PUTRI RISMAYANTI
Mahasiswa KKN 43 Pradipta UIN Malang menggelar kegiatan sosialisasi di SDN 3 Gading Kembar yang menyasar siswa kelas 4, 5, dan 6. Kegiatan ini berfokus pada dua isu yang semakin relevan di lingkungan sekolah dasar, yakni bullying dan penggunaan gawai secara bijak. Sosialisasi ini bertujuan menumbuhkan kesadaran sejak dini tentang dampak perilaku perundungan, baik secara verbal maupun nonverbal, serta membangun pemahaman dasar mengenai batasan penggunaan gadget di usia sekolah. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana dan pendekatan interaktif agar mudah dipahami oleh siswa. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah. Antusiasme siswa terlihat dari keaktifan mereka dalam bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman sehari-hari. Respons positif ini menunjukkan bahwa isu bullying dan penggunaan gadget memang dekat dengan realitas anak-anak, meskipun sering kali dianggap sepele. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pendamping yang membuka ruang dialog bagi siswa. Sosialisasi semacam ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, sehat, dan sadar teknologi. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib tanpa hambatan berarti. Lebih dari sekadar program KKN, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa edukasi karakter dan literasi digital perlu dilakukan secara konsisten, dimulai dari lingkungan sekolah dasar.
MUHRIZKI MAULANA ZULFAN
Penyuluhan stunting dan parenting yang dilaksanakan dalam kegiatan Posyandu Desa Kaliasri menjadi wadah berbagi pengetahuan dan penguatan peran keluarga dalam menjaga kesehatan anak. Kegiatan ini melibatkan tenaga kesehatan, kader posyandu, mahasiswa, serta masyarakat desa yang hadir dengan antusias. Suasana kebersamaan dan kepedulian tampak jelas sebagai wujud komitmen bersama dalam membangun generasi yang lebih sehat. Materi yang disampaikan dikemas secara sederhana dan interaktif, sehingga mudah dipahami oleh para orang tua. Peserta diberikan pemahaman mengenai stunting, mulai dari penyebab, dampak, hingga langkah pencegahannya sejak usia dini. Selain itu, edukasi parenting menekankan bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya dipengaruhi oleh gizi, tetapi juga oleh pola asuh, perhatian emosional, serta lingkungan yang bersih dan mendukung. Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat Desa Kaliasri terhadap pentingnya pencegahan stunting semakin meningkat. Posyandu diharapkan mampu berperan sebagai pusat edukasi keluarga, bukan hanya tempat pelayanan kesehatan. Dengan sinergi antara orang tua, kader, dan pendamping kegiatan, upaya menciptakan masa depan anak-anak Desa Kaliasri yang sehat dan berkualitas dapat terus terwujud.
RIZWATUL FACHRIYAH
Mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) Desa Kaliasri menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Tidak sekedar mengajarkan membaca Al-Qur'an, tetapi juga ikut berperan dalam membentuk karakter dan kecintaan anak-anak terhadap kitab suci. Melalui penerapan Metode Ummi, proses pembelajaran terasa lebih terstruktur, menyenangkan, dan bermakna. Metode Ummi tekanan pada pembelajaran yang tartil, sabar, dan berulang-ulang hingga anak benar-benar memahami cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar. Di TPQ Desa Kaliasri, anak-anak tidak hanya belajar mengenal huruf hijaiyah, tetapi juga dilatih untuk membaca dengan makhraj dan tajwid yang tepat. Sebagai pengajar, saya belajar untuk lebih telaten, penuh kasih, dan kreatif dalam menyampaikan materi. Suasana belajar di TPQ Kaliasri sangat hangat. Anak-anak datang dengan semangat, meskipun ada yang masih malu atau lambat dalam membaca. Dengan pendekatan Metode Ummi, setiap anak diberi kesempatan berkembang sesuai kemampuannya. Saya menyadari bahwa mengajar bukan hanya tentang mentransfer ilmu, tetapi juga tentang membangun kepercayaan diri dan kecintaan mereka pada Al-Qur'an. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menabur ilmu Al-Qur'an adalah amal jariyah yang tak bernilai. Semoga pembelajaran dengan Metode Ummi di TPQ Desa Kaliasri terus berkembang dan melahirkan generasi Qur'ani yang berakhlak mulia.
