KHUSNUL KHOTIMAH
Keinginan untuk memberikan kontribusi dalam meningkatkan pemahaman orang tua tentang pola asuh yang efektif dan mendukung perkembangan anak secara holistik berusaha diwujudkan oleh kelompok Adhibrata Paradhita program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melalui kegiatan seminar parenting "Mendidik Anak dengan Keteladanan dan Cinta (Akhlak sebagai Pondasi Utama). Kegiatan yang berlangsung Senin (24/02/2025) di Gedung SBSN lantai 2, MIN 1 Jombang ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk bapak Iswahyudi, M.Pd selaku perwakilan dari Kepala Madrasah MIN 1 Jombang, tim ramah anak, serta perwakilan paguyuban kelas 3A-3G dengan mendatangkan Ibu Fitriah Makkawi, M.Pd sebagai pemateri. Dukungan penuh dari seluruh elemen sekolah membuat kegiatan ini berjalan sukses dan mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman orang tua tentang pola asuh anak dengan keteladanan dan cinta serta tantangan dalam pola asuh anak di era modern. Diawali dengan sambutan bapak Iswahyudi,M.Pd, selaku perwakilan dari Kepala Madrasah MIN 1 Jombang, menyampaikan program unggulan MIN 1 Jombang " di Madrasah ini memiliki lima program unggulan yang kami sebut sebagai Brilian. Yaitu Madrasah religi, literasi, digitalisasi, ramah anak dan adiwiyata. MIN 1 Jombang menjamin, memenuhi, menghargai hak-hak anak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi dan perlakuan salah lainnya melalui program ramah anak," tegasnya. Pemateri melanjutkan sesi dengan menjelaskan bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab besar yang diamanahkan kepada orang tua. Dalam islam tanggung jawab utama bagi orang tua adalah tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif tetapi juga menitikberatkan pada pembentukan akhlak mulia. Orang tua harus menjadi contoh yang baik, memberikan kasih sayang yang tulus dan menjadikan akhlak sebagai pondasi utama dalam pendidikan. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, jujur dan penuh kasih sanyang sesuai dengan ajaran islam. Terlihat raut wajah peserta seminar antusias menyimak materi yang disampaikan. Pasalnya, mereka yang hadir berniat menambah pemahaman tentang peran cinta orang tua sebagai dasar pendidikan anak. Seminar ini tidak hanya berlangsung satu arah, tetapi juga melibatkan interaksi aktif antara peserta dan pemateri. Sesi tanya jawab menjadi momen yang paling dinantikan, dimana para orang tua berbagi pengalaman pribadi serta mengajukan pertanyaan seputar permasalahan yang mereka hadapi dalam pengasuhan sehari-hari. Kelompok KKM Adhibrata Paradhita UIN Maliki berharap bahwa acara ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat khususnya orang tua peserta didik. Tentunya tidak hanya dalam bentuk pemahaman teknis, tetapi juga sebagai role model yang baik bagi anak dalam segala aspek kehidupan. Seminar ini mendapatkan apresiasi dari perwakilan paguyuban yang hadir serta tim ramah anak MIN 1 Jombang, berharap kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan.
