Thumbnail
1 year ago
KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Mengadakan Sosialisasi Parenting dan Pencegahan Stunting di Desa Sumbersuko

MUHAMAD RAFLI ARDANIS

Sumbersuko, 5 Januari 2025 - Balai Desa Sumbersuko menjadi tempat kegiatan sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang digelar hari ini. Acara yang dibuat oleh KKM UIN Malang ini menghadirkan dua narasumber yaitu Sigita Aredlia Fista, S.Tr Gz dengan materi "Cegah Stunting pada Anak: Anak Sehat, Generasi Hebat", dan Dr. Hj. Rofiqah, M.Pd, C.Ht dengan materi "Peran Keluarga dalam Mewujudkan Anak Tumbuh-kembang Optimal". Acara ini dihadiri oleh warga dari tiga dusun yaitu Ngemplak, Glogohombo dan Kenongo khususnya para orang tua yang memiliki anak dalam masa tumbuh kembang termasuk yang dapat indikasi stunting dari Posyandu desa. Kegiatan dimulai dengan sambutan dari Kepala Desa, Bapak Subekhan. Dalam sambutannya beliau menyampaikan terima kasih atas diadakannya kegiatan ini dalam memastikan kesehatan dan kesejahteraan anak-anak. "Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk bersama-sama menciptakan generasi yang sehat dan cerdas di Desa Sumbersuko," ujar beliau Sesi pertama dimulai oleh Kak Sigita mengenai langkah-langkah pencegahan stunting seperti pentingnya inisiasi menyusui dini (IMD), pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, serta pemenuhan gizi melalui MPASI. Narasumber juga menekankan pentingnya imunisasi dasar lengkap, menjaga kebersihan lingkungan serta mengenali gejala stunting sejak dini. Sesi kedua dilanjutkan dengan materi parenting oleh Ibu Rofiqah yang menjelaskan peran penting keluarga dalam mendukung tumbuh kembang optimal anak. Beliau mengupas tuntas bagaimana keluarga menjadi pendidik pertama, memberikan dukungan emosional dan mengembangkan potensi anak. Selain itu, beliau juga menyoroti sikap-sikap yang harus dihindari oleh orang tua seperti membandingkan anak dan menunjukkan konflik di depan mereka. Pada tiap sesi materi disampaikan setelahanya sesi tanya jawab berlangsung. Para warga dengan antusias mengajukan berbagai pertanyaan mulai dari cara mengatasi anak yang sulit makan, sikap ke suami, hingga strategi mendidik anak dengan cara yang efektif. Diskusi ini memperlihatkan semangat para peserta dalam memahami dan menerapkan ilmu yang diberikan. Adapun, ketika acara berlangsung anak-anak yang ikut bersama orangtuanya diajak bermain oleh teman-teman KKM disini. Anak-anak diajak mengambar, mewarnai dan diajak bermain serta diajak mengobrol. Anak-anak ini diajak bermain oleh teman-teman KKM sendiri bertujuan agar acara lebih kondusif. Acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada para narasumber sebagai bentuk terima kasih karena sudah memberikan materi penting pada orang tua. Momen kebersamaan ini ditutup dengan sesi foto bersama. Harapannya kegiatan ini dapat memberikan pemahaman mendalam kepada para orang tua di Desa Sumbersuko untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal dan mencegah stunting sehingga tercipta generasi yang sehat, kuat, dan cerdas di masa depan.    

Thumbnail
1 year ago
Masa Depan Ada di Desa: Komoditas Jeruk dan Cabai Desa Kemiri sebagai ATM Hijau Ketahanan Pangan

