Thumbnail
9 months ago
Pos Bantuan Hukum sebagai Upaya Peningkatan Akses Keadilan Masyarakat Desa Kaliasri

MUHAMMAD RIZKI FAJAR

Pada tanggal 3 Februari 2026, telah dilaksanakan kegiatan Pos Bantuan Hukum (Posbakum) di Balai Desa Kaliasri, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan layanan konsultasi dan pendampingan hukum kepada masyarakat desa, khususnya bagi warga yang memiliki keterbatasan akses terhadap informasi dan layanan hukum formal. Pelaksanaan kegiatan berlangsung dalam suasana yang terbuka dan partisipatif, sehingga masyarakat dapat menyampaikan permasalahan hukumnya secara langsung dan nyaman. Berdasarkan dokumentasi kegiatan, terlihat proses konsultasi hukum yang dilakukan secara tatap muka antara petugas Pos Bantuan Hukum dan warga. Petugas memberikan penjelasan dengan pendekatan komunikatif serta menggunakan perangkat pendukung seperti laptop untuk mencatat dan mengelola informasi hukum yang disampaikan oleh masyarakat. Interaksi dua arah ini menunjukkan bahwa layanan Posbakum tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi hukum secara satu arah, tetapi juga mengedepankan dialog dan pemahaman terhadap kondisi sosial masyarakat desa. Kehadiran Pos Bantuan Hukum di Desa Kaliasri memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesadaran hukum masyarakat. Banyak permasalahan hukum yang dihadapi warga desa, seperti sengketa tanah, persoalan administrasi kependudukan, maupun permasalahan keluarga, sering kali tidak ditangani secara tepat karena minimnya pemahaman hukum. Melalui kegiatan ini, masyarakat memperoleh pengetahuan awal mengenai hak dan kewajiban hukum mereka serta langkah-langkah yang dapat ditempuh sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Secara keseluruhan, pelaksanaan Pos Bantuan Hukum di Balai Desa Kaliasri mencerminkan upaya nyata dalam mendekatkan layanan hukum kepada masyarakat akar rumput. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi hukum yang berkelanjutan serta mendorong terciptanya masyarakat desa yang lebih sadar hukum, mandiri, dan berkeadilan. Selain itu, sinergi antara aparat desa, penyelenggara Posbakum, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mendukung keberlanjutan layanan bantuan hukum di tingkat desa.

Thumbnail
9 months ago
Digitalisasi Potensi Desa Melalui Pembuatan Video Profil Desa Pajaran Kecamatan Poncokusumo

ABBIYI QOBUS SYAMSID

Sebagai langkah strategis dalam mendukung digitalisasi desa, tim KKN kami berinisiatif meluncurkan program kerja pembuatan Video Profil Desa Pajaran, Kecamatan Poncokusumo. Mengusung tema besar "Pajaran: Harmoni Tradisi, Inovasi, dan Kemanusiaan", proyek ini bertujuan untuk merekam dan menyajikan potensi desa—mulai dari kekayaan alam hingga kearifan lokal—ke dalam sebuah narasi visual yang terstruktur. Video ini dirancang bukan sekadar sebagai dokumentasi kegiatan, melainkan sebagai aset informasi digital yang vital untuk memperkenalkan identitas dan keunggulan Desa Pajaran kepada masyarakat luas melalui website resmi desa. Dari sisi teknis produksi, kami menerapkan metode pengambilan gambar sinematik yang mengandalkan kekuatan alur cerita dan detail visual tanpa menggunakan drone. Tim dokumentasi memaksimalkan penggunaan kamera handheld dengan bantuan stabilizer atau gimbal untuk menciptakan pergerakan gambar yang stabil dan nyaman dilihat. Teknik pengambilan gambar difokuskan pada sudut pandang (angle) yang humanis, seperti eye-level untuk interaksi warga di pasar dan low-angle untuk menonjolkan kemegahan infrastruktur sekolah. Pendekatan ini dipilih untuk memberikan pengalaman visual yang lebih dekat dan nyata, mengajak penonton seolah-olah berinteraksi langsung dengan suasana desa. Secara konten, video berdurasi lebih dari 5 menit ini merangkum seluruh aspek kehidupan Desa Pajaran secara komprehensif. Pengambilan gambar mencakup sektor pertanian dan peternakan sebagai fondasi ekonomi utama, dinamika Pasar Tradisional dan Pasar Hewan, hingga proses produksi UMKM unggulan seperti Telur Asin dan Sari Buah. Selain itu, aspek sosial budaya menjadi sorotan utama dengan menampilkan kegiatan Posyandu sebagai bentuk kepedulian kesehatan, serta kesenian Tari dan Bantengan "Mberot" sebagai bukti pelestarian tradisi. Setiap segmen direkam dengan memperhatikan pencahayaan alami untuk menonjolkan keaslian suasana desa. Pada tahap akhir atau pasca-produksi, seluruh hasil rekaman dirangkai melalui proses penyuntingan (editing) yang teliti untuk menyelaraskan visual dengan narasi suara (voice over). Kami memberikan perhatian khusus pada komposisi musik latar, di mana instrumen disesuaikan secara dinamis dengan setiap segmen—mulai dari musik akustik tenang di pembukaan, irama semangat saat membahas ekonomi, hingga nuansa gamelan etnik pada segmen budaya. Hasil akhirnya adalah sebuah video profil yang informatif dan estetik, yang kini telah terintegrasi di website Desa Pajaran sebagai sarana promosi dan informasi digital desa. Link Youtube Video Profile

