ILMA FAUZIYAH
https://www.kompasiana.com/khazimah00827/681b646d34777c5625233682/mahasiswa-uin-malang-tumbuhkan-kesadaran-parenting-lewat-seminar-anak-bahagia-tumbuh-tanpa-luka-pendampingan-emosional-sejak-dini
RAIHAN MALIKAL HASAN
Menanamkan Nilai Moderasi Beragama Sejak Dini: Belajar Bersama Anak Yatim di Jombang Moderasi beragama menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga kerukunan dan kedamaian bangsa Indonesia. Mengajarkan nilai ini sejak usia dini sangatlah strategis agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang toleran dan menghargai perbedaan. Baru-baru ini, kegiatan edukatif bertajuk “Menanamkan Nilai Moderasi Beragama Sejak Dini: Belajar Bersama Anak Yatim” dilaksanakan di Yayasan Yatim Mandiri, Desa Pandanwangi, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Kegiatan ini dirancang khusus untuk anak-anak yatim piatu yang berada di bawah binaan yayasan tersebut. Pendekatan Edukatif dan Partisipatif Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan metode yang interaktif dan menyenangkan, disesuaikan dengan karakteristik dan usia anak-anak. Sebelum pelaksanaan, tim melakukan observasi lokasi untuk memahami kondisi lingkungan, jumlah dan usia peserta, serta kesiapan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan agar kegiatan berjalan lancar dan nyaman bagi anak-anak. Pada sesi inti, anak-anak diajak menyaksikan video edukatif dari YouTube yang membahas nilai-nilai moderasi beragama dengan bahasa yang sederhana dan visual menarik. Media audiovisual ini dipilih karena efektif dalam menyampaikan pesan moral dan nilai keagamaan dengan cara yang komunikatif dan mudah dipahami. Diskusi dan Cerita Inspiratif Setelah menonton video, fasilitator memandu diskusi interaktif. Anak-anak diberikan kesempatan untuk bertanya, mengemukakan pendapat, dan mengaitkan nilai yang mereka pelajari dengan pengalaman sehari-hari. Diskusi ini menjadi momen penting bagi anak-anak untuk mengekspresikan pemikiran dan mulai memahami pentingnya toleransi, gotong royong, serta sikap saling menghargai antarumat beragama. Untuk memperkuat pesan, fasilitator juga membagikan cerita inspiratif dari tokoh agama dan masyarakat yang menunjukkan contoh sikap moderat dan toleran. Penyajian cerita dalam bentuk narasi ringan dan menarik membuat anak-anak lebih mudah mencerna nilai-nilai tersebut. Dampak Positif dan Tantangan Kegiatan ini diikuti oleh 25 anak yatim piatu yang menunjukkan antusiasme tinggi. Selama pemutaran video dan sesi diskusi, mereka aktif menyimak dan merespons dengan penuh perhatian. Salah satu anak bahkan menyatakan bahwa menghormati teman yang berbeda agama adalah bentuk kebaikan yang diajarkan oleh guru dan keluarga mereka. Menurut teori belajar sosial Bandura, anak-anak belajar efektif melalui observasi dan pengalaman sosial yang dikaitkan dengan representasi simbolik seperti video. Hal ini tercermin dari perubahan sikap yang terlihat, mulai dari yang pendiam menjadi lebih aktif dan saling menghargai dalam berbicara. Meski ada beberapa kendala teknis seperti gangguan suara, fasilitator cepat mengatasinya dengan penyesuaian alat dan penjelasan langsung. Perbedaan tingkat pemahaman anak-anak juga membuat fasilitator menyesuaikan bahasa dan memberi contoh konkret agar materi lebih mudah dimengerti. Harapan untuk Masa Depan Pihak Yayasan Yatim Mandiri menyambut baik kegiatan ini dan berharap program serupa bisa dilakukan secara berkelanjutan. Penanaman nilai moderasi beragama sejak dini menjadi fondasi penting untuk mencegah intoleransi, ujaran kebencian, dan radikalisme di masa depan. Dengan bimbingan yang terus menerus, anak-anak yatim piatu yang merupakan bagian dari generasi penerus bangsa ini diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang moderat, toleran, dan cinta damai. https://docs.google.com/document/d/1VuG2gyFP36l7ce83POXChSrGBdgRY92_/edit?usp=drive_link&ouid=108708457943628750302&rtpof=true&sd=true
SAHILA RIZQIANI MUFIDAH
Saat ini kita sedang berada di zaman serba digital. Sehingga, banyak sekali masyarakat yang saat ini melupakan tradisi kebudayaan yang ada di indonesia contohnya permainan tradisional. Mereka lebih memilih untuk bermain gadjet dari pada menerapkan budaya budaya tradisional yang ada di indonesia. Pada bab terakhir pembelajaran pancasila siswa mempelajari tentang apa saja macam-macam permainan tradisional. Agar mereka mengetahui apa dan bagaimana cara bermain maka kita sebagai seorang pendidik harus memperkenalkan kepada mereka agar mereka tidak lupa akan budaya yang ada disekitar mereka dengan cara mengajak mereka untuk memperaktikkan bagaimana cara bermain. Pada bab ini siwa dibentuk menjadi beberapa kelompok untuk mempereraktikkan macam-macam permainan tradisional. Setiap kelompok harus memainkan permainan yang berbeda agar masing-masing kelompok dapat mencoba pada masing-masing permainan. Disinlah saat di tengah gempuran teknologi dan pesatnya perkembangan dunia digital, permainan tradisional tetap memiliki daya tarik yang tidak lekang oleh waktu. Meski anak-anak kini lebih akrab dengan gawai, media sosial, dan game daring, ternyata belajar permainan tradisional justru menjadi pengalaman unik yang menyenangkan sekaligus mendidik bagi anak-anak. Perpaduan antara warisan budaya dan inovasi digital kini membuka jalan baru bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai permainan khas Indonesia. Permainan tradisional seperti gobak sodor, congklak, engklek, bentengan, hingga egrang bukan sekadar bentuk hiburan. Permainan ini sarat akan nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, kerja sama tim, hingga ketangkasan fisik dan kecerdikan. Selain itu, permainan tradisional juga mengajarkan anak-anak untuk bersosialisasi secara langsung, sebuah hal yang semakin langka di era serba digital ini. Manfaat Lain dari Belajar Permainan Tradisional Menumbuhkan rasa cinta budaya lokal: Anak-anak jadi mengenal dan menghargai warisan budaya bangsanya sendiri. Mengurangi ketergantungan terhadap gadget: Bermain secara fisik membantu mengurangi screen time yang berlebihan. Meningkatkan kreativitas dan interaksi sosial: Permainan tradisional cenderung lebih fleksibel dan memicu imajinasi serta komunikasi antar pemain. Belajar permainan tradisional di era digital bukan hanya mungkin, tetapi justru sangat menyenangkan dan relevan. Dengan pendekatan kreatif, permainan masa lalu bisa hidup kembali dan menyatu dengan gaya hidup modern. Sudah saatnya kita tidak hanya melestarikan, tetapi juga mengembangkan permainan tradisional sebagai bagian dari pendidikan karakter dan kebudayaan bangsa.
ZAYYAN ZAIDAN NASUTION
Sabtu, 20 April 2024 — Warga Pesona 7 & 8 GKR Gresik bersama Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Malang sukses menggelar acara Halal Bihalal yang penuh kehangatan dan kebersamaan di kawasan perumahan Pesona GKR, Gresik. Kegiatan ini menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antara warga dan para mahasiswa KKM, yang telah menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat selama masa pengabdian. Dengan semangat kebersamaan dan nilai kekeluargaan, acara Halal Bihalal ini dihadiri oleh lintas generasi warga serta tokoh masyarakat setempat. Acara berlangsung hangat dan akrab, mencerminkan kekompakan warga Pesona 7 & 8 dalam menjalin keharmonisan sosial. Selain menjadi momentum saling memaafkan pasca-Ramadan, kegiatan ini juga menjadi ruang interaksi positif antara masyarakat dan mahasiswa, yang turut menampilkan persembahan seni dan tausiyah ringan penuh makna. Acara ini tidak hanya memperkuat ikatan antarwarga, tetapi juga menjadi bukti nyata keberhasilan sinergi antara dunia akademik dan kehidupan bermasyarakat dalam bingkai nilai-nilai Islami. Selengkapnya dapat diakses di tautan berikut ini: https://www.kompasiana.com/zayyanzaidan3965/683333e3c925c4302f156432/guyub-dan-harmonis-warga-pesona-7-8-gkr-gresik-adakan-acara-halal-bi-halal-bersama-dengan-mahasiswa-kkm-uin-malang
WIDYA NUR INDAH PUSPITA SARI
Blitar , 22 Februari 2025 Dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat, peran orang tua dalam mendampingi anak menjadi semakin krusial. Untuk itu, MIN 10 Blitar mengadakan seminar bertajuk "Pengasuhan di Era Digital", yang bertujuan memberikan wawasan bagi para orang tua dalam membimbing anak-anak mereka di tengah kemajuan teknologi dan informasi. Seminar ini menghadirkan dua narasumber ahli di bidangnya, yaitu Prof. Dr. Esa Nur Wahyuni, M.Pd dan Eko Muji Nur Utami, A.Md. Kedua pembicara ini membahas bagaimana pola asuh yang tepat dalam membantu anak tumbuh dan berkembang secara optimal tanpa terjebak dalam dampak negatif teknologi. Dengan tema "Menghadapi Perkembangan Anak di Era Digital", seminar ini menyoroti tantangan yang dihadapi orang tua dalam era digital, termasuk bagaimana mengontrol penggunaan gadget pada anak serta membangun komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Selain membahas aspek parenting, seminar ini juga menyoroti pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi anak-anak. Dengan gaya hidup yang semakin modern, pola makan anak kerap berubah dan tidak selalu sesuai dengan kebutuhan nutrisi yang optimal. Para peserta seminar mendapatkan wawasan tentang bagaimana memberikan asupan makanan bergizi yang dapat menunjang tumbuh kembang anak secara maksimal. Acara ini juga dipandu oleh dua moderator, yaitu Elsa Dwi Rohmatul Inayah dan Cindy Azzalina, yang membantu jalannya diskusi interaktif antara narasumber dan peserta. Tidak hanya sekadar mendengarkan pemaparan materi, para orang tua yang hadir juga diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi mengenai pengalaman serta permasalahan yang mereka hadapi dalam mendidik anak di era digital ini. Seminar yang berlangsung di MIN 10 Blitar, Sukosewu, Gandusari, Blitar, ini mendapat respons yang sangat positif dari para peserta. Dengan total waktu pelaksanaan dari pukul 07.30 hingga 10.30 WIB, acara ini menjadi ajang berbagi ilmu yang sangat bermanfaat bagi para orang tua dalam membimbing anak-anak mereka agar tetap tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan mental, serta mampu menghadapi tantangan zaman. Diharapkan dengan adanya seminar seperti ini, kesadaran orang tua akan pentingnya pola asuh yang baik serta pemenuhan gizi anak semakin meningkat, sehingga dapat menciptakan generasi yang cerdas, sehat dan siap menghadapi era digital dengan bijak.
MARWAH MABRUKAH
https://www.kompasiana.com/marwahmabrukah6463/681ecfcbed641574931a95b2/mahasiswa-kkm-uin-malang-gelar-lomba-mewarnai-anak-tpq-lintas-agama-sebagai-upaya-moderasi-beragama-di-masjid-baiturrahim-ngaringan-blitar