Thumbnail
8 months ago
Kegiatan Mengajar KKM di SMP 4 PGRI Gedangan Kabupaten Malang

SANIA FAWWAIZA ADHIYYA

Gedangan, Kabupaten Malang — Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) melaksanakan kegiatan mengajar di SMP 4 PGRI Gedangan, Kabupaten Malang, yang berlangsung selama kurang lebih sepuluh hari, mulai 5 Januari hingga 15 Januari. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk mendukung proses pembelajaran serta meningkatkan motivasi belajar siswa. Selama pelaksanaan kegiatan, mahasiswa KKM terlibat langsung dalam aktivitas pembelajaran di kelas dengan mendampingi guru mata pelajaran. Mahasiswa membantu menyampaikan materi, mengelola kelas, serta memberikan pendampingan belajar kepada siswa. Metode pembelajaran yang digunakan dibuat interaktif dan menyenangkan agar siswa lebih aktif dan mudah memahami materi yang disampaikan. Selain kegiatan mengajar, mahasiswa KKM juga berperan dalam memberikan motivasi belajar kepada siswa, menanamkan nilai kedisiplinan, serta membangun suasana belajar yang kondusif. Kehadiran mahasiswa KKM disambut dengan antusias oleh pihak sekolah dan para siswa karena memberikan variasi baru dalam proses pembelajaran sehari-hari. Pihak SMP 4 PGRI Gedangan menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa KKM yang telah membantu kegiatan belajar mengajar di sekolah. Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata, baik bagi siswa maupun mahasiswa, terutama dalam mengasah kemampuan mengajar, komunikasi, dan kepedulian sosial. Melalui kegiatan mengajar ini, mahasiswa KKM tidak hanya menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga berperan aktif dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menjadi wujud nyata sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dalam membangun sumber daya manusia yang unggul.

Thumbnail
8 months ago
Upacara Pembukaan Kegiatan KKM Kelompok 27 Argantara di Desa Argosuko

MUHAMMAD HAIKAL ADAM

https://kkm-27-argantara.blogspot.com/2026/01/upacara-pembukaan-kegiatan-kkm-kelompok.html?m=1 Pada 24 Desember 2025, setelah pelaksanaan pelepasan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), Kelompok 27 Argantara secara resmi melaksanakan upacara pembukaan kegiatan KKM yang bertempat di Kantor Balai Desa Argosuko, Kecamatan Poncokusumo. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa KKM di Desa Argosuko, sekaligus sebagai bentuk pengenalan awal kepada perangkat desa dan masyarakat setempat. Upacara pembukaan dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) serta jajaran perangkat Desa Argosuko. Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan penuh suasana kekeluargaan, mencerminkan sinergi antara mahasiswa, pihak akademik, dan pemerintah desa dalam mendukung pelaksanaan program KKM agar berjalan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua KKM Kelompok 27 Argantara, Haikal, yang memaparkan gambaran umum serta beberapa program kerja utama yang akan dilaksanakan selama kegiatan KKM. Program tersebut di antaranya meliputi seminar di MI dan MTs, serta sosialisasi sertifikasi halal yang ditujukan untuk mendukung peningkatan pemahaman masyarakat di bidang pendidikan dan pemberdayaan ekonomi berbasis kehalalan produk. Sambutan kedua disampaikan oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang menyampaikan harapan agar seluruh program kerja KKM dapat berjalan dengan lancar, tertib, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Argosuko. DPL juga menekankan pentingnya kerja sama, komunikasi yang baik, serta sikap tanggung jawab mahasiswa selama menjalankan pengabdian di tengah masyarakat. Sambutan terakhir disampaikan oleh Bapak Sucipto selaku penanggung jawab desa, yang menyambut baik kehadiran mahasiswa KKM Kelompok 27 Argantara di Desa Argosuko. Beliau berharap seluruh kegiatan yang direncanakan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat serta berjalan selaras dengan kebutuhan dan kondisi desa. Dengan dilaksanakannya upacara pembukaan ini, diharapkan kolaborasi antara mahasiswa KKM dan masyarakat Desa Argosuko dapat terjalin dengan baik dan berkelanjutan. Melalui pelaksanaan upacara pembukaan ini, Kelompok 27 Argantara secara resmi memulai seluruh rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa di Desa Argosuko. Momen ini tidak hanya menjadi simbol dimulainya program kerja, tetapi juga sebagai awal terbangunnya hubungan kerja sama yang harmonis antara mahasiswa, perangkat desa, dan masyarakat setempat. Dengan adanya dukungan dari Dosen Pembimbing Lapangan serta perangkat Desa Argosuko, Kelompok 27 Argantara optimis seluruh program yang telah dirancang dapat terlaksana secara maksimal dan tepat sasaran. Setiap kegiatan akan dilaksanakan dengan mengedepankan nilai tanggung jawab, partisipasi aktif masyarakat, serta semangat pengabdian yang berkelanjutan. Upacara pembukaan ini sekaligus menjadi penguat komitmen mahasiswa KKM untuk menjalankan perannya tidak hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam proses pemberdayaan. Diharapkan, kehadiran Kelompok 27 Argantara dapat memberikan kontribusi nyata dan meninggalkan kesan positif selama masa pengabdian di Desa Argosuko.