Thumbnail
9 months ago
Profil KKM 15 Pentaswara

ALVIN DWI PRIYAMBODO

Swaraning Gesang Manunggal: Harmoni Pengabdian Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Masjid Miftahul Jannah Kedungkandang–Sawojajar Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Program ini tidak hanya menuntut kehadiran mahasiswa sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat yang mampu mendengarkan, memahami, dan merespons kebutuhan sosial secara bijaksana. Dalam konteks tersebut, mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan KKM di Masjid Miftahul Jannah, Kecamatan Kedungkandang, Kelurahan Sawojajar, dengan mengusung jargon “Swaraning Gesang Manunggal.” Jargon Swaraning Gesang Manunggal mengandung makna filosofis sebagai sebuah harapan agar segala suara yang hidup—baik suara mahasiswa, masjid, maupun masyarakat—dapat bertemu, bersatu, dan membentuk harmoni kehidupan yang lebih bermakna. Kata swaraning dimaknai sebagai suara, gagasan, dan aspirasi; gesang sebagai kehidupan; sedangkan manunggal bermakna persatuan. Jargon ini menjadi fondasi nilai dalam setiap kegiatan KKM, sehingga pengabdian tidak berjalan secara sepihak, melainkan lahir dari dialog, kebersamaan, dan kolaborasi. Nilai-nilai tersebut kemudian diwujudkan secara visual melalui logo KKM yang dirancang sebagai identitas sekaligus representasi filosofi pengabdian. Logo ini tidak sekadar menjadi simbol, tetapi juga menjadi penanda arah dan semangat pengabdian mahasiswa di lingkungan Masjid Miftahul Jannah. Dari segi warna, logo KKM didominasi oleh warna biru tua dan biru muda yang merepresentasikan ketenangan, kecerdasan, kedewasaan berpikir, serta sikap profesional mahasiswa dalam mengabdi kepada masyarakat. Warna biru juga mencerminkan stabilitas dan kepercayaan, yang menjadi dasar penting dalam membangun hubungan sosial yang harmonis. Sementara itu, warna putih melambangkan keikhlasan, kesucian niat, dan kebersihan hati dalam menjalankan seluruh program KKM, sehingga setiap aktivitas yang dilakukan di lingkungan masjid bernilai ibadah dan kebermanfaatan. Elemen masjid dengan kubah dan lengkungan menyerupai mihrab pada bagian atas logo menegaskan bahwa pusat kegiatan KKM berada di Masjid Miftahul Jannah serta berlandaskan nilai-nilai Islam. Masjid dimaknai tidak hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat pembinaan spiritual, pendidikan, dan kegiatan sosial kemasyarakatan yang bertujuan untuk mencari rida Allah SWT. Di bagian bawah logo, terdapat simbol buku terbuka yang melambangkan ilmu pengetahuan, literasi, dan semangat belajar. Buku terbuka merepresentasikan peran mahasiswa sebagai agen pembelajaran yang membawa pengetahuan dan wawasan kepada masyarakat Kedungkandang–Sawojajar. Posisi buku sebagai fondasi logo memberikan makna bahwa seluruh kegiatan KKM berdiri di atas dasar ilmu dan pendidikan yang bermanfaat. Selanjutnya, elemen gelombang atau bentuk menyerupai suara dan pentas mencerminkan ekspresi, kreativitas, serta keberanian mahasiswa dalam menyuarakan kebaikan. Elemen ini selaras dengan nama “Pentaswara”, yang menyiratkan ruang untuk tampil (pentas) dan bersuara (swara). Makna tersebut menegaskan bahwa setiap anggota KKM didorong untuk berperan aktif, berani menyampaikan gagasan, serta terlibat langsung dalam kegiatan di tengah masyarakat, bukan sekadar bekerja di balik layar. Adapun titik-titik kecil berjumlah 16 melambangkan 16 anggota KKM yang bersatu dalam satu tujuan pengabdian. Titik-titik tersebut merepresentasikan kebersamaan, solidaritas, dan kekuatan kolektif dalam menjalankan program KKM. Penulisan “KKM 15 Masjid Miftahul Jannah” pada logo mempertegas identitas kelompok, nomor KKM, serta lokasi pengabdian, sehingga logo berfungsi sebagai wajah resmi kelompok dalam berbagai media dan kegiatan. Secara keseluruhan, jargon dan logo KKM ini merupakan perwujudan dari semangat Swaraning Gesang Manunggal, yaitu menyatukan suara, nilai keislaman, ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kebersamaan dalam satu harmoni pengabdian. Melalui pengabdian di Masjid Miftahul Jannah, Kedungkandang–Sawojajar, mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang diharapkan mampu menghadirkan kontribusi nyata serta meninggalkan jejak kebermanfaatan yang berkelanjutan bagi masyarakat.    