MUHAMMAD BAQIBILLAH

Jika Anda pernah mengeluhkan harga cabai yang lebih panas dari sambalnya, mungkin saatnya kita belajar dari Desa Kemiri, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Desa ini punya cerita menarik tentang bagaimana jeruk dan cabai bisa menjadi jawaban atas inflasi bahan pokok yang tak ada habisnya. Bersama kelompok KKM 91 Nurtura dari UIN Malang yang terjun langsung ke perkebunan pribadi Pak Lurah. Dengan penuh semangat mereka belajar tentang praktik inovasi pertanian tumpang sari jeruk dan cabai. ATM Hijau: Jeruk dan Cabai, Investasi Panen Masa Depan Menurut studi yang dilakukan oleh Mardiyanto & Prasetyanto (2023), Cabai merupakan salah satu komoditas utama di Indonesia yang memiliki pengaruh signifikan terhadap inflasi perekonomian, terutama pada musim panen. Melihat pentingnya cabai sebagai sumber pendapatan, Pak Lurah Desa Kemiri menjadikan kebun pribadinya sebagai contoh nyata inovasi pertanian. Namun, ada yang berbeda dari perkebunan Pak Lurah ini, dimana bukan hanya cabai yang ditanam, tapi juga ada jeruk yang ditanam bersamaan dengan cabai. Pak Lurah menjelaskan bahwa jeruk adalah investasi jangka panjang yang menguntungkan. Pohon jeruk dapat hidup hingga 30 tahun dan mulai produktif pada usia 4 tahun. “Bayangkan, seratus pohon jeruk bisa menghasilkan hingga 150 ton buah pada usia 7 tahun. Jika dikelola dengan baik melalui pemupukan dan pengendalian hama yang tepat, hasilnya bisa sangat luar biasa,” jelas beliau. Sementara itu, cabai yang ditanam secara tumpang sari di antara pohon-pohon jeruk memberikan panen harian yang dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional perkebunan. Dengan kombinasi ini, kebun Pak Lurah seperti memiliki dua "mesin ATM" yang bekerja bergantian, memberikan hasil jangka pendek dari cabai dan hasil jangka panjang dari jeruk. Selain itu, di perkebunan tersebut, Pak Lurah juga menanam bawang merah dan bawang putih dengan siklus panen pendek yang berkisar 35 – 70 hari. Hasil dari bawang ini juga bisa menjadi penghasilan tambahan di sela panen cabai. Inflasi dan Ketahanan Pangan Indonesia : Desa sebagai Jawaban Ketika harga cabai di pasar melambung tinggi, siapa yang paling diuntungkan? Tentu saja para petani cabai. Namun, manfaat ini dapat lebih optimal jika dikelola dengan strategi yang tepat. Dengan memanfaatkan sistem tumpang sari, warga Desa Kemiri tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan pada pasar yang lebih luas. Desa Kemiri membuktikan bahwa inovasi lokal bisa menjadi solusi dalam menghadapi fluktuasi harga pangan. Studi yang dilakukan oleh Pirngadi et al. (2023) serta Adi Saputri et al. (2022) mengungkapkan bahwa harga cabai cenderung berfluktuasi karena faktor cuaca yang tidak menentu dan distribusi yang kurang efisien. Fluktuasi ini kerap menjadi tantangan besar bagi konsumen, tetapi sekaligus peluang bagi petani yang mampu mengelola produksi dengan baik. “Inilah esensi pertanian sebenarnya : menanam sekali dan memanen berkali-kali,” ujar Pak Lurah, mengingatkan warga tentang potensi besar yang bisa dimanfaatkan dari kombinasi inovasi dan kerja keras. Jika pola ini diterapkan oleh seluruh masyarakat desa, ketahanan pangan yang stabil dan berkelanjutan tidak lagi menjadi sekadar impian. Produksi lokal yang melimpah dapat menjadi senjata utama untuk melawan inflasi bahan pokok sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Belajar dari Pengalaman: Panen Lombok dan Jeruk Bersama KKM Nurtura Kelompok KKN 91 Nurtura, berkesempatan langsung membantu panen cabai dan jeruk di Desa Kemiri. Mereka pun mengakui bahwa ini bukan pekerjaan ringan. Bayangkan harus memetik cabai merah kecil satu per satu di bawah terik matahari. Meskipun keringat sudah bercucuran, tapi mereka tetap penuh semangat karena setiap cabai yang dipetik adalah bagian dari solusi besar untuk ketahanan pangan. Sementara itu, pohon-pohon jeruk dengan buah kuning menyala memberikan keindahan dan rasa puas yang sulit dijelaskan. Memanen jeruk