I`TAMARO BILLAHIL IZZAH
Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar seminar parenting bertema “Sinergi Pendidikan Madrasah dan Rumah: Menumbuhkan Anak Hebat, Berakhlak, dan Berprestasi” di MI Almaarif 11 Gunungrejo. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari para wali murid dan pihak madrasah. Seminar tersebut bertujuan untuk memperkuat peran serta orang tua dalam proses pendidikan anak, terutama dalam pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai akhlak. Kegiatan ini berhasil membuka ruang dialog antara guru dan orang tua yang selama ini jarang terfasilitasi secara terbuka. Materi yang disampaikan dalam seminar memicu kesadaran para orang tua tentang pentingnya keterlibatan aktif mereka dalam mendampingi pendidikan anak di rumah. Banyak peserta seminar yang mengaku termotivasi untuk lebih aktif berkomunikasi dengan guru dan mengikuti kegiatan sekolah. Kegiatan berlangsung dalam suasana yang interaktif dan penuh antusiasme. Pihak madrasah memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKM yang dianggap selaras dengan kebutuhan dan harapan masyarakat setempat. Seminar ini juga memperkuat kerja sama antara madrasah dan keluarga sebagai pilar utama dalam membentuk generasi yang unggul. Menurut panitia, kegiatan semacam ini telah menjadi bagian dari program rutin yang tidak hanya mendidik anak, tetapi juga membekali orang tua dengan pengetahuan dan keterampilan dalam pengasuhan. Dukungan dari pihak kampus dan sekolah menjadikan kegiatan ini lebih efektif dan bermanfaat. Selain memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam pengabdian masyarakat, kegiatan ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan, terutama di wilayah-wilayah yang menghadapi tantangan dalam bidang pendidikan seperti Gunungrejo. link kompasiana : https://www.kompasiana.com/itamarobillahilizzah0668/6836bfcdc925c46cf15167b2/seminar-parenting-di-mi-almaarif-11-gunungrejo-dorong-sinergi-pendidikan-madrasah-dan-keluarga
IRFAN MAULANA HAQIQI
Oleh: Irfan Maulana Haqiqi Tanggal: 19 Mei 2025 Kategori: Pendidikan -- Moderasi Beragama -- Pengabdian Masyarakat Gresik -- Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan, mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang tergabung dalam program Kelompok Kerja Mahasiswa (KKM) mengadakan kegiatan bertajuk "Kajian Moderasi Beragama" di Desa Metatu, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, saling menghargai perbedaan, dan penguatan semangat keagamaan yang inklusif sejak usia dini. Bertempat di masjid setempat, para santri, pemuda, serta masyarakat umum antusias mengikuti kajian yang dibawakan oleh mahasiswa KKM dengan pendekatan dialogis dan edukatif. "Moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama, melainkan bagaimana kita mampu menjalankan keyakinan masing-masing tanpa mencederai hak orang lain untuk beragama dan berkeyakinan juga," terang Irfan, salah satu pemateri kajian. Moderasi Beragama: Pilar Kehidupan Harmonis Moderasi beragama menjadi tema penting yang digaungkan oleh Kementerian Agama RI sebagai respon atas tantangan intoleransi dan ekstremisme. Dalam konteks lokal seperti di Desa Metatu, pendekatan ini dirasa sangat relevan karena masyarakat desa memiliki potensi besar sebagai pelopor keharmonisan umat beragama. Prof. Dr. H. Quraish Shihab Membeberkan bahwa “ Agama itu menebar rahmat, bukan menciptakan jarak. Moderasi adalah jalan tengah yang Islami dan Indonesiawi ”. Para mahasiswa menjelaskan konsep moderasi agama melalui paparan visual yang menarik, diskusi interaktif, dan studi kasus ringan yang dapat dipahami santri dengan mudah. Kegiatan ini memperkuat nilai-nilai Islam rahmatan lil 'alamin di tengah kehidupan yang majemuk. Bulan Ramadhan tidak hanya menjadi waktu untuk meningkatkan ibadah ritual, tetapi juga momen ideal untuk memperbaiki relasi sosial dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM mengajak masyarakat untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk memperkuat semangat toleransi dan gotong royong. "Puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi juga latihan diri menahan sikap dan kata yang menyakiti sesama," ujar salah satu tokoh masyarakat setempat" Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari lahirnya generasi muda yang tidak hanya taat beragama, tetapi juga bijak dalam menyikapi perbedaan. Dalam jangka panjang, penguatan moderasi beragama dapat menjadi strategi jitu dalam menjaga keutuhan bangsa dan memperkuat budaya damai dari tingkat desa. Apa yang dilakukan oleh mahasiswa KKM UIN Malang di Desa Metatu bukan sekadar ceramah keagamaan biasa. Ini adalah bentuk pengabdian nyata, di mana ilmu dari kampus turun langsung ke masyarakat dan bertemu dengan kebutuhan riil warga desa. Semangat Ramadhan dan nilai-nilai Islam rahmatan lil 'alamin bersatu dalam satu ruang: edukasi yang menyejukkan.