Thumbnail
9 months ago
PENGAJIAN RUTINAN JUMAT SUBUH MASJID MIFTAHUL JANNAH SAWOJAJAR

BEKTI WIDI ASTUTIK

KEGIATAN PENGAJIAN RUTINAN JUMAT SUBUH MASJID MIFTAHUL JANNAH SAWOJAJAR Pada hari Jumat, tanggal 23 Januari 2026 yang lalu, tepatnya bertempat di Masjid Miftahul Jannah Sawojajar yang beralamat di Jl. Danau Ranau Raya, Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, telah dilaksanakan kegiatan Pengajian Rutinan Jumat Subuh dari pukul 04:30 WIB sampai dengan pukul 06:30 WIB. Kegiatan ini merupakan program tetap yang dilakukan setiap minggu untuk memperkuat pemahaman agama Islam dan mempererat tali silaturahmi antarwarga masyarakat setempat, serta didukung sepenuhnya oleh Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan diawali dengan pelaksanaan Sholat Subuh berjamaah yang dipimpin langsung oleh Ustadz, kemudian dilanjutkan dengan dzikir bersama secara berjamaah. Setelah itu, pengajian utama dengan tema "Bersyukur sebagai Kunci Kebahagiaan Hidup" disampaikan oleh Ustadz selama kurang lebih 1 jam penuh, yang membahas secara mendalam Surah Ibrahim ayat 7 beserta hadits Nabi Muhammad SAW mengenai pentingnya bersyukur dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ditutup dengan pembacaan doa penutup yang dipimpin oleh Ustadz sendiri, diikuti dengan acara makan bersama di area masjid guna meningkatkan rasa keakraban dan kekeluargaan antarpeserta. Jumlah jamaah yang hadir mencapai 150 orang atau lebih, terdiri dari kalangan santri, warga masyarakat umum, serta mahasiswa KKM.