AJENG FITRI NOVIA PUTERI
MTsN Kota Batu menjadi tuan rumah gelaran Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) antar Madrasah Tsanawiyah se-Kota Batu yang berlangsung meriah dan penuh semangat. Kegiatan tahunan ini mempertemukan siswa-siswi dari berbagai MTs di Kota Batu dalam rangka mengembangkan bakat, menumbuhkan sportivitas, serta mempererat tali silaturahmi antar madrasah. Lapangan MTsN Kota Batu sejak pagi sudah dipenuhi oleh peserta dari berbagai madrasah dengan atribut khas masing-masing, menciptakan suasana yang semarak dan penuh warna. Acara dibuka secara resmi oleh perwakilan dari Kantor Kementerian Agama Kota Batu yang memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat dan antusiasme seluruh peserta. PORSENI kali ini mempertandingkan berbagai cabang lomba yang mencerminkan beragam minat dan bakat siswa, antara lain: - Volly: Pertandingan yang menyita perhatian banyak penonton dengan aksi-aksi memukau dari para pemain. Kekompakan dan semangat tim sangat terasa di setiap laga. - Futsal: Menjadi salah satu cabang yang paling kompetitif, dengan masing-masing tim menampilkan teknik dan strategi terbaik mereka. - Pidato Bahasa Inggris (Speech Competition): Peserta tampil percaya diri menyampaikan pidato dengan tema-tema inspiratif, menunjukkan kemampuan public speaking dan penguasaan bahasa yang luar biasa. - Cabang seni dan olahraga lainnya seperti lari estafet, kaligrafi, dan lomba menggambar turut meramaikan kegiatan dan menjadi panggung kreativitas para peserta. Selain kompetisi, PORSENI ini juga menjadi momen pembelajaran yang berharga. Para peserta belajar tentang arti kerja sama, pentingnya menghargai lawan, serta bagaimana menerima kemenangan maupun kekalahan dengan lapang dada. Pertemuan antar siswa dari madrasah yang berbeda pun menambah suasana akrab dan hangat. Dengan berakhirnya seluruh rangkaian lomba, PORSENI MTs se-Kota Batu tahun 2025 resmi ditutup di sore hari. MTsN Kota Batu sebagai tuan rumah mendapat banyak apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan acara ini. Semua peserta pulang membawa cerita, pengalaman, dan semangat baru untuk terus berprestasi. PORSENI bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang semangat, persahabatan, dan kebersamaan. Sampai jumpa di PORSENI berikutnya!
CINDY AZZALINA
Sabtu, 26 April– Suasana haru mewarnai Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) Nurul Huda di Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Pasalnya, para mahasiswa Kuliah Kerja Masyarakat (KKM) dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang telah mengabdi dan berbagi ilmu selama beberapa waktu, menggelar acara perpisahan yang sederhana namun penuh makna. Sejak beberapa bulan terakhir, para mahasiswa KKM ini aktif dalam berbagai kegiatan di TPQ Nurul Huda. Mereka tidak hanya membantu dalam proses belajar mengajar membaca dan menulis Al-Qur'an, tetapi juga mengadakan berbagai kegiatan kreatif dan edukatif yang menarik bagi anak-anak. Kehadiran mereka telah membawa semangat baru dan warna tersendiri bagi para murid dan pengurus TPQ. Acara perpisahan yang digelar kemarin dihadiri oleh seluruh murid TPQ Nurul Huda, para ustadz dan ustadzah. Dalam sambutannya, Ketua Kelompok KKM UIN Malang menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat dan kesempatan yang diberikan untuk belajar dan mengabdi di TPQ Nurul Huda. Ia juga mengungkapkan rasa haru dan bangga atas antusiasme dan semangat belajar yang ditunjukkan oleh para murid. "Kami sangat terkesan dengan semangat belajar adik-adik di TPQ Nurul Huda. Meskipun waktu kami singkat, namun kenangan dan pelajaran yang kami dapatkan di sini akan selalu kami ingat," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Sementara itu, salah satu ustadz TPQ menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para mahasiswa KKN UIN Malang. Beliau mengungkapkan bahwa kehadiran para mahasiswa sangat membantu dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di TPQ. "Kami sangat berterima kasih atas dedikasi dan ilmu yang telah dibagikan oleh adik-adik mahasiswa. Anak-anak sangat senang dan termotivasi dengan cara belajar yang kreatif dan menyenangkan yang mereka bawa," tuturnya. Acara perpisahan diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari kata sambutan oleh ustadz, kata sambutan oleh ketua KKM, cerita serta games singkat dan pemberian kenang-kenangan dari mahasiswa KKM kepada TPQ. Suasana semakin haru ketika para mahasiswa KKM berpamitan dan bersalaman dengan seluruh murid dan pengurus TPQ. Kepergian para mahasiswa KKM UIN Malang ini tentu akan meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga besar TPQ Nurul Huda. Namun, semangat dan ilmu yang telah mereka bagikan diharapkan dapat terus tumbuh dan berkembang di hati para murid, menjadi bekal berharga di masa depan. Kegiatan KKM ini menjadi bukti nyata sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam upaya mencerdaskan anak bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan agama.