EKA RISNOVANDRA
Empat mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang memulai rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Internasional di Malaysia yang berlangsung mulai 8 Januari 2026, sebagai wujud pengabdian di tingkat internasional. Tim yang terdiri atas tiga mahasiswa laki-laki dan satu mahasiswa perempuan tersebut tiba di Malaysia pada malam hari sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Setibanya di bandara, para mahasiswa langsung menuju lokasi penempatan masing-masing sesuai pembagian tugas yang telah ditetapkan. Tiga mahasiswa laki-laki menempati Sanggar Bimbingan Kampung Pandan, sementara satu mahasiswa perempuan ditempatkan di Sanggar Bimbingan Kepong. Pada malam kedatangan, mahasiswa disambut oleh pengurus sanggar di masing-masing lokasi. Pertemuan awal berlangsung singkat dan diisi dengan perkenalan serta komunikasi awal sebelum mahasiswa beristirahat. Kegiatan pengabdian mulai dilaksanakan keesokan harinya, Kamis (8/1/2026), di Sanggar Bimbingan Kampung Pandan. Mahasiswa melakukan perkenalan dengan adik-adik sanggar belajar dan berinteraksi dalam suasana santai sebagai langkah awal membangun kedekatan emosional. Pada malam harinya, mahasiswa juga turut membantu kegiatan mengaji rutin yang menjadi bagian dari aktivitas keagamaan sanggar. Pengurus Sanggar Bimbingan Kampung Pandan, Bunda Nuriyah Mahfud, M.I.SS., menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa KKM Internasional UIN Malang memberikan dampak positif bagi aktivitas pendidikan dan pembinaan keagamaan di sanggar. “Mahasiswa sangat membantu kami dalam mendampingi anak-anak, baik saat belajar maupun mengaji. Kehadiran mereka menambah semangat anak-anak, sekaligus menjadi motivasi karena mereka bisa berinteraksi langsung dengan mahasiswa dari Indonesia,” ujar Bunda Nuriyah. Ia juga menilai keterlibatan mahasiswa mampu memperkuat suasana belajar yang humanis dan penuh kebersamaan di Sanggar Bimbingan Kampung Pandan, yang selama ini menjadi ruang pendidikan alternatif bagi anak-anak komunitas. Sementara itu, mahasiswa yang ditempatkan di Sanggar Bimbingan Kepong belum memulai kegiatan belajar bersama anak-anak. Pada tahap awal, aktivitas difokuskan pada perkenalan dan diskusi dengan pengurus sanggar, mengingat kegiatan pembelajaran di lokasi tersebut masih belum berjalan secara aktif. Pengurus Sanggar Bimbingan Kepong menjelaskan bahwa koordinasi awal menjadi langkah penting untuk menyesuaikan rencana kegiatan mahasiswa dengan kondisi sanggar. “Untuk sementara kami berdiskusi mengenai jadwal dari delegasi UIN Malang. Selanjutnya akan kami koordinasikan kembali dengan delegasi dari sekolah dan kampus lain,” katanya. Melalui program KKM Internasional yang berlangsung sejak 8 Januari 2026 ini, mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata di bidang pendidikan dan keagamaan, sekaligus memperoleh pengalaman pengabdian lintas negara serta memperkuat kemampuan adaptasi dan kerja sama lintas budaya.
MUCHAMMAD HIDAYATULLAH
Kuliah kerja Masyarakat (KKM) program wajib yang diadakan disetiap kampus untuk mahasiswa semester 5. kalini kampus UIN Malang melepaskan mahasiswa untuk terjun dan berbaur ke masyarakat. memberikan perubahan dalam fokus "Membangun Desa Berkelanjutan Berbasis Penguatan Moderasi Beragama dan Potensi Lokal". Seperti mahasiswa dari kelompok 188 yang melakukan KKM Mandiri Integritas di Desa Gambiran, Dusun Jagil, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Pelaksaaan KKM Mandiri Intgritas, di Dusun Jagil diawali dengan semangat koloboratif antara mahasiswa kelompok 188 UIN Malang dengan masyarakat setempat. berbagai elemen warga juga dilibatkan dalam menjalankan program kerja yang ada. harapannya semua programa dapat memberikan dampak positif untuk berbagai bidang, seperti pembangunan desa berkelanjutan, moderasi beragama, serta membangun potensi lokal yang ada di desa setempat. kegiatan ini resmi berjalan dengan dilakukannya acara pembukaan. Acara pembukaan KKM Mandiri Intgritas, yang dilaksanakan di kantor posyandu dusun jagil dengan penuh rasa semangat dan hikmat. Dan dihadiri oleh segenap elemen masyarakat mulai dari kepala dusun hingga ketua RT, serta dosen pemdamping Lapangan (DPL) yang mendukung kelancaran acaran pembukaan KKM Mandiri Intgritas (25 Desember 2025). Rangkaian acara yang berlangsung dengan hikmat. diawali dengan pembukaan oleh Master of Ceremony (MC). setelah itu dilanjutkan dengan sambutan - sambutan, Mulai dari ketua kelompok 188 KKM Mandiri Integritas Bima Raka Laksamana Putra dengan tujuan kkm "memperluas publikasi branding dusun dengan potensi lokal yang ada" ujar ketua kelompok 188. Serta dilajutkan dengan sambutan oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Whida Rositama M.Hum dalam sambutannya ia menyampaikan terimakasi kepada masyarakat yang mau menerima dan mengijinkan mahasiswa