Thumbnail
8 months ago
Kelompok 88 KKM UIN Malang Kunjungi Sentra Gula Merah Desa Sukolilo, Pelajari Warisan Budaya Turun-Temurun Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kelompok 88 KKM UIN Malang Kunjungi Sentra Gula Merah Desa Sukolilo, Pelajari Warisan Bud

LUTFIANI RATNA WIJAYA

Mahasiswa Kelompok 88 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan kunjungan edukatif ke sentra produksi gula merah di Dusun Napel, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat potensi ekonomi lokal yang telah menjadi warisan budaya turun-temurun di desa tersebut.  Kunjungan yang dilaksanakan pada awal Januari 2026 ini disambut hangat oleh para pengusaha gula merah setempat. Para mahasiswa berkesempatan melihat langsung proses produksi gula merah dari hulu hingga hilir, mulai dari penggilingan tebu, pemasakan nira, hingga pengemasan dan produk akhir Yang menarik, pada awal produksi, penggilingan tebu menggunakan alat dari kayu dan tenaga sapi. Sejak tahun 1982, tenaga sapi mulai digantikan oleh mesin diesel berbahan solar yang kemudian berganti dengan listrik. Transformasi teknologi ini menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan esensi produksi tradisional. Pemilik pabrik menjelaskan bahwa kapasitas produksi dalam satu hari dapat mencapai satu ton, dengan perbandingan 10 Ton tebu menghasilkan satu ton gula merah. Angka ini menunjukkan bahwa produksi gula merah membutuhkan bahan baku yang sangat besar, menjadikan ketersediaan tebu lokal Mata pencaharian warga Desa Sukolilo didominasi oleh perkebunan tebu yang sudah dilakukan secara turun-temurun, didukung oleh keberadaan Pabrik Gula Krebet (PG Krebet) di Bululawang. Kondisi ini menciptakan ekosistem ekonomi yang unik di mana petani tebu memiliki dua pilihan pasar: menjual ke PG Krebet untuk diolah menjadi gula pasir, atau menjual ke pengrajin lokal untuk diolah menjadi gula merah Dalam diskusi dengan mahasiswa, pengusaha gula merah menyampaikan beberapa tantangan yang dihadapi, antara lain fluktuasi harga tebu sebagai bahan baku, persaingan dengan gula merah impor yang lebih murah, dan regenerasi pengrajin muda yang semakin berkurang karena pekerjaan ini dianggap berat dan kurang menjanjikan oleh generasi muda. Para mahasiswa Kelompok 88 melihat kunjungan ini sebagai kesempatan emas untuk memahami dinamika ekonomi desa. "Kami belajar bahwa industri tradisional seperti gula merah punya potensi besar jika dikelola dengan baik. Mungkin kami bisa membantu dalam hal branding, pemasaran digital, atau diversifikasi produk seperti gula semut atau sirup gula merah yang sedang tren," ungkap salah satu anggota timBeberapa ide program yang muncul dari kunjungan ini antara lain: pembuatan konten media sosial untuk promosi gula merah Sukolilo, pendampingan pengemasan produk agar lebih menarik, workshop pemasaran online untuk pengrajin muda, dan dokumentasi proses produksi sebagai aset promosi wisata edukasi. Kegiatan kunjungan industri ini merupakan bagian dari program kerja Kelompok 88 KKM dalam bidang studi potensi ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Dengan memahami secara mendalam tantangan dan peluang industri lokal, mahasiswa diharapkan dapat merumuskan program-program yang tepat sasaran dan berdampak nyata.