MOH. HALIMUNNAJIH
Ramadhan selalu menjadi bulan yang penuh berkah dan momen istimewa untuk berbagi. Itulah semangat yang dibawa oleh para mahasiswa asistensi mengajar dalam kegiatan Berbagi Takjil dan bukber bersama TPQ Raudhotul Qur’an yang berlokasi di Jalan Pemancar TVRI, Dusun Sentong, Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Kegiatan yang berlangsung pada kamis 20 Maret 2025 ini bukan sekadar berbagi makanan, tapi juga menghadirkan kehangatan, tawa, dan nilai-nilai kebersamaan antara mahasiswa, ustaz-ustazah, serta para santri kecil yang luar biasa antusias. Perjalanan dimulai sejak pukul dua siang, saat rombongan mahasiswa berangkat dari kampus menuju Lawang. Setibanya di lokasi, para mahasiswa langsung bersiap menata jajanan yang akan dibagikan, menyusun snack, minuman, dan kurma ke dalam paket-paket kecil untuk takjil. Setelah semua siap, mereka pun bergantian mandi dan bersiap diri untuk menyambut acara sore. Tepat pukul empat sore, kegiatan dimulai dengan pembukaan dilanjutkan sambutan yang disampaikan oleh Kepala TPQ Raudhotul Qur’an, yang menyambut dengan hangat kedatangan para mahasiswa. Tak ketinggalan, sambutan dari perwakilan mahasiswa asistensi mengajar yang menyampaikan maksud kegiatan dan rasa syukur bisa kembali menjalin silaturahmi dengan keluarga besar TPQ. Acara dilanjutkan dengan sesi ice breaking dan permainan seru bersama anak-anak. Suasana sore itu penuh tawa ceria, cuaca sore itu cukup nyaman , semangat anak-anak dan mahasiswa tetap terasa hangat dan bersahabat. Permainan ini juga menjadi cara efektif untuk mengisi waktu sembari menunggu adzan Maghrib berkumandang. Menjelang pukul lima sore, mahasiswa bersama beberapa guru membagikan takjil di depan TPQ. Letaknya yang strategis di pinggir jalan membuat kegiatan ini berjalan efisien pengendara yang melintas pun menyambut takjil dengan senyuman tulus. Setelah selesai, paket-paket takjil khusus seperti kurma, minuman, dan snack pun dibagikan untuk anak-anak TPQ dan para ustaz-ustazah. Begitu adzan berkumandang, semua yang hadir menikmati takjil ringan bersama. Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan mempersiapkan anak-anak untuk wudhu dan sholat berjamaah. Suasana tenang dan khusyuk terasa saat sholat Maghrib dilaksanakan bersama di dalam TPQ. Sebagai penutup kegiatan, para staff guru menyediakan makanan berbuka berupa nasi soto hangat yang dibagikan kepada semua peserta. Kegiatan pun diakhiri dengan bersih-bersih bersama dan para mahasiswa berpamitan sebelum adzan Isya berkumandang. Kegiatan sederhana ini membuktikan bahwa kebahagiaan tidak harus selalu megah. Kebersamaan, niat baik, dan ketulusan hati cukup untuk menciptakan kenangan manis yang melekat lama di ingatan. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut di Ramadhan-ramadhan berikutnya, dan menjadi inspirasi bagi siapapun untuk berbagi dalam bentuk apapun, sekecil apapun.