terasa lebih santai dibanding cabai, tetapi tetap saja memerlukan teknik agar tidak merusak pohon. Kami juga belajar bahwa tidak semua jeruk siap dipetik; ada teknik melihat warna dan tekstur kulit untuk memastikan kematangannya. “Pertanian itu kerja keras, tapi hasilnya manis,” kata Pak Lurah, sambil mendampingi kami memanen jeruk. Mari Bicara Data : Potensi dan Strategi Bertahan di Tengah Inflasi Satu hektar lahan dapat ditanami sekitar 100 pohon jeruk. Dengan perawatan optimal, setiap pohon mampu menghasilkan hingga 150 ton jeruk saat mencapai usia 7 tahun. Jika setiap kilogram jeruk dijual dengan harga Rp20.000, potensi pendapatan dari satu hektar lahan bisa mencapai Rp3 miliar per tahun. Pendapatan ini tentu menjadi investasi jangka panjang yang menjanjikan​​. Selain itu, Perkebunan Jeruk juga berpotensi dijadikan sebagai objek wisata. Sebagai tambahan, cabai yang ditanam sebagai tanaman tumpang sari memberikan penghasilan jangka pendek. Menurut Heri Purnomo dalam artikelnya di detikFinance (2025), pada awal tahun 2025 harga cabai rawit merah di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, telah mencapai Rp140.000/kg dari harga sebelumnya Rp100.000/kg. Cabai rawit hijau dan cabai merah keriting masing-masing dibanderol Rp80.000/kg, naik dari harga sebelumnya Rp50.000/kg​. Sementara itu, di Pasar Palmerah, harga cabai rawit merah naik menjadi Rp110.000/kg, dan cabai merah keriting menjadi Rp60.000/kg​. Tak hanya cabai, harga bawang merah dan bawang putih juga mengalami kenaikan. Di awal tahun 2025, bawang putih mencapai Rp60.000/kg dari harga sebelumnya Rp55.000/kg, sementara bawang merah naik menjadi Rp50.000/kg​. Dengan memanfaatkan strategi diversifikasi pertanian seperti tumpang sari, petani dapat mengatasi tantangan fluktuasi harga ini sekaligus meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan​​. Pak Lurah Desa Kemiri menyebut strategi ini sebagai cara “bertahan di tengah inflasi.” Dengan kombinasi tanaman jeruk dan cabai, serta menambahkan bawang merah atau bawang putih sebagai tanaman selingan, hasil pertanian dapat lebih stabil meskipun inflasi melanda. Beliau bahkan bercanda bahwa jika seluruh desa ikut menerapkan pola ini, harga cabai di pasar mungkin bisa kembali normal. Inovasi Pertanian: Jeruk dan Cabai Sebagai Inspirasi Nasional Keberhasilan Desa Kemiri dalam mengelola tumpang sari jeruk dan cabai adalah cerminan dari bagaimana inovasi sederhana dapat menciptakan dampak besar. Konsep ini seharusnya menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan inflasi bahan pokok dan meningkatkan pendapatan masyarakat (Mardiyanto, I. C., & Prasetyanto, P. K. 2023). Pak Lurah dengan penuh semangat mengingatkan kami bahwa kunci keberhasilan pertanian ini adalah kolaborasi, baik antar warga maupun dengan pihak luar. Keterlibatan kelompok KKN seperti kami adalah salah satu bentuk dukungan untuk menyebarkan pengetahuan dan praktik ini ke masyarakat yang lebih luas. “Kalau sudah ada contoh nyata seperti ini, yang lain tinggal meniru dan memodifikasi sesuai kebutuhan. Inilah ATM yang sebenarnya: Amati, Tiru, Modifikasi,” ujarnya sambil tersenyum. Pak Lurah juga berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat melihat potensi ini sebagai model untuk program ketahanan pangan nasional. Dengan memberikan dukungan berupa pelatihan, subsidi pupuk, dan pemasaran, potensi seperti di Desa Kemiri bisa dikembangkan lebih luas. Peran Generasi Muda dalam Pertanian Salah satu hal yang kami pelajari selama di Desa Kemiri adalah pentingnya peran generasi muda dalam mengembangkan pertanian. Pertanian sering kali dianggap sebagai pekerjaan yang “kuno” atau kurang menarik. Padahal, dengan pendekatan yang modern dan kreatif, pertanian bisa menjadi salah satu sektor paling menjanjikan. Sebagai contoh, Desa Kemiri sudah mulai memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan hasil panennya. Dengan bantuan mahasiswa KKN 91 Nurtura, warga desa diajarkan cara membuat konten menarik