Thumbnail
8 months ago
Tahlilan Rutinan Malam Jumat: Wujud Kebersamaan Warga Dusun Umbelrejo

FAQIH MUHAMMAD RIZKY

Kehidupan masyarakat Dusun Umbelrejo, Desa Sidodadi, tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan. Salah satu kegiatan yang masih rutin dilaksanakan hingga sekarang adalah tahlilan setiap malam Jumat. Kegiatan ini telah menjadi kebiasaan warga yang dijaga secara turun-temurun dan dilaksanakan secara konsisten dari waktu ke waktu. Bagi masyarakat setempat, tahlilan bukan sekadar kegiatan membaca doa bersama. Lebih dari itu, tahlilan menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga sekaligus menguatkan nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, warga bersama-sama mendoakan para leluhur serta memohon keberkahan dan keselamatan bagi seluruh masyarakat Dusun Umbelrejo. Pelaksanaan tahlilan dilakukan secara bergantian dari rumah ke rumah sesuai kesepakatan warga. Setiap malam Jumat, rumah yang menjadi tuan rumah akan berbeda. Sistem bergiliran ini mencerminkan kuatnya rasa gotong royong dan kekeluargaan yang masih terjaga dengan baik di tengah masyarakat. Semua warga memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Tahlilan biasanya dilaksanakan setelah salat Isya. Warga berkumpul di rumah yang telah ditentukan, kemudian kegiatan dimulai dengan pembacaan tahlil dan doa bersama. Setelah acara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana. Suasana yang tercipta terasa hangat, penuh kekhidmatan, dan sarat akan nilai kebersamaan. Di tengah perubahan zaman, tahlilan rutinan ini tetap bertahan berkat kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai keagamaan dan sosial masih hidup dan dijaga dengan baik oleh warga Dusun Umbelrejo. Harapannya, tradisi tahlilan malam Jumat ini dapat terus dilestarikan dan menjadi warisan positif bagi generasi berikutnya.

Thumbnail
8 months ago
Hari Pertama Bimbingan Belajar di Posko KKM 127 Navantara UIN Malang

ISMI NATY

Bunutwetan, Pakis — Rabu, 7 Januari 2026 hari pertama kegiatan Bimbingan Belajar (Bimbel) di Posko KKM 127 Navantara UIN Malang berjalan dengan lancar dan penuh antusias. Kegiatan ini ditujukan untuk adik-adik PAUD hingga SD sebagai upaya pendampingan belajar sekaligus menumbuhkan semangat belajar sejak dini.         Pada pertemuan perdana ini, mahasiswa KKM mengawali kegiatan dengan perkenalan dan pendekatan sederhana agar adik-adik merasa nyaman. Kegiatan belajar dilakukan secara santai dan menyesuaikan usia peserta, mulai dari belajar membaca, menulis, berhitung, hingga pengenalan huruf dan angka.        Adik-adik tampak aktif dan bersemangat mengikuti kegiatan bimbingan belajar. Suasana posko menjadi lebih hidup dengan interaksi antara mahasiswa KKM dan peserta didik. Melalui kegiatan ini, diharapkan adik-adik dapat terbantu dalam memahami pelajaran serta lebih termotivasi untuk belajar.       Kegiatan bimbingan belajar di Posko KKM 127 Navantara UIN Malang ini diharapkan dapat terus berjalan dan memberikan manfaat positif bagi adik-adik PAUD–SD di lingkungan sekitar.