ZANUBA RAHMA FITRIAH
Pembentukan karakter siswa sejak usia dini merupakan landasan penting dalam menciptakan generasi yang berakhlak mulia, disiplin, dan bertanggung jawab. Sekolah sebagai lingkungan kedua setelah keluarga memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai tersebut melalui budaya dan kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai wadah pembentukan karakter siswa. Dalam rangka menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung pengembangan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian, SD Plus Al-Kautsar Malang menerapkan budaya sekolah melalui program 3TRP. SD Plus Al-Kautsar Malang memahami pentingnya budaya sekolah sebagai sarana pelatihan karakter peserta didik. Untuk itu, sekolah mengembangkan budaya 3T RP sebagai bentuk pembiasaan positif yang sederhana namun berdampak besar.3T RP adalah singkatan dari lima aturan atau kebiasaan baik yang diterapkan di lingkungan SD Plus Al-Kautsar Malang untuk membentuk karakter dan kedisiplinan siswa. 3T Tidak berteriak : Siswa diajak berbicara dengan suara yang tenang dan sopan agar lingkungan sekolah tetap nyaman. Tidak berlari : Siswa mengajar untuk berjalan dengan tertib demi menjaga keselamatan bersama. Tidak bermain di dalam kelas : Siswa diarahkan agar menjaga ruang kelas sebagai tempat belajar, bukan untuk bermain. RP: Rapikan alas kaki : siswa dibiasakan untuk merapikan sepatu atau sandal sebagai bentuk kerapihan dan tanggung jawab. Pungut dan pilah sampah : Siswa diajak peduli terhadap kebersihan lingkungan dengan memungut dan memilah sampah sesuai jenisnya. Jadi, 3TRP adalah aturan pembiasaan di sekolah untuk membentuk siswa yang tertib, peduli, dan bertanggung jawab. Budaya 3TRP ini tidak hanya menjadi aturan, tetapi telah ditanamkan sebagai nilai kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Dengan pendekatan yang konsisten dan kolaboratif antara guru, siswa, dan orang tua, budaya ini dapat memperkuat pembentukan karakter siswa yang berintegritas dan berdaya saing di masa depan. Manfaat Budaya 3T RP Meningkatkan Disiplin Siswa melalui kebiasaan tidak berlari, tidak berteriak, dan tidak bermain di dalam kelas, siswa belajar untuk mematuhi aturan dan menjaga aktivitas sehari-hari di sekolah. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab : Kegiatan seperti merapikan alas kaki dan memungut sampah membantu siswa memahami pentingnya bertanggung jawab terhadap barang pribadi dan lingkungan sekitar. Mewujudkan Lingkungan Sekolah yang Nyaman dan Aman : Suasana sekolah menjadi lebih tenang, bersih, dan teratur, sehingga mendukung proses belajar mengajar yang lebih efektif dan menyenangkan.
NADIA AZIRA
Lamongan, Sabtu 8/2/2025– Ajang Mathematic, Science, Sociology, and Religion (MSR) XIV yang diselenggarakan di MAN 2 Lamongan tidak hanya menjadi wadah kompetisi bagi siswa machine translation dan SMP sederajat, tetapi juga memberikan ruang pembelajaran bagi para guru pendamping melalui sesi Focus Group Discussion (FGD). Dengan mengusung tema "Deep Learning", diskusi ini bertujuan untuk menginstal ulang pola pikir para pendidik agar lebih memahami serta mampu menerapkan metode pembelajaran yang lebih mendalam. FGD ini menghadirkan Bapak Abdul Munif Khan, S. Ag. , M. Pd. sebagai pemateri utama, yang menyampaikan konsep Deep Learning dengan tiga pilar utama, yaitu BERkesadaran, BERmakna, dan BERgembira (Mindful, Meaningful, and Joyful). "Guru harus masuk ke dunia anak, sekaligus mengajak anak memahami dunia kita. Selain itu, guru juga harus melek teknologi dan memahami latar belakang siswa agar bisa membimbing mereka dengan baik tanpa memandang sebelah mata, " ujar Pak Munif saat menyampaikan materi. Menariknya, sesi FGD ini dimoderatori oleh Nadia Azira, mahasiswi Tadris Bahasa Inggris UIN Malang yang sedang melaksanakan tugas asistensi mengajar di MAN 2 Lamongan. Perannya dalam diskusi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya hadir untuk belajar, tetapi juga aktif berkontribusi dalam dunia pendidikan. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Bapak Huda mempertanyakan urgensi implementasi Deep Learning dalam pembelajaran. Ibu Syarofah ingin mengetahui bagaimana cara menanamkan kesadaran belajar pada siswa MTs/SMP yang sering kesulitan berkonsentrasi. "Untuk membangun kesadaran belajar, kita harus memahami karakter siswa dulu. Tidak cukup hanya memberi tugas dan harapan tinggi, tapi juga menciptakan suasana belajar yang membuat mereka merasa dilibatkan dan dihargai, " jelas Pak Munif saat menjawab pertanyaan. Selain itu, salah satu peserta tertarik dengan buku yang dibawa oleh Pak Munif, yaitu “Meraih Kesuksesan Akademik”, dan mempertanyakan apakah buku tersebut relevan untuk semua jenjang pendidikan. "Buku ini bisa digunakan untuk berbagai jenjang, tinggal bagaimana cara kita mengadaptasinya sesuai dengan tingkat pemahaman siswa, " jawabnya. Selain berbagi wawasan, acara ini juga menjadi ajang sosialisasi buku karya Pak Munif, yang berisi strategi sukses akademik berbasis pendekatan mendalam dalam pembelajaran. Bertempat di ruang meeting MAN 2 Lamongan, FGD ini menjadi momen penting dalam MSR XIV, tidak hanya bagi siswa yang berlomba, tetapi juga bagi guru-guru pendamping yang mendapatkan perspektif baru dalam mendidik. Usai acara, Pak Munif sempat bertanya kepada Nadia Azira tentang perasaannya mengikuti FGD ini. Nadia mengungkapkan bahwa ia merasa senang dan bersyukur bisa terlibat dalam diskusi yang sangat insight full. "Saya merasa sangat beruntung bisa ikut serta dalam FGD ini. Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan, dan yang paling berkesan adalah benar-benar bisa mengabdi di MAN 2 Lamongan melalui asistensi mengajar ini, " ujarnya dengan antusias. Kegiatan ini menegaskan bahwa pendidikan adalah proses kolaboratif antara akademisi, pendidik, dan calon pendidik, yang terus berkembang melalui diskusi, pengalaman, dan pema haman yang lebih dalam.