untuk Instagram dan Facebook. Foto jeruk segar yang menggoda dan video panen cabai yang penuh semangat kini menjadi bagian dari strategi pemasaran digital desa. Desa Kemiri, Jabung : Desa yang Indah di Perbatasan Tidak hanya kaya dengan potensi pertanian, Desa Kemiri juga dianugerahi keindahan alam yang memanjakan mata. Selepas lelah bekerja di ladang, petani-petani di sini bisa menikmati pemandangan yang menenangkan. Dari desa ini, terlihat jelas Bandara Abdulrachman Saleh yang sibuk dengan pesawat-pesawatnya. Di sisi lain, ada hamparan hijau sawah dan ladang yang memanjakan mata, kontras dengan gedung-gedung perkotaan yang tampak padat di kejauhan. Meski begitu, Desa Kemiri kerap kali terlupakan. Padahal, desa ini adalah salah satu titik perbatasan yang sering dilewati banyak orang, terutama wisatawan yang menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Bayangkan saja, jarak dari Desa Kemiri ke Bromo hanya sekitar 45 menit! Namun, ironisnya, wisatawan yang tiba di Bandara Abdulrachman Saleh—yang begitu dekat dengan Desa Kemiri—lebih memilih menginap di Kota Batu sebelum melanjutkan perjalanan ke Bromo. Padahal, jika Desa Kemiri dikembangkan sebagai destinasi wisata, banyak peluang ekonomi yang bisa terbuka. Coba bayangkan: wisata petik jeruk di ladang, pengalaman memerah sapi seperti di pedesaan Eropa, hingga homestay yang menawarkan ketenangan di tengah alam. Dengan memanfaatkan potensi ini, Desa Kemiri bukan hanya akan dikenal sebagai desa pertanian tetapi juga sebagai destinasi wisata yang menjanjikan. Potensi ini jelas tidak hanya membantu ekonomi desa, tetapi juga memberikan alternatif pengalaman wisata bagi turis yang ingin merasakan suasana pedesaan asli Indonesia. Desa Kemiri, dengan segala keindahan dan potensinya, adalah berlian yang hanya butuh sedikit polesan untuk bersinar. Masa Depan Ada di desa : Saatnya Kembali ke Desa! Sebagai generasi muda, kita sering kali berpikir bahwa masa depan ada di kota. Tapi setelah melihat sendiri bagaimana Desa Kemiri mengelola potensi pertaniannya, kami jadi yakin bahwa masa depan sebenarnya ada di desa. Dengan inovasi dan kolaborasi, desa bisa menjadi pusat ketahanan pangan, bahkan membantu menstabilkan ekonomi nasional. Melihat potensi besar yang dimiliki Desa Kemiri, kami sadar bahwa desa adalah masa depan. Tumpang sari jeruk dan cabai bukan hanya strategi pertanian, tetapi juga simbol dari bagaimana kreativitas dan kerja keras bisa melampaui tantangan seperti inflasi.Dengan kombinasi antara pertanian kreatif dan potensi wisata, Desa Kemiri siap menjadi salah satu desa percontohan di Indonesia. Masa depan tidak hanya tumbuh dari tanahnya, tetapi juga dari visi besar warganya. Jadi, jika Anda masih berpikir bahwa desa tidak relevan di era modern ini, kunjungi Desa Kemiri. Anda mungkin akan berubah pikiran. Karena di sini, masa depan benar-benar tumbuh dari tanah dan bertemu dengan keindahan alam yang tak tergantikan.   Desa Kemiri mengajarkan kita bahwa ketahanan pangan dimulai dari langkah kecil—menanam jeruk dan cabai, memanfaatkan potensi lokal, dan berkolaborasi untuk masa depan yang lebih baik. Dan siapa tahu, mungkin desa Anda adalah Desa Kemiri berikutnya.   Referensi : Adi Saputri, T. H., Al Malik, M. R., Arliati, R. R., Tomasoa, R., Dwiriyadi, & Adifati, T. A. (2022). Pengaruh harga cabai rawit, harga bawang merah, dan harga daging sapi terhadap inflasi. Jurnal Bisnis Kompetif, 1(2), Juli. https://doi.org/ISSN: 2829-5277  Mardiyanto, I. C., & Prasetyanto, P. K. (2023). Pengaruh Harga Tanaman Pangan terhadap Inflasi di Kabupaten Kendal. Transekonomika: Akuntansi, Bisnis, dan Keuangan​. Pirngadi, R. S. et al. (2023). Respon Pedagang dan Konsumen terhadap Kenaikan Harga Cabai Merah. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara​. Purnomo, H. (2025). Daftar harga bahan pokok di awal tahun 2025. detikFinance. Diakses dari https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-7714240/daftar-harga-bahan-pokok-di-awal-tahun-2025.