LU`LU`ATUN NADHIROTUS SA`DIYAH
Kegiatan rutin Jumat Legi yang dilaksanakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Malang 2025 di MTs Hasyim Asy’ari merupakan salah satu upaya nyata dalam melestarikan tradisi keagamaan yang telah lama menjadi bagian dari budaya lokal. Rutinan ini tidak hanya menjadi sarana pembinaan spiritual, tetapi juga bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik agar menjadi generasi yang cinta Al-Qur’an dan berakhlak mulia. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM berperan aktif dalam memperkuat nilai-nilai keislaman di lingkungan madrasah serta menjalin sinergi dengan masyarakat dan civitas madrasah dalam upaya membangun generasi Qur’ani yang unggul secara moral dan intelektual.
PRADENTA BAGUS WILL HELMINA
Malang, 13 April 2025 – Di bawah sinar matahari pagi yang hangat, deru cangkul dan denting batu bata terdengar bersahutan. Di sela suara itu, terdengar tawa ringan, candaan khas kampung, dan panggilan gotong royong yang sudah lama terasa asing di banyak sudut negeri. Namun tidak di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Di sini, gotong royong justru hidup kembali — lewat sebuah saluran air. Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 323 dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang hadir bukan hanya membawa teori dan program. Mereka datang dengan tangan terbuka, kaki yang siap berdebu, dan hati yang bersedia menyatu. Di hari itu, bersama warga, mereka menggali tanah, menata batu, mengalirkan harapan — satu parit demi satu parit. Program ini bukan sekadar proyek perbaikan drainase. Ini adalah bentuk nyata dari keberpihakan: kepada lingkungan yang sering luput dari perhatian, kepada warga yang selama ini menanggung genangan saat hujan datang, dan kepada makna kemanusiaan itu sendiri. Saluran air yang dikerjakan membentang di sisi pesantren yang sebelumnya kerap digenangi air karena sistem drainase yang buruk. Setiap musim hujan, genangan tak hanya mengganggu aktivitas, tapi juga mengancam kenyamanan dan kesehatan santri. Kini, dengan kerja kolektif mahasiswa dan warga, jalur air mulai menemukan bentuknya — rapi, mengalir, dan membawa harapan baru. Salah satu mahasiswa KKM, dengan tangan masih penuh lumpur, berkata lirih, “Kami belajar lebih banyak di sini daripada di ruang kelas mana pun. Di balik lumpur ini, ada pelajaran tentang kerja sama, keikhlasan, dan kepedulian yang tak diajarkan di bangku kuliah.” Warga pun menyambut hangat keterlibatan mahasiswa. Mereka merasa tak hanya dibantu secara fisik, tapi juga secara moral. “Anak-anak muda ini turun langsung. Mereka tak canggung, mereka bekerja benar-benar. Kami jadi teringat zaman dulu, ketika gotong royong adalah budaya, bukan ajakan,” ujar salah satu warga yang ikut bekerja. Yang menarik, kegiatan ini tak digerakkan oleh upah atau paksaan. Semua hadir karena rasa. Mahasiswa hadir karena ingin menjadi bagian dari masyarakat, bukan hanya mengabdi sejenak lalu pulang. Warga hadir karena percaya, bahwa kerja bersama tak pernah sia-sia. Program kerja bakti ini adalah satu dari banyak kegiatan yang diusung dalam tema besar KKM 323, “Kolaborasi Sosial dalam Menanggulangi Stunting dan Menginternalisasi Moderasi Beragama bagi Generasi Emas”. Dan meskipun tidak mengangkat tema gizi atau kitab klasik, kerja bakti saluran air ini menyimpan makna yang tak kalah mendalam: bahwa membangun bangsa tidak selalu harus dengan seminar, kadang cukup dengan menggali tanah bersama. Ketika parit-parit itu selesai dikerjakan, dan air mulai mengalir lancar, tak ada seremoni. Hanya senyum kecil, tepukan di bahu, dan rasa puas yang tak bisa ditukar dengan apapun. Mungkin memang tidak ada yang monumental dari saluran air. Tapi dari sanalah kehidupan bisa berjalan lebih baik — setidaknya bagi warga Jetis, dan bagi mahasiswa yang kini belajar arti pengabdian dari dasar tanah.