ANANTARI DWI PURWANTO
Edukasi Cerdas Berencana di Posyandu Flamboyan 05 merupakan salah satu upaya nyata dalam mencegah stunting sejak dini di Dusun Besuki, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo. Kegiatan Edukasi Cerdas Berencana ini merupakan bagian dari program kerja Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 23 Armonia sebagai wujud perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak, terutama dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keluarga, pola asuh yang baik, serta pemenuhan gizi yang seimbang untuk balita. Kegiatan edukasi ini melibatkan para kader posyandu dan ibu balita yang mengikuti serangkaian acara dengan antusias. Edukasi Cerdas Berencana mengangkat tema “Cegah Stunting Sejak Dini, Wujudkan Generasi Sehat dan Cerdas.” Dalam penyampaian materi yang dibawakan oleh Ibu Diah Agustina, dijelaskan bahwa stunting merupakan masalah pertumbuhan yang dialami anak karena kekurangan gizi dan infeksi dalam jangka panjang, yakni dari masa kehamilan sampai anak berusia dua tahun. Ciri utama kondisi ini adalah tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan usianya dan dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan serta kesehatan anak di masa mendatang. Oleh karena itu, Upaya untuk mencegah stunting sejak awal sangat penting dalam membentuk generasi yang sehat dan cerdas. Upaya nyata untuk mencegah stunting bisa dilakukan dengan memastikan asupan gizi yang memadai bagi ibu yang sedang hamil, memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan, dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI yang bergizi seimbang, menerapkan pola asuh yang baik, serta menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi. Selain itu, keterlibatan keluarga secara aktif dan pemeriksaan perkembangan anak secara rutin di posyandu merupakan faktor penting dalam menciptakan generasi yang sehat dan cerdas. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Dalam sesi ini, ibu-ibu balita dapat berbagai masalah yang mereka hadapi dalam pengasuhan anak dan mendapatkan jawaban serta insight baru tentang pentingnya menjaga hidup bersih dan sehat. Dengan terjalinnya kerja sama antara posyandu, masyarakat, dan KKM Kelompok 23 Armonia, diharapkan masyarakat menjadi lebih paham tentang pentingnya pencegahan stunting sejak usia dini dan mampu menerapkan pengetahuan yang didapat dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat memberikan dampak berkelanjutan dalam mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
NUZILATUS SA`ADAH
Suasana pagi di lapangan Sekolah Dasar Negeri (SDN) tampak berbeda dari biasanya. Gelak tawa dan teriakan riang ratusan siswa pecah saat sekelompok mahasiswa peserta Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) mengambil posisi di depan barisan sebagai instruktur senam. Program ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk meningkatkan kesehatan sekaligus membangun kedekatan emosional dengan anak-anak melalui aktivitas fisik yang menyenangkan. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat pagi ini mengusung misi sederhana namun bermakna: menularkan semangat hidup sehat sejak dini. Tidak hanya sekadar menggerakkan badan, kehadiran para mahasiswa memberikan warna baru bagi rutinitas olahraga di sekolah tersebut. Semangat Pagi yang Menular Menciptakan momen keceriaan anak SDN melalui gerakan senam pagi sehat yang dirancang khusus oleh para mahasiswa mengabdi. Sejak pukul 07.00 WIB, para siswa sudah berkumpul dengan seragam olahraga mereka. Di depan para siswa dan di bagian kanan dan kiri mahasiswa KKM mulai memperagakan gerakan senam yang energik namun mudah diikuti. Musik bertempo cepat yang sedang populer di kalangan anak-anak diputar, menambah kemeriahan suasana. Sebagai instruktur senam, para mahasiswa tidak hanya berdiri kaku. Mereka sering kali Mengumbar senyum sehingga menambah kehangatan suasana, dan memberikan apresiasi lewat jempol atau tepuk tangan bagi siswa yang bergerak paling semangat. Gaya instruksi yang