Thumbnail
1 year ago
Gen Z Nir Kekerasan Seksual: Mahasiswa KKM UIN Malang Sosialisasikan Pencegahan Kekerasan di MTs 02 Al-Maarif Singosari

DJ TEKHEN HADI PRAMUDYA

Sabtu, 18 Januari 2025 – Kesadaran akan pentingnya edukasi dan sosialisasi tentang pencegahan kekerasan seksual menjadi kebutuhan bagi generasi Z. Masih banyak di antara mereka yang belum memahami secara mendalam tentang bentuk-bentuk kekerasan seksual, dampaknya, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Oleh karena itu, upaya edukasi yang tepat dan berkesinambungan sangat diperlukan. Kegiatan sosialisasi dengan tema Generasi Z Nir Kekerasan Seksual hadir sebagai bentuk preventif untuk menciptakan generasi muda yang lebih peduli terhadap kasus ini. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman menyeluruh kepada siswa-siswi MTs Almaarif 02 Singosari mengenai pentingnya menghormati batasan dan mencegah tindakan kekerasan seksual. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 18 Januari 2025 mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.   Kegiatan Sosialisasi ini dihadiri oleh 162 peserta, dan beberapa tamu undangan, meliputi tenaga pengajar dan Dosen Pembimbing Lapangan. Acara ini diawali dengan pengisian sebuah form online, pre-test, yang diisi oleh 90 dari 162 peserta dengan tujuan sebagai penilaian terhadap informasi yang diketahui oleh peserta mengenai bahaya pernikahan dini dan kekerasan seksual. Setelah peserta selesai mengisi formulir, mereka dibekali materi pemantik yang disampaikan oleh Kak Wahyu dengan isi materinya meliputi kesadaran akan pentingnya menjaga diri dari bahaya pergaulan bebas, kekerasan seksual, bullying, dan intoleransi. Selain pengisian formulir secara online dan penyampaian materi pemantik, kegiatan dilakukan dengan menampilkan film edukasi berdurasi pendek dengan judul "Melesat" dan "Tinta yang Mengering" yang diproduksi oleh tim PSGA UIN Malang. Kemudian, acara dilanjutkan dengan kegiatan ice breaking yang dipandu oleh Kak Keysha dan Kak Rizki dengan tujuan untuk mengembalikan fokus peserta. Setelah peserta kembali fokus, diberikan sebuah formulir lanjutan berupa formulir online post-test untuk bahan evaluasi sekaligus mengukur sejauh mana film edukasi yang diberikan tersebut memberikan informasi dan mengubah sudut pandang seseorang terhadap pernikahan dini dan kekerasan seksual. Setelah itu, kegiatan diakhiri dengan pemaparan materi yang diberikan oleh Ibu Dr. Hj. Istiadah, M.A selaku kepala pusat PSGA dengan metode dialog interaktif sebagai refleksi dari materi film yang disampaikan. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar, menarik, dan meriah, meninggalkan kesan yang tak terlupakan dengan suasana yang penuh semangat dan antusiasme yang tetap terasa di setiap sudut ruangan. Oleh: KKM PSGA #KKM #LP2M #Mahasiswa #MahasiswaMengabdi #PSGAOutingClass #PSGAUINMalang #Sosialisasi #StopKekerasanSeksual #UINMalang

Thumbnail
1 year ago
Edukasi Gizi Seimbang: KKM UIN Malang Bagikan Buah Semangka dan Brosur di Posyandu Sukopuro.