AZKIA SALSABILA NUR UBAY
https://medium.com/@nailatulm66/anak-ku-manja-salah-asuh-atau-memang-masanya-a3eb52b0a38c
LEVY SHAFIRA ROSYIDA
Belajar Pola Asuh Positif di Posyandu: Mengelola Screen Time Anak dengan Bijak Pada hari Selasa, 4 Maret 2025 pukul 09.00 WIB, Posyandu Pesisir 2 di Desa Sumberanyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo kembali aktif menyelenggarakan kegiatan sosial yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kali ini, kegiatan difokuskan pada isu yang sangat relevan di era digital: penggunaan gadget pada anak-anak usia dini dan bagaimana pola asuh positif bisa menjadi solusi yang tepat. Mengapa Screen Time Perlu Diperhatikan Sejak Dini? Di zaman serba digital ini, anak-anak—bahkan sejak usia balita—sudah akrab dengan berbagai perangkat elektronik seperti smartphone dan tablet. Akses mereka terhadap konten digital pun semakin mudah, mulai dari permainan interaktif, video YouTube, hingga aplikasi pembelajaran. Namun, terlalu banyak waktu di depan layar (screen time) bisa berdampak negatif bagi tumbuh kembang mereka. Menurut WHO, anak-anak usia 2–5 tahun sebaiknya tidak menghabiskan waktu lebih dari satu jam sehari di depan layar. Kenyataannya? Banyak orang tua mengalami kesulitan untuk membatasi penggunaan gadget pada anak karena kesibukan, kurangnya literasi digital, dan minimnya pemahaman tentang dampak jangka panjangnya. Beberapa dampak negatif screen time berlebih antara lain gangguan tidur, menurunnya kemampuan bersosialisasi, gangguan konsentrasi, dan bahkan risiko kecanduan. Tak sedikit kasus yang menunjukkan anak-anak mengalami gangguan perilaku akibat terlalu sering bermain gadget. Sosialisasi di Posyandu: Membangun Kesadaran Orang Tua Menanggapi fenomena ini, Posyandu Pesisir 2 mengadakan sosialisasi bertema “Screen Time bagi Anak-anak: Dampak dan Manfaat.” Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pengaruh gadget terhadap anak dan bagaimana mereka bisa menerapkan pola asuh yang positif dalam menghadapi tantangan tersebut. Melalui pemaparan materi yang informatif, orang tua diajak memahami bahwa screen time tidak selalu buruk. Jika dikelola dengan benar, gadget juga bisa menjadi sarana edukatif, memperluas pengetahuan, dan meningkatkan kemampuan kognitif anak. Materi yang disampaikan mencakup: Dampak negatif dan manfaat gadget Batasan waktu screen time yang disarankan Tips memilih konten yang aman dan mendidik Strategi pengasuhan digital yang ramah anak Refleksi dan Harapan ke Depan Kegiatan sosialisasi ini membuktikan bahwa peran Posyandu tidak hanya sebatas pelayanan kesehatan dasar, tapi juga menjadi wadah edukatif bagi keluarga dalam membentuk pola pengasuhan yang sehat. Dengan pendekatan yang tepat, orang tua dapat menjadi agen perubahan dalam keluarga mereka—menjaga anak-anak tetap terhubung dengan teknologi, namun tetap tumbuh secara optimal, sosial, dan emosional. Melalui pola asuh positif—yang menekankan komunikasi terbuka, penerapan aturan dengan kasih sayang, dan kedekatan emosional—anak-anak dapat belajar mengatur diri, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta memahami pentingnya keseimbangan dalam hidup mereka. Mari kita jadikan rumah sebagai tempat yang tidak hanya penuh cinta, tapi juga cerdas secara digital!