Thumbnail
8 months ago
KKM 121 Swastikara Nawasena Hadirkan Podcast “Masjid dan Generasi Milenial: Dari Ritual ke Ruang Ekspresi Sosial”

REZA ADAM ISDINATA

Masjid selama ini lekat dengan citra sebagai ruang sakral yang dipenuhi aktivitas ibadah, seperti shalat berjamaah, pengajian, dan kajian keislaman. Fungsi tersebut tentu menjadi ruh utama masjid. Namun, di tengah perubahan sosial dan karakter generasi milenial yang tumbuh bersama teknologi digital, masjid dituntut untuk melangkah lebih jauh. Masjid tidak lagi cukup hanya menjadi tempat singgah untuk beribadah lalu ditinggalkan, melainkan perlu hadir sebagai ruang yang hidup, dialogis, serta relevan dengan dinamika sosial generasi muda. Kesadaran itulah yang melatarbelakangi Mahasiswa KKM Kelompok 121 Swastikara Nawasena Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan podcast bertema “Masjid dan Generasi Milenial: Dari Ritual ke Ruang Ekspresi Sosial.” Kegiatan ini menjadi bagian dari program kerja pengembangan media masjid dan literasi dakwah digital selama masa pengabdian mahasiswa di lingkungan Masjid At-Taqwa. Podcast tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 10 Januari 2026, bertempat di Masjid At-Taqwa, Perumahan Bumi Tunggulwulung Indah, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Sebagai narasumber utama, hadir Dr. Ir. H. Mochammad Rofieq, S.Si., M.T., IPU., dosen Universitas Merdeka Malang sekaligus Ketua Bidang Dakwah dan Peribadatan Masjid At-Taqwa. Kehadiran beliau memberikan perspektif praktis sekaligus reflektif tentang bagaimana masjid dapat beradaptasi dengan perubahan zaman. Melalui podcast ini, mahasiswa KKM ingin menegaskan bahwa masjid tidak semata-mata berfungsi sebagai ruang ritual, tetapi juga sebagai pusat sosial, edukatif, dan kreatif bagi generasi milenial. Kegiatan ini diarahkan untuk menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) anak muda terhadap masjid, mendorong partisipasi aktif mereka, serta membuka ruang agar ide, potensi, dan inovasi generasi muda dapat berkembang melalui aktivitas yang bernilai dakwah dan sosial. Dengan begitu, masjid diharapkan mampu menjadi pusat peradaban kecil yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Dalam sesi dialog, mahasiswa KKM menggali pandangan narasumber terkait relasi masjid dengan karakter generasi milenial yang dinamis, kritis, dan akrab dengan dunia digital. Dr. Rofieq menekankan pentingnya masjid untuk menyesuaikan diri dengan realitas sosial yang terus berubah. “Masjid hari ini tidak cukup hanya menjadi tempat orang datang, shalat, lalu pulang. Masjid harus menjadi ruang yang membuat generasi muda merasa diterima, didengar, dan diberdayakan,” ujar Dr. Rofieq. Menurutnya, generasi milenial menyimpan potensi besar, khususnya di bidang komunikasi, media, desain, serta pengelolaan kegiatan sosial. Jika masjid mampu membuka ruang partisipasi, maka masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga rumah bagi ide dan karya anak muda. “Anak muda punya energi dan kreativitas. Kalau masjid tidak memberi ruang, mereka akan mencari ruang lain. Maka tugas masjid adalah menyediakan ekosistem yang sehat agar kreativitas itu tumbuh di lingkungan masjid,” lanjutnya. Podcast ini juga mengangkat masjid sebagai ruang ekspresi sosial. Artinya, masjid tidak hanya mengurusi aspek ibadah personal, tetapi turut hadir menjawab persoalan masyarakat, mulai dari pendidikan, literasi, kepemudaan, ekonomi umat, hingga dakwah berbasis media digital. Mahasiswa KKM membagikan pengalaman mereka selama berinteraksi dengan jamaah, termasuk meningkatnya keterlibatan generasi muda ketika diberi kepercayaan mengelola media sosial masjid, memproduksi konten, serta merancang kegiatan kreatif yang dekat dengan dunia anak muda.