ADHIKA PRAMESTHI KARTIYOSO

Posyandu Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, menjadi salah satu pusat kegiatan mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang pada Jum'at 10 Januari 2025. Program ini mengusung tema edukasi gizi seimbang, disertai pemeriksaan kesehatan untuk anak-anak, dan balita.  Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM turut mendukung berbagai kegiatan di posyandu, seperti pengisian Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) serta pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala balita untuk upaya pemantauan kesehatan masyarakat.   Tak hanya itu, mahasiswa KKM juga memberikan brosur edukasi kepada para orang tua yang hadir. Brosur ini membahas stunting, mulai dari penyebab hingga cara pencegahannya melalui pola makan sehat, sanitasi, dan pengasuhan yang baik. Dalam brosur tersebut juga disediakan checklist harian untuk membantu orang tua untuk memenuhi gizi anak harian.  Setelah mendukung kegiatan posyandu, Pada Hari Senin tanggal 13 Januari 2025, mahasiswa KKM mengadakan sosialisasi terkait stunting dengan judul “Pentingnya Gizi Seimbang Untuk Mencegah Stunting.” dengan mengundang pemateri yang berpengalaman, setelah materi disampaikan, dibuka sesi tanya jawab untuk memberikan ruang kepada para orang tua menanyakan solusi dari masalah kesehatan anak mereka.  Untuk mengukur efektivitas edukasi, mahasiswa KKM melaksanakan post-test guna mengetahui sejauh mana peningkatan pemahaman masyarakat mengenai gizi seimbang dan pencegahan stunting. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta semakin memahami pentingnya pola makan sehat bagi tumbuh kembang anak.  Dalam brosur tersebut juga disediakan checklist harian untuk membantu orang tua untuk memenuhi gizi anak harian.  Sebagai penutup, anak-anak yang hadir mendapatkan buah semangka sebagai simbol penerapan pola makan sehat sejak dini. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang sekaligus menekan angka stunting di Desa Sukopuro.   Kolaborasi antara mahasiswa, kader posyandu, dan warga menjadi fondasi keberhasilan program ini, yang bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di tingkat desa.    

Thumbnail
1 year ago
Mahasiswa uin malang mengabdi di negeri gajah putih

ZALVAUL MUFIDAH

Sebanyak 11 mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang) secara resmi dilepas untuk mengikuti program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Internasional di Thailand. Program ini terlaksana melalui kerja sama antara UIN Malang dan Al Hidayah Waqaf Foundation for Education and Social Development, Songkhla, Thailand, dalam bentuk pengabdian masyarakat bertajuk “International Community Engagement Program”. Kegiatan ini berlangsung dari 2 Januari hingga 3 Februari 2025. Pelepasan KKM Internasional ini turut dihadiri langsung oleh Kepala Biro AAKK Dr. H. Barnoto, M.Pd.I, Sekretaris LP2M Dr. Abtokhi, dan juga perwakilan orang tua mahasiswa KKM Internasional. Dr. H. Saiful Mustofa, Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat UIN Malang, mengungkapkan bahwa ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan KKM Internasional di Thailand dengan lembaga mitra yang sama. “Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa memperoleh pengalaman akademik di luar negeri melalui pengabdian masyarakat. Diharapkan, mereka memiliki wawasan global yang kuat,” ujarnya. Program ini juga selaras dengan visi UIN Malang untuk menjadi kampus Islam yang unggul dan bereputasi internasional. Mengusung tema “Spiritual, Kemanusiaan, dan Pendidikan untuk Membangun Peradaban di Dunia Internasional”, kegiatan pengabdian ini berpusat di dua lokasi, yaitu Pattanawittaya School di Kota Yhala dan Muslimeen Suksa School di Kota Hat Yai. Upacara pelepasan program KKM Internasional ini dipimpin langsung oleh Rektor UIN Malang di Gedung Rektorat lantai satu pada Kamis (2/1/2025). Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag, memberikan pesan mendalam kepada para peserta. “Jaga diri dengan baik, junjung tinggi nama baik almamater, dan tunjukkan toleransi yang tinggi selama berada di negara lain. Indonesia dikenal sebagai negara yang menghargai perbedaan, anti kekerasan, dan penuh toleransi. Jadikan hal ini sebagai modal untuk mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa dan universitas kita,” tutur Prof. Umi. Ia juga mengingatkan para peserta untuk menjaga komunikasi yang baik, baik dengan sesama peserta maupun pihak penyelenggara di Thailand. “Jika menghadapi kendala, segera komunikasikan dengan ketua pengabdian. Jaga kesehatan, dan manfaatkan kesempatan ini untuk memperkaya pengalaman akademik sesuai visi internasionalisasi kampus,” tambahnya. Prof. Umi berharap program ini dapat menjadi jembatan menuju kesuksesan para peserta di masa depan. Daftar Mahasiswa Peserta Program Sebelas mahasiswa yang mengikuti program ini berasal dari berbagai program studi yaitu Prodi Sastra Arab: Muhammad Ibrahim Al Fadhil, Sayyidah Najwa, dan Muhamad Ihsan Rahman. Prodi Psikologi: Ranto Jagad Kelana Hasibuan dan Farah Nur Aulia. Prodi Sastra Inggris: Anwar Hidayat dan Putri Maia Salsabila. Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT): Naufal Azmi Izzuddin dan Zalvaul Mufidah. Prodi Akuntansi: Nabiilah Indah Nur Rahimah. Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI): Dawam Masrur. Program ini menjadi salah satu langkah konkret UIN Malang dalam mewujudkan visi internasionalisasinya, sekaligus memperluas cakrawala akademik dan kemanusiaan mahasiswa. Dengan semangat pengabdian, para mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dunia, sekaligus membangun peradaban berbasis nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin.  

Thumbnail
1 year ago
Mahasiswa uin malang mengabdi di negeri gajah putih

DAWAM MASRUR

Sebanyak 11 mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang) secara resmi dilepas untuk mengikuti program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Internasional di Thailand. Program ini terlaksana melalui kerja sama antara UIN Malang dan Al Hidayah Waqaf Foundation for Education and Social Development, Songkhla, Thailand, dalam bentuk pengabdian masyarakat bertajuk “International Community Engagement Program”. Kegiatan ini berlangsung dari 2 Januari hingga 3 Februari 2025. Pelepasan KKM Internasional ini turut dihadiri langsung oleh Kepala Biro AAKK Dr. H. Barnoto, M.Pd.I, Sekretaris LP2M Dr. Abtokhi, dan juga perwakilan orang tua mahasiswa KKM Internasional. Dr. H. Saiful Mustofa, Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat UIN Malang, mengungkapkan bahwa ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan KKM Internasional di Thailand dengan lembaga mitra yang sama. “Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa memperoleh pengalaman akademik di luar negeri melalui pengabdian masyarakat. Diharapkan, mereka memiliki wawasan global yang kuat,” ujarnya. Program ini juga selaras dengan visi UIN Malang untuk menjadi kampus Islam yang unggul dan bereputasi internasional. Mengusung tema “Spiritual, Kemanusiaan, dan Pendidikan untuk Membangun Peradaban di Dunia Internasional”, kegiatan pengabdian ini berpusat di dua lokasi, yaitu Pattanawittaya School di Kota Yhala dan Muslimeen Suksa School di Kota Hat Yai. Upacara pelepasan program KKM Internasional ini dipimpin langsung oleh Rektor UIN Malang di Gedung Rektorat lantai satu pada Kamis (2/1/2025). Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag, memberikan pesan mendalam kepada para peserta. “Jaga diri dengan baik, junjung tinggi nama baik almamater, dan tunjukkan toleransi yang tinggi selama berada di negara lain. Indonesia dikenal sebagai negara yang menghargai perbedaan, anti kekerasan, dan penuh toleransi. Jadikan hal ini sebagai modal untuk mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa dan universitas kita,” tutur Prof. Umi. Ia juga mengingatkan para peserta untuk menjaga komunikasi yang baik, baik dengan sesama peserta maupun pihak penyelenggara di Thailand. “Jika menghadapi kendala, segera komunikasikan dengan ketua pengabdian. Jaga kesehatan, dan manfaatkan kesempatan ini untuk memperkaya pengalaman akademik sesuai visi internasionalisasi kampus,” tambahnya. Prof. Umi berharap program ini dapat menjadi jembatan menuju kesuksesan para peserta di masa depan. Daftar Mahasiswa Peserta Program Sebelas mahasiswa yang mengikuti program ini berasal dari berbagai program studi yaitu Prodi Sastra Arab: Muhammad Ibrahim Al Fadhil, Sayyidah Najwa, dan Muhamad Ihsan Rahman. Prodi Psikologi: Ranto Jagad Kelana Hasibuan dan Farah Nur Aulia. Prodi Sastra Inggris: Anwar Hidayat dan Putri Maia Salsabila. Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT): Naufal Azmi Izzuddin dan Zalvaul Mufidah. Prodi Akuntansi: Nabiilah Indah Nur Rahimah. Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI): Dawam Masrur. Program ini menjadi salah satu langkah konkret UIN Malang dalam mewujudkan visi internasionalisasinya, sekaligus memperluas cakrawala akademik dan kemanusiaan mahasiswa. Dengan semangat pengabdian, para mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dunia, sekaligus membangun peradaban berbasis nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin.