari telah ditutup, ikatan mahasiswa dengan Masjid Darussalam ternyata belum benar-benar berakhir. Mahasiswa KKM 117 dijadwalkan akan kembali hadir pada 7 Februari mendatang untuk menghadiri sekaligus berpartisipasi dalam acara Puncak Haflah Imtihan. Salah satu agenda yang paling dinanti dalam puncak acara tersebut adalah penayangan video aftermovie. Video ini merupakan rangkuman perjalanan mahasiswa selama 40 hari mengabdi, yang akan memutar kembali memori indah, tawa, dan perjuangan bersama jamaah serta santri. Penayangan ini diharapkan menjadi kado perpisahan visual yang manis bagi seluruh warga. Doa Penutup dan Harapan Masa Depan Rangkaian acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Ustadz Kristiawan. Dalam suasana yang hening dan penuh kekhusyukan, doa dipanjatkan sebagai rasa syukur atas kelancaran seluruh kegiatan serta permohonan agar segala ikhtiar yang telah dilakukan menjadi amal jariyah bagi mahasiswa dan membawa keberkahan bagi kemajuan Masjid Darussalam. Acara diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama jajaran takmir, RW, pengajar TPQ, dan remaja masjid. Meski secara fisik mahasiswa KKM 117 harus kembali ke kampus, namun memori tentang kehangatan masyarakat dan syiar di Masjid Darussalam akan selalu tersimpan rapat dalam ingatan mereka. Selamat jalan, Arthaseva 117. Terima kasih, Masjid Darussalam.
ELSA AWWALUL FARIHAH
http://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/festival-anak-sholeh.html?m=1 Desa Wangkal Lor, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, kembali menjadi ruang belajar yang hangat bagi kami selama menjalani Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Desa ini tidak hanya menawarkan udara sejuk dan suasana pedesaan yang tenang, tetapi juga kehidupan sosial yang akrab dan penuh kebersamaan. Salah satu momen paling berkesan selama KKM adalah keterlibatan kami dalam Festival Anak Sholeh Yayasan Mathla'ul Huda dalam rangka memperingati Isra Mi'raj yang dilaksanakan pada 25 Januari 2026. Sejak beberapa hari sebelum acara puncak, semangat para pelajar sudah terasa melalui aktivitas kreatif yang mereka lakukan, salah satunya membuat payung hias sebagai simbol keceriaan dan ekspresi diri. Persiapan festival dimulai jauh sebelum hari H. Kami mendampingi para pelajar Yayasan Mathla'ul Huda saat mereka menuangkan ide-ide kreatif ke atas payung polos yang kemudian disulap menjadi payung hias penuh warna. Ada yang menggambar masjid, bintang, kaligrafi sederhana, hingga simbol-simbol keislaman yang mereka pahami dengan cara mereka sendiri. Suasana kelas berubah menjadi ruang seni yang hidup. Tawa, cerita polos anak-anak, dan tangan-tangan kecil yang sibuk mewarnai menjadi pemandangan yang sederhana namun menghangatkan hati. Sebagai pendamping, kami tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga memberi semangat agar mereka percaya diri dengan hasil karyanya. Pada hari pelaksanaan festival, desa terasa berbeda. Sejak pagi, para pelajar berkumpul dengan wajah ceria sambil membawa payung hias hasil kreasi mereka. Kegiatan diawali dengan pawai berkeliling desa, di mana anak-anak berjalan bersama dengan tertib, diiringi senyum bangga dan antusiasme yang sulit disembunyikan. Warga desa menyambut hangat, ada yang keluar rumah hanya sekedar pengganti tangan, ada pula yang mengabadikan momen dengan ponsel. Pawai sederhana ini menjadi bentuk perayaan yang dekat dengan masyarakat, sekaligus sarana mengenalkan nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan terhadap lingkungan sekitar. Kolaborasi antara pihak yayasan, mahasiswa KKM, dan masyarakat desa menjadi kunci suksesnya kegiatan ini. Guru-guru dan pengurus yayasan memberi Arah, kami mendampingi anak-anak selama kegiatan berlangsung, sementara masyarakat memberikan dukungan moral yang membuat suasana semakin meriah. Di lapangan, tentu ada dinamika yang muncul. Anak-anak yang kelelahan, payung yang rusak, atau barisan yang mulai tidak rapi menjadi tantangan kecil yang justru mengajarkan kami tentang kesabaran dan kerja sama. Semua itu teratasi dengan komunikasi sederhana dan saling pengertian. Dampak dari Festival Anak Sholeh ini terasa bukan hanya pada hari pelaksanaannya. Bagi para pelajar, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga untuk kreativitas, belajar percaya diri, dan memahami makna peringatan Isra Mi'raj dengan cara yang menyenangkan. Mereka belajar bahwa perayaan keagamaan tidak selalu harus kaku, tetapi bisa dikemas secara kreatif dan penuh makna. Bagi masyarakat, kegiatan ini mempererat hubungan sosial dan menghadirkan suasana desa yang hidup dan harmonis. Sementara bagi kami sebagai murid, pendampingan ini mengajarkan arti hadir dan membersamai, bukan sekedar mengatur atau mengarahkan. Menutup rangkaian kegiatan tersebut, saya pribadi merasa Festival Anak Sholeh ini menjadi salah satu wujud nyata pengabdian yang sederhana namun bermakna. Ada rasa lelah, tetapi terbayar oleh senyum anak-anak dan kebanggaan mereka membawa payung hias keliling desa. Harapan kami, kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan dikembangkan di tahun-tahun berikutnya, dengan melibatkan lebih banyak kreativitas dan partisipasi masyarakat. Dari Desa Wangkal Lor, kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang program besar, tetapi tentang kehadiran yang ketulusan, kebersamaan, dan kenangan baik yang tumbuh dari hal-hal sederhana. http://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/festival-anak-sholeh.html?m=1
ISRA SALSABILA GUSTIN
https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/seminar-etika-dan-moral-bagi-siswa-mi.html?m=1 Kelompok 27 Argantara melaksanakan kegiatan seminar dengan mengangkat tema “Etika dan Moral” di MI Mathla’ul Huda sebagai bagian dari rangkaian program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai etika dan moral kepada peserta didik sejak dini sebagai fondasi penting dalam pembentukan karakter dan sikap sosial siswa di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Pelaksanaan seminar dilakukan secara bertahap dengan sistem satu hari satu tingkat kelas. Dalam satu hari, kegiatan diikuti oleh seluruh kelas dalam satu tingkat yang sama, seperti seluruh kelas 1 (1A, 1B, dan 1C), kemudian dilanjutkan ke tingkat berikutnya pada hari selanjutnya. Pola ini diterapkan agar pelaksanaan kegiatan lebih terstruktur, efektif, serta menyesuaikan dengan karakteristik usia dan tingkat pemahaman siswa. Materi seminar disampaikan dengan pendekatan yang komunikatif dan mudah dipahami oleh siswa. Pembahasan meliputi nilai-nilai sopan santun, sikap saling menghormati, tanggung jawab, kejujuran, serta pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaian materi dilengkapi dengan contoh-contoh sederhana yang dekat dengan aktivitas siswa di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Para siswa mengikuti seminar dengan penuh perhatian, aktif menjawab pertanyaan, serta berpartisipasi dalam sesi interaktif yang disampaikan oleh mahasiswa KKM. Kegiatan ini menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mendidik, sehingga pesan moral yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa. Melalui kegiatan seminar etika dan moral ini, Kelompok 27 Argantara berharap dapat memberikan kontribusi positif dalam mendukung pendidikan karakter di MI Mathla’ul Huda. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran siswa akan pentingnya perilaku beretika dan bermoral, sehingga nilai-nilai tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
NAILAH NAQIYYAH WAHYU HIDAYAT
https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/02/program-one-day-one-juz.html?m=1 Berada di kaki pegunungan dengan udara yang sejuk dan suasana desa yang tenang, Poncokusumo menyambut kami — mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa — bukan hanya sebagai tamu, tetapi perlahan sebagai bagian dari keseharian warganya. Sejak awal penempatan KKM, kami menyadari bahwa desa ini memiliki denyut kehidupan religius yang kuat, terutama saat waktu maghrib tiba. Dari musholla kecil di sudut kampung hingga masjid yang menjadi pusat aktivitas warga, lantunan ayat suci selalu terdengar, mengisi senja dengan ketenangan. Dari sanalah gagasan Program One Day One Juz tumbuh, bukan sebagai agenda besar yang kaku, tetapi sebagai ikhtiar sederhana untuk membersamai masyarakat dalam menjaga tradisi mengaji. Program One Day One Juz kami laksanakan sejak 24 Desember hingga 29 Januari 2026, dengan konsep berpindah-pindah setiap hari Minggu di berbagai musholla dan masjid di Desa Poncokusumo. Waktu pelaksanaannya sengaja dipilih selepas maghrib, saat aktivitas warga mulai melambat dan suasana lebih khusyuk. Kami, para mahasiswa KKM, berperan sebagai peserta mengaji bersama, duduk sejajar dengan warga, tanpa jarak, tanpa sekat. Tidak ada panggung, tidak ada mikrofon khusus — hanya mushaf, tikar, dan niat untuk istiqamah membaca satu juz Al-Qur'an setiap pertemuan. Proses kegiatan ini berjalan dengan alur yang natural. Setiap Minggu, kami mengikuti jadwal musholla atau masjid yang telah disepakati bersama takmir setempat. Kadang tempatnya sederhana dengan penerangan seadanya, kadang cukup luas dan ramai oleh jamaah. Dinamikanya pun beragam. Ada hari di mana jamaah yang hadir hanya segelintir orang, namun ada pula malam-malam ketika musholla penuh dan suasana terasa begitu hangat. Warga menyambut kami dengan ramah, bahkan tak jarang setelah mengaji, obrolan ringan pun mengalir — tentang kehidupan desa, cerita masa lalu, hingga harapan mereka terhadap generasi muda. Di situlah kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu soal program besar, tetapi tentang kehadiran yang konsisten dan tulus. Dampak dari kegiatan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam bentuk angka atau grafik, namun terasa dalam suasana. Program One Day One Juz menjadi ruang kebersamaan yang memperkuat ikatan antara mahasiswa dan masyarakat. Bagi warga, terutama jamaah tetap musholla dan masjid, kegiatan ini menjadi penguat semangat untuk terus mengaji bersama. Sementara bagi kami, mahasiswa KKM, program ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga rutinitas spiritual di tengah kesibukan akademik. Mengaji bersama warga desa mengajarkan kami tentang pentingnya, keikhlasan, dan makna kebersamaan yang sering kali luput dalam kehidupan kampus. Lebih dari itu, kegiatan ini memberi kami pengalaman batin yang mendalam. Duduk bersila bersama warga, mendengarkan suara ayat-ayat Al-Qur'an yang dibaca secara bergantian, kami merasa tidak lagi sebagai “mahasiswa yang sedang KKM”, melainkan sebagai bagian dari komunitas yang saling menguatkan. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan, rasa pulang meski berada jauh dari rumah sendiri. Bagi kami, inilah bentuk pengabdian yang paling jujur — hadir, mendengar, dan berjalan bersama masyarakat. Menjelang berakhirnya masa KKM, Program One Day One Juz meninggalkan kesan mendalam. Kami berharap kegiatan sederhana ini tidak berhenti bersama kepulangan kami, namun dapat terus dilanjutkan oleh warga sekitar sebagai tradisi rutin. Bagi kami pribadi, program ini akan selalu menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak harus megah, cukup dilakukan dengan hati yang ikhlas dan niat yang baik. Dari Poncokusumo, kami belajar bahwa satu juz setiap hari, dibaca bersama, bisa menjadi jembatan kecil yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, sekaligus dengan sesamanya.
LAZUARDY IRSYAD HARIS
Berada di Desa Wangkal Lor, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, menjadi pengalaman yang tidak akan mudah saya lupakan selama mengikuti Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Desa ini menyambut kami dengan suasana yang tenang, udara sejuk khas lereng pegunungan, serta masyarakat yang ramah dan terbuka. Sejak hari pertama, kami menyadari bahwa KKM bukan sekadar program pengabdian, tetapi juga ruang belajar nyata tentang kehidupan sosial, nilai kebersamaan, dan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Dari sekian rangkaian kegiatan yang kami rancang, salah satu yang paling berkesan adalah Seminar Pergaulan Bebas bagi Siswa MTS Mathla'ul Huda sebagai Upaya Pembentukan Karakter. Kegiatan seminar ini dilaksanakan pada tanggal 12, 19, dan 26 Januari, bertempat di lingkungan MTS Mathla'ul Huda. Sasaran utama kegiatan ini adalah para pelajar tingkat madrasah tsanawiyah, yang berada pada fase usia remaja awal. Kami melihat fase ini sebagai masa krusial, di mana rasa ingin tahu tinggi sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman yang cukup tentang batasan pergaulan dan nilai moral. Berangkat dari keresahan tersebut, kami bersama pihak sekolah sepakat menyelenggarakan seminar yang tidak menggurui, tetapi mengajak siswa untuk berdialog, berpikir, dan merefleksikan pilihan-pilihan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan ini, kami berperan sebagai fasilitator, pendamping, sekaligus pemateri. Suasana seminar dibuat santai namun tetap fokus. Alih-alih ceramah satu arah, kami membuka ruang diskusi, tanya jawab, serta simulasi kasus yang dekat dengan realitas siswa. Awalnya, beberapa siswa terlihat malu-malu untuk berbicara. Namun seiring berjalannya waktu, kelas mulai hidup. Tawa kecil, anggukan setuju, hingga pertanyaan kritis mulai bermunculan. Di situlah kami merasakan dinamika lapangan yang sesungguhnya—bahwa pendekatan yang humanis jauh lebih efektif dibandingkan sekadar penyampaian materi. Kolaborasi dengan guru dan pihak sekolah juga menjadi kunci kelancaran kegiatan ini. Para guru tidak hanya hadir sebagai pengawas, tetapi ikut terlibat dalam diskusi dan memberi penguatan nilai-nilai karakter yang relevan dengan lingkungan sekolah dan keluarga siswa. Dukungan ini membuat pesan yang kami sampaikan tidak berhenti di ruang seminar saja, tetapi diharapkan dapat berlanjut dalam keseharian siswa, baik di sekolah maupun di rumah. Dampak dari kegiatan ini terasa secara perlahan namun nyata. Para siswa mulai berani menyampaikan pendapat tentang pergaulan yang sehat, memahami risiko dari pergaulan bebas, serta menyadari pentingnya menjaga diri dan karakter. Bagi masyarakat sekolah, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter membutuhkan kerja bersama, tidak hanya mengandalkan kurikulum formal. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini mengasah empati, kemampuan komunikasi, serta kepekaan sosial yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas kampus. Menutup rangkaian kegiatan ini, saya pribadi merasa KKM telah mengajarkan arti hadir dan bermanfaat di tengah masyarakat. Seminar ini mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi nilai-nilai yang ditanamkan diharapkan dapat tumbuh lebih lama. Harapan kami, kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan oleh sekolah maupun generasi KKM berikutnya, dengan tema-tema yang relevan dengan kebutuhan remaja. Dari Desa Wangkal Lor, kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang hal besar, tetapi tentang niat tulus, keterlibatan nyata, dan keberanian untuk mendengarkan. https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/seminar-pergaulan-bebas-bagi-siswa-mts.html?m=1