HOREG KEYSHA HAFIZH
https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/belajar-bersama-umkm-sosialisasi.html?m=1 Siang itu, Balai Desa di wilayah Poncokusumo terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak matahari mulai naik, satu per satu warga berdatangan dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Kami, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) bekerja sama dengan pihak LP2M berdiri di antara mereka bukan sebagai “ahli”, tetapi sebagai teman belajar yang ingin berbagi. Suasana desa yang tenang, sapaan ramah warga, dan aroma kopi yang sempat tersaji sebelum acara dimulai membuat kegiatan hari itu terasa hangat dan membumi. Inilah awal dari kegiatan Sosialisasi Sertifikasi Halal bagi UMKM yang kami laksanakan pada 26 Januari 2026. Kegiatan ini berangkat dari proses penjaringan UMKM yang telah dilakukan di seluruh wilayah Poncokusumo. Dari situ, kami melihat satu benang merah yang sama: semangat berusaha masyarakat sangat tinggi, tetapi masih banyak pelaku UMKM yang belum memahami pentingnya sertifikasi halal, baik dari sisi kepercayaan konsumen maupun keberlanjutan usaha. Melalui sosialisasi ini, kami ingin membuka ruang diskusi yang sederhana, jujur, dan mudah dipahami, tanpa kesan menggurui. Kami berperan sebagai fasilitator sekaligus penyelenggara, memastikan materi tersampaikan dengan bahasa yang dekat dengan realitas sehari-hari pelaku usaha. Proses kegiatan berjalan secara dialogis. Tidak hanya pemaparan materi, tetapi juga sesi tanya jawab yang justru menjadi bagian paling hidup. Banyak pelaku UMKM berbagi cerita tentang tantangan mereka, mulai dari keterbatasan informasi, kekhawatiran biaya, hingga kebingungan soal alur pengurusan sertifikasi halal. Di sinilah dinamika lapangan terasa nyata. Kami belajar mendengarkan, menyesuaikan bahasa, dan menyederhanakan konsep agar benar-benar relevan. Kolaborasi dengan perangkat desa turut memperkuat kegiatan ini, menciptakan suasana diskusi yang terbuka dan saling percaya. Dampak dari kegiatan ini mulai terasa bahkan sebelum acara berakhir. Beberapa pelaku UMKM mengaku baru memahami bahwa sertifikasi halal bukan sekadar label, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap konsumen dan nilai tambah bagi usaha mereka. Ada rasa percaya diri yang tumbuh, seolah mereka melihat peluang baru untuk mengembangkan usaha secara lebih profesional. Bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang nyata. Kami tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memahami kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat secara langsung. Lebih dari sekadar sosialisasi, kegiatan ini menjadi jembatan antara pengetahuan dan praktik di lapangan. Kami menyadari bahwa perubahan tidak selalu datang secara instan, tetapi dimulai dari kesadaran kecil yang terus dirawat. Melihat antusiasme warga dan keterbukaan mereka terhadap diskusi menjadi pengalaman yang berharga dan membekas. Menutup kegiatan hari itu, kami pulang dengan perasaan penuh syukur. KKM bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi tentang membangun relasi, kepercayaan, dan empati. Harapan kami, sosialisasi ini bisa menjadi langkah awal bagi UMKM di Poncokusumo untuk melangkah menuju usaha yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan. Secara pribadi, pengalaman ini mengajarkan bahwa pengabdian terbaik adalah hadir, mendengar, dan tumbuh bersama masyarakat. Dan dari balai desa sederhana itu, kami belajar arti kontribusi yang sesungguhnya.
AHMAD JALALUDDIN IBADURROHMAN
https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/02/kerja-bakti-sekaligus-pengecatan-gapura.html?m=1 Januari 13, 2026 Pagi itu, 11 Januari 2026, udara di kawasan makam umum Poncokusumo terasa lebih sejuk dari biasanya. Bukan cuma karena cuaca pegunungan yang memang ramah, tapi juga karena ada semangat kebersamaan yang pelan-pelan tumbuh sejak kami tiba. Sebagai mahasiswa peserta Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), kami datang bukan dengan jas almamater dan jargon pengabdian yang kaku, melainkan dengan niat sederhana: ikut hadir, ikut membantu, dan ikut merawat ruang yang bermakna bagi warga. Gapura makam, yang selama ini menjadi penanda sekaligus wajah awal kawasan pemakaman, menjadi titik awal pengabdian kecil kami di desa ini. Kegiatan kerja bakti sekaligus pengecatan gapura makam ini sebenarnya lahir dari obrolan santai dengan warga. Dalam beberapa hari awal KKM, kami sering duduk bersama masyarakat, mendengarkan cerita-cerita ringan, termasuk soal kondisi makam yang mulai kusam. Dari situ, ide ini tumbuh alami. Tidak ada proposal panjang, tidak ada jarak “kami” dan “mereka”. Kami bersepakat bahwa gapura makam layak dipercantik, bukan sekadar soal estetika, tapi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan ruang sakral yang sering dikunjungi warga. Hari pelaksanaan pun terasa seperti reuni besar. Warga datang membawa alat masing-masing, ada yang membawa kuas, ada yang menyiapkan air, bahkan ada ibu-ibu yang sibuk menyiapkan minuman sederhana. Kami, para mahasiswa, mengambil peran sebagai fasilitator, pendamping, sekaligus pengeksekusi. Ada yang mengatur pembagian tugas, ada yang membantu membersihkan lumut dan debu di permukaan gapura, dan ada juga yang langsung turun tangan mengecat bersama warga. Tawa ringan, candaan soal cat yang belepotan di tangan, sampai diskusi kecil soal warna cat membuat suasana kerja bakti terasa hangat dan cair. Dinamika di lapangan justru menjadi bagian paling berkesan. Tidak semuanya berjalan mulus, ada cat yang kurang merata, ada perbedaan pendapat soal detail kecil, tapi semua diselesaikan dengan musyawarah sederhana. Kami belajar bahwa kolaborasi tidak selalu harus rapi, yang penting saling mendengar dan saling menghargai. Di sela-sela kegiatan, kami juga banyak belajar dari cerita warga tentang sejarah makam dan nilai-nilai lokal yang selama ini dijaga. Dari situ, kami sadar bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengecat gapura, tapi juga merawat ingatan kolektif. Hasilnya mungkin terlihat sederhana: gapura makam tampak lebih bersih, cerah, dan layak dipandang. Namun dampaknya terasa lebih luas. Bagi masyarakat, kegiatan ini menumbuhkan kembali rasa memiliki dan kebersamaan. Warga merasa ruang bersama mereka diperhatikan dan dirawat secara gotong royong. Bagi kami sebagai mahasiswa, pengalaman ini menjadi ruang belajar nyata tentang pengabdian. Kami belajar memimpin tanpa mendominasi, membantu tanpa merasa paling tahu, dan bekerja bersama tanpa sekat status. Secara personal, kegiatan ini memberi kami pelajaran penting tentang makna hadir di tengah masyarakat. KKM bukan tentang seberapa besar program yang dibuat, tapi seberapa dalam interaksi yang terjalin. Melalui kerja bakti dan pengecatan gapura makam ini, kami merasakan bahwa kontribusi kecil, jika dilakukan bersama, bisa memberi dampak yang terasa. Ada kepuasan sederhana saat melihat warga tersenyum melihat hasil kerja bersama, dan ada rasa hangat saat kami duduk bersama di akhir kegiatan, menikmati teh hangat sambil berbagi cerita. Menutup kegiatan ini, kami berharap semangat gotong royong yang tercipta tidak berhenti di hari itu saja. Semoga gapura yang telah dipercantik bisa menjadi simbol kebersamaan, dan semoga kehadiran kami sebagai mahasiswa KKM benar-benar meninggalkan kesan positif. Bagi kami, Poncokusumo bukan lagi sekadar lokasi KKM, tapi ruang belajar kehidupan yang akan selalu kami ingat. Sebuah pengingat bahwa pengabdian sejati sering kali lahir dari hal-hal sederhana, dilakukan dengan tulus, dan dijalani bersama.
NURLITA AYUNI
https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/kegiatan-asistensi-mengajar-di-tiga.html?m=1 Di tempat inilah kami menjalani Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), sebuah perjalanan belajar yang tidak hanya tentang menerapkan ilmu, tetapi juga tentang memahami kehidupan masyarakat secara langsung. Salah satu kegiatan yang paling membekas bagi kita adalah Kegiatan Asistensi Mengajar di tiga lembaga formal, yaitu MI Mathla'ul Huda, RA Mathla'ul Huda, dan SDN 2 Argosuko. Kegiatan asistensi mengajar ini dilaksanakan pada tanggal 5 - 23 Januari, dengan sasaran utama pelajar tingkat RA, MI, dan SD. Sejak awal, kami menyadari bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang penuh warna, rasa ingin tahu, dan energi yang tidak pernah habis. Peran kami sebagai mahasiswa KKM dalam kegiatan ini adalah sebagai guru pendamping yang terlibat langsung dalam proses belajar-mengajar. Bukan hanya membantu menyampaikan materi, tetapi juga hadir sebagai teman belajar yang berusaha memahami karakter dan kebutuhan setiap anak. Hari-hari mengajar dimulai sejak pagi. Di RA Mathla'ul Huda, suasana kelas dipenuhi tawa polos dan cerita-cerita sederhana dari anak-anak. Mengajarkan huruf, angka, dan lagu-lagu edukatif menjadi tantangan tersendiri, karena dibutuhkan kesabaran dan kreativitas agar mereka tetap fokus. Di MI Mathla'ul Huda dan SDN 2 Argosuko, tantangannya berbeda. Anak-anak sudah mulai kritis dan berani bertanya. Kami mencoba menciptakan suasana belajar yang interaktif, mengajak mereka berdiskusi ringan, bermain sambil belajar, dan tidak takut untuk mencoba hal baru. Kolaborasi dengan guru-guru setempat menjadi bagian penting dari kelancaran kegiatan ini. Para guru menyambut kami dengan terbuka, membimbing kami memahami kondisi kelas, serta memberi kepercayaan untuk terlibat langsung dalam pembelajaran. Dari mereka, kami belajar bahwa menjadi guru bukan hanya soal menguasai materi, tetapi juga soal kepekaan, keteladanan, dan ketulusan dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Interaksi dengan orang tua dan masyarakat sekitar juga memperkaya pengalaman kami, karena kami melihat langsung bagaimana pendidikan menjadi harapan besar bagi masa depan anak-anak di desa ini. Dampak dari kegiatan asistensi mengajar ini terasa dari kedua sisi. Bagi siswa, kehadiran kami memberi variasi baru dalam pembelajaran. Anak-anak terlihat lebih antusias, berani mencoba, dan tidak ragu berinteraksi. Meski waktu kebersamaan kami terbatas, kami berharap semangat belajar yang tumbuh dapat terus terjaga. Bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang sangat berharga. Kami belajar mengelola kelas, berkomunikasi dengan anak-anak, serta memahami realitas pendidikan di tingkat dasar secara nyata, bukan sekadar teori di bangku kuliah. Menjelang berakhirnya rangkaian kegiatan, saya menyadari bahwa asistensi mengajar ini bukan hanya tentang membantu sekolah, tetapi juga tentang membentuk diri kami sendiri. Ada rasa lelah, tentu saja, tetapi jauh lebih besar rasa syukur dan bahagia ketika melihat senyum anak-anak yang bersemangat belajar. Harapan kami, kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi program-program pendidikan lainnya di Desa Wangkal Lor. Secara pribadi, pengalaman ini mengajarkan saya bahwa pengabdian paling bermakna sering kali hadir dalam hal-hal sederhana: hadir di kelas, mendengarkan, dan menemani anak-anak meraih mimpi mereka, selangkah demi selangkah.
CALIXTA DZAVIRA
https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/program-senam-sehat-bersama-masyarakat.html?m=1Pagi itu, balai desa di Poncokusumo terasa sedikit berbeda. Biasanya tempat ini identik dengan rapat warga atau kegiatan administrasi desa, tapi pada 28 Januari 2026 suasananya lebih hidup. Musik senam mulai terdengar pelan, tawa saling bersahutan, dan kami — mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) — berdiri di tengah masyarakat dengan rasa campur aduk antara antusias dan gugup. KKM bagi kami bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan kesempatan belajar langsung dari kehidupan nyata. Di desa ini, kami mencoba membaur, memahami ritme warga, dan ikut menjadi bagian dari keseharian mereka. Program senam sehat bersama masyarakat menjadi salah satu langkah kecil kami untuk memulai kedekatan itu. Sejak pagi, ibu-ibu dan bapak-bapak sudah berdatangan ke balai desa. Ada yang datang sambil bercengkerama, ada pula yang masih malu-malu berdiri di pinggir. Kami berperan sebagai pendamping sekaligus pemimpin senam, menyiapkan alat sederhana dan mengatur barisan seadanya. Tidak semua berjalan mulus. Ada momen ketika musik tiba-tiba berhenti, atau gerakan senam yang kami contohkan malah membuat peserta tertawa karena terasa “terlalu semangat” untuk pagi hari. Tapi justru di situlah letak kehangatannya. Warga tidak sungkan memberi masukan, bercanda, bahkan ikut mengarahkan irama agar lebih nyaman. Kolaborasi ini terasa alami, tanpa jarak antara mahasiswa dan masyarakat. Selama kegiatan berlangsung, kami menyadari bahwa senam bukan hanya soal gerakan tubuh. Di sela-sela gerakan, obrolan ringan mengalir — tentang kesehatan, aktivitas sehari-hari, hingga cerita sederhana tentang keluarga. Ibu-ibu saling menyemangati agar tidak berhenti di tengah jalan, sementara bapak-bapak mulai ikut menyesuaikan gerakan dengan gaya mereka sendiri. Kami belajar bahwa pendekatan yang humanis jauh lebih efektif daripada sekadar mengatur. Ketika mahasiswa mau mendengar dan menyesuaikan diri, masyarakat pun merasa lebih dihargai dan terlibat penuh. Dampak kegiatan ini terasa langsung, meski sederhana. Warga tampak lebih bersemangat dan ceria setelah senam selesai. Beberapa mengaku jarang berolahraga bersama, sehingga kegiatan ini menjadi momen menyegarkan sekaligus mempererat kebersamaan. Dari sisi kesehatan, senam pagi membantu meningkatkan kesadaran pentingnya aktivitas fisik ringan yang bisa dilakukan tanpa biaya dan alat khusus. Bagi kami sebagai mahasiswa, manfaatnya tidak kalah besar. Kami belajar memimpin dengan empati, berkomunikasi lintas usia, serta memahami bahwa pengabdian tidak selalu harus berupa program besar. Hal kecil yang konsisten justru sering meninggalkan kesan mendalam. Kegiatan ini juga membuka ruang refleksi. Kami datang ke desa dengan niat berbagi, tetapi pulang dengan banyak pelajaran. Masyarakat Poncokusumo mengajarkan arti kebersamaan, kesederhanaan, dan keikhlasan dalam beraktivitas. Senam sehat ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam, namun dampaknya terasa lebih panjang karena membangun kebiasaan dan hubungan. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut, baik oleh masyarakat sendiri maupun oleh adik-adik KKM berikutnya, sebagai bagian dari gaya hidup sehat bersama. Menutup hari itu, kami menyadari bahwa KKM bukan tentang seberapa banyak program yang dijalankan, melainkan seberapa dalam makna yang tertinggal. Di balai desa yang sederhana, lewat gerakan senam dan tawa bersama, kami merasa benar-benar menjadi bagian dari masyarakat. Harapan kami sederhana: semoga langkah kecil ini menjadi awal dari kebiasaan baik, dan semoga semangat kebersamaan yang tercipta tetap hidup, bahkan setelah masa KKM kami berakhir.