komunikatif dan ramah anak ini membuat para siswa tidak merasa sedang menjalankan kewajiban sekolah, melainkan sedang bermain bersama kakak-kakak mahasiswa. Membangun Fokus Lewat Kebugaran, Pihak sekolah menyambut baik inisiatif ini. Menurut para guru, kehadiran sosok "kakak mahasiswa" memberikan motivasi tambahan yang jarang didapatkan dari rutinitas harian. Setelah senam selesai, wajah-wajah lelah namun berseri terlihat di sepanjang selasar sekolah. Kepala Sekolah menyampaikan bahwa kegiatan fisik seperti ini sangat berdampak pada kesiapan mental siswa di kelas. Anak-anak sangat antusias. Ketika fisik mereka segar dan suasana hati mereka senang setelah senam bersama mahasiswa KKM, mereka jadi lebih fokus dan semangat saat masuk ke jam pelajaran pertama. Kegiatan ini membuktikan bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat tidak melulu soal program pembangunan fisik, tetapi juga sentuhan humanis yang mampu membangkitkan keceriaan di lingkungan pendidikan dasar. Harapan untuk Pola Hidup Sehat, Program kerja ini diharapkan tidak berhenti saat masa KKM berakhir. Para mahasiswa juga membagikan daftar lagu dan panduan gerakan senam sederhana kepada guru olahraga agar bisa diterapkan secara rutin. Melalui interaksi yang positif ini, mahasiswa KKM berhasil menanamkan pesan bahwa menjadi sehat itu bisa dimulai dengan cara yang sangat menyenangkan. Keceriaan pagi itu ditutup dengan berakhirnya sesi senam antara mahasiswa dan siswa. Sebuah momen sederhana yang membekas, membuktikan bahwa dedikasi mahasiswa di lapangan mampu membawa perubahan positif bagi semangat belajar generasi penerus bangsa.
ARMILLA FATIMATUZ ZAHRO
Memasuki penghujung masa pengabdian KKM, Kelompok KKM Anantadarma meluangkan waktu untuk sejenak berhenti dari rutinitas lapangan dan memberi ruang bagi diri sendiri. Pada Selasa, 27 Januari 2026, kami melaksanakan kegiatan tadabur alam di Pantai Tanjung Penyu sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara pengabdian, refleksi diri, dan kebersamaan tim selama pelaksanaan KKM. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh anggota kelompok yang berjumlah tiga belas orang. Persiapan kegiatan dimulai sejak pukul 02.00 dini hari. Seluruh anggota kelompok berkumpul di posko untuk memasak dan menyiapkan bekal secara mandiri. Suasana kebersamaan dan antusiasme terasa begitu hangat. Sekitar pukul 03.00 kurang, rombongan Anantadarma berangkat bersama-sama menuju lokasi dengan menggunakan sepeda motor. Perjalanan menuju Pantai Tanjung Penyu menjadi pengalaman tersendiri bagi kami. Di tengah perjalanan, kami sempat melewati jalanan sempit gelap, dan dikelilingi pepohonan serta semak-semak. Rasa takut sempat muncul, namun tidak menjadi penghalang. Justru dalam suasana tersebut, kami belajar untuk saling menjaga, saling menunggu, memastikan semua tetap bersama dan tidak ada satu pun yang tertinggal. Kebersamaan membuat perjalanan terasa lebih aman dan bermakna. Sekitar pukul 05.00 WIB, kami tiba di Pantai Tanjung Penyu. Sesampainya di lokasi, kami menunaikan shalat Subuh bersama sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan perjalanan. Setelah itu, kami menuju bibir pantai untuk menikmati suasana pagi. Cahaya matahari yang perlahan muncul, suara deburan ombak, serta semilir angin laut menjadi pemandangan yang menenangkan. Momen tersebut kami abadikan dengan berfoto bersama, sebagai kenangan kebersamaan Anantadarma. Usai berfoto, kami menikmati sarapan dari bekal yang telah disiapkan sebelumnya. Duduk melingkar bersama, bercengkrama, bercanda, dan berbagi cerita sambil menikmati angin sepoi-sepoi pantai membuat hati terasa penuh dan hangat. Pada saat itu, kami benar-benar merasakan arti kebersamaan yang sederhana namun bermakna. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan bermain air laut bersama. Kami menceburkan diri, bermain air, saling bercanda, tertawa lepas tanpa beban, hingga kejar-kejaran dan lempar-lemparan pasir pantai. Gelak tawa menyatu dengan suara ombak, menciptakan suasana bahagia yang sulit dilupakan. Tadabur alam ini menjadi ruang bagi kami untuk sejenak melepaskan penat, menyatu dengan alam, dan mensyukuri kebersamaan yang Allah anugerahkan. Di momen ini pula, kami bukan lagi sekadar tim kerja, tetapi keluarga kecil yang sedang menikmati waktu bersama sebelum akhirnya harus kembali ke jalan masing-masing. Tanpa terasa, waktu beranjak siang. Rasa lelah mulai menyapa, dan kami pun beristirahat di gazebo pantai. Beberapa dari kami sempat tertidur sejenak. Di bawah semilir angin pantai, rasa lelah terasa terbayar dengan ketenangan yang begitu nikmat. Setelah bangun, kami mandi, membersihkan diri, dan mulai berkemas untuk kembali ke posko. Rombongan Anantadarma kemudian bertolak pulang dan tiba kembali di posko sekitar pukul 17.00 WIB. Meski tubuh terasa lelah, hati kami dipenuhi rasa syukur dan kebahagiaan. Kegiatan tadabur alam ini tidak hanya menjadi momen healing, tetapi juga sarana mempererat solidaritas, kekompakan, dan rasa saling memiliki antaranggota kelompok. Tak hanya itu, momen ini menjadi penutup yang manis di penghujung KKM; ruang untuk menguatkan diri, merawat kebersamaan, dan menyimpan kenangan sebelum masa pengabdian benar-benar usai. Bagi kami, Anantadarma, tadabur alam ini menjadi pengingat bahwa di tengah padatnya program pengabdian, kami tetap perlu memberi ruang untuk merenung, mensyukuri ciptaan-Nya, dan menguatkan kebersamaan. Di penghujung akhir masa pengabdian ini, kami belajar bahwa kebersamaan, tawa, suka, duka dan proses yang kami jalani bersama adalah bagian paling berharga dari perjalanan KKM kami.
ACHMAD IRFAN AFFANDY
Pernikahan sering kali dianggap sebagai garis finis dari sebuah pencarian cinta, namun bagi remaja, melangkah ke jenjang tersebut tanpa persiapan matang ibarat terjun ke medan perang tanpa senjata. Fenomena pernikahan dini yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah menjadi alarm keras bagi kualitas generasi mendatang, tidak terkecuali di wilayah pedesaan yang kental dengan nilai tradisi. Melalui program pengabdian masyarakat di Dusun Besuki, Desa Wringinanom, kelompok KKM ARMONIA 23 UIN Malang hadir untuk menanamkan pola pikir "Cerdas Berencana" kepada para siswa SMP dan SMA sebagai upaya preventif memutus rantai pernikahan di bawah umur. Kegiatan strategis ini dipimpin langsung oleh Fadel Muhammad, selaku Ketua KKM ARMONIA 23, yang menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa di Desa Wringinanom harus membawa dampak nyata bagi pembangunan karakter pemuda setempat. Fadel menyampaikan bahwa visi besar dari program ini adalah menciptakan agen perubahan dari kalangan remaja itu sendiri. Menurutnya, fondasi sebuah desa yang maju sangat bergantung pada bagaimana generasi mudanya mempersiapkan masa depan mereka dengan penuh perhitungan, bukan sekadar mengikuti arus sosial yang ada. Sasaran utama sosialisasi ini adalah remaja usia sekolah (SMP-SMA) di lingkungan Dusun Besuki, karena pada fase inilah mereka mulai membentuk jati diri dan sering kali dihadapkan pada persimpangan antara melanjutkan pendidikan atau menikah muda. Cerdas berencana bukan sekadar slogan, melainkan ajakan bagi siswa SMP-SMA untuk memahami bahwa tubuh dan mental mereka masih membutuhkan waktu untuk tumbuh dengan sempurna. Mahasiswa KKM ARMONIA 23 ingin memastikan bahwa remaja Desa Wringinanom tumbuh menjadi pribadi yang memprioritaskan kematangan diri sebelum memikul tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga atau ibu rumah tangga. Dalam sesi inti sosialisasi, Maulidatul Fikriyah hadir sebagai pemateri yang mengupas tuntas risiko di balik pernikahan dini dari berbagai sudut pandang. Beliau menekankan bahwa secara biologis, tubuh remaja belum sepenuhnya siap untuk proses reproduksi yang aman, sehingga pernikahan di usia sekolah sangat berisiko terhadap kesehatan ibu dan peningkatan angka stunting pada anak. Edukasi yang disampaikan oleh Maulidatul Fikriyah membuka mata para peserta bahwa menunda usia pernikahan hingga mencapai usia ideal bukanlah