dampingannya untuk menjalankan pengabdiaan selama satu bulan kedepan, dan ia berharap agar dengan adanya kegiatan inj dapat membantu masrakat setempat. "saya menyerahkan anak - anak kelompok 188 ini untuk dibina dan bimbing agar dapat bermanfaat untuk kemajuan dusun ini." ujar Whida Rositama M.Hum Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). lalu sambutan dilanjutkan dengan kepala Dusun Jagil, Pipit Subroto dalam sambutanya ia sangat senang dengan kedatangan mahasiswa UIN Malang dalam kegiatan KKM Mandiri. Ia juga berharap agar dengan adanya mahasiswa ini dapat memberikan terobosan dan perubahan yang baik keduapannya selama satu bulan pengabdian ini. "terimakasih sudah berkenan untuk memilih dusun ini untuk jadi tempat KKM kalian semoga ini menjadi langkah baik untuk dusun ini." ujar Pipit Subroto Kepala Dusun jagil. Setelah itu acara dilanjutkan dengan pemaparan program kerja oleh sekertaris. program kerja yang sudah dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan dusun setempat dengan memadukan dengan nilai-nilai keagamaan. seperti perogram pendidikan karakter anak dengan menanamkan nilai - nilai islami hingga membantu potensi - potensi yang ada di masyarakat setempat. Acara dilanjutkan dengan pembacaan do'a agar kegiatan KKM Mandiri Intgritas selama satu bulan ini bisa dapat berjalan dengan baik.
MUHAMMAD IRHAM IMAM SANTOSO
Permasalahan lingkungan sering kali dianggap sebagai isu besar yang hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah atau pihak tertentu. Padahal, ketika terjun langsung ke masyarakat, saya justru menyadari bahwa perubahan lingkungan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, yaitu dari rumah sendiri. Pengalaman ini saya rasakan selama mengikuti kegiatan KKM Karsa Digisyar, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, di Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, khususnya saat melaksanakan sosialisasi Eco Green. Di desa, persoalan lingkungan masih sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sampah rumah tangga menumpuk, plastik digunakan hampir setiap hari, selokan sering tersumbat, dan sebagian warga masih membakar sampah tanpa menyadari dampaknya bagi kesehatan. Kondisi ini tidak hanya membuat lingkungan terlihat kotor dan bau, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit seperti diare dan demam berdarah. Dari situ saya menyadari bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar teori, melainkan masalah nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui sosialisasi Eco Green, masyarakat diperkenalkan pada konsep hidup ramah lingkungan yang sebenarnya sangat sederhana. Eco Green bukan tentang teknologi canggih atau aturan yang rumit, melainkan tentang kebiasaan hidup yang lebih bijak, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, dan memanfaatkan sampah organik dengan baik. Menurut saya, kesederhanaan inilah yang menjadi kekuatan utama dari konsep Eco Green, karena mudah dipahami dan diterapkan oleh siapa saja. Hal yang menarik perhatian saya adalah penekanan bahwa gerakan Eco Green sebaiknya dimulai dari rumah. Sampah paling banyak berasal dari dapur, dan ibu rumah tangga memiliki peran besar dalam mengatur pola konsumsi serta kebersihan keluarga. Ketika ibu terbiasa memilah sampah, membawa tas belanja sendiri, atau menggunakan botol minum isi ulang, kebiasaan tersebut secara tidak langsung akan ditiru oleh anak-anak. Dari sinilah perubahan kecil bisa tumbuh menjadi kebiasaan yang berdampak besar. Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat juga diajak untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik. Sisa makanan, sayuran, dan daun dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman dan mengurangi bau tidak sedap. Sementara itu, penggunaan plastik sekali pakai dianjurkan untuk dikurangi karena membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Menurut saya, solusi-solusi ini sangat realistis karena tidak memerlukan biaya besar, hanya membutuhkan kesadaran dan kemauan untuk berubah. Sebagai mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang terlibat langsung dalam kegiatan KKM, saya melihat bahwa edukasi lingkungan seperti ini sangat penting untuk terus dilakukan. Sosialisasi Eco Green tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. Jika kebiasaan ramah lingkungan ini dilakukan secara konsisten, desa akan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi semua warganya. Pada akhirnya, pengalaman di Desa Campurdarat mengajarkan saya bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar. Cukup dengan perubahan kecil yang dilakukan setiap hari di rumah, kita sudah ikut berkontribusi melindungi lingkungan. Seperti pesan yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut, "Ibu Peduli, Lingkungan Terlindungi", karena dari keluarga yang peduli, akan lahir lingkungan desa yang lebih baik.