ALFIN NOOR AZIZAH
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) selalu punya caranya sendiri untuk mengajarkan kami tentang kehidupan nyata. Selama periode 17–24 Januari 2026, kami menjalani KKM di Desa Keden dan Wangkal, Kecamatan Poncokusumo. Desa ini menyambut kami dengan udara sejuk, hamparan aktivitas warga yang bersahaja, serta geliat UMKM yang tumbuh perlahan namun penuh potensi. Sejak hari-hari awal, kami menyadari bahwa banyak pelaku usaha di desa ini sudah produktif, tetapi belum seluruhnya tersentuh oleh aspek legalitas usaha. Dari situlah kegiatan Pendampingan Pembuatan NIB untuk UMKM kami mulai. Kami berkunjung dari satu UMKM ke UMKM lain di seluruh desa, menyapa, berbincang, dan menawarkan pendampingan secara langsung, dengan pendekatan yang santai namun tetap informatif. Proses pendampingan ini bukan sekadar soal mengisi data dan mengakses sistem OSS. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang interaksi yang hangat antara mahasiswa dan masyarakat. Kami mendatangi warung kelontong, usaha olahan makanan rumahan, pengrajin kecil, hingga pedagang musiman. Setiap kunjungan selalu diawali dengan obrolan ringan—tentang usaha yang dirintis, tantangan yang dihadapi, dan harapan mereka ke depan. Dari situ, kami mulai menjelaskan apa itu Nomor Induk Berusaha (NIB), manfaatnya, serta bagaimana legalitas bisa membuka akses yang lebih luas, mulai dari bantuan pemerintah hingga peluang pengembangan usaha. Di lapangan, dinamika tentu tak selalu mulus. Ada pelaku UMKM yang antusias, ada pula yang ragu karena merasa proses administrasi itu rumit dan memakan waktu. Beberapa terkendala dokumen, sebagian lagi belum terbiasa menggunakan teknologi digital. Di sinilah peran kami sebagai pendamping benar-benar diuji. Kami belajar bersabar, menjelaskan dengan bahasa yang sederhana, dan menyesuaikan ritme dengan kondisi masing-masing pelaku usaha. Proses pendampingan sering kali dilakukan sambil duduk di teras rumah, di sela-sela aktivitas produksi, bahkan di tengah kesibukan melayani pembeli. Namun justru di situlah kami merasakan kolaborasi yang nyata—bukan sebagai “mahasiswa yang mengajari”, tetapi sebagai teman diskusi yang berjalan bersama. Dampak dari kegiatan ini mulai terasa seiring berjalannya waktu. Beberapa pelaku UMKM yang awalnya ragu akhirnya berhasil memiliki NIB atas nama usahanya sendiri. Raut wajah lega dan bangga ketika proses selesai menjadi momen yang sulit dilupakan. Bagi masyarakat, NIB bukan lagi sekadar istilah administratif, melainkan pintu awal menuju pengembangan usaha yang lebih terarah. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini membuka perspektif baru tentang arti pemberdayaan. Kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu harus dalam skala besar, tetapi bisa dimulai dari hal-hal praktis yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Menjelang akhir kegiatan, kami banyak melakukan refleksi bersama. Pendampingan pembuatan NIB ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa berkelanjutan jika terus dilanjutkan oleh pihak desa dan pelaku UMKM sendiri. Kami berharap apa yang telah dimulai selama KKM ini tidak berhenti ketika masa pengabdian kami selesai. Lebih dari itu, kami membawa pulang pelajaran berharga tentang empati, komunikasi, dan makna hadir di tengah masyarakat. Desa Keden dan Wangkal bukan hanya lokasi KKM bagi kami, tetapi ruang belajar yang membentuk cara pandang kami sebagai mahasiswa dan calon bagian dari masyarakat itu sendiri. https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/pendampingan-pembuatan-nib-untuk-umkm.html?m=1
RURY CHANTIKA MADANI
Penutupan KKM: Menutup Perjalanan, Membuka Kenangan di Balai Desa Poncokusumo 31 Januari 2026 Hari itu, Balai Desa Poncokusumo terasa berbeda. Bukan karena dekorasi yang mewah atau acara yang terlalu formal, melainkan karena suasana haru yang pelan-pelan menandai setiap sudut ruangan. Setelah rangkaian panjang kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang kami jalani bersama masyarakat, tibalah pada satu titik yang tidak bisa dihindari: penutupan KKM. Bagi kami, ini bukan sekadar seremoni akhir, tetapi momen untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan menyadari bahwa perjalanan singkat ini telah meninggalkan jejak yang cukup dalam, baik bagi kami sebagai pelajar maupun bagi lingkungan tempat kami belajar hidup bersama masyarakat. Penutupan KKM yang dilaksanakan di Balai Desa Poncokusumo pada tanggal 30 jam 2026 (sesuai penjadwalan kegiatan) menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa KKM, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), serta para pekerja balai desa yang sejak awal telah membersamai kami. Sebagai pelajar, kami berperan penuh sebagai pembuat dan pengelola acara. Mulai dari memastikan penyusunan konsep, pembagian tugas, hingga acara berjalan lancar, semua kami kerjakan bersama dengan semangat gotong royong. Di balik persiapan itu, ada diskusi panjang, tawa kecil karena hal-hal sepele, dan juga ketakutan singkat saat waktu terasa berjalan terlalu cepat. Namun justru di situlah kami belajar, bahwa tim kerja bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang saling menguatkan. Proses kegiatan penutupan berlangsung dengan sederhana namun penuh makna. Sambutan demi Segalanya tidak terasa kaku karena dibalut dengan cerita dan candaan ringan yang mencerminkan kedekatan kami selama KKM. Para pekerja balai desa dan DPL tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari perjalanan kami. Interaksi yang terbangun selama ini terasa nyata ketika percakapan mengalir tanpa jarak, seolah-olah kami bukan siswa yang sedang “bertugas”, melainkan keluarga yang sedang berpamitan. Kolaborasi yang terjalin selama KKM pun kembali teringat—mulai dari kegiatan sosial, pendampingan, hingga kesekharian sederhana seperti berbincang di sela aktivitas desa. Dampak dari kegiatan penutupan ini mungkin tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi terasa secara emosional dan sosial. Bagi masyarakat dan para pekerja balai desa, penutupan KKM menjadi penanda bahwa kebersamaan yang terbangun tidak berhenti di acara ini saja. Ada rasa saling menghargai dan mengakui bahwa kehadiran siswa membawa warna tersendiri, meski dalam waktu yang terbatas. Sementara bagi kami sebagai pelajar, kegiatan ini menjadi ruang refleksi. Kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang program besar, tetapi tentang kehadiran yang tulus, sikap mau mendengar, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Penutupan KKM juga memberi kami pelajaran penting tentang kedewasaan. Mengakhiri sesuatu yang bermakna ternyata tidak mudah. Ada rasa bangga karena berhasil menyelesaikan tanggung jawab, tapi juga ada kesedihan karena harus berpisah. Dari sini kami menyadari bahwa pengalaman KKM bukan sekedar menambah catatan kegiatan akademik, melainkan membentuk cara pandang kami sebagai manusia. Kami belajar berinteraksi dengan berbagai karakter, menghargai proses, dan memahami realitas sosial secara lebih dekat—hal-hal yang mungkin tidak kami dapatkan di ruang kelas. Pada akhirnya, penutupan KKM di Balai Desa Poncokusumo bukanlah akhir dari segalanya. Justru kami berharap, ini menjadi awal dari hubungan baik yang terus terjaga, meski tidak lagi dalam bingkai program resmi. Ada harapan kecil agar kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan memberi manfaat yang lebih luas di masa depan. Bagi kami pribadi, KKM akan selalu menjadi cerita yang layak dikenang—tentang kebersamaan, pembelajaran, dan makna pengabdian yang sesungguhnya. Kami pulang dengan membawa lebih dari sekadar kenangan, tetapi juga nilai-nilai yang akan kami bawa dalam langkah berikutnya. https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/penutupan-kkm-menutup-perjalanan.html?m=1