tentang menghambat kebahagiaan, melainkan tentang menghargai hak reproduksi dan kesehatan jangka panjang. Selain aspek kesehatan, kematangan emosional menjadi pilar yang ditekankan bagi para remaja di Dusun Besuki melalui pendekatan yang interaktif dan humanis. Remaja SMP dan SMA yang masih dalam fase pertumbuhan cenderung memiliki emosi yang fluktuatif, sehingga sangat rentan terhadap konflik jika dipaksakan memikul beban rumah tangga terlalu dini. Melalui bimbingan ini, para siswa didorong untuk mengalihkan energi mereka pada pengembangan potensi diri, hobi yang produktif, dan organisasi. Kedewasaan seharusnya tidak diukur dari status pernikahan, melainkan dari kemampuan individu dalam mengelola emosi dan menyelesaikan masalah secara bijak. Aspek pendidikan dan ekonomi juga menjadi poin krusial yang dibahas dalam diskusi bersama remaja Wringinanom. Menuntaskan wajib belajar 12 tahun hingga menapaki jenjang perguruan tinggi adalah investasi terbaik yang bisa dilakukan oleh remaja di Dusun Besuki untuk memutus lingkaran kemiskinan sistemik. Dengan memilih untuk cerdas berencana, siswa SMP dan SMA memiliki kesempatan untuk meraih cita-cita dan memiliki keterampilan kerja yang memadai. Hal ini menjadi krusial agar saat mereka membangun keluarga nanti, mereka telah memiliki kemandirian ekonomi yang mampu menopang kesejahteraan rumah tangga secara berkelanjutan. Sebagai penutup, langkah yang diambil oleh KKM ARMONIA 23 UIN Malang di Desa Wringinanom adalah upaya kolektif untuk menciptakan fondasi bangsa yang kokoh dari lingkup terkecil. Pernikahan bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling siap. Dengan sinergi antara arahan Fadel Muhammad dan pemaparan materi dari Maulidatul Fikriyah, diharapkan remaja di Dusun Besuki mampu menjadi generasi yang visioner. Dengan perencanaan yang matang, kita tidak hanya menyelamatkan masa depan remaja dari risiko sosial, tetapi juga sedang mempersiapkan lahirnya keluarga-keluarga berkualitas yang akan membawa Desa Wringinanom menjadi wilayah yang lebih maju, cerdas, dan berdaya.
AULIA NAYLA PUTRI NURLAILI
Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 2025/2026 secara resmi dibuka di Desa Wringinanom pada Kamis, 25 Desember 2025. Pembukaan ini menandai bahwa telah dimulainya kegiatan pengabdian masyarakat yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa KKM Kelompok 23 bertepatan berada di Dusun Besuki dan Kelompok 40 di Dusun Simpar selama periode penugasan KKM dari UIN Malang yang telah ditentukan di desa tersebut. Acara pembukaan berlangsung di balai desa yang dihadiri oleh Perangkat Desa Wringinanom, Karang taruna Desa, dan seluruh Mahasiswa KKM kelompok 23 dan kelompok 40 UIN Malang. Pembukaan KKM yang digelar secara gabungan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi dan perpaduan program kerja antar kelompok dalam mendukung pembangunan di Desa Wringinanom. Dalam sambutan yang disampaikan oleh perwakilan mahasiswa KKM kelompok 23 dan 40, dengan pemaparan masing-masing Program Kerja setiap kelompok. Secara umum, program-program kerja dari kedua kelompok tersebut difokuskan pada pemberdayaan masyarakat, peningkatan literasi pendidikan, serta penguatan potensi sosial. Sesuai dengan kegiatan KKM ini yang mengusung tema penguatan kualitas masyarakat melalui penanganan stunting, penguatan pola asuh (parenting), pengurangan kemiskinan ekstrem, dan penguatan nilai moderasi beragama, yang diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi warga Desa Wringinanom. Sejalan dengan pemaparan yang telah disampaikan oleh kedua kelompok, perangkat desa dan juga karang taruna menyambut baik kehadiran mahasiswa KKM dan berharap kegiatan ini memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Melalui KKM ini, program-program kerja yang telah disusun oleh kedua kelompok ini mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu secara langsung di tengah masyarakat serta turut berperan dalam mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan di Desa Wringinanom.
ANNISA PUTRI MAUMI
MALANG - Mahasiswa Kelompok 88 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan kunjungan edukatif ke sentra produksi gula merah di Dusun Napel, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat potensi ekonomi lokal yang telah menjadi warisan budaya turun-temurun di desa tersebut. Kunjungan yang dilaksanakan pada awal Januari 2026 ini disambut hangat oleh para pengusaha gula merah setempat. Para mahasiswa berkesempatan melihat langsung proses produksi gula merah dari hulu hingga hilir, mulai dari penggilingan tebu, pemasakan nira, hingga pengemasan produk terakhir. Produksi gula merah di Desa Sukolilo merupakan warisan budaya yang diturunkan secara turun-temurun, menjadikannya lebih dari sekedar mata pencaharian bagi masyarakat setempat. Dusun Napel menjadi pusat produksi gula merah di Desa Sukolilo dengan kurang lebih 20 rumah produksi yang tersebar di seluruh dusun. Pemilik pabrik menjelaskan bahwa proses pembuatan gula merah meliputi beberapa tahap utama: penggilingan tebu untuk mengekstrak nira, penyaringan untuk membersihkan kotoran, pemasakan menggunakan mesin evaporator hingga mengental, pencetakan, dan pengemasan. Yang menarik, pada awal produksi, penggilingan tebu menggunakan alat dari kayu dan tenaga sapi. Sejak tahun 1982, tenaga sapi mulai digantikan oleh mesin diesel berbahan solar yang kemudian berganti dengan listrik. Transformasi teknologi ini menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan esensi produksi tradisional. Pemilik pabrik menjelaskan bahwa kapasitas produksi dalam satu hari dapat mencapai satu ton, dengan perbandingan 10 Ton tebu menghasilkan satu ton gula merah. Angka ini menunjukkan bahwa produksi gula merah membutuhkan bahan baku yang sangat besar, menjadikan ketersediaan tebu lokal sebagai faktor krusial. Mata pencaharian warga Desa Sukolilo didominasi oleh perkebunan tebu yang sudah dilakukan secara turun-temurun, didukung oleh keberadaan Pabrik Gula Krebet (PG Krebet) di Bululawang. Kondisi ini menciptakan ekosistem ekonomi yang unik di mana petani tebu memiliki dua pilihan pasar: menjual ke PG Krebet untuk diolah menjadi gula pasir, atau menjual ke pengrajin lokal untuk diolah menjadi gula merah. Dalam diskusi dengan mahasiswa, pengusaha gula merah menyampaikan beberapa tantangan yang dihadapi, antara lain gesekan harga tebu sebagai bahan baku, persaingan dengan gula merah impor yang lebih murah, dan regenerasi pengrajin muda yang semakin berkurang karena pekerjaan ini dianggap berat dan kurang menjanjikan oleh generasi muda. Namun, peluang lebaran tetap terbuka. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan produk alami dan organik membuat gula merah kembali diminati. Industri makanan dan minuman modern juga mulai banyak menggunakan gula merah sebagai pemanis alami. Potensi ekspor ke negara-negara yang menghargai produk organik juga menjadi peluang yang belum sepenuhnya digali. Para siswa Kelompok 88 melihat kunjungan ini sebagai kesempatan emas untuk memahami dinamika ekonomi desa. "Kami belajar bahwa industri tradisional seperti gula merah memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik. Mungkin kami bisa membantu dalam hal branding, pemasaran digital, atau diversifikasi produk seperti gula semut atau sirup gula merah yang sedang tren," ungkap salah satu anggota tim. Beberapa ide program yang muncul dari kunjungan ini antara lain: pembuatan konten media sosial untuk promosi gula merah Sukolilo, pendampingan pengemasan produk agar lebih menarik, workshop pemasaran online untuk pengrajin muda, dan dokumentasi proses produksi sebagai aset promosi wisata edukasi. Kegiatan kunjungan industri ini merupakan bagian dari program kerja Kelompok 88 KKM dalam bidang studi potensi ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Dengan memahami secara mendalam tantangan dan peluang industri lokal, mahasiswa diharapkan dapat merumuskan program-program yang tepat sasaran dan berdampak nyata. Program KKM Kelompok 88 di Desa Sukolilo masih berlangsung hingga 4 Februari 2026, dengan harapan dapat memberikan kontribusi berkelanjutan bagi pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat desa. Diversifikasi produk tebu ini memberikan ketahanan ekonomi bagi petani. Ketika harga gula pasir turun, mereka masih bisa mengandalkan pasar gula merah, dan sebaliknya. Sistem ekonomi saling mendukung ini telah berlangsung puluhan tahun dan terbukti berkelanjutan.