Thumbnail
9 months ago
Pelaksanaan seminar family corner oleh kkm 15 sebagai upaya penguatan ketahanan keluarga serta peran orang tua dalam pencegahan stunting

ADINDA NOVI FITRIASARI

Kelompok 15 Pentaswara melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) melaksanakan salah satu program kerja bertema Family Corner di Masjid Miftahul Jannah Sawojajar. Program ini dirancang sebagai ruang edukasi dan refleksi bagi keluarga, khususnya orang tua, untuk kembali menyadari peran penting keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak serta upaya pencegahan stunting sejak dini. Masjid dipilih sebagai pusat kegiatan karena fungsinya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang belajar dan penguatan nilai-nilai kehidupan keluarga. Senin pagi, 26 Januari 2026, Masjid Miftahul Jannah Sawojajar menjadi ruang belajar yang hangat sejak pukul 09.00 WIB. Jamaah dan masyarakat umum berkumpul dalam sebuah kegiatan yang mengangkat peran penting orang tua dan anak dalam keluarga. Dengan menghadirkan Fuji Astutik, M.Psi., dosen Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai narasumber, diskusi berlangsung cair dan membumi. Acara yang dipandu oleh Aprilia nur khasanah sebagai MC serta dimoderatori oleh Selvy Puspita Anggraeni, menghadirkan suasana dialog yang akrab dan reflektif. Kegiatan ini bukan sekedar forum berbagi ilmu, namun juga ruang untuk belajar bersama, saling menguatkan, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keluarga sebagai fondasi tumbuh kembang anak. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, keluarga sering kali terjebak dalam rutinitas yang padat. Orang tua yang sibuk bekerja, anak-anak larut dalam gawai, dan percakapan hangat perlahan tergeser karena kelelahan. Padahal, keluarga adalah ruang pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun emosional. Dari sinilah konsep family corner menjadi relevan dan penting untuk dibicarakan. Family corner bukan sekadar sudut ruangan dengan sofa atau meja kecil. Ia adalah ruang simbolik tempat keluarga kembali terhubung. Tempat orang tua dan anak bisa berbagi cerita, makan bersama, membaca buku, atau sekadar duduk tanpa gangguan. Di ruang sederhana inilah nilai-nilai dasar keluarga yang ditanamkan, termasuk kepedulian terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak. Jika ditarik lebih jauh, family corner juga memiliki peran yang sering luput disadari, yaitu sebagai pintu awal pencegahan stunting. Stunting seringkali dipahami sebatas permasalahan gizi dan ekonomi. Padahal, akar masalahnya jauh lebih kompleks. Kurangnya pengetahuan orang tua, minimnya komunikasi dalam keluarga, serta pola asuh yang tidak konsisten turut berkontribusi terhadap risiko stunting pada anak. Melalui family corner, orang tua memiliki ruang untuk lebih peka terhadap kondisi anak. Di sana, orang tua bisa memperhatikan kebiasaan makan anak, mendengar keluhan mereka, dan membangun kedekatan emosional. Anak-anak yang merasa cenderung lebih terbuka, termasuk soal makanan yang tidak mereka sukai atau keluhan kesehatan yang sering dianggap sepele. Tidak sedikit kasus stunting yang berawal dari pola makan yang tidak seimbang dan kurangnya pendampingan saat anak makan. Makan menjadi aktivitas individu, bahkan sambil menonton atau bermain gawai. Family corner dapat mengembalikan fungsi makan sebagai aktivitas bersama. Saat makan dilakukan dalam suasana hangat, orang tua bisa memastikan asupan gizi anak terpenuhi sekaligus menanamkan kebiasaan makan sehat sejak dini. Lebih dari itu, Family Corner juga berperan dalam meningkatkan literasi keluarga. Diskusi ringan tentang kesehatan, kebiasaan hidup bersih, hingga pentingnya gizi seimbang bisa dimulai dari bincang santai di sudut keluarga ini. Tidak perlu bahasa medis yang rumit, cukup dengan cerita sehari-hari yang mudah dipahami anak. Dari imajinasi kesadaran kolektif terbentuknya keluarga. Stunting tidak hanya berdampak pada tinggi badan anak, tetapi juga pada perkembangan kognitif dan masa depan mereka. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami kesulitan belajar dan produktivitas yang lebih rendah di masa dewasa. Oleh karena itu, pencegahan stunting harus dimulai dari rumah, dari interaksi paling dasar dalam keluarga. Membangun family corner tidak selalu membutuhkan biaya besar. Di rumah sederhana sekalipun, satu sudut kecil yang bersih dan nyaman sudah cukup. Yang terpenting adalah komitmen keluarga untuk meluangkan waktu bersama tanpa gawai, tanpa gangguan, hanya kehadiran utuh satu sama lain. Di era ketika solusi sering dicari dalam program besar dan kebijakan makro, kita sering lupa bahwa perubahan juga bisa dimulai dari ruang paling kecil yaitu rumah. Family corner adalah contoh nyata bahwa upaya pencegahan stunting tidak selalu harus rumit. Dengan membangun kedekatan, komunikasi, dan kepedulian dalam keluarga, kita sedang membangun fondasi kesehatan anak yang jauh lebih kuat. Pada akhirnya, stunting bukan hanya persoalan angka statistik, melainkan cerita tentang anak-anak dan masa depan mereka. Dan mungkin, masa depan itu bisa dijaga dari sebuah sudut kecil bernama family corner. Kegiatan ini ditutup dengan penyerahan sertifikat yang diberikan kepada narasumber sebagai bentuk apresiasi atas ilmu dan pengalaman yang telah dipublikasikan. Penyerahan sertifikat tersebut menjadi simbol terjalinnya kolaborasi antara ilmuwan, pelajar, dan masyarakat dalam upaya bersama meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran keluarga, khususnya orang tua, dalam pencegahan stunting. Momen ini sekaligus menegaskan bahwa pendidikan keluarga merupakan tanggung jawab bersama yang perlu terus diupayakan secara berkelanjutan.

Thumbnail
9 months ago
Mahasiswa KKM UIN Malang Bersama Warga RW 05 Peringati Hari Ibu dan Tahun Baru

APRILIA NUR KHASANAH

Malam tahun baru di RW 05 Kelurahan Sawojajar memiliki cerita yang berbeda. Setiap tahunnya, warga menggelar kegiatan kebersamaan yang dirangkai dengan peringatan Hari Ibu. Tradisi ini sudah menjadi agenda rutin warga sebagai ruang berkumpul, bersilaturahmi, dan melepas penat di akhir tahun. Pada tahun ini, mahasiswa KKM Kelompok 15 UIN Malang mendapat undangan langsung dari Ketua RW 05 untuk ikut bergabung dalam kegiatan tersebut. Tidak hanya hadir sebagai tamu, mahasiswa KKM juga dilibatkan sebagai bagian dari panitia, sehingga dapat terjun langsung dalam pelaksanaan acara bersama warga. Rangkaian kegiatan malam tahun baru berlangsung meriah dan penuh keakraban. Berbagai lomba diselenggarakan untuk menghidupkan suasana, di antaranya lomba karaoke khusus ibu-ibu, lomba karaoke perwakilan tiap RT, serta lomba permainan seperti domino dan remi. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga lintas RT. Suasana kekeluargaan terasa sangat kuat selama acara berlangsung. Ibu-ibu tampil percaya diri mengikuti lomba karaoke, sementara warga lainnya memberikan dukungan dan semangat. Permainan domino dan remi pun menjadi ruang interaksi yang hangat, menghadirkan tawa dan canda sederhana yang justru menjadi inti dari kebersamaan. Bagi mahasiswa KKM, keterlibatan dalam kegiatan ini menjadi pengalaman sosial yang berharga. Melalui kegiatan tahunan warga, mahasiswa belajar tentang pentingnya tradisi lokal, partisipasi masyarakat, serta nilai gotong royong yang masih terjaga dengan baik di lingkungan RW 05. Kebersamaan yang terjalin antara mahasiswa dan warga juga memperkuat hubungan selama masa KKM berlangsung. Peringatan Hari Ibu yang dirangkai dengan malam tahun baru ini menjadi bukti bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari perayaan besar. Cukup dengan kebersamaan, partisipasi, dan rasa saling menghargai, kegiatan sederhana pun dapat meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang terlibat. Melalui momen ini, mahasiswa KKM Kelompok 15 UIN Malang tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga bagian dari tradisi warga RW 05 Kelurahan Sawojajar. Sebuah pengalaman yang memperkaya proses pengabdian sekaligus pembelajaran di